Anda di halaman 1dari 9

Volurne 2 Nomor 3, Desember 2006

KARAKTERISTIK BETON RINGAN DENGAN AGREGAT KASAR BATUAN PIROKLASTIK MERAHI BATU APUNG

The Characteristic of Light Weight Concrete with Red Piroclastic/ Pumice Sfone as Coarse Agregate

Joedono*

ABSTRAK

lJntuk membuat beton

ringan,

dapat dilakukan dengan

mengetahui

menggunakan

apung. Material hasil letusan

Gunung berapi yang lain seperti batuan piroklastik merah iuga masih

agregat ingan sepetli batu

termasuk agregat ringan. Pada kesempatan ini diinginkan untuk

perbedaan karakteristik beton ringan dengan agregat batuan piroklastik

merah dengan agregat

Benda uji

batu aPung.

beton batuan piroklastik merah maupun batu apung,

berbentuk silinder 150 mm x 300 mm. Diameter maksimum agregat yang

digunakan

adalah 5 mm, 1A mm, 15 mm, dan 2A mm. Jumlah benda uii

yang

dibuat sebanyak 10 buah untuk masing-masing variasi ukuran

agregat. Pengujian yang dilakukan adalah uiitekan, modulus elastisrfas, dan

kuat tarik belah.

Hasil peneliti an men uniu kkan bahwa dengan mengg u nakan agregat kasar batuan piroklastik merah maupun batu apung pada diameter agregat maksimum 15 mm, diperoleh kuat tekan maksimum masing-masing 24,26

MPa, dan 7,94 MPa. Lebih laniut, modulus elastisitasnya sebesar 19-366,26 MPa, dan 5.885S6 MPa. Kuat taik belah 3,A1 MPa (Piroklastik merah, pada

diameter agregat maksimum 10 mm), dan 0,874 MPa (Batu apung, teriadi pada diameter maksimum agregat batu apung 2A m@. Data yang diperoleh beton ingan batu apung lebih flu'ktuatif bila dibandingkan beton ringan pirollastik merah.

Batuan piroklastik merah, batu apung,kuat tekan, modulus

Kata kunci :

elasfisr'fag kuat tarik- belah.

PENDAHULUAN

Salah satu fraktor yang mempengaruhi kuat tekan beton adalah

agregat, baik agregat halus maupun agregat kasar. Agregat adalah butiran

mineralalami misalnya pasir, kerikil, batu pecah dan kerak tungku besi yang

berfungsi sebagai

bahan pengisi dalam campuran beton. Pemilihan agregat

merupakan

suatu bagian yang penting dalam pembuatan beton. Sifat

agregat yang mempengaruhi kekuatan beton diantaranya bentuk, gradasi,

tekstur permukaan.

Selain batu apung,

batuan piroklastik merah khususnya banyak

terdapat di sungai Tanggek yang berhulu di Gunung Rinjani (Lombok

Timur).

Batuan ini merupakan material batuan yang dihasilkan dari letusan

gunung berapi, Material batuan tersebut mudah terangkut oleh aliran air ke

hilir. Secara insidentil endapan kerikil piroklastik merah tersebut diambil

* lr. Joedono, MCE. ; Pengajar pada Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mataram

76

Volume 2 Nomor 3, Desembet 2006

untuk dimanfaatkan. Pemanfaatan dari kerikil piroklastik merah ini hanya

digunakan sebagai pengganti sirtu (pasir-batu

Penggunaan agregat

ringan dapat

)

untuk urugan jalan'

berupa batu apung maupun

Pada kesempatan ini akan ditinjau penggunaan

batuan Piroklastik Merah.

kedua bahan tersebut sebagai agregat kasar beton ringan ditinjau Terhadap

kuat Tekan dan Kuat Tarik Belah.

Berdasarkan latar belakang maka dapat dirumuskan suatu masalah mrgenai pengaruh diameter maksimum agregat kasar (batuan piroklastik

nreran dan batu apung) dengan

gradasi menerus yaitu untuk mengetahui

sejauh mana pengaruh gradasi maksimum agregat kasar terhadap kuat

tekan dan kuat tarik-belah beton.

Adapun batasan-batasan

masalah sebagai berikut :

1. Silinder benda

uji,

dimeter 15 cm dan tinggi 30 cm

2. Diameter batuan piroklastik merah/ batu apungyang digunakan adalah 5

mm, 10 mm,

15 mm, dan 20 mm.

