Anda di halaman 1dari 30

1

LAPORAN HASIL PBL BLOK 4 SKENARIO 7


EPIDEMIOLOGI-PROMOSI KESEHATAN



Kelompok 5:

Fasilitator : Yuli Endang Hernani M, drg., MS
Ketua : Gustian Pamungkas (105070404111002)
Sekertaris : Efrin Tri Anestya (105070400111044)
Peserta Diskusi :
Vareyna Dian Nanda (105070400111038)
Octaviana Widya P. (105070400111040)
Mohammad Hasyim (105070400111049)
Melur Fatima Haris (105070401111004)
Listia Kartika Rahmawati (105070401111014)
Dedi Sucipta (105070406111001)
Meynita Niken P. (105070407111002)
Errir Orges Murlia P. (105070407111008)
Ayusha Dia Fawnia (105070407111010)
Isma Khurria Novdilasari (105070407111014)



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
13 & 16 Juni 2011
2

LEARNING ISSUES
Epidemiologi
o Definisi Epidemiologi
o Manfaat dan Tujuan Epidemiologi
o Macam Penelitian Epidemiologi
o Indikator Ukuran Epidemiologi
o Penyakit (Faktor yang mempengaruhi timbulnya penyakit)

Promosi Kesehatan
o Definisi Promosi Kesehatan
o Visi Promosi Kesehatan
o Misi Promosi Kesehatan
o Ruang Lingkup Promosi Kesehatan
o Strategi Promosi Kesehatan
o Target Promosi Kesehatan
o Sasaran Promosi Kesehatan
o Metode / Teknik Promosi Kesehatan
o Pihak yang Terlibat dalam Promosi Kesehatan
o Faktor yang mempengaruhi Kesehatan Masyarakat (konsep Blum)



















3

A. EPIDEMIOLOGI
1. Definisi Epidemiologi
Menurut asal kata/ secara etimologis
Epidemiologi berasal dari Bahasa Yunani
Epi = upon, pada atau tentang
Demos = people, penduduk
Logia = knowledge, ilmu
Ilmu mengenai kejadian yang menimpa penduduk
Menurut Wade Hampton Frost (1927), Guru besar epidemiologi di School of Hygiene,
Universitas Johns Hopkins
Suatu pengetahuan tentang fenomena massal (mass phenomen) penyakit infeksi atau
sebagai riwayat alamiah (natural history) penyakit menular.
Menurut Greenwood (1934), Professor di School of Hygiene Topical Medicine,
London
Epidemiologi mempelajari tentang penyakit dan segala macam kejadian penyakit yang
mengenai kelompok (herd) penduduk.
Menurut Brian MacMahon (1970), pakar epidemiologi di Amerika Serikat yang
bersama Thomas F. Pugh menulis buku Epidemiology; Principles and Methods
Epidemiology is the study of the distribution and determinants of disease frequency in man.
Menurut Gary D. Friedman (1974) dalam bukunya Primer of Epidemiology
Epidemiology is the study of disease occurance in human populations.
Menurut Anders Ahlbom dan Staffan Norel (1989) dalam bukunya In Roduction of
Modern Epidemiology
ilmu pengetahuan mengenai terjadinya penyakit pada populasi manusia
Menurut Last (1988)
is the study of the distribution and determinants of health- related states or even in
specified populations and the application of this study to control of health problems
Epidemiologi merupakan salah satu bagian dari Ilmu Kesehatn Masyarakat (Public Health)
yang menekankan perhatiannya terhadap keberadaan penyakit atau masalah kesehatan
lainnya dalam masyarakat. Keberadaan penyakit dalam masyarakat itu didekati oleh
epidemiologi secara kuantitatif.
Ilmu tentang distribusi (penyebaran) dan determinant (faktor penentu) masalah kesehatan
untuk development (perencanaan) dari penanggulangan masalah kesehatan

2. Manfaat dan Tujuan Epidemiologi
a) Menerangkan penyebab suatu masalah kesehatan
b) Menerangkan perkembangan alamiah suatu penyakit
c) Menerangkan kondisi/status penyebaran penyakit.
d) Membantu pengendalian KLB dan mencegah penyebarannya
e) Administrasi kesehatan, menyiapkan data dan informasi yang esensial untuk keperluan
perencanaan, pelaksanaan program, dan evaluasi berbagai kegiatan pelayanan
(kesehatan) pada masyarakat, baik yang bersifat pencegahan dan penanggulangan
4

penyakit maupun bentuk lainnya, serta menentukan skala prioritas terhadap kegiatan
tersebut (planning-monitoring-evaluation)
f) Menerangkan keadaan suatu masalah kesehatan:
Epidemik
Terjadinya penyakit dalam komuniti atau daerah tertentu dengan jumlah yang melebihi
batas jumlah normal atau yang biasa (wabah)
Pandemik
Epidemik yang terjadi di daerah yang sangat luas dan bisanya menyangkut proporsi
populasi yang banyak, bahkan dapat mengenai berbagai daerah/negara di dunia ini
Endemik
Suatu keadaan dimana penyakit secara menetap berada di masyarakat pada suatu
tempat atau populasi tertentu.
Sporadik
g) Menerangkan tentang besarnya masalah dan gangguan kesehatan (termasuk penyakit)
serta penyebarannya dalam suatu penduduk tertentu.

Peran Epidemiologi Menurut Beoglehole (WHO 1977)
- Mencari kausa; faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan dan yang
menyebabkan terjadinya penyakit
- Riwayat alamiah penyakit; perlangsungan penyakit, bisa sangat mendadak (emergency),
akut, dan kronik
- Deskripsi status kesehatan masyarakat; menggambarkan proporsi menurut status
kesehatan, perubahan menurut waktu, perubahan menurut umur, dll
- Evaluasi hasil intervensi; menilai bagaimana keberhasilan berbagai intervensi seperti
promosi kesehatan, upaya pencegahan, dan pelayananan kesehatan

3. Macam Penelitian Epidemiologi
Penelitian epidemiologi merupakan penelitian untuk mencari faktor penyebab maupun
hubungan sebab-akibat timbulnya suatu penyakit atau gangguan kesehatan pada suatu
populasi

a. Epidemiologi Deskriptif
Epidemiologi deskirptif adalah studi pendekatan epidemiologi yang bertujuan untuk
menggambarkan masalah kesehatan yang terdapat di dalam masyarakat dengan
menentukan frekuensi, distribusi dan determinan penyakit berdasarkan atribut &
variabel menurut segitiga epidemiologi (orang, tempat, dan waktu). Hasilnya
diharapkan mampu menjawab pertanyaan mengenai faktor:
siapa yang tekena orang
di mana terjadinya tempat
kapan terjadinya waktu
5

Studi Deskriptif disebut juga studi prevalensi atau studi pendahuluan dari studi
analitik yang dapat dilakukan suatu saat atau suatu periode tertentu. Jika studi ini
ditujukan kepada sekelompok masyarakat tertentu yang mempunyai masalah
kesehatan maka disebutlah studi kasus tetapi jika ditujukan untuk pengamatan
secara berkelanjutan maka disebutlah dengan surveilans serta bila ditujukan untuk
menganalisa faktor penyebab atau risiko maupun akibatnya maka disebut dengan
studi potong lintang atau cross sectional
Adapun Ciri-ciri studi deskriptif sebagai berikut:
o Bertujuan untukmenggambarkan
o Tidak terdapat kelompok pembanding
o Hubungan sebab akibat hanya merupakan suatu perkiraan ataau semacam
asumsi
o Hasil penelitiannya berupa hipotesis
o Merupakan studi pendahluan untuk studi yang mendalam
Hasil penelitian deskriptif dapat di gunakan untuk:
o Untuk menyusun perencanaan pelayanan kesehatan
o Untuk menentukan dan menilai program pemberantasan penyakit yang telah
dilaksanakan
o Sebagai bahan untuk mengadakan penelitain lebih lanjut
o Untuk Membandingkan frekuensi distribusi morbiditas atau mortalitas antara
wilayah atau satu wil dalam waktu yang berbeda.
Kategori berdasarkan unit pengamatan atau analisis epidemiologi deskriptif dibagi 2
yaitu:
Populasi : Studi Korelasi Populasi, Rangkaian Berkala (time series).
Individu : Laporan Kasus (case report), Rangkaian Kasus (case series),
Studi Potong Lintang (Cross-sectional).

