Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

1. Pengertian
Ileus adalah gangguan aliran normal isi usus sepanjang usus. Obstruksi
usus dapat akut atau kronik, partial atau total. Sebagian besar obstruksi
mengenai usus halus. Obstruksi total usus halus merupakan keadaan gawat
yang memerlukan diagnosis dini dan tindakan pembedahan darurat bila
penderita ingin tetap hidup. (Nurarif & Kusuma, !"#$
%ipe &tipe ileus '
a. (ekanis (Ileus Obstruktif$
Suatu penyebab fisik penyumbat usus dan tidak dapat diatasi oleh
peristalti). Ileus obstruktif ini dapat akut seperti pada hernia stragulata
atau kronis akibat karsinoma yang melingkari. (isalnya intusepsi,
tumor polipoid dan neoplasma stenosis, obstruksi batu empedu,
striktura, perlengketan, hernia dan abses.
b. Neurogenik * +ungsional (Ileus paralitik$
Obstruksi yang terjadi karena suplai saraf otonom mengalami paralisis
dan peristalti) usus terhenti sehingga usus tidak mampu mendorong isi
sepanjang usus.,ontohnya amilodosis, distropi otot, gangguan
endokrin seperti diabetes mellitus, atau gangguan neurologis seperti
penyakit -arkinson.
2. Etiologi
a. Adhesi (perlekatan usus halus$ merupakan penyebab tersering ileus
obstruktif, sekitar .!/0!1 dari semua kasus. 2dhesi bisa disebabkan
oleh riwayat operasi intraabdominal sebelumnya atau proses inflamasi
intraabdominal. Obstruksi yang disebabkan oleh adhesi berkembang
sekitar .1 dari pasien yang mengalami operasi abdomen dalam
hidupnya. -erlengketan kongenital juga dapat menimbulkan ileus
obstruktif di dalam masa anak/anak.
b. Hernia inkarserata eksternal ( inguinal, femoral, umbilikal,
insisional, atau parastomal $ merupakan yang terbanyak kedua
sebagai penyebab ileus obstruktif, dan merupakan penyebab tersering
pada pasien yang tidak mempunyai riwayat operasi abdomen. 3ernia
interna (paraduodenal, ke)a)atan mesenteri)us, dan hernia foramen
4inslow$ juga bisa menyebabkan hernia.
). Neoplasma.Tumor primer usus halus dapat menyebabkan obstruksi
intralumen, sedangkan tumor metastase atau tumor intra abdominal
dapat menyebabkan obstruksi melalui kompresi eksternal.
d. ntususepsi usus halus menimbulkan obstruksi dan iskhemia terhadap
bagian usus yang mengalami intususepsi. %umor, polip, atau
pembesaran limphanodus mesenteri)us dapat sebagai petunjuk awal
adanya intususepsi.
e. Pen!akit "rohn dapat menyebabkan obstruksi sekunder sampai
inflamasi akut selama masa infeksi atau karena striktur yang kronik.
f. #ol$ulus sering disebabkan oleh adhesi atau kelainan kongenital,
seperti malrotasi usus. 5ol6ulus lebih sering sebagai penyebab
obstruksi usus besar.
g. %atu empedu !ang masuk ke ileus. Inflamasi yang berat
dari kantong empedu menyebabkan fistul dari saluran empedu ke
duodenum atau usus halus yang menyebabkan batu empedu masuk ke
traktus gastrointestinal. 7atu empedu yang besar dapat terjepit di usus
halus, umumnya pada bagian ileum terminal atau katup ileo)ae)al
yang menyebabkan obstruksi.
i. Penekanan eksternal oleh tumor, abses, hematoma, intususepsi, atau
penumpukan )airan.
j. Di$ertikulum &e'kel yang bisa menyebabkan 6ol6ulus, intususepsi,
atau hernia 8ittre.
k. (i)rosis kistik dapat menyebabkan obstruksi parsial kronik pada
ileum distalis dan kolon kanan sebagai akibat adanya benda seperti
mekonium.