3. faktor air semen = 0,5

4. Umur pengujian beton 28 hari

5. Hanya dilakukan uji kuat tekan, uji regangan, dan kuat tarik belah.
6.

Desiin campuran beton

Tujuan yang

berdasarkan Ameican Concrefe /nsfdufe (ACl)

ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk

mengetahui perbedaan karakteristik kuat tekan dan kuat tarik - belah beton

berdisarkan batas ukuran gradasi maksimum agregat kasar antara batuan

piroklastik merah dengan

Manfaat

batu apung

yang diharapkan dari penelitian ini adalah untuk

memberikan informasi mengenai pengaruh batas ukuran gradasi maksimum

dari batu piroklastik merah maupun batu apung sebagai agregat kasar beton

ringan.

TINJAUAN PUSTAKA

Sentana (2003), menyebutkan dimensi agregat kasar maksimum 20

mm memiliki kuat tekan lebih besar dibandingkan dengan dimensi

maksimum 40 mm. Penelitian ini mengatakan peningkatan kuat tekan beton

berlaku untuk agregat

Hal tersebut

kasar alami (kerikil) dan agregat kasar batu pecah.

dimungkinkan karena dimensi agregat yang lebih kecil

memungkinkan rongga atar agregat dapat terisi penuh dengan pasta pasir

semennya.

Kuat tekan beton beragregat kasar batuan Piroklastik Merah pada umur 28 hari dengan proporsi Semen : Pasir : Batuan Piroklastik Merah =

1,96 : 4,90 : 3,45 dan f.a.s = 0,48 (Metoda ACI untuk kuat tekan beton yang

disyaratkan sebesar 20 MPa), adalah sebesar 24,889 MPa. Sedangkan

kuat tarik belahnya adalah 3,21 MPa (Anggraini, 2003).

Batuan piroklastik merah memiliki tekstur yang porous dengan berat satuan 0,929 dan 0,985 berturut-turut untuk berat satuan lepas dan berat

satuan padat. Berat satuan ini lebih kecil dari berat satuan batu pecah, tetapi lebih besar dari berat satuan batu apung (Achyani, 2003).

Pengaruh perendaman sangat besar terhadap kuat tekan maupun

kuat tarikbelah beton. Prosentase kenaikan kuat tekan, pada faktor air

semen 0,3; 0,48; dan 0,7; setelah 28 hati perendaman berturut-turut adalah

Volume 2 Nomor 3, Desember 2006

52,542a/o, 54,5460/o, 58,335%. Sedangkan prosentase peningkatan kuat

tarik-belah adalah sebesar 45,122o/o, 36,929o/odan 32,6530/o (Achyani,

2003).

Bertambahnya komposisi agregat

batuan Piroklastik Merah pada

carnpuran beton, mengakibatkan Kuat tekan optimum yang dapat

agregat

batuan piroklastik merah =

penurunan nilai kuat Tekan Beton.

dicapai pada capuran semen : pasir :

I'.

2 -. 2, dan 1 : 3 : 3, pada fas = 0,5,

beturut-turut adalah 23,96 MFa, dan 19,24 MPa. Modulus Elastisitas

yang dapat dicapai pada capuran semen : pasir : agregat batuan

piroklastik merah = 1 : 2 : 2, dan 1 : 3 : 3, pada fas = 0,5, beturut-turut

optimum

adalah 15499,2324 N/mm2, dan 9723,0805 N/mmz (Erlianingsih, 2003)

METODE PENELITIAN

Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di Laboratorium Struktur Fakultas

Teknik Universitas Mataram.

Bahan Penelitian

1.

Semen, Tiga Roda.

2. Agregat,

batuan piroklastik merah, sungai Tanggek Aikmel Lombok

Timur. Batu Apung

3- Air, berasal dari

dari Lombok Timur-

Lab. Struktur jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik

Universitas Mataram.

Alat Penelitian

Dalam penelitian ini alat-alat yang diperlukan sebagai berikut :

1. Saringan I ayakan dan Mesin pengayak

2. Timbangan

3. Talam baja

4. Oven (pengering)

5. Mixer (Molen)

6. Mesin ujitekan

Pengujian

1. KuatTekan

2. Kuat Tarik Belah

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pemeriksaan Bahan

Gradasi Agrcgat

Gradasi batuan piroklastik merah diameter 5 mm dan 10 mm, untuk

diameter maksimum 10 mm, material terlalu dominan pada dimeter 2 - 1

berdiameter 6 - 7 mm, sehingga

mm, sedangkan kekurangan materialyang

batas atas dan batas bawah 4re9t

gradasi agregat tersebut berada di luar

78

Volurne 2 Nomor 3, Desernber 2006

ringan menurut ASTM C. 330 - 89. Demikian pula gradasi agregat diameter

maksimum 15 mm dan 20 mm, berada di luar syarat batas yang ada.