Faktor- faktor yang mempengaruhi epidemiologi deskriptif
A) Orang (Person) Siapa (Who)
Disini akan dibicarakan peranan umur, jenis kelamin, suku, agama, kelas sosial
(pendidikan, pekerjaan, pendapatan), golongan etnik, status perkawinan, besarnya
keluarga, struktur keluarga dan paritas.
1. Umur
Dengan cara ini orang dapat membacanya dengan mudah dan melihat pola
kesakitan atau kematian menurut golongan umur. Persoalan yang dihadapi
adalah apakah umur yang dilaporkan tepat, apakah panjangnya interval
didalam pengelompokan cukup untuk tidak menyembunyikan peranan umur
pada pola kesakitan atau kematian dan apakah pengelompokan umur dapat
dibandingkan dengan pengelompokan umur pada penelitian orang lain.
Didalam mendapatkan laporan umur yang tepat pada masyarakat pedesaan
yang kebanyakan masih buta huruf hendaknya memanfaatkan sumber
6

informasi seperti catatan petugas agama, guru, lurah dan sebagainya. Hal ini
tentunya tidak menjadi soal yang berat dikala mengumpulkan keterangan
umur bagi mereka yang telah bersekolah.
2. Jenis Kelamin
Angka-angka dari luar negeri menunjukkan bahwa angka kesakitan lebih
tinggi dikalangan wanita sedangkan angka kematian lebih tinggi dikalangan
pria, juga pada semua golongan umur. Untuk Indonesia masih perlu
dipelajari lebih lanjut. Perbedaan angka kematian ini, dapat disebabkan oleh
faktor-faktor intinsik. Yang pertama, diduga meliputi faktor keturunan yang
terkait dengan jenis kelamin atau perbedaan hormonal. Yang kedua, diduga
oleh karena berperannya faktor-faktor lingkungan (lebih banyak pria
mengisap rokok, minum minuman keras, candu, bekerja berat, berhadapan
dengan pekerjaan-pekerjaan berbahaya, dan seterusnya)
3. Kelas Sosial
Kelas sosial ini ditentukan oleh unsur-unsur seperti pendidikan, pekerjaan,
penghasilan dan banyak contoh ditentukan pula oleh tempat tinggal. Karena
hal-hal ini dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan termasuk
pemeliharaan kesehatan maka tidaklah mengherankan apabila kita melihat
perbedaan-perbedaan dalam angka kesakitan atau kematian antara
berbagai kelas sosial. Masalah yang dihadapi dilapangan ialah bagaimana
mendapatkan indikator tunggal bagi kelas sosial. Di Inggris, penggolongan
kelas sosial ini didasarkan atas dasar jenis pekerjaan seseorang yakni I
(profesional), II (menengah), III (tenaga terampil), IV (tenaga setengah
terampil) dan V (tidak mempunyai keterampilan). Di Indonesia dewasa ini
penggolongan seperti ini sulit oleh karena jenis pekerjaan tidak memberi
jaminan perbedaan dalam penghasilan. Hubungan antara kelas sosial dan
angka kesakitan atau kematian kita dapat mempelajari pula dalam hubungan
dengan umur, dan jenis kelamin.
4. Jenis Pekerjaan
Jenis pekerjaan dapat berperan didalam timbulnya penyakit melalui
beberapa jalan yakni :
o Adanya faktor-faktor lingkungan yang langsung dapat menimbulkan
kesakitan seperti bahan-bahan kimia, gas-gas beracun, radiasi, benda-
benda fisik yang dapat menimbulkan kecelakaan dan sebagainya.
o Situasi pekerjaan yang penuh dengan stress (yang telah dikenal
sebagai faktor yang berperan pada timbulnya hipertensi, ulkus
lambung).
o Ada tidaknya gerak badan didalam pekerjaan; di Amerika Serikat
ditunjukkan bahwa penyakit jantung koroner sering ditemukan di
7

kalangan mereka yang mempunyai pekerjaan dimana kurang adanya
gerak badan.
o Karena berkerumun di satu tempat yang relatif sempit maka dapat
terjadi proses penularan penyakit antara para pekerja.
o Penyakit karena cacing tambang telah lama diketahui terkait dengan
pekerjaan di tambang.
Penelitian mengenai hubungan jenis pekerjaan dan pola kesakitan
banyak dikerjakan di Indonesia terutama pola penyakit kronis misalnya
penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan kanker.Jenis pekerjaan apa
saja yang hendak dipelajari hubungannya dengan suatu penyakit dapat
pula memperhitungkan pengaruh variabel umur dan jenis kelamin.
5. Penghasilan
Yang sering dilakukan ialah menilai hubungan antara tingkat penghasilan
dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan maupun pencegahan.
Seseorang kurang memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada mungkin
oleh karena tidak mempunyai cukup uang untuk membeli obat, membayar
transport, dan sebagainya.
6. Golongan Etnik
Berbagai golongan etnik dapat berbeda didalam kebiasaan makan, susunan
genetika, gaya hidup dan sebagainya yang dapat mengakibatkan
perbedaan-perbedaan didalam angka kesakitan atau kematian. Didalam
mempertimbangkan angka kesakitan atau kematian suatu penyakit antar
golongan etnik hendaknya diingat kedua golongan itu harus distandarisasi
menurut susunan umur dan kelamin ataupun faktor-faktor lain yang dianggap
mempengaruhi angka kesakitan dan kematian itu.
7. Status Perkawinan
Diduga bahwa sebab-sebab angka kematian lebih tinggi pada yang tidak
kawin dibandingkan dengan yang kawin ialah karena ada kecenderungan
orang-orang yang tidak kawin kurang sehat. Kecenderungan bagi orang-
orang yang tidak kawin lebih sering berhadapan dengan penyakit, atau
karena adanya perbedaan-perbedaan dalam gaya hidup yang berhubungan
secara kausal dengan penyebab penyakit-penyakit tertentu.
8. Besarnya Keluarga
Didalam keluarga besar dan miskin, anak-anak dapat menderita oleh karena
penghasilan keluarga harus digunakan oleh banyak orang.
9. Struktur Keluarga
Struktur keluarga dapat mempunyai pengaruh terhadap kesakitan (seperti
penyakit menular dan gangguan gizi) dan pemanfaatan pelayanan
kesehatan. Suatu keluarga besar karena besarnya tanggungan secara relatif
mungkin harus tinggal berdesak-desakan didalam rumah yang luasnya
8

terbatas hingga memudahkan penularan penyakit menular di kalangan
anggota-anggotanya; karena persediaan harus digunakan untuk anggota
keluarga yang besar maka mungkin pula tidak dapat membeli cukup
makanan yang bernilai gizi cukup atau tidak dapat memanfaatkan fasilitas
kesehatan yang tersedia dan sebagainya.
10. Paritas
Tingkat paritas telah menarik perhatian para peneliti dalam hubungan
kesehatan si ibu maupun anak. Dikatakan umpamanya bahwa terdapat
kecenderungan kesehatan ibu yang berparitas rendah lebih baik dari yang
berparitas tinggi, terdapat asosiasi antara tingkat paritas dan penyakit-
penyakit tertentu seperti asma bronchiale, ulkus peptikum, pilorik stenosis
dan seterusnya. Tapi kesemuanya masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
B) Tempat (Place)
Pengetahuan mengenai distribusi geografis dari suatu penyakit berguna untuk
perencanaan pelayanan kesehatan dan dapat memberikan penjelasan mengenai
etiologi penyakit. Perbandingan pola penyakit sering dilakukan antara :
o Batas daerah-daerah pemerintahan
o Kota dan pedesaan
o Daerah atau tempat berdasarkan batas-batas alam (pegunungan, sungai, laut
atau padang pasir)
o Negara-negara
o Regional
Hal-hal yang memberikan kekhususan pola penyakit di suatu daerah dengan
batas-batas alam ialah : keadaan lingkungan yang khusus seperti temperatur,
kelembaban, turun hujan, ketinggian diatas permukaan laut, keadaan tanah,
sumber air, derajat isolasi terhadap pengaruh luar yang tergambar dalam tingkat
kemajuan ekonomi, pendidikan, industri, pelayanan kesehatan, bertahannya
tradisi-tradisi yang merupakan hambatan-hambatan pembangunan, faktor-faktor
sosial budaya yang tidak menguntungkan kesehatan atau pengembangan
kesehatan, sifat-sifat lingkungan biologis (ada tidaknya vektor penyakit menular
tertentu, reservoir penyakit menular tertentu, dan susunan genetika), dan
sebagainya.
C) Waktu (Time)
Mempelajari hubungan antara waktu dan penyakit merupakan kebutuhan dasar
didalam analisis epidemiologis, oleh karena perubahan-perubahan penyakit menurut
waktu menunjukkan adanya perubahan faktor-faktor etiologis. Melihat panjangnya
waktu dimana terjadi perubahan angka kesakitan, maka dibedakan :
o Fluktuasi jangka pendek
9

