Anda di halaman 1dari 11

HASIL PEMERIKSAAN

I. Warna
Bukal Rahang Atas
Warna ginggiva adalah coral pink yang menunjukan ginggiva
dalam keadaan sehat, apabila terdapat keradangan atau kondisi patologis
lainya warna ginggiva akan berubah, bisa jadi kemerahan sampai pada
kebiruan. Namun warna coral pink tidak selalu menjadi patokan
dikarenakan pigmentasi kulit antar individu berbeda sehingga warna
ginggiva juga mengikuti pigmentasi kulitnya. warna ginggiva
dipengaruhi oleh vaskularisasi, ketebalan dan derajat keratinisasi epitel,
dan adanya sel-sel yang mengandung pigmen. ada pasien yang telah
dilakukan pemeriksaan didapatkan warna ginggiva normal yaitu
berwarna coral pink.
alatal Rahang Atas
!asil pemeriksaan adalah gingiva berwarna coral pink. "apat
diasumsikan bahwa gingiva sedang dalam kondisi sehat. Warna gingiva
coral pink didapatkan dari adanya vaskularisasi, pigmentasi, serta derajat
keratinisasi. ada kondisi patologis, umumnya gingiva akan berubah
menjadi lebih merah hingga kebiruan.
Bukal Rahang Bawah
!asil pemeriksaan menunjukkan gingiva berwarna coral pink,
sehingga dapat diperkirakan pasien tidak sedang menderita keradangan.
#etapi untuk mengetahui lebih lanjutnya perlu dilakukan pemeriksaan
lainnya selain warna seperti kontur, tekstur, posisi margin gingiva,
perubahan ukuran, dan konsistensinya. erlu juga dilakukan test B$
untuk mengetahui adanya keradangan, dan probing depth untuk
mengetahui kedalaman pocket. Warna ginggiva adalah coral pink yang
menunjukan ginggiva dalam keadaan sehat, apabila terdapat keradangan
atau kondisi patologis lainya warna ginggiva akan berubah, bisa jadi
kemerahan sampai pada kebiruan. Namun warna coral pink tidak selalu
menjadi patokan dikarenakan pigmentasi kulit antar individu berbeda
sehingga warna ginggiva juga mengikuti pigmentasi kulitnya. warna
ginggiva dipengaruhi oleh vaskularisasi, ketebalan dan derajat keratinisasi
epitel, dan adanya sel-sel yang mengandung pigmen. #erkadang juga
warna gingiva yang ditemukan normal tetapi sudah terdapat progreso%itas
seperti pocket yang dalam dan resorbsi tulang alveolar, hal ini dapat
ditemukan pada kasus &enerali'ed Aggresive eriodontitis (&A).
*ingual Rahang Bawah
!asil pemeriksaan menunjukkan gingiva bagian lingual rahang
bawah berwarna coral pink, sehingga dapat diartikan bahwa pasien tidak
sedang menderita keradangan. Warna coral pink juga menunjukan bahwa
ginggiva dalam keadaan sehat, apabila terdapat keradangan atau kondisi
patologis lainya warna ginggiva akan berubah, bisa jadi kemerahan
sampai pada kebiruan. #etapi untuk mengetahui lebih lanjutnya perlu
dilakukan pemeriksaan penunjang lainnya selain warna seperti kontur,
tekstur, posisi margin gingiva, perubahan ukuran, dan konsistensinya..
II. Kontur
Bukal Rahang Atas
emeriksaan kontur gingiva dengan cara melihat margin gingiva
yang menyentuh pada bagian koronal, dikatakan normal apabila margin
gingiva semakin menipis pada bagian koronal. ada bagian interdental
juga dilihat apakah terjadi pembulatan atau tidak, dikatakan normal
apabila tidak terjadi pembulatan. !asil pemeriksaan pada pasien
menunjukan kontur gingiva pasien normal dimana tidak terlihat adanya
pembulatan pada bagian margin maupun interdental papil.
alatal Rahang Atas
!asil pemeriksaan adalah normal. Normal diartikan sebagai margin
gingiva berbentuk seperti mata pisau yaitu semakin tipis di koronalnya
dan tidak ada pembulatan.
Bukal Rahang Bawah
+ontur gingiva diperiksa juga secara visual. !asil pemeriksaan
pada pasien menunjukkan kontur gingiva normal dimana kontur gingiva
lancip pada interdentalnya, tidak ada pembulatan.
