Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Diagnosis laboratorium penyakit infeksi dimulai saat pengambilan spesimen. Labor
atorium akan mengerjakan apa yang diminta dokter yang merawat pasien. Peran pera
wat di rumah sakit merupakan kunci keberhasilan pemeriksaan laboratorium, karen
a pengumpulan dan pengambilan spesimen sangat tergantung cara, waktu, jumlah, se
rta metode pengirimannya.
Untuk melakukan diagnosis mikrobilogi antara lain dapat dilakukan dengan test Im
unoserologi dan test biomolekular untuk bakteri.
Imunoserologi adalah bidang ilmu kedokteran yang mempelajari identifikasi terhad
ap antibodi yaitu protein yang dibuat dari sel darah putih yang berespon terhada
pantigen, protein asing di dalam tubuh, investigasi masalah yang berhubungan den
gan sistem kekebalan tubuh seperti penyakit autoimunitas yaitu ketika sistem kek
ebalan tubuh berubah melawan jaringan tubuh sendiri dan kelainan imunodefisiensi
yaitu ketika sistem kekebalan tubuh kurang aktif dan mempelajari kecocokkan org
an untuk transplantasi. Untuk pemeriksaan bakteri Test imunoserologi yang biasa
digunakan adalah test Widal.
Sedangkan untuk pemeriksaan biomolekulernya biasanya dilakukan dengan teknik PCR
. PCR (Polymerase Chain Reaction) merupakan metode untuk amplifikasi potongan DN
A secara in vitro pada daerah spesifik yang dibatasi oleh dua buah primer oligon
ukleotida. Teknik ini mampu memperbanyak sebuah urutan 105-106-kali lipat dari j
umlah nanogram dari DNA template. Proses ini mirip dengan proses replikasi DNA s
ecara in vivo yang bersifat semi konservatif. Polymerase Chain Reaction (PCR) in
i dapat digunakan untuk amplifikasi urutan nukleotida, menentukan kondisi urutan
nukleotida suatu DNA yang mengalami mutasi, pada bidang kedokteran forensik ser
ta melacak asal-usul sesorang dengan membandingkan finger print
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui dasar-dasar diagnosis mikrobilogi
2. Untuk mengetahui test Imunoserologi untuk bakteri
3. Untuk mengetahui test biomolekuler untuk bakteri
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Dasar-Dasar Diagnosis Mikrobilogi
Diagnosis laboratorium penyakit infeksi dimulai saat pengambilan spesimen. Labor
atorium akan mengerjakan apa yang diminta dokter yang merawat pasien. Peran pera
wat di rumah sakit merupakan kunci keberhasilan pemeriksaan laboratorium, karen
a pengumpulan dan pengambilan spesimen sangat tergantung cara, waktu, jumlah, se
rta metode pengirimannya.
- Seleksi spesimen
Spesimen yang dapat dikirim ke laboratorium untuk diisolasi dan diidentifikasi c
ontohnya adalah darah, urine, tinja, sputum dan nanah dari luka atau luka opera
si.
- Waktu pengambilan
Pengetahuan tentang jalannya penyakit dan pengamatan terhadap gejala penyakit me
mbantu menentukan kapan spesimen harus diambil. Pada umumnya paling baik pada sa
at gejala sedang menghebat misalnya saat demam tinggi. Spesimen untuk biakan/ ku
ltur sebaiknya diambil sebelum pemberian antibiotik.
- Pengumpulan spesimen
Yang harus diperhatikan adalah sterilitas kerja, jumlah spesimen yang dibutuhkan
, spesimen yang representatif untuk infeksi tersebut dan cepatnya pemeriksaan.
- Penanganan spesimen
Spesimen yang dipilih dan dikirim ke laboratorium untuk dibiakkan , mengandung k
uman hidup yang patogen. Setiap spesimen harus dipandang sebagai sumber penyakit
bagi yang menanganinya.