Pola perubahan kesakitan ini terlihat pada epidemi. Umpamanya,
epidemi keracunan makanan (beberapa jam), epidemi influensa
(beberapa hari atau minggu), epidemi cacar (beberapa bulan).
Fluktuasi jangka pendek atau epidemi ini memberikan petunjuk bahwa :
Penderita-penderita terserang penyakit yang sama dalam waktu
bersamaan atau hampir bersamaan
Waktu inkubasi rata-rata pendek.
o Perubahan-perubahan secara siklus
Perubahan-perubahan angka kesakitan terjadi secara berulang-ulang dengan
antara beberapa hari, beberapa bulan (musiman), tahunan, beberapa tahun.
Peristiwa semacam ini dapat terjadi baik pada penyakit infeksi maupun pada
penyakit bukan infeksi.
o Perubahan-perubahan angka kesakitan yang berlangsung dalam periode
waktu yang panjang, bertahun-tahun atau berpuluh tahun yang disebut
secular trends.

b. Epidemiologi Analitik
Pendekatan atau studi ini dipergunakan untuk mencari faktor-faktor penyebab
timbulnya penyakit atau mencari penyebab terjadinya variasi dari data dan informasi-
informasi yang diperoleh studi epidemiologi deskriptif.
Epidemologi Analitik adalah riset epidemiologi yang bertujuan untuk:
Menjelaskan faktor-faktor resiko dan kausa penyakit.
Memprediksikan kejadian penyakit
Memberikan saran strategi intervensi yang efektif untuk pengendalian penyakit.

1) Experimental :
Studi ini dilakukan dengan mengadakan eksperimen (percobaan) kepada
kelompok subjek kemudian dibandingkan dengan kelompok kontrol (yang tidak
dikenakan percobaan).
Contoh : untuk menguji keampuhan suatu vaksin, dapat diambil suatu kelompok
anak kemudian diberikan vaksin tersebut. Sementara itu diambil sekelompok anak
pula sebagai kontrol yang hanya diberikan placebo. Setelah beberapa tahun
kemudian dilihat kemungkinan-kemungkinan timbulnya penyakit yang dapat
dicegah dengan vaksin tersebut, kemudian dibandingkan antara kelompok
percobaan dan kelompok kontrol. Dimana penelitian dapat melakukan
manipulasi/mengontrol faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil penelitian
dan dinyatakan sebagai tes yang paling baik untuk menentukan cause and effect
relationship serta tes yang berhubungan dengan etiologi, kontrol, terhadap
penyakit maupun untuk menjawab pertanyaan masalah ilmiah lainnya.
i. Experimental Murni
10

o Dilakukan di laboratorium maupun klinis dengan randomisasi yaitu
setiap individu dalam penelitian mempunyai kesempatan sama
untuk terpilih dalam kelompok kasus atau kontrol
o Menggunakan binatang percobaan
o Contoh: clinical trial, high risk group
ii. Experimental Semu (Quasy Experimental)
o Tidak memakai randomisasi
o Dilakukan terhadap kelompok populasi tertentu (manusia) yang
merupakan satu unit yang tidak dapat dipisahkan
2) Non Experimental
- Observasi
Studi kohort / follow up / incidence/ prospektif studi.
Kohort diartiakan sebagai sekelompok orang. Tujuan studi mencari akibat
(penyakitnya). Dalam studi ini sekelompok orang dipaparkan (exposed)
pada suatu penyebab penyakit (agent). Kemudian diambil sekelompok
orang lagi yang mempunyai ciri-ciri yang sama dengan kelompok pertama
tetapi tidak dipaparkan atau dikenakan pada penyebab penyakit. Kelompok
kedua ini disebut kelompok kontrol. Setelah beberapa saat yang telah
ditentukan kedua kelompok tersebut dibandingkan, dicari perbedaan antara
kedua kelompok tersebut, bermakna atau tidak.
Contoh : Untuk membuktikan bahwa merokok merupakan faktor utama
penyebab kanker paru-paru, diambil 2 kelompok orang, kelompok satu
terdiri dari orang-orang yang tidak merokok kemudian diperiksa apakah ada
perbedaan pengidap kanker paru-paru antara kelompok perokok dan
kelompok non perokok.
Studi kasus kontrol/case control study/studi retrospektif.
Tujuannya mencari faktor penyebab penyakit. Dalam studi ini akan
dibandingkan antara 2 kelompok orang, yakni kelompok yang terkena
penyebab penyakit dengan kelompok orang yang tidak terkena (kelompok
kontrol).
Contoh : Ada hipotesis yang menyatakan bahwa penyebab utama kanker
paru-paru adalah rokok. Untuk menguji hipotesis ini diambil sekelompok
orang penderita kanker paru-paru. Kepada penderita ini ditanyakan tentang
kebiasaan merokok.
Dari jawaban pertanyaan tersebut akan terdapat 2 kelompok, yakni
penderita yang mempunyai kebiasaan merokok dan penderita yang tidak
merokok. Kemudian kedua kelompok ini diuji dengan uji statistik, apakah
ada perbedaan yang bermakna antara kedua kelompok tersebut.

4. Indikator Ukuran Epidemiologi
a. Angka/ Rate
i. Ukuran Morbiditas/ kesakitan
11

1. Incidence Rate


k = suatu nilai tertentu, biasanya 100.000. Tetapi nilai 100, 1000, 10.000, atau
bahkan 1000.000 sering juga digunakan. Pemilihan nilai k biasanya dibuat sehingga
angka terkecil diperoleh dalam seri yang mempunyai hanya 1 digit sebelah kiri titik
desimal. Contoh : angka terkecil = 4,2/100 bukan 0,42/1000
2. Attack Rate
Attack Rate adalah Incidence Rate, yang dinyatakan dalam persen, diterapkan
terhadap populasi tertentu yang sempit dan terbatas padasuatu periode, misalnya
dalam suatu wabah (epidemi)
3. Prevalence rate
a) Periode Prevalence Rate (PePR)


b) Point Prevalence Rate (PoPR)



ii. Ukuran Fertilitas
1. Crude Birth Rate (CBR)



2. Age Specific Fertility Rate (ASFR)



3. Total Fertility Rate (TFR)



iii. Ukuran Mortalitas/ kematian
1. Case Fatality Rate (CFR)




Jumlah kasus baru suatu penyakit selama periode tertentu x k
jumlah orang pada pertengahan periode pengamatan
Jumlah kasus (lama+baru) yang ada selama periode waktu tertentu x k
jumlah orang yang diamati

Jumlah kasus (lama+baru) yang ada pada titik waktu tertentu x k
jumlah orang yang diamati
Jumlah kelahiran hidup selama 1 tahun x k
jumlah rata-rata populasi pada pertengahan tahun
Jumlah kelahiran oleh ibu kelompok umur tertentu selama 1 tahun x k
jumlah rata-rata populasi wanita kelompok umur tertentu pada pertengahan tahun
jumlah angka fertilitas menurut umur x k
Jumlah kematian karena kasus tertentu
jumlah populasi yang menderita kasus tersebut
12

2. Crude Death rate (CDR)



3. Age Specific death Rate (ASDR)



4. Angka Kematian Kausa Khusus



5. Angka Kematian Proportional



6. Angka Survival



7. Under Five Mortality Rate (AFMR)



8. Neonatal Mortality Rate (NMR)



9. Perinatal Mortality Rate (PMR)




10. Infant Mortality Rate (IMR)



11. Maternal Mortality Rate (MMR)





Jumlah kematian selama 1 tahun x k
jumlah rata-rata populasi pada pertengahan tahun
Jumlah kematian kelompok umur tertentu selama 1 tahun x k
jumlah rata-rata populasi kelompok umur tertentu pada pertengahan tahun
Jumlah kematian karena penyebab tertentu selama 1 tahun x k
jumlah rata-rata populasi pada pertengahan tahun
Jumlah kematian karena penyebab tertentu pada waktu tetentu x k
jumlah kematian pad waktu yang sama
Jumlah kasus hidup pada akhir periode x k
Jumlah kasus hidup pada awal periode
Jumlah kematian bayi pada tahun tertentu x k
Jumlah bayi pada tahun tertentu
Jumlah kematian anak umur < 28 hari selama 1 tahun x k
Jumlah kelahiran hidup pada tahun yang sama
Jumlah kematian fetus umur 28 minggu atau lebih dan
bayi umur < 7 hari selama 1 tahun x k
Jumlah kelahiran hidup dan kematian fetus umur 28
minggu atau lebih kehamilan pada tahun yang sama
Jumlah kematian umur < 1 tahun x k
Jumlah kelahiran hidup pada tahun yang sama
Jumlah kematian ibu akibat komplikasi kehamilan, persalinan, atau nifas x k
Jumlah kelahiran hidup
13

