Osteoporosis adalah kondisi yang menyebabkan penipisan dan kelemahan tulang. Tulang
rapuh lebih mudah retak. Keretakan ini mungkin terjadi walaupun dengan trauma sangat
minimal. Walaupun tulang manapun mungkin mengalaminya, keretakan biasanya terjadi
pada panggul, tulang belakang dan pergelangan.
Di dunia, 200 juta wanita menderita osteoporosis dan resiko wanita mengalami keretakan
panggul sama dengan resiko gabungan mengalami kanker payudara, rahim dan indung telur.
Di Singapura, jumlah osteoporosis yang berhubungan dengan keretakan panggul pada wanita
lebih dari 50 tahun adalah 8 kali lebih besar dari kasus kanker payudara.
Siapa yang berisiko?
Walaupun wanita usia 50 tahun atau manula beresiko lebih tinggi untuk osteoporosis, wanita
muda dan laki-laki mungkin terkena juga.
Puncak masa tulang diperoleh pada usia 30. Sesudah itu, masa tulang turun secara bertahap.
Pada wanita hamil dan menyusui, kecepatan tulang hilang meningkat sementara jika
kebutuhan kalsium hamil atau menyusui meningkat tidak dipenuhi dengn peningkatan asupan
kalsium dari makanan. Pada wanita, terdapat juga penurunan masa tulang signifikan seketika
mengikuti periode kejdian menopause.
Faktor Resiko
Faktor Resiko dapat dibagi menjadi yang dapat diubah dan yang tidak dapat.
Faktor resiko yang tidak dapat diubah
Usia Resiko osteoporosis meningkat ketika seseorang bertambah tua
Wanita yang sudah melalui menopause Setelah menopause, tubuh memproduksi
esterogen lebih sedikit, esterogen melindungi tubuh dari kekurangan tulang
Sejarah keluarga osteoporosis atau keretakan yang berhubungan dengan osteoporosis
Kerangka tubuh ramping (struktur tulang kecil)
Ras Orang Barat atau keturunan Asia lebih banyak resiko
Masa tulang rendah atau osteopenia
Keretakan sebelumnya diikuti trauma tingkat rendah, khususnya setelah usia 50
Faktor resiko yang dapat diubah
Merokok Jangan merokok karena merokok menyebabkan kehilangan tulang dan
menopause dini
Konsumsi alcohol berlebih kelebihan jumlah alcohol tidak hanya menurunkan
formasi tulang, juga mempengaruhi kemampuan tubuh untuk menguraikan kalsium
Gaya hidup santai
Penyebab osteoporosis lainnya
Obat-obatan: Menggunakan beberapa obat-obatan jangka panjang dapat merusak
tulang. Ini termasuk kortikosteroid untuk mengobati kondisi kronik seperti asma,
rematoid artritis dan lain-lain, obat-obatan yang menurunkan hormone seks, beberapa
obat anti kejang dan kadang kala hormone tiroid ketika diresep dosis tinggi.
Bicarakan dengan penyedia pelayanan kesehatan Anda tentang obat-obatan yang
Anda minum.
Penyebab lainnya: Berbagai kondisi yang memperngaruhi penyerapan kalsium dan
berkontribusi terhadap kehilangan tulang. Ini termasuk penyakit hati atau ginjal,
diabetes, hipertiroidism (tiroid overaktif), penyakit Cushing (dimana tubuh
memproduksi kortisol berlebihan) dan kondisi seperti nervosa anoreksia.
Gejala
Osteoporosis dikenal sebagai penyakit diam karena kehilangan tulang terjadi tanpa gejala
dan Tanya nyeri. Kondisi tersebut seringkali tidak terdeteksi hingga agak parah.
Beberapa tanda pada tahap parah mungkin termasuk:
Keretakan panggul, tulang belakang, pergelangan
Nyeri punggung
Kehilangan tinggi badan dalam jangka waktu tertentu
Diagnosa
Osteoporosis dapat dideteksi melalui Tes Densitas Tulang yang paling sering dilakukan
menggunakan scan DEXA. Tes dapat menentukan jika Anda mengalami osteoporosis dengan
mengukur densitas mineral tulang atau kekuatan tulang pada panggul dan tulang belakang.
Tes ini cepat dan tidak nyeri dan serupa dengan melakukan x-ray tetapi menggunakan radiasi
lebih kecil.
Siapa yang harus dites?
Menopuse dini sebelum 45 thun
Keretakan sebelumnya karena jatuh
Anggota keluarga langsung dengan osteoporosis
Kurus atau kekurangan berat badan
Ringkih karena sakit jangka panjang
Wanita dengan kondisi diasosiasikan dengan osteoroposis seperti rematoid arthritis
Penggunaan obat kortikosteroid atau tiroid berkepanjangan
Pencegahan
Lakukan olah raga angkat berat teratur
Lakukan sedikitnya 3 kali seminggu, tetapi itu penting untuk menghindari olah raga yang
dapat mencederi tulang yang lemah. Pasien yang tidak melakukan olah raga sebelumnya atau
menderita masalah kesehatan harus berkonsultasi dengan dokter dulu.
