Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa
upaya pembangunan Nasional diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan dan
kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat
kesehatan yang optimal. Kesehatan Indera Penglihatan merupakan syarat penting untuk
meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam meningkatkan kualitas kehidupan
masyarakat, dalam kerangka mewujudkan manusia Indonesia yang cerdas, produktif,
maju, mandiri, dan sejahtera lahir batin.
Berdasarkan hasil survey World Health Organization (WHO), pada tahun 1990
terdapat 38 juta penderita kebutaan, sedangkan pada tahun 1996 meningkat menjadi 45
juta penderita kebutaan di dunia, di mana sepertiganya berada di Asia Tenggara.
Diperkirakan dua belas orang menjadi buta tiap menit di dunia, dan empat orang di
antaranya berasal dari Asia Tenggara, sedangkan di Indonesia diperkirakan setiap menit
ada satu orang menjadi buta. Sebagian besar orang buta (tunanetra) di Indonesia berada
di daerah miskin dengan kondisi sosial ekonomi lemah.
Survei kesehatan indera penglihatan dan pendengaran tahun 1993-1996,
menunjukkan angka kebutaan 1,5%. Penyebab utama kebutaan adalah katarak (0,78%),
glaukoma (0,20%), kelainan refraksi (0,14%), dan penyakit-penyakit lain yang
berhubungan dengan lanjut usia (0,38 %). Besarnya jumlah penderita katarak di
Indonesia saat ini berbanding lurus dengan jumlah penduduk usia lanjut yang pada tahun
2000 diperkirakan sebesar 15,3 juta (7,4% dari total penduduk). Jumlah dimaksud
cenderung akan bertambah besar karena berdasarkan laporan Biro Pusat Statistik tahun
1993 , jumlah penduduk usia lanjut di Indonesia pada tahun 2025 akan mengalami
peningkatan sebesar 414% dibandingkan dengan keadaan pada tahun 1990.
Ini merupakan persentase kenaikan paling tinggi di seluruh dunia, karena pada
periode waktu yang sama kenaikan di beberapa negara secara berturut-turut adalah
Kenya 347%, Brazil 255%, India 242%, China 220%, Jepang 129%, Jerman 66% dan
Swedia 33% (Kinsella & Tonber, 1993). Selain itu masyarakat Indonesia memiliki
kecenderungan menderita katarak 15 tahun lebih cepat dibandingkan penderita di daerah
subtropis. Sekitar 16% sampai dengan 22% penderita katarak yang dioperasi berusia di
Universitas Sumatera Utara

bawah 55 tahun. Hal ini diduga berkaitan erat dengan faktor degeneratif akibat masalah
gizi. Kebutaan bukan hanya mengganggu produktivitas dan mobilitas penderitanya,
tetapi juga menimbulkan dampak sosial ekonomi bagi lingkungan, keluarga, masyarakat
dan negara lebih-lebih dalam menghadapi pasar bebas.
Berdasarkan bank data Departemen Kesehatan Indonesia (2004), distribusi
penyakit mata dan adneksa pasien rawat inap menurut golongan sebab sakit adalah :
Konjungtivitis dan gangguan lain konjungtivitis (2.106 pasien), Katarak dan gangguan
lain lensa (9.493 pasien), Glaukoma (1.119 pasien), Penyakit mata dan adneksa lainnya
(3.985 pasien). Sedangkan distribusi penyakit mata dan adneksa pasien rawat jalan
menurut golongan sebab sakit adalah : Konjungtivitis dan gangguan lain konjungtivitis
(116.938 pasien), Katarak dan gangguan lain lensa (53.065 pasien), Glaukoma (10.160
pasien), Penyakit mata dan adneksa lainnya (232.188 pasien).
Dibandingkan dengan angka kebutaan negara-negara di Regional Asia Tenggara, angka
kebutaan di Indonesia adalah yang tertinggi (Bangladesh 1%, India 0,7%, Thailand
0,3%). Insiden katarak 0,1% (210 ribu orang) per tahun, sedangkan yang dioperasi baru
lebih kurang 80.000 orang per tahun.
Akibatnya, timbul backlog (penumpukan penderita) katarak yang cukup tinggi.
Penumpukan ini antara lain disebabkan oleh daya jangkau pelayanan operasi yang masih
rendah, kurangnya pengetahuan masyarakat, tingginya biaya operasi, serta ketersediaan
tenaga dan fasilitas pelayanan kesehatan mata yang masih terbatas.
Menurut data survey penyakit mata, di Propinsi Sumatera Utara terdapat 172.110
penduduk buta atau sebesar 1,5 % penduduk Sumatera Utara. Penyebab kebutaan itu
terdiri dari 52% katarak, 13,4% glaucoma, 9,5% kelainan tekanan bola mata (refraksi),
dan 25,1 % penyebab lainnya.
Melihat semakin meningkatnya angka penderita kebutaan khususnya di Sumatera
Utara, maka diperlukan beberapa program untuk menurunkan jumlah penderita, salah
satunya dengan menambah unit pelayanan kesehatan. Di Medan, jumlah Rumah Sakit
dan unit kesehatan yang menyediakan fasilitas kesehatan mata ada 5 unit dengan 10
dokter spesialis, sedangkan jumlah pasien mata mencapai 28.490 jiwa.
Untuk melaksanakan kegiatan perawatan dan penyembuhan diperlukan suatu
pusat kesehatan yang dapat melayani masyarakat di dalam kegiatan yang berkaitan
dengan kesehatan mata. Seperti misalnya perawatan dan penyembuhan penyakit mata
untuk masyarakat awam, melayani dan mengadakan penelitian bagi ahli medis dan para
Universitas Sumatera Utara