12. Angka Kematian Bayi


13. Fetal Death Rate (FDR)




b. Rasio
Suatu pernyataan frekuensi nisbi suatu kejadian suatu peristiwa tehadap peristiwa lainnya


Contoh : ada 19 pria, 7 wanita. rasio kasus pria terhadap kasus wanita = 19 : 7 = 2,7 : 1

c. Proporsi
Suatu persen, yakni, proporsi dari jumlah peristiwa-peristiwa dalam kelompok data yang
mengenai masing-masing kategori (atau sub kelompok) dari kelompok itu.


contoh : jumlah penduduk = 26, terdiri dari 7 wanita; 19 pria. Maka, proporsi pria = 19/26 x
100 = 73,1 %

5. Ruang Lingkup Epidemiologi
d. Etiologi : menidentifikasi penyebab
e. Efikasi : melihat hasil/efek suatu intervensi dengan uji klinik
f. Efktivitas : mengetahui besarnya hasil yang didapat dari suatu tindakan
g. Efisiensi : mengetahui hasil yang diperoleh berdasarkan besarnya pengeluaran
ekonomi
h. Evaluasi : melihat dan memberi nilai keberhasilan suatu program
i. Edukasi : peningkatan pengetahuan tentang kesehatna masyarakat sebagai
bagian dari upaya pencegahn penyakit
Epidemiologi sekurang-kurangnya mencakup 3 elemen, yaitu:
a) Mencakup semua penyakit
Jumlah kematian fetus selama 1 tahun x k
Jumlah kematian kelahiran hidup dan fetus pada tahun yang sama
Jumlah kematian bayi selama 1 tahun x k
Jumlah kelahiran hidup pada tahun yang sama
Jumlah dari subkelompok x 100
Jumlah dari kelompok
Jumlah populasi yang mempunyai atribut tertentu x 1
Jumlah populasi yang mempunyai atribut berbeda
14

Epidemiologi mempelajari semua penyakit infeksi maupun non-infeksi (kanker,
malnutrition, kecelakaan lalu lintas atau kecelakaan kerja, sakit jiwa). Di negara maju,
epidemiologi ini mencakup kegiatan pelayanan kesehatan.
b) Populasi
Epidemiologi mempelajari tentang distribusi penyakit pada populasi (masyarakat) atau
kelompok
c) Pendekatan ekologi
Epidemiologi mempelajari terjadinya penyakit pada seseorang dikaji dari manusia dan
total lingkungannya.

6. Penyakit (Faktor yang mempengaruhi timbulnya penyakit)
Definisi Penyakit
o Penyakit adalah kegagalan mekanisme adaptasi suatu organisme untuk bereaksi
secara tepat terhadap rangsangan atau tekanan sehingga timbullah gangguan pada
fungsi atau struktur dari bagian, organ, atau sistem tubuh (Gold Medical-Dictionary).
o Penyakit adalah suatu keadaan dimana proses kehidupan tidak lagi teratur atau
terganggu perjalanannya (Van Dales Groot Woordenboek der Nederlandse Tall).
o Penyakit bukan hanya merupakan kelainan yang dapat dilihat dari luar, tetapi juga
suatu gangguan keteraturan fungsi-fungsi dalam tubuh (Arrest Hof te Amsterdam).

Segitiga / Trias Epidemiologi
Merupakan konsep dasar epidemiologi yang memberikan gambaran tentang hubungan 3
faktor yang berperan dalam ternjadinya penyakit. Timbulnya penyakit berkaitan dengan
gangguan interaksi antara ketiga faktor ini.
a. Faktor Penjamu = Host = Tuan Rumah
Manusia atau mahluk hidup lainnya yang menjadi tempat terjadi proses ilmiah
perkembangan penyakit
1) Genetik : sickle cell disease
2) Umur : ada kecenderungan penyakit menyerang umur tertentu
3) Jenis Kelamin/ gender : ada penyakit yang hanya terjadi pada wanita
4) Suku/ras/warna kulit : ada perbedaan kulit putih dengan hitam di Amerika
5) Keadaan fisiologis tubuh : kelelahan, kehamilan, pubertas, stres, keadaan gizi
6) Keadaan imunologis : kekebalan yang diperoleh karena infeksi sebelumnya,
antibodi dari ibu, vaksinasi/ kekebalan buatan
7) Tingkah laku/ behavior : gaya hidup (life style), personal hygiene, hubungan
antar pribadi, rekreasi

Karakteristik Penjamu
1) Resistensi : kemampuan bertahan dari infeksi
2) Imunitas : kekebalan terhadap penyakit tertentu
15

3) infektifnes : potensi penjamu untuk menularkat penyakit kepada penjamu
lainnya

b. Faktor Agen = Penyebab
Suatu unsur, organisme hidup, atau kuman infektif yang dapat menyebabkan
terjadinya penyakit
4) Nutrisi/ gizi : kelebihan gizi (kolesterol tinggi), kekurangan lemak, dsb
5) Kimiawi : zat beracun (karbon monooksida), asbes, kobaly, zat alergen
6) Fisik : radiasi, trauma mekanik (pukulan, tabrakan)
7) Biologis
Metazoa: : cacing tambang, cacing gelang
Protozoa : amuba, malaria
Bakteri : sifilis, typhoid, pneumonia, tuberculosis
Fungi/ jamur : histoplasmosis, taenia pedis
Rickettsia : rocky mountain spotted fever
Virus : campak, cacar (smallpox) poliomyelitis

Karakteristik Agent
1. Infektivitas
Kesanggupan dari organisme untuk beradaptasi sendiri terhadap lingkungan sari
penjamu untuk mampu tinggla dan berkembang biak/ muliply dalam jaringan
penjamu
2. Patogenitas
Kesanggupan dari organisme untuk menimbulkan suatu reaksi klinis khusu yang
patologis setelah terjadinya infeksi pada penjamu yang diserang
3. Virulensi
Kesanggupan dari organisme untuk menghasilkan reaksi patologias yang berat,
yang selanjutnya menyebabkan kematian. Virulensi kuman menunjukkan
beratnya penyakit
4. Toksisitas
Kesanggupan dari organisme untuk memproduksi reaksi kimia yang toksis dari
subtansi kimia yang dibuatnya
5. Invasitas
Kesanggupan dari organisme untuk melakukan penetrasi dan menyebar setelah
memasuki jaringan
6. Antigenisitas
Kesanggupan dari organisme untuk merangsang reaksi imunologis dalam
penjamu

c. Faktor Environment = Lingkungan
Semua faktor luar dari suatu individu
16

1) Lingkungan fisik : geologi, iklim, geografik
2) Lingkungan Biologis:
kepadatan penduduk, flora (sumber makanan), fauna (sumber protein)
3) Lingkunagn Sosial :
Migrasi/urbanisasi, lingkungan kerja, keadaan perumahan, keadaan sosial
masyarakat (kekacauan, bencana alam, perang, banjir)

Karakteristik Agent
1) Topografi
Situasi lokal tertentu, baik yang natural maupun buatan manusia yang
mempengaruhi terjadinya dan penyebaran penyakit
2) Geografis
Keadaan yang berhubungan dengan struktur geologi dari bumi yang
berhubungan dengan kejadian penyakit



Tahapan Riwayat Alamiah Penyakit
a. Tahap Prepatogenesis = Stage of Suseptibility
- Individu berada dalam keadaan normal / sehat tetapi mereka pada dasarnya
peka terhadap kemungkinan terganggu oleh serangan agent penyakit
- Interaksi penjamu dengan agent di luar tubuh penjamu
- belum ada tanda-tanda sakit
b. Tahap Patogenesis
1. Tahap Inkubasi
Tenggang waktu antara masuknya bibit penyakit ke dalam tubuh yang peka
terhadap penyebab penyakit, sampai timbulnya gejala penyakit. Masa ini bervariasi
2. Tahap Dini
- Muncul gejala penyakit yang kelihatan ringan
- Ada gangguan patologis/ phatologic changes
- Penyakit dalam mas subklinik
3. Tahap Akhir
a) Sembuh sempurna : bibit penyakit menghilang, tubuh pulih;sehat kembali
b) Sembuh dengan cacat
Bibit penyakit menghilang, penyakit sudah tidak ada, tubuh tidak pulih
sempurna, meningglakn bekas gangguan yang permanen
c) Karier
Bibit penyakit tetap ada tanpa memperlihatkan gangguan, tubuh pulih kembali
d) Penyakit tetap berlangsung secara kronik
e) Kematian

