Anda di halaman 1dari 25

1. Caulerpa sp.

a. Klasifikasi
Klasifikasi dari rumput laut Caulerpa racemosa menurut Dawson (1946)
diacu dalam Soegiarto et al. (1978) dikutip dalam Jamilah (2012) adalah
sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Chlorophyta
Kelas : Chlorophyceae
Ordo : Caulerpales
Famili : Caulerpaceae
Genus : Caulerpa
Spesies : Caulerpa racemosa

b. Morfologi

Gambar 1. Caulerpa racemosa (Tiomanese,2007 dalam Jamilah,2012)
Caulerpa merupakan salah satu genus alga laut dari Famili Caulerpaceae
dan termasuk spesies dari Kelas Chlorophyceae (alga hijau) (Atmadja et al.
1996). Hamel (1931) diacu dalam Raniello et al. (2004) dikutitp dalam
Jamilah (2012) menyatakan bahwa jenis Caulerpa racemosa pertama kali
ditemukan pada tahun 1926 di sepanjang pantaiTunisia perairan Mediterania.
Makroalga laut jenis Caulerpa racemosa memiliki thalus berwarna hijau
seperti tanaman rumput, terdiri dari banyak cabang tegak yang tingginya
sekitar 2,5-6,0 cm. Batang pokok berukuran antara 16-22 cm. Terdapat
bulatan-bulatan seperti anggur pada puncak cabang, panjang setiap puncak
cabang sekitar 2,5-10,0 cm (Trono dan Ganzo-Fortes 1988 diacu dalam
Suhartini 2003 dikutip dalam Jamilah,2012).
Caulerpa racemosa tumbuh bergerombol atau berumpun olehkarena itu
sering disebut sebagai anggur laut. Keberadaannya dapat dijumpai dipaparan
terumbu karang dengan kedalaman hingga 200 m. Sebagai
fitobentik,tumbuhan ini hidup menancap atau menempel di substrat dasar
perairan lautseperti karang mati, fragmen karang, pasir dan lumpur.
Pertumbuhannya bersifatepifitik atau saprofitik dan kadang-kadang
berasosiasi dengan tumbuhan laut(Atmadja et al. 1996 dalam Jamilah,2012).
Selain berwarna hijau, Ciri khas Caulerpa racemosa diantaranyamempunyai
thalus dengan stolon berukuran kurang lebih 5 cm, perakarannya ( holdfast )
relatif besar dan meruncing seperti paku dengan panjang ramulimencapai 8
cm. Ramuli merupakan organ cabang atau percabangan dari stolonsebagai
organ utama, substansinya agak lunak dan terkesan kosong (gembos).Ramuli
ini berdiameter antara 2-4 mm. Ramuli timbul pada stolon yang
bercabangdan memiliki bulatan-bulatan dengan ujung yang rata dan
bertangkai serta tersusun di sekitar dan sepanjang ramuli. (Jamilah,2012)
Pada masa reproduksi, Caulerpa racemosa akan mengeluarkan substansi
berwarna putih seperti susu,namun kemudian akan mati dalam satu atau dua
hari. Awalnya Caulerpa racemosa akan kehilangan warnanya, kemudian
hancur dan mengotoriperairan. Spesies ini sering ditemukan tumbuh pada
berbagai substrat dengansebaran yang luas (Atmadja et al. 1996 dalam
Jamilah,2012).
Distribusi dari rumput laut jenis Caulerpa racemosa ini tersebar luas
didaerah tropis dan subtropis, seperti Filipina, Vietnam, Singapura,
Malaysia,Thailand, Taiwan, Cina, Indonesia, dan daerah baratperairan
Pasifik (FAO 2007).Alga jenis ini tumbuh pada perairan keruh dan permukaan
substrat berlumpurlunak, tepi karang yang terbuka dan terkena ombak laut
yang keras serta perairantenang yang jernih dan bersubstrat pasir keras. Jenis
ini sangat kuat melekat padasubstrat karena akarnya kokoh dan bercabang
pendek. Alga jenis ini padabeberapa daerah seperti Tapanuli dan Kepulauan
Seribu dikonsumsi baik mentahmaupun matang walaupun memiliki tekstur
yang kasar dengan rasa pedas sepertilada (Trono dan Ganzo-Fortes 1988
diacu dalam Suhartini 2003 dikutip dalam Jamilah,2012).