Diet
Cukup kalsium, vitamin D dan fosfor baik melalui makanan atau suplemen. Dewasa di bawah
50 membutuhkan 1,000 mg kalsium setiap hari. Dewasa di atas 50 membutuhkan lebih dari
1,200 mg kalsium setiap hari. Vitamin D dibutuhkan tubuh untuk menyerap kalsium. Vitamin
D selain diperoleh melalui kulit lewat sinar matahari atau melalui makanan.
Dewasa di bawah 50 tahun membutuhkan 400-800 IU Vitamin D setiap hari sedangkan
dewasa lebih dari 50 membutuhkan 800-1000 IU Vitamin D setiap hari.
Jika Anda kesulitan memperoleh kalsium dan vitamin D yang Anda butuhkan dari makanan,
Anda dapat meminum suplemen.
Pilihan Pengobatan
Walaupun tidak ada kesembuhan untuk osteoporosis, beberapa pengobatan tersedia yang
dapat mencegah kehilangan tulang lebih lanjut dan meningkatkan kekuatan tulang. Ini secara
signifikan menurunkan resiko keretakan. Obat-obatan, olah raga semua berperan dalam
pengobatan.
Obat-obatan
Saat ini sebagian besar obat osteoporosis yang diijinkan beredar di kenal dengan agen
antiresorptif karena mereka mnghentikan resorpsi (atau deplesi) mineral tulang dalam
tulang. Obat yang merangsang pembentukan tulang juga tersedia. Dokter Anda dapat
membantu Anda memutuskan pengobatan mana yang terbaik untuk Anda.
Definisi
Osteoporosis berasal dari kata osteo dan porous, osteo artinya tulang, dan porous berarti
berlubang-lubang atau keropos. Jadi, osteoporosis adalah tulang yang keropos, yaitu penyakit
yang mempunyai sifat khas berupa massa tulangnya rendah atau berkurang, disertai gangguan
mikro-arsitektur tulang dan penurunan kualitas jaringan tulang yang dapat menimbulkan
kerapuhan tulang (Tandra, 2009).
Menurut WHO pada International Consensus Development Conference, di Roma, Itali,
1992 Osteoporosis adalah penyakit dengan sifat-sifat khas berupa massa tulang yang rendah,
disertai perubahan mikroarsitektur tulang, dan penurunan kualitas jaringan tulang, yang pada
akhirnya menimbulkan akibat meningkatnya kerapuhan tulang dengan resiko terjadinya patah
tulang (Suryati, 2006).
Menurut National Institute of Health (NIH), 2001 Osteoporosis adalah kelainan kerangka,
ditandai dengan kekuatan tulang mengkhawatirkan dan dipengaruhi oleh meningkatnya risiko
patah tulang. Sedangkan kekuatan tulang merefleksikan gabungan dari dua faktor, yaitu
densitas tulang dan kualitas tulang (Junaidi, 2007)
Osteoporosis yang biasa kita kenal dengan pengeroposan tulang adalah berkurangnya
kepadatan tulang yang progresif, sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Tulang
terdiri dari mineral-mineral seperti kalsium dan fosft, sehingga tulang menjadi keras dan
padat. Untuk mempertahankan kepadatan tulang, tubuh memerlukan persediaan kalsium dan
mineral lainnya yang memadai, dan harus menghasilkan hormon dalam jumlah yang
mencukupi (hormon paratoroid, hormon pertumbuhan, kalsitonin, estrogen pada wanita dan
testosterone pada pria) Juga persediaan vitamin D yang adekuat, yang diperlukan untuk
menyerap kalsium dari makanan dan memasukkan kedalam tulang.
Secara progresif, tulang meningkatkan kepadatannya sampai tercapai kepadatan maksimal
(sekitar usia 30 tahun). Setelah itu kepadatan tulang akan berkurang secara perlahan. Jika
tubuh tidak mampu mengatur kandungan mineral dalam tulang, maka tulang menjadi kurang
padat dan lebih rapuh, sehingga terjadilah osteoporosis.(www.medicastore.com)
C. Faktor Resiko
1. Faktor resiko yang tidak dapat diubah
a. Usia
Lebih sering terjadi pada lansia
b. Jenis Kelamin
Wanita 3 kali lebih sering terjadi dibandingkan pria. Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh
faktor hormonal dan rangka tulang yang lebih kecil.
c. Ras
Kulit putih mempunyai resiko paling tinggi.
d. Keturunan/Riwayat keluarga
Sejarah keluarga juga memengaruhi penyakit ini. Pada keluarga yang mempunyai riwayat
osteoporosis,anak-anak yang dilahirkannya cenderung mempunyai penyakit yang sama.
e. Bentuk tubuh
Adanya kerangka tubuh yang lemah dan skoliosis vertebra menyebabkan penyakit ini.