17

c. Pasca Patogenesis
1. Sembuh
2. Peerlangsunagn kronik
3. Cacat
4. Mati

B. PROMOSI KESEHATAN
1. Sehat
Undang-undang Kesehatan no. 23 tahun 1992 memberikan batasan bahwa sehat adalah
keadaan kesehatan fisik, jiwa, sosial dan ekonomi yang produktif (Sesuai definisi sehat WHO).
a. Kesehatan Fisik
Apabila seseorang tidak merasakan sakit dan memang secara klinis tidak sakit
b. Kesehatan Jiwa/ Mental
i. Pikiran yang sehat tercermin dari cara berpikir seseorang, yaitu mampu berpikir
logis
ii. Emosional yang sehat tercermin kemampuan seseorang mengekspresikan
emosinya
iii. Spiritual yang sehat tercermin dari kemampuan seseorang mengekspresikan rasa
syukur kepada Sang Pencipta. Secara mudah spiritual yang sehat itu adalah
kepercayaannya kepada Yang Maha Kuasa, serta melakukan perbuatan baik sesuai
dengan norma-norma dalam masyarakat
c. Kesehatan Sosial
Terwujud apabila seseorang mampu berhubungan dengan orang lain tanpa
membedakan ras, suku, agama atau kepercayaan, status sosial, ekonomi, politik, saling
menghargai dan toleransi
d. Kesehatan Ekonomi
Terlihat dari produktifitas seseorang dalam arti mempunyai kegiatan yang menghasilkan
sesuatu yang dapat menyokong kehidupan individu maupun keluarganya

Pola Dasar Indikator Kesehatan
Oleh Fashel dan Bush yang berdasarkan uraiannya pada definisi Parson menjabarkan pola
indikator kesehatan ke dalam 11 tingkatan sebagai berikut:
1) Well Being (Sehat sempurna)
Pada keadaan ini individu bebas gejala, sesuai definisi sehat WHO
2) Dissatisfaction (Kurang memuaskan)
Keadaan kesehatan individu dalam batas-batas tertentu dapat diterima tetapi ada
penyimpangan ringan dari Well being, misal adanya karies gigi
3) Discomfort (Tidak nyaman)
Aktivitas sehari-hari dapat dilaksanakan, walaupun beberapa gejala mulai nampak
4) Minor disability (Ketidakmampuan minor)
Aktivitas sehari-hari dapat dilaksanakan, walaupun beberapa gejala mulai nampak
5) Major disability (Ketidakmampuan mayor)
Aktivitas sehari-hari masih dapat dilaksanakan, tapi berkurang secara signifikan
18

6) Disabled (Cacat)
Individu tidak mampu melakukan kegiatan sehari-hari, tapi masih bisa bergerak bebas di
masyarakat
7) Confined (Terbatas) : Individu berada di tempat tidur tetapi tidak masuk RS
8) Confined +Bed-ridden (Tinggal di tempat tidur)
Kemampuan dan kegiatan individu hanya terbatas di tempat tidur
9) Isolated (Terisolasi) : Individu terpisah dari sanak keluarga dan kawan-kawan (dirawat)
10) Coma : Individu hampir mati, namun ada kemungkinan bisa sembuh dan sehat lagi
11) Mati : Individu tidak mampu sama sekali

2. Definisi Promosi Kesehatan
Upaya memasarkan, menjual, memperkenalkan pesan-pesan atau program-program
kesehatan sehingga masyarakat menerima/ membeli/ mengenal pesa-pesan kesehatan
tersebut, yang akhirnya masyarakat mau berperilaku hidup sehat. (Soekidjo, 2005)
Segala bentuk kombinasi pendidikan kesehatn dan intervensi yang terkait dengan
ekonomi, politik, dan organisasi yang dirancang untuk memudahkan perubahan
perilaku dan lingkunagn yang kondusif bagi kesehatan. (Lawrence Green, 1984)
The process of enabling people to increase control over and to improve their health.
Pomosi kesehatan adalah proses untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam
memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Selain itu, untuk mencapai derajat
kesehatan yang sempurna, baik fisik, mental, dan sosial, maka masyarakat harus
mampu mengenal dan mewujudkan aspirasinya, kebutuhannya, dan mampu mengubah
atau mengatasi lingkungannya. (Ottawa Charter, Kanada 21-11-1986)
Australian Health Foundation
Promosi kesehatan adalah program kesehatan yang dirancang untuk membawa
perubahan (perbaikan), baik di dalam masyarakat sendiri, maupun dalam organisasi
dan lingkungannya.

3. Visi Promosi Kesehatan
Visi umum promosi kesehatan tidak terlepas dari Undang-Undang Kesehatan No. 23/1992,
maupun WHO, yakni Meningkatnya kemampuan masyarakat untuk memelihara dan
meningkatkan derajat kesehatan, baik fisik, mental, dan sosialnya sehingga produktif secara
ekonomi maupun sosial.

4. Misi Promosi Kesehatan
a. Advokat (Advocate)
Melakukan kegiatan advokasi terhadap para pengambil keputusan di berbagai program dan
sektor yang terkait dengan kesehatan, yaitu dengan melakukan upaya-upaya agar para
pembuat keputusan atau penentu kebijakan tersebut mempercayai dan meyakini bahwa
program kesehatan yang ditawarkan perlu didukung melalui kebijakan-kebijakan atau
keputusan-keputusan politik.
b. Menjembatani (Mediate)
19

Menjadi jembatan dan menjalin kemitraan dengan berbagai program dan sektor yang terkait
dengan kesehatan. Dalam melaksanakan program-program kesehatan perlu kerja sama
dengan program lain di lingkungan kesehatan, maupun sektor lain yang terkait.
c. Memampukan (Enable)
Memberikan kemampuan atau keterampilan kepada masyarakat agar mereka mampu
memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri secara mandiri. Hal ini berarti
kepada masyarakat diberikan kemampuan atau keterampilan agar mereka mandiri di bidang
kesehatan, termasuk memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka. Selanjutnya,
dengan ekonomi keluarga yang meningkat, maka kemampuan dalam pemeliharaan dan
peningkatan kesehatan keluarga juga meningkat.

5. Ruang Lingkup Promosi Kesehatan
a. Ruang Lingkup Berdasarkan Aspek Kesehatan
Telah menjadi kesepakatan umum bahwa kesehatan masyarakat itu mencakup 4 aspek
pokok, yakni : promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Ahli lain hanya membaginya
menjadi 2 aspek, yakni :
1) Promosi kesehatan pada aspek promotif
Sasaran promosi kesehatan pada aspek promotif adalah kelompok orang sehat.
Selama ini kelompok orang sehat kurang memperoleh perhatian dalam upaya
kesehatan masyarakat. Padahal kelompok oang sehat di suatu komunitas sekitar 80-
85% dai populasi. Apabila jumlah ini tidak dibina kesehatannya, maka jumlah ini akan
meningkat. Oleh sebab itu pendidikan kesehatan pada kelompok ini perlu ditingkatkan
atau dibina agar tetap sehat, atau lebih meningkat lagi.
2) Promosi kesehatan pada aspek pencegahan dan penyembuhan
Pada aspek ini upaya promosi kesehatan mencakup 3 upaya, yakni :
a) Pencegahan tingkat pertama (Primary prevention)
Sasaran promosi kesehatan pada aspek ini adalah kelompok masyarakat yang
berisiko tinggi, misalnya kelompok ibu hamil dan menyusui, para perokok,
obesitas, para pekerja seks, dan sebagainya.
Tujuan: agar mereka tidak jatuh sakit atau terkena penyakit.
b) Pencegahan tingkat kedua (Secondary prevention)
Sasaran promosi kesehatan pada aspek ini adalah para penderita penyakit
kronis, misalnya asma, diabetes melitus, tuberkulosis, rematik, tekanan darah
tinggi, dan sebagainya.
Tujuan : agar penderita mampu mencegah penyakitnya menjadi lebih parah.
c) Pencegahan tingkat ketiga (Tertiary prevention)
Sasaran promosi kesehatan pada aspek ini adalah kelompok pasien yang baru
sembuh dari suatu penyakit.
Tujuan : agar mereka segera pulih kembali kesehatannya dan agar tidak menjadi
cacat atau mengurangi kecacatan seminimal mungkin (rehabilitasi)

