Anda di halaman 1dari 20

Laporan Kasus

Skizofrenia Herbefrenik
F 20.1






Oleh
Nadiya Safitri I1A010036
Sri Hayati Nufaliana I1A010038

Pembimbing
dr. Yulizar Darwis, Sp.KJ

Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa
Fakultas Kedokteran UNLAM/RSUD Ulin
Banjarmasin
Juni, 2014

2
LAPORAN PEMERIKSAAN PSIKIATRI

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Nn. NS
Usia : 18 tahun
Jenis Kelamin : Wanita
Alamat : Jl. Lomo RT 01, Bumi Makmur
Pendidikan : Tidak tamat SD
Pekerjaan : Tidak bekerja
Agama : Islam
Suku : Banjar
Bangsa : Indonesia
Status Perkawinan : Belum Menikah
Tanggal Berobat : 4 Juni 2014

II. RIWAYAT PSIKIATRI
Diperoleh dari autoanamnesa pada tanggal 4 Juni 2014 dan alloanamnesa
dengan Ny. Syamsiah, orangtua kandung pasien pada tanggal 4 Juni 2014,
pukul 10.00 wita.

A. KELUHAN UTAMA :
Mengamuk

3
KELUHAN TAMBAHAN:
Suka keluyuran
Sering berbicara sendiri
Sulit tidur
B. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Alloanamnesis dengan Ny. Samsiah / 35 tahun / ibu kandung os
Ibu os mengeluh os mengamuk sejak 1 minggu yang lalu. Os mulai
mengamuk terutama saat os ingin pergi keluar rumah, tetapi tidak diizinkan
oleh ibu os. Saat mengamuk, os menghancurkan barang-barang dirumah
bahkan memukul adik dan ibunya sendiri. Menurut ibu os,, os tidak ada
melukai dirinya sendiri atau mencoba bunuh diri saat mengamuk. Os tidak
pernah berbicara pada ibu os bahwa os melihat bayangan ataupun
mendengar suara-suara bisikan aneh. Os juga tidak pernah mengaku dirinya
sebagai dewa, malaikat ataupun Tuhan. Os sering berbicara sendiri tetapi
tidak terlalu jelas apa yang dibicarakan. Os suka keluyuran terutama pada
siang hari. Tidur os terganggu. Biasanya os baru bisa tidur jam 4 pagi dan
makan os menjadi sedikit. Os tidak bisa mengurus dirinya sendiri, seperti
mandi, buang air kecil dan besar serta berpakaian sendiri. Menurut ibu os,
os tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan terlarang atau pun alkohol.
Sebelumnya, os pernah dirawat di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD)
Sambang Lihum selama 1 bulan dan 1 bulan yang lalu, yaitu pada bulan Mei
2014, os baru keluar dari RSJ. Setelah keluar, os mulai sering mondar-
mandir sendiri, dan tidak terarah. Ibu os menyebutkan bahwa os tetap
4
minum obat secara teratur. Obat yang diminum os ada 4 macam, tetapi ibu
os lupa nama obatnya.
Os dulunya memang sering diam dan tidak suka berbicara. Sewaktu
kecil, os merupakan anak yang pintar. Os tidak lulus SD. Os hanya sekolah
sampai kelas 6 SD. Saat os sekolah, os sering diejek oleh teman-temannya
karena badan os yang besar. Semenjak itu os berhenti sekolah karena takut
diejek. Os lahir secara normal dan cukup bulan. Riwayat kejang dan demam
tinggi disangkal. Os sempat tinggal bersama kedua orangtuanya sampai os
berusia 6 tahun. Saat usia itu, ayah os meninggal dunia dan sekarang os
hanya tinggal bersama ibu dan adik os.
Autoanamnesis:
Os tidak koperatif saat diajak berbicara. Os tidak mau menjawab saat
ditegur dan diberikan pertanyaan. Os hanya mondar-mandir kemuadian os
tiba-tiba berbaring di lantai IGD dan setelah di masukkan kedalam kamar os
tertidur, sehingga autoanamnesa menjadi tidak bisa dilakukan.

C. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
- Os tidak pernah ada riwayat demam dengan penurunan kesadaran
- Os tidak ada riwayat kejang
- Os pernah dirawat di RSJ sebelumnya dengan keluhan serupa




5
D. RIWAYAT KEHIDUPAN PRIBADI
1. Riwayat Antenatal dan Prenatal
Selama os dalam kandungan, ibu os tidak pernah mengalami masalah
kesehatan yang serius. Ibu os tidak ada mendapat masalah yang dapat
membuatnya gelisah atau sedih. Os lahir cukup bulan, dilahirkan
spontan dan langsung menangis, tidak ada cacat bawaan.
2. Infancy (0 - 1,5 tahun) Basic Trust vs. Mistrust
Tumbuh kembang normal seperti bayi seusianya. Tidak ada riwayat
demam tinggi dan kejang pada os. Os tidak ada keterlambatan dalam
bicara dan berjalan.
3. Early Childhood (1,5 3 tahun) Autonomy vs. Shame & Doubt
Os berperilaku seperti anak normal seusianya. Tidak hiperaktif dan
masih merespon saat diberi stimulus oleh lingkungan sekitarnya.
4. Preschool Age (3 6 tahun) Inisiative vs. Guilt
Os berteman baik dengan teman di lingkungan rumah os. Os sempat
tinggal bersama kedua orangtua os sampai usia os 6 tahun. Saat usia
itu, ayah os meninggal dunia karena sakit.
5. School Age (6 12 tahun) Industry vs. Inferiority
Os mulai bersekolah di SD pada usia 6 tahun. Saat itu, os termasuk
anak yang pintar. Saat os menginjak kelas 6 SD, yaitu pada usia 12
tahun, os sering diejek oleh teman-teman sekelas os karena badan os
yang besar. Semenjak itu, os berhenti sekolah karena takut diejek.

6
6. Adolescence (12 20 tahun) Identity vs. Role Diffusion
Os mulai sering diam dan jarang berbicara. Pada usia 17-18 tahun, os
mulai sering mondar-mandir sendiri dan mulai sering mengamuk. Os
pernah di rawat di RSJ karena keluhan mengamuknya tersebut.
7. Riwayat Pendidikan
Os tidak tamat SD. Os hanya bersekolah sampai kelas 6 SD. Saat
bersekolah os termasuk anak yang pintar. Tetapi, os tidak mau sekolah
lagi saat kelas 6 SD, karena os sering di ejek oleh teman-teman os.
8. Riwayat Pekerjaan
Os sebelumnya tidak pernah bekerja.
9. Riwayat Perkawinan
Os belum menikah.

E. RIWAYAT KELUARGA






Herediter (-)
Keterangan :
= Pasien
= Laki-laki
7
= Wanita
= Meninggal

F. RIWAYAT SITUASI SEKARANG
Os tinggal dengan ibu dan adik os. Os tidak bekerja. Kehidupan sehari-hari
pasien dibiayai oleh ibu os.

G. PERSEPSI PASIEN TENTANG DIRI DAN LINGKUNGANNYA
Os hanya mondar-mandir tanpa arah. Os tidak merespon saat ditanya,
sehingga sulit dievaluasi.

III. STATUS MENTAL
A. Deskripsi Umum
1. Penampilan
Os datang diantar oleh ibu os. Wajah os terlihat lebih tua dibandingkan
anak seusianya. Os bertubuh besar, memakai baju daster bergambar
mickey mouse, berjilbab warna cream dan bersendal jepit. Os tampak
tidak terawat dan agak berbau pesing. Os tampak mondar-mandir dan
tidak menjawab selama diberi pertanyaan.
2. Kesadaran
E4 Vx M6
3. Perilaku dan aktivitas psikomotor
Hiperaktif
4. Pembicaraan
8
Os tidak merespon saat ditanya, sehingga sulit dievaluasi
5. Sikap terhadap pemeriksa
Tidak kooperatif
6. Kontak psikis
Kontak ada tetapi sulit dipertahankan.
B. Keadaan Afektif, Perasaan, Ekspresi Afektif serta Empati
1. Afek : Hypothym
2. Ekspresi Afektif : Datar, terlihat bingung
3. Keserasian : Sulit dievaluasi
4. Empati : Tidak dapat dirabarasakan

