Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Perdarahan pada kehamilan harus dianggap sebagai kelainan yang berbahaya.
Perdarahan pada kehamilan muda disebut sebagai abortus sedangkan perdarahan pada
kehamilan tua disebut perdarahan antepartum. Batas teoritis antara kehamilan muda
dengan kehamilan tua adalah 22 minggu mengingat kemungkinan hidup janin diluar
uterus .
Perdarahan antepartum biasanya berbatas pada perdarahan jalan lahir setelah
kehamilan 22 minggu tapi tidak jarang terjadi pula pada usia kandungan kurang dari 22
minggu dengan patologis yang sama. Perdarahan saat kehamilan setelah 22 minggu
biasanya lebih berbahaya dan lebih banyak daripada kehamilan sebelum 22 minggu .
Oleh karena itu perlu penanganan yang cukup berbeda . Perdarahan antepartum
yang berbahaya umumnya bersumber pada kelainan plasenta, sedangkan perdarahan
yang tidak bersumber pada kelainan plasenta umpamanya kelainan serviks biasanya
tidak seberapa berbahaya. Pada setiap perdarahan anterpartum pertama-tama harus
selalu dipikirkan bahwa hal itu bersumber pada kelainan plasenta.
Perdarahan anterpartum yang bersumber dari kelainan plasenta yang secara klinis
biasanya tidak terlampau sukar untuk menentukannya ialah plasenta previa dan solusio
plasenta serta perdarahan yang belum jelas sumbernya . Perdarahan anterpartum terjadi
kira-kira 3 % dari semua persalinan yang terbagi atas plasenta previa , solusio plasenta
dan perdarahan yang belum jelas penyebabnya.
Pada umumnya penderita mengalami perdarahan pada triwulan tiga atau setelah usia
kehamilan , namun beberapa penderita mengalami perdarahan sedikit-sedikit
kemungkinan tidak akan tergesa-gesa datang untuk mendapatkan pertolongan karena
disangka sebagai tanda permulaan persalinan biasa. Baru setelah perdarahan yang
berlangsung banyak , mereka datang untuk mendapatkan pertolongan.

Setiap perdarahan pada kehamilan lebih dari 22 minggu yang lebih banyak pada
permulaan persalinan biasanya harus lebih dianggap sebagai perdarahan anterpartum
apapun penyebabnya , penderita harus segera dibawah ke rumah sakit yang memiliki
fasilitas untuk transfusi darah dan operasi . Perdarahan anterpartum diharapkan
penanganan yang adekuat dan cepat dari segi medisnya maupun dari aspek
keperawatannya yang sangat membantu dalam penyelamatan ibu dan janinnya.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mampu menerapkan asuhan keperawatan klien dengan plasenta previa

2. Tujuan Khusus
a. Dapat melakukan pengkajian secara langsung pada klien plasenta previa.
b. Dapat merumuskan masalah dan membuat diagnosa keperawatan pada klien
plasenta previa.
c. Dapat membuat perencanaan pada klien plasenta previa.
d. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan dan mampu mengevaluasi tindakan
yang telah dilakukan pada klien plasenta previa.

C. Metode Penulisan
Adapun metode yang penulis gunakan dalam penulisan. Makalah ini adalah dengan
studi Pustaka dan internet.






BAB II
PEMBAHASAN


A. Konsep Dasar Penyakit
1. Pengertian
Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen bawah
uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir.

Menurut FK. UNPAD. 1996, plasenta previa adalah plasenta yang implantasinya tidak
normal, rendah sekali sehingga menutupi seluruh atau sebagian ostium interna.

Menurut Cuningham, dkk (1995), plasenta previa adalah suatu keadaan di mana
jaringan plasenta tidak tertanam dalam korpus uteri tetapi terletak sangat dekat atau
pada ostium internum.



2. Penyebab Plasenta Previa
Menurut Manuaba (2003), penyebab terjadinya plasenta previa diantaranya adalah
mencakup :
1. Perdarahan (hemorrhaging)
2. Usia lebih dari 35 tahun
3. Multiparitas
4. Pengobatan infertilitas
5. Multiple gestation
6. Erythroblastosis
7. Riwayat operasi/pembedahan uterus sebelumnya
8. Keguguran berulang
9. Status sosial ekonomi yang rendah
10. Jarak antar kehamilan yang pendek
11. Merokok

Menurut Hanafiah (2004) klasifikasi plasenta previa dapat dibedakan menjadi 4 derajat
yaitu :
1. Total bila menutup seluruh serviks
2. Partial bila menutup sebagian serviks
3. Lateral bila menutup 75% (bila hanya sebagian pembukaan jalan lahir tertutup
oleh plasenta).
4. Marginal bila menutup 30% (bila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir
pembukaan jalan lahir).