2. Turbinaria Ornata
Klasifikasi menurut Bold dan
Wynne (1985) dalam Pical( 2011)
yaitu:
Kingdom : Plantae
Divisi : Phaeophyta
Kelas : Phaeophyceae
Ordo : Fucales
Famili : Sargassaceae
Genus : Turbinaria
Species : Turbinaria ornata
a. Tabel ciri-ciri morfologi (Turbinaria sp)
No.
Ciri-ciri
morfologi Keterangan
1. Bentuk tubuh Seperti pohon
2. Warna
Pirang(zat warna yang dominan
fikosianin)
3. Substrat Melekat pada batu
4. Struktur organ Cauloid, filoid, rhizoid dan konseptakel
5. Alat Reproduksi
Seksual: Spermatozoid, Oogonium
Aseksual: Spora
6. Alat pelekat Berbentuk cakram
7. Habitat Air laut
8. Cara hidup Soliter, koloni

a. Morfologi
Memiliki struktur thalus agak keras atau kaku, tebal, serta tubuh
yang tegak. Perbedaan dengan jenis lainnya, jenis ini memiliki
blade yang umumnya seperti corong dengan pinggir bergerigi.
Karakteristik jenis ini adalah pinggir bladeya membentuk bibir dengan
bagian tengah blade melengkung ke dalam. Merupakan alga yang hidup
pada karang. Rhizoid pada Turbinaria ornate akan terlihat menyebar pada
permukaan karang di zona intertidal. Dapat hidup dalam kelompok kecil
maupun ada dalam kelompok yang penyebarannya sangat luas. Sebagian
besar berwarna cokelat kekuningan sampai cokelat tua dengan bintik-
bintik cokelat tua. (Pical,2011)
b. Penyebaran Turbenaria ornate
Turbinaria sp merupakan alga tropis yang menyebar hampir di
seluruh perairan tropis termasuk pula Indonesia dan Maluku pada
khususnya. Di Indonesia, Turbinaria ornata menyebar pada beberapa
daerah seperti di perairan sekitar Kepulauan Riau, Lampung, Jawa Selatan,
Madura, Bali, NTB, NTT, Sulawesi dan beberapa pulau di Maluku.
Awalnya orang hanya memnafaatkan Turbinaria ornata sebagai bahan
makanan yakni sebagai sayur-sayuran dalam kehidupan sesehari.
(Pical,2011)
c. Reproduksi
Proses perkembangbiakannya secara generatif dengan oogami, tidak
ada perkembangbiakan secara vegetatif. Anteridiumnya berupa sel yang
mempunyai bentuk corong. Zigotnya membentuk selulosadan pektin,
melekat pada substranya serta mampu tumbuh menjadi individu yang
diploid. (Bold,1978 dalam Pical,2011)
d. Manfaat Ekstraksi Turbinaria
Kandungan kimia bermanfaat yang terkandung dalam
tubuh Turbinaria ornata adalah alginate dan iodine. Dari kedua kandungan
zat yang ada, yang baru mendapatkan perhatian khusus dalam
pemanfaatan adalah kandungan alginate yang terkandung
dalam Turbinaria ornata. zat ini akan memiliki nilai manfaat yang tinggi
jika telah melalui tahap pengolahan yang baik. (Jamilah, 2011)
Asam alginik (alginic acid) atau Alginat adalah polisakarida yang
merupakan atau berasal dari getah selaput (membran mucilage) dari alga
coklat Phaeophyceae. Istilah alginat biasanya ditunjukan untuk asam
alginat dan garam-garam dari asam alginat. Selain itu alginat juga
merupakan nama dagang dari Na alginat. Alginat dapat dihasilkan dari
alga coklat seperti Laminaria, Microcystis, Sargassum, Ascophyllum,
Ecklonia, Eisenia, dan Turbinaria. Di Indonesia alga coklat penghasil
alginat yang banyak dijumpai adalah Sargasum dan Turbinaria. Namun
Turbinaria biasanya mempunyai kandungan asam alginat yang lebih tinggi
(20-22%) dari sargassum (13-18%). Berikut ini adalah manfaat-manfaat
dari Turbinaria ornata, antara lain:
Bidang Farmasi
Alginat dan asam alginat biasanya digunakan dalam potologi
pencernaan. Secara umum dikombinasikan dengan natrium
bikarbonat dan alumunium hidoksida. Garam natrium dari -poli
asam-manuronat digunakan sebagai tambahan dalam pembatasan
makanan untuk mengobati obesitas. Kalsium alginat sudah
diketahui sebagai media koagulasi darah yang paling efektif.
Kalsium alginat juga diketahui membentuk wool atau kain kasa
hemostatik yang apabila kontak dengan darah dan eksudat, alginat
akan membentuk serabut gel, yang menyebabkan penghentian
pendarahan. Pada teknologi farmasi, alginat digunakan juga
sebagai zat pengental, pengikat (penstabil, emulasi, sespensi).
Disintegrator (formulasi tablet) juga digunakan dalam formulasi
yang tahan terhadap keasaman lambung (kapsul dengan salut
enterik). Selain itu Turbinaria ornata juga dimanfaatkan untuk
bahan cetakan gigi dan bahan pembersih gigi.
Bidang kosmetik
Dalam industri kosmetik, sabun dan deterjen, alginat dengan
viskositas yang berbeda merupakan bahan penolong yang penting
sebagai pengental dan zat pendispersi dalam produk seperti salep,
krim, jeli, emulsi, cairan, lotion, pasta gigi, bedak padat, sabun dan
kosmetik rambut. Alginat digunakan sebagai penstabil busa dalam
industri sabun dan deterjen. Alginat memiliki kerjasama yang baik
dengan bahan penstabil lain seperti pati, gum, pektin, dan lain-lain.
Krim kulit dan krim kecantikan, juga emulasi biasanya
mengandung alginat yang dianggap memiliki sifat yang baik secara
dertamologi .
Makanan
Sifat alginat yang tidak beracun, digunakan pada industri makanan
seperti pada pembuatan es krim sebagai stabilisator dan mencegah
terjadinya kristal es. Alginat digunakan pada makanan dingin
untuk meningkatkan tekstur selama proses freez-thaw. Dalam sirup
sebagai suspensi padat, pada salad dan saus sebagai emulsifer.
Sifat gel dari alginat untuk menyiapkan campuran puding, pengisi
kue, dan makanan yang dihasilkan pabrik. Alginat dapat
dimanfaatkan menjadi es krim, serbat, susu es, roti, kue, permen,
mentega, saus, pengalengan daging, selai, sirup, pudding, dan
lainnya.
Industri
Alginat digunakan sebagai lapisan kertas, industri katun tekstil dan
cat, keramik, bahan pembuat tablet, alat pengkilap, juga digunakan
dalam plastik, vulkanite fiber, industri kulit imitasi, produk gelas
dan industri.
(Pical,2011)
3. Halimeda Sp.
a. Klasifikasi
Kasifikasi Halimeda sp menurut Bold dan Wynne (1985) dalam
Jamilah (2012) sebagai berikut :
Kingdom : Protista
Divisi : Chlorophyta
Class : Chlorophyceae
Ordo : Caulerpales
Family : Halimedaceae
Genus : Halimeda
Spesies : Halimeda Sp.
b. Morfologi
Secara morfologi bentuknya menyerupai dengan kaktus serta
membentuk lembaran-lembaran, berwarna hijau. Pada tallus terdapat
konseptakel yang agak membesar serta memiliki lekukan-lekukan.
c. Habitat
Dominan hidup di laut serta cara hidup yang saling menempel
satuu dengan yang lain.
d. Peranan
Adapun peranan dari ganggang ini adalah dijadikan sebagai bahan
obat-obatan.
(Bold dan Wynne,1985) dalam Jamilah,2012)

4. Halymenia Harveyana
a. Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi :
Kelas :
Ordo :
Famili :
Genus : Halymenia
Species : Halymenia harveyana

b. Morfologi
Thallus gepeng, pinggir bergerigi, hodfast bentuk cakram.
Percabangan alternate atau pinnate, menyudut tegak dan bentuknya
mengecil kearah bagian atas dengan ujung percabangan memanjang agak
silindris.
c. Sebaran
Tumbuh di bagian sisi luar terumbu yang selalu tergenang air dan
terkena ombak langsung, menempel pada substrat karang batu hidup atau
karang mati. Misal terdapat di perairan Bali Selatan antara lain di Banoa
dan Nusa Penida.
d. Potensi
Belum dimanfaatkan secara ekonomis di Indonesia
(SITH ITB, tanpa tahun)

5. Gracilaria cottoni
a. Karakteristik
Berbentuk filamen bercabang
b. Deskripsi
Gracilaria merupakan rumput laut yang termasuk dalam kelas alga
merah ( Rhodophyceae) (Winarno 1996). Rhodophyta adalah salah satu
filum dari alga berdasarkan zat warna atau pigmentasinya. Warna pada
alga ini disebabkan oleh pigmen fikoeritrin dalam jumlah banyak
dibandingkan pigmen klorofil, karoten, dan xantofil.dengan bentuk
talusnya yang agak pipih dan kadang-kadang menyerupai silindris dan
mempunyai percabangan yang tidak teratur. Talus agak kaku dan
didominasi dengan warna kemerah-merahan (Birsyam, 1992).
Habitat Rhodophyta sebagian besar hidup di laut, banyak terdapat
di laut tropika. Sebagian kecil hidup di air tawar yang dingin dengan aliran
yang deras dan banyak oksigen. Selain itu ada pula yang hidup di air
payau. Alga merah banyak ditemukan di laut dalam adalah Gracillaria sp.
Kebanyakan alga merah hidup dalam air laut, terutama lapisan-lapisan air
yang dalam, yang hanya dapat di capai oleh cahaya bergelombang pendek.
Hidupnya sebagai bentos, melekat pada suatu substrat dengan benang-
benang pelekat atau cakram pelekat. Tallus bermacam-macam bentuknya,
tetapi pada golongan yang sederhanapun telah bersifat heterotrik. Jaringan
tubuh belum bersifat sebagai parenkim melainkan hanya merupakan
plektenkim (Birsyam, 1992).
c. Peranan
Alga merah dibudidayakan karena menghasilkan bahan serupa gelatin
yang dikenal sebagai agar-agar. Gel ini digunakan oleh para peneliti
sebagai medium biakan bakteri dan fase padat pada elektroforesis gel,
untuk pengental dalam banyak makanan, perekat tekstil, sebagai obat
pencahar (laksatif), atau sebagai makanan penutup. Beberapa alga merah
bermanfaat sebagai penyokong penting bagi batu karang tropis. Alga
merah juga dapat menghasilkan carrageenan, suatu zat aditif yang dapat
ditambahkan pada puding dan es krim. Selain itu, alga merah yang
dikeringkan banyak digunakan dalam beberapa hidangan masakan Jepang.
Menurut Komarawidjaja (2005), menyatakan bahwa rumput laut
Gracillaria, ditemukan tumbuh baik di perairan payau maupun perairan
pantai. Lebih dari 16 spesies rumput laut ini, di temukan dan tumbuh di
berbagai belahan dunia, baik di daerah beriklim tropis maupun temperate.
Secara alam, berdasarkan habitatnya, beberapa spesies rumput laut
Gracillaria sp. tumbuh pada areal pasang surut, dengan ciri lahan pasir
berlumpur, perairan eutropik, temperature tinggi dan merupakan daerah
sedimentasi.

6. Dictyota
a. Karakteristik :
Mempunyai cabang dikotom
Berbentuk lembaran pipih
Tubuh lunak agak keras

b. Deskripsi
Thallus tegak dan berbentuk pita yang bercabang-cabang,
melekat pada suatu substrat dengan perantaraan alat pelekat yang
berbentuk seperti cakram. Thallus terdiri dari 3 lapis. Lapisan
tengah tersusun dari sel-sel besar, terbentuk segi empat dan
berdinding tebal tanpa khromatofora. Kedua berdinding tipis dan
mengandung banyak kromotofora. Pada lapisan ini terdapat banyak
rambut-rambut steril dan tidak berwarna serta dapat mengeluarkan
lendir pada permukaannya. Perkembangbiakan dilakukan secara
aseksual, dan seksual. Perkembangbiakan aseksual dilakukan oleh
aplanospora yaitu yang tidak bergerak. Dalam satu sporangium
hanya dibentuk 4 aplanospora saja. Perkembangbiakan seksual
dilakukan secara oogami. Gametofit bersifat heterothallik. Alat
kelamin terdapat dalam suatu sorus. Terdapat di kedua permukaan
talusnya.
c. Peranan
Adapun peranan ganggang coklat dalam kehidupan yaitu:
Ganggang coklat dapat dimanfaatkan dalam industri
makanan. Phaeophyta sebagai sumber alginat banyak dimanfaatkan
dalam dunia industri tekstil untuk memperbaiki dan meningkatkan
kualitas bahan industri, kalsium alginat digunakan dalam
pembuatan obat-obatan. Senyawa alginat juga banyak digunakan
dalam produk susu dan makanan yang dibekukan untuk mencegah
pembentukan kristal es. Dalam industri farmasi, alginat digunakan
sebagai bahan pembuat bahan biomaterial untuk teknik
pengobatan. Dapat digunakan sebagai pupuk organik karena
mengandung bahan-bahan mineral seprti potasium dan hormon
seperti auxin dan sitokinin yang dapat meningkatkan daya tumbuh
tanaman untuk tumbuh, berbunga dan berbuah.

7. Euchema sp.
a. Klasifikasi
Taksonomi eucheuma sp. adalah sebagai berikut
Kingdom : Plantae
Divisi : Rhodophyta
Kelas : Rhodophyceae
Ordo : Gigartinales
Famili : Solierisceae
Genus : Eucheuma
Species : Eucheuma sp.
b. Deskripsi
Euchema sp. tergolong tanaman berderajat rendah, umumnya
melekat pada substrat tertentu, tidak mempunyai akar dan daun sejati,
tetapi hanya menyerupai batang yang disebut dengan thallus.
Bentuk tubuh dari pada Eucheuma sp. yaitu thallus berbentuk
silindris; permukaan licin; thallusnya bersifat Cartilageneus (
menyerupai tulan rawan / muda ); percabangan thallus berujung
runcing atau tumpul, sekitar percabangan ditumbuhi nodulus ( tonjol-
tonjolan ), dan duri lunak / tumpul untuk melindungi gametangia; serta
berwarna hijau terang, hijau olive, dan coklat kemerahan. Percabangan
bersifat alternates (berselang seling), tidak teratur, serta dapat bersifat
Dichotomous (percabangan dua-dua) trichotomous (sistem
percabangan tiga-tiga).
Rumput laut Eucheuma sp. memerlukan sinar matahari untuk
berfoto sintesis. Oleh karena itu rumput laut jenis ini hidup pada
lapisan fotik, yaitu kedalaman sejauh sinar matahari masih dapat
mencapinya. Di alam, jenis ini biasanya berkumpul dalam suatu
komunitas atauu koloni dan indicator jenisnya (species indicator)
antara lain jenis-jenis Caulerpa, Hypnea, Turbinaria. Gracilaria, dan
Gelidium. Jenis ini hidup di rataan terumbu karang dangkal sampai
pada kedalaman 6 meter, melekat di batu karang, cangkang, kerang,
dan benda keras lainya sebagai tempat menempel atau substrat. Faktor
yang pling berpengaruh pada pertumbuhan jenis ini adalah cukup arus
dengan salinitas (kadar garam) yang stabil, yaitu sekitar 28 - 35 ppt.

