Anda di halaman 1dari 17

1

CHILD ABUSE AND NEGLECT



Pendahuluan
Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk
anak yang masih dalam kandungan, demikian disebutkan di dalam Pasal 1 UU No 23 tahun
2002 tentang Perlindungan Anak. Sayangnya dalam UU tersebut belum dijelaskan apakah
status seorang anak yang belum berusia 18 tahun tetapi telah menikah, dan bagaimana pula
bila ia kemudian telah bercerai. Lebih lanjut dijelaskan bahwa anak adalah amanah
sekaligus karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang senantiasa harus kita jaga karena dalam
dirinya melekat harkat, martabat, dan hak-hak sebagai manusia yang harus dijunjung
tinggi. Hak asasi anak merupakan bagian dari hak asasi manusia yang termuat dalam UUD
45, Konvensi Hak Anak dan UU No 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Orang tua,
keluarga, dan masyarakat bertanggung-jawab untuk menjaga dan memelihara hak asasi
tersebut sesuai dengan kewajiban yang dibebankan oleh hukum. Demikian pula dalam
rangka penyelenggaraan perlindungan anak, negara dan pemerintah bertanggung-jawab
menyediakan fasilitas dan aksesibilitas bagi anak, terutama dalam menjamin pertumbuhan
dan perkembangannya secara optimal dan terarah.
1

Penganiayaan dan penelantaran anak dan remaja merupakan masalah kesehatan
masyarakat yang utama. Setiap tahun di Amerika Serikat, lebih dari 1 juta anak dan remaja
korban penganiayaan anak, dan sekitar 1000 orang meninggal dari luka-luka mereka atau
dari komplikasi yang berhubungan dengan kesalahan pengobatan. Perkiraan tingkat
kesalahan pengobatan berkisar antara 20-25 berbanding 1000 anak dan remaja antara usia
3 sampai 17 tahun.
2
Berdasarkan data dari informasi dan dokumen di Pusat Kajian dan Perlindungan
Anak (PKPA), ada sekitar 27,4 % dari 62 kasus penganiayaan terhadap anak di Sumatera
Utara, dilakukan oleh orang tua sepanjang tahun 2006 meliputi 11 kasus dilakukan oleh
orang tua kandung, 4 kasus oleh orang tua tiri, dan 2 kasus oleh orang tua angkat.
Tentunya, jumlah tersebut bukan merupakan angka keseluruhan anak yang
mengalamipenganiayaan oleh orang tua di Sumatera Utara. Fenomena seperti ini sering
disebut sebagai aib keluarga sehingga tidak terbuka dan tidak melibatkan orang lain. Selain
itu, anak juga merasa takut menceritakan perlakuan orang tuanya pada orang lain karena

2
budaya di Indonesia mengharuskan anak sejak kecil patuh dan taat kepada orang tua. Anak
sering dibelenggu dogma-dogma yang mengabaikan hak anak untuk mengemukakan
pendapat.
4

Definisi

Peraturan perundang-undangan di Indonesia belum memberikan definisi ataupun
pengertian atas istilah Child Abuse and neglect dalam bahasa Indonesia. Beberapa istilah
sempat diajukan namun belum pernah disepakati secara nasional istilah mana yang
disepakati sebagai istilah pengganti Child Abuse and neglect. Beberapa istilah tersebut
adalah penganiayaan dan penelantaran anak, kekerasan terhadap anak, perlakuan salah
terhadap anak atau penyalahgunaan anak.
1

Child Abuse and neglect adalah semua bentuk perlakuan menyakitkan secara fisik
ataupun emosional, penyalahgunaan seksual, penelantaran, eksploitasi komersial atau
eksploitasi lain, yang mengakibatkan cedera/kerugian nyata ataupun potensial terhadap
kesehatan anak, kelangsungan hidup anak, tumbuh kembang anak, atau martabat anak,
yang dilakukan dalam konteks hubungan tanggung-jawab, kepercayaan atau kekuasaan.
1
Patofisiologi

Penganiayaan umumnya dibagi menjadi empat kategori: kekerasan fisik, kekerasan
seksual, kekerasan emosional, dan penelantaran.
1,5,6

1. Physical Abuse (Kekerasan Fisik) terhadap anak adalah kekerasan yang
mengakibatkan cedera fisik nyata ataupun potensial terhadap anak, sebagai akibat dari
interaksi atau tidak adanya interaksi, yang layaknya berada dalam kendali orang tua
atau orang dalam posisi hubungan tanggung-jawab, kepercayaan atau kekuasaan.
1,5,6

Orang tua ataupun pengasuh dapat memiliki atau tidak memiliki niat untuk menyakiti
anaknya, atau cedera dapat pula merupakan hasil dari hukuman disiplin yang
berlebihan.
1,5,6

2. Sexual Abuse (Kekerasan Sexual) terhadap anak adalah pelibatan anak dalam kegiatan
seksual, dimana ia sendiri tidak sepenuhnya memahami, atau tidak mampu memberi
persetujuan, atau oleh karena perkembangannya belum siap atau tidak dapat memberi
persetujuan, atau yang melanggar hukum atau pantangan masyarakat.
1,5,6

