Anda di halaman 1dari 40

Perubahan Fungsi Sistem Tubuh Pada

Geriatrik
FARMAKOTERAPI
Chandra Lidansyah H 1110102000060
Citra Rezza A P P 1110102000028
Delvina Ginting 1110102000058
Desti Iswindari 1110102000016
Hidrial Liza 1110102000044
Isa Desi Mawati 1110102000052

MASALAH YG TERJADI PADA
GERIATRI
Proses menua (aging)
adalah proses alami
yang disertai adanya
penurunan kondisi fisik,
psikologis maupun sosial
yang saling berinteraksi
satu sama lain.
Geriatri adalah cabang ilmu
kedokteran yang mempelajari
masalah kesehatan pada lansia
yang menyangkut aspek
promotof, preventif, kuratif dan
rehabilitatif serta psikososial
yang menyertai kehidupan
lansia.

Pembagian terhadap populasi berdasarkan usia
lanjut meliputi tiga tingkatan (menurut WHO), yaitu :
a. Lansia (elderly) dengan kisaran umur 60-75
tahun,
b. Tua (old) dengan kisaran umur 75-90 tahun,
c. Sangat tua (very old) dengan kisaran umur >
dari 90 tahun (Walker and Edward, 2003).
Pasien geriatri (elderly) merupakan pasien dengan
karakteristik khusus karena terjadinya penurunan
massa dan fungsi sel, jaringan, serta organ. Hal ini
menimbulkan perlu adanya perubahan gaya
hidup, perbaikan kesehatan, serta pemantauan
pengobatan baik dari segi dosis maupun efek
samping yang mungkin ditimbulkan (David, 2010).
Lapisan2 dari
dalam ke luar
fungsi Kondidi pada
pediatri
akibatnya
Germinativum
(basale)
>Terdiri dari sel2
keratinosit muda
Terdapat
melanocytes
Merkel cell
sel2 tersebut
membelah
aktif/cepat
Keratinosit
menghasilkan
protein fibrosa
(keratin)
> Menghasilkan
pigmen
coklat(melanin)
> Reseptor
sentuhan bersama-
sama dengan
sensory nerve
endings


Aktivitas
melanosit menurun
Aktivitas sel2
germinativum
menurun
Rentan terhadap
sinar matahari
Epidermis
semakin tipis
sehingga rentan
luka dan infeksi
Stratum spinosum Terdapat sel
langerhans dan
granul2 melanin

Sel langerhans
sebagai makrofag
yang membantu
mengaktifkan
sistem imun
Jumlah sel
langerhans
menurun

Mnurunkan
sensitivitas sistem
imun di kulit
Stratum
granulosum
3-5 lapisan
keratinosit flat
Stratum lucidum Keratinosit sudah
mati
Hanya ada pada
kulit tebal
Stratum corneum Lapisan sel2 yang
terkreatinisasi
Lapisan 2
fungsi Kondidi pada
pediatri
akibatnya
Lapisan
papiler
jar. Ikat
longgar dgn
serat
kolagen &
elastik
Pembuluh
darah
kapiler
Badan
Meissners
Ujung saraf
bebas

Lapisan
retikular
serat2
kolagen
Serat2
elastin
Kolagen :
kekuatan
Elastin :
peregangan
Elastin
menurun
Estrogen
menurun :
kolagen
menurun
keriput
Macam2
fungsi Kondidi pada
pediatri
akibatnya
Kelenjar
glands
(sebum)
Sekret
mengand
ung
minyak
Sekresin
ya
dipengar
uhi
hormon
Sekret
dapat
melembu
tkan kulit

Sekresi
kelenjar
menurun

Kulit
kering

Sweat
glands
Mengat
ur suhu
Tak
bekerja
dengan
baik
Tidak
tahan
panas
Macam2
jaringan
fungsi Kondidi pada
pediatri
akibatnya
Jaringan
lemak
Jaringan
lemak
berkurang
keriput
Jaringan
ikat
longgar
Contoh obat
1. Sediaan topikal gol.obat
steroid -> dosis lebih kecil
dibanding dosis dewasa
karena kulit tipis sehingga
mudah bpnetrasi