Nilai modulus halus butir (mhb) batuan piroklastik merah masing- masing adalah 4,286 untuk diameter 5 mm, 5,146 untuk diameter 10 mm,

5,44 untuk diameter 15 mm, dan 4,67 untuk diameter 20mm. Syarat

Modulus halus butir agregat kasar berkisar antara 5-B (Tjokrodimuljo,1996), berdasarkan hal tersebut batuan piroklastik merah yang digunakan dalam

penelitian tidak semuanya memenuhi syarat nilai modulus halus butir.

Sehingga akan berpengaruh terhadap beton yang dihasilkan.

Gradasi yang digunakan pada tiap diameter maksimum untuk batu apung tidak ada yang masuk pada batas atas maupun batas bawah yang

sesuai dengan standard gradasi agregat ringan menurut ASTM C. 330 - 89.

Hasil pemeriksaan batu apung menunjukan modulus halus butir dengan diameter maksimum 5 mm, 10 mm, 15 mm, 20 mm dan 25 mm adalah berturut - turut sebesar 4,61, 4,00, 5,06, 5,16 dan 5,8 dari hasil yang

diperoleh batu apung yang memenuhi syarat modulus kehalusan butiran

sebesar 5 -

8

(Tjokrodimuljo, 1996) hanya terdapat pada diameier

maksimum 15 mm, 20 mrn dan 25_mm.

Analisis gradasi agregat halus yaitu pasir termasuk dalam pada

zone l, pasir pada daerah ini sesuai dengan daerah pasir yang disyaratkan dalam SNI T-09-1993-03. Nilai modulus kehalusan butir pasir sebesar 3,25. Nilai modulus kehalusan tersebut berada diantara nilai prasyarat modulus kehalusan butiran sebesar 1,5 - 3,8 (Tjokrodimuljo, 1996).

Beratienis agregat

Hasil pemeriksaan berat jenis agregat batuan piroklastik merah

pada kondisi jenuh kering permukaan adalah 1,42

Dalam Warniati

sedangkan berat jenis

keringi rata-rata sebesar '1,32 dimana penyerapan rata-rataagregat batuan

piroklastik merah adalah 7,35%

(2003), -berat jenis agregat batu pecah yang

kering

permukaan adalah sebesar 2,58 dan

kering permukaan sebesar 1,23.

batuan piroklastik merah

masing-masing pada

penyerapan rata-

digunakan pada kondisi jenuh

berat jenis batu apung pada kondisi jenuh

Berdasarkan hal tersebut di atas, berat jenis

berada diantara berat jenis batu pecah batu apung

kondisi kering permukaan. Ditinjau dari segi penyerapan,

rata batuan piroklastik merah nilainya terletak diantara penyerapan batu

pecah dan batu apung yang masing-masing nilainya 2,21 % dan 27,O4 o/o.

Pasir yang digunakan

pada penelitian ini

mempunyai berat jenis

kering

yang

-berat jenii

jenuh kering permukaan sebesar2,36 dan berat jenis dalam keadaan

sebesar 2,27 dan penyerapan rata-rata sebesar 3,i2 yo- Berat jenis

digunakan dalam perencanaan dan pencampuran beton adalah

pada kondisijenuh kering permukaan (SSD).

Kadar Lumpur Pasir

Pemeriksaan kadar lumpur pasir dilakukan ekivalen dan didapatkan kadar lumpur sebesar 2,41 o/o

maksimum).

dengan cara endapan

(.

S oto, kadar lumpur

79

Volume 2 Nomot 3, Desember 2tX)6

Kuat Tekan Beton Hubungan antara variasi diameter maksimum agregat kasar dengan

kuat tekan beton Agregat Kasar Batuan Piroklastik Merah dapat dilihat

pada Gambar 1. berikut ini

rs30

Ezs

62A

da

(U

c(L 15

*

3,0

F. -t6

go

5

23,63

Zg,7 24,26 -r

10

15

Diameter Maksimum (mm)

1l

I

Gambar 1. Hubungan antara.diameter maksimum agregat dengan kuat tekan beton

Pada Gambar 1. teriadi peningkatan kuat tekan dari diameter 5 mm ke10 mm, dan 15 mm masing:masing sebesar 0,3 % dan 2,67 %. Nilai kuat tekan tertinggi sebesar 24,26 Mpa, tedadi pada diameter agregat menerus maksimum 15 mm. Agregat dengan diameter 20 mm memiliki pori-pori yang

paling besar, sehingga menghasilkan beton yang lebih lemah.

