Anda di halaman 1dari 3

1.

Tangki 1 (T-1) : tempat menyimpan bahan baku gas H2


2. Tangki 2 (T-2) : tempat menyimpan bahan baku gas Cl2
3. Blower 1 (B-1): mengalirkan bahan baku gas H2 menuju heat exchanger (HE-1)
4. Blower 2 (B-2): mengalirkan bahan baku gas Cl2 menuju heat exchanger (HE-1)
5. Heat Exchanger (HE-1): menaikkan temperatur gas H2dan Cl2 yang akan masuk
reaktor 1 (R-1) dengan memanfaatkan panas dari gas produk keluaran dari reaktor 1
(R-1)
6. Reaktor 1 (R-1): Tempat bereaksinya gas H2 dan Cl2 menghasilkan produk gas HCl
7. Blower 3 (B-3): mengalirkan gas produk keluaran reaktor 1 (R-1) yang panasnya
temperaturnya telah diturunkan di heat exchanger 1(HE-1)
8. Absorber-1 (AB-1): tempat terjadinya penyerapan gas HCl keluaran reaktor 1 (R-1)
dengan menggunakan solven air
9. Pompa 1 (PU-1): mengalirkan air solven ke absorber -1 (AB-1)
10. Heater 1 (H-1) : menaikkan suhu solvent air untuk meningkatkan kelarutan HCl dalam
solvent air
11. Absorber-2 (AB-2): tempat terjadinya penyerapan gas HCl keluaran absorber 1 (AB-
1) dengan menggunakan solven air
12. Pompa 2 (PU-2): mengalirkan air solven ke absorber 2 (AB-2)
13. Heater 2 (H-2) : menaikkan suhu solvent air untuk meningkatkan kelarutan HCl dalam
solvent air
14. Tangki 3 (T-3) : tempat menyimpan produk HCl dari bottom Absorber 1 (AB-
1)
15. Tangki 4 (T-4) : tempat menyimpan produk HCl dari bottom Absorber 2 (AB-
2)














BAB IV
DESKRIPSI PROSES DAN ANALISA HEURISTIC

4.1. Absorber

Heuristic 11 : Separate vapor mixtures using partial condensation, cyrogenic
distillation, absorption, adsorption, membrane separation and/or desublimation.
The selection among these alternatives is considered in Chapter 7.
Pada prosespemurnian gas HCl dari reaktan yang belum bereaksi digunakan
proses absorpsi menggunakan solven air. HCl akan larut terlebih dahulu, sehinggal
dalam solven air akan tercapai kondisi jenuh dengan HCl. Kemudian gas HCl yang
belum terlarut dalam air, H2, dan Cl2 akan keluar dari bagian atas absorber 1 dan
menuju ke absorber 2. Dalam absorber 2, campuran gas tersebut akan kembali
dikontakan menggunakan solven air. Pada absorber 2 gas HCl akan terlarut 99%
dalam solven air dan gas H2 dan Cl2 sisa akan di recycle menuju arus 3.
4.2. Reaktor
Heuristick 22 : For less exotermic heats of reaction, circulate reactor fluid to an
external cooler, or use a jacketed vessel or cooling coils. Also consider the use of
intercooler betwen adiabatic reaction stages.
Pembentukan gas HCl adalah reaksi eksotemik. Pada reaktor perlu dilengkapi
dangan jaket pendingin. Jaket yang berisi aliran air pendingin pada bagian luar
reaktor untuk menjaga suhu reaktor tetap 148
O
C.
4.3. Heat Exchanger
Heuristik 26 : Near-optimum minimum temperature approaches in heat exchangers
depend on the temperature level as follows:
10oF or less for temperatures below ambient
20oF for temperatures at or above ambient up to 300 o F
50 o F for high temperatures
250 to 350oF in a furnace for flue gas temperature above inlet process fluid
temperature.
Mengacu pada heuristik 26, Heat exchanger menaikkan suhu dari suhu ruang
hingga mendekati suhu 298.4oF

4.4.Tangki Penyimpanan
Heuristic 1 : Select raw materials and chemical reactions to avoid, or reduce, the
handling and storage of hazardous and toxic chemicals.
Mengacu pada heuristic 1, untuk menyimpan produk HCl dari reaktor dan
reaktan H2 Cl2 sebelum diumpankan pada reaktor digunakan tangki penyimpanan.
4.5.Pompa
Heuristic 43 : To increase the pressure of stream, pump a liquid rather than
compress a gas, unless refregeration is needed.
Mengacu pada heuristic 43, karena terdapat beda ketinggian antara tangki
penyimpanan dan keluaran hasil bawah dari absorber 1 dan absorber 2. Maka
diperlukan peningkatan tekanan menggunakan pompa.