c. Peranan
Euchema sp. merupakan salah satu komoditas laut mudah
dibudidayakan dengan biaya yang relatif murah dan memilki nilai
ekonomis sebagai bahan pangan, bahan baku industri obatobatan,
tekstil, kosmetik, dan lainya. Eucheuma sp. menghasilkan karaginan (
Carragenophyte ) sebagai bahan baku dalam usaha industri makanan,
farmasi, kosmetik dan lain sebagainya.

8. Rhodymenia palmata
a. Karakteristik
Berbentuk pipih bercabang tinggi
Memiliki bintil-bintil tempat mneyimpan cadagan makanan

b. Deskripsi
Rhodymenia palmata termasuk ke dalam kelas ganggang merah
(Rhodophyceae). Ganggang merah berwarna merah sampai ungu,
tetpai ada juga yang lembayung atau pirang atau kemerah merahan,
chromatofora berbentuk cakram atau lemabaran dan mengandung
klorofil a, klorofil b dan karoteboid. Akan tetapi, warna lain tertutup
oleh warna merah fikoiretrin sebagai pigmen utama yang mengadakan
fluoresensi.
Ciri talus
1. Bentuknya berupa helaian atau berbentuk seperti pohon.
2. Tidak berflagella.
3. Selnya terdiri dari komponen yang berlapis lapis.
4. Mempunyai pigmen fotosintetik fikobilin, memiliki pirenoid yang
terletak didalam koroplas, pirenoid berfungsi untuk menyimpan
cadangan makanan atau hasil asimilasi.
Cara hidup
Ganggang merah umumnya bersifat autotrof, ada juga yang
heterotrof, yaitu yang tidak memiliki kromatofora dan biasanya
parasit pada ganggang lain.
Habitat
Umumnya hidup di laut yang dalam dari pada tempat hidup ganggang
coklat. Hidup diperairan tawar.
Reproduksi
Bereproduksi secara seksual dengan pembentukan dua ateridium
pada ujung ujung cabang talus. Anteredium menghasilakn gamet
jantan yang berupa spermatium dan betinanya karpogamium terdapat
pada ujung cabang lainnya. Reproduksi aseksual terjadi dengan
pembentukan tetraspora kemudian menjadi gametania jantan dan
gametania betina, akan membentuk satu karkospofrafit. Karkosporafit
akan menghasil tetraspora.
c. Peranan
Manfaatnya antara lain sebagai bahan makanan dan kosmetik.
Selain itu juga berguna untuk mengeraskan atau memadatkan media
pertumbuhan bakteri.

9. Ulva sp.
a. Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisio : Thallophyta
Classis : Chlorophyceae
Ordo : Ulvales
Familya : Ulvaceae
Genus : Ulva
Spesies : Ulva lactuca

b. Deskripsi
Ulva lactuca adalah dari suku uvlaceae, talus menyerupai daun
selladah, terdiri atas dua lapisan sel yang mmembentuk struktur seperti
parenkim, zoospora dengan 4 bulu cambuk, gamet sama besar masing-
masing dengan dua bulu cambuk.
Ciri-Ciri Ulva lactuca
1. Warna talus hijau.
2. Bentuk talus lembaran seperti daun selladah.
3. Susunan tubuhnya foliaceaus atau parenkimatis.
4. Berhabitat di air laut atau payau.
5. Sifat khusus ulva lactuca, bentukan yang berupa helaian atau
lembaran-lembaran tipis dan menghasilkan zat alginat untuk
kosmetik.
6. Cara hidup berkoloni dengan melekat pada substrat dengan
bantuan holdfast.
7. Alga ini merupakan kelompok terbesar dari vegetasi alga.
Dilihat dari bentuk luarnya, ulva ini merupakan tumbuhan
bertalus yang berupa helaian/lembaran berwarna hijau cerah,
sedikit bertangkai dan melekatkan diri dengan alat pelekat pada
benda-benda yang ada di dasar perairan. Susunan selnya terdiri 2
lapis yang berderet memanjang dengan bentuk selnya sama besar
serta dinding sel yang menutupi tiap sel ulva. Mempunyai satu inti
yang terletak agak pinggir dan sisi pinggir lain terdapat kloroplas.
Kloroplas dapat berpindah tempat di dalam sel vegetative
tergantung dari arah mana cahaya mengenainya, kloroplas tersebut
akan terkumpul.
Ulva sp. (Ganggang Hijau) merupakan salah satu jenis
ganggang hijau yang hidup di laut. Termasuk dalam kelas
Chlorophyceae karena talusnya berwarna hijau yang mengandung
klorofil a dan klorofil b serta karotenoid. Hasil asimilasi berupa
tepung dan lemak.
Talusnya menyerupai daun selada. terdiri dari dua lapis sel
yang membentuk struktus seperti perenkim. Habitatnya adalah di
laut dan menempel pada batu karang yang terletak diperairan
pantai. Kira-kira 0-10 meter dari tepi pantai.
Termasuk dalam Ordo Ulotrichales karena sel-selnya selalu
mempunyai satu inti dan satu kloroplas. Yang masih sederhana
membentuk benang yang bercabang atau tidak, sedangkan yang
tinggi tingkatannya contohnya saja Ulva sp. (Ganggang Hijau)
mempunyai talus yang lebih lebar dan melekat pada suatu alat.