Kekerasan seksual ditandai dengan adanya aktivitas seksual antara anak dengan orang
dewasa atau anak lain yang baik dari usia ataupun perkembangannya memiliki

3
hubungan tanggungjawab, kepercayaan atau kekuasaan; aktivitas tersebut ditujukan
untuk memberikan kepuasan bagi orang tersebut.
1,5,6

Kekerasan seksual meliputi eksploitasi seksual dalam prostitusi atau pornografi,
pemaksaan anak untuk melihat kegiatan seksual, memperlihatkan kemaluan kepada
anak untuk tujuan kepuasan seksual, stimulasi seksual, perabaan (molestation,
fondling), memaksa anak untuk memegang kemaluan orang lain, hubungan seksual,
incest, perkosaan, dan sodomi.
1,2,5,6

3. Emotional Abuse (Kekerasan Emosinal) terhadap anak adalah meliputi kegagalan
penyediaan lingkungan yang mendukung dan memadai bagi perkembangannya,
termasuk ketersediaan seorang yang dapat dijadikan figure primer, sehingga anak
dapat berkembang secara stabil dan dengan pencapaian kemampuan sosial dan
emosional yang diharapkan sesuai dengan potensi pribadinya dan dalam konteks
lingkungannya. Kekerasan emosional dapat juga merupakan suatu perbuatan terhadap
anak yang mengakibatkan atau sangat mungkin akan mengakibatkan gangguan
kesehatan atau perkembangan fisik, mental, spiritual, moral dan sosial. Perbuatan-
perbuatan tersebut harus dilakukan dalam kendali orang tua atau orang lain dalam
posisi hubungan tanggung-jawab, kepercayaan atau kekuasaan terhadap si anak.
1,5,6

Beberapa contoh kekerasan emosional adalah pembatasan gerak, sikap tindak yang
meremehkan anak, memburukkan atau mencemarkan, mengkambinghitamkan,
engancam, menakut-nakuti, mendiskriminasi, mengejek atau mentertawakan, atau
perlakuan lain yang kasar atau penolakan.
1,2,5,6

4. Child Neglect (Penelantaran Anak) adalah kegagalan dalam menyediakan segala
sesuatu yang dibutuhkan untuk tumbuh kembangnya, seperti: kesehatan, pendidikan,
perkembangan emosional, nutrisi, rumah atau tempat bernanung, dan keadaan hidup
yang aman, di dalam konteks sumber daya yang layaknya dimiliki oleh keluarga atau
pengasuh, yang mengakibatkan atau sangat mungkin mengakibatkan gangguan
kesehatan atau gangguan perkembangan fisik, mental, spiritual, moral dan sosial.
Termasuk didalamnya adalah kegagalan dalam mengawasi dan melindungi secara
layak dari bahaya atau gangguan.
1,2,5,6

Kelalaian di bidang kesehatan terjadi apabila terjadi kegagalan untuk memperoleh
perawatan medis, mental dan gigi pada keadaan-keadaan, yang bila tidak dilakukan
akan dapat mengakibatkan penyakit atau gangguan tumbuhkembang.Kelalaian di

4
bidang pendidikan meliputi pembolehan mangkir sekolah yang kronis, tidak
menyekolahkan pada pendidikan yang wajib diikuti setiap anak, atau kegagalan
memenuhi kebutuhan pendidikan yang khusus.
1,5,6

Kelalaian di bidang fisik meliputi penolakan atau penundaan memperoleh layanan
kesehatan, penelantaran/pembiaran, pengusiran dari rumah atau penolakan kembalinya
anak sepulang dari kabur, dan pengawasan yang tak memadai.
1,5,6

Kelalaian di bidang emosional meliputi kurangnya perhatian atas kebutuhan anak akan
kasih sayang, penolakan atau kegagalan memberikan perawatan psikologis, kekerasan
terhadap pasangan di hadapan anak, dan pembolehan penggunaan alkohol dan narkoba
oleh si anak.
1,5,6

Epidemiologi
Lebih dari 3 juta laporan yang dibuat oleh otoritas perlindungan anak di Amerika
Serikat setiap tahun. Setiap tahun, hamper 1,4 juta anak (sekitar 3% dari populasi usia
dibawah 18 tahun) menjadi korban dalam berbagai cara. Tingkat penganiayaan anak di
Amerika Serikat adalah 12,3 per 1.000 anak. Satu dari 50 bayi menjadi korban fatal
pelecehan anak atau kelalaian tahunan. Setiap tahun, 160.000 anak mengalami cedera
serius atau mengancam nyawa. Sekitar 1.500 anak meninggal setiap tahun dari cesera kasar
atau akibat kelalaian. Anak-anak berusia 0-3 tahun yang paling sering mengalami
pelecehan, 79% dari anak yang meninggal berusia dibawah 4 tahun. Banyak dari anak-
anak terluka parah dan dibunuh telah disampaikan ke Unit Darurat untuk perawatan awal.
3