*. Pato+isiologi
-ada obstruksi mekanik, usus bagian proksimal mengalami distensi
akibat adanya gas*udara dan air yang berasal dari lambung, usus halus,
pankreas, dan sekresi biliary. ,airan yang terperangkap di dalam usus
halus ditarik oleh sirkulasi darah dan sebagian ke interstisial, dan banyak
yang dimuntahkan keluar sehingga akan memperburuk keadaan pasien
akibat kehilangan )airan dan kekurangan elektrolit. 9ika terjadi
hipo6olemia mungkin akan berakibat fatal.
Obstruksi yang berlangsung lama mungkin akan mempengaruhi
pembuluh darah 6ena, dan segmen usus yang terpengaruh akan menjadi
edema, anoksia dan iskemia pada jaringan yang terlokalisir, nekrosis,
perforasi yang akan mengarah ke peritonitis, dan kematian. Septikemia
mungkin dapat terjadi pada pasien sebagai akibat dari perkembangbiakan
kuman anaerob dan aerob di dalam lumen. :sus yang terletak di bawah
obstruksi mungkin akan mengalami kolaps dan kosong.
Se)ara umum, pada obstruksi tingkat tinggi (obstruksi letak
tinggi*obstruksi usus halus$, semakin sedikit distensi dan semakin )epat
mun)ulnya muntah. ;an sebaliknya, pada pasien dengan obstruksi letak
rendah (obstruksi usus besar$, distensi setinggi pusat abdomen mungkin
dapat dijumpai, dan muntah pada umumnya mun)ul terakhir sebab
diperlukan banyak waktu untuk mengisi semua lumen usus. Kolik
abdomen mungkin merupakan tanda khas dari obstruksi distal. 3ipotensi
dan takikardi merupakan tanda dari kekurangan )airan. ;an lemah serta
leukositosis merupakan tanda adanya strangulasi. -ada permulaan, bunyi
usus pada umumnya keras, dan frekuensinya meningkat, sebagai usaha
untuk mengalahkan obstruksi yang terjadi. 9ika abdomen menjadi diam,
mungkin menandakan suatu perforasi atau peritonitis dan ini merupakan
tanda akhir suatu obstruksi.
,. Path-a!s
(%erlampir$
.. Tanda dan /e0ala 1mani+estasi klinis2
%anda dan gejala dari ileus adalah '
a. ;istensi abdomen
b. (untah
). Nyeri konstan distensi
d. 7ising usus tenang atau tidak ada, se)ara klasis dapat ditemukan tetapi
temuan yang tidak konsisten.
e. Konstipasi
f. 727 darah dan lendir tapi tidak ada fe)es dan flatus
3. Pemeriksaan Penun0ang
"$ -emeriksaan radiologi
a. +oto polos abdomen
;engan posisi terlentang dan tegak (lateral dekubitus$
memperlihatkan dilatasi lengkung usus halus disertai adanya batas
antara air dan udara atau gas (air-fluid level) yang membentuk pola
bagaikan tangga.
b. -emeriksaan radiologi dengan 7arium <nema
(empunyai suatu peran terbatas pada pasien dengan obstruksi
usus halus. -engujian <nema 7arium terutama sekali bermanfaat jika
suatu obstruksi letak rendah yang tidak dapat pada pemeriksaan foto
polos abdomen. -ada anak/anak dengan intussus)epsi, pemeriksaan
enema barium tidak hanya sebagai diagnostik tetapi juga mungkin
sebagai terapi.
). ,%&S)an.
-emeriksaan ini dikerjakan jika se)ara klinis dan foto polos
abdomen di)urigai adanya strangulasi. ,%&S)an akan
mempertunjukkan se)ara lebih teliti adanya kelainan/kelainan
dinding usus, mesenterikus, dan peritoneum. ,%&S)an harus
dilakukan dengan memasukkan =at kontras kedalam pembuluh
darah. -ada pemeriksaan ini dapat diketahui derajat dan lokasi dari
obstruksi.
d. :S>
-emeriksaan ini akan mempertunjukkan gambaran dan
penyebab dari obstruksi.
e. (?I
4alaupun pemeriksaan ini dapat digunakan, tetapi tehnik dan
kontras yang ada sekarang ini belum se)ara penuh mapan. %ehnik ini
digunakan untuk menge6aluasi iskemia mesenterik kronis.
f. 2ngiografi
2ngiografi mesenterik superior telah digunakan untuk
mendiagnosis adanya herniasi internal, intussus)epsi, 6ol6ulus,
malrotation, dan adhesi.
$ -emeriksaan laboratorium
8eukositosis mungkin menunjukkan adanya strangulasi, pada
urinalisa mungkin menunjukkan dehidrasi. 2nalisa gas darah dapat
mengindikasikan asidosis atau alkalosis metaboli)
4. 5omplikasi
"$ -eritonitis karena absorbsi toksin dalam rongga peritonium sehingga
terjadi peradangan atau infeksi yang hebat pada intra abdomen.
$ -erforasi dikarenakan obstruksi yang sudah terjadi terlalu lama pada
organ intra abdomen.
#$ Sepsis, infeksi akibat dari peritonitis, yang tidak tertangani dengan
baik dan )epat.
@$ Syok hipo6olemik terjadi akibat dehidrasi dan kehilangan 6olume
plasma.
6. Penatalaksanaan
;asar pengobatan ileus obstruksi adalah koreksi keseimbangan
elektrolit dan )airan, menghilangkan peregangan dan muntah dengan
dekompresi, mengatasi peritonitis dan syok bila ada, dan menghilangkan
obstruksi untuk memperbaiki kelangsungan dan fungsi usus kembali
normal.
a. ?esusitasi
;alam resusitasi yang perlu diperhatikan adalah mengawasi tanda /
tanda 6ital, dehidrasi dan syok. -asien yang mengalami ileus obstruksi
mengalami dehidrasi dan gangguan keseimbangan ektrolit sehingga
perlu diberikan )airan intra6ena seperti ringer laktat. ?espon terhadap
terapi dapat dilihat dengan memonitor tanda / tanda 6ital dan jumlah
urin yang keluar. Selain pemberian )airan intra6ena, diperlukan juga
pemasangan nasogastri) tube (N>%$. N>% digunakan untuk
mengosongkan lambung, men)egah aspirasi pulmonum bila muntah
dan mengurangi distensi abdomen.
b. +armakologis
-emberian obat / obat antibiotik spektrum luas dapat diberikan
sebagai profilaksis. 2ntiemetik dapat diberikan untuk mengurangi
gejala mual muntah.
). Operatif
Operasi dilakukan setelah rehidrasi dan dekompresi nasogastrik
untuk men)egah sepsis sekunder. Operasi diawali dengan laparotomi
kemudian disusul dengan teknik bedah yang disesuaikan dengan hasil
eksplorasi selama laparotomi. 7erikut ini beberapa kondisi atau
pertimbangan untuk dilakukan operasi ' 9ika obstruksinya berhubungan
dengan suatu simple obstruksi atau adhesi, maka tindakan lisis yang
dianjurkan. 9ika terjadi obstruksi stangulasi maka reseksi intestinal
sangat diperlukan. -ada umumnya dikenal @ ma)am )ara*tindakan
bedah yang dilakukan pada obstruksi ileus '
"$ Koreksi sederhana (simple )orre)tion$, yaitu tindakan bedah
sederhana untuk membebaskan usus dari jepitan, misalnya pada
hernia in)ar)erata non/strangulasi, jepitan oleh streng*adhesi atau
pada 6ol6ulus ringan.
$ %indakan operatif by/pass, yaitu tindakan membuat saluran usus
baru yang AmelewatiB bagian usus yang tersumbat, misalnya pada
tumor intralurninal, ,rohn disease, dan sebagainya.
#$ (embuat fistula entero/)utaneus pada bagian proCimal dari tempat
obstruksi, misalnya pada ,a stadium lanjut.