3. Anatomi Fisiologi



Plasenta berbentuk bundar atau hampir bundar dengan diameter 15-20 cm dan
tebal 2,5 cm, berat rata-rata 500 gram. Tali pusat berhubungan dengan plasenta
biasanya di tengah (insersio sentralis). Bila hubungan agak pinggir (insersio lateralis).
Dan bila di pinggir plasenta (insersio marginalis), kadang-kadang tali pusat berada di
luar plasenta dan hubungan dengan plasenta melalui janin, jika demikian disebut
(insersio velmentosa).
Umumnya plasenta terbentuk lengkap pada kehamilan lebih kurang 10 minggu
dengan ruang amnion telah mengisi seluruh kavum uterus, agak ke atas ke arah fundus
uteri. Meskipun ruang amnion membesar sehingga amnion tertekan ke arah korion,
amnion hanya menempel saja.
Pada umumnya di depan atau di belakang dinding uterus agak ke atas ke arah
fundus uteri, plasenta sebenarnya berasal dari sebagian dari janin, di tempat-tempat
tertentu pada implantasi plasenta terdapat vena-vena yang lebar (sinus) untuk
menampung darah kembali pada pinggir plasenta di beberapa tempat terdapat suatu
ruang vena untuk menampung darah yang berasal ruang interviller di atas (marginalis).

Fungsi plasenta ialah mengusahakan janin tumbuh dengan baik untuk
pertumbuhan adanya zat penyalur, asam amino, vitamin dan mineral dari ibu kejanin
dan pembuangan CO2.
Fungsi Plasenta :
a. Sebagai alat yang memberi makanan pada janin.
b. Sebagai alat yang mengeluarkan bekas metabolisme.
c. Sebagai alat yang memberi zat asam dan mengeluarkan CO2.
d. Sebagai alat pembentuk hormone.
e. Sebagai alat penyalur perbagai antibody ke janin.
f. Mungkin hal-hal yang belum ketahui.(Wiknjosostro, 1999 : 66)

4. Patofisiologi

Perdarahan anter partum akibat plasenta previa terjadi sejak kehamilan 20 minggu
saat sekmen uterus telah terbentuk dan mulai melebar dan menipis. Umumnya terjadi
pada trimester ke tiga karena segmen bawah uterus lebih banyak mengalami
perubahan. Pelebaran sekmen bawah uterus dan pembukaan
servik menyababkan sinus uterus robek karena lepasnya plasenta dari dinding uterus
atau karena robekan sinus marginalis dari plasenta. Perdarahan tak dapat
dihindarkankarena adanya ketidakmampuan selaput otot segmen bawah uterus
untuk berkontraksi seperti pada plasenta letak normal.

Klasifikasi Plasenta Previa :
a. Plasenta Previa totalis : seluruh ostium internum tertutup oleh plasenta
b. Plasenta Previa Lateralis : hanya sebagian dari ostium tertutup oleh plasenta.
c. Plasenta previa parsialis, apabila sebagian pembukaan (ostium internus servisis)
tertutup oleh jaringan plasenta.
d. Plasenta previa marginalis, apabila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir
pembukaan (ostium internus servisis).
e. Plasenta letak rendah, apabila plasenta yang letaknya abnormal pada segmen
bawah uterus belum sampai menutupi pembukaan jalan lahir atau plasenta berada 3-4
cm diatas pinggir permukaan sehingga tidak akan teraba pada pembukaan jalan lahir.


5. Tanda dan Gejala
1. Gejala yang terpenting ialah perdarahan tanpa nyeri.Pasien mungkin berdarah
sewaktu tidur dan sama sekali tidak terbangun ;baru waktu ia bangun,yang berasa
bahwa kelak kainnya basah.Biasanya perdarahan karena plasenta pravia baru
timbul setelah bulan ke tujuh.
Hal ini disebabkan karena:
Perdarahan sebelum bulan ketujuh member gambaran yang tidak berbeda dari
abortus.
Perdarahan pada placenta praevia disebabkan karena pergerakan antara placenta
dan dinding rahim.
Perdarahan pada placenta praevia bersifat berulang-ulang:
Setelah terjadi pergeseran antara placenta dan dinding rahim maka regangan dinding
rahim dan tarikan pada cervikx berkurang,tapi dengan majunya kehamilan regangan
bertambah lagi dan menimbulkan perdarahan baru;kejadian ini berulang-ulang.Darah
terutama berasal dari ibu ialah dari ruangan intervillosa akan tetapi dapat juga
berasal dari anak kalau jonjot terputus atau pembuluh darah placenta yang lebih
besar terbuka.