Proses penuaan memberikan pengaruh
pada setiap bagian dalam saluran
gastrointestinal (GI) dalam beberapa
derajat. Namun, karena luasnya persoalan
fisiologis pada sistem gastrointestinal, hanya
sedikit masalah-masalah yang berkaitan
dengan usia yang dilihat dalam kesehatan
lansia. Banyak masalah-masalah
gastrointestinal yang dihadapi oleh lansia
lebih erat dihubungkan dengan gaya hidup
mereka.

Rongga
Mulut
Esofagus
RONGGA MULUT
Bagian rongga mulut yang lazim
terpengaruh adalah gigi, gusi, dan
lidah. Kehilangan gigi penyebab
utama adanya Periodontal disease
yang biasa terjadi setelah umur
30 tahun, penyebab lain meliputi
kesehatan gigi yang buruk dan gizi
yang buruk.
Indera pengecap menurun
disebabkan adanya iritasi kronis
dari selaput lendir, atropi indera
pengecap ( 80 %),
hilangnya sensitivitas dari syaraf
pengecap di lidah terutama rasa
manis dan asin, hilangnya
sensitivitas dari syaraf pengecap
tentang rasa asin, asam, dan
pahit (Nugroho, 2008).
ESOFAGUS
Esophagus mengalami penurunan
motilitas, sedikit dilatasi atau
pelebaran seiring penuaan.
Sfingter esophagus
bagian bawah (kardiak)
kehilangan tonus.
Refleks muntah pada lansia
akan melemah, kombinasi
dari faktor-faktor ini
meningkatkan resiko
terjadinya aspirasi pada
lansia (Luecknotte, 2000).
LAMBUNG
Terjadi atrofi mukosa. Atrofi dari sel kelenjar, sel parietal dan
sel chief akan menyebabkan sekresi asam lambung, pepsin
dan factor intrinsik berkurang.
Ukuran lambung pada lansia menjadi lebih kecil, sehingga
daya tampung makanan menjadi berkurang. Proses
perubahan protein menjadi peptone terganggu. Karena
sekresi asam lambung berkurang rangsang lapar juga
berkurang (Darmojo & Martono, 2006).
Kesulitan dalam mencerna makanan adalah akibat dari
atrofi mukosa lambung dan penurunan motalitas lambung.
Atrofi mukosa lambung merupakan akibat dari penurunan
sekresi asam hidrogen-klorik (hipoklorhidria), dengan
pengurangan absorpsi zat besi, kalsium, dan vitamin B 12.
Motilitas gaster biasanya menurun, dan melambatnya
gerakan dari sebagian makanan yang dicerna keluar dari
lambung dan terus melalui usus halus dan usus besar
(Stanley, 2007).



USUS HALUS
Mukosa usus halus juga mengalami atrofi,
sehingga luas permukaan berkurang,
sehingga jumlah vili berkurang dan
selepithelial berkurang.
Di daerah duodenum enzim yang
dihasilkanoleh pankreas dan empedu juga
menurun, sehingga metabolism
karbohidrat, protein, vitamin B12 dan
lemak menjadi tidak sebaik sewaktu muda
(Leueckenotte, 2000).