*ingual Rahang Bawah
!asil pemeriksaan menunjukkan bahwa kontur gingiva dalam
kondisi normal. !al tersebut dapat dibuktikan dari kontur gingiva lancip
pada interdentalnya, tidak ada pembulatan.
III. Konsistensi
Bukal Rahang Atas
+onsistensi pada gingiva normal adalah kenyal. emeriksaan dapat
diperoleh dengan cara palpasi yaitu perabaan pada daerah permukaan
gingiva yang nantinya akan diketahui apakah konsistensinya lunak,
kenyal ataupun keras. berdasarkan pemeriksaan pada pasien didapatkan
pada regio labial rahang atas konsistensi gingivanya kenyal.
alatal Rahang Atas
!asil pemeriksaan yaitu konsistensi gingiva kenyal. ada keadaan
patologis gingiva akan terasa lunak atau keras. *unak menunjukan
adanya peradangan eksudasi sedangkan keras menunjukan adanya
%ibrosis gingiva.
Bukal Rahang Bawah
ada pemeriksaan pasien didapatkan regio bukal rahang bawah
konsistensi gingiva normal yaitu kenyal. emeriksaan dapat diperoleh
dengan cara palpasi yaitu perabaan pada daerah permukaan gingiva yang
nantinya akan diketahui apakah konsistensinya lunak, kenyal ataupun
keras. +onsistensi yang lunak maupun keras menandakan adanya
keradangan pada gingiva, jika lunak maka terdapat destruksi jaringan
berlebih dan terdapat cairan pada gingiva, sedangkan gingiva yang keras
menandakan adanya pembentukan jaringan %ibrous yang berlebih.
*ingual Rahang Bawah
!asil pemeriksaan menunjukkan bahwa regio lingual rahang
bawah konsistensi gingiva normal yaitu kenyal. emeriksaan dilakukan
dengan cara palpasi yaitu perabaan pada daerah permukaan gingiva yang
nantinya akan diketahui apakah konsistensinya lunak, kenyal ataupun
keras.
IV. Tekstur
Bukal Rahang Atas
#ekstur gingiva dilihat dengan cara memperhatikan permukaan
gingiva cekatnya. normalnya bagian permukaan gingiva cekat terdapat
bentukan stippling (seperti bintik-bintik pada kulit jeruk). emeriksaan
dilakukan dengan cara mengeringkan bagian permukaan gingiva cekat
dengan menggunakan tampon kemudian dilihat secara visual, apabila
terdapat keradangan biasanya bentuk stippling tidak akan terlihat. ada
pasien yang kita periksa didapatkan tekstur gingiva yang normal.
alatal Rahang Atas
!asil pemeriksaan yaitu kontur gingiva normal, terdapat stippling
pada gingiva cekat. &ambaran stippling ini berasal dari adanya
Bukal Rahang Bawah
!asil pemeriksaan pada pasien didapatkan tekstur gingiva nornal
yaitu terdapat stippling (bintik , bintik seperti kulit jeruk) pada bagian
attached gingivanya. emeriksaan dilakukan dengan cara mengeringkan
bagian permukaan gingiva cekat dengan menggunakan tampon kemudian
dilihat secara visual, apabila terdapat keradangan biasanya bentuk
stippling tidak akan terlihat. ada pasien yang kita periksa didapatkan
tekstur gingiva yang normal.
*ingual Rahang Bawah
!asil pemeriksaan pada bagian lingual didapatkan tekstur gingiva
nornal yaitu terdapat stippling (bintik , bintik seperti kulit jeruk) pada
bagian attached gingivanya. emeriksaan dilakukan dengan cara
mengeringkan bagian permukaan gingiva cekat dengan menggunakan
tampon kemudian dilihat secara visual, apabila terdapat keradangan
biasanya bentuk stippling tidak akan terlihat.
V. Posisi margin gingiva
Bukal Rahang Atas
osisi margn gingiva normal biasanya tepat di -./ atau sedikit
lebih ke koronal. ada pemeriksaan didapatkan posisi margin gingiva tepat
pada -./ hal ini berarti tidak terdapat keabnormalan pada gingiva
tersebut.
alatal Rahang Atas
osisi margin gingiva adalah normal, yaitu terletak di daerah -./.