Ulva sp. sering disebut sebagai selada laut karena thallus
dari alga ini berbentuk lembaran yang menyerupa selada.
Lembaran daun berwarna hijau karena pengaruh dari kandungan
klorofil a dan b. Biasa hidup berkoloni dengan melekat pada
substrat dengan bantuan holdfast.
Thallus pada spesies merupakan lembaran utama yang
bercabang, berbatasan dengan holdfast yang berfungsi sebagai alat
melekat di dasar perairan. Tubuh dari spesies ini memiliki lapisan
lilin sehingga apabila tekena panas akan mengkilap. Lapisan
tersebut juga berfungsi untuk menghindari hilangnya cairan tubuh
saat terkena panas yang terjadi pada waktu surut tiba.
Reproduksi
Model perkembangbiakan secara seksual dan aseksual.
Perkembangbiakan dengan seksual secara gemetofit.
Perkembangbiakan aseksual secara membentuk spora.
Habitat
Ulva latuca habitatnya di air laut dan air payau. Warnanya
hijau, bentuknya berupa helaian atau lembaran-lembaran tipis.
Susunan tubuhnya foliaceaus atau parenkimatis, maksudnya
filamen yang pembelahan sel vegetatif terjadi lebih dari satu
bidang Ulva lactuca mengahasilkan zat alginat untuk kosmetik.
Sifat khusus Ulva latuca, bentuknya yang berupa helaian atau
lembaran-lembaran tipis dan mengahasilkan zat alginat untuk
kosmetik.
c. Peranan
Bisa digunakan sebagai salad dan sup
Banyak dikonsumsi sebagai bahan makanan di china, Filipina,
chili, dan hindia barat
Ulva merupakan sumber vitamin c, protein, asam folat dan
beberapa jenis mineral seperti : Ca, K, Mg, Na, Cu, Fe, Zn.
Dalam dunia obat-obatan digunakan untuk obat penyakit paru-
paru (TBC) dan penyakit rematik
Ulva lactuca yang kaya asam akrinat berfungsi sebagai
antibiotic yang aktif

10. Sargassum sp.
a. Klasifikasi
Klasifikasi Sargassum menurut Kumar dan Singh (1979) diacu dalam
Nurdayat (2005) dikutip dalam Wiranti (2011) adalah sebagai berikut :
Phylum : Phaeophyta
Kelas : Phaeophyceae
Ordo : Fucales
Famili : Sargassaceae
Genus : Sargassum
Spesies : Sargassum sp.
b. Deskripsi
Rumput laut Sargassum merupakan salah satu rumput laut yang
termasuk dalam kelas Phaeophyceae. Sargassum biasanya tumbuh
melekat pada benda yang keras atau batu-batu karang yang telah mati
dan hancur, bahkan sering dijumpai terapung terbawa air. Ganggang
ini lain dari ganggang pada umumnya, karena mempunyai bentuk yang
mirip sekali dengan bentuk tumbuh-tumbuhan darat, dengan akar,
batang dan daunnya. Sargassum dilengkapi dengan gelembung-
gelembung udara, yakni alat untuk mengapung. (Wiranti,2011)
Menurut Tjondronegoro et al. (1989) diacu dalam Nurdayat (2005)
dikutip dalam Wiranti (2011), tiga sifat Sargassum adalah:
Sargassum memiliki pigmen coklat yaitu fukosantin yang
menutupi warna hijau dari pigmen klorofil a dan c.
Hasil fotosintesis terhimpun dalam bentuk laminarin
Sargassummemiliki flagel.
Hasil fotosintesis yang bernilai ekonomis tinggi dan dapat
diekstrak dari Sargassum sp. adalah alginat yaitu garam dari asam
alginat yang mengandung ion sodium (natrium), kalium dan kalsium
(Kadi dan Atmadja 1988 dalam Wiranti, 2011). Asam alginat ini
merupakan senyawa organik kompleks yang termasuk golongan
polisakarida (Chapman dan Chapman 1980 diacu dalam Nurdayat 2005
dikutip dalam Wiranti,2011). Komposisi kimiaSargassum sp.
berdasarkan hasil penelitian Luhur (2006) dalam Wiranti 2011 dapat
dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Komposisi Kimia Sargassum sp.
Komposisi
kimia
Persentase
(%)
Karbohidrat 19,06
Protein 5,53
Lemak 0,74
Air 11,71
Abu 34,57
Serat kasar 28,39
Sumber : (Luhur,2006 dalam Wiranti,2011)
c. Habitat
Habitat dan sebaran Sargasssun di Indonesia pada umumnya tumbuh di
perairan yang terlindung maupun berombak besar pada habitat batu.
Pengaruh alam yang banyak menentukan sebarannya adalah jenis
substrat, cahaya matahari, kadar garam dan lain-lain. Substrat dasar
tempat melekatnya adalah berupa batu karang, batu, lumpur, pasir,
kulit kerang dan kayu. Penyebaran spesies ini banyak terdapat di
perairan Indonesia yaitu Sumatera, Jawa, Kep.Seribu, Sulawesi dan
Aru. (Miller, 1997 dalam Wiranti,2011)

d. Peranan
Rumput laut memiliki banyak kegunaan dan manfaat, begitu pun
dengan rumput laut
jenis Sargassum
sp. Berikut adalah
beberapa manfaat
dari Sargassum sp. yaitu:
Sebagai sumber
penghasil alginat yang
di gunakan sebagai
bahan pembuat cangkang kapsul, emulsifier dan stabilizer.
Berguna untuk kosmetik, kandungan koloid alginatnya di gunakan
sebagai bahan pembuat sabun, shampo dan cat rambut.
Sebagai bahan baku untuk industri antara lain industri makanan,
minuman, farmasi maupun industri lainnya seperti cat tekstil, film,
makanan ternak, keramik, kertas, dan fotografi.
Dalam perikanan budidaya, keberadaan Sargassum sp membantu
meningkatkan produksi udang windu, sehingga rumput laut jenis
Sargassum sp. ini di gunakan sebagai model budidaya ganda dengan
udang windu. Adanya rumput laut jenis Sargassum sp. di sekitar
tambak udang windu dapat mengurangi jumlah bakteri patogen
sehingga mampu menurunkan kemungkinan berkembangnya
penyakit yang menyerang udang windu.
Sebagai obat gondok, anti bakteri, tumor dan kanker
(Miller, 1997 dalam Wiranti,2011)

11. Galaxaura
a. Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Devisi : Rodophyta
Kelas : Rhodophyceae
Bangsa : Nemalies
Suku : Chaetangiaceae
Marga : Galaxaura
Spesies : Galaxaura rugosa
(Syaiful,2012)
b. Deskripsi
Galaxaura rugosa mempunyai ciri-ciri morfologi antara lain :
thallus lebat, kaku, kompak, membentuk gundukan hemispherical, tinggi
talus 5-7 (-12) cm, warna talus gelap merah-coklat, percabang dikotomis.
Cabang berbentuk silinder, dengan diameter 5-1,5 (-3) mm,
mempunyai Holdfast untuk menempel pada substrat. (Syaiful,2012)
Substrat yang dapat digunakan sebagai tempat melekat adalah
pasir, batuan karang, coral mati, tanaman lain, dan mungkin benda-benda
padat yang kebetulan tenggelam di dalam laut. Alga melekatkan dirinya
pada substrat dengan perantaraan organnya yang disebut dengan holdfast.
Berbeda dengan tumbuhan darat, alga tidak memerlukan struktur jaringan
untuk menyokong tegaknya tubuh dalam air. Hal ini dimungkinkan karena
air telah menyediakan daya apung yang membuat bagian-bagian tubuh
alga dapat terangkat ke atas di dalam kolom air. Disamping itu, pada
spesies alga tertentu ditemukan struktur organ menyerupai bola-bola kecil
yang dapat menyerap udara dan berperan sebagai pelampung, sehingga
bagian-bagian tubuh alga tersebut dapat terangkat ke atas untuk
memaksimalkan penyerapan cahaya (Sze, 1993, Bold dan Wynne, 1985
dalam Jelantik, 2003 dikutip dalam Syaiful,2012).
Galaxaura terdiri dari empat jenis, yakni G. kjelmanii, G.
subfruticulosa, G. subverticillata, dan G. rugosa. Mereka tumbuh melekat
pada substrat batu di rerataan terumbu. Rhodophyta memiliki thallus yang
bersel banyak (multiseluler), hanya beberapa jenis yang bersel tunggal.
Thallus mempunyai bentuk yang beranekaragam. Sel memiliki plastida
yang mengandung klorofil a, d, dan pigmen fotosintetik lainnya yaitu
xantofil, fikobiliprotein (fikoeritrin dan fikosianin). Jjumlah kedua pigmen
ini sangat banyak sehingga menutupi klorofil dan menyebabkan ganggang
ini berwarna merah. Semua pigmen berada dalam tilakoid kecuali
fikobiliprotein yang terdapat pada bagian permukaan. Pigmen-pigmen ini
dapat mengabsorpsi cahaya energi matahari yang kemudian cahaya itu
ditransfer ke klorofil a, sehingga adanya pigmen ini mempunyai pengaruh
langsung dalam proses fotosintesis (Gupta, 1981 dalam Dewi 2006 dikutip
dalam Syaiful,2012).
Cadangan makanan berupa tepung floridae, yaitu suatu karbohidrat
dalam bentuk butiran-butiran kecil yang tersimpan dalam sitoplasma dan
di luar plastid. Pada beberapa alga juga terdapat gula floridasida
galaktosida dan gliserol.
Dinding sel terdiri dari selulosa dan polisakarida yang menyerupai
lender. Polisakarida ini adalah agar dan keragenan yang menyusun 70%
dari berat kering dinding sel. Komponen dinding sel ini sangat menarik
dan memiliki nilai komersiil yang sangat tinggi sebagai bahan stabilizer.
Reproduksi pada jenis primitif secara aseksual, yaitu dengan cara
membelah sel atau dengan spora, sedangkan reproduksi seksualnya belum
banyak diketahui. Pada jenis-jenis yang lebih maju umumnya terdapat
reproduksi aseksual dan seksual (Gupta, 1981 dalam Dewi 2006). Sel
kelamin jantan dari alga ini tidak berflagel yang disebut spermatium.
Spermatium ini secara pasif terbawa oleh arus air, kemudian melekat pada
alat kelamin betina (karpogonium). Setelah itu inti dari masing-masing sel
kelamin bersatu dan membentuk zigot. (Syaiful,2012)

