Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH

KULTUR JARINGAN





OLEH:
NAMA : NUR WINDA YULIANA
NIM : 125040201111226
KELOMPOK : E2

/ SELASA, 09.15-10.55
ASISTEN : MUHAMAD DONI SETIYAWAN


PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pembuatan Bibit Secara Kultur Jaringan
Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara
vegetative. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara
mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-
bagian tersebut dalam media buatan secara aseptic yang kaya nutrisi dan zat pengatur
tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat
memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap.
Melalui kultur jaringan tanaman dapat diperbanyak setiap waktu sesuai
kebutuhan karena faktor perbanyakannya yang tinggi. Bibit dari varietas unggul yang
jumlahnya sangat sedikit dapat segera dikembangkan melalui kultur jaringan. Pada
tanaman perbanyakan melalui kultur jaringan, bila berhasil dapat lebih menguntungkan
karena sifatnya akan sama dengan induknya (seragam) dan dalam waktu yang singkat
bibit dapat diproduksi dalam jumlah banyak dan bebas penyakit.
Prinsip utama darit eknik kultur jaringan adalah perbanyakan tanaman dengan
menggunakan bagian vegetative tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan
di tempat steril. Faktor penting dalam kultur jaringan adalah bagian tanaman yang
dikulturkan dan medianya. Jaringan tanaman yang sering digunakan dalam teknik
kultur jaringan adalah kalus, sel, dan protoplasma, dan organ tanaman meliputi, pucuk,
bunga, daun, batang, dan akar.
Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman,
khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangkan secara generative. Dengan
perbanyakan tanaman secara kultu jaringan ini, diharapkan benih yang akan dihasilkan
terjamin mutunya maupun kesehatan benih itu sendiri.
1.2 Tujuan Pembuatan Bibit Secara Kultur Jaringan
Memperoleh bibit tanaman baru yang lebih baik
Memperbanyak tanaman dengan sifat seperti induknya
Memperoleh tanaman yang bebas dari penyakit




II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Isolasi Eksplan
Isolasi Eksplan adalah Pemisahan atau pengucilan sel yang akan dieksplan
terhadap bahan yang akan ditanam pada media kultur. Isolasi Eksplan adalah
Perlindungan atau penyekatan yang dilakukan pada bagian tanaman yang digunakan
sebagai bahan tanam pada sebuah media tanam (Suryowinoto, 1996)
2.2 Definisi Inkubasi Eksplan
Inkubasi Eksplan adalah masa atau tenggang waktu antara masuknya
kontaminan terhadap bahan tanam (Media tanam) yang akan di tanam. Inkubasi Ekpslan
adalah waktu yang digunakan atau yang diperlukan oleh penyebab penyakit atau
kontaminan untuk masuk ke eksplan tanaman (Suryowinoto, 1996)
2.3 Teknik-teknik Aseptik Dalam Pembuatan Media
Menurut Torres (1989) teknik aseptik adalah teknik pemindahan mikroba
dengan menggunakan alat-alat yang steril serta aturan laboratorium tertentu agar tidak
terjadi kontaminasi di dalam kultur tersebut. Sterilisasi yang umum dilakukan dapat
berupa:
Sterilisasi Secara Fisik (Pemanasan, penggunaan sinar gelombang pendek yang
dapat dilakukan selama senyawa kimia yang akan disterilkan tidak akan berubah
atau terurai akibat temperature atau tekanan tinggi). Dengan udara panas,
dipergunakan alat bejana atau ruang panas
Sterilisasi secara kimia (misalnya dengan menggunakan disinfektan, larutan alcohol,
larutan formalin)
Sterilisasi secara mekanik, digunakan untuk beberapa bahan yang akibat pemanasan
tinggi atau tekanan tinggi akan mengalami perubahan, misalnya adalah dengan
saringan atau filter. Sistem kerja filter, seperti ada saringan lain adalah dengan
melakukan seleksi terhadap partikel-partikel yang lewat.
2.4 Tahap Kultur Jaringan
Menurut Fatimah (2010) tahapan yang dilakukan dalam perbanyakan tanaman
dengan teknik kultur jaringan adalah:
1) Pemilihan dan penyiapan tanaman induk sumber eksplan.
Tanaman yang akan dilakukan perbanyakan kultur jaringan harus jelas jenis, spesies,
varietas, sehat dan bebas dari hama dan penyakit.
2) Inisiasi kultur
Inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan dikulturkan.
Bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan kultur jaringan adalah tunas.
3) Multiplikasi atau perbanyakan propagul
Multiplikasi adalah kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan menanam eksplan
pada media. Pada tahapan ini, eksplan yang sudah diinisiasi akan menggandakan
propagul atau bahan tanaman yang diperbanyak seperti tunas atau embrio.
4) Pemanjangan tunas, induksi, dan perkembangan akar
Pengakaran adalah fase dimana eksplan akan menunjukkan adanya pertumbuhan akar
yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang dilakukan mulai berjalan dengan
baik. Tahapan ini bertujuan untuk membentuk akar dan pucuk tanaman yang kuat
untuk dapat bertahan hidup sampai dipindahkan ke lingkungan.
5) Aklimatisasi
Aklimatisasi adalah proses pengkondisian planlet atau tunas di lingkungan baru yang
aseptik di luar botol, dengan media tanah, atau pakis sehingga planlet dapat bertahan
dan terus menjadi bibit yang siap ditanam di lapangan. Prosedur pembiakan dengan
kultur jaringan baru bisa dikatakan berhasil jika planlet dapat diaklimatisasi ke
kondisi eksternal dengan keberhasilan yang tinggi.
