Selain dari gejala fisik akibat penganiayaan (misalnya, kematian, cedera otak
traumatis, cacat), kesehatan mental jangka panjang akibat kekerasan fisik juga
mempengaruhi meliputi kekerasan, perilaku kriminal, penyalahgunaan zat, merugikan diri
sendiri dan perilaku bunuh diri, depresi, kecemasan, dan masalah kesehatan mental
lainnya.
2,3

Penganiayaan fisik anak mempengaruhi anak-anak dari semua kelompok etnis dan
status sosial ekonomi. Namun, yang meningkatkan derajat stres pada keluarga seperti
kemiskinan atau pengangguran menjadi risiko penganiayaan. Pada saat yang sama, penting
bagi dokter untuk tidak membuat kesalahan sehingga dapat ditentukan dengan baik untuk
menduga cedera pada bayi yang pengasuh tampaknya memiliki status sosial ekonomi lebih
tinggi.
3

5
Meskipun korban perempuan lebih sering dilaporkan dalam kasus pelecehan
seksual anak, pada kekerasan fisik anak baik laki-laki maupun perempuan tetap sama.
Namun, beberapa penelitian telah menunjukkan secara statistik yang signifikan meskipun
terdapat peningkatan kecil dalam frekuensi kekerasan yang berakibat cedera kepala pada
bayi laki-laki dibandingkan dengan bayi perempuan.
3
Kekerasan fisik dapat terjadi pada semua usia. Bayi lebih rentan terhadap trauma
kepala yang fatal, sedangkan balita lebih rentan terhadap trauma abdomen fatal. Insiden
kekerasan fisik umumnya menurun selama tahun-tahun sekolah lebih awal tapi kemudian
sedikit meningkat selama tahun-tahun remaja.
3

Faktor Resiko
Faktor-faktor risiko terhadap kejadian Child Abuse dapat ditinjau dari 3 aspek,
yaitu faktor masyarakat atau sosial, faktor orang tua atau situasi keluarga dan faktor anak.
Faktor-faktor risiko tersebut adalah:
1. Faktor masyarakat (sosial)
Tingkat kriminalitas yang tinggi.
Layanan sosial yang rendah.
Kemiskinan yang tinggi.
Tingkat pengangguran yang tinggi.
Adat istiadat mengenai pola asuh anak.
Pengaruh pergeseran budaya.
Stres para pengasuh anak.
Budaya memberikan hukuman badan kepada anak.
Pengaruh media massa.
1

2. Faktor orang tua (situasi keluarga)
Riwayat orang tua dengan kekerasan fisik atau seksual pada masa kecil.
Orangtua atau orang dewasa yang pernah mengalami penganiayaan di masa
kecilnya dapat beranggapan bahwa tindakan tersebut wajar dilakukan terhadap
anak.

6
Orang tua remaja.
Imaturitas emosi.
Kurangnya kemampuan merawat anak.
Kepercayaan diri yang rendah.
Dukungan sosial rendah.
Keterasingan dari masyarakat.
Kemiskinan.
Kepadatan hunian (rumah tempat tinggal).
Masalah interaksi dengan lingkungan.
Kekerasan dalam rumah tangga.
Riwayat depresi dan masalah kesehatan mental lainnya (ansietas, skizoprenia, dll).
Mempunyai banyak anak balita.
Kehamilan yang tidak diinginkan.
Riwayat penggunaan zat atau obat-obatan terlarang (NAPZA) atau alcohol.
Orangtua yang kecanduan narkotik/zat adiktif lainnya, serta yang menderita
gangguan mental seringkali tidak dapat berfikir dan bertindak wajar dalam banyak
hal, termasuk masalah mengasuh dan mendidik anak. Mereka cenderung
melakukan tindak kekerasan atau menelantarkan anak
Kurangnya dukungan sosial bagi keluarga.
Diketahui adanya riwayat Child Abuse dalam keluarga.
Kurangnya persipan menghadapi stress saat kelahiran anak.
Kehamilannya disangkal.
Orangtua tunggal.
Riwayat bunuh diri pada orangtua/keluarga.
Pola asuh dan mendidik anak.

