Anda di halaman 1dari 6

Growth and Development of Nasomaxillary Complex

A. Fungsi
Fungsi dari nasomaxilary complex dapat dikatakan sekompleks pertumbuhan,
perkembangan, dan adaptasinya. Nasomaksilary complex memiliki peran pada jalan nafas
(terdiri dari fisiologi mukosa nasal dengan kelenjarnya dan penyesuaian temperatur komponen
pembuluh darah), memisahkan nasal dari rongga mulut, menutup mata, dan menambah resonansi
suara karena di area ini terdapat suatu sinus. Pertumbuhannya harus beradaptasi dengan
pertumbuhan basicranium yang berhubungan dengan nasomaksilary complex dan mandibula
yang fungsinya sebagai mastikasi, berbicara, ekspresi wajah, respirasi, dan sebagainya.
B. Pertumbuhan
Mekanisme dan letak
Mekanisme dari pertumbuhan nasomaksilary complex terdapat di sutura-sutura, nasal
septum, permukaan periosteal dan endosteal, dan alveolar process. Meningkatnya ukuran
maksila karena adanya aktivitas subperiosteal selama pertumbuhan postnatal, meskipun
periosteum memiliki nama yang berbeda di tempat yang berbeda. Periosteum merupakan suatu
membran fibrosa yang kuat yang menutupi permukaan tulang dan membentuk kesatuan yang
kuat dengan tendon dan ligament. Periosteum menyuplai pembuluh darah dan saraf pada tulang
dan membantu pertumbuhan tulang. Hampir diseluruh permukaan terdapat periosteum; di
beberapa daerah disebut mucoperiosteum; apabila periosteum dari tulang bertemu dengan
periosteum lainnya disebut sutura; dan saat dua tulang menjadi satu (alveolar process) bergabung
dengan modifikasi tulang dari akar gigi (cementum) disebut membran periodontal. Meskipun
memiliki nama yang berbeda-beda, periosteum memiliki peran yang penting dalam remodeling
bone. Seluruh nasomaksilary complex nantinya akan bergabung bersama cranial vault dan
cranial base melalui sistem sutural yang complex.
Mekanisme osifikasi endokondral terjadi pada tulang panjang, mandibula, dan cranial
base, namun proses osifikasi ini tidak menyebar ke wajah bagian tengah. Capsul nasal embrionik
tidak dengan sederhana berosifikasi untuk menjadi tulang di nasomaksilar complex.
Pertumbuhan kartilago pada bagian nasal septum merupakan sumber dari tekanan yang
menyebabkan maksila tumbuh secara anterior-inferior, meskipun teori ini telah dimodifikasi oleh
banyak peneliti. Tekanan pada nasal septum ini dapat dikatakan memiliki peran yang dominan.
Perlu diingatkan bahwa pada bagian luar dan dalam dari permukaan tulang pada wajah
bagian tengah melibatkan suatu proses dari pertumbuhan nasomaksila secara utuh, proses itu
adalah remodeling bone. Dengan demikian, permukaan tulang yang mengalami remodeling
menjadi sangat aktif dan melakukan adaptasi pada daerah seperti suture, sinkondrosis, condylus
dan sebagainya.







Ukuran dan Arah
1.Tinggi Maksila
Studi implant klasik dari Bjork dan skeller menegaskan bahwa tinggi maksila meningkat
karena pertumbuhan sutura menuju frontal dan tulang zigomatik serta pertumbuhan aposisi di
alveolar process. Aposisi juga terjadi di lantai orbital dengan remodeling resorptive dari
permukaan yang lebih rendah.
Secara bersamaan, lantai hidung diturunkan oleh resorpsi sementara aposisi terjadi pada
palatum keras. Tinggi orbital tidak mengalami peningkatan pada masa kanak-kanak hingga
remaja sampai tingkat yang sama seperti halnya rongga hidung,
sehingga, menurunkan sutural dari korpus maksila menurunkan kompensasi
untuk aposisi dari lantai orbit. Penurunan lantai orbit dari orbital pada usia empat tahun dan
seterusnya, kurang dari setengah penurunan sutural korpus maksila
Pertumbuhan di median sutura menghasilkan beberapa milimeter dari peningkatkan
lebar maksila dibandingkan dari pertumbahan dari remodeling appositional.
Remodeling Alveolar berkontribusi terhadap pertumbuhan awal vertikal secara signifikan dan
juga penting dalam pencapaian lebar karena divergensi dari proses alveolar. Ketika
mereka tumbuh secara vertikal, kedivergensian mereka meningkatkan lebar. Sampai waktu
kondilus mandibula telah menghentikan pertumbuhan mereka yang paling aktif (akhir masa
remaja), alveolar prosess maksila meningkat hampir 40% dari total pertumbuhan tinggi maxiliary






2.Lebar Maksila
Pertumbuhan pada media sutura lebih penting dari pada remodeling aposisi pada
perkembangan lebar maksila. Pertumbuhan meningkat pada media sutura dan akan tumbuh secar
maksimum pada masa pubertas. Namun, tidak ada hubungan antara pertumbuhan lebar dari
maksila di media sutura dengan pertumbuhan sutura yang menberikan kontribusi pada
partumbuhan tinggi dari maksila.
3.Panjang Maksila
Panjang maksila meningkat sekitar tahun kedua dengan aposisi pada tuberositas
maksilaris dan pertumbuhan sutura menuju tulang palatal. Permukaan resorpsi terjadi secara
anterior pada tulang arkus maksila. Studi implant oleh Bjork dan Skieller menunjukkan bahwa
permukaan anterior ini cenderung stabil secara sagital, namun arkus maksila akan berremodeling
sebagaimana tumbuh kebawah, itulah mengapa bagian anterior mengalami resorpsi. Pada
permukaan labial akan bergerak dari arah pertumbuhan inferior


Waktu
Meningkatnya alveolar process erat kaitannya dengan erupsi gigi. Peningkatan secara
keseluruhan tinggi maksila seirama dengan pertumbuhan vertical mandibula.
Mekanisme
Seluruh mekanisme pertumbuhan nasomaksila telah dirancang dengan baik untuk
adaptasi dan pertumbuhan compensator, namun adaptasi yang berbeda dapat dilihat pada
alveolar process. Ketika palatum sedang sempit, sebagai contoh, prosesus alveolar mengimbangi
antara lebar dan tinggi.
Bidang oklusi dikoordinasikan selama pertumbuhan dengan pola morfologi secara
keseluruhan, deposisi dan resorpsi prosesus alveolar berkompensasi baik untuk
perpindahan palatal. Dengan demikian, di dalam kerangka gigit dalam, di mana sudut gonial
hampir ortogonal, bidang oklusal (dibentuk oleh pertumbuhan prosesus alveolar)
hampir parallel terhadap bidang mandibula. Di sisi lain, ketika tinggi muka anterior secara tidak
proporsional panjang, pertumbuhan alveolar anterior berkompensasi dan bidang oklusal dalam.
Karena sifat adaptif dan kompensasi dari pertumbuhan alveolar, oklusi ini kadang-
kadang berbeda dengan hubungan skeletal dan ditemukan hubungan molar kelas 1, misalnya,
dalam kerangka (Kelas II) retrognathic. Memprediksi pertumbuhan tulang, bukanlah
memprediksi secara tepat hubungan oklusal masa depan. Perawatan ortodontik, terlepas
dari alat, tergantung, untuk sebagian besar, pada kapasitas adaptif dari proses pertumbuhan
alveolar dan remodeling