b. Ruang Lingkup Berdasarkan Tatanan Pelaksanaan
20

Pada ruang lingkup promosi kesehatan ini dapat dikelompokkan menjadi :
1) Promosi kesehatan pada tatanan keluarga (rumah tangga)
Keluarga atau rumah tangga adalah unit masyarakat terkecil. Oleh sebab itu untuk
mencapai perilaku masyarakat yang sehat harus dimulai di masing-masing keluarga.
Di dalam keluargalah mulai terbentuk perilaku-perilaku masyarakat. Orang tua
merupakan sasaran utama dalam promosi kesehatan pada tatanan ini.
2) Promosi kesehatan pada tatanan sekolah
Sekolah merupakan perpanjangan tangan pendidikan kesehatan bagi keluarga.
Sekolah, terutama guru umumnya lebih dipatuhi oleh murid-muridnya. Oleh sebab itu
lingkungan sekolah, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial yang sehat, akan
sangat berpengaruh terhadap perilaku sehat anak-anak (murid). Kunci pendidikan
kesehatan di sekolah adalah guru.
3) Promosi kesehatan di tempat kerja
Tempat kerja merupakan tempat orang dewasa memperoleh nafkah untuk keluarga.
Lingkungan kerja yang sehat (fisik dan nonfisik) akan mendukung kesehatan pekerja
atau karyawannya dan akhirnya akan menghasilkan produktivitas yang optimal. Oleh
sebab itu pemilik, pemimpin, atau manajer dari institusi tempat kerja termasuk
perkantoran merupakan sasaran promosi kesehatan sehingga mereka peduli terhadap
kesehatan para pekerjanya dan mengembangkan unit pendidikan kesehatan di tempat
kerja.
4) Promosi di tempat-tempat umum
Tempat-tempat umum di sini mencakup pasar, terminal bus, bandar udara, tempat-
tempat perbelanjaan, tempat-tempat olahraga, taman-taman kota, dan sebagainya.
Tempat-tempat umum yang sehat, bukan saja terjaga kebersihannya, tetapi juga harus
dilengkapi dengan fasilitas kebersihan dan sanitasi, terutama WC umum dan sarana
air bersih, serta tempat sampah. Para pengelola tempat-tempat umum merupakan
sasaran promosi kesehatan agar mereka melengkapi tempat-tempat umum dengan
fasilitas yang dimaksud.
5) Fasilitas pelayanan kesehatan
Fasilitas pelayanan kesehatan ini mencakup Rumah Sakit (RS), puskesmas, poliklinik,
rumah bersalin, dan sebagainya. Sering terlihat di mana rumah sakit atau puskesmas
tidak menjaga kebersihan fasilitas pelayanan kesehatan. Keadaan fasilitas tersebut
kotor, bau, tidak ada air, tidah ada tempat sampah dan sebagainya. Oleh sebab itu
pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan merupakan sasaran utama promosi kesehatan
di fasilitas pelayanan kesehatan ini. Kepada para pemimpin atau manajer institusi
pelayanan kesehatan ini diperlukan kegiatan advokasi. Sedangkan bagi para
karyawannya diperlukan pelatihan tentang promosi kesehatan.

c. Ruang Lingkup Berdasarkan Tingkat Pelayanan
Berdasarkan dimensi tingkat pelayanan kesehatan, promosi kesehatan dapat dilakukan
berdasarkan lima tingkat pencegahan (five levels of prevention) dari Leavel and Clark.
1) Promosi kesehatan (Health promotion)
21

Dalam tingkat ini promosi kesehatan diperlukan misalnya dalam peningkatan gizi,
kebiasan hidup, perbaikan sanitasi lingkungan, kesehatan perorangan, dan
sebagainya.
2) Perlindungan khusus (Specific protection)
Dalam program imunisasi sebagai bentuk pelayanan perlindungan khusus ini, promosi
kesehatan sangat diperlukan terutama di negara-negara berkembang. Hal ini karena
kesadaran masyarakat tentang pentingnya imunisasi pada orang dewasa maupun
pada anak-anaknya, masih rendah.
3) Diagnosis dini dan pengobatan segera (Early diagnosis and prompt treatment)
Dikarenakan rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan
dan penyakit, maka penyakit-penyakit yang terjadi di dalam masyarakat sering sulit
terdeteksi. Bahkan kadang-kadang masyarakat sulit atau tidak mau diperiksa dan
diobati penyakitnya. Hal ini akan menyebabkan masyarakat tidak memperoleh
pelayanan kesehatan yang layak. Oleh sebab itu, promosi kesehatan sangat
diperlukan pada tahap ini.
4) Pembatasan cacat (Disability limitation)
Kurangnya pengertian dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan dan penyakit,
sering mengakibatkan masyarakat tidak melanjutkan pengobatannya sampai tuntas.
Mereka tidak melakukan pemeriksaan dan pengobatan yang komplit terhadap
penyakitnya. Pengobatan yang tidak layak dan sempurna dapat mengakibatkan yang
bersangkutan menjadi cacat atau memilik ketidakmampuan untuk melakukan sesuatu.
5) Rehabilititas (Rehabilitation)
Setelah sembuh dari suatu penyakit tertentu, kadang-kadang orang menjadi cacat.
Untuk memulihkan cacatnya tersebut diperlukan latihan-latihan tertentu. Oleh karena
kurangnya pengertian dan kesadarannya orang tersebut, maka ia tidak atau segan
melakukan latihan-latihan yang dianjurkan. Di samping itu, kadang mereka merasa
malu untuk kembali ke masyarakat. Sering terjadi pula masyarakat tidak mau
menerima mereka sebagai anggota masyarakat yang normal. Oleh sebab itu jelas
promosi kesehatan diperlukan bukan saja untuk orang yang cacat tersebut, tetapi juga
untuk masyarakat.

6. Strategi Promosi Kesehatan
Strategi Global Menurut WHO, 1994
a. Advokasi
Sasaran / mitra : pembuat keputusan atau penentu kebijakan baik di bidang
kesehatan maupun sektor lain di luar kesehatan, yang mempunyai pengaruh
terhadap public, baik di Pusat maupun di daerah (birokrat, lembaga legislatif, politisi,
dan penyandang dana)
Keluaran yang diharapkan : kebijakan yang sehat, yang dapat mendukung
pengembangan lingkungan dan perilaku seha dan yang menguntungkan kesehatan
publik.
22

Kegiatan yang dilakukan : melalui lobby, penyajian data / laporan, pertemuan intensif,
orientasi, dll
b. Dukungan sosial / social support
Sasaran/mitra : Ditujukan kepada para tokoh masyarakat, baik formal (guru, lurah,
camat dan sebagainya) maupun informal (tokoh agama, dan sebagainya) yang
mempunyai pengaruh di masyarakat. para pembuat opini, tokoh berpengaruh,
pengelola media massa dan petugas kesehatan
Keluaran yang diharapkan : iklim kondusif dan opini positif yang mendukung
pertumbuhan perilaku dan perkembangan lingkungan sehat,
Tujuannya agar kegiatan atau promosi kesehatan tersebut memperoleh dukungan
dari para tokoh masyarakat dan tokoh agama dimana para tokoh masyarakat dan
tokoh agama tersebut dapat menjembatani antara pengelola program kesehatan
dengan masyarakat.
Kegiatan yang dilakukan : mengembangkan pesan melalui media massa,
peningkatan kemitraan dengan organisasi kemasyarakatan / organisasi profesi / lsm,
tokoh masyarakat / tokoh agama serta meningkatkan peran dan kepedulian petugas
kesehatan sendiri
c. Pemberdayaan masyarakat / empowerment
Sasaran/mitra : masyarakat langsung, organisasi kemasyarakatan/organisasi
profesi/LSM
Keluaran yang diharapkan : tumbuhnya budaya hidup bersih dan sehat serta
berkembangnya peran aktif masyarakat dalam berbagai upaya kesehatan guna
meningkatkan kesehatan mereka sendiri.
Kegiatan yang dilakukan : melakukan pendidikan, pelatihan, penyuluhan, kunjungan
rumah, dll


Strategi Promosi Kesehatan Berdasarkan Piagam Ottawa
a. Kebijakan berwawasan kesehatan
Kegiatan ini ditujukan kepada para pembuat keputusan atau penentu kebijakan,
sehingga dikeluarkan atau dikembangkannya kebijakan-kebijakan pembangunan yang
berwawasan kesehatan yang berarti bahwa setiap kebijakan pembangunan di bidang
apa saja harus mempertimbangkan dampak kesehatannya bagi masyarakat.
b. Lingkungan yang mendukung
Kegiatan ini ditujukan kepada para pemimpin organisasi masyarakat serta pengelola
tempat-tempat umum, dimana diharapkan mereka memperhatikan dampaknya terhadap
lingkungannya.
c. Reorientasi pelayanan kesehatan
Penyelenggaraan pelayanan kesehatan merupakan tanggung jawab bersama antara
pihak pemberi pelayanan dan pihak penerima pelayanan. Kegiatan ini melibatkan
masyarakat dalam pelayanan kesehatan yang berarti memberdayakan masyarakat
dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya sendiri.
23

d. Keterampilan individu
Meningkatkan keterampilan setiap anggota masyarakat agar mampu memelihara dan
maningkatkan kesehatan mereka sendiri adalah sangat penting. Hal ini berarti bahwa
masing-masing individu di dalam masyarakat seyogyanya mempunyai pengetahuan dan
kemampuan yng baik terhadap memelihara kesehatannya.
e. Gerakan Masyarakat
Mewujudkan derajat kesehatan masyarakat akan efektif apabila unsur-unsur yang ada di
masyarakat bergerak bersama-sama, meningkatkan kegiatan-kegiatan masyarakat
dalam mengupayakan peningkatan kesehatan mereka sendiri merupakan wujud dari
gerakan masyarakat.