C. Fungsi Kognitif
1. Intelegensi dan pengetahuan umum : sulit dievaluasi
2. Daya konsentrasi : sulit dievaluasi
3. Orientasi : Waktu : sulit dievaluasi
Tempat : sulit dievaluasi
Orang : sulit dievaluasi
Situasi : sulit dievaluasi
4. Daya Ingat : Segera : sulit dievaluasi
Jangka Pendek : sulit dievaluasi
Jangka Panjang : sulit dievaluasi
5. Pikiran abstrak : sulit dievaluasi
6. Bakat kreatif : sulit dievaluasi
9
7. Kemampuan menolong diri sendiri : tidak dapat menolong diri
sendiri
D. Gangguan Persepsi
Halusinasi auditorik/visual/olfaktorik : (Disangkal keluarga)
Depersonalisasi / derealisasi : (Disangkal keluarga)
E. Proses Pikir
1. Arus Pikir
a. Produktivitas : sulit dievaluasi
b. Kontinuitas : sulit dievaluasi
c. Hendaya berbahasa : sulit dievaluasi
2. Isi Pikir :
a. Preokupasi : sulit dievaluasi
b. Gangguan Isi Pikir : sulit dievaluasi
F. Pengendalian Impuls
Terkendali
G. Daya Nilai
1. Daya nilai sosial : sulit dievaluasi
2. Uji daya nilai : sulit dievaluasi
3. Penilaian realitas : sulit dievaluasi
H. Tilikan
Tilikan 1 : Pasien menyangkal dirinya sakit (dalam pandangan pemeriksa)
I. Taraf dapat dipercaya
Dapat dipercaya
10
IV. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT
1. Status Internus
Keadaan Umum : Tampak sehat, kesadaran kompos mentis
Tanda Vital : Tekanan Darah : 110/80 mmHg
Nadi : 80 X/menit
Respirasi : 20 X/menit
Suhu : 36,3
o
C
Bentuk badan : Gemuk
Kulit : sawo matang, tidak sianosis, turgor cepat kembali,
kelembaban cukup, tidak anemis.
Kepala :
Mata : Palpebra tidak edema, konjungtiva tidak anemis,
sklera tidak ikterik, pupil isokor
Hidung : Bentuk normal, tidak ada epistaksis, tidak ada
sekret
Mulut : Bentuk normal dan simetris, mukosa bibir terlihat
kering.
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening
Thoraks :
Inspeksi : Simetris, tidak ada retraksi dinding dada
Palpasi : Fremitus raba simetris kanan dan kiri
Perkusi :
Cor : batas jantung normal
11
Pulmo : sonor
Auskultasi :
Cor : S1=S2 tunggal, murmur (-)
Pulmo : Vesikuler, Ronkhi (-/-), Wheezing (-/-)
Abdomen :
Inspeksi : Simetris, cembung
Auskultasi : Peristaltik usus normal
Palpasi : Hepar/Lien tidak teraba, nyeri tekan (-)
Perkusi : Timpani, asites (-), nyeri ketuk (-)
Ektremitas : pergerakan bebas, tidak ada edema atau atrofi,
tidak ada tremor.
2. Status Neurologis :
Nervus I-XII : tidak ada kelainan
Gejala rangsang meningeal : tidak ada
Gejala TIK meningkat : tidak ada
Refleks fisiologis : normal
Refleks patologis : tidak ada