Fungsi laboratorium
1. Menetapkan / memastikan penyebab infeksi dengan cara isolasi dan identif
ikasi agen nya
2. Melakukan uji sensitivitas/ kepekaan antibiotik terhadap organismenya
3. Melakukan uji serologis untuk mengetahui respon antibodi spesifiknya seh
ingga pengobatan dapat terarah dan tepat untuk penyakitnya
Pemeriksaan laboratorium untuk diagnosis mikrobiologi dapat di gambarkan sebagai
berikut :

Diagnosis laboratorium penyakit infeksi :
1. Bacteriologic Approach
a. Memilih spesimen klinik yang sesuai, untuk ini perlu memahami patog
enesis dari infeksinya
b. Pengambilan spesimen dengan benar untuk menghindari terkontaminasi d
engan flora normal
c. Pengiriman spesimen secepatnya ke Lab atau di simpan di lemari es.
d. Informasi klinis yang diperlukan untuk memilih metode/prosedur yang tepa
t
Umumnya bacteriologic laboratory work dibagi dalam 3 tahap yaitu observasi sedi
aan yang diwarnai secara mikroskopis (direct microscopic exam.), memperoleh
biakan murni (pure culture) dari mikroorganisme dengan membiakkan spes
imen klinik di mediaIdentifikasi isolat, antara lain dengan :
Uji biokimia
Pertumbuhan di media selektif
Aglutinasi ,co-aglutinasi, latex aglutinasi
Immunofluorescence
DNA probes
Pemeriksaan Awal
Direct microscopic examination : - Pemeriksaan sediaan basah (wet mount)
Pemeriksaan sediaan yang di fiksasi dan diwarnai: pewarnaan gram, tahan asam dan
antibody test
2. Immunologic (serologic) approach
- Tahap-Tahap Diagnosis Laboratorium
1. Pengambilan Spesimen klinis
2. Pemeriksaan sediaan yang diwarnai dengan Gram Z-N, dll
3. Pembiakan spesimen klinis di media tertentu untuk mendapatkan biakan mur
ni (isolated colony)
4. Identifikasi isolat
5. Antibiotic susceptibility tests
2.2 Test Imunoserologi
Imunoserologi adalah bidang ilmu kedokteran yang mempelajari identifikasi terhad
ap antibodi yaitu protein yang dibuat dari sel darah putih yang berespon terhada
pantigen, protein asing di dalam tubuh, investigasi masalah yang berhubungan den
gan sistem kekebalan tubuh seperti penyakit autoimunitas yaitu ketika sistem kek
ebalan tubuh berubah melawan jaringan tubuh sendiri dan kelainan imunodefisiensi
yaitu ketika sistem kekebalan tubuh kurang aktif dan mempelajari kecocokkan org
an untuk transplantasi. Untuk pemeriksaan bakteri Test imunoserologi yang biasa
digunakan adalah test Widal.
2.2.1 Pemeriksaan Imunoserologi Widal
Uji widal positif artinya ada zat anti (antibodi) terhadap kuman Salmonella, men
unjukkan bahwa seseorang pernah kontak/terinfeksi dengan kuman Salmonella tipe t
ertentu Beberapa hal yang sering disalahartikan :
1. Pemeriksaan widal positif dianggap ada kuman dalam tubuh, hal ini penger
tian yang salah. Uji widal hanya menunjukkan adanya antibodi terhadap kuman Salm
onella.
2. Pemeriksaan widal yang diulang setelah pengobatan dan menunjukkan hasil
positif dianggap masih menderita tifus, ini juga pengertian yang salah.
Setelah seseorang menderita tifus dan mendapat pengobatan, hasil uji widal tetap
positif untuk waktu yang lama sehingga uji widal tidak dapat digunakan sebagai
acuan untuk menyatakan kesembuhan.
Hasil ulang pemeriksaan widal positif setelah mendapat pengobatan tifus, bukan i
ndikasi untuk mengulang pengobatan bilamana tidak lagi didapatkan gejala yang se
suai. Hasil uji negatif dianggap tidak menderita tifus.