7
Orang tua yang tidak mengetahui cara yang baik dan benar dalam mengasuh dan
mendidik anak, akan cenderung memperlakukan anak secara salah.
Nilai-nilai hidup yang dianut orangtua.
Harapan orangtua yang terlampau tinggi tanpa mengetahui batas kemampuan anak
adalah hak milik, pandangan bahwa anak merupakan aset ekonomi bagi orangtua.
Kurangnya pengertian mengenai perkembangan anak.
Kurangnya pengetahuan mengenai perkembangan anak, menyebabkan orangtua
tidak mengerti akan kebutuhan dan kemampuan anak sesuai umurnya, sehingga
memperlakukan anak secara salah.
1

3. Faktor anak
Prematuritas.
Berat badan lahir rendah.
Cacat.
Anak dengan masalah perilaku/emosi.
1,6

Anak anak tumbuh dan berkembang dengan baik bila mereka menerima segala
kebutuhannya dengan optimal. Jika salah satu kebutuhan baik Asuh, Asih maupun Asah
tidak terpenuhi maka akan terjadi kepincangan dalam tumbuh kembang mereka.
1

Dampak yang terjadi dapat secara langsung maupun tidak langsung atau dampak
jangka pendek dan dampak jangka panjang. Pertumbuhan dan perkembangan anak yang
mengalami Child Abuse, pada umumnya lebih lambat dari anak yang normal, yaitu:
1. Dampak langsung terhadap kejadian Child Abuse 5% mengalami kematian, 25%
mengalami komplikasi serius seperti patah tulang, luka bakar, cacat menetap dll.
2. Terjadi kerusakan menetap pada susunan saraf yang dapat mengakibatkan retardasi
mental, masalah belajar/kesulitan belajar, buta, tuli, masalah dalam perkembangan
motor/pergerakan kasar dan halus, kejadian kejang, ataksia, ataupun hidrosefalus.
3. Pertumbuhan fisik anak pada umumnya kurang dari anak-anak sebayanya. Penelitan
oleh Oates dkk tahun 1984 mengatakan bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna
dalam tinggi badan dan berat badan dengan anak yang normal.
Dampak lain yang dapat ditemui pada kasus Child Abuse and neglect:

8
1. Kecerdasan
Berbagai penelitan melaporkan terdapat keterlambatan dalam perkembangan kognitif,
bahasa, membaca dan motor.
Retardasi mental dapat diakibatkan trauma langsung pada kepala, juga karena
malnutrisi.
Dari lingkungan anak kurang mendapat stimulasi adekuat karena gangguan emosi.
2. Emosi
Masalah yang sering dijumpai adalah gangguan emosi, kesulitan belajar/sekolah,
kesulitan dalam mengadakan hubungan dengan teman, kehilangan kepercayaan diri,
phobia dan cemas.
Terjadi pseudomaturitas emosi. Beberapa anak menjadi agresif atau bermusuhan
dengan orang dewasa, atau menarik diri/menjauhi pergaulan. Anak suka mengompol,
hiperaktif, perilaku aneh, kesulitan belajar, gagal sekolah, sulit tidur, temper tantrum.
3. Konsep diri
Anak yang mendapat kejadian Child Abuse merasa dirinya jelek, tidak dicintai, tidak
dikehendaki, muram dan tidak bahagia, tidak mampu menyenangi aktifitas dan
percobaan bunuh diri.
4. Agresif
Anak yang mendapat kejadian Child Abuse lebih agresif terhadap teman sebaya.
Sering tindakan agresif tersebut meniru tindakan orangtua mereka atau mengalihkan
perasaan agresif kepada teman sebayanya sebagai hasil kurangnya konsep diri
5. Hubungan social
Pada anak-anak tersebut kurang dapat bergaul dengan teman sebayanya atau dengan
orang dewasa, misalnya melempari batu atau perbuatan kriminal lainnya.
1,4,6

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik tidak hanya digunakan untuk menilai bentuk cedera akibat
kekerasan fisik (misalnya, luka bakar, memar, patah tulang, dan trauma kepala), tapi juga
dapat menilai tingkat kesejahteraan anak dan interaksi orang tua kepada anak maupun
sebaliknya.
3,5


9
1. Cedera umum
Dapat berupa:
Cedera dalam berbagai tahap penyembuhan, seperti memar.
Cedera berbagai tempat, seperti di bagian depan dan belakang.
Cedera dengan adanya pola yang jelas, seperti jejak tangan.
Lokasi cedera yang tampak, seperti pada lengan, paha, leher dan wajah, yang
biasanya terlindung bila terkena musibah seperti kecelakaan.
3,5

2. Cedera kulit
Memar pada anak memar biasa ditemukan, namun tetap perhatikan bentuk memar
yang mungkin timbul akibat kekerasan pada anak. Dan perhatikan juga memar
yang telah berlangsung lama pasca kejadian.
Luka lecet atau robek pada bibir, kuping, mata, lengan, tangan, genitalia, baik
luka yang baru atau yang berulang.
Luka bakar, tanda ini dapat disebabkan akibat dari terkena besi panas, bara rokok,
atau akibat dari siraman air panas.
1,3,5

3. Cedera tulang
Sekitar 30% fraktur terjadi akibat kekerasan terhadap anak. Pada anak berumur
dibawah 1 tahun, sekitar 75% fraktur dapat terjadi.
Fraktur pada tulang rusuk sering ditemukan pada bayi berumur dibawah 3 tahun.
Fraktur pada tulang lengan atas dan tulang selangka yang sering terjadi pada anak
berumur dibawah 18 bulan.
Pada anak berumur dibawah 1 tahun, sering terjadi fraktur pada tulang selangka
dan tulang kepala akibat terjatuh.
1,3,5