@$ (elakukan reseksi usus yang tersumbat dan membuat anastomosis
ujung/ujung usus untuk mempertahankan kontinuitas lumen usus,
misalnya pada )ar)inoma )olon, in6aginasi, strangulata, dan
sebagainya. -ada beberapa obstruksi ileus, kadang/kadang
dilakukan tindakan operatif bertahap, baik oleh karena
penyakitnya sendiri maupun karena keadaan penderitanya,
misalnya pada ,a sigmoid obstruktif, mula/mula dilakukan
kolostomi saja, kemudian hari dilakukan reseksi usus dan
anastomosis. (Sabara, !!0$
7. Pengka0ian Primer
-engkajian dilakukan se)ara )epat dan sistemik,antara lain '
a. 2irway
(enilai jalan nafas bebas. 2pakah pasien dapat berbi)ara dan
bernafas dengan bebas. 9ika ada obstruksi maka lakukan '
,hin lift * jaw trust
Su)tion * hisap
>uedel airway
Intubasi trakhea dengan leher ditahan ( imobilisasi$ pada posisi
netral
b. 7reathing
(enilai pernafasan )ukup, sementara itu menilai ulang apakah
jalan nafas bebas. 9ika pernafasan tidak memadai lakukan'
;ekompensasi rongga pleura
-ernafasan buatan
7erikan oksigen
). ,ir)ulation
(enilai sirkulasi * peredaran darah. Sementara itu, nilai apakah
jalan nafas bebas dan pernafasan )ukup. 9ika sirkulasi tidak memadai
lakukan'
3entikan peredaran darah eksternal
Segera pasang jalur infuse dengan jarum besar ( "@/"D$
7erikan infuse )airan
d. ;isability
(enilai kesadarn dengan )epat, apakah sadar, hanya respon
terhadap respon tehadap nyeri atau sama sekali tidak sadar. %idak
dianjurkan untuk mengukur >,S. 2dapun )ara yang )ukup jelas dan
)epat adalah'
2wake ' 2
?espon bi)ara ' 5
?espon Nyeri ' -
%idak ada respon ' :
e. <ksposure
8epaskan baju dan penutup tubuh pasien agar dapat di)ari semua
)idera yang mungkin ada, jika ada ke)urigaan )idera leher atau tulang
belakang, maka imobilisasi in line harus dikerjakan.
18. Pengka0ian 9ekunder
a 2kti6itas*istirahat
>ejala ' Kelelahan dan ngantuk.
%anda ' Kesulitan ambulasi
b. Sirkulasi
>ejala ' %akikardia, pu)at, hipotensi ( tanda syok$
). <liminasi
>ejala ' ;istensi abdomen, ketidakmampuan defekasi dan +latus
%anda ' -erubahan warna urine dan fe)es
d. (akanan*)airan
>ejala ' anoreksia,mual*muntah dan haus terus menerus.
%anda ' muntah berwarna hitam dan fekal. (embran mukosa pe)ah/
pe)ah. Kulit buruk.
e. Nyeri*Kenyamanan
>ejala ' Nyeri abdomen terasa seperti gelombang dan bersifat kolik.
%anda ' ;istensi abdomen dan nyeri tekan
f. -ernapasan
>ejala ' -eningkatan frekuensi pernafasan,
%anda ' Napas pendek dan dangkal
11. Diagnosa 5epera-atan !ang &ungkin &un'ul
a. Nyeri b.d iritasi intestinal , distensi abdominal
b. -erubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
gangguan absorbsi nutrisi.
). Kekurangan 6olume )airan dan elektrolit berhubungan dengan intake
yang tidak adeEuat dan ketidakefektifan penyerapan usus halus
d. >angguan pola eliminasi ' konstipasi berhubungan dengan disfungsi
motilitas usus.
e. Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan distensi abdomen
f. 3ipertermia b.d proses penyakit dan dehidrasi
12. nter$ensi 5epera-atan
a. Nyeri berhubungan dengan distensi abdomen
%ujuan '
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama #C@ jam rasa
nyeri teratasi atau terkontrol
Kriteria hasil '
-asien mengungkapkan penurunan ketidaknyamananF
menyatakan nyeri pada tingkat dapat ditoleransi, menunjukkan
rileks.
Inter6ensi '
Inter6ensi ?asional
". Obser6asi %%5' N, %;, 3?, S
. Kaji keluhan nyeri, karakteristik dan
skala nyeri yang dirasakan pesien
sehubungan dengan adanya distensi
abdomen
#. 7erikan posisi yang nyaman' posisi
semi fowler
@. 2jarkan dan anjurkan tehnik relaksasi
tarik nafas dalam saat merasa nyeri
.. 2njurkan pasien untuk menggunakan
tehnik pengalihan saat merasa nyeri
hebat.
D. Kolaborasi dengan medi) untuk terapi
analgetik
". Nyeri hebat yang dirasakan pasien
akibat adanya distensi abdomen
dapat menyebabkan peningkatan
hasil %%5.