Uji widal umumnya menunjukkan hasil positif 5 hari atau lebih setelah infeksi. K
arena itu bila infeksi baru berlangsung beberapa hari, sering kali hasilnya masi
h negatif dan baru akan positif bilamana pemeriksaan diulang. Dengan demikian,ha
sil uji widal negatif,terutama pada beberapa hari pertama demam belum dapat meny
ingkirkan kemungkinan tifus.
Untuk menentukan seseorang menderita demam tifoid :
1. Tetap harus didasarkan adanya gejala yang sesuai dengan penyakit tifus.
2. Uji widal hanya sebagai pemeriksaan yang menunjang diagnosis.
Seorang tanpa gejala, dengan uji widal positif tidak dapat dikatakan menderita t
ifus. Memang terdapat kesulitan dalam interpretasi hasil uji widal karena kita t
inggal di daerah endemik,yang mana sebagian besar populasi sehat juga pernah kon
tak atau terinfeksi, sehingga menunjukkan hasil uji widal positif. Hasil survei
pada orang sehat di Jakarta pada 2006 menunjukkan hasil uji widal positif pada 7
8% populasi orang dewasa. Untuk itu perlu kecermatan dan kehatihatian dalam inte
rpretasi hasil pemeriksaan widal.
2.2.2 Penilaian
Titer widal biasanya angka kelipatan : 1/32 , 1/64 , 1/160 , 1/320 , 1/640.
- Peningkatan titer uji Widal 4 x (selama 2-3 minggu) : dinyatakan (+).
- Titer 1/160 : masih dilihat dulu dalam 1 minggu kedepan, apakah ada kena
ikan titer. Jika ada maka dinyatakan (+).
- Jika 1 x pemeriksaan langsung 1/320 atau 1/640, langsung dinyatakan (+)
pada pasien dengan gejala klinis khas.
2.2.3 Dasar Uji Widal
Antigen O ( somatic / badan ) Antigen H ( flagel/semacam ekor sebagai alat gerak
) Jika masuk ke dalam tubuh kita, maka timbul reaksi antigen-antibodi. ANTIBODI
terhadap Antigen O : setelah 6 sampai 8 hari dari awal penyakit. Antigen H : 10
-12 hari dari awal penyakit. Uji ini memiliki tingkat sensitivitas dan spesifita
s sedang (moderate). Pada kultur yang terbukti positif, uji Widal yang menunjukk
an nilai negatif bisa mencapai 30 persen. Beberapa keterbatasan uji Widal ini ad
alah:
1. Negatif Palsu
Pemberian antibiotika yang dilakukan sebelumnya (ini kejadian paling sering di n
egara kita, demam > kasih antibiotika > nggak sembuh dalam 5 hari > tes Widal) meng
halangi respon antibodi. Padahal sebenarnya bisa positif jika dilakukan kultur d
arah.
2. Positif Palsu
Beberapa jenis serotipe Salmonella lainnya (misalnya S. paratyphi A, B, C) memil
iki antigen O dan H juga, sehingga menimbulkan reaksi silang dengan jenis bakter
i lainnya, dan bisa menimbulkan hasil positif palsu (false positive). Padahal se
benarnya yang positif kuman non S. typhi (bukan tifoid).
- Beberapa penyakit lainnya : malaria, tetanus, sirosis, dll.