V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA

Os mulai mengalami perubahan perilaku sejak os berada di kelas 6 SD.
Stressor psikososial diduga karena os pada saat itu sering diejek oleh
teman sekelas os karena tubuh os yang besar. Sejak saat itu os takut dan
tidak mau bersekolah lagi
12
Gejala psikosis
Mengamuk
Bebicara sendiri
Os tidak bisa mengurus dirinya sendiri, seperti mandi, buang air kecil dan
besar serta berpakaian sendiri
Os saat diwawancara terlihat mondar-mandir sendiri, diam dan tidak mau
menjawab saat ditegur dan diberikan pertanyaan.
Os pernah dirawat di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Sambang Lihum
selama 1 bulan dan pada bulan Mei 2014, os baru keluar dari RSJ.
Pemeriksaan Psikiatri :
Perilaku dan aktifitas psikomotor : Hiperaktif
Kontak psikis : ada tetapi sulit dipertahankan
Pembicaraan : Os tidak mau menjawab
Afek : hypothym
Ekspresi afektif : datar, terlihat bingung
Konsentrasi : sulit dievaluasi
Daya ingat segera : sulit dievaluasi
Daya nilai sosial : sulit dievaluasi
Uji Daya nilai : sulit dievaluasi
Preokupasi : sulit dievaluasi
Gangguan pikiran : sulit dievaluasi
Produktivitas : sulit dievaluasi
Kontinuitas : sulit dievaluasi
13
Penilaian realita : sulit dievaluasi
Tilikan : Derajat 1
Taraf dapat dipercaya : dapat dipercaya

VI. EVALUASI MULTIAKSIAL
Aksis I : Skizofrenia Herbrefrenik (F 20.1)
Aksis II : none
Aksis III : none
Aksis IV : Masalah berkaitan dengan lingkungan sosial
Aksis V : GAF SCALE 30-21 (Disabilitas berat dalam komunikasi
dan daya nilai, tidak mampu berfungsi hampir semua
bidang).

VII. PROGNOSIS
Diagnosis penyakit : ad bonam
Perjalanan penyakit : ad bonam
Ciri kepribadian : dubia ad bonam
Riwayat herediter : ad bonam
Usia saat menderita : ad bonam
Pola keluarga : ad bonam
Pendidikan : ad bonam
Aktivitas pekerjaan : ad bonam
Ekonomi : dubia ad bonam
14
Lingkungan sosial : dubia ad bonam
Organobiologi : ad bonam
Pengobatan psikiatri : ad bonam
Kesimpulan : Dubia ad bonam