0argin gingiva akan naik ke koronal atau turun ke apikal (resesi) apabila
terdapat keadaan patologis.
Bukal Rahang Bawah
osisi margin gingiva normal biasanya tepat di -./ atau 1-2 mm
diatas -./. ada pemeriksaan didapatkan posisi margin gingiva
mengalami resesi pada regio gigi 34 dan 33. Resesi gingiva ini
menandakan adanya proses keradangan pada jaringan gingiva terkait. ada
gingiva lainnya di regio bukal rahang bawah tidak ditemukan adanya
resesi, gingiva tepat berada pada -./ ataupun 1-2 mm diatas -./.
*ingual Rahang Bawah
+ondisi di bagian lingual rahang bawah menunjukkan posisi
margin gingiva normal biasanya tepat di -./ atau 1-2 mm diatas -./.
ada pemeriksaan didapatkan posisi margin gingiva mengalami resesi
pada regio gigi 34 dan 33. Resesi gingiva ini menandakan adanya proses
keradangan pada jaringan gingiva terkait. ada gingiva lainnya di regio
bukal rahang bawah tidak ditemukan adanya resesi, gingiva tepat berada
pada -./ ataupun 1-2 mm diatas -./. +ondisi ini persis seperti pada
bagian bukal rahang bawah.
VI. Perubahan ukuran
Bukal Rahang Atas
alatal Rahang Atas
!asil pemeriksaan adalah ukuran gingiva normal, tidak ada
pembesaran. embesaran biasanya terjadi apabila ada kumulasi eksudat
atau supurasi atau hiperplasi gingiva.
Bukal Rahang Bawah
"ari hasil pemeriksaan didapatkan hasil normal pada ukuran
gingiva atau tidak terdapat perubahan ukuran gingiva pada pasien.
erubahan ukuran yang dimaksud seperti kondisi patologis adanya
hiperplasi gingiva.
*ingual Rahang Bawah
!asil pemeriksaan menunujukkan bahwa kondisi bagian lingual
rahang bawah normal pada ukuran gingiva atau tidak terdapat perubahan
ukuran gingiva pada pasien. erubahan ukuran yang dimaksud seperti
kondisi patologis adanya hiperplasi gingiva.
VII. Bleeding on Probing !"P# $an Probing DepthP%#
Bukal Rahang Atas
No &igi !"P P% Keterangan %iagnosa
1. 11 - - Normal Normal
2. 12 - - Normal Normal
4. 14 - - Normal Normal
3. 13 - - Normal Normal
5. 15 - - Normal Normal
6. 16 - - Normal Normal
7. 17 - - Normal Normal
8. 18 9 9 :nerupted ;uspek <mpaksi
=. 21 - - Normal Normal
1>. 22 - - Normal Normal
11. 24 - - Normal Normal
12. 23 ? - erdarahan saat
pemeriksaan B$
;uspek gingivitis
kronis
14. 25 - - Normal Normal
13. 26 - - Normal Normal
15. 27 - - Normal Normal
16. 28 9 9 :nerupted ;uspek impaksi
alatal Rahang Atas
No &igi !"P P% Keterangan %iagnosa
1. 11 - - Normal Normal
2. 12 - - Normal Normal
4. 14 - - Normal Normal
3. 13 - - Normal Normal
5. 15 - - Normal Normal
6. 16 - - Normal Normal
7. 17 - - Normal Normal
8. 18 @ @ :nerupted ;uspek impaksi
=. 21 - - Normal Normal
1>. 22 - - Normal Normal
11. 24 ? - erdarahan saat
pemeriksaan B$
;uspek gingivitis
kronis
12. 23 - - Normal Normal
14. 25 - - Normal Normal
13. 26 - - Normal Normal
15. 27 - - Normal Normal
16. 28 @ @ :nerupted ;uspek impaksi
Bukal Rahang Bawah
No. &igi !"P P% Keterangan %iagnosa
1. 41 - - Normal, Probing Depth 1
mm, goyang derajat 1
Normal
2. 42 - - Normal, Probing Depth 1
mm
Normal
4. 44 ? - erdarahan saat ;uspek gingivitis
pemeriksaan B$ kronis
3. 43 - - Normal, Probing Depth 1
mm
Normal
5. 45 - - Normal, Probing Depth 1
mm
Normal
6. 46 9 9 &igi 46 hilang diekstraksi
karena abses
-
7. 47 - - +aries oklusal
super%isialis, Probing
Depth 1 mm
;uspek pulpitis
reversible
8. 48 - - Probing Depth 1 mm,
+aries super%isialis
oklusal, Partial Erupted
(.)