2.3 Test Biomolekuler
Pemeriksaan biomolekuler untuk diagnosis bakteri biasanya dilakukan dengan tekni
k PCR. PCR (Polymerase Chain Reaction) merupakan metode untuk amplifikasi potong
an DNA secara in vitro pada daerah spesifik yang dibatasi oleh dua buah primer o
ligonukleotida. Teknik ini mampu memperbanyak sebuah urutan 105-106-kali lipat d
ari jumlah nanogram dari DNA template. Proses ini mirip dengan proses replikasi
DNA secara in vivo yang bersifat semi konservatif. Polymerase Chain Reaction (PC
R) ini dapat digunakan untuk amplifikasi urutan nukleotida, menentukan kondisi u
rutan nukleotida suatu DNA yang mengalami mutasi, pada bidang kedokteran forensi
k serta melacak asal-usul sesorang dengan membandingkan finger print. Tahap tahap
PCR yakni
a. Denaturasi
Selama proses denaturasi, double stranded DNA akan membuka menjadi single strand
ed DNA. Hal ini karena suhu tinggi menyebabkan putusnya ikatan hidrogen diantara
basa nitrogen yang komplemen. Tahap ini berlangsung sekitar 1 hingga 2 menit. S
eluruh reaksi enzim tidak berjalan, misalnya reaksi polimerisasi pada siklus yan
g sebelumnya. Denaturasi biasanya dilakukan antara suhu 90 oC 95 oC.
b. Penempelan primer
Pada tahap penempelan primer (annealing), primer akan menuju daerah yang spesifi
k yang komplemen dengan urutan primer. Pada proses annealing ini, ikatan hidroge
n akan terbentuk antara primer dengan urutan komplemen pada template selama 1-2
menit. Proses ini biasanya dilakukan pada suhu 50 oC 60 oC. Selanjutnya, DNA pol
ymerase akan berikatan sehingga ikatan hidrogen tersebut akan menjadi sangat kua
t dan tidak akan putus kembali apabila dilakukan reaksi polimerisasi selanjutnya
, misalnya pada 72 oC.
c. Reaksi polimerisasi (extension)
Reaksi polimerisasi atau perpanjangan rantai terjadi pada suhu 72 oC. Primer yan
g telah menempel tadi akan mengalami perpanjangan pada sisi 3nya dengan penambaha
n dNTP yang komplemen dengan template oleh DNA polimerase. Durasi tahap ini bias
anya 1 menit.
2.3.1 Macam-Macam PCR
Adapun macam-macam tipe dan modifikasi dari PCR adalah sebagai berikut:
a. Real-Time PCR
Real-Time PCR (Quantitative Real time Polymerase Chain Reaction atau Q-PCR) meru
pakan suatu metode analisa yang dikembangkan dari reaksi PCR. Teknik ini digunak
an untuk mengamplifikasi (memperbanyak) sekaligus kuantifikasi (menghitung) juml
ah target molekul DNA hasil amplifikasi tersebut. Real time PCR memungkinkan dil
alukan deteksi dan kuantifikasi (sebagai nilai absolut dari hasil perbanyakan DN
A atau jumlah relatif setelah dinormalisasi terhadap input DNA atau gen-gen peno
rmal yang ditambahkan) sekaligus terhadap sequens spesifik dari sampel DNA yang
dianalisis. Pada analisa PCR konversional deteksi keberadaan DNA dilakukan pada
akhir reaksi dan pengamatan keberadaan DNA hasil amplifikasi dilakukan di gel ag
arose setelah dilakukan proses elektroforesis. Sedangkan analisa menggunakan Rea
l Time PCR memungkinkan untuk dilakukan pengamatan pada saat reaksi berlangsung,
keberadaan DNA hasil amplifikasi dapat diamati pada grafik yang muncul sebagai
hasil akumulasi fluoresensi dari probe(penanda). Pada Real Time PCR pengamatan h
asil tidak lagi membutuhkan tahap elektroforensis, sehingga tidak lagi dibutuhka
n gel agarose dan penggunaan Ethidium Bromide (EtBr) yang merupakan senyawa kars
inogenik. Cara kerja dari Real Time mengikuti prinsip umum reaksi PCR, utamanya
adalah DNA yang telah diamplifikasi dihitung setelah diakumulasikan dalam reaksi
secara real time sesudah setiap siklus amplifikasi selesai.