VIII. RENCANA TERAPI
Psikoterapi : support terhadap penderita dan keluarga
Terapi Religi : pasien harus diajarkan untuk lebih mendekatkan diri
kepada Tuhan, lebih sering ke pengajian untuk
menambah ilmu keagamaan
Rehabilitasi : memberi kegiatan kepada penderita yang sesuai bakat
dan minatnya agar membantu memepercepat
penyembuhan.
Psikofarmaka :
Chlorpromazin tablet 100 mg 3x1
Haloperidol tablet 5 mg 3x1
Trihexypenidyl 3 x 2 mg
Risperidone 3 x 2 mg
Inj. Lodomer 1 amp (i.m)
IX. DISKUSI
Berdasarkan hasil anamnesa serta pemeriksaan status mental, dan merujuk
pada kriteria diagnostik dari PPDGJ III, diagnosis penderita dalam kasus ini
15
mengarah ke skizofrenia dan dapat didiagnosa dengan skizofrenia herbefrenik
(F.20.1).
Skizofrenia adalah satu istilah untuk beberapa gangguan yang ditandai
dengan kekacauan kepribadian, distorsi terhadap realitas, ketidakmampuan untuk
berfungsi dalam kehidupan sehari-hari. Perasaan dikendalikan oleh kekuatan dari
luar dirinya, waham/delusi dan gangguan persepsi. Umumnya gangguan ini
muncul pada usia yang sangat muda, dan memuncak pada usia antara 25-35 tahun.
Gangguan yang muncul dapat terjadi secara lambat atau datang secara tiba-tiba
pada penderita yang cenderung suka menyendiri yang mengalami stress.
Skizofrenia hebefrenik disebut disorganized type atau kacau balau yang ditandai
dengan inkoherensi, afek inappropriate, perilaku dan tertawa kekanak-kanakan,
yang terpecah-pecah, dan perilaku aneh seperti menyeringai sendiri, menunjukkan
gerakan-gerakan aneh, mengucap berulang-ulang dan kecenderungan untuk
menarik diri secara ekstrim dari hubungan sosial.
Pedoman diagnostik untuk Skizofrenia menurut PPDGJ III, antara lain:
Harus ada sedikitnya satu gejala berikut yang sangat jelas(dan biasanya dua gejala
atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas). Gejala-gejala
tersebut ialah:
a. - thought echo = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema
dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya
sama, namun kualitasnya berbeda ; atau
16
- thought insertion or withdrawal = isi yang asing dan luar masuk ke
dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh
sesuatu dari luar dirinya (withdrawal); dan
- thought broadcasting= isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain
atau umum mengetahuinya;
b. - delusion of control = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu
kekuatan tertentu dari luar; atau
- delusion of passivitiy = waham tentang dirinya tidak berdaya dan
pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar; (tentang dirinya = secara jelas
merujuk kepergerakan tubuh / anggota gerak atau ke pikiran, tindakan,
atau penginderaan khusus);
- delusional perception = pengalaman indrawi yang tidak wajar, yang
bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau
mukjizat; Halusinasi auditorik
c. Halusinansi auditorik
d. Waham-waham menetap jenis lainnya.
Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini :
Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja
Arus pikiran yang terputus atau yang mengalami sisipan
Perilaku katatonik
Gejala-gejala negatif.
17
Adanya gejala tersebut berlangsung lebih dari 1 bulan, dan harus ada
perubahan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dari
beberapa prilaku pribadi (personal behavior).
Pedoman diagnosis secara umum untuk skizofrenia pada penderita ini
telah terpenuhi yaitu ditemukannya perilaku gaduh gelisah dan gejala-gejala
negatif pada penderita berupa bicara yang jarang, respon emosional yang tumpul,
penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial. Gejala-gejala
tersebut telah berlangsung selama kurang lebih 1 bulan yang lalu.
Pengelompokan tipe skizofrenia itu dapat dilihat dari gejala yang paling
menonjol (dominan) disamping gejala umum yang mendasari skizofrenia itu
sendiri, misalnya pada skizofrenia hebefrenik gejala yang menonjol adalah
perilaku kekanak-kanakan, pada skizofrenia katatonik gejala yang menonjol
adalah kekakuan motorik (otot alat gerak), pada skizofrenia paranoid gejala yang
menonjol adalah waham dan pada skizofrenia residual yang menonjol adalah