USUS BESAR DAN REKTUM
Pada lansia terjadi perubahan dalam usus besar termasuk
penurunan sekresi mukus, elastisitas dinding rektum, peristaltic
kolon yang melemah gagal mengosongkan rektum yang dapat
menyebabkan konstipasi (Leueckenotte, 2000).
Pada usus besar kelokan-kelokan
pembuluh darah meningkat sehingga
motilitas kolon menjadi berkurang.
Keadaan ini akan menyebabkan
absorpsi air dan elektrolik meningkat
(pada kolon sudah tidak terjadi
absorpsi makanan), feses menjadi
lebih keras, sehingga keluhan sulit
buang air besar merupakan keluhan
yang sering didapat pada lansia.
Proses defekasi yang seharusnya
dibantu oleh kontraksi dinding
abdomen juga seringkali tidak efektif
karena dinding abdomen sudah
melemah (Darmojo & Martono, 2006).
PANKREAS
Produksi enzim amilase, tripsin dan lipase
akan menurun sehingga kapasitas
metabolisme karbohidrat, protein dan
lemak juga akan menurun.
Pada lansia sering terjadi pankreatitis yang
dihubungkan dengan batu empedu.
Batu empedu yang menyumbat ampula
Vateri akan menyebabkan oto-digesti
parenkim pancreas oleh enzim elastase
dan fosfolipase-A yang diaktifkan oleh
tripsin dan/ atau asam empedu (Darmojo &
Martono, 2006).

HATI
Hati berfungsi sangat
penting dalam proses
metabolisme
karbohidrat, protein
dan lemak.
Disamping juga
memegang peranan
besar dalam proses
detoksikasi, sirkulasi,
penyimpanan vitamin,
konjugasi billirubin dan
lain sebagainya.
Dengan meningkatnya
usia, secara histologik
dan anatomik akan
terjadi perubahan
akibat atrofi sebagian
besar sel, berubah
bentuk menjadi jaringan
fibrous.
Hal ini akan
menyebabkan
penurunan fungsi hati
(Darmojo & Martono,
2006). Proses penuaan
telah mengubah proporsi
lemak empedu tanpa
perubahan metabolisme
asam empedu yang
signifikan.
Faktor ini memengaruhi
peningkatan sekresi
kolesterol. (Stanley,
2007).

PERNAPASAN PADA GERIATRIC
Pulmonary

Respiratory muscle
strength
Chest wall
compliance
Total alveolar surface
Vital capacity
Maximal breathing
capacity
Pulmonary defence

Berkurangnya elastisitas
dan berkurangnya
kekuatan otot pernafasan
mengakibatkan
penurunan kapasitas vital
paru paru. Kapasitas vital
paru adalah Jumlah
maksimum dari volume
udara yang dapat
dikeluarkan diikuti
dengan inspirasi
maksimal.
Penurunan compliance secara
keseluruhan pada sistem
respirasi secara keseluruhan
meningkatkan volume residu.
Udara residu adalah udara
yang masih tersisa dalam
paru-paru setelah ekspirasi
maksimal.
Penurunan elastisitas otot pernapasan,
menyebabkan distensi alveoli
berlebihan yang berakibat mengurangi
permukaan alveolar, sehingga
menurunkan efisiensi pertukaran gas.
Penurunan daya tahan paru
menyebabkan peningkatan
kemungkinanterjadinya
aspirasi dan infeksi pada
sistem respirasi.
PERUBAHAN SISTEM SARAF PADA
KONDISI PENUAAN
Beberapa sel saraf mengalami penurunan, tetapi
sebagian otak masih dapat mengkomensasi
penurunan tersebut dengan cara :
1. Sebagai sel hilang, koneksi baru yang dibuat
antara sel-sel saraf yang tersisa.
2. Sel-sel saraf baru bisa terbentuk di beberapa
daerah otak, bahkan selama usia tua.
Setelah sekitar usia 60, jumlah sel di sumsum tulang
belakang mulai menurun. Biasanya, perubahan ini
tidak mempengaruhi kekuatan atau sensasi.
Tingkat zat kimia yang terlibat
dalam pengiriman pesan pada
otak terjadi penurunan, namun
terdapat kenaikan pada
sebagiannya.
Sel-sel saraf mungkin
kehilangan beberapa reseptor
untuk pengiriman pesan.
Aliran darah ke otak
berkurang.
Orang tua dapat bereaksi dan
melakukan tugas-tugas yang
agak lebih lambat, tetapi dapat
melakukan hal-hal secara
akurat.
Beberapa fungsi-seperti mental
sebagai kosakata, memori
jangka pendek, kemampuan
untuk belajar materi baru, dan
kemampuan untuk mengingat
kata-kata mungkin berkurang
setelah usia 70.
PERUBAHAN PADA SISTEM ENDOKRIN
Sekitar 50% lansia menunjukkan intoleransi glukosa,
dengan kadar gula puasa yang normal.
Frekuensi hipertiroid pada lansia yaitu sebanyak 25%,
sekitar 75% dari jumlah tersebut mempunyai gejala,
dan sebagian menunjukkan apatheic thyrotoxicosis.
Level dan aktivitas dari beberapa hormon yang
diproduksi oleh kelenjar endokrin, menurun.
Pertumbuhan kadar hormon menurun, memicu ke
massa otot menurun.
Penurunan kadar aldosteron, membuat dehidrasi.
Insulin, yang membantu mengontrol kadar gula dalam
darah menjadi kurang efektif, kerena produksi
berkurang.
Perubahan dalam insulin dapat meningkatkan risiko
diabetes tipe 2.
SISTEM RENAL
Ginjal cenderung menjadi lebih kecil karena
jumlah sel menurun.
Kurangnya darah yang mengalir melalui ginjal,
dan pada usia 30, ginjal mulai menyaring darah
kurang baik.
Membran basalis glomerulus mengalami
penebalan, sklerosis pada area fokal, dan total
permukaan glomerulus mengalami penurunan,
panjang dan volume tubulus proksimal berkurang,
dan penurunan aliran darah renal.
Penurunan hormon yang penting untuk absorbsi
kalsium dari saluran gastrointestinal. Implikasi dari
hal ini adalah peningkatan risiko osteoporosis.

