Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN

NECROTIZING ENTEROCOLITIS
















Oleh:
PRIMA YUSIFA MEGA A. P.
105070207111014


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014


NECROTIZING ENTEROCOLITIS

1. Pengertian
Necrotizing enterocolitis(NEC) atau enterokolitis nekrotikan adalah suatu
kondisi abdomen akut yang umum terlihat pada periode neonatal. "Necrotizing"
berarti kematian jaringan, "entero" mengacu pada usus kecil, "colo" ke usus
besar, dan "itis" berarti peradangan.
Neonatal Necrotizing Enterocolitis (NEC) merupakan keadaan darurat yang
mengancam kehidupan di traktus gastrointestinal pada periode bayi baru lahir.
Penyakit ini di gambarkan dengan nekrosis pada mukosa saluran cerna.
Penyebab dari NEC masih belum jelas, namun diduga penyebabnya multi
faktorial. Angka kejadian dan angka kematian meningkat pada bayi yang lahir
dengan berat badan rendah atau premature. Penyakit ini jarang ditemukan pada
bayi yang cukup bulan
2. Epidemiologi

NEC merupakan sindrom gawat intestinal dan memerlukan tindakan darurat
yang sering ditemukan pada bayi prematur sehingga memerlukan rawatan di unit
rawatan intesif neonatus (NICU). NEC ditemukan 1 sampai 3 daripada 1000 kelahiran
hidup dan 1%-7% bayi baru lahir yang dirawat di NICU. Lahir prematur merupakan
faktor penting yang menyebabkan bayi menderita NEC sedangkan bayi yang lahir
cukup bulan jarang menderita NEC (<10%).
Angka kejadian NEC sangat bervariasi antar negara bagian di Amerika Serikat,
berkisar antara 328 % dengan rata-rata 6 -10 % terjadi pada bayi dengan berat lahir
kurang dari 1500 gram. Berbanding terbalik antara usia kehamilan saat lahir atau berat
lahir dengan insiden NEC, artinya semakin cukup usia kehamilan atau semakin cukup
berat lahir, semakin rendah resiko terjadinya NEC.
3

NEC lebih sering terjadi pada bayi laki laki, dan beberapa penulis melaporkan
angka kejadian lebih banyak pada orang afrika berbanding orang kulit putih ataupun ras
hispanik. Walaupun kebanyakan neonatus yang menderita NEC adalah bayi yang lahir
pada usia kehamilan preterm, namun 5-10 % dari kasus yang dilaporkan, juga terjadi

pada bayi yang lahir pada usia kehamilan lebih dari 36 minggu. Dalam tiga dekade
terakhir angka mortalitas yang disebabkan oleh NEC berkisar antara 10-30 % dengan
tren menurun seiring dengan semakin berkembangnya perawatan neonatus intensif.

3. Anatomi
Sistem pencernaan bayi baru lahir terdiri dari suatu organ dan fungsi yang
berbelit-belit dan system yang rumit. Hampir semua bayi yang baru lahir kehilangan
sebagian berat badan lahir selama beberapa hari pertama setelah dilahirkan.

Usus kecil
Sebagian besar pencernaan dan penyerapan makanan terjadi di usus kecil. Usus
kecil seperti tabung, sempit memutar yang menempati sebagian besar perut bagian
bawah yang berada di antara lambung dan awal dari usus besar. Panjangnya sekitar 20
kaki. Usus kecil terdiri dari 3 bagian: duodenum (bagian berbentuk C), jejunum (di
bagian tengah bergulung), dan ileum (bagian terakhir).
Usus kecil memiliki 2 fungsi penting. Pertama, proses pencernaan selesai di sini
oleh enzim dan zat lain yang dibuat oleh sel usus, pankreas, dan hati. Kelenjar di
dinding usus mengeluarkan enzim yang memecahkan kanji dan gula. Pankreas
mengeluarkan enzim ke dalam usus kecil yang membantu memecahkan karbohidrat,
lemak, dan protein. Hati menghasilkan empedu, yang disimpan dalam kantong empedu.
Empedu membantu untuk membuat molekul lemak (yang dinyatakan tidak larut dalam
air) larut, sehingga mereka dapat diserap oleh tubuh. Kedua, usus kecil menyerap nutrisi
dari proses pencernaan. Dinding bagian dalam usus halus ditutupi oleh jutaan proyeksi
mirip jari-jari kecil yang disebut vili. Vili ditutupi dengan proyeksi bahkan mungil yang
disebut mikrovili. Kombinasi vili dan mikrovili meningkatkan luas permukaan dari usus
kecil, yang memungkinkan penyerapan nutrisi terjadi. Bahan tidak tercerna akan
berjalan ke usus besar.

