Anda di halaman 1dari 10

Memahami Liquiditas, Solvabilitas dan Rentabilitas

Sebelum memulai sebuah usaha tentunya memerlukan rancangan dari usaha tersebut
terlebih dahulu. Terutama rancangan mengenai modal dan hal apa saja yang diperlukan untuk
membangun dan menjalankan usaha tersebut. Salah satu cara untuk mengetahui tindakan dan
kebijakan apa saja yang bisa kita tentukan melalui modal dan kebutuhan kita, bisa kita lihat melalui
neraca aktiva dan pasiva. Aktiva menggambarkan struktur kekayaan sedangkan pasiva
menggambarkan struktur keuangan, dengan melihat kedua aspek ini bisa dijadikan landasan untuk
mengambil keputusan awal terutama keputusan finansial.
Contoh neraca
Neraca (000)
Aktiva Passiva
Kas 50.000 Hutang
Piutang 150.000 Hutang Lancar 250.000
Persediaan 250.000 Hutang Jangka Panjang 120.000
Total AL 450.000

Tanah 60.000 Modal Sendiri 300.000
Bangunan 120.000
Etalase 40.000
Total AT 220.000

Total Aktiva 670.000 Total Passiva 670.000

Setelah mengambil keputusan mengenai finansial dengan landasan neraca aktiva pasiva,
seorang manajer keuangan harus memperhatikan hal penting pertama yaitu mengenai Liquiditas
dari suatu perusahaan atau usaha.
Pengertian Likuiditas :
Likuiditas adalah indikator kemampuan perusahaan untuk membayar hutang lancar.
Likuiditas bisa diukur salah satunya dengan menggunakan Current Ratio (CR)
=
()
()
100%
Pada umumnya standar Liquiditas menurut teoritis adalah 200%, dibawah itu bisa disebut
under liquid dan bila terlalu berlebih disebut over liquid.
>> namun semua itu dalam kenyataan di lapangan, tergantung pada siklus bisnis dan karakter
perusahaan.


Contoh likuiditas dari neraca di atas :
=

100%
=
450.000
250.000
100%
=
9
5
100%
CR = 180%
Hal ini menunjukkan bahwa AL : HL = MK (Modal Kerja) = 1,8 : 1, artinya setiap Rp 1 hutang
lancar, dijamin dengan Rp. 1,8 aktiva lancar.
Melalui perbandingan CR likuiditas yang terbentuk, bisa terlihat bahwa modal kerja kurang
maksimal. Manajer keuangan bisa mengambil kebijakan dengan menaikkan standar CR nya.
Ada beberapa logika keuangan yang bisa dilakukan oleh manajer keuangan untuk
meningkatkan CR, diantaranya
1. Meningkatkan hutang jangka panjang untuk menutup hutang lancar.
2. Menjual aset tetap yang dirasa tidak produktif untuk menambah kas.
3. Mempercepat pemasaran barang persediaan untuk menambah kas. Apabila
kas meningkat, bisa digunakan untuk membayar hutang lancar tanpa harus menambah
hutang jangka panjang.
Contoh :
Dari contoh CR likuiditas di atas, manajer keuangan memutuskan untuk menaikkan CR-nya
menjadi 250%, dengan cara menambah hutang jangka panjang sebesar Rp. 100.000.000 untuk
membayar hutang lancar. Sehingga terbentuklah perubahan neraca sbb.
Sehingga CR-nya menjadi :
=
450.000
150.000
100%
CR = 300% >> sudah trpenuhi, lebih
dari 250%
HL : AL = 1 : 3
Artinya : Setiap Rp. 1 hutang lancar
dijamin dengan Rp. 3 aktiva
lancar.


Neraca (000)
Aktiva Passiva
Kas 50.000 Hutang
Piutang 150.000 Hutang Lancar 150.000
Persediaan 250.000 Hutang Jangka Panjang 220.000
Total AL 450.000

Tanah 60.000 Modal Sendiri 300.000
Bangunan 120.000
Etalase 40.000
Total AT 220.000

Total Aktiva 670.000 Total Passiva 670.000
Contoh contoh simulasi dari likuiditas
=
500.000
300.000
100%
CR = 166%
HL : AL = 1 : 1,6
Artinya :
Setiap Rp. 1 hutang lancar dijamin
dengan Rp. 1,6 aktiva lancar.

Simulasi 1, menjadikan CR min 210%
Logika keuangan : menambah hutang jangka panjang sebesar Rp. 125.000.000 , Rp. 25.000.000 untuk Kas
dan Rp. 100.000.000 untuk membayar hutang lancar.
Neraca perubahan
=
525.000
200.000
100%
CR = 262,5% >> sudah
memenuhi, lebih dari 210%.
HL : AL = 1 : 2,625
Artinya :
Setiap Rp. 1 hutang lancar dijamin
dengan Rp. 2,625 aktiva lancar.