Keadaan ini terutama terjadi pada wanita antara usia 50-60 tahun dengan densitas tulang yang
rendah dan diatas usia 70 tahun dengan BMI (body mass index) [berat badan dibagi kuadrat
tinggi badan] yang rendah
2. Faktor resiko yang dapat diubah
a. Merokok
b. Defisiensi vitamin dan gizi (antara lain protein), kandungan garam pada makanana, perokok
berat, peminum alkohol dan kopi yang berat. Nikotin dalam rokok menyebabkan
melemahnya daya serap sel terhadap kalsium dari darah ke tulang. Oleh karena itu, proses
pembentukan tulang oleh osteoblas menjadi melemah.
Dampak konsumsi alkohol pada osteoporosis berhubungan dengan jumlah alhkohol yang
dikonsumsi. Konsumsi alkohol yang berlebihan akan menyebabkan melemahnya daya serap
sel terhadap kalsium dari darah ke tulang. Mengonsumsi kopi lebih dari 3 cangkir per hari
menyebabkan tubuh selalu ingin berkemih. Keadaan tersebut menyebabkan kalsium banyak
terbuang bersama air kencing karena berkurangnya daya serap kalsium itu tadi. Kekurangan
protein dan kalsium pada masa kanak-kanak dan remaja menyebabkan tidak tercapainya
massa tulang yang maksimal pada waktu dewasa.
c. Gaya hidup
Aktivitas fisik yang kurang dan imobilisasi dengan penurunan penyanga berat badan
merupakan stimulus penting bagi resorpsi tulang. Beban fisik yang terintegrasi merupakan
penentu dari puncak massa tulang.
d. Gangguan Makan
e. Menopause dini (Menopouse yang terjadi pada usia 46 tahun) dan hormonal, yaitu kadar
estrogen plasma yang kurang. Disini kadar estrogen menurun.
Dengan menurunnya kadar estrogen, resorpsi tulang menjadi lebih cepat sehingga akan
terjadi penurunan masa tulang yang banyak. Bila tidak segera diintervensi, akan cepat terjadi
osteoporosis.
D. Hormon didalam Tulang
1. Estrogen
Penyebab osteoporosis yang paling penting adalah penurunan kadar strogen yang terjadi
pada wanita saat menopouse. Ovarium wanita mulai membuat estrogen saat pubertas, dan
hormon ini membantu membatasi jumlah reabsorpsi tulang hingga menopouse. Estrogen
mengurangi aktivitas sel osteoklas yang melakukan resorps tulang yang beberapa ahli
percaya bahwa estrogen bahkan dapat mematikan sel osteoklas. Oleh karena itu, penurunan
kadar estrogen yang terjadi saat menopouse akan meningkatkan kecepatan reapsopsi tulang
sehingga pengeroposan tulang terjadi lebih cepat.
2. Testosteron
Seperti yang telah kita ketahui, osteoporosis dapat dialami oleh pria seperti halnya wanita,
dan kadar hormon juga dapat berperan pada pria. Pria memiliki estrogen meskipun dalam
jumlah yang jauh lebih sedikit daripada wanita. Yang lebih penting pada pria adalah peran
hormon pria yaitu testosteron yang dibuat dalam testis. Bila jumlah testosteron yang
dihasilkan abnormal rendah, maka pria tersebut dianggap mengalami, hipogonadisme. Hal ini
merupakan salah satu penyebab utama osteoporosis pada pria. Terdapat sejumlah alasan
mengapa testosteron yang dibuat terlalu sedikit.
a. Testis tidak tumbuh dengan semestinya, sehingga hormon yang dihasilkan sangat sedikit.
b. Peradangan atau cidera testis dapat mengganggu proses testosteron.
c. Alkohol menurunkan kadar testosteron, sehingga konsumsi alkohol secara berlebihan dapat
meningkatkan resiko osteoporosis
d. Pria usia pertengahan atau lanjut usia menghasilkan lebih sedikit testosteron di bandingkan
pria yang lebih muda
3. Hormon paratiroid
Hormon paratiroid yang di hasilkan oleh kelenjar paratiroid di leher, mengendalikan
pergerakan kalsium dan fosfat di antara tulang dan darah. Kalsium dan fosfat di butuhkan
untuk kekuatan kompresi (tekanan di dalam tulang) sehingga hormon paratiroid dapat
mempengaruhi kekuatan tulang dengan meningkatkan atau menurunkan kadar zat-zat gizi di
dalam tulang. Bila kadar vitamin D menurun maka hal ini memicu peningkatan kadar hormon
paratiroid. Hal ini memungkinkan kadar kalsium darah di pertahankan walaupun terdapat
pengeluaran kalsium dari tulang. Bila kadar hormon paratiroid terlalu tinggi (di sebabkan
oleh hiperparatiroidisme, di mana kelenjar paratiroid terlalu aktif atau vitamin D yang ada
sangat sedikit juga menyebabkan peningkatan kadar hormon paratiroid) maka hal ini dapat
menyebabkan kerapuhan tulang.
4. Kalsitonin
Kalsitonin yang diproduksi kelenjar tiroid adalah hormone yang menonaktifkan sel yang
merusak tulang sehingga hilangnya massa tulang yang terhambat, kalsitonin mencegah
hilangnya massa tulang belakang namun kurang efektif di bagian tulang lain seperti tulang
pinggul. Penelitian menunjukkan bahwa kalsitonin mengurangi resiko patah tulang, namun
tidak semua ahli yakin.