b. Reverse Transcriptase-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR)
Reverse Transcriptase-PCR juga sering dikenal dengan kinetic polymerase chain r
eaction. RT-PCR merupakan modifikasi dari PCR, dimana yang diamplifikasi berupa
m-RNA. Pada metode PCR biasa sumber sampel yang digunakan adalah DNA yang diekst
rak dari sel atau jaringan. Pada RT-PCR sampel yang digunakan bukan DNA melainka
n RNA. Sebagaimana kita ketahui, RNA merupakan asam ribonukleat rantai tunggal,
sedangkan DNA adalah asam ribonuleat rantai ganda. Ciri khas RNA adalah tidak te
rdapat gugus basa timin (T) melainkan diganti oleh urasil (U). Proses RT PCR dib
antu oleh enzim Reverse Transcriptase, karena hanya enzim jenis ini yang dapat m
ensintesis DNA dengan cetakan RNA karena polimerase DNA hanya dapat mensintesis
dengan menggunakan cetakan DNA. Pertama-tama RNA diubah dulu menjadi DNA dengan
menggunkan enzime reverse transcriptase yang disebut dengan komplemen DNA (cDNA)
. dalam hal ini disintesis cDNA dari perpasangan anatar gugus basa U dan A sert
a G dan C. Dari cDNA inilah dilipat gandakan segemn DNA yang mirip urutan basa n
ukleotidanya dengan RNA, hanya U diganti kembali ke T. Karena adanya penambahan
proses sintesis cDNA, tahapan proses PCR bertambah pula. Tahap pertama terjadi p
roses anneling untuk memasangkan primer untuk memperpanjang segmen cDNA. Setelah
terbentuk segmen cDNA ini, baru kemudian masuk kepada proses PCR biasa. RT-PCR
peting digunakan sebagai alat diagnostik untuk mendeteksi dan menentukan serotip
e virus, sebagai informasi untuk studi epidemiologi.
c. Nested PCR
Nested PCR adalah suatu teknik perbanyakan (replikasi) sampel DNA menggunakan b
antuan enzim DNA polymerase yang menggunakan dua pasang primer untuk mengamplifi
kasi fragmen. Dengan menggunakan nested PCR, jika ada fragmen yang salah diampl
ifikasi maka kemungkinan bagian tersebut diamplifikasi untuk kedua kalinya oleh
primer yang kedua. Dengan demikian, nested PCR adalah PCR yang sangat spesifik d
alam melakukan amplifikasi. Nested PCR dan PCR biasa berguna untuk memperbanyak
fragmen DNA tertentu dalam jumlah banyak. Dimana pada nested PCR digunakan 2 pas
ang primer sedangkan pada PCR biasa hanya menggunakan 1 pasang primer. Oleh kare
na itu hasil fragmen DNA dari nested PCR lebih spesifik (lebih pendek) dibanding
kan dengan PCR biasa. Waktu yang diperlukan dalam reaksi nested PCR lebih lama d
aripada PCR biasa karena pada nested PCR dilakukan 2 kali reaksi PCR sedangkan p
ada PCR biasa hanya 1 kali reaksi PCR. Selain itu, keuntungan nested PCR adalah
meminimalkan kesalahan amplifikasi gen dengan menggunakan 2 pasang primer.
Mekanisme kerja dari nested PCR sendiri yakni pada Fase Denaturasi, Pertama-tama
DNA mengalami denaturasi lalu memasuki fase penempelan. Fase Penempelan, sepasa
ng primer pertama melekat di kedua utas tunggal DNA dan mengamplifikasi DNA di a
ntara kedua primer tersebut dan terbentuklah produk PCR pertama. Fase pemanjanga
n, produk PCR pertama tersebut dijalankan pada proses PCR kedua di mana pasangan
primer kedua (nested primer) akan mengenali sekuen DNA spesifik yang berada di
dalam fragmen produk PCR pertama dan memulai amplifikasi bagian di antara kedua
primer tersebut. Hasilnya adalah sekuens DNA yang lebih pendek daripada sekuens
DNA hasil PCR pertama.