12. Padina sp.
a. Klasifikasi menurut Atmadja dkk (1996) dalam Yollia (2011), yaitu:
Kingdom : Plantae
Divisi : Thallophyta
Sub divisi : Algae
Classis : Phaeophyceae
Ordo : Dictyotales
Family : Dictyotaceae
Genus : Padina
Speseis : Padina sp

b. Deskripsi :
Padina sp termasuk dalam ganggang pirang yang berhabitat di air
laut yang memelakat di atas batu karang dengan alat pelekat yang
disebut rizoid. Thalus berbentuk pita yang bercabang-cabang
menggarpu. Terasuk dalam classis Phaeophyceae karena berwarna
pirang, termasuk ordo Dictyotales karena bentuk thalus seperti pita
bercabang-cabang menggarpu. Pada thalus terdapat garis-garis
konsentris dan penebalan gametangia. Perkembangbiakan seksual
dengan oogami. Anteridium yang berkotak-kotak dan oogonium
terdapat pada tempat berlainan. (Atmadja dkk, 1996 dalam
Yollia,2011)
Phaeophyta memiliki kromatofora berwarna cokelat karena
banyak mengandung pigmen fotosintetik fukosantin, disamping
klorofil a. selnya berflagel dua, tidak sama panjang. Seluruh devisi
Phaeophyta bersifat multiseluler dengan morfologi yang bervariasi
dari filamen bercabang. Berbentuk seperti batang, berdaun banyak,
atau seperti pedang. Contohnya adalah Sargassum, Padina,
Turbinaria, dan Dictyota (Anonymous, 2009).
Spesies ini berbentuk seperti kipas dan mempunyai warna
coklat. Akarnya berbentuk serabut yang disebut holdfast untuk
menempel kuat pada substrat sehingga dapat digunakan untuk
beradaptasi terhadap gerakan ombak pada daerah intertidal. Di
bagian yang menyerupai kipas terdapat garis-garis horisontal yang
disebut garis konsentris.. Di ujung daun terdapat penebalan yang
disebut penebalan gametangia yang berfungsi sebagai reproduksi
gamet dan pelindung daerah pinggiran daun agar tidak sobek
karena ombak besar pada zona pasang-surut (Anonymous, 2005).
Spesies ini tergolong ordo Dictyotales yang mempunyai bulu
cambuk dan sporangium beruang satu dan transparan, biasanya
berkembangbiak secara aseksual dengan oogonium. Satu
oogonium merupakan satu sel telur dan gamet jantan mempunyai
satu bulu cambuk yang terdapat pada sisinya. Fase hidup yang
dilalui Padina adalah fase gametofit dan sporofit yang bergilir dan
beraturan (Dawes,1990 dalam Anonymous, 2005)
Hasil pengamatan

Genus Gambar
Turbinaria

Sargassum

Dictyota

Halymenia

Galaxaura

Halimeda

Gracilaria

Sargassum