4. Cedera kepala
Cedera pada kepala yang sering ditemukan meliputi perdarahan kepala baik subkutan
maupun subdural,bercak/area kebotakan akibat tarikan rambut, patah tulang
tengkorak, dan cedera otak.
1,3,5


10
5. Shaken Baby Syndrome (SBS)
Merupakan gejala klinis yang mudah diketahui akibat goyangan berupa kekerasan
yang terjadi pada bayi muda ke suatu objek yang tidak bergerak dengan tanda-tanda
seperti:
Perdarahan retina.
Trauma intracranial.
Udem serebral sekunder.
Fraktur posterior dan anterolateral pada rusuk dan tulang panjang.
Dalam beberapa tahun terakhir, dokter ahli dalam kekerasan anak mulai meragukan
gejala SBS, karena kurang spesifik untuk menilai kekerasan yang disengaja atau yang
tidak disengaja.
3,5
Indikator kemungkinan kekerasan seksual pada anak:
Adanya penyakit hubungan seksual, paling sering infeksi gonokokus.
Infeksi vaginal yang rekuren/berulang pada anak di bawah 12 tahun.
Rasa nyeri, perdarahan dan atau keluarnya sekret dari vagina.
Gangguan dalam mengendalikan buang air besar dan atau buang air kecil.
Kehamilan pada usia remaja.
Cedera pada buah dada, bokong, perut bagian bawah, paha, sekitar alat kelamin atau
dubur.
Pakaian dalam robek dan atau adanya bercak darah pada pakaian dalam.
Ditemukannya cairan manin/semen di sekitar mulut, genitali, anus atau pakaian.
Rasa nyeri bila buang air besar atau buang air kecil.
Promiskuitas yang terlalu dini.
1

Indikator kemungkinan kekerasan emosional pada anak:
Gejala-gejala fisik dari emotional abuse seringkali tidak sejelas gejala-gejala
kekerasan lainnya. Penampilan anak seringkali tidak memperlihatkan derajat
penderitaan yang dialaminya. Cara berpakaian, keadaan gizi dan kondisi fisik pada
umumnya cukup memadai, namun ekspresi wajah, gerak gerik bahasa tubuhnya

11
seringkali dapat mengungkapkan adanya kesedihan, keraguan diri, kebingungan,
kecemasan, ketakutan atau amarah yang terpendam.
1

Indikator kemungkinan terjadinya penelantaran pada anak:
Gagal tumbuh fisik maupun mental.
Malnutrisi, tanpa dasar organik yang sesuai.
Dehidrasi.
Luka atau penyakit yang dibiarkan tidak diobati.
Kulit kotor tidak terawat, rambut dengan kutu-kutu.
Pakaian lusuh dan kotor.
Keterlambatan perkembangan.
Keadaan umum yang lemah, letargik, lelah berkepanjangan.
1

Pemeriksaan Penunjang
Radiologis
Gambaran radiologis tertentu dapat merupakan indikator kuat adanya perlakuan yang salah
pada anak secara fisik; Antara lain fraktur metafisis corner atau fraktur bucklet handle pada
tulang panjang bayi yang belum bisa jalan, fraktur multipel iga atau tulang panjang bayi,
fraktur spiral tulang panjang pada bayi yang belum bisa jalan, fraktur multipel iga atau
tulang panjang dengan berbagai derajat penyembuhan. Temuan ini mengharuskan dokter
untuk mencari penjelasan penyebab trauma tersebut. Survei tulang secara radiologis perlu
dilakukan pada anak yang diduga diperlakukan salah tetap belum dapat berbicara.
Perdarahan subdural yang didapat melalui CT atau MRI berhubugan erat dengan perlakuan
salah pada anak. USG berguna untuk mendiagnosis trauma abdomen pada anak, tetapi
tidak berguna untuk mendiagnosis perdarahan subdural.
1,2,3

Laboratoris
Pemeriksaan koagulasi berguna untuk anak yang mengalami banyak memar pada berbagai
tingkat umur yang berbeda. Berbagai kelainan koagulasi dapat mengacaukan diagnosis,
tetapi perlakuan salah pada anak dan koagulopati merupakan satuan klinis yang
berlainan.Anak dengan sepsis polimikroba, apnea rekuren, dehidrasi kronis tanpa penyebab

12
yang diketahui, atau kelainan laboratoris lain yang berat harus dicurigai sebagai sindrom
Munchausen by proxy.
1,2,3
Pemeriksaan mata oleh dokter mata sangat penting pada bayi diduga SBS. Anak-anak
dengan kekhawatiran terhadap cedera ke daerah genital harus di evaluasi untuk mencari
bukti forensik akibat pelecehan seksual. Dalam kasus penelantaran, hasil pemeriksaan
untuk masalah organik dapat dilakukan. Pemeriksaan termasuk yang berikut:
Pemeriksaan sampel feses untuk parasite
Kultur urin dan urinalisis
Tes keringat
Tes HIV
Penyebab paling umum dari gagalnya pertumbuhan biasanya disebabkan factor sosial
dan ekonomi keluarga. Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan terhadap pasien rawat
inap sehingga dapat dipantau dan didapatkan pemeriksaan keluarga secara lengkap.
Tes uji tuberculin.
3

Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis terhadap pasien dan orang tua dengan
adanya gejala/tanda kekerasan yang muncul sesuai salah satu jenis kekerasan ataupun
lebih. Dapat pula dilakukan pemeriksaan penunjang jika diperlukan.
Perlukaan yang ditemukan pada pemeriksaan fisik dapat bervariasi, mulai dari
memar, lecet, luka bakar, dan luka terbuka, hingga ke cedera yang lebih dalam le taknya
seperti patah tulang ataupun cedera alat-alat dalam tubuh.
1,2

Memar umumnya diakibatkan oleh kekerasan tumpul yang memiliki permukaan yang
relatif rata atau lunak, seperti tangan kosong atau tendangan. Memar seringkali dapat
menunjukkan bentuk atau pola permukaan kontak benda penyebabnya. Memar yang
berbentuk garis sejajar (tramline atau railway haematome) menunjukkan cedera yang
diakibatkan oleh pukulan tongkat atau benda sejenis. Bila bentuknya dua garis sejajar
melengkung mungkin disebabkan oleh benda berupa tali yang cukup kuat seperti kabel.
Memar kadangkala tidak terjadi di lokasi trauma, misalnya apabila terjadi di daerah dahi
yang memarnya dapat terlihat di kelopak mata atau di daerah tungkai bawah daerah tulang
kering yang memarnya dapat terlihat di pergelangan kaki. Perkiraan kapan terjadinya

13
memar kadang membantu menegakkan kesimpulan ada atau tidaknya kekerasan berulang.
Dengan berjalannya waktu, memar akan berubah warna dari merah ungu menjadi
kehijauan, coklat kekuningan dan akhirnya hilang. Satuan waktu yang dibutuhkan untuk
masing-masing perubahan warna tersebut sangat bergantung kepada intensitas memar itu
sendiri. Pada umumnya apabila memar telah dikelilingi warna kuning menunjukkan bahwa
memar telah berumur setidaknya 18 jam.
1,3

Luka lecet tekan hanya terlihat dengan baik pada korban yang telah meninggal oleh karena
terjadi pengeringan epidermis, sedangkan pada korban hidup tidak terlihat dengan jelas
oleh karena pengeringan dicegah dengan adanya perfusi jaringan. Luka lecet tekan
biasanya diakibatkan oleh benda tumpul yang permukaannya relatif rata dan relatif lunak
dengan gaya yang relatif ringan. Bentuk luka lecet tekan juga dapat memperlihatkan
bentuk permukaan kontak benda penyebabnya. Luka lecet geser diakibatkan oleh geseran
benda tumpul dengan permukaan yang relatif tidak rata.
1,3

Luka terbuka (vulnus apertura) harus dapat dibedakan antara luka terbuka akibat kekerasan
tajam (vulnus scissum) dengan luka terbuka akibat kekerasan tumpul (vulnus laceratum).
Vulnus scissum memperlihatkan ciri-ciri luka dengan bentuk seperti garis lurus atau
lengkung, tepi luka atau dinding luka yang rata, dan pada sekitar lukanya tidak ditemukan
lecet atau memar. Apabila terjadi di daerah berambut maka besar kemungkinan terlihat
adanya folikel rambut yang terpotong rata. Vulnus Laceratum menunjukkan ciri-ciri luka
sebaliknya, dan seringkali masih terlihat adanya jembatan jaringan (ikat) yang
menghubungkan kedua tepi / dinding luka.
1,3

Beberapa luka menunjukkan ciri khas akibat kekerasan yang bukan akibat kecelakaan.
Luka-luka seperti tramline hematome di atas, luka dengan bentuk dan pola tertentu yang
khas, luka bakar akibat sundutan rokok, dan memar berbentuk telapak tangan, adalah
sebagian contohnya. Luka-luka juga terkadang memperlihatkan luka yang tidak sama
usianya, misalnya terdapat memar yang merah ungu dan memar lainnya berwarna hijau
kekuningan. Keadaan ini menunjukkan adanya kekerasan yang berulang yang sangat
mungkin bukan akibat kecelakaan. Hal sama juga bisa ditemukan dalam bentuk luka lecet,
luka terbuka dan bahkan patah tulang, yang terlihat dari perbedaan masa
penyembuhannya.
1,3

Hal penting lainnya adalah bahwa bukti adanya kekerasan tersebut harus relevan dengan
keterangan yang diberikan oleh saksi korban. Suatu luka memar atau lecet kecil di daerah
pipi, leher, pergelangan tangan atau paha mungkin tidak khas dan tidak bermakna dari segi