Neraca (000)
Aktiva Passiva
Kas 75.000 Hutang
Piutang 125.000 Hutang Lancar 300.000
Persediaan 300.000 Hutang Jangka Panjang 120.000
Total AL 500.000

Tanah 60.000 Modal Sendiri 300.000
Bangunan 120.000
Etalase 40.000
Total AT 220.000

Total Aktiva 720.000 Total Passiva 720.000
Neraca (000)
Aktiva Passiva
Kas 100.000 Hutang
Piutang 125.000 Hutang Lancar 200.000
Persediaan 300.000 Hutang Jangka Panjang 245.000
Total AL 525.000

Tanah 60.000 Modal Sendiri 300.000
Bangunan 120.000
Etalase 40.000
Total AT 220.000

Total Aktiva 745.000 Total Passiva 745.000
Simulasi 2, CR absolut 200% >> AL : HL = 2 : 1



=
2
1


(500.000 x)*1 = 2*(300.000 x)
500.000 x = 600.000 2x
-x + 2x = 600.000 500.000
X = 100.000 (000)

Logika keuangan : menjual persediaan sebesar Rp. 100.000.000 untuk menutup hutang lancar.
Neraca Perubahan
=
400.000
200.000
100%
CR = 200% >> sudah memenuhi,
absolut 200%.
HL : AL = 1 : 2
Artinya :
Setiap Rp. 1 hutang lancar dijamin
dengan Rp. 2 aktiva lancar















Neraca (000)
Aktiva Passiva
Kas 75.000 Hutang
Piutang 125.000 Hutang Lancar 200.000
Persediaan 200.000 Hutang Jangka Panjang 120.000
Total AL 400.000

Tanah 60.000 Modal Sendiri 300.000
Bangunan 120.000
Etalase 40.000
Total AT 220.000

Total Aktiva 620.000 Total Passiva 620.000
Simulasi 3, CR minimal 260%
Logika keuangan dan angka
1. Menjual bangunan senilai Rp. 20.000.000
2. Menjual tanah senilai Rp. 10.000.000
>> Hasilnya untuk menambah kas senilai Rp. 30.000.000
3. Menjual persediaan sebesar Rp.175.000.000
>> Hasilnya untuk membayar hutang lancar

Neraca Perubahan dari Neraca Awal
CR =
355.000
125.000
100% = 284%
>> 1 : 2,84
>> jadi setiap Rp. 1 Hutang Lancar,
dijamin dengan Rp. 2,84 Aktiva Lancar.

Simulasi 4, CR Absolut 350%

Total

=
3,5
1


(500.000 x)*1 = 3,5*(300.000 x)
500.000 x = 1.050.000 3,5x
-x + 3,5x = 1.050.000 500.000
2,5x = 550.000
X = 220.000 (000)

Logika Keuangan :
Untuk mencapai CR absolut 350%, melalui perhitungan di atas bisa terjadi beberapa logika
keuangan :
1. Mengurangi Kas senilai Rp. 25.000.000
2. Menagih piutang senilai Rp. 25.000.000
3. Menjual persediaan sebesar Rp. 175.000.000
>> keseluruhan untuk membayar hutang lancar sebesar Rp. 220.000.000


Neraca (000)
Aktiva Passiva
Kas 105.000 Hutang
Piutang 125.000 Hutang Lancar 125.000
Persediaan 125.000 Hutang Jangka Panjang 120.000
Total AL 355.000

Tanah 50.000 Modal Sendiri 300.000
Bangunan 100.000
Etalase 40.000
Total AT 190.000

Total Aktiva 545.000 Total Passiva 545.000
Neraca Perubahan dari Neraca Awal











Solvabilitas
Solvabilitas adalah mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar seluruh hutang jika perusahaan
dijual. Solvabilitas bisa diukur dari rasio solvabilitas.


100%
Untuk meningkatkan solvabilitas hanya dengan menambah modal sendiri yang kemudian dimasukkan ke
dalam aktiva lancar.
note : untuk mengetahui nilai perusahaan gunakan EV >> excess value (total aktiva total hutang).
Apabila EV yang dihasilkan tinggi, maka nilaiperusahaan bertambah.
Apabila EV yang diperoleh rendah maka nilai perusahaan turun.
Contoh :
Neraca (000)
Aktiva Passiva
Kas 75.000 Hutang
Piutang 125.000 Hutang Lancar 300.000
Persediaan 300.000 Hutang Jangka Panjang 120.000
Total AL 500.000

Tanah 60.000 Modal Sendiri 300.000
Bangunan 120.000
Etalase 40.000
Total AT 220.000

Total Aktiva 720.000 Total Passiva 720.000
Neraca (000)
Aktiva Passiva
Kas 50.000 Hutang
Piutang 100.000 Hutang Lancar 80.000
Persediaan 130.000 Hutang Jangka Panjang 120.000
Total AL 280.000

Tanah 60.000 Modal Sendiri 300.000
Bangunan 120.000
Etalase 40.000
Total AT 220.000

Total Aktiva 500.000 Total Passiva 500.000
Rasio solvabilitas :
720.000
420.000
100% = 171% ,
artinya : setiap Rp 1 hutang dijamin dengan RP 1,71 aktiva.