. (engetahui kekuatan nyeri yang
dirasakan pasien dan menentukan
tindakan selanjutnya guna
mengatasi nyeri.
#. -osisi yang nyaman dapat
mengurangi rasa nyeri yang
dirasakan pasien
@. ?elaksasi dapat mengurangi rasa
nyeri
.. (engurangi nyeri yang dirasakan
pasien.
D. 2nalgetik dapat mengurangi rasa
nyeri
b. -erubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
gangguan absorbsi nutrisi.
%ujuan '
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama #C@ jam
kebutuhan nutrisi teratasi.
Kriteria hasil '
". %idak ada tanda/tanda mal nutrisi.
. 7erat badan stabil.
#. -asien tidak mengalami mual muntah.
Inter6ensi '
Inter6ensi ?asional
". %injau faktor/faktor indi6idual yang
mempengaruhi kemampuan untuk
men)erna makanan, mis ' status puasa,
mual, ileus paralitik setelah selang
dilepas.
". (empengaruhi pilihan inter6ensi.
. (enentukan kembalinya
peristaltik ( biasanya dalam /@
. 2uskultasi bising ususF palpasi
abdomenF )atat pasase flatus.
#. Identifikasi kesukaan*ketidaksukaan
diet dari pasien. 2njurkan pilihan
makanan tinggi protein dan 6itamin ,.
@. Obser6asi terhadap terjadinya diareF
makanan bau busuk dan berminyak.
.. Kolaborasi dalam pemberian obat/
obatan sesuai indikasi' 2ntimetik, mis'
proklorpera=in (,ompa=ine$. 2ntasida
dan inhibitor histamin, mis' simetidin
(tagamet$.
hari $.
#. (eningkatkan kerjasama pasien
dengan aturan diet.
-rotein*6itamin , adalah
kontributor utuma untuk
pemeliharaan jaringan dan
perbaikan. (alnutrisi adalah fator
dalam menurunkan pertahanan
terhadap infeksi.
@. Sindrom malabsorbsi dapat terjadi
setelah pembedahan usus halus,
memerlukan e6aluasi lanjut dan
perubahan diet, mis' diet rendah
serat.
.. (en)egah muntah. (enetralkan
atau menurunkan pembentukan
asam untuk men)egah erosi
mukosa dan kemungkinan
ulserasi.
c. Kekurangan 6olume )airan dan elektrolit berhubungan dengan
intake yang tidak adekuat dan ketidakefektifan penyerapan usus
halus
%ujuan '
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama #C@ jam
kebutuhan )airan dan elektrolit terpenuhi.
Kriteria hasil '
a. %anda 6ital normal (N'0!/G! C*menit, S' #D/#0 ,, %; ' ""!*0!
/"!*G! mm3g$
b. Intake dan output )airan seimbang
). %urgor kulit elasti)
d. (ukosa lembab
e. <lektrolit dalam batas normal (Na' "#./"@0 mmol*8, K' #,./.,.
mmol*8, ,l' H@/""" mmol*8$.
Inter6ensi '
Inter6ensi ?asional
". Kaji kebutuhan )airan pasien
. Obser6asi tanda/tanda 6ital
#. Obser6asi tingkat kesadaran dan
tanda/tanda syok
@. Obser6asi bising usus pasien tiap "/
". (engetahui kebutuhan )airan
pasien.
. -erubahan yang drastis pada tanda/
tanda 6ital merupakan indikasi
kekurangan )airan.
#. kekurangan )airan dan elektrolit
dapat mempengaruhi tingkat
kesadaran dan mengakibatkan syok.
jam
.. (onitor intake dan output se)ara
ketat
D. -antau hasil laboratorium serum
elektrolit, hematokrit
0. 7eri penjelasan kepada pasien dan
keluarga tentang tindakan yang
dilakukan' pemasangan N>% dan
puasa.
G. Kolaborasi dengan medik untuk
pemberian terapi intra6ena
@. (enilai fungsi usus
.. (enilai keseimbangan )airan
D. (enilai keseimbangan )airan dan
elektrolit
0. (eningkatkan pengetahuan pasien
dan keluarga serta kerjasama antara
perawat/pasien/keluarga.