PERUBAHAN PADA SISTEM URINARIA
1. Penurunan kapasitas kandung kemih.
Dengan demikian, orang tua mungkin perlu
buang air kecil lebih sering.
2. Peningkatan volume residu
3. Peningkatan kontraksi kandung kemih yang
tidak di sadari, dan atopi pada otot
kandung kemih secara umum.
4. Otot yang mengontrol bagian urin keluar dari
tubuh (sfingter kemih) kurang mampu
menutup rapat dan mencegah kebocoran.
Dengan demikian, orang tua lebih sulit
menunda buang air kecil.
PERUBAHAN NORMAL
Ventrikel kiri
menebal
Katup jantung
menebal dan
membentuk
penonjolan
Jumlah sel
pacemaker
menurun.
Arteri menjadi kaku
dan tidak lurus pada
kondisi dilatasi.
Vena mengalami
dilatasi, katup2
menjadi tidak
kompeten.
Penurunan kekuatan
kontraktil.
Gangguan aliran
darah melalui katup.
Umum terjadi
disritmia.
Penumpulan respon
baroreseptor dan
penumpulan respon
terhadap panas dan
dingin.
Edema pada
ektremitas bawah
dengan
penumpukan darah.
PERUBAHAN STRUKTUR
Ukuran jantung seseorang tetap proporsional dengan berat badan, adanya suatu
hipertropi atau atropi yang terlihat jelas berarti tidak normal, tetapi hal tersebut lebih
merupakan tanda dari penyakit jantung.
Perubahan structural memengaruhi konduksi system jantung melalui peningkatan jumlah
jaringan fibrosa dan jaringan ikat.
Jumlah total sel sel pacemaker mengalami penurunan seiring bertambahnya usia, oleh
karna itu hanya hanya sekitar 10% jumlah yang ditemukan pada usia dewasa muda yang
masih terdapat pada usia 75 tahun.
Dengan bertambahnya usia, system aorta dan arteri perifer menjadi kaku dan tidak lurus.
Perubahan ini terjai akibat peningkatan serat kolagen dan hilangnya serat elastic dalam
lapisan medial arteri.
Proses perubahan yang berhubungan dengan penuaan ini meningkatkan kekakuan dan
ketebalan disebut dengan arteriosklerosis
PERUBAHAN FUNGSI
Dari sudut pandang fungsional
atau penampilan, perubahan
utama yang berhubungan
dengan penuaan system
kardiovaskuler adalah
penurunan kemampuan untuk
meningkatkan keluaran
sebagai respons terhadap
peningkatan kebutuhan
tubuh.
Prinsip mekanisme yang
digunakan oleh jantung yang
mengalami penuaan untuk
meningkatkan curah jantung
adalah dengan meningkatkan
volume akhir diastolic, yang
meningkatkan volume
sekuncup (Dikenal sebagai
Hukum Starling).
Prinsip perubahan fungsional
terkait usia yang dihubungkan
dengan pembuluh darah
secara progresif meningkatkan
tekanan sistolik. American
Heart Assosiation
merekomendasikan bahwa
nilai sistolik 160 mmHg
dianggap sebagai batas
normal tertinggi untuk lansia
PENYAKIT KARDIOVASKULER YANG
SERING TERJADI PADA LANSIA
Hipertensi merupakan kondisi dimana tekanan darah sistolik sama atau lebih tinggi dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih tinggi
