Anda di halaman 1dari 6

Ayat 37.

Meskipun anggur yang diciptakan telah dihabiskan, dan mereka yang disembuhkan
akhirnya meninggal dunia, tetapi pemakaian Perfect Tense disini menekankan bahwa ada akibat
yang menetap, yaitu tanda telah diberikan, sehingga ketidakpercayaan mereka tidak layak.
Apakah yang dimaksud tanda? Bila tanda adalah sesuatu yang ajaib yang dilakukan Yesus, Injil
Yohanes mencatat beberapa tanda diantaranya:
- Air menjadi anggur (Yoh 2:1-11)
- Penyembuhan anak pegawai istana (Yoh 4:46-54)
- Penyembuhan orang di kolam Betesda (Yoh 5:1-8)
- Roti bagi lima ribu orang ( Yoh 6:1-15)
- Berjalan di atas air (Yoh 6:16-21)
- Memelekