Anda di halaman 1dari 4

I.

Functional Endoscopic Sinus Surgery (FESS)


A. Definisi
Bedah Sinus Endoskopik Fungsional (BSEF) atau Functional Endoscopic Sinus
Surgery (FESS) adalah teknik operasi pada sinus paranasal dengan menggunakan
endoskop yang bertujuan memulihkan mucociliary clearance dalam sinus. Prinsipnya
ialah membuka dan membersihkan daerah kompleks osteomeatal yang menjadi sumber
penyumbatan dan infeksi sehingga ventilasi dan drenase sinus dapat lancar kembali melalui
ostium alami.
Dibandingkan dengan prosedur operasi sinus sebelumnya yang bersifat invasif
radikal seperti operasi Caldwel-Luc, fronto-etmoidektomi eksternal dan lainnya, maka
BSEF merupakan teknik operasi invasif yang minimal yang diperkenalkan pertama kali
pada tahun 1960 oleh Messerklinger dan kemudian dipopulerkan di Eropa oleh
Stammberger dan di Amerika oleh Kennedy. Sejak tahun 1990 sudah mulai diperkenalkan
dan dikembangkan di Indonesia. Dengan alat endoskop maka mukosa yang sakit dan polip-
polip yang menyumbat diangkat sedangkan mukosa sehat tetap dipertahankan agar
transportasi mukosilier tetap berfungsi dengan baik sehingga terjadi peningkatan drenase
dan ventilasi melalui ostium-ostium sinus. Teknik bedah BSEF sampai saat ini dianggap
sebagai terapi terkini untuk sinusitis kroniks dan bervariasi dari yang ringan yaitu hanya
membuka drenase dan ventilasi kearah sinus maksilaris (BSEF mini) sampai kepada
pembedahan lebih luas membuka seluruh sinus (fronto-sfeno-etmoidektomi). Teknik bedah
endoskopi ini kemudian berkembang pesat dan telah digunakan dalam terapi bermacam-
macam kondisi hidung, sinus dan daerah sekitarnya seperti mengangkat tumor hidung dan
sinus paranasal, menambal kebocoran liquor serebrospinal, tumor hipofisa, tumor dasar
otak sebelah anterior, media bahkan posterior, dakriosistorinostomi, dekompresi orbita,
dekompresi nervus optikus, kelainan kogenital (atresia koana) dan lainnya.
Keuntungan dari teknik BSEF, dengan penggunaan beberapa alat endoskop
bersudut dan sumber cahaya yang terang, maka kelainan dalam rongga hidung, sinus dan
daerah sekitarnya dapat tampak jelas. Dengan demikian diagnosis lebih dini dan akuratdan
operasi lebih bersih / teliti, sehingga memberikan hasil yang optimal. Pasien juga
diuntungkan karena morbiditas pasca operasi yang minimal. Penggunaan endoskopi juga
menghasilkan lapang pandang operasi yang lebih jelas dan luas yang akan menurunkan
komplikasi bedah.

B. Indikasi
Indikasi umumnya adalah untuk rinosinusitis kronik atau rinosinusitis akut berulang dan
polip hidung yang telah diberi terapi medikamentosa yang optimal. Indikasi lain BSEF
termasuk didalamnya adalah rinosinusitis dengan komplikasi dan perluasannya, mukokel,
sinusitis alergi yang berkomplikasi atau sinusitis jamur yang invasif dan neoplasia. Bedah sinus
endoskopi sudah meluas indikasinya antara lain untuk mengangkat tumor hidung dan sinus
paranasal, menambal kebocoran liquor serebrospinal, tumor hipofisa, tumor dasar otak
sebelah anterior, media bahkan posterior, dakriosistorinostomi, dekompresi orbita,
dekompresi nervus optikus, kelainan kogenital (atresia koana) dan lainnya.

C. Kontraindikasi
1) Osteitis atau osteomielitis tulang frontal yang disertai pembentukan sekuester.
2) Pasca operasi radikal dengan rongga sinus yang mengecil (hipoplasi).
3) Penderita yang disertai hipertensi maligna, diabetes mellitus, kelainan hemostasis yang
tidak terkontrol oleh dokter spesialis yang sesuai.