;uspek pulpitis
reversible
=. 31 ? - erdarahan saat
pemeriksaan B$,
Probing Depth 1 mm,
goyang derajat 1
;uspek gingivitis
kronis
1>. 32 ? - erdarahan saat
pemeriksaan B$,
Probing Depth 2 mm
;uspek gingivitis
kronis
11. 34 - - Probing Depth 2 mm,
resesi gingiva 2 mm,
linguoversi
;uspek periodontitis
kronis
12. 33 - - Probing Depth 1 mm,
resesi gingiva 2 mm
;uspek periodontitis
kronis
14. 35 ? - erdarahan saat
pemeriksaan B$,
Probing Depth 1 mm
;uspek gingivitis
kronis
13. 36 ? - erdarahan saat
pemeriksaan B$,
Probing Depth 1 mm,
karies bukal, kalkulus
oklusal
;uspek gingivitis
kronis, pulpitis
reversible
15. 37 ? ? erdarahan saat
pemeriksaan B$,
;uspek periodontitis
kronis
Probing Depth 4,5 mm
16. 38 9 9 Partial Erupted (.) -
*ingual Rahang Bawah
No. &igi !"P P% Keterangan %iagnosa
1. 41 - - Normal, Probing Depth 1
mm, goyang derajat 1
Normal
2. 42 - - Normal, Probing Depth 1
mm
Normal
4. 44 ? - erdarahan saat
pemeriksaan B$
;uspek gingivitis
kronis
3. 43 - - Normal, Probing Depth 1
mm
Normal
5. 45 - - Normal, Probing Depth 1
mm
Normal
6. 46 9 9 &igi 46 hilang diekstraksi
karena abses
-
7. 47 - - +aries oklusal
super%isialis, Probing
Depth 1 mm
;uspek pulpitis
reversible
8. 48 - - Probing Depth 1 mm,
+aries super%isialis
oklusal, Partial Erupted
(.)
;uspek pulpitis
reversible
=. 31 ? - erdarahan saat
pemeriksaan B$, Probing
Depth 1 mm, goyang
derajat 1
;uspek gingivitis
kronis
1>. 32 ? - erdarahan saat
pemeriksaan B$, Probing
Depth 2 mm
;uspek gingivitis
kronis
11. 34 - - Probing Depth 2 mm,
resesi gingiva 2 mm,
linguoversi
;uspek periodontitis
kronis
12. 33 - - Probing Depth 1 mm,
resesi gingiva 2 mm
;uspek periodontitis
kronis
14. 35 ? - erdarahan saat ;uspek gingivitis
pemeriksaan B$, Probing
Depth 1 mm
kronis
13. 36 ? - erdarahan saat
pemeriksaan B$, Probing
Depth 1 mm, karies bukal,
kalkulus oklusal
;uspek gingivitis
kronis, pulpitis
reversible
15. 37 ? ? erdarahan saat
pemeriksaan B$, Probing
Depth 4,5 mm
;uspek periodontitis
kronis
16. 38 9 9 Partial Erupted (.) -
No. &igi !"P P% Keterangan %iagnosa
VIII. Etio'ogi $an (aktor Pre$is)osisi
Bakteri plak pada gigi. lak merupakan suatu lapisan lunak terdiri dari
kumpulan bakteri yang berkembangbiak di atas suatu matriks, terbentuk dan
melekat erat pada gigi walaupun setelah pembersihan. lak merupakan salah
satu %aktor terjadinya karies dan in%lamasi pada jaringan lunak. *okasi
pembentukan plak pada permukaan gigi diklasi%ikasikan atas plak
supragingival (berada pada koronal dari tepi gingiva) dan plak subgingiva
(berada pada apikal dari tepi gingiva). lak pada subgingiva dan
supragingiva hampir pada tiga perempat bagiannya terdiri atas bakteri gram
positi% dan negati%.