2. Kepala anak sangat tinggi : karena placenta terletak pada kutub bawah
rahim,kepala tidak dapat mendekati pintu atas panggul.
3. Karena hal tersebut di atas juga karena panjang rahim berkurang,maka pada
placenta pravia lebih sering terdapat kelainan letak. Jika perdarahan disebabkan
oleh placenta praevia atau placenta letak rendah maka robekan selaput harus
marginal (kalau persalinan terjadi per vaginam).
Juga harus dikemukakan bahwa pada placenta praevia mungkin sekali terjadi
perdarahan postpartum karena :
Kadang-kadang placenta lebih erat melekat pada dinding rahim (placenta accreta)
Darah perlekatan luas
Daya berkontraksi segmen bawah rahim kurang.

Bahaya untuk ibu pada placenta praevia ialah :
Perdarahan yang hebat
Infeksi-sepsis
Emboli udara (jarang)
Bahaya untuk anak :
Hypoxia
Perdarahan dan shock
5. Komplikasi
a. Plasenta abruptio. Pemisahan plasenta dari dinding rahim
b. Perdarahan sebelum atau selama melahirkan yang dapat menyebabkan
histerektomi
c. Plasenta akreta, plasenta inkreta, plasenta perkreta
d. Prematur atau kelahiran bayi sebelum waktunya (< 37 minggu)
e. Kecacatan pada bayi
6. Pemeriksaan diagnostik
a. Pemeriksaan darah : hemoglobin, hematokrit
b. Pemeriksaan ultra sonografi, dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan plasenta
atau jarak tepi plasenta terhadap ostium
c. Pemeriksaan inspekkulo secara hati-hati dan benar, dapat menentukan sumber
perdarahan dari karnalis servisis atau sumber lain (servisitis, polip,keganasan,
laserasi/troma)

7. Penatalaksanaan
1. Penanganan Aktif
Kehamilan segera diakhiri sebelum terjadi perdarahan yang memebawa maut,
contoh : melakukan SC.

2. Penanganan Pasif
Kehamilannya tidak segera diakhiri karena perdarahannya tidak berbahaya walaupun
janinnya masih premature (Johnson dan Macafee, 1945)

3. Pengobatan Ekspektatif
a. Ibu dirawat bedrest sampai berat anak ditaksir telah mencapai 2500 gram atau
37 minggu sehingga kehamilan bias diakhiri.
b. Prinsip dasar penangannya adalah transfuse darah dan operasi
c. Pemberian antibiotic untuk mengatasi infeksi.


B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Pengumpulan data
1) Anamnesa
a.Identitas klien: Data diri klien meliputi : nama, umur, pekerjaan, pendidikan,
alamat, medicalrecord dll.
b. Keluhan utama : Gejala pertama; perdarahan pada kehamilan setelah 28
minggu/trimester III.
1. Sifat perdarahan; tanpa sebab, tanpa nyeri, berulang
2. Sebab perdarahan; placenta dan pembuluh darah yang robek; terbentuknya
SBR, terbukanya osteum/ manspulasi intravaginal/rectal.
3. Sedikit banyaknya perdarahan; tergantung besar atau kecilnya robekan
pembuluh darah dan placenta.
Pada saat di Inspeksi
1. Dapat dilihat perdarahan pervaginam banyak atau sedikit.
2. Jika perdarahan lebih banyak; ibu tampak anemia.
Pada saat Palpasi abdomen
1. Janin sering belum cukup bulan; TFU masih rendah.
2. Sering dijumpai kesalahan letak
3. Bagian terbawah janin belum turun, apabila letak kepala biasanya
kepala masih goyang/floating
c. Riwayat Kesehatan
a) Riwayat Obstetri
Memberikan imformasi yang penting mengenai kehamilan sebelumnya
agar perawat dapat menentukan kemungkinan masalah pada kehamilan
sekarang.