Ketika kalsium dalam darah tinggi kalsitonin menurunkan kalsium dan fosfat dalam darah
dengan menghambat resorpsi tulang dalam pemecahan penghancuran matrik ekstraseluler
tulang.
Kalsitonin di produksi oleh sel C kelenjat tiroid, juga memiliki pengaruh pada kadar kalsium
plasma. Dalam jangka pendek kalsitonin menunrunkan perpindahan kalsium dari cairan
tulang ke dalam plasma. Dalam jangka panjang kalsitonin menurunkan rearsorpsi tulang
menurunkan kadar fosfat serta menurunkan konsentrasi kalsium plasma.
5. Kalsitriol
Vitamin D tidak aktif, sementara kalsitiriol menurunkan bentuk vitamin D yang aktif.
Kalsitriol terbukti mencegah hilangnya massa tubuh dan mengurangi resiko patah tulang
belakang.
Vitamin D dianggap sebagai Pro-Hormon dalam pengertian yang sama seperti yodium
merupakan pro-hormon untuk tiroksin. Vitamin D merupakan pro-hormon steroid, bentuk
aktifnya tampak sebagai suatu hormon. Prohormon vitamin D melalui berbagai perubahan
metabolic di dalam tubuh akan diubah menjadi hormon kalsitriol.
Kalstriol meningkat konsentrasi fosfat dan kalsium plasma dengan meningkatnya absorpsi
kalsium dalam fosfat dari saluran gastrointerstinal dan juga meningkatkan rearbsorpsi tulang
dan meningkatkan pengaruh hormon paratiroid di nevron untuk mendukung rearbsorpsi
kalsium di tubulus ginjal.
E. Klasifikasi
1. Osteoporosis primer, keadaan umum/biasa terjadi dan bukan keadaan patologis (alami)
a. Tipe 1 adalah tipe yang timbul pada wanita pascamenopause pada usia rata-rata 55-65 tahun.
b. Tipe 2 terjadi pada orang lanjut usia, baik pria maupun wanita. Terjadi pada usia > 65 th,
terjadi pada laki-laki dan perempuan tetapi 2 X lebih sering pada wanita.
2. Osteoporosis sekunder, terjadi karena penyakit dan obat-obatan.
Osteoporosis sekunder terutama disebabkan oleh penyakit penyakit tulang erosif dan akibat
obat-obatan yang toksik untuk tulang (misalnya glukokortikoid). Jenis ini ditemukan pada
kurang lebih 2-3 juta klien.
3. Osteoporosis idiopatik, idiopatik= belum diketahui penyebabnya dan ditemukan pada:
a. Usia kanak-kanak (juvenil)
b. Usia remaja (adolesen)
c. Wanita pra-menopouse
d. Pria usia pertengahan
F. Etiologi
Kadar hormon tiroid dan paratiroid yang berlebihan dapat mengakibatkan hilangnya
kalsium dalam jumlah yang lebih banyak. Obat-obat golongan steroid pun dapat
mengakibatkan hilangnya kalsium dari tulang.
Proses pembentukan dan penimbunan sel-sel tulang sampai tercapai kepadatan maksimal
berjalan paling efisien sampai umur kita mencapai 30 tahun.
Semakin tua usia kita, semakin sedikit jaringan tulang yang dibuat. Padahal, di usia
tersebut, jaringan tulang yang hilang semakin banyak. Penelitian memperlihatkan bahwa
sesudah usia mencapai 40 tahun, kita semua akan kehilangan tulang sebesar setengah persen
setiap tahunnya. Pada wanita dalam masa pascamenopause, keseimbangan kalsium menjadi
negatif dengan tingkat 2 kali lipat dibanding sebelum menopause.
Faktor hormonal menjadi sebab mengapa wanita dalam masa pascamenopause
mempunyai resiko lebih besar untuk menderita osteoporosis. Pada masa menopause, terjadi
penurunan kadar hormon estrogen. Estrogen memang merupakan salah satu faktor terpenting
dalam mencegah hilangnya kalsium tulang. Selain itu, estrogen juga merangsang aktivitas
osteoblas serta menghambat kerja hormon paratiroid dalam merangsang osteoklas.
Estrogen memperlambat atau bahkan menghambat hilangnya massa tulang dengan
meningkatkan penyerapan kalsium dari saluran cerna. Dengan demikian, kadar kalsium darah
yang normal dapat dipertahankan.
Semakin tinggi kadar kalsium di dalam darah, semakin kecil kemungkinan hilangnya
kalsium dari tulang (untuk menggantikan kalsium darah).
Penurunan kadar estrogen yang terjadi pada masa pascamenopause membawa dampak
pada percepatan hilangnya jaringan tulang. Resiko osteoporosis lebih meningkat lagi pada
mereka yang mengalami menopause dini (pada usia kurang dari 45 tahun).
Pada pria, hormon testosteron melakukan fungsi yang serupa dalam hal membantu
penyerapan kalsium. Bedanya, pria tidak pernah mencapai usia tertentu dimana testis berhenti
memproduksi testosteron. Dengan demikian, pria tidak begitu mudah/ beresiko kecil
mengalami osteoporosis dibanding wanita.