III. MATERI BAHASAN

3.1 Pembuatan Media Perbanyakan (Inokulasi/Penanaman)
3.1.1 Metode










+Gula

Ukur pH(5.8-6)

+Agar







3.1.2 Hasil dan Pembahasan
Pada praktikum yang sudah dilakukan dalam pembuatan media yang ada,
diketahui bahwa pembuatan media MS berfungsi untuk menumbuhkan tanaman
terdapat unsur-unsur yang berfungsi sebagai unsur hara bagi eksplan tanaman,
diantaranya adalah larutan makro dan mikro, Fe EDTA, vitamin, NAA, dan BAP
masing-masing diambil dari jumlah yang sudah ditentukan dari masing-masing
larutan. Semua larutan yang sudah disediakan si masukkan ke dalam beaker gelas
dan ditambahkan dengan sukrosa dan aquades hingga volume mencapai 150 ml.
Siapkan alat dan bahan



Timbang agar 1,05 g dan Gula (Sukrosa)
4,5 g
Beaker glass diisi dengan :
- Makro 15 ml
- Mikro 1,5 ml
- FE EDTA 1,5 ml
- Vitamin 1,5 ml
- NAA 0,15 ml
- BAP 1,5 ml
Tambahkan aquades sampai 150 ml
Homogenkan dengan stirer
Masukan microwave 1 menit
Homogenkan dengan stirer


Masukan microwave 1 menit
Tuangkan ke 10 botol media @ 20 ml
Autoclave (126
o
C, 15 psi, 20)
Pada komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman
yang akan diperbanyak. Menurut Gunawan (1987) Media yang digunakan
biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan
juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh
(hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya,
tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan.
Tahapan atau langkah selanjutnya setelah bahan dicampurkan adalah
pensteriran dari bahan menjadi homogen yang dilanjutkan dengan pengukuran pH
yang harus mencapai 5.8-6. Apabila pada pH yang ada kurang memadai dari
pembuatan media, ketika pH yang kurang dari 5.8 maka ditambahkan dengan
NaOH, sedangkan bila Ph lebih dari 6 maka ditambahkan dengan HCl sampai
menuju Ph yang dikehendaki. Kemudian ditambahan agar, sehingga larutan bisa
menjadi padat dan cocok untuk media tumbuh bagi eksplan. Larutan dimasukkan
ke dalam botol kultur dengan ukuran 15 ml dan segera ditutup dengan plastic.
kemudian di sterilkan dengan autoklaf menggunakan tekanan 15 psi dengan suhu
121 C selama 20 menit agar botol steril dari kontaminasi baik jamur maupun
bakteri. Menurut Andini (2001) Sterilisasi dengan autoclave merupakan metode
sterilisasi dengan uap air dibawah tekanan. Dengan melakukan tindakan autoklaf
maka perkembangan biakan bakteri dan jamur tidak dapat berkembang dengan
pemanasan didalam autoklaf maka bakteri dan mikrobia dapat mati akibat suhu
yang tinggi (120C) dan tekanan uap air yang besar (1,5 kg/cm2) selama 15
menit.
Dokumentasi Pembuatan Media







3.2 Penanaman/Isolasi dan Inokulasi Eksplan
3.2.1 Metode
Inokulasi Explant








Sub Kultur





3.2.2 Hasil dan Pembahasan
3.2.2.1 Hasil pengamatan + dokumentasi, bandingkan dengan literatur
Pengamatan pertama
Selasa,13 Mei 2014

Pengamatan ke-2
Jumat, 16 Mei 2014
Pengamatan ke-3
Selasa, 20 Mei 2014
Pengamatan ke-4
Jumat, 23 Mei 2014


Plantlet segar (tidak
terkontaminasi)
Plantlet tumbuh (tidak
terkontaminasi)
Plantlet tumbuh
(terjadi kontaminasi)
Plantlet mati
(terkontaminasi)