Riwayat obstetri meliputi:
1. Gravida, para abortus, dan anak hidup (GPAH)
2. Berat badan bayi waktu lahir dan usia gestasi
3. Pengalaman persalinan, jenis persalinan, tempat persalinan, dan penolong
persalinan
4. Jenis anetesi dan kesulitan persalinan
5. Komplikasi maternal seperti diabetes, hipertensi, infeksi, dan perdarahan.
6. Komplikasi pada bayi
7. Rencana menyusui bayi
b) Riwayat mensturasi
Riwayat yang lengkap di perlukan untuk menetukan taksiran persalinan(TP). TP
ditentukan berdasarkan hari pertama haid terakhir (HPHT). Untuk menentukan
TP berdasarkan HPHt dapat digunakan rumus naegle, yaitu hari ditambah tujuh,
bulan dikurangi tiga, tahun disesuaikan.
c) Riwayat Kontrasepsi
Beberapa bentuk kontrasepsi dapat berakibat buruk pada janin,
ibu, ataukeduanya. Riwayat kontrasepsi yang lengkap harus didapatkan pada
saat kunjungan pertama. Penggunaan kontrasepsi oral sebelum kelahiran dan
berlanjut pada kehamilan yang tidak diketahui dapat berakibat buruk pada
pembentukan organ seksual pada janin.
d) Riwayat penyakit dan operasi:
Kondisi kronis seperti dibetes melitus, hipertensi, dan penyakit ginjal
bisa berefek buruk pada kehamilan. Oleh karena itu, adanya riwayat infeksi,
prosedur operasi, dan trauma pada persalinan sebelumnya harus di
dokumentasikan
d. Pemeriksaan fisik
a) Umum
Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan pada ibu hamil:
(1) Rambut dan kulit
a. Terjadi peningkatan pigmentasi pada areola, putting susu dan linea nigra.
b. Striae atau tanda guratan bisa terjadi di daerah abdomen dan paha.
c. Laju pertumbuhan rambut berkurang.Wajah
(2) Mata : pucat, anemis
(3) Hidung
(4) Gigi dan mulut
(5) Leher
(6) Buah dada / payudara
a. Peningkatan pigmentasi areola putting susu
b. Bertambahnya ukuran dan noduler
(7) Jantung dan paru
a. Volume darah meningkat
b. Peningkatan frekuensi nadi
c. Penurunan resistensi pembuluh darah sistemik dan pembulu darah
pulmonal.
d. Terjadi hiperventilasi selama kehamilan.
e. Peningkatan volume tidal, penurunan resistensi jalan nafas.
f. Diafragma meningga.
g. Perubahan pernapasan abdomen menjadi pernapasan dada.
(8) Abdomen
a. Menentukan letak janin
b. Menentukan tinggi fundus uteri
(9) Vagina
a. Peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna kebiruan ( tanda
Chandwick)
b. Hipertropi epithelium
(10) System musculoskeletal
a. Persendian tulang pinggul yang mengendur
b. Gaya berjalan yang canggung
c. Terjadi pemisahan otot rectum abdominalis dinamakan dengan diastasis
rectal


b) Khusus
(1) Tinggi fundus uteri
(2) Posisi dan persentasi janin
(3) Panggul dan janin lahir
(4) Denyut jantung janin

2. Diagnosa keperawatan
a. Penurunan cardiac out put berhubungan dengan perdarahan dalam jumlah yang
besar.
b. Ansietas yang berhubungan dengan perdarahan kurangnya pengetahuan mengenai
efek perdarahan dan menejemennya.
c. Resiko tinggi cedera (janin) b/d Hipoksia jaringan / organ, profil darah abnormal,
kerusakan system imun.

3. Rencana keperawatan
No Diagnosa
Keperawatan
Tujuan / Kriteria
Hasil
Intervensi Rasional
1. Penurunan kardiak
output b.d
perdarahan dalam
jumlah yang besar
Setelah dilakukannya
tindakan 2x24 jam
diharapkan penurunan
kardiak output tidak
terjadi atau teratasi
dengan kriteria hasil :
Volume darah
intravaskuler dan
kardiak output dapat
diperbaiki sampai
nadi, tekanan darah,
nilai hemodinamik,
serta nilai
laboratorium
1. kaji dan catat
TTV, TD serta
jumlah perdarahan.