Simulasi 1, rasio absolut 200%
720.000
420.000
=
2
1
>> setiap Rp 1 hutang dijamin dengan RP 2 aktiva.
(720.000 x)*1 = 2*(420.000 x)
720.000 x = 840.000 2x
-x + 2x = 840.000 720.000
X = 120.000 (000)
Logika Keuangan : menambah modal sendiri senilai Rp 120.000.000 yang kemudian di aplikasikan pada kas
Rp. 60.000.000 dan persediaan Rp. 60.000.000.
Perubahan Neraca
Neraca (000)
Aktiva Passiva
Kas 135.000 Hutang
Piutang 125.000 Hutang Lancar 300.000
Persediaan 360.000 Hutang Jangka Panjang 120.000
Total AL 620.000

Tanah 60.000 Modal Sendiri 120.000
Bangunan 120.000
Etalase 40.000
Total AT 220.000

Total Aktiva 840.000 Total Passiva 840.000









Simulasi 2
>> menginginkan mencapai solvabilitas 400%
Total

=
4
1
>> setiap Rp 1 hutang dijamin dengan RP 4 aktiva.

(720.000 x)*1 = 4* (420.000 x)
720.000 x = 1.680.000 4x
- x + 4x = 1.680.000 720.000
3x = 960.000
X = 320.000 (000)
Logika Keuangan :
Dari perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa harus menambah modal sendiri sebesar Rp.
320.000.000, lalu diaplikasikan pada Aktiva Lancar :
1. Menambah Kas senilai Rp. 140.000.000
2. Menambah persediaan senilai Rp. 180.000.000

Neraca (000)
Aktiva Passiva
Kas 215.000 Hutang
Piutang 125.000 Hutang Lancar 300.000
Persediaan 480.000 Hutang Jangka Panjang 120.000
Total AL 820.000

Tanah 60.000 Modal Sendiri 620.000
Bangunan 120.000
Etalase 40.000
Total AT 220.000

Total Aktiva 1.040.000 Total Passiva 1.040.000








Simulasi 3, Rasio minimal 250%
Logika keuangan : untuk menaikkan solvabilitas menjadi minimal rasio 250%, dilakukan penambahan modal
sendiri Rp. 380.000.000. dengan mengaplikasikan pada kas Rp. 180.000.000 dan persediaan Rp.
200.000.000.
Perubahan neraca
1.100.000
420.000
= 262%
>> sudah memenuhi, lebih dari 250%.
TA : TH = 2,62 : 1
Artinya : setiap Rp 1 hutang dijamin
dengan RP 2,62 aktiva.





Rentabilitas
Rentabilitas adalah mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan.
Rentabilitas mementingkan tentang efisiensi dan opportunity cost.
Rentabilitas bisa dilihat dari laporan laba rugi.
Rentabilitas bisa diukur dari dua aspek :
1. Rentabilitas Ekonomi :


100%

2. Rentabilitas Usaha / Modal Sendiri :


100%

Rentabilitas bisa dicari dari :
Profit Margin (keuntungan) X Asset turn Dover (perputaran persediaan)
Ket:
# Profit margin =


# Asset Turn Over =



# Net Operating Aset = Modal Kerja (MK) + (AT) aktiva tetap

Untuk memperoleh profit margin yang maksimal harus memerhatikan laba usaha dengan cara
meningkatkan penjualan dan laba serta menekan biaya operasional dan HPP.
Neraca (000)
Aktiva Passiva
Kas 225.000 Hutang
Piutang 125.000 Hutang Lancar 300.000
Persediaan 500.000 Hutang Jangka Panjang 120.000
Total AL 880.000

Tanah 60.000 Modal Sendiri 680.000
Bangunan 120.000
Etalase 40.000
Total AT 220.000

Total Aktiva 1.100.000 Total Passiva 1.100.000
Contoh Rentabilitas




1. Rentabilitas Ekonomi :


100% =
450.000
720.000
100% = 62,5%

2. Rentabilitas Usaha :


100% =
450.000
300.000
100% = 150%


3. Profit Margin (keuntungan) X Asset turn Dover (perputaran persediaan)



450.000
2.100.000
X
2.100.000
()+

450.000
2.100.000
X
2.100.000
(500.000420.000)+220.000

450.000
2.100.000
X
2.100.000
300.000

945.000.000
630.000.000
= 1.500
Neraca (000)
Aktiva Passiva
Kas 75.000 Hutang
Piutang 125.000 Hutang Lancar 300.000
Persediaan 300.000 Hutang J. panjang 120.000
Total AL 500.000

Tanah 60.000 Modal Sendiri 300.000
Bangunan 120.000
Etalase 40.000
Total AT 220.000

Total
Aktiva 720.000 Total Passiva 720.000
Laporan Laba/Rugi
dalam Ribu (000)
Penjualan 2.100.000
HPP -1.600.000
Laba Kotor 500.000
Biaya Operasional -50.000
Laba usaha/operasi (EBIT) 450.000
Bunga (i) -42.000
Laba sebelum Pajak (EBT) 408.000
Pajak (Tax) -40.800
Laba bersih setelah Pajak 367.200