7. Target Promosi Kesehatan
Indonesia sehat 2010
8. Sasaran Promosi Kesehatan
a. Sasaran primer
Sasaran yang mempunyai masalah
Diharapkan mau dan mampu berperilaku hidup sehat
Masyarakat pada umumnya
b. Sasaran sekunder
Individu/ kelompok yang berpengaruh terhadap sasaran primer
Para tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat
Diharapkan mampu mendukung pesan-pesan yang disampaikan kepada sasaran
primer
c. Sasaran tersier
Para pembuat keputusan atau penentu kebijakan
Pihak yang berpengaruh di tingkat desa, kecamatan, dan tingkat atasnya


9. Metode dan Teknik Promosi Kesehatan
a. Berdasarkan Teknik Komunikasi
1) Metode penyuluhan langsung.
Dalam hal ini para penyuluh langsung berhadapan atau bertatap muka dengan sasaran.
Termasuk di sini antara lain : kunjungan rumah, pertemuan diskusi (FGD), pertemuan di
balai desa, pertemuan di Posyandu, dll.
2) Metode yang tidak langsung.
Dalam hal ini para penyuluh tidak langsung berhadapan secara tatap muka dengan
sasaran, tetapi ia menyampaikan pesannya dengan perantara (media). Umpamanya
publikasi dalam bentuk media cetak, melalui pertunjukan film, dsb
b. Berdasarkan Jumlah Sasaran Yang Dicapai
1) Pendekatan Perorangan
24

Dalam hal ini para penyuluh berhubungan secara langsung maupun tidak langsung
dengan sasaran secara perorangan, antara lain : kunjungan rumah, hubungan telepon,
dan lain-lain
2) Pendekatan Kelompok
Dalam pendekatan ini petugas promosi berhubungan dengan sekolompok sasaran.
Beberapa metode penyuluhan yang masuk dalam ketegori ini antara lain : Pertemuan,
Demostrasi, Diskusi kelompok, Pertemuan FGD, dan lain-lain
3) Pendekatan Masal
Petugas Promosi Kesehatan menyampaikan pesannya secara sekaligus kepada sasaran
yang jumlahnya banyak. Beberapa metode yang masuk dalam golongan ini adalah :
Pertemuan umum, pertunjukan kesenian, Penyebaran tulisan/poster/media cetak lainnya,
Pemutaran film, dll
c. Berdasarkan Indera Penerima
1) Metode melihat/memperhatikan.
Dalam hal ini pesan diterima sasaran melalui indera penglihatan, seperti : penempelan
poster, pemasangan gambar/photo, pemasangan koran dinding, pemutaran film
2) Metode pendengaran.
Dalam hal ini pesan diterima oleh sasaran melalui indera pendengar, umpamanya :
penyuluhan lewat radio, pidato, ceramah, dll
3) Metode kombinasi.
Dalam hal ini termasuk : demonstrasi cara (dilihat, didengar, dicium, diraba dan dicoba)

Kelebihan dan kekurangan masing-masing metode
Kunjungan Rumah
Kunjungan rumah adalah suatu hubungan langsung antara penyuluh dengan
masyarakat sasaran dan keluarganya di rumah ataupun ditempat biasa mereka
berkumpul. Biasanya kegiatan ini disebut anjang sono, anjang karya, dsb.
Cara melakukannya dengan memperhatikan hal-hal seperti berikut :
Ada maksud dan tujuan tertentu
Tepat waktunya dan tidak membuang-buang waktu
Rencanakan beberapa kunjungan berurutan untuk menghemat waktu
Kunjungi pula sasaran yang jauh dan terpencil
Metode ini untuk memperkuat metode-metode lainnya atau bila metode-metode
lainnya tidak mungkin
Selama berkunjung harus diingat hal-hal seperti :
Membicarakan soal-soal yang menarik perhatian
Biarkan keluarga sasaran berbicara sebanyak-banyaknya dan jangan memotong
pembicaraannya
Bicara bila keluarga sasaran itu ingin mendengarkannya
Bicara dalam gaya yang menarik sasaran
Pergunakan bahasa umum yang mudah, bicara pelan-pelan dan suasana
menyenangkan
25

Harus sungguh-sungguh dalam pernyataan
Jangan memperpanjang mempersilat lidah
Biarkan keluarga sasaran merasa sebagai pemrakarsa gagasan yang baik
Harus jujur dalam mengajar maupun belajar
Meninggalkan keluarga sasaran sebagai kawan
Catat tanggal kunjungan, tujuan, hasil dan janji
Membawa surat selebaran, brosur, dsb untuk diberikan kepada keluarga sasaran.
Ini akan menjalin persahabatan
Kelebihan metode ini adalah :
Mendapat keterangan langsung perihal masalah-masalah kesehatan
Membina persahabatan
Tumbuhnya kepercayaan pada penyuluh bila anjuran-anjurannya diterima
Menemukan tokoh-tokoh masyarakat yang lebih baik
Rintangan-rintangan antara penyuluh dengan keluarga sasaran menjadi kurang
Mencapai juga petani yang terpencil, yang terlewat oleh metode lainnya
Tingkat pengadopsian terhadap perilaku kesehatan yang baru lebih tinggi
Keterbatasannya adalah :
Jumlah kunjungan yang mungkin dilakukan adalah terbatas
Kunjungan-kunjungan yang cocok bagi keluarga sasaran dan penyuluh adalah
terbatas sekali
Kunjungan yang terlalu sering pada satu keluarga sasaran akan menimbulkan
prasangka pada keluarga lainnya
Pertemuan Umum
Pertemuan umum adalah suatu pertemuan dengan peserta campuran dimana
disampaikan beberapa informasi tertentu tentang kesehatan untuk dilaksanakan oleh
masyarakat sasaran.
Cara melakukannya dengan perencanaan dan persiapan yang baik, seperti :
Rundingkan dahulu dengan orang-orang yang terkait
Konsultasi dengan tokoh-tokoh setempat dan buatlah agenda acara sementara
Jaminan kedatangan para nara sumber lainnya (bila diperlukan)
Usahakan ikut sertanya semua golongan di tempat itu.
Hal-hal perlu diperhatikan :
Rapat diselenggarakan ditempat yang letaknya strategis, dengan penerangan dan
udara yang segar
Waktu yang dipilh adalah waktu luang masyarakat
Pada siang hari, bila tempat-tempat tinggal orang berjauhan
Tepat memulai dan mengakhiri pertemuan
Perhatikan ditujukan kepada tujuan pertemuan dengan memberikan kesempatan
untuk berdiskusi. Hindari pertengkaran pendapat
Anjuran mempergunakan alat-alat peraga
Usaha-usaha menarik perhatian, menggugah hai dan mendorong kegiatan
26

Memberikan penghargaan kepada semua golongan yang hadir
Libatkan tokoh-tokoh masyarakat setempat
Usahakan kegiatan lanjutan (bila ada)
Berikan selembaran-selembaran yang sesuai dengan materi yang didiskusikan
Kelebihan metode ini adalah :
Banyak orang yang dicapai
Menjadi tahap persiapan untuk metode lainnya
Perkenalan pribadi dapat ditingkatkan
Segala macam topik/judul dapat diajukan
Adopsi suatu anjuran secara murah/sedikit biaya
Kekurangan / keterbatasannya :
Tempat dan sarana pertemuan tidak selalu cukup
Waktu untuk diskusi biasanya terbatas sekali
Pembahasan topik sedikit lebih sulit karena peserta yang hadir adalah campuran
Kejadian-kejadian di luar kekuasaan seperti cuaca buruk, dsb dapat mengurangi
jumlah kehadiran
Pertemuan Diskusi ( Kelompok Diskusi Terfokus )
Pertemuan diskusi adalah untuk kelompok yang lebih kecil atau lebih sedikit pesertanya
yaitu berkisar 12-15 orang saja. Harus ada partisipasi yang baik dari peserta yang
hadir.
Biasanya dipergunakan untuk menjelasan suatu informasi yang lebih rinci dan
mendetail serta pertukaran pendapat mengenai perubahan perilaku kesehatan.
Keberhasilan pertemuan FGD banyak tergantung dari petugas penyuluh untuk :
Memperkenalkan soal yang dapat perhatian para peserta
Memelihara perhatian yang terus menerus dari para peserta
Memberi kesempatan kepada semua orang untuk mengemukakan pendapatnya
dan menghindari dominasi beberapa orang saja
Membuat kesimpulan pembicaraan-pembicaraan dan menyusun saran-saran yang
diajukan
Berikan bahan-bahan informasi yang cukup agar peserta sampai pada kesimpulan
yang tepat.
Demonstrasi cara atau percontohan
Demontrasi adalah memperlihatkan secara singkat kepada suatu kelompok bagaimana
melakukan suatu perilaku kesehatan baru. Metode ini lebih menekankan pada
bagaimana cara melakukannya suatu perilaku kesehatan. Kegiatan ini bukan lah suatu
percobaan atau pengujian, tetapi sebuah usaha pendidikan. Tujuannya adalah untuk
meyakinkan orang-orang bahwa sesuatu perilaku kesehatan tertentu yang dianjurkan itu
adalah berguna dan praktis sekali bagi masyarakat. Demonstrasi ini mengajarkan suatu
ketrampilan yang baru.
Cara melakukannya dengan segala perencanaan dan persiapan yang diperlukan,
seperti :
27