2. Bantu pemberian
pelayanan kesehatan
atau mulai sarankan
terapi cairan IV atau
terapi transfusi
darah sesuai
kebutuhan
Pengkajian yang akurat
mengenai status
hemodinamik merupakan
dasar untuk perencanaan,
intervensi, evaluasi.
Memperbaiki volume
vaskuler membutuhkan
terapi IV dan intervensi
farmakologi. Kehilangan
volume darah harus
diperbaiki untuk
mencegah komplikasi
seperti infeksi, gangguan
janin dan gangguan vital
menunjukkan tanda
normal
ibu hamil.
2. Ansietas
berhubungan
dengan kurangnya
pengetahuan efek
perdarahan dan
manejemennya.
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
selama 3 x 24
diharapkan ansietas
dapat berkurang
dengan kriteria hasil :
1. Pasangan dapat
mengungkapkan
harapannya dengan
kata-kata tentang
manajemen yang
sudah direncanakan,
sehingga dapat
mengurangi
kecemasan pasangan.
1. Terapi bersama
pasangan dan
menyatakan
perasaan.
2. Menentukan
tingkat pemahaman
pasangan tentang
situasi dan
manajemen yang
sudah direncanakan.
3. Berikan
pasangan informasi
tentang manajemen
yang sudah
direncanakan.
Kehadiran perawat dan
pemahaman secara empati
merupakan alat terapi
yang potensial untuk
mempersiapkan pasangan
untuk menanggulangi
situasi yang tidak
diharapkan.
Hal yang diberikan
perawat akan memperkuat
penjelasan dokter dan
untuk memberitahu
dokter jika ada
penjelasan penting.
Pendidikan pasien yang
diberikan merupakan cara
yang efektif mencegah
dan menurunkan rasa
cemas. Pengetahuan akan
mengurangi ketakutan
akan ha-hal yang tidak
diketahui.
3.
Resiko tinggi
cedera (janin) b/d
hipoksia jaringan/
organ,profil darah
abnormal,kerusakan
system imun.
Kriteria evaluasi
Menunjukkan profil
darah dengan hitung
SDP, Hb, dan
pemeriksaan
koagulasi DBN
normal.
1. Kaji jumlah
darah yang hilang.
Pantau tanda/gejala
syok

2. Catat suhu,
hitung SDP, dan bau
Hemoragi berlebihan dan
menetap dapat
mengancam hidup klien
atau mengakibatkan
infeksi pascapartum,
anemia pascapartum,
KID, gagal ginjal, atau
serta warna rabas
vagina, dapatkan
kultur bila
dibutuhkan.

3. Catat
masukan/haluaran
urin. Catat berat
jenis urin.

4. Berikan
heparin, bila
diindikasikan


5. Berikan
antibiotic secara
parenteral
nekrosis hipofisis yang
disebabkan oleh hipoksia
jaringan dan malnutrisi.
Kehilangan darah
berlebihan dengan
penurunan Hb
meningkatkan risiko klien
untuk terkena infeksi.
Penurunan perfusi ginjal
mengakibatkan penurunan
haluaran urin.
Heparin dapat digunakan
pada KID di kasus
kematian janin, atau
kematian satu janin pada
kehamilan multiple, atau
untukmemblok siklus
pembekuan dengan
melindungi factor-faktor
pembekuan dan
menurunkan hemoragi
sampai terjadi perbaikan
pembedahan
Mungkin diindikasikan
untuk mencegah atau
meminimalkan infeksi.




BAB III
TINJAUAN KASUS
I. PENGKAJIAN
A. IDENTITAS
Nama : Ny. S
Umur : 28 Tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Sukamerindu No 3
Suku/Bangsa : WNI
Tanggal Masuk RS : 28 Oktober 2013 pukul 12.00 WIB
Tanggal Pengkajian : 28 oktober 2013 pukul 12.15 WIB
Ruangan : IGD Rs umum dr.M.Yunus Bengkulu
Diagnosa Medis : Plasenta Previa

Nama suami : Tn. G
Umur : 30 Tahun
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : SukamerinduNo 3
Suku/Bangsa : WNI

B. RIWAYAT KESEHATAN
1. Keluhan Utama
Klien mengatatakan keluar darah dari vaginanya

2. Tanda-tanda inpartu
a. Kontraksi : Tidak Ada
b. Frekuensi : -
c. Lamanya : -

Pengeluaran pervaginam
a. Darah+lendir : -
b. Darah : Ada .
Jumlah : Sedikit
Warna : Coklat
c. Air Ketuban : +

