Anda di halaman 1dari 39

KEDOKTERAN KELUARGA

UPAYA PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA


TERHADAP TN. A DALAM MENANGANI
PERMASALAHAN HIPERTENSI









Disusun oleh:
Annisaa Rizqiyana
Sita Ardilla Rinandyta
Rachmat Andy
Wahid Huda
Sasminto

1




TAHAP I
Karafteristik Demografi Keluarga
2
Nama Kepala Keluarga : Tn. A
Alamat Lengkap : Desa
Lorog, Kabupaten Sukoharjo.
Bentuk Keluarga : Nuclear
family

Daftar Anggota Keluarga 1
Rumah
3
4
Kesimpulan:
Keluarga Tn. A adalah Nuclear
Family yang terdiri dari 5 orang.
Terdapat satu orang sakit yaitu Tn. A,
umur 47 tahun. Diagnosa klinis
Hipertensi. Penderita tinggal dengan
istri dan ketiga anaknya.

TAHAP II
Status Penderita
5
Pendahuluan
Laporan ini dibuat berdasarkan kasus yang
diambil dari seorang penderita Hipertensi,
berjenis kelamin lak-laki, usia 47 tahun. Kasus
ini dipilih dengan pertimbangan bahwa akibat
dari penyakit ini sangat kompleks, tidak hanya
dari segi biomedis melainkan juga
mempengaruhi faktor psikologis penderita dan
keluarga, serta faktor-faktor sosioekonomi,
maka penting kiranya bagi kita untuk
memperhatikan dan mencermatinya dan
menjadikannya pengalaman di lapangan.

Identitas Pasien
Nama : Tn. A
Umur : 47 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Petani
Pendidikan : SMP
Agama : Islam
Status : Menikah
Alamat : Desa Lorog, Kabupaten
Sukoharjo
Suku : Jawa
Tanggal periksa : 17 Juli 2014

6
7
8
Pasien datang
dengan keluhan
nyeri kepala.

Pasien datang
dengan keluhan
nyeri kepala
9
Pasien mengatakan
kalau kepalanya terasa
senut-senut dan
badannya lemes.
Pasien merasa seperti
orang bingung.
Pasien juga
mengeluhkan kalau
tengkuknya terasa
kaku dan cengeng.
Pasien mengaku
kelelahan karena
pekerjaannya.
Selama beberapa hari
tersebut pasien sering
tidak bisa tidur pada
malam harinya
Demam (-), mual (-),
muntah (-), BAB dan
BAK normal.
10
RIWAYAT KEBIASAAN
Riwayat merokok : diakui
Riwayat minum minuman keras : disangkal
Riwayat olah raga teratur : disangkal
Riwayat pengisian waktu luang : saat tidak
bekerja di sawah pasien membantu istrinya
berdagang
11
12
Riwayat sakit gula :
disangkal
Riwayat tekanan darah tinggi : diakui
Riwayat sakit jantung : disangkal
Riwayat stroke : diakui

Riwayat sosial ekonomi dan gizi

Penderita adalah seorang suami, tinggal bersama
istri, dan 3 anaknya. Penghasilan keluarga
sekitar Rp. 1.500.000/bulan. Hubungan Tn. A
dengan anggota keluarga yang lain saling
mendukung dan saling memperhatikan kondisi
kesehatan.

Penderita sehari-harinya makan sebanyak 3x,
dengan nasi, sayur dan kadang ditambah lauk
pauk seperti tahu, tempe, dan daging.


13
Keadaan umum : tampak
lemah
Kesadaran : compos
mentis (E4V5M6)
TD : 170/ 90 mmHg
N : 86 x/mnt
RR : 20 x/mnt
S : 36,8
0
C

14
Kulit
Ikterik (-), petechiae (-), acne (-), turgor cukup, hiperpigmentasi (-), bekas
garukan (-), kulit kering (-), kulit hiperemis (-), sikatrik bekas operasi (-) di
kaki
Kepala
Bentuk mesocephal, rambut warna hitam-putih, mudah rontok (-), luka (-)
Mata
Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), perdarahan subkonjungtiva (-
/-), pupil isokor dengan diameter 3 mm/3mm, reflek cahaya (+/+) normal,
oedem palpebra (-/-), strabismus (-/-).
Hidung
Nafas cuping hidung (-), deformitas (-), darah (-/-), sekret (-/-)
Telinga
Deformitas (-/-), darah (-/-), sekret (-/-)
Mulut
Sianosis (-), gusi berdarah (-), kering (-), stomatitis (-), pucat (-), lidah
tifoid (-), papil lidah atropi (-), luka pada sudut bibir (-)
Leher
JVP tidak meningkat, trakea di tengah, simetris, pembesaran tiroid (-),
KGB (-).

15
Inspeksi : Iktus kordis tidak tampak
Palpasi : Iktus kordis tidak kuat
angkat, nyeri tekan (-)
Perkusi : Batas jantung
kiri atas : SIC II linea parasternalis sinistra
kiri bawah : SIC V 2 cm medial linea
midclavicularis sinistra
kanan atas : SIC II linea parasternalis dextra
kanan bawah : SIC IV linea parasternalis
dextra

Konfigurasi jantung kesan tidak melebar

Auskultasi : Bunyi jantung I-II murni,
intensitas normal, regular, bising (-),
gallop (-).

PEMERIKSAAN FISIK
16
Inspeksi : Bentuk dan Pengembangan dada
kanan = kiri, simetris.
Palpasi : Fremitus raba kanan = kiri
Perkusi : Sonor seluruh lapang paru
Auskultasi : Suara dasar (SVD/SVD), Rhonki
(-/-), Wh(-/-)
Inspeksi : dinding perut sejajar dengan dinding dada,
caput medusa (-), venektasi (-) distended (-)
Auskultasi : peristalitik (n)
Perkusi : timpani
Palpasi : NT (-)

PEMERIKSAAN FISIK
17
Clubing
Finger
(-/-)
Palmar
eritema (-/-)
Pitting oedem (-/-
)
Akral hangat
(+)
18
19
Neurologi: dbn
Psikiatri: dbn
Muskuloskleta: dbn
Pemeriksaan
Laboratorium
20
Kolesterol : 130 mg/dl
Asam Urat : 3,4
Diagnosis Holistik
21
Biologis : Hipertensi
Psikologis : Kondisi kejiwaan pasien
baik
Sosial : Kondisi lingkungan dan rumah
yang kurang, hubungan dengan keluarga baik,
pasien kurang mengerti akan penyakitnya. Untuk
status ekonomi pasien, tingkat kesejahteraan
pasien kurang.

Penatalaksanaan
22
Nonmedikamentosa
Cukup istirahat
Diet rendah rendah garam
Mengurangi Stres
Medikamentosa
Captopril 25 100 mg, 2 x 1 hari
HCT 12,5 50 mg / hari

TAHAP III
Identifikasi Fungsi-Fungsi Keluarga
23
FUNGSI HOLISTIK
Fungsi Biologis
Merupakan nuclear family yang terdiri atas suami (Tn. A, 47 tahun), Istri (Ny. S, 44 tahun),
anak (Tn. A, 25 tahun), anak (Nn. R, 17 tahun), dan anak (Nn. S, 14 tahun). Tn. A adalah
penderita Hipertensi.
Fungsi Psikologis
Hubungan keluarga di antara mereka terjalin akrab dan harmonis, hal ini terbukti dengan
adanya komunikasi yang baik antar anggota keluarga dan kemampuan menyelesaikan
masalah secara musyawarah. Sewaktu penderita sakit, penderita dirawat istri dan anak-
anaknya.
Fungsi Sosial
Penderita sering berkumpul dengan tetangga dan mengikuti kegiatan masyarakat seperti
hajatan, dan kerja bakti kampung.
Fungsi Ekonomi dan pemenuhan kebutuhan
Penghasilan keluarga sekitar Rp. 1.500.000,-/bulan. Penderita sehari-harinya makan
sebanyak 3x, dengan nasi, sayur dan lauk pauk seperti tahu, tempe, dan daging.

Kesimpulan :
Keluarga Tn. A yang berbentuk nuclear family, didapatkan Tn. A, seorang laki-laki, sebagai
suami dengan Hipertensi.

24
Fungsi Fisiologis:
APGAR score keluarga Tn. A =
(10+10+10+10+10) : 5 = 10

Kesimpulan :
Fungsi fisiologis keluarga Tn. A baik

25
Fungsi Patologis

Pola Interaksi Keluarga
26
Hubungan Tn. A dengan keluarga baik
Genogram
27
28
Kesimpulan:
Hipertensi ditemukan pada anggota
keluarga lainnya.
Tidak didapatkan penyakit menular
Didapatkan penyakit keturunan

IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI KESEHATAN

29
Indentifikasi Lingk. Rumah
30
Daftar Masalah
31
MASALAH MEDIS :
Hipertensi.
MASALAH NON MEDIS :
Kepedulian terhadap penyakit penderita kurang.
Keadaan ekonomi kurang.
Rendahnya tingkat pengetahuan kesehatan.
Rendahnya kepedulian pengaturan menu
makanan (terlalu banyak garam) dan gaya hidup
(merokok).

Matriks Prioritas Masalah
32
33
Prioritas masalah yang diambil adalah bagaimana
meningkatkan pengetahuan penderita dan keluarga
mengenai penyakit yang sedang dialaminya melalui
edukasi terhadap penderita dan keluarga sehingga
penderita bisa terdorong untuk memeriksakan
penyakitnya secara rutin ke rumah sakit.
Memberikan pengertian kepada keluarga untuk
selalu mendukung dan mendorong penderita agar
bisa mengendalikan penyakitnya. Diharapkan
dengan peningkatan pengetahuan penderita dan
keluarga, mampu menumbuhkan kesadaran dalam
diri penderita dan keluarga untuk selalu
memeriksakan penyakitnya secara rutin. Selain itu
juga diharapkan akan terjadi perubahan gaya hidup
dari keluarga yang akan membantu penderita
dalam mengendalikan penyakit dan mencegah
terjadinya komplikasi yang lebih buruk.