G. (emenuhi kebutuhan )airan dan
elektrolit pasien.
d. Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan distensi
abdomen
%ujuan '
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama #C@ jam pola
nafas menjadi efektif
Kriteria hasil '
-asien memiliki pola pernafasan' irama 6esikuler, frekuensi '
"G/!C*menit
Inter6ensi '
Inter6ensi ?asional
". Obser6asi %%5' -, %;, N,S
. Kaji status pernafasan' pola,
frekuensi, kedalaman
#. Kaji bising usus pasien
@. %inggikan kepala tempat tidur @!/D!
derajat
.. Obser6asi adanya tanda/tanda
hipoksia jaringan perifer' )ianosis
D. (onitor hasil 2>;
0. 7erikan penjelasan kepada keluarga
pasien tentang penyebab terjadinya
distensi abdomen yang dialami oleh
pasien
G. 8aksanakan program medi)
pemberian terapi oksigen
". -erubahan pada pola nafas akibat
adanya distensi abdomen dapat
mempengaruhi peningkatan hasil
%%5.
. 2danya distensi pada abdomen
dapat menyebabkan perubahan pola
nafas.
#. 7erkurangnya*hilangnya bising usus
menyebabkan terjadi distensi
abdomen sehingga mempengaruhi
pola nafas.
@. (engurangi penekanan pada paru
akibat distensi abdomen.
.. -erubahan pola nafas akibat adanya
distensi abdomen dapat
menyebabkan oksigenasi perifer
terganggu yang dimanifestasikan
dengan adanya )ianosis.
D. (endeteksi adanya asidosis
respiratorik.
0. (eningkatkan pengetahuan dan
kerjasama dengan keluarga pasien.
G. (emenuhi kebutuhan oksigenasi
pasien
e. >angguan pola eliminasi ' konstipasi berhubungan dengan
disfungsi motilitas usus.
%ujuan '
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama #C@ jam pola
eliminasi kembali normal.
Kriteria hasil '
-ola eliminasi 727 normal' "C*hari, dengan konsistensi lembek,
7: normal ' ./#. C*menit, tidak ada distensi abdomen.
Inter6ensi '
Inter6ensi ?asional
". Kaji dan )atat frekuensi, warna dan
konsistensi fe)es
. 2uskultasi bising usus
#. Kaji adanya flatus
@. Kaji adanya distensi abdomen
.. 7erikan penjelasan kepada pasien dan
keluarga penyebab terjadinya
gangguan dalam 727
D. Kolaborasi dalam pemberian terapi
pen)ahar (8aCatif$
". (engetahui ada atau tidaknya
kelainan yang terjadi pada
eliminasi fekal.
. (engetahui normal atau tidaknya
pergerakan usus.
#. 2danya flatus menunjukan
perbaikan fungsi usus.
@. >angguan motilitas usus dapat
(enyebabkan akumulasi gas di dalam
lumen usus sehingga terjadi
distensi abdomen.
.. (eningkatkan pengetahuan pasien
dan keluarga serta untuk
meningkatkan kerjasana antara
perawat/pasien dan keluarga.
D. (embantu dalam pemenuhan
kebutuhan eliminasi
f. 3ipertermia b.d -roses penyakit, dehidrasi
%ujuan '
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama I C @ jam
klien tidak mengalami demam
Kriteria hasil '
Suhu tubuh dalam batas normal #D/#0
o
,
%%5 dalam rentang normal
Inter6ensi '
Inter6ensi ?asional
-antau %%5
-antau Suhu tubuh
>unakan pakaian yang tipis
7erikan kompres hangat
Kolaborasi pemberian antipiretik
". -erubahan suhu tubuh
dapat mempengaruhi
%%5
. Identifikasi dini adanya
kegawatan
#. -akaian yang tebal tidak
akan menurunkan suhu
tubuh karena panas
tertahan di dalam tubuh
@. ;engan kompres hangat
pori/pori akan
ber6asodilatasi sehingga
panas tubuh dapat
berkurang
.. :ntuk membantu
menurunkan suhu tubuh
1*. 5epustakaan
1. Khan AN., Howat J. Small-Bowel Obstruction. Last Upate!
"a# 1$, %$$&. 'n!
http!((www.#ahoo.com(search(cache)(ileus*obstructi+(Article!B#!e
"eicine.com.