3. Riwayat Kehamilan Sekarang
a. G=1 P=0 A=0
b. HPHT :16-02-2013
c. Usia Kehamilan : 32 Minggu
d. Taksiran partus : 23-11-2013
e. Masalah selama kehamilan sekarang :Klien mengatakan terkadang terdapat
sedikit darah di celana dalamnya
f. Pemakaian obat-obatan : -

4. Pergerakan anak
Usia kehamilan : 20 minggu

5. Frekuensi gerakan anak/24 Jam : <10 kali

6. Diet
Pola makan : 3x/hari
Komposisi makanan : Nasi ,sayur ,lauk pauk
Perubahan makan yang dialami : Selama hamil klian makan sering nambah

7. Eliminasi
Pola eliminasi BAB : 1-2x/hari
Karakteristik : Lunak terkadang keras
Pola eliminasi BAK : 6-7x/hari
Karekteristik : Kuning (urin)
8. Aktivitas sehari-hari : Klien adalah seorang ibu rumah tangga ,sehari -
hari mengurusi rumah dan suaminya
Personal hygiene : Klien tampak cukup bersih
9. Pola istirahat/tidur : Klien tidur 7-8 jam/hari
10. Seksualitas :Akhir akhir menjelang 8 bulan dan perut
semakin membesar aktivitas seksual jarang
dilakukan
11. Kontrasepsi : -
12. Imunisasi I : April 2013
Imunisasi II : Mei 2013
13. Riwayat Alergi : -
14. Riwayat operasi : -

C. RIWAYAT MENSTRUASI
1. Menerche : umur 14 Tahun
2.Teratur/tidak teratur : teratur
3.Siklus : 28 hari
4.Lamanya : 6-7 hari
5.Banyaknya : 1-2 pembalut/hari
6.Sifat darah : Amis dan kental
7.Dismenorrhoe : Ada namun tidak mengganggu aktivitas

D. RIWAYAT PENYAKIT SISTEMIK YANG PERNAH DIDERITA
1. Hipertensi : Tidak Ada
2. Jantung : Tidak Ada
3. Ginjal : Tidak Ada
4. Hepatitis : Tidak Ada
5. DM : Tidak Ada
6. Epilepsi : Tidak Ada

7.Asma/TB paru : Tidak Ada

F. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
1. Hipertensi : Tidak Ada
2. Jantung : Tidak Ada
3. Ginjal : Tidak Ada
4. Hepatitis : Tidak Ada
5. Riwayat gemeli : Tidak Ada
6.Asma : Tidak Ada

G. PEMERIKSAAN FISIK
Tanda-tanda vital
Tekanan darah : 140/100 mmHg
Denyut nadi : 90x/menit
Pernafasan : 28x/menit
Suhu : 36,5 C
BB sebelum hamil : 52 kg
BB setelah hamil : 64 kg
TB : 162 cm

Wajah
Bentuk : Simetris
Oedema : Tidak Ada
Cloasma : Tidak Ada
Gravidarum : -

Mata
Bentuk : Bulat;simetris
Oedema : Tidak Ada
Conjungtiva : Non anemis
Sclera : Isokor

Hidung
Bentuk : Simetris
Perdarahan : Tidak Ada
Polip : Tidak Ada
Sinusitis : Tidak Ada

Mulut
Bentuk : Simetris
Warna : Hitam
Kelembaban : Cukup
Hipersaliva : Tidak
Gigi caries : Ada

Leher
Pembesaran kelenjar typoid : -
Peningkatan JVP : -

Dada
Payudara
Bentuk payudara : Simetris
Puting susu : menonjol
Hiperpigmentasi : +
Kebersihan : cukup
Benjolan abnormal : tidak ada
Kolostrum : -




Paru-paru
Inspeksi : terdapat pergerakan diafragma
Palpasi : -
Perkusi : -
Auskultasi : normal

Jantung
Palpasi : -
Perkusi : -
Auskultasi : terdengar suara jantung 1 dan 2

Abdomen
Besar perut sesuai dengan usia kehamilan: Sesuai
Bekas Luka Operasi : Tidak Ada
Striae : Ada
Leopold I : tinggi fundus uteri 22 cm
Leopold II :
Punggung janin terletak di uterus posisi dekstra
Leopold III : Presentasi plasenta
Leopold IV : bagian terntdah janin /5

Vulva dan vagina
Varises : -
Luka : -
Kemerahan : -
Nyeri : +
Kebersiahan : Cukup