3.2.2.2 % Eksplan yang Hidup
Dari hasil praktikum yang dilakukan dapat diketahui bahwa
presentase hidup pada plantlet yang saya tanam adalah 60%. Hal ini
Ruas batang steril
Potong nodus
Potong bagian yang rusak
Tanam di media
Plantlet
Tanam dalam media dengan
ukuran explant 1 cm
Letakkan di petridish atau
cawan
dikarenakan pada plantlet yang saya tanam mengalami pertumbuhan dari
awal penanaman akan tetapi mulai pengamatan ke-3 mulai terdapat
kontaminasi dari bakteri sehingga plantlet pada pengamatan ke-4 mati.
Hal ini ditunjukkan dengan terdapatnya lendir berwarna kuning dan
putih keruh di sekitar planlet. Menurut Tuhuteru (2012) bahwa
kontaminasi yang disebabkan oleh bakteri terjadi langsung pada eksplan,
yang ditandai dengan munculnya lendir berwarna putih keruh disekeliling
plantlet.
Selain itu keberhasilannya sangat dipengaruhi oleh media yang
digunakan seperti sumber eksplan, pemberian zat pengatur tumbuh,
unsur hara makro dan mikro, bahan organik, karbohidrat, asam amino,
vitamin, bahan pemadat media dan kondisi bahan, peralatan dan ruangan
yang steril. Respon pertumbuhan planlet pada kultur jaringan juga
tergantung pada jenis tanaman yang dikulturkannya (George, 1984).
3.2.2.3 % Inisiasi Tunas dan Hari Ke-Berapa Tunas Muncul
Pada pengamatan plantlet yang ke-2, plantlet mengalami
pertumbuhan tunas dengan ukuran kecil pada ketiak-ketiak bagian
samping daun. Pada pengamatan yang dilakukan plantlet mengalami
pertumbuhan yang baik, dan tunas yang muncul juga meningkat. Akan
tetapi mulai pengamatan ke 3 terdapat kontaminasi pada media sehingga
pertumbuhan tunas tidak dapat meningkat. Menurut Tuhuteru (2012)
bahwa faktor yang menjadi kendala utama dalam kultur jaringan adalah
kontaminasi yang dapat menyebabkan media perlakuan rusak dan plantlet
mati.
3.2.2.4 % Inisiasi Akar dan Hari Ke-Berapa Akar Muncul
Dari hasil praktikum yang dilakukan, akar yang muncul untuk
plantlet ini mulai pada pengamatan ke-3 karena saat pengamatan ke-2
hanya tumbuh tunas-tunas pada ketiak daun. Menurut hasil penelitian
menunjukkan bahwa eksplan yang dikulturkan pada media tanpa
penambahan BAP memperlihatkan pertumbuhan (pemanjangan) akar
yang lebih baik dibandingkan dengan kombinasi perlakuan yang lain.
Hal ini membuktikan bahwa sel akar umumnya mengandung auksin
untuk memanjang secara normal (Fathurrahman, 2008).

3.2.2.5 % Kontaminasi
Dari hasil praktikum yang dilakukan pada plantlet dapat tumbuh,
namun mengalami kontaminasi pada pengamatan ke-3. Hal ini
dikarenakan penggunaan alat yang kurang steril, seperti pada saat akan
melakukan penanaman ke LAFC tangan belum disterilkan dengan
alkohol. Kontaminasi yang terjadi pada media atau eksplant disebabkan
karena adanya jamur ataupun bakteri. Hasil kontaminasi dari jamur atau
bakteri memperlihatkan bahwa tanaman tidak dapat tumbuh, baik akar
maupun tunas. Menurut Tuhuteru (2012) bahwa kontaminasi diduga
terjadi karena kurang bersihnya botol, peralatan saat pembuatan media,
suhu ruang kultur yang berubah-ubah saat botol disimpan di rak kultur
dan adanya bakteri yang terbawa dari sumber eksplan. Kontaminasi juga
sangat ditentukan oleh sterilitas ruangan.
3.3 Pembuatan Stok Media MS
Media merupakan faktor utama dalam perbanyakan dengan kultur jaringan.
Keberhasilan perbanyakan dan perkembangbiakan tanaman dengan metode kultur
jaringan secara umum sangat tergantung pada jenis media. Media tumbuh pada kultur
jaringan sangat besar pengaruhnya terhadap partum-buhan dan perkembangan eksplan
serta bibit yang dihasilkannya. Pada pembuatan media MS yang berfungsi untuk
menumbuhkan tanaman atau eksplant, dalam pembuatan media ini terdapat unsur-unsur
yang berfungsi sebagai unsur hara bagi eksplan tanaman kentang, diantaranya adalah
larutan mikro,mikro, Fe EDTA, vitamin, NAA dan BAP. Untuk alat-alat yang
digunakan yaitu timbangan analitik, spatula, beaker glas, cup kertas, sendok plastik,
corong kaca, labu ukur, botol penyimpanan larutan, alumunium foil (sebagai penutup
botol), akuades dan kertas tissue. Setelah media yang ada jadi Larutan dimasukkan
kedalam botol kultur kemudian di autoklaf (supaya steril) dengan suhu 120 C agar
botol steril dari kontaminasi baik jamur maupun bakteri. dengan melakukan tindakan
autoklaf maka perkembangan biakan bakteri dan jamur tidak dapat berkembang.dengan
pemanasan didalam autoklaf maka bakteri dan mikrobia dapat mati akibat suhu yang
tinggi (120
0
C) dan tekanan uap air yang besar ( 1,5 kg/cm2) selama 15 menit (Andini,
2001).
3.4 Aklimatisasi
Menurut Torres (1989) dalam tahapan kultur jaringan ada beberapa tahap yang
harus dilakukan salah satunya adalah tahapan aklimatisasi. Aklimatisasi merupakan
kegiatan akhir teknik kultur jaringan. Aklimatisasi adalah proses pemindahan planlet
dari lingkungan yang terkontrol (aseptik dan heterotrof) ke kondisi lingkungan tidak
terkendali, baik suhu, cahaya, dan kelembaban, serta tanaman harus dapat hidup dalam
kondisi autotrof, sehingga jika tanaman (planlet) tidak diaklimatisasi terlebih dahulu
tanaman (planlet) tersebut tidak akan dapat bertahan dikondisi lapang. Aklimatisasi
dilakukan untuk mengadaptasikan tanaman hasil kultur jaringan terhadap lingkungan
baru sebelum ditanam dan dijadikan tanaman induk untuk produksi dan untuk
mengetahui kemampuan adaptasi tanaman dalam lingkungan tumbuh yang kurang
aseptik. Aklimatisasi adalah suatu proses dimana suatu tanaman beradaptasi sengan
perubahan lingkungan.
Tahap aklimatisasi tidak kami lakukan dalam praktikum ini, hal ini disebabkan
karena banyaknya jumlah praktikan dalam praktikum ini. Selain itu juga waktu yang
dibutuhkan untuk tahapan aklimatisasi terbilang lama dan sulit.





















IV. KESIMPULAN

1. Dari hasil pengamatan yang dilakukan, kultur jaringan yang telah dilakukan kurang
berhasil. Hal ini ditunjukkan pada eksplan yang ditanam dapat tumbuh, namun pada
sekitar eksplan terjadi kontaminasi.
2. Ciri-ciri kontaminasi pada media penanaman ditunjukkan dengan adanya pertumbuhan
jamur disekitar eksplan yang ditanam.
3. Kontaminasi yang terjadi dikarenakan dalam proses sterilisasi kurang maksimal, seperti
pada saat akan melakukan penanaman ke LAFC tangan belum disterilkan dengan
alkohol. Selain itu factor banyaknya orang yang berada pada ruang penanaman eksplan
juga dapat mempengaruhi kontaminasi yang terjadi.

KRITIK DAN SARAN

Kritik : Telat dalam pelaksanaan praktikum dan telat dalam pemasangan format
membuat laporan menumpuk di akhir, sehingga pembuatan laporan tidak
dapat maksimal.
Saran : Semoga ke depannya praktikum menjadi lebih baik dan tidak telat
pelaksanaannya.















V. DAFTAR PUSTAKA

Andini. 2001. Teknik Kultur Jaringan : Pengenalan dan Petunjuk Perbanyakan Tanaman
Secara Vegetatif-Modern. Yogyakarta: Kanisius.
Fathurrahman, Dkk. 2008. Pemberian Benzil Amino Purin (Bap) terhadap Eksplan Adenium
(Adenium Obesum) Secara In Vitro Application of Benzyl Amino Purine (Bap) on
Adenium (Adenium Obesum) Explants In Vitro. Universitas Islam Riau.Pekanbaru
Fatimah, Nur. 2010. Teknologi Kultur Jaringan Perbanyakan Tanaman Selain
Benih.Surabaya
George, E.F and Sherington, P.D. 1984. Plant Propogation by Tissue Culture Exegetics
Limited. England.
Gunawan, L.W. 1987. Teknik Kultur Jaringan. Pusat Antar Universitas Bioteknologi.
Institut Pertanian Bogor, Bogor
Suryowinoto, moeso. 1996. Pemulihan Tanaman Secara In Vitro. Yogyakarta: Kanisius.
Torres, K. C.1989. Tissue Culture technique for horticultural crops. Von Hostrand Reinheld.
New York.
Tuhuteru, S,dkk.2012. Pertumbuhan dan Perkembangan Anggrek Dendrobium Anosmum
Pada Media Kultur In Vitro Dengan Beberapa Konsentrasi Air Kelapa. Fakultas
Pertanian, Universitas Pattimura.Ambon (Jurnal Agrologia Vol 1(1): 1-12.