Aaktor predisposisinya adalah kalkulus pada gigi. +alkulus tidak langsung
menyebabkan keradangan pada jaringan periodontal, tetapi permukaan
kalkulus yang kasar akan memudahkan penempelan bakteri plak yang
menjadi %aktor etiologi keradangan jaringan periodontal. +emudian cara
menyikat gigi pasien tidak benar, yaitu tidak menjangkau seluruh
permukaan gigi. ;elain itu terdapat malposisi gigi 24 (labioversi) , dimana
kondisi tersebut menyebabkan daerah di sekitar gigi tidak terjangkau dalam
pembersihannya. Adanya cara menyikat gigi yang salah serta gigi yang
malposisi menyebabkan plak mudah terakumulasi pada daerah tersebut
sehingga lama-kelamaan bakteri yang ada dalam plak akan mengakibatkan
keradangan pada jaringan lunak.
I*. Ren+ana Pera,atan
erawatan periodonsia memiliki tujuan melakukan perawatan yang tepat
dan diinginkan serta teknik yang digunakan juga harus tepat untuk mencapai
tujuan tersebut. erawatan periodonsia dibagi menjadi beberapa %ase antara
lainB
A. Aase preliminary
Aase preliminary ini adalah %ase penanganan keadaan darurat pada pasien,
saat pasien datang ke dokter gigi. erawatan %ase preliminary ini meliputi
perawatan gigi atau periapikal, perawatan jaringan periodontal, dan juga
ekstraksi gigi yang hopeless.
B. Aase etiotropik (%ase <)
Aase etiotropik ini adalah %ase penghilagan etiologi dari penyakit
periodontal. erawatan %ase ini meliputi tindakan "!., scalling dan
rootplaning, koreksi %actor iritan restorative dan prostetik, perawatan karies
dan restorasi, terapi antibiotic, splinting dan protesa sementara.
-. .valuasi respon terapi %ase <
.valuasi ini dilakukan untuk melihat apakah perawatan %ase < berhasil atau
tidak. .valuasi terapi %ase < ini dilakukan dengan melihat keadaan poket,
in%lamasi ginggiva, plak dan kalkulus, dan melihat adanya karies atau tidak.
". Aase bedah (%ase <<)
0acam-macam tindakan bedah pada bidang periodonsia adalah bedah
periodontal, penempatan implant, dan perawatan endodontic. Bedah
periodontal ini dibagi menjadi ginggiektomi, dan kuretase.
.. Aase restorative (%ase <<<)
Aase restorative ini dilakukan untuk menutup karies pada gigi agar tidk
terjadi in%eksi akteri lagi yang nantinya akan menyebabkan timbulnya
penyakit periodontal.
A. .valuasi respon terapi %ase <<<
.valuasi ini dilakukan untuk melihat hasil dari restorasi pada %ase <<<,
apakah ada restorasi yang overhanging atau tidak.
&. Aase pemeliharaan (terapi %ase <C)
#erapi pemeliharaan ini dilakukan secara berkala selama 4-6 bulan sekali.
#erapi pemeliharaan ini dilakukan untuk menghindari timbulnya penyakit
gigi yang nantinya akan berkembang menjadi penyakit periodontal.
0eski diatas sudah terdapat prosedur dan tahapan dalam penanganan kasus
periodonsia, kita berhak melakukan tindakan dengan melewati salah satu
%ase atau beberapa %ase apabila %ase itu tidak harus didaptkan oleh seorang
pasien. +ondisi rongga mulut pasien masih cukup baik namun didapatkan
beberapa gigi memiliki gingival yang mengalami resesiD penurunan margin.
Apabila sesuai dengan hasil skill lab maka tindakan yang akan dilakukan B
E Rencana erawatan
1. "!.
"!. penting sekali dalam perawatan untuk mengontrol plak yang
merupakan penyebab utama terjadinya periodontitis.
2. ;calling
;calling dilakukan untuk menghilangkan kalkulus baik supra maupun
subgingiva yang merupakan %actor predisposisi terjadinya penyakit
periodontitis. ;calling atau pembersihan karang gigi dialkukan pada gigi 24,
23, 44, 32, 34, 33, 35,dan 36.
4. +uretase dan root planning
Root planning dilakukan pada gigi 34 dan 33 yang mengalami resesi
gingiva.
3. Restorasi
Restorasi dilakukan pada gigi 47, 48, dan 36.
5. +unjungan Berkala ke dokter gigi
!al ini dilakukan untuk mengontrol kondisi jaringan periodontal penderita
agar keadaan tersebut tidak kembali terulang.