Selain estrogen, berbagai faktor yang lain juga dapat mempengaruhi derajat kecepatan
hilangnya massa tulang. Salah satu hal yang utama adalah kandungan kalsium di dalam
makanan kita. Masalahnya, semakin usia kita bertambah, kemampuan tubuh untuk menyerap
kalsium dari makanan juga berkurang.
Beberapa klasifikasi etiologi dari Osteoporosis:
1. Faktor genetik
Perbedaan genetik mempunyai pengaruh terhadap derajat kepadatan tulang. Beberapa
orang mempunyai tulang yang cukup besar dan yang lain kecil. Sebagai contoh, orang kulit
hitam pada umumnya mempunyai struktur tulang lebih kuat/berat dari pacia bangsa kulit
putuh Kaukasia.
Jadi seseorang yang mempunyai tulang kuat (terutama kulit Hitam Amerika), relatif
imun/tahan terhadap fraktur karena osteoporosis.
2. Faktor mekanis
Beban mekanis berpengaruh terhadap massa tulang di samping faktor genetik.
Bertambahnya beban akan menambah massa tulang dan berkurangnya beban akan
mengakibatkan berkurangnya massa tulang.
Kedua hal tersebut menunjukkan respons terhadap kerja mekanik Beban mekanik yang
berat akan mengakibatkan massa otot besar dan juga massa tulang yang besar. Sebagai
contoh adalah pemain tenis atau pengayuh becak, akan dijumpai adanya hipertrofi baik pada
otot maupun tulangnya terutama pada lengan atau tungkainya, sebaliknya atrofi baik pada
otot maupun tulangnya akan dijumpai pada pasien yang harus istrahat di tempat tidur dalam
waktu yang lama, poliomielitis atau pada penerbangan luar angkasa.
Walaupun demikian belum diketahui dengan pasti berapa besar beban mekanis yang
diperlukan dan berapa lama untuk meningkatkan massa tulang di sampihg faktor genetik.
3. Faktor makanan dan hormon
Pada seseorang dengan pertumbuhan hormon dengan nutrisi yang cukup (protein dan
mineral), pertumbuhan tulang akan mencapai maksimal sesuai dengan pengaruh genetik yang
bersangkutan. Pemberian makanan yang berlebih (misainya kalsium) di atas kebutuhan
maksimal selama masa pertumbuhan, disangsikan dapat menghasilkan massa tulang yang
melebihi kemampuan pertumbuhan tulang yang bersangkutan sesuai dengan kemampuan
genetiknya.
4. Kalsium
Faktor makanan ternyata memegang peranan penting dalam proses penurunan massa
tulang sehubungan dengan bertambahnya usia, terutama pada wanita post menopause.
Kalsium, merupakan nutrisi yang sangat penting. Wanita-wanita pada masa peri menopause,
dengan masukan kalsiumnya rendah dan absorbsinya tidak bak, akan mengakibatkan
keseimbangan kalsiumnya menjadi negatif, sedang mereka yang masukan kalsiumnya baik
dan absorbsinya juga baik, menunjukkan keseimbangan kalsium positif. Dari keadaan ini
jelas, bahwa pada wanita masa menopause ada hubungan yang erat antara masukan kalsium
dengan keseimbangan kalsium dalam tubuhnya.
Pada wanita dalam masa menopause keseimbangan kalsiumnya akan terganggu akibat
masukan serta absorbsinya kurang serta eksresi melalui urin yang bertambah. Hasil akhir
kekurangan/kehilangan estrogen pada masa menopause adalah pergeseran keseimbangan
kalsium yang negatif, sejumiah 25 mg kalsium sehari.
5. Protein
Protein juga merupakan faktor yang penting dalam mempengaruhi penurunan massa
tulang. Makanan yang kaya protein akan mengakibatkan ekskresi asam amino yang
mengandung sulfat melalui urin, hal ini akan meningkatkan ekskresi kalsium. Pada umumnya
protein tidak dimakan secara tersendiri, tetapi bersama makanan lain. Apabila makanan
tersebut mengandung fosfor, maka fosfor tersebut akan mengurangi ekskresi kalsium melalui
urin. Sayangnya fosfor tersebut akan mengubah pengeluaran kalsium melalui tinja. Hasil
akhir dari makanan yang mengandung protein berlebihan akan mengakibatkan
kecenderungan untuk terjadi keseimbangan kalsium yang negatif.
6. Estrogen.
Berkurangnya/hilangnya estrogen dari dalam tubuh akan mengakibatkan terjadinya
gangguan keseimbangan kalsium. Hal ini disebabkan oleh karena menurunnya eflsiensi
absorbsi kalsium dari makanan dan juga menurunnya konservasi kalsium di ginjal.
7. Rokok dan kopi
Merokok dan minum kopi dalam jumlah banyak cenderung akan mengakibatkan
penurunan massa tulang, lebih-lebih bila disertai masukan kalsium yang rendah.
Mekanisme pengaruh merokok terhadap penurunan massa tulang tidak diketahui, akan
tetapi kafein dapat memperbanyak ekskresi kalsium melalui urin maupun tinja.