14
kedokteran, namun bermakna bagi hukum apabila relevan dengan riwayat terjadinya
peristiwa, seperti ditampar, dicekik, dipegangi dengan keras atau dipaksa diregangkan
pahanya (pada kasus kejahatan seksual). Adanya sindroma mental tertentu dapat
mendukung relevansi temuan bukti fisik tersebut dari sisi psikologis.
1

Pemeriksaan status tumbuh kembang dan status gizi anak sangat relevan dalam upaya
menegakkan ada atau tidaknya penelantaran. Beberapa pengukuran dan parameter dapat
digunakan sebagai alat ukurnya.
1

Penatalaksanaan
Perawatan tindakan kekerasan pada anak di bagian unit darurat tidak berbeda
dengan tindakan perawatan biasa, kecuali dibutuhkan data untuk kepentingan forensik
yang mendesak. Anak korban kekerasan pada umumnya dibawa ke fasilitas pelayanan
medis karena cedera fisik akibat berbagai perlakuan kekerasan yang dialaminya.
Kebanyakan korban datang diantar oleh orang tuanya (seringkali adalah pelaku kekerasan)
dengan riwayat kejadian cedera akibat kecelakaan yang umum terjadi pada anak-anak
seperti: jatuh dari tangga, tersiram air panas, tertabrak sepeda, dan sebagainya.
Kekurangpahaman dokter dan tenaga kesehatan lainnya terhadap permasalahan Child
Abuse menyebabkan penatalaksanaan kasus Child Abuse disamakan dengan pertolongan
terhadap cedera kecelakaan biasa. Oleh sebab itu keterampilan deteksi dini kasus Child
Abuse merupakan langkah awal dari penatalaksanaan yang benar.
1,3

Ruang lingkup penatalaksanaan anak korban kekerasan meliputi banyak aspek, yaitu:
aspek medik.
aspek psikososial.
aspek legal.
1,2

Dengan demikian penatalaksanaan anak korban kekerasan haruslah merupakan kerjasama
multidisiplin. Pertolongan medis merupakan salah satu bagian dari alur penatalaksanaan
paripurna terhadap anak korban kekerasan. Dokter dan tenaga kesehatan pada fasilitas
pelayanan kesehatan primer (PHC Worker) adalah bagian dari jejaring terdepan penangkap
kasus, seyogyanya mereka mempunyai pemahaman yang cukup akan alur penatalaksanaan
anak korban kekerasan, meliputi: Deteksi dini, pertolongan darurat medik, rujukan medik
spesialistik, intervensi keluarga, rujukan psikososial, dan akses terhadap jejaring
perlindungan anak.
1,3,5


15
Penatalaksanaan medis
Penatalaksanaan medik khususnya pada kasus kekerasan fisik dan kekerasan seksual,
merupakan prioritas pertama penyelamatan anak korban kekerasan. Dokter dan tenaga
kesehatan pada fasilitas pelayanan kesehatan primer selain mampu mendeteksi kasus atau
suspek kasus anak korban kekerasan seyogyanya mampu menetapkan status klinis korban
(gawat darurat medik darurat medik medik spesialistik) mengambil keputusan kritis
melakukan tindakan medis praktis sesuai fasilitas dan kompetensi medik yang dimilikinya
menyusun rencana tindak lanjut termasuk pemeriksaan penunjang dan rujukan kasus.
1,3

Kasus gawat darurat medik pada anak korban kekerasan fisik yang perlu diwaspadai antara
lain: trauma kepala berat yang dapat menimbulkan perdarahan epidural atau epidural,
kontusio serebri, delirium sampai koma dan kematian. Fraktur komplikata pada anggota
gerak atau tulang rusuk luka bakar luas akibat siraman air panas atau perdarahan masif
tersembunyi misalnya perdarahan intra abdominal akibat trauma tumpul di abdomen.
Tenaga kesehatan harus segera memberikan pertolongan life saving dengan mengacu pada
prinsip A-B-C pertolongan gawat darurat medik, melakukan pemeriksaan penunjang yang
diperlukan sesuai fasilitas yang ada (darah lengkap elektrolit asam-basa kimia darah X-Ray
bila mungkin CT Scan). Setelah kondisi gawat darurat teratasi, korban dirujuk sesuai
prioritas masalah medis (spesialis anak ortopedi bedah saraf). Untuk semua tindakan medis
di atas informed consent dimintakan pada orang tua atau wali korban atau lembaga
perwalian yang sah. Proses ini seringkali tidak sederhana khususnya bila pelaku kekerasan
adalah orang tua korban namun tindakan penyelamatan kondisi darurat medik tetap
menjadi prioritas utama.
1,2,3,5