TAHAP IV
HUBUNGAN PRIORITAS MASALAH
DENGAN HIPERTENSI YANG DIDERITA
Tn. A
34
Masalah Medis
Hipertensi
Masalah Non Medis
Faktor perilaku:
Kepedulian terhadap penyakit penderita kurang.
Rendahnya tingkat pengetahuan kesehatan.
Rendahnya kepedulian pengaturan menu makanan
(terlalu banyak garam) dan gaya hidup (merokok).
Faktor non perilaku:
Keadaan ekonomi kurang.

Hub. Prioritas Masalah Dengan
Hipertensi
35
Pengetahuan dan sikap Tn. A kurang memperhatikan
kesehatannya dan tidak tahu faktor-faktor resiko
Hipertensi serta komplikasinya, sehingga Tn. A hanya
kontrol jika terdapat keluhan.
Tn. A memiliki pola hidup yang kurang baik, yaitu
perokok, terlalu banyak mengonsumsi garam, dan tidak
rutin memeriksakan dirinya. Pengaruh asupan garam
terhadap timbulnya hipertensi terjadi melalui peningkatan
volume plasma, curah jantung dan tekanan darah.
Garam menyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh,
karena menarik cairan diluar sel agar tidak keluar,
sehingga akan meningkatkan volume dan tekanan darah.
Asupan makanan yang terlalu banyak garam yang tidak
tepat kebutuhan dan tidak teratur akan mengakibatkan
resistensi insulin di perifer sehingga kadar gula dalam
darah akan meningkat.

36
Prinsip pengobatan hipertensi adalah targt tekanan
darah < 140/90 mmHg, untuk individu beresiko tinggi
(diabetes, gagal ginjal, proteinuria) adalah < 130/80
mmHg, selain itu juga manurunkan morbiditas dan
mortalitas kardiovaskular, serta menghambat laju
penyakit ginjal proteinuria. Selain pengobatan
hipertensi, pengobatan terhadap factor resiko atau
kondisi penyerta lainnya seperti DM atau dyslipidemia
juga harus dilaksanakan hingga mencapai target terapi
pada masing-masing kondisi.
Pengobatan hipertensi terdiri dari terapi farmakologi
dan non farmakologi. Terapi non farmakologi ditujukan
untuk menurukan tekanan darah dan mengendalikan
factor-faktor resiko serta penyakit penyerta lainnya,
diantaranya yaitu menghentikan merokok, menurunkan
berat badan berlebih, menurunkan konsumsi alkohol
berlebih, latihan fisik, menurunkan asupan garam, dan
meningkatkan konsumsi buah dan sayur, serta
menurunkan asupan lemak.

37
Diagnosis Biologis : Hipertensi.
Diagnosis Psikologis : Kondisi
kejiwaan pasien baik.
Diagnosis Sosial : Kondisi lingkungan
dan rumah yang kurang, hubungan dengan
keluarga baik, pasien kurang mengerti akan
penyakitnya. Untuk status ekonomi pasien,
tingkat kesejahteraan pasien rendah.

TAHAP VA
SIMPULAN (DIAGNOSIS
HOLISTIK)

TAHAP VB
SARAN ( KOMPREHENSIF)

38
Promotif
Edukasi pasien dan keluarga tentang penyakit Hipertensi
yang sering terjadi karena faktor keturunan dan gaya
hidup. Menyarankan kepada keluarga agar melakukan
pemeriksaan kontrol tekanan darah rutin. Mengenalkan
pola makan dan perilaku kesehatan yang benar untuk
penderita dan keluarga.
Preventif
Meningkatkan pengetahuan pasien mengenai hipertensi
mulai dari faktor risiko sampai komplikasinya. Melakukan
perbaikan terhadap pola hidup pasien yaitu dengan olah
raga teratur, manajemen stress, dan membatasi
konsumsi garam.

39
Kuratif
Farmakologi : diuretic, penyekat reseptor beta adrenergic (-
bloker), penghambat angiotensin-converting enzyme (ACE
inhibitor), penghambat reseptor angiotensin (Angiotensin
reseptor bloker, ARB). Antagonis kalsium.
Non farmakologis : menurunkan tekanan darah dan
mengendalikan factor-faktor resiko serta penyakit penyerta
lainnya, diantaranya yaitu menghentikan merokok,
menurunkan berat badan berlebih, menurunkan konsumsi
alkohol berlebih, latihan fisik, menurunkan asupan garam, dan
meningkatkan konsumsi buah dan sayur, serta menurunkan
asupan lemak.
Rehabilitatif
Mengembalikan dan menjaga kondisi tubuh pasien.
Memeriksa tekanan darah setiap sebulan minimal 1 kali
secara rutin, mengkonsumsi obat anti hipertensi dan
membatasi konsumsi garam serta melakukan olahraga
teratur.