8. Alkohol
Alkoholisme akhir-akhir ini merupakan masalah yang sering ditemukan.I ndividu dengan
alkoholisme mempunyai kecenderungan masukan kalsium rendah, disertai dengan ekskresi
lewat urin yang meningkat. Mekanisme yang jelas belum diketahui dengan pasti.
Beberapa penyebab osteoporosis dalam (Junaidi, 2007), yaitu:
a. Osteoporosis pascamenopause terjadi karena kurangnya hormon estrogen (hormon utama
pada wanita), yang membantu mengatur pengangkutan kalsium kedalam tulang. Biasanya
gejala timbul pada perempuan yang berusia antara 51-75 tahun, tetapi dapat muncul lebih
cepat atau lebih lambat. Hormon estrogen produksinya menurun 2-3 tahun sebelum
menopause dan terus berlangsung 3-4 tahun setelah meopause. Hal ini berakibat menurunnya
massa tulang sebanyak 1-3% dalam waktu 5-7 tahun pertama setelah menopause.
b. Osteoporosis senilis kemungkinan merupakan akibat dari kekurangan kalsium yang
berhubungan dengan usia dan ketidak seimbangan antara kecepatan hancurnya tulang
(osteoklas) dan pembentukan tulang baru (osteoblast).
Senilis berati bahwa keadaan ini hanya terjadi pada usia lanjut. Penyakit ini biasanya terjadi
pada orang-orang berusia diatas 70 tahun dan 2 kali lebih sering wanita. Wanita sering kali
menderita osteoporosis senilis dan pasca menopause.
c. Kurang dari 5% penderita osteoporosis juga mengalami osteoporosis sekunder yang
disebakan oleh keadaan medis lain atau obat-obatan. Penyakit ini bisa disebabkan oleh gagal
ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid, paratiroid, dan adrenal) serta obat-
obatan (mislnya kortikosteroid, barbiturat, anti kejang, dan hormon tiroid yang berlebihan).
Pemakaian alkohol yang berlebihan dapat memperburuk keadaan ini.
d. Osteoporosis juvenil idiopatik merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya tidak
diketahui. Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki kadar dan fungsi
hormon yang normal, kadar vitamin yang normal, dan tidak memiliki penyebab yang jelas
dari rapuhnya tulang.
G. Manifestasi Klinis
1. Nyeri dengan atau tanpa fraktur yang nyata.
2. Rasa sakit oleh karena adanya fraktur pada anggota gerak
3. Nyeri timbul mendadak.
4. Sakit hebat dan terlokalisasi pada vertebra yg terserang. Bagian-bagian tubuh yang sering
fraktur adalah pergelangan tangan, panggul dan vertebra.
5. Nyeri berkurang pada saat istirahat di tempat tidur.
6. Nyeri ringan pada saat bangun tidur dan akan bertambah jika melakukan aktivitas atau
karena suatu pergerakan yang salah.
7. Deformitas vertebra thorakalis menyebabkan penurunan tinggi badan, Hal ini terjadi oleh
karena adanya kompresi fraktur yang asimtomatis pada vertebra.
Tulang Lainnya bisa patah, yang sering kali disebabkan oleh tekanan yang ringan atau
karena jatuh. Salah satu patah tulang yang paling serius adalah patah tulang panggul. Selain
itu, yang juga sering terjadi karena adalah patah tulang lengan di daerah persambungannya
dengan pergelangan tangan, yang disebut fraktur Colles, Pada penderita osteoporosis, patah
tulang cenderung mengalami secara perlahan.
H. Patofisiologi
Dalam keadaan normal, pada tulang kerangka tulang kerangka akan terjadi suatu proses
yang berjalan secara terus menerus dan terjadi secara seimbang, yaitu proses resorbsi dan
proses pembentukan tulang (remodeling). Setiap perubahan dalam keseimbangan ini,
misalnya apabila proses resorbsi lebih besar daripada proses pembentukan tulang, maka akan
terjadi pengurangan massa tulang dan keadaan inilah yang kita jumpai pada osteoporosis.
Dalam massa pertumbuhan tulang, sesudah terjadi penutupan epifisis, pertumbuhan
tulang akan sampai pada periode yang disebut dengan peride konsolidasi. Pada periode ini
terjadi proses penambahan kepadatan tulang atau penurunan porositas tulang pada bagian
korteks. Proses konsolidasi secara maksimal akan dicapai pada usia kuarang lebih antara 30-
45 tahun untuk tulang bagian korteks dan mungkin keadaan serupa akan terjadi lebih dini
pada tulang bagian trabekula.
Sesudah manusia mencapai umur antara 45-50 tahun, baik wanita maupun pria akan
mengalami proses penipisan tulang bagian korteks sebesar 0,3-0,5% setiap tahun, sedangkan
tulang bagian trabekula akan mengalami proses serupa pada usia lebih muda. Pada wanita,
proses berkurangnya massa tulang tersebut pada awalnya sama dengan pria, akan tetapi pada
wanita sesudah menopause, proses ini akan berlangsung lebiuh cepat. Pada pria seusia wanita
menopause massa tulang akan menurun berkisar antara 20-30%, sedang pada wanita
penurunan massa tulang berkisar antara 40-50%. Pengurangan massa tulang ini berbagai
bagian tubuh ternyata tidak sama.