Kuat tekan Beton dengan

Agregat Kasar Batu Apung maksimum

ditunjukkan pada diameter

dapat dilihat pada gambar 2.

Modulus Elastisitas Modulus elastisitas beton Batuan Piroklastik Merah- Hubungan

antara variasldiameter maksimum menerus dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. menunjukan nilai modulus elastisitas terbesar terjadi

pada ukuran maksimum menerus 15 mm yaknisebesar 19366,26 MPa, hal

kekuatan tekannya yakni kuat tekan tertinggi terjadi pada

maksimum menerUs 15 mm. kemudian nilai modulus elastisitas

maksimum 15 mm yaitu sebesar 7,94 MPa,

ini sama dengan

ukuran

untuk

ukuran agregat maksimum 5 mm, f0 mm, dan 20'mm secara

berturut- turut sebesar 18859,19 MPa, 19286,68 MPa, 18289,26 MPa- Nilai

modulus elastisitas terus meningkat dari diameter maksimum agregat kasar

5 mm, 10 mm, dan 15 mm. Pada diameter 20 mm nilai tersebut turun-

80

K

u

a

t

5

T 4

k

2

n

0

f]}{Pa)

2

1

6.731

I -Y.|U

10 15

Volume 2 Nomor 3, Desember 2006

<616

20

5,458

25

30

Diameter Maksimum (mm)

Gambar 2, Hubungan Kuat Tekan Beton dengan Diameter Agregat

c

o

0)

m

g 6

:0 6'

-cr,L

(tr>

E-

o

J

=o o

1 9600

1 9400

1 9200

1 9000

1 8800

1 8600

1 8400

8200

1

5101520

Diameter Maksimum (mm)

Gambar 3.

Hubungan antara

variasi diameter maksimum menerus dengan

modulus elastisitas beton

Pada pengujian modulus elastisitas

Beton Batu Apung inidiameter

maksimum 25 mm nilai elastisitasnya terus meningkat sampli pada nilai

yang maksimum. Berikut tiampilan nilaj modulus

diameter butir maksimum 5 mm - 25 mm pada Gambar 4.

eiastisitas beton dengan

Dari Gambar 4. terrihat bahwa pada

diameter maksimum 5 mm, 10

sama dengan pengujian

is mm modilus elasiisitas

Mpa).

mm, 15 mm dan 20 mm menunjukkan modelyang kuat tekan akan tetapi pada diameter maksimum

beton terus meningkat mencapai nilai tertinggi (6.691,542

Apabila digambarkan hubungan antara variasi diameier maksimum

menerus dengan kuat tarik - belah , maka dapat dilihat pada Gambar s.

Vdume 2 Nomor 3, Desember 2006

g

'in $

m

E

9

!

8000

7000

6000

4OOO

3000

2000

1000

o olo2A

I

550a.18

I

I

l

I

--.-

Diameter Maksimum (mm)

Gambar 4. Hubungan Modulus kasar batu aPung

Elastisitas dengan Diameter Maksimum Agregat

05101520

rui

Diameter Maksimum Menerus Agregat Kasar (mm) I

Gambar5.Hubunganantaravariasidiametermaksimummenerusdengankuat_

tarik belah beton batu piroklastik merah'

BetoiPiroklastikMerah,dengandiametermaksimummenerus5

2,46 MPa,3,01

kuat tarik _ #r"n paling

rendah yaitu sebesar 1,79 MPa, Hal ini

-

dengan Xekuatan teicannla, diameier maksimum menerus agregat

dan kuat tarik-belah terendah'

mm, 10 mm, 15 mm berturut-turut menghasilkan kuat tark - belah beton

MPa, dan 2'83 MPa, dan untuk diameter menerus

;b;;

20 mm,

oru"i

f"oiZO mir menghasilkan kuat iekan

-- p"ngujian-

kuat tarik

menggunakJn-agregat ringan

Oiamlier maksimumdapat

belah Beton Batu Apung dengan

batu apung dengan berbagai macam ukuran

dilihat pada Gambar 6'

82

Volume 2 Nomor 3, Desember 2006

1

^

0.9

0.8

g

€ot

!

o-u

,9 o.s

r!

c

0.4

0.3

0.2

t<

;

6

5

0.1

vo

{.782

s2

o 874

4.ee

0.81 7

15

Diameter Maksim .,n (mm)

Gambar 6.