Datang jauh sebelum kegiatan di mulai untuk memeriksa peralatan dan bahan
yang diperlukan
Mengatur tempat sebaik mungkin, sehingga semua peserta dapat melihatnya dan
ikut dalam diskusi
Demonstrasi dilakukan tahap demi tahap sambil membangkitkan keinginan peserta
untuk bertanya-tanya
Berikan kesempatan pada wakil peserta untuk mencoba ketrampilan perilaku yang
baru
Berikan selebaran yang cepat (brosur, dll) yang bersangkutan dengan demostrasi
itu
Anjuran :
Pilihlah topik yang berdasarkan keperluan masyarakat
Demonstrasi dilakukan tepat masanya
Pengumuman yang luas sebelum waktunya untuk menarik banyak perhatian dan
peserta
Pergunakan alat-alat yang mudah di dapat orang
Hilangkan keraguan-raguan, tetapi hindarikan pertengkaran mulut
Hargai cara-cara yang biasa dilakukan masyarakat
Kelebihan / keuntungan metode ini :
Cara mengajar ketramilan yang efekif
Merangsasang kegiatan
Menumbuhkan kepercayaan pada diri sendiri
Kekurangan / keterbatasannya :
Memerlukan banyak persiapan, peralatan dan ketrampilan
Merugikan bila demonstrasi dilaksanakan dengan kualitas yang buruk

10. Pihak yang Terlibat dalam Promosi Kesehatan
Secara kolektif, berbagai sektor, unsur, dan profesi dalam masyarakat seperti praktisi medis,
psikolog, media massa, para pembuat kebijakan publik dan perumus perundang-undangan
dapat dilibatkan dalam program promosi kesehatan. Praktisi medis termasuk perawat dapat
mengajarkan kepada masyarakat mengenai gaya hidup yang sehat dan membantu mereka
memantau atau menangani risiko masalah kesehatan tertentu. Para psikolog berperan dalam
promosi kesehatan lewat pengembangan bentuk-bentuk intervensi untuk membantu
masyarakat mempraktikkan perilaku yang sehat dan mengubah kebiasaan yang buruk. Media
massa dapat memberikan kontribusinya dengan menginformasikan kepada masyarakat
perilaku-perilaku tertentu yang berisiko terhadap kesehatan seperti merokok dan mengonsumsi
alkohol. Para pembuat kebijakan melakukan pendekatan secara umum lewat penyediaan
informasi-informasi yang diperlukan masyarakat untuk memelihara dan mengembangkan gaya
hidup sehat, serta penyediaan sarana-sarana dan fasilitas yang diperlukan untuk mengubah
kebiasaan buruk masyarakat. Berikutnya, perumus perundang-undangan dapat menerapkan
aturan-aturan tertentu untuk menurunkan risiko kecelakaan seperti misalnya aturan
penggunaan sabuk pengaman di kendaraan (Taylor, 2003).
28


11. Faktor yang mempengaruhi Kesehatan Masyarakat (konsep Blum)
Kesehatan merupakan interaksi, baik internal maupun faktor eksternal.
Faktor Internal terdiri dari faktor fisik dan psikis
Faktor eksternal terdiri dari faktor-faktor: sosial, budaya masyarakat, lingkungan fisik,
ekonomi penduduk dan lain-lain
Secara garis besar, faktor langsung dan tidak langsung yang berpengaruh pada status
kesehatan dapat dilihat dari Konsep Blum



Environtment :
Lingkungan sosial: budaya, religi, komunikasi
Lingkungan biologik: Kepadatan penduduk, sumber makanan
Lingkungan fisik: Iklim, tanah, air
Life style :
Resiko akibat gaya hidup mewah
Pola konsumsi yang buruk ,misalnya rokok,ketagihan alcohol, kolesterol berlebihan,
penggunaan obat yang salah
Resiko akibat kerja termasuk merasa tertekan pada pekerjaan
Genetic :
bersumber pada ketahanan diri
imunitas
ketahanan mental spiritual, dsb

12. Penyerapan Materi Dalam Promosi Kesehatan
Seseorang belajar melalui panca inderanya. Setiap indera ternyata berbeda pengaruhnya
terhadap hasil belajar seseorang, sebagai mana gambaran berikut :






29

Oleh karena itu seseorang dapat mempelajari sesuatu dengan baik apabila ia menggunakan
lebih dari satu indera . Apa yang bisa kita ingat?
10% dari yang kita baca
20% dari yang kita dengar
30% dari yang kita lihat
50% dari yang kita lihat dan dengar
80% dari yang kita ucapkan
90% dari yang kita ucapkan dan lakukan

13. Upaya Kesehatan
Kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah
a. Pencegahan
1) Pencegahan Tingkat Awal/ Priemordial Prevention
Pemantapan status kesehatan/ underlying condition
Pemakaian makanan bergizi, rendah lemak jenuh
Pengendalian pelarangan merokok
2) Pencegahan Tingkat Pertama/ Primary Prevention
a) Promosi kesehatan/ helath promotion
Pendidikan kesehatan, penyebaran informasi kesehatan
Konsultasi gigi
Penyediaan air bersih
Pembersihan lingkungan/ sanitasi
Konsultasi genetik
b) Pencegahan Khusus
Pemberian imunisasi dasar
Pemberian vitamin a, tablet penambah zat besi
Perlindungan kerja terhadap bahan berbahaya
3) Pencegahan Tingkat Kedua/ Secondary Prevention
a) Diagnosis awal dan pengobatan tepat/ early diagnosis and promt treatment
Screening/ penyaringan
Penjejakan kasus/ case finding
Pemeriksaan khusus (laboratorium dan tes)
Pemberian obat yang rational dan efektif
b) Pembatasan kecacatan/ disability limitation
Operasi plastik pada bagian atau organ yang cacat
Pemasangan pin pada tulang yang patah
4) Pencegahan Tingkat Ketiga/ Tertiary Prevention
Rehabilitasi
Rehabilitasi fisik : rehabilitasi cacat tubuh dengan pemberian alat bantu
Rehabilitasi sosial : rumah perawatan wanita tua/ jompo
30

Rehabilitasi kerja/ vocational services: Rehabilitasi masuk ke tempat kerja
sebelumnya, mengaktifkan optimum organ yang cacat

b. Pemeliharaan
1) Sarana pemeliharaan primer (Primary Care)
Pelayanan Kesehatan bagi kasus-kasus/ penyakit ringan (Pelayanan pertama yang
menyentuh masyarakat)
2) Pemeliharaan tingkat-dua (Secondary Care)
Pelayanan terhadap kasus-kasus yang tidak bisa ditangani pelayanan primer
3) Pemeliharaan tingkat-tiga (Tertiary Care)
Pelayanan terhadap kasus-kasus yang tidak bisa ditangani pelayanan primer dan
sekunder (misal: RS provinsi tipe B dan A)


DAFTAR PUSTAKA
1. Nor, Nasry Nur. 2008. Epidemiologi. Jakarta : Rineka Cipta.
2. Notoadmojo, Soekidjo. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Pt Rineka
Cipta
3. Notoadmojo, Soekidjo. 2003. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Pt
Rineka Cipta
4. Bustan, M.N.. 2006. Pengantar Epidemiologi. Jakarta: Pt Rineka Cipta
5. Rahmawati, Yuanita Lely. 2011. Epidemiologi (Power Point Presentation)
6. Tirahiningrum, Purwani . 2011. Konsep Blum (Power Point Presentation)