d. Multiplex-PCR
Multiplex PCR merupakan beberapa set primer dalam campuran PCR tunggal untuk men
ghasilkan amplikon dari berbagai ukuran yang spesifik untuk sekuens DNA yang ber
beda. Dengan penargetan gen sekaligus, informasi tambahan dapat diperoleh dari l
ari-tes tunggal yang tidak akan membutuhkan beberapa kali reagen dan lebih banya
k waktu untuk melakukan. temperatur Annealing untuk masing-masing set primer har
us dioptimalkan untuk bekerja dengan benar dalam reaksi tunggal, dan ukuran ampl
ikon. Artinya, panjangnya pasangan basa harus berbeda cukup untuk membentuk band
yang berbeda ketika divisualisasikan dengan elektroforesis gel .
e. PCR-ELISA
PCR-ELISA merupakan metode yang digunakan untuk menangkap asam nukleat yang meni
ru prinsip dari enzim linked immunosorbant yang terkait. Dimana dalam sebuah pen
gujian hibridisasi hasil produk dari PCR akan terdeteksi dengan metode ini. Deng
an metode inilah dapat dilakukan pengukuran sequen internal pada produk PCR. Met
ode ini lebih dipilih karena lebih murah dibandingkan metode Real Time PCR.
PCR-ELISA telah digunakan sejak akhir 1980-an dan telah berkembang untuk mendete
ksi sequen tertentu dalam produk PCR. Meskipun banyak metode yang tersedia untuk
mendeteksi sequen tersebut, ELISA PCR berguna untuk mendeteksi dan membedakan a
ntara beberapa sasaran dari sequen yang diinginkan. ELISA PCR ini juga berguna u
ntuk screening beberapa sampel, terutama bila jumlah sampel tidak menjamin. Sala
h satu aspek yang paling berguna dari PCR-ELISA adalah kemampuannya dalam membed
akan antara produk reaksi perubahan polimerase yang dihasilkan dari seperangkat
primer yang mengandung variasi sequen, yaitu sequen yang bervariasi antar primer
.
2.3.2 RESUME JURNAL
A review of RT-PCR technologies used in veterinary virology and disease control:
Sensitive and specific diagnosis of five livestock diseases notifiable to the W
orld Organisation for Animal Health
Real-Time, reverse transcription polymerase chain reaction (rRT-PCR) telah menja
di salah satu metode yang paling banyak digunakan di bidang diagnostik molekuler
dan penelitian. Potensi format ini untuk memberikan deteksi yang sensitif, spes
ifik, cepat dan kuantifikasi virus RNA telah membuatnya menjadi alat yang sangat
diperlukan untuk diagnostik virus patogen yang penting bagi manusia dan hewan.
Integrasi dari tes ini yakni platform liquid otomatis untuk meningkatkan tingkat
ekstraksi asam nukleat dan standardisasi dari sampel serta menurunkan potensi k
ontaminasi silang.
Kehandalan dari tes ini dapat lebih ditingkatkan dengan menggunakan kontrol inte
rnal untuk memvalidasi hasil tes. Berdasarkan karakteristik menguntungkan ini, b
anyak sistem kuat rRT-PCRs telah dikembangkan dan divalidasi untuk penyakit epiz
ootic penting pada ternak. Dalam jurnal ini, meninjau tes rRT-PCR yang telah dik
embangkan untuk mendeteksi virus RNA lima penyebab penyakit yang menaati untuk o
rganisasi dunia untuk hewan Kesehatan (OIE), yaitu: kaki - dan - penyakit mulut,
Hog cholera, bluetongue penyakit, flu dan penyakit Newcastle. Kinerja tes ini u
ntuk virus diagnostik dan pengendalian penyakit dan prospek untuk meningkatkan s
trategi di masa depan dibahas.