dari 90mmHg, yang terjadi karena menurunnya elastisitas arteri pada proses menua. Bila tidak ditangani, hipertensi dapat memicu
terjadinya stroke, kerusakan pembuluh darah (arteriosclerosis), serangan/gagal jantung, dan gagal ginjal
Hipertensi
Penyempitan pembuluh darah jantung sehingga aliran darah menuju jantung terganggu. Gejala umum yang terjadi adalah nyeri
dada, sesak napas, pingsan, hingga kebingungan.
Penyakit
jantung
koroner
Insidensi disritmia atrial dan ventrikuler maningkat pada lansia karena perubahan struktural dan fungsional pada penuaan. Masalah
dipicu oleh disritmia dan tidak terkoordinasinya jantung sering dimanifestasikan sebagai perubahan perilaku, palpitasi, sesak nafas,
keletihan, dan jatuh
Disritmia
Gejala yang paling sering adalah rasa terbakar, kram, atau nyeri sangat yang terjadi pada saat aktivitas fisik dan menghilang pada
saat istirahat. Ketika penyakit semakin berkembang, nyeri tidak lagi dapat hilang dengan istirahat. Jika klien mempertahankan gaya
hidup yang kurang gerak, penyakit ini mungkin telah berlanjut ketika nyeri pertama muncul
Penyakit
Vaskular
Perifer
Manifestasi klinis dari penyakit katup jantung bervariasi dari fase kompensasi sampai pada fase pascakompensasi. Selama fase
kompensasi tubuh menyesuaikan perubahan pada struktur dan fungsi katup, menghasilkan sedikit tanda dan gejala yang muncul.
Lnsia dapat turut berperan dalam fase ini melalui peningkatan gaya hidup yang menghabiskan sebagian besar waktunya dengan
kurang gerak yang menempatkan tuntutan kebutuhan yang lebih kecil pada jantung untuk curah jantungnya
Penyakit
Katup
Jantung
DAFTAR PUSTAKA
Farmakologi By Joyce L. Kee, Evelyn R. Hayes
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/133/jtptunimus-gdl-srimulyani-6619-3-
babii.pdf diakses tanggal 31 April 2013
Bandiyah, Siti. 2009. Lanjut Usia dan Keperawatan Gerontik. Yogyakarta:
Nulia Medika
http://www.merckmanuals.com/home/print/older_peoples_health_issues/th
e_aging_body/changes_in_the_body_with_aging.html
http://prastiwisp.files.wordpress.com/2010/11/teori-penuaan-dan-
perubahan-fisiologis-lansia.pdf
Dipiro E, Joseph, dkk. Pharmacotherapy. Edisi ketujuh.
Angela, et.al, 1996. Essentials of gerontological nursing, adaptation to the
aging process, JB Lipincott, comp.
Annete, GL. 1996. Gerontological nursing, Mosby year Book, St, Louis Miss.
Doengoes, Marilyn C, Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk
perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien, Edisi 3 Jakarta:
EGC, 1999
Hudak, Gallo, Keperawatan Kritis: Pendekatan Holistik, Edisi IV, Jakarta, EGC:
1997