Pada kasus anak korban kekerasan seksual prinsip penatalaksanaan sama dengan kasus
korban kekerasan fisik yakni deteksi kondisi gawat darurat medik dilanjutkan dengan
pertolongan life saving dan persiapan rujukan spesialistik. Pada korban kekerasan seksual
cedera fisik terutama di daerah anogenital. Kasus gawat darurat medik dapat timbul
sebagai akibat cedera berat pada organ reproduksi perdarahan masif dan emboli. Selain itu
perlu diwaspadai kemungkinan infeksi oleh penyakit menular seksual, infeksi oleh benda-
benda tertentu yang dimasukkan ke organ genital ataupun anus korban. Perlu juga
diwaspadai kemungkinan terjadinya kehamilan akibat perkosaan yang dialaminya.
Pemeriksaan penunjang sama dengan pemeriksaan pada kekerasan fisik ditambah test
kehamilan pemeriksaan biakan cairan genital dan urin, HIV dan Hepatitis C (untuk deteksi
PMS).
1,2


16
Pada kasus anak korban kekerasan fisik dan atau kekerasan seksual, anak tidak hanya
menderita cedera fisik tapi juga mengalami perubahan perilaku dan mental emosional.
Pada anak korban kekerasan seksual seringkali justru problem mental ini lebih menonjol.
Oleh sebab itu penatalaksanaan medik pada anak korban kekerasan harus mencakup
evaluasi dan penatalaksanaan problem mental dan perilaku yang menyertainya. Ketakutan,
cemas berlebih, gangguan tidur (nightmare) regresi perilaku, hiperaktif, agresif, menarik
diri, depresi (perlu diwaspadai risiko suicide), gangguan stres pasca trauma (PTSD), adalah
problem mental yang biasa dijumpai pada anak korban kekerasan. Pada kasus yang
mengalami gangguan psikiatrik berat seperti PTSD, depresi berat serangan panik atau
histeria akut atau keadaan darurat psikiatrik lainnya Tenaga kesehatan dapat melakukan
pertolongan darurat psikiatrik dengan memberikan obat-obat psikofarmaka seperti
diazepam haloperidol klorpromazin. Selanjutnya kasus dapat dirujuk ke Psikiater atau
Psikolog.
1,2,3

Penatalaksanaan psikososial
Penatalaksanaan psikososial adalah upaya pertolongan terhadap anak korban kekerasan
yang ditujukan pada pembenahan aspek psikoedukatif dan sosiokultural yang berperanan
terhadap kejadian kekerasan pada korban. Termasuk dalam upaya ini adalah intervensi
psikososial terhadap keluarga korban, mengamankan anak dari pelaku kekerasan
membebaskan anak dari siklus kekerasan pendampingan psikologik dan upaya rehabilitasi
psikososial serta upaya hukum terhadap korban (misalnya pengalihan hak asuh) maupun
pelaku (sangsi hukum).
1,2,5

Sebagian besar perlakuan kekerasan terhadap anak terjadi dalam keluarga dan melibatkan
salah satu atau kedua orang tua sebagai pelakunya. Anak korban kekerasan seringkali
berasal dari keluarga dengan pola relasi yang patologik antara anggota keluarganya
khususnya antara kedua orang tuanya. Sering ditemukan salah satu atau kedua orang
tuanya mempunyai gangguan kepribadian yang cenderung mudah melakukan kekeraan
(abusive parent). Intervensi psikososial terhadap keluarga dari anak korban kekerasan
mutlak harus dilakukan. Pada kasus kekerasan yang bukan dilakukan dalam keluarga,
intervensi keluarga tetap harus dilakukan karena dalam hal ini keluarga menjadi korban tak
langsung yang membutuhkan pertolongan. Intervensi awal berupa evaluasi dan tindakan
persuasi terhadap orang tua korban dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan. Hal ini penting
untuk merencanakan langkah perlindungan anak dari berulangnya perlakuan kekerasan
terhadap dirinya. Pada situasi sederhana dimana tindakan kekerasan yang dilakukan orang

17
tua terhadap anak disebabkan pengetahuan yang salah tentang pola asuhan anak maka
tenaga kesehatan dapat melakukan konseling dan psikoedukasi terhadap keluarga. Pada
situasi disfungsi keluarga yang kompleks atau abusive parents perlu rujukan ahli jiwa
(psikiater atau psikolog) untuk melakukan terapi keluarga. Pada kasus ini juga diperlukan
rujukan aspek hukum untuk proses pengalihan hak asuh (sementara atau tetap) sanksi
hukum terhadap pelaku, penetapan keluarga dibawah pengawasan, dan sebagainya.
1,2,5

Tenaga kesehatan dalam menyusun rencana penatalaksanaan terhadap anak korban
kekerasan seyogyanya mempunyai pengetahuan dan memiliki akses terhadap lembaga-
lembaga perlindungan anak. Hal ini perlu untuk tindak lanjut bagi kasus yang secara medik
sudah selesai namun masih membutuhkan bantuan untuk pemulihan aspek psikososial
pengamanan korban dari pelaku bantuan kesejahteraan sosial (misalnya anak terlantar),
dan perlindungan serta pembelaan hukum.
1,2,5
Prognosis
Tanpa pelayanan sosial yang tepat dan intervensi terhadap kesehatan mental,
tindakan kekerasan pada anak selalu menjadi masalah berulang dan kadang-kadang
meningkat.
3