gejala negatif.
Ganguan jiwa skizofrenia adalah salah satu penyakit yang cenderung
berlanjut (kronis, menahun). Oleh karenanya terapi pada skizofrenia memerlukan
waktu relatif lama berbulan bahkan bertahun, Hal ini dimaksudkan untuk
menekan sekecil mungkin kekambuhan (relapse). Terapi yang dimaksud meliputi
terapi dengan obat-obatan anti Skizofrenia (psikofarmaka), psikoterapi, terapi
psikososial, dan terapi psikorelegius.
Tujuan umum pengobatan adalah mengurangi keparahan gejala kegilaan,
mencegah kekambuhan dari masa timbulnya gejala dan hal-hal yang berkaitan
18
dengan kemunduran fungsi, dan memberikan dukungan untuk mencapai taraf
hidup yang terbaik. Obat antipsikosis, aktivitas rehabilitasi dan komunitas
pendukung, dan psikoterapi adalah tiga komponen utama dalam pengobatan.
Terapi yang direncanakan untuk pasien ini adalah psikotropika yaitu
Chlorpromazin, Haloperidol, Trihexypenidyl, Risperidone, dan Lodomer.
Chlorpromazin dengan dosis 3x100 mg digunakan sebagai antipsikosis dengan
efek sekunder berupa sedasi kuat, untuk mengatasi gelisah dan susah tidur. Efek
primer obat ini memerlukan waktu 2-3 minggu untuk bekerja optimal. Lodomer 1
amp digunakan untuk menghilangkan gejala psikotik atipikal. Trihexypenidyl 3x2
mg digunakan untuk mengatasi adanya efek samping dari pemberian obat
antipsikosis yaitu sindrom parkinson seperti tremor, bradikinesia, dan rigiditas.
Risperidone merupakan antipsikosis atipikal yang digunakan untuk mengatasi
gejala negatif yang muncul pada pasien.
Hipotesis terjadinya sindrom psikosis diduga berkaitan dengan aktivitas
neurotransmitter dopamine yang meningkat (hiperaktivitas sistem dopaminergik
sentral). Sehingga, mekanisme kerja obat anti psikosis adalah memblokade
dopamin pada reseptor pasca sinaptik pada neuron di otak, khususnya di sistem
limbik dan sistem ekstrapiramidal (Dopamine D2 receptor antagonistsi) sehingga
efektif untuk gejala positif. Sedangkan obat anti psikosis atipikal disamping
berafinitas terhadap Dopamine D2 Receptors juga terhadap Serotonin 5 HT2
Receptors (Serotonin-dopamine antagonist), sehingga efektif juga untuk gejala
negatif.
19
Salah satu efek samping dari obat antipsikosis adalah hepatotoksik,
sehingga disarankan untuk melakukan pemeriksaan laboratorium rutin dam kimia
darah terutama untuk memeriksa fungsi hati (SGOT, SGPT), selain dapat dilihat
dari pemeriksaan fisik, seperti tanda ikterik dan palpasi hepar.
Selain menggunakan psikofarmaka, terapi pada pasien ini dapat dilakukan
dengan cara psikoterapi berupa terapi keluarga dan masyarakat agar bisa
menerima keadaan penderita dengan tidak menimbulkan stressor-stressor baru,
melainkan dapat menciptakan suasana yang kondusif untuk kesembuhan
penderita. Psikoterapi dan rehabilitasi merupakan penatalaksanaan gangguan jiwa
lanjutan yang sudah tenang bertujuan untuk menguatkan daya tahan mental,
mempertahankan kontrol diri dan mengembalikan keseimbangan adaptatif. Disini,
peran keluarga dan masyarakat sangat penting dalam membantu kesembuhan
pasien.
Prognosis untuk skizofrenia hebefrenik sama dengan skizofrenia tipe
lainnya, prognosisnya pada umumnya kurang begitu menggembirakan. Sekitar
25% pasien dapat kembali pulih dari episode awal. Sekitar 25% tidak akan pernah
pulih dan perjalanan penyakitnya cenderung memburuk. Sekitar 50% berada
diantaranya, ditandai dengan kekambuhan periodik dan ketidakmampuan
berfungsi dengan efektif kecuali untuk waktu yang singkat.




20
DAFTAR PUSTAKA

1. Maslim R. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkasan dari
PPDGJ-III. Jakarta : PT Nuh Jaya, 2001

2. Maramis WF, Maramis AA. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa Edisi 2.
Surabaya: Airlangga University Press, 2009.
3. Kusumawardhani AAAA, Husain AB, Adikusuma A, et al. 2010. Buku
Ajar Psikiatri. Jakarta: FK UI.
4. Sinaga Banhard Rudyanto. 2AA7. Skizofrenia dan Diagnosis Banding.
Balai Penerbit FKUI, Jakarta.

5. Kaplan, HI, Sadock BJ, Skizofrenia, In :Synopsis of Psychiatry : Behavioral
Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Edition,2007.