Usus Besar
Bentuk usus besar yang seperti U terbalik melingkari atas usus kecil. Usus besar
berawal di sisi kanan bawah dari tubuh dan berakhir pada sisi kiri bawah. Panjang usus
besar adalah sekitar 5-6 meter. Ia memiliki 3 bagian: sekum, usus besar, dan
rektum. Sekum adalah kantong pada awal dari usus besar. Kawasan ini memungkinkan

makanan untuk lulus dari usus kecil ke usus besar. Kolon adalah tempat dimana cairan
dan garam diserap dan memanjang dari sekum ke rektum. Bagian terakhir dari usus
besar adalah rektum, yang merupakan tempat feses yang disimpan sebelum
meninggalkan tubuh melalui anus.
Tugas utama dari usus besar adalah untuk memisahkan air dan garam (elektrolit)
dari bahan tercerna dan membentuk limbah padat sebelum dikeluarkan.
Bakteri dalam usus besar membantu untuk memecah bahan yang tidak dicerna. Isi sisa
dari usus besar bergerak ke arah rektum, dimana tinja disimpan sampai dikeluarkan
dari tubuh melalui anus.

4. Etiologi
Etiologi NEC hingga saat ini belum dapat dipastikan, namun diyakini erat
kaitannya dengan terjadinya iskemik intestinal yang berhubungan dengan faktor koloni
bakteri dan faktor makanan. Iskemik menyebabkan rusaknya dinding saluran cerna,
sehingga rentan pada invasi bakteri. NEC jarang terjadi sebelum tindakan pemberian
makanan dan sedikit terjadi pada bayi yang mendapat ASI. Bagaimananapun sekali
pemberian makanan dimulai, hal itu cukup untuk menyebabkan proliferasi bakteri yang
dapat menembus dinding saluran cerna yang rusak dan menghasilkan gas hidrogen. Gas
tersebut bisa berkumpul dalam dinding saluran cerna (pneumotosis intestinalis) atau
memasuki vena portal. Dapat juga disebabkan karena bayi lahir prematur dan berat
badanya sangat rendah, dari ibu yang mengkonsumsi kokain.

5. Manifestasi Klinis
Menurut WHO (2008), tanda-tanda umum pada NEC meliputi :
a. Distensi perut atau adanya nyeri tekan
b. Toleransi minum yang buruk
c. Muntah kehijauan atau cairan kehijauan keluar melalui pipa lambung
d. Darah pada feses
e. Tanda-tanda umum gangguan sistemik :
Apneu
Terus mengantuk atau tidak sadar
Demam atau hipotermi

f. Gastrointestinal:
Intoleransi makanan
Perut kembung
Perut tegang
Emesis
Okultisme darah / kotor dalam tinja
Massa pada perut
Eritema dinding perut
7. Diagnosis

Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis, gambaran klinis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang.
Pemeriksaan fisik : intoleransi makanan, peningkatan residu lambung, perut kembung,
okultisme darah / hematochezia, radang selaput perut, perubahan warna dinding perut,
massa pada perut.
Pemeriksaan laboratorium :
a. Darah lengkap dan hitung jenis
Hitung jenis leukosit bisa normal, tetapi biasanya meningkat, trombositopenia
sering terlihat. 50 % kasus terbukti NEC pada jumlah platelet < 50.000 uL
b. Kultur
Specimen darah, urin, feses, dan cairan serebrospinal sebaiknya diperiksa untuk
kemungkinan adanya virus, bakteri, dan jamur yang patogen.
c. Elektrolit
Gangguan elektrolit seperti hiponatremia dan hipernatremia serta hiperkalemia
sering terjadi.
d. Analisa gas darah
Asidosis metabolik, ataupun campuran asidosis metabolic dan respiratorik
mungkin terlihat.
e. Sistem koagulasi
Jika dijumpai trombositopenia ataupun perdarahan, screening koagulopati lebih
lanjut harus dilakukan. Prothrombin Time memanjang, Partial Thromboplastin
time memanjang, penurunan fibrinogen dan peningkatan produk pemecah

fibrin, merupakan indikasi terjadinya disseminated intravascular coagulation
(DIC).