Perineum
Luka Parut : -
Pemeriksaan Dalam
Posisi Plasenta dibagian bawah

Ekstremitas
Aksila
Pembesaran kelenjar : -
Ekstremitas atas
Oedema tangan/jari : -
Ekstremitas bawah
Oedema Kaki : +
Varises : -

H. PENGKAJIAN PSIKOSOSIAL
1. Rasa cemas,tegang : Klien cemas dengan kondisinya sekarang
2. Konsep Diri : Klien menyadari tentang kondisinya yang tidak
memungkinkan melahirkan normal
3.Mekanisme Koping : Klien selalu berdoa dan shalat ketika menghadapi
masalah dalam hidupnya
4. Support system : Suami klien selalu berada disampingnya










I. ANALISA DATA

DATA ETIOLOGI MASALAH
1. DS :
Klien mengatakan sudah ada
darah keluar kemaluannya

DO:
-Tampak bercak darah di
celana dalam klien
-TD : 140/90 mmHg
-Nadi : 90x/menit
-RR : 28x/menit

Ruptur plasenta



Perdarahan sedang


Penurunan kardiak out put.

2. DS:
Klien mengatakan cemas
dengan keadaannya
DO:
-Klien tampak cemas
-Klien berkeringat
TD: 140/90 mmHg
Perdarahan


Umur kehamilan belum
mencapai usia partus


Ansietas





Ansietas yang berhubungan.


II. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Penurunan Cardiac output berhubungan dengan perdarahan
2. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang keadaannya





III. INTERVENSI KEPERAWATAN

No
Diagnosa
Keperawatan
Tujuan/Kriteria Hasil Intervensi Rasional
1
Penurunan kardiak
output berhubungan
dengan perdarahan
Setelah dilakukkanya
tindakan keperawatan
.. X 24 jam diharapkan
penurunan kardiak
output tidak terjadi atau
teratasi dengan kriteria
hasil :
a.Volume darah
intravaskuler dan
kardiak output dapat
diperbaiki sampai nadi,
tekanan darah, nilai
hemodinamik, serta
nilai laboratorium
menunjukkan tanda
normal
1. Kaji dan catat
TTV, TD serta
jumlah perdarahan.

2. Bantu pemberian
pelayanan kesehatan
atau mulai sarankan
terapi cairan IV atau
terapi transfusi darah
sesuai kebutuhan.
1.Pengkajian yang akurat
mengenai status
hemodinamik merupakan
dasar untuk perencanaan,
intervensi, evaluasi.
2.Memperbaiki volume
vaskuler membutuhkan
terapi IV dan intervensi
farmakologi. Kehilangan
volume darah harus
diperbaiki untuk
mencegah komplikasi
seperti infeksi, gangguan
janin dan gangguan vital
ibu hamil.
2
Ansietas
berhubungan
dengan kurangnya
pengetahuan
tentang keadaanya
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
selama x 24
diharapkan ansietas
dapat berkurang dengan
kriteria hasil :
1. Pasangan dapat
mengungkapkan
harapannya dengan
kata-kata tentang
1. Terapi bersama
pasangan dan
menyatakan perasaan.
2. Menentukan
tingkat pemahaman
pasangan tentang
situasi dan
manajemen yang
sudah direncanakan.
3. Berikan
1.Kehadiran perawat dan
pemahaman secara
empati merupakan alat
terapi yang potensial
untuk mempersiapkan
pasangan untuk
menanggulangi situasi
yang tidak diharapkan.
2.Hal yang diberikan
perawat akan


















manajemen yang sudah
direncanakan, sehingga
dapat mengurangi
kecemasan pasangan.
pasangan informasi
tentang manajemen
yang sudah
direncanakan.
memperkuat penjelasan
dokter dan untuk
memberitahu dokter jika
ada penjelasan yang
penting.
3.Pendidikan pasien yang
diberikan merupakan cara
yang efektif mencegah
dan menurunkan rasa
cemas. Pengetahuan akan
mengurangi ketakutan
akan ha-hal yang tidak
diketahui.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Perdarahan yang salah satunya disebabkan oleh plasenta previa, dapat menyebabkan
kesakitan atau kematian baik pada ibu maupun pada janinnya. Faktor resiko yang juga penting
dalam terjadinya plasenta previa adalah kehamilan setelah menjalani seksio sebelumnya
,kejadian plasenta previa meningkat 1% pada kehamilan dengan riwayat seksio.
Kematian ibu disebabkan karena perdarahan uterus atau karena DIC (Disseminated
Intravascular Coagulopathy). Sedangkan morbiditas/ kesakitan ibu dapat disebabkan karena
komplikasi tindakan seksio sesarea seperti infeksi saluran kencing, pneumonia post operatif dan
meskipun jarang dapat terjadi embolisasi cairan amnion (Hanafiah, 2004).
Terhadap janin, plasenta previa meningkatkan insiden kelainan kongenital dan
pertumbuhan janin terganggu sehingga bayi yang dilahirkan memiliki berat yang kurang
dibandingkan dengan bayi yang lahir dari ibu yang tidak menderita plasenta previa. Risiko
kematian neonatal juga meningkat pada bayi dengan plasenta previa (Hanafiah, 2004).