Dengan teknik pemeriksaan tertentu dapat dibuktikan bahwa penurunan massa tulang
tersebut lebih cepat terjadi pada bagian-bagian tubuh seperti berikut: metacarpal, kolum
femoris serta korpus vertebra, sedang pada bagian tubuh yang lain, misalnya: tulang paha
bagian tengah, tibia dan panggul, mengalami proses tersebut secara lambat.
Pada osteoporosis, terjadi proses pengurangan massa tulang dengan mengikuti pola yang
sama dan berakhir dengan terjadinya penipisan bagian korteks serta pelebaran lumen,
sehingga secara anatomis tulang tersebut tampak normal. Titik kritis proses ini akan tercapai
apabila massa tulang yang hilang tersebut sudah sedemikian berat sehingga tulang yang
bersangkutan sangat peka terhadap trauma mekanis dan akan mengakibatkan terjadinya
fraktur. Saat-saat inilah merupakan masalah bagi para klinisi.
Bagian-bagian tubuh yang sering mengalami fraktur pada kasus osteoporosis adalah
vertebra, paha bagian prosimal dan radius bagian distal. Osteoporosis dapat terjadi oleh
karena berbagai sebab, akan tetapi yang paling sering dan paling banyak dijuumpai adalah
osteoporosis oleh karena bertambahnya usia.
I. Komplikasi
1. Fraktur pangkal paha, pergelangan tangan, kolumna vertebralis dan panggul.
2. Hospitalisasi, penempatan di nursing home dan penurunan kemampuan untuk melakukan
aktifitas hidup sehari-hari dapat terjadi setelah fraktur osteoporosis.
J. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan radiologik
Dilakukan untuk menilai densitas massa tulang sangat tidak sensitif. Gambaran radiologik
yang khas pada osteoporosis adalah penipisan korteks dan daerah trabekuler yang lebih lusen.
Hal ini akan tampak pada tulang-tulang vertebra yang memberikan gambaran picture-frame
vertebra.
2. Pemeriksaan densitas massa tulang (Densitometri)
Densitometri tulang merupakan pemeriksaan yang akurat dan untuk menilai densitas
massa tulang, seseorang dikatakan menderita osteoporosis apabila nilai BMD ( Bone Mineral
Density ) berada dibawah -2,5 dan dikatakan mengalami osteopenia (mulai menurunnya
kepadatan tulang) bila nilai BMD berada antara -2,5 dan -1 dan normal apabila nilai BMD
berada diatas nilai -1.
Beberapa metode yang digunakan untuk menilai densitas massa tulang:
a. Single-Photon Absortiometry (SPA)
Pada SPA digunakan unsur radioisotop I yang mempunyai energi photon rendah guna
menghasilkan berkas radiasi kolimasi tinggi. SPA digunakan hanya untuk bagian tulang yang
mempunyai jaringan lunak yang tidak tebal seperti distal radius dan kalkaneus.
b. Dual-Photon Absorptiometry (DPA)
Metode ini mempunyai cara yang sama dengan SPA. Perbedaannya berupa sumber energi
yang mempunyai photon dengan 2 tingkat energi yang berbeda guna mengatasi tulang dan
jaringan lunak yang cukup tebal sehingga dapat dipakai untuk evaluasi bagian-bagian tubuh
dan tulang yang mempunyai struktur geometri komplek seperti pada daerah leher femur dan
vetrebrata.
c. Quantitative Computer Tomography (QCT)
Merupakan densitometri yang paling ideal karena mengukur densitas tulang secara
volimetrik.
3. Sonodensitometri
Sebuah metode yang digunakan untuk menilai densitas perifer dengan menggunakan
gelombang suara dan tanpa adanya resiko radiasi.
4. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
MRI dalam menilai densitas tulang trabekula melalui dua langkah yaitu pertama T2
sumsum tulang dapat digunakan untuk menilai densitas serta kualitas jaringan tulang
trabekula dan yang kedua untuk menilai arsitektur trabekula.
5. Biopsi tulang dan Histomorfometri
Merupakan pemeriksaan yang sangat penting untuk memeriksa kelainan metabolisme
tulang.
6. Radiologis
Gejala radiologis yang khas adalah densitas atau masa tulang yang menurun yang dapat
dilihat pada vertebra spinalis. Dinding dekat korpus vertebra biasanya merupakan lokasi yang
paling berat. Penipisa korteks dan hilangnya trabekula transfersal merupakan kelainan yang
sering ditemukan.
Lemahnya korpus vertebra menyebabkan penonjolan yang menggelembung dari nukleus
pulposus ke dalam ruang intervertebral dan menyebabkan deformitas bikonkaf.