D. Persiapan Pra-operasi
1) Persiapan Kondisi Pasien.
Pra-operasi kondisi pasien perlu dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Jika ada inflamasi
atau udem, harus dihilangkan dahulu, demikian pula jika ada polip, sebaiknya diterapi
dengan steroid dahulu (polipektomi medikamentosa). Lihat. Kondisi pasien yang
hipertensi, memakai obat-obat antikoagulansia juga harus diperhatikan, demikian pula
yang menderita asma dan lainnya.
2) Naso-endoskopi prabedah untuk menilai anatomi dinding lateral hidung dan variasinya.
Pada pemeriksaan ini operator dapat menilai kelainan rongga hidung, anatomi dan variasi
dinding lateral misalnya meatus medius sempit karena deviasi septum, konka media
bulosa, polip meatus medius, konka media paradoksikal dan lainnya. Sehingga operator
bisa memprediksi dan mengantisipasi kesulitan dan kemungkinan timbulnya komplikasi
saat operasi.
3) CT Scan.
Gambar CT scan sinus paranasal diperlukan untuk mengidentifikasi penyakit dan
perluasannya serta mengetahui landmark dan variasi anatomi organ sinus paranasal dan
hubungannya dengan dasar otak dan orbita serta mempelajari daerah-daerah rawan
tembus ke dalam orbita dan intra kranial. Konka-konka, meatus-meatus terutama meatus
media beserta kompleks ostiomeatal dan variasi anatomi seperti kedalaman fossa
olfaktorius, adanya sel Onodi, sel Haller dan lainnya perlu diketahui dan diidentifikasi,
demikian pula lokasi a.etmoid anterior, n.optikus dan a.karotis interna penting diketahui.
Gambar CT scan penting sebagai pemetaan yang akurat untuk panduan operator saat
melakukan operasi. Berdasarkan gambar CT tersebut, operator dapat mengetahui daerah-
daerah rawan tembus dan dapat menghindari daerah tersebut atau bekerja hati-hati
sehingga tidak terjadi komplikasi operasi. Untuk menilai tingkat keparahan inflamasi dapat
menggunakan beberapa sistem gradasi antaranya adalah staging Lund-Mackay. Sistem ini
sangat sederhana untuk digunakan secara rutin dan didasarkan pada skor angka hasil
gambaran CT scan.

II. FEES (Flexible Endoscopy Evaluation of Swallowing)
Adalah pemeriksaan evaluasi fungsi menelan dengan menggunakan nasofaringoskop
serat optik lentur. Pasien diberikan berbagai jenis konsistensi makanan dari jenis makanan
cair sampai padat dan dinilai kemampuan pasien dalam proses menelan.
Tahapan pemeriksaan dibagi menjadi 3 tahap:
1. Pemeriksaan sebelum pasien menelan (preswalowing assessment) untuk menilai fungsi
muskular dari oromotor dan mengetahui kelainan fase oral.
2. Pemeriksaan langsung dengan memberikan berbagai konsistensi makanan, dinilai
kemampuan pasien dan diketahui konsistensi apa yang paling aman untuk pasien
3. Pemeriksaan terapi dengan meng-aplikasikan berbagai maneuver dan posisi kepala untuk
menilai apakah terdapat peningkatan kemampuan menelan.

Dengan pemeriksaan FEES, dinilai 5 proses fisiologi dasar, seperti
1. Sensitivitas
Pada daerah orofaring dan hipofaring yang sangan berperan dalam terjadinya aspirasi
2. Spillage (preswallowing leakage)
Masuknya makanan ke dalam hipofaring sebelum reflex menelan dimulai, sehingga
mudah terjadi aspirasi
3. Residu
Menumpuknya sisa makanan pada daerah valekula, sinus piriformis kanan dan kiri,
poskrikoid dan dinding faring posterior sehingga makanan tersebut akan mudah masuk ke
jalan napas pada saat proses menelan terjadi maupun sesudah proses menelan.
4. Penetrasi
Masuknya makanan ke vestibulum laring tetapi belum melewati pita suara. Sehingga
menyebabkan mudah masuknya makanan ke jalan napas saat inhalasi
5. Aspirasi
Masuknya makanan ke jalan napas melewati pita suara yang sangat berperan dalam
terjadinya komplikasi paru.


DAFTAR PUSTAKA
Soepardi E., Iskandar N. Buku ajar ilmu Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi
ke tujuh. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta: 2012
Tamin susyana. Buku ajar ilmu Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher- disfagia
orofaring . Edisi ke tujuh. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta: 2012
Adams G., Boies L., Higler P. Buku Ajar Penyakit THT. Edisi ke enam. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Jakarta: 1997