B. Saran
1. Bagi Mahasiswa
Diharapkan makalah ini dapat menambah pengetahuan mahasiswa dalam memberikan pelayanan
keperawatan dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
2. Bagi petugas Kesehatan
Diharapkan dengan makalah ini dapat meningkatkan pelayanan kesehatan khususnya dalam
bidang keperawatan sehingga dapat memaksimalkan kita untuk memberikan health education
dalam perawatan luka perineum untuk mencegah infeksi
Perdarahan yang salah satunya disebabkan oleh plasenta previa, dapat menyebabkan
kesakitan atau kematian baik pada ibu maupun pada janinnya. Faktor resiko yang juga penting
dalam terjadinya plasenta previa adalah kehamilan setelah menjalani seksio sebelumnya
,kejadian plasenta previa meningkat 1% pada kehamilan dengan riwayat seksio.
Kematian ibu disebabkan karena perdarahan uterus atau karena DIC (Disseminated
Intravascular Coagulopathy). Sedangkan morbiditas/ kesakitan ibu dapat disebabkan karena
komplikasi tindakan seksio sesarea seperti infeksi saluran kencing, pneumonia post operatif dan
meskipun jarang dapat terjadi embolisasi cairan amnion (Hanafiah, 2004).
Terhadap janin, plasenta previa meningkatkan insiden kelainan kongenital dan
pertumbuhan janin terganggu sehingga bayi yang dilahirkan memiliki berat yang kurang
dibandingkan dengan bayi yang lahir dari ibu yang tidak menderita plasenta previa. Risiko
kematian neonatal juga meningkat pada bayi dengan plasenta previa (Hanafiah, 2004).

B. Saran
1. Bagi Mahasiswa
Diharapkan makalah ini dapat menambah pengetahuan mahasiswa dalam memberikan pelayanan
keperawatan dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
2. Bagi petugas Kesehatan
Diharapkan dengan makalah ini dapat meningkatkan pelayanan kesehatan khususnya dalam
bidang keperawatan sehingga dapat memaksimalkan kita untuk memberikan health education
dalam perawatan luka perineum untuk mencegah infeksi
















DAFTAR PUSTAKA

Bobak M.I dkk 2004 Buku Ajar Keperawatan Maternitas, Jakarta PT Buku
Kedokteran EGC
Doenges M, Dkk, 1999 Rencana Asuhan Keperawatan; Edisi Ke Tiga, Penerbit Buku
Kedokteran, EGC, Jakarta,
Farer H, 2001 Perawatan Maternitas Edisi 2. Jakarta PT Buku Kedokteran
Mansjoer Dkk, 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2 Edisi Ketiga Penerbit Media
Aesculapius Fakultas Kedokteran UI Jakarta






















MAKALAH SEMINAR
ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU DENGAN
PLASENTA PREVIA



KELOMPOK 2 :
1. Dendy Afrizal
2. Rina Sulastri
3. Tuti Susanti
4. Sipen Pri Julianto
KELAS : IIC KEPERAWATAN
Pembimbing Akademik

(Ns.Titin Aprilatutini S,Kep)

POLTEKKES PROVINSI BENGKULU
JURUSAN KEPERAWATAN
TA 2013/2014




KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas izin-Nyalah
kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan tepat waktu.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas Maternitas Keperawatan. Dalam makalah ini saya
memebahas tentang ASKEP PADA IBU DENGAN PLASENTA PREVI A.

Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyelesaian makalah ini. Kami menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu
saran dan kritik sangat saya harapkan terutama dari Dosen Pengasuh.
Sekian dan terima kasih.



Bengkulu, april 2014



Penyusun
Kelompok 2