7. CT-Scan
CT-Scan dapat mengukur densitas tulang secara kuantitatif yang mempunyai nilai penting
dalam diagnostik dan terapi follow up. Mineral vertebra diatas 110 mg/cm
3
baisanya tidak
menimbulkan fraktur vetebra atau penonjolan, sedangkan mineral vertebra dibawah 65
mg/cm
3
ada pada hampir semua klien yang mengalami fraktur.
8. Pemeriksaan Laboratorium
a. Kadar Ca, P, Fosfatase alkali tidak menunjukkan kelainan yang nyata.
b. Kadar HPT (pada pascamenoupouse kadar HPT meningkat) dan Ct (terapi ekstrogen
merangsang pembentukkan Ct)
c. Kadar 1,25-(OH)
2
-D3 absorbsi Ca menurun.
d. Eksresi fosfat dan hidroksipolin terganggu sehingga meningkat kadarnya.
K. Pemeriksaan Penunjang
1. Penilaian massa tulang.
2. Pemeriksaan Radiomorfometri vertebra.
3. Pemeriksaan Radiomorfologi Pelvis.
4. Pemeriksaan Radiomorfologi Metakarfal.
L. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan bertujuan untuk meningkatkan kepadatan tulang. Semua wanita,
terutama yang menderita osteoporosis, harus mengkonsumsi kalsium dan vitamin D dalam
jumlah yang mencukupi.
Wanita pascamenopause yang menderita osteoporosis juga bisa mendapatkan estrogen
(biasanya bersama dengan progesteron) atau alendronat, yang bisa memperlambat atau
menghentikan penyakitnya. Bifosfonat juga digunakan untuk mengobati osteoporosis.
1. Terapi hormon pengganti bagi osteoporosis
Terapi hormon pengganti di pakai untuk pengobatan dengan estrogen dengan progesteron di
buat oleh indung telur dan jumlahnya menurun selama menupause. Estrogen yang di gunakan
dalam THP adalah estrogen alami sedangkan yang dipakai untuk kontrasepsi adalah sintetik
dan lebih kuat. Karena progesteron alami sulit di berikan lewat oral (terurai dalam saluran
pencernaan) dan mempunyai efek samping, bentuk sintesis yang di bentuk di gunakan dalam
THP. Jika THP gabungan di berikan progesteron biasa di berikan selama 10-14 hari dari
siklus 28 hari dan estrogen selama 21-28 hari
2. Terapi non-hormonal bagi osteoporosis
a. Bisfosfonat
Golongan obat sintesis untuk terapi osteoporosis. Efek utamanya untuk menonaktifkan sel-sel
penghancur tulang sehingga penurunan masa tulang dapat di cegah
b. Etidronat
Adalah preparat bisfosfonat pertama yang di gunakan untuk mengatasi osteoporosis. Preparat
ini diberikan dalam siklus 90 hari bersama kalsium dalam bentuk didronel PMO.
c. Alendronat
Alendronat jarang menimbulkan efek samping,namun bisa timbul diare,rasa sakit dan
kembung pada perut dan gangguan pada tenggorokan atau esofagus.tablet alendronat harus
diminum dengan benar sesuai ketentuan untuk menekan risiko gangguan tenggorokan.
d. Vitamin D
Vitamin D sangat penting untuk kesehatan tulang.vitamin D meningkatkan penyerapan
kalsium oleh usus sehingga cukup tersedia kalsium untuk tulang.terdapat dua bentuk vitamin
D dengan efek yang sama atau serupa yaitu D3 yang dibuat dalam kulit saat terkena sinar
matahari dan vitamin D2 yang dioeroleh dari makanan.vitamin D bisa diberikan peroral atau
suntikan.dalam bentuk tablet dosis yang dianjurkan adalah 800 international units perhari.
e. Kalsitriol
Kalsitriol terbukti mencegah hilangnya massa tulang dan mengurangi resiko patah tulang
belakang,diberikan dalam bentuk tablet dengan dosis 0,25 mg perhari.daya kerjanya yang
kuat mungkin menyebabkan tingginya kadar kalsium dalam darah dan urin.
M. Pencegahan
Ada beberapa langkah pencegahan :
1. Mengkonsumsi kalsium dalam jumlah yang cukup sangat efektif, terutama sebelum
tercapainya kepadatan tulang maksimal (sekitar umur 30 tahun).
2. Konsumsi vitamin D (lewat makanan kaya vitamin D)
3. Olah raga beban (misalnya berjalan dan menaiki tangga) akan meningkatkan kepadatan
tulang.
4. Estrogen membantu mempertahankan kepadatan tulang pada wanita dan sering diminum
bersamaan dengan progesteron. Terapi sulih estrogen paling efektif dimulai dalam 4-6 tahun
setelah menopause; tetapi jika baru dimulai lebih dari 6 tahun setelah menopause, masih bisa
memperlambat kerapuhan tulang dan mengurangi resiko patah tulang.
Raloksifen merupakan obat menyerupai estrogen yang baru, yang mungkin kurang efektif
daripada estrogen dalam mencegah kerapuhan tulang, tetapi tidak memiliki efek terhadap
payudara atau rahim. Untuk mencegah osteroporosis, bisfosfonat (contohnya alendronat),
bisa digunakan sendiri atau bersamaan dengan terapi sulih hormon.