Hubungan Kuat Tarik Belah Beton dengan Diameter Maksimum

Agregat

pada diameter maksimum 20 mm.selain itu

ttlai slump yang diperoleh pada pengujian kuat tarik belah pada diameter

rnaksimum 20 mm sesuai dengan yang disyaratkan yaitu sebesar 7.5 cm

beton terpenuhi yang berarti pada saat

sehingga tingkat kelecakan adukan

oengerjaannya lebih mudah dilakukan dan

terpenuhi. sehingga pada diameter maksimum 20

aelah yang paling tinggidibanding dengan diameter maksimum

mm mengalami kuat tarik

kepadatan beton cukup

Kuat tarik belah terjadi

lainnya.

Pada diameter

maksimum 25 mengalami kecenderungan butir -

dari campuran adukan beton (slgregafion)

maksimum 25 mm, tekstur permutcJannya

agregat dari adukan beton berakibat

mengeras, keadaan ini berakibat

outir agregat memisahkan diri Jisebabkan oleh pada diameter

semakin kasar sehingga pemisahan

{urang baik terhadap betonnya setelah

mda penurunan kembali kuat tarik belah pada beton,

KESIMPULAN DAN SARAN

(esimpulan

"

:

:

Berdasarkan pembahasan

dapat disimpurkan sebagai berikut :

Dimensi agregat maksimum 1s mm, baik agregit kasar

piroklastik merah

batuan

maupun batu apung meng-haJittan kuat tekan

piroklastik merah tertinggi

19366,26 Mpa- Modulus

diameter

rnaksimum, yaitu 24,26 Mpa dan 7,T Mpa.

Modulus elastisitas untuk beton batuan

ciperoleh pada ukuran maksimum 15 mm

elastisitas beton

batu apung tertinggi diperoleh pada

sebesarOOgt.Sa2 Mpa.

maksimum 25 mm yaitu

r-lasil pengujian kuat tarik belah untuk beton

dengan agregat kasar

dibanolng[an beton

batuan piroklastik mempunyai tren yang teratur bila

Dah,r apung yang cenderung naik-turun tidak beraturan.

83

Volume 2 Nomor 3. Desember 2006

Saran

1. Karena beton ringan yang dihasilkan dengan agregat batuan piroklastik merah lebih baik daripada dengan batu apung, perlu adanya penelitian

lanjutan dengan veriabel-variabel bebas yang berbeda.

Diperlukan uji tambahan seperti uji kimia, sehingga informasi mengenai

batuan piroklastik merah dapat lebih lengkap.

2.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 199O, Tata Cara Pembuatan Campuran Beton Normal, SK SNI T-15-1990-03. Departemen Pekerjaan Umum, diterbitkan oleh Yayasan

LPBM. Bandung

Anonim, 1993. Tata Cara Pembuatan Campuran Beton Ringan

Dengan Agregat Ringan, SK SNI T-09-1993-03. Departemen Pekerjaan

Umum, diterbitkan oleh Yayasan LPBM. Bandung

Achyani, Nurul, 2O03, Pengaruh perendaman terhadap kuat tekan dan kuat taikbelah beton dengan agregat kasar batuan piroklastik merah,

Skripsi,

Fakultas Teknik, Universitas Mataram, Mataram

Anggraini, 1., 2AO4, Pengaruh Faktor Air Semen Terhadap Kuat

Tekan Dan Kuat Tarik - Belah Beton Beragregat Kasar Batuan Piroklastik

Merah, Skripsi, Jurusan Teknik Sipil, FT Unram, Mataram

Erlianingsih, Handriany. 2003, Pengaruh Komposisi agregat batuan

Piroklastik Merah terhadap Kuat Tekan Beton, Skripsi, Fakultas Teknik,

Universitas Mataram, Mataram

Sentana U.M.l, 2003, Pengaruh Ukunn Butiran Maksimum Agregat

Kasar Batu Pecah Dan Kerikil 20mm Dan 40mm Terhadap Kuat Tekan Beton (Mengacu Pada SK- SN, f-t5t199h03), Skripsi. Fakultas Teknik

Universitas Mataram, Mataram

Tiokrodimuljo,

Warniati, S, 2003, Pengaruh Faktor Air Semen Dengan Campuran

Batu Apung Terhadap Kuat Tekan Dan Kuat Tarik Belah Beton, Skripsi.

K., 1996, Teknologi Beton, Nafiri, Yogyakarta

Fakultas Teknik Universitas Mataram, Mataram