8. Pemeriksaan Penunjang
a. Radiologi
Bayi yang diduga mengalami NEC memerlukan pemeriksaan radiologi berkala.
Pemeriksaan radiologi yang paling baik dalam mendiagnosis NEC yaitu dengan X-ray
berupa foto polos abdomen dan lateral kiri dekubitus. Beberapa tanda yang dapat
ditemukan pada NEC seperti:
1. Gambaran ileus ( distensi usus )
Multiple udara mengisi loop usus merupakan tanda awal dan paling umum
ditemukan pada foto X-ray pasien dengan NEC ( 55%-100% kasus ). Air fluid
level terlihat pada foto lateral dekubitus.
2. Intestinalis pneumatosis ( linear atau kistik )
Pneumatosis intestinal merupakan gas yang terdapat pada dinding usus, berbentuk
linier atau bulat. Gambaran pneumatosis intestinal pada pasien yang di duga NEC
merupakan salah satu diagnosis NEC. Gas yang terdapat dalam dinding usus
umumnya hydrogen, yaitu suatu produk dari metabolism bakteri dalam usus.
Terdapat dua bentuk pneumatosis intestinal yang ditemukan pada gambaran
radiologi, yaitu kistik dan linier. Bentuk kistik mempunyai bentuk granular atau
balon busa dan biasanya terdapat di submukosa. Bentuk kistik biasanya di
bingungkan dengan fecal mass yang terdapat pada usus. Bentuk linier dari
pneumatosis terdiri dari gelembung-gelembung yang berkumpul pada lapisan
muskularis dan submukosa.

3. Portal vein gas
Gambaran gas vena porta merupakan gambaran
radiolusen pada cabang vena hepar dan meperlihatkan
pelebaran pada vena tersebut. Gambaran gas pada
vena porta biasanya sulit ditemukan sekitar 10-30%
kasus. Gambaran udara pada vena porta merupakan
suatu prognosis buruk bagi pasien NEC.


4. Pneumoperitoneum
Udara bebas pada rongga peritoneum memperlihatkan
suatu perforasi dari usus, dimana angka kejadianya
sekitar 12-30% pasien. Gambaran dapat terlihat jelas
pada posisi lateral kiri dekubitus. Pada posisi supine
tampak gambaran udara bebas pada garis ligament
falciform (football sign).


5. Intraperitoneal fluid
Beberapa foto polos abdomen memperlihatkan adanya gambaran air fluid level
di rongga peritoneum. Terdapatnya gambaran asites dan udara pada vena porta
menunjukkan angka kematian yang tinggi pada pasien NEC.
6. Dilatasi persisten usus.
Gambaran persistent dilated loops pad foto polos abdomen suatu gambaran
dilatasi dari usus yang tidak berubah walaupun posisinya di rubah dalam waktu
24-36 jam. Pada pasien dengan gambaran ini mungkin sudah terjadi nekrosis.
Tapi adanya gambaran ini, bukan merupakan suatu petunjuk terjadinya nekrosis
usus.
b. Ultrasonografi
Ultrasonografi (USG) telah digunakan untuk mengidentifikasi nekrosis usus,
cairan intraperitoneal dan udara pada vena porta. Kegunaan USG untuk mendiagnosis
NEC lebih dapat digunakan pada pasien dengan tanda-tanda klinik yang meragukan

atau radiografik yang meragukan. Selain itu keuntungan menggunakan USG dalam
menengevaluasi NEC yaitu USG dapat digunakan secara cepat struktur abdominal,
mengobservasi ketebalan dinding usus, peristaltik dan perfusinya.
c. Magnetic Resonance Imaging
Magnetic Resonance Imaging (MRI) merupakan modalitas yang noninvasive
untuk mengidentifikasi bayi dengan iskemik usus dan NEC.