medis atau orang-orang yang berkaitan, melayani, dan menyediakan alat-alat bantu
untuk penglihatan dan kegiatan lainnya yang berkaitan dengan mata.
Saat ini muncul kecenderungan masyarakat Indonesia untuk berobat ke luar
negeri, terutama Malaysia, dan Singapura. Berdasarkan data Malaysia Tourist Board
Medan, 2005 diperkirakan setiap tahun 600.000 masyarakat Indonesia berobat ke
Malaysia, dimana 100.000 diantaranya berasal dari Sumatera Utara. Balitbang Propsu
mengambarkan secara umum jenis penyakit masyarakat yang berobat keluar negeri di
Sumatera antara lain: 25% diabetes, 22% mata, 13,5 % jantung, 7,5% ginjal, 3,5%
tumor, 2% stroke, 1% kanker, 1% liver, dan 18,5% penyakit lainnya.
Untuk masa sekarang ini diperlukan biaya yang sangat mahal untuk memperoleh
perawatan dengan fasilitas lengkap yang umumnya terdapat di pulau Jawa bahkan di
luar negeri. Oleh karena itu, maka diperlukan suatu tempat di Medan yang mampu
menampung semua kegiatan pelayanan kesehatan mata beserta fasilitas-fasilitas
penunjangnya. Dengan alasan itulah maka direncanakan suatu bangunan yang bernama
Rumah Sakit Mata Medan yang dapat menampung semua aktivitas penyelenggaraan
kesehatan mata bagi masyarakat di Sumatera Utara pada khususnya dan masyarakat di
luar Sumatera Utara pada umumnya.

1.2 MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud dari perencanaan dan perancangan Rumah Sakit Mata Medan ini secara
garis besar adalah menghadirkan fasilitas umum untuk melayani kesehatan mata.
Diharapkan Rumah Sakit Mata Medan ini dapat mendukung peningkatan kualitas
kesehatan mata masyarakat demi tercapainya masyarakat dan bangsa yang memiliki
penglihatan yang baik.
Sedangkan tujuan dari proyek ini adalah :
1. Menambah Rumah Sakit khusus mata yang jumlahnya hanya ada 1 di
Sumatera Utara.
2. Menjadikan Rumah Sakit Mata Medan ini menjadi pusat kesehatan mata
nomor satu di Sumatera Utara dengan melengkapi peralatan medis untuk
pengobatan mata yang lengkap yang mampu bersaing dengan rumah sakit mata
diluar negeri.
3. Mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada pelayanan kesehatan mata di
dalam negeri sehingga dapat mengurangi hasrat pasien untuk berobat ke luar
negeri.
Universitas Sumatera Utara

4. Merancang Rumah Sakit Mata Medan yang layak menjadi rumah sakit rujukan
untuk penderita yang berasal dari propinsi yang berdekatan dengan propinsi
Sumatera Utara.
5. Menghadirkan suatu bangunan yang dapat menjadi tempat pendidikan dan
penelitian bagi mahasiswa kedokteran yang sedang co-ass maupun untuk
mahasiswa Pasca Sarjana yang mengambil spesialis mata.
6. Merencanakan dan merancang suatu lingkungan dan bangunan yang menarik
dan dapat mendukung kesembuhan pasien secara psikologis.
7. Menghadirkan Rumah Sakit Mata yang bisa menjangkau masyarakat
menengah ke bawah.
8. Menggalang kemitraan dengan masyarakat dan pihak-pihak terkait di dalam
dan luar negeri untuk mewujudkan mata sehat 2020
9. Menghadirkan wadah untuk menampung berbagai fasilitas penyediaan alat
bantu penglihatan.

1.3 PERMASALAHAN PROYEK
Rumusan permasalahan yang timbul untuk tema dan kasus dalam perancangan
proyek ini adalah :
1. Bagaimana menciptakan sebuah rancangan lingkungan dan bangunan yang
sesuai dengan judul yang diangkat dan maksud tujuan yang hendak dicapai
demi menunjang keberadaan fungsi bangunan sesuai dengan kasus proyek.
2. Bagaimana menciptakan suatu image baru pada bangunan sehingga tujuan
yang ingin dicapai pun terpenuhi.
3. Bagaimana mengelola ruang dalam agar saling terintegrasi antar berbagai
fungsi dengan kegiatan yang berbeda.
4. Bagaimana menyesuaikan lokasi yang ada dengan kebutuhan akan fasilitas-
fasilitas yang mendukung terciptanya lingkungan dan bangunan tersebut.
5. Bagaimana menerapkan konsep perancangan yang ada yang didasarkan dari
studi yang telah dilakukan kedalam sebuah proses perancangan.

1.4 PENDEKATAN
Beberapa pendekatan yang dilakukan dalam mengumpulkan data-data, baik data
primer maupun sekunder untuk memperjelas pemahaman tentang Rumah Sakit Mata
Medan dilakukan dengan metode pendekatan berikut:
Universitas Sumatera Utara

1. Studi Literatur
- Untuk mendapatkan data awal mengenai mata dan penyakit-penyakitnya serta
memperkaya materi yang berkaitan dengan proyek.
- Untuk mendapatkan sata awal mengenai bangunan rumah sakit.
- Untuk mendapatkan data-data yang berkaitan dengan tema.
- Untuk mendapatkan data-data yang diperlukan dalam studi banding.
2. Observasi Lapangan
- Mendapatkan data kondisi dan potensi lingkungan tapak terpilih.
- Melihat langsung keadaan dan pengelolaan bangunan yang ada dengan fungsi
sejenis.
3. Wawancara
Wawancara dilakukan untuk memperoleh masukan mengenai lingkungan tapak
proyek, informasi non arsitektural dan karakteristik khusus kawasan proyek terpilih.
Serta masukan yang berkaitan dengan kasus proyek, antara lain informasi tentang
persyaratan ruang, kendala-kendala dalam penyelenggaraan bangunan yang ada dari segi
arsitektural, dll.
4. Analisis
Analisis diperlukan untuk mengolah dan merumuskan berbagai masukan arsitektural
maupun non arsitektural bagi keperluan perancangan.
5. Sintesis
Sintesis dilakukan pada tahap integritas data-data yang ada yang telah dikaji pada
tahap analisis, untuk kemudian diolah menjadi konsep perencanaan dan perancangan.

1.5 LINGKUP PEMBAHASAN
Lingkup pembahasan dalam laporan ini adalah pengembangan konsep
perencanaan Rumah Sakit Mata Medan beserta fasilitas pendukungnya. Studi studi
dimaksud untuk mendapatkan dasar-dasar informasi yang mendukung konsep-konsep
perencanaan dan perancangan berupa asumsi kelayakan sampai dengan program ruang.
Pembahasan ini berupa dasar-dasar analisa yang bersumber dari studi literatur dan
studi banding untuk menganalisa tapak perencanaan dan pengaturan urutan ruang
disesuaikan dengan konsep, yakni merancang bangunan dengan berwawasan
lingkungan.
Konsep-konsep perancangan yang dihasilkan dari studi dan analisa ini dimanfaatkan
sebagai pedoman perancangan pada Tugas Akhir.
Universitas Sumatera Utara

1.6 KERANGKA BERPIKIR

































ARSITEKTUR HIJAU
Rumusan Tujuan dan Sasaran
Identifikasi Masalah
Kasus, Tema, Lokasi
Studi Pengenalan:
Studi Literatur
Studi Banding
Asumsi
Studi Lokasi
dan Survey
Pengumpulan / Kompilasi
Data
F
E
E
D

B
A
C
K
DESAIN
KONSEP PERANCANGAN
PROGRAM PERANCANGAN
ANALISA
LATAR BELAKANG
RUMAH SAKIT MATA MEDAN
Ide / Gagasan
Universitas Sumatera Utara

1.7 SISTEMATIKA LAPORAN
BAB I PENDAHULUAN
Berisi tentang kajian latar belakang, maksud dan tujuan, permasalahan,
pendekatan,lingkup batasan, dan sistematika laporan.

BAB II DESKRIPSI PROYEK
Berisi tentang pengertian Rumah Sakit Mata, lokasi, tinjauan fungsi dan studi banding
terhadap Kasus Proyek sejenis yang lain.

BAB III ELABORASI TEMA
Berisi tentang kajian mengenai pengertian ,interpretasi dan keterkaitan tema dengan
judul serta studi banding terhadap bangunan-bangunan yang menerapkan tema yang
sama.

BAB IV ANALISA PERANCANGAN
Berisi tentang kajian analisis terhadap lokasi dari tapak perancangan, potensi dan
kondisi lingkungan, pemakai, dan aktivitasnya dan berisi tentang dasar-dasar
pemrograman fasilitas yang direncanakan, meliputi kebutuhan ruang, besaran dan
persyaratan ruang, hubungan antar ruang yang bersifat analisa.

BAB V KONSEP PERANCANGAN
Berisi konsep-konsep perancangan yang sesuai dengan lingkungan kajian.

BAB VI PERANCANGAN ARSITEKTUR
Berisi gambar-gambar desain dan foto maket hasil perancangan.

DAFTAR PUSTAKA
Berisi daftar pustaka yang digunakan sebagai bahan literatur dalam perencanaan ini.






Universitas Sumatera Utara