Sumber:
Hoffmann, et al. 2009. A review of RT-PCR technologies used in veterinary virolo
gy and disease control: Sensitive and specific diagnosis of five livestock disea
ses notifiable to the World Organisation for Animal Health. Available from jour
nal homepage: www.elsevier.com/locat e/vetmic
USE OF PCR FOR DIRECT DETECTION OF CAMPYLOBACTER SPECIES IN BOVINE FECES
Jurnal ini membahas mengenai penggunaan PCR untuk langsung mendeteksi dan membed
akan spesies Campylobacter dalam kotoran sapi tanpa pengayaan uraniumnya. Inhibi
tor yang ada dalam tinja adalah rintangan utama untuk menggunakan PCR dalam mend
eteksi mikroorganisme. Metode mini kit ternyata tidak manjur untuk ekstraksi, se
perti yang ditetapkan oleh amplifikasi positif dari internal kontrol DNA ditamba
hkan ke kotoran sapi sebelum ekstraksi. Campylobacter coli, C. janin, C. hyointe
stinalis, dan C. jejuni tersebut diletakkan atau seminested multiplex PCR, yang
dideteksi pada semua sampel kotoran, kemudian diinokulasi di 104 CFU g-1 dan 50
hingga 83 % dari sampel diinokulasi di 103 CFU g-1 terbukti positif. Pada 102 CF
U g-1 C. fetus, C. hyointestinalis, and C. jejuni ( 17 hingga 50 persen dari sam
pel ) selain C. coli terdeteksi oleh PCR. Dari kotoran sapi uninoculated, dipili
h secara acak sebanyak 196 Campylobacter diisolasi ditemukan di empat yang umum
digunakan di tiga media isolasi dalam inkubasi.
Kelompok yang paling sering ditemukan adalah C. jejuni ( 152) dan C. lanienae (
42), tapi mengisolasi C. Janin. Janin, Arcobacter butzleri, dan. Skirrowii juga
ditemukan. Frekuensi isolasi Campylobacters cukup bervariasi terpantau di antara
empat media dan tiga suhu inkubasi yang diujikan. Dengan primer genus-specific,
Campylobacter DNA itu terdeteksi di 75 persen sampel kotoran, terjadi 8 persen
peningkatan dibandingkan dengan yang diperoleh dari sensitivitas isolasi mikrobi
ologi di empat media dan tiga suhu inkubasi yang diujikan. Dengan primer bersara
ng, C. jejuni dan C. lanienae tersebut yang masing-masing terdeteksi 25 dan 67 p
ersen dari sampel. Tidak ada DNA yang terlihat baik dari C. coli, C. janin, atau
C. hyointestinalis dideteksi pada kotoran sapi yang tidak diinokulasi. PCR lebi
h sensitif dari isolasi mikrobiologi pada media untuk mendeteksi C. lanienae ( 1
7 % ) tetapi tidak C. jejuni.
Campylobacters yang beragam dan pengembangan langsung PCR tidak hanya akan menin
gkatkan pemahaman tentang spesies Campylobacter yang beragam dan frekuensi kemun
culannya dalam kotoran, tetapi juga akan meningkatkan pengetahuan tentang peran
mereka dalam saluran pencernaan ternak dan dari sejumlah faktor yang mempengaruh
i.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Untuk melakukan diagnosis mikrobilogi antara lain dapat dilakukan dengan test Im
unoserologi dan test biomolekular untuk bakteri.
Imunoserologi adalah bidang ilmu kedokteran yang mempelajari identifikasi terhad
ap antibodi yaitu protein yang dibuat dari sel darah putih yang berespon terhada
pantigen, protein asing di dalam tubuh, investigasi masalah yang berhubungan den
gan sistem kekebalan tubuh seperti penyakit autoimunitas yaitu ketika sistem kek
ebalan tubuh berubah melawan jaringan tubuh sendiri dan kelainan imunodefisiensi
yaitu ketika sistem kekebalan tubuh kurang aktif dan mempelajari kecocokkan org
an untuk transplantasi. Untuk pemeriksaan bakteri Test imunoserologi yang biasa
digunakan adalah test Widal. Sedangkan untuk pemeriksaan biomolekulernya biasany
a dilakukan dengan teknik PCR. PCR (Polymerase Chain Reaction) merupakan metode
untuk amplifikasi potongan DNA secara in vitro pada daerah spesifik yang dibatas
i oleh dua buah primer oligonukleotida.