9. Penatalaksanaan Medis
Untuk NEC penatalaksanaanya adalah sebagai berikut:
Prinsip dasar tatalaksana NEC yaitu menatalaksananya sebagai akut abdomen dengan
ancaman terjadi peritonitis septic. Tujuannya adalah untuk mencegah perburukan
penyakit, perforasi intestinal dan syok. Jika NEC terjadi pada kelompok epidemis, para
penderita perlu dipertimbangakan untuk isolasi.
a. Nonoperatif
Jika tidak terdapat nekrosis atau perforasi, maka pengobatan bagi pasien NEC
adalah konservatif. Pemberian ASI/ susu formula di hentikan, saluran gastrointestinal di
dekompres melalui gastric tube dan di beri cairan intravena. Darah rutin, platelet,
analisa gas darah, CRP dan elektrolit diperiksa. Darah dan rutin di kultur, dan antibiotik
spektrum luas diberikan intravena sebagai terapi awal. Sampai sekarang, antibiotik yang
digunakan yaitu golongan penicillin, aminoglikosida dan antibiotik untuk melawan
organisme anaerob. Beberapa peneliti juga menggunakan kombinasik vancomycin dan
gentamicin atau vancomisyn dengan cephalosporin generasi ketiga.
Observasi ketat berupa pemeriksaan fisik berkala, pemeriksaan radiologi ( foto
polos abdomen AP dan lateral kiri dekubitus ) setiap 6 sampai 8 jam, platelet dan
leukosit, dan analisa gas darah.
Setelah pemberian ASI/Susu Formula, feses di periksa untuk melihat specimen
dan darah yang terkandung didalamnya. Pemberian ASI/Susu formula dihentikan jika
hasil pemeriksaan memberikan hasil positif. Pasien yang didiagnosa NEC secara
definitive, pengobatanya dengan mengistrahatkan kerja dari saluran cerna, dekompresi
dan antibiotic selama 7 sampai 14 hari. Pemasangan intra vena fluid drips diperlukan
untuk pemberian nutrisi parenteral. Jika pasien secara klinik mulai membaik, sejumlah
kecil susu formula dapat diberikan. Pasien secara konstan dan hati-hati di monitor

keadaanya seperti distensi perut, muntah atau nonspesifik tanda atau gejala NEC. pasien
yang telah menjalani operasi menerima antibiotik secara intravena selama 1 sampai 2
minggu. Pemberian susu mulai dilakukan ketika pasien secara klinik membaik dan
fungsi saluran cernanya telah menunjukkan perbaikan.
b. Manajemen Operasi
NEC yang lebih lanjut memerlukan intervensi operasi. Pneumoperitonium
merupakan indikasi mutlak untuk dilakukan intervensi bedah. Indikasi relatif
pembedahan yaitu gas vena portal, selulitis dinding abdomen, dilatasi segmen intestinal
yang menetap dilihat dari radiaografi, massa abdomen yang nyeri dan perubahan
kondisi klinis yang refrakter terhadap tatalaksana medis.Tujuan utama dari operasi yaitu
untuk membuang jaringan usus yang nekrotik dan mempertahankan ukuran usus.
Kondisi umum pasien harus dioptimalkan terlebih dahulu sebelum di operasi
dengan dukungan ventilator, penanganan syok, pemberian antibiotik spektrum luas, dan
koreksi anemia dan koagulopati. Produksi urine minimal 1mL/kgBB/jam.
c. Pencegahan
Mencegah prematuritas, pemberian antibiotic enteral dan penggunaan
cairan perenteral secara bijak, pemberian IgG dan IgM enteral, pemberian
kortikosteroid antenatal, penundaan atau melambatkan pemberian makanan
pendampinng ASI, pemberian ASI dan penggunaan prebiotik dapat menjadi
pendekatan yang paling baik dalam mencegah Enterokolitis Nekrotikan.

DAFTAR PUSTAKA


Anonim. Necrotizing Enterocolitis. Diunduh dari: www.
pediatric.com/ilmiah/20060220-t08agh-ilmiah-popular.doc. Diakses tanggal 17 maret
2014.

Anonim. Enterokolitis Nekrotikans. Diunduh dari: http://millssehat.web.id/?p=359.
Diakses tanggal 17 maret 2014.

Anonim. Penyakit dan Gangguan Kesehatan pada Anak: Necrotizing Enterocolitis
(NEC).Diunduhdari: http://gangguankesehatananak.blogspot.com/2010/05/necrotizing-
enterocolitis-nec.html. Diakses tanggal 17 maret 2014.

Anonim. Necrotizing Enterocolitis, e-Book.. Diunduh
dari:http://www.scribd.com/doc/16796982/nec-n-probiotik#fullscreen:on. Diakses
tanggal 17 maret 2014.

Springer S. Necrotizing Enterocolitis. Diunduh
dari:http://emedicine.medscape.com/article/977956-overview. Diakses tanggal 17 maret
2014.

Farmacia. Necrotizing Enterocolitis, Vol.8. Diunduh dari: http://www.majalah-
farmacia.com/rubrik/one_news.asp?IDnews=869. Diakses tanggal 17 maret 2014.

Hunter CJ. Necrotizing Enterocolitis. Diunduh
dari: http://en.wikipedia.org/wiki/necrotizing-enterocolitis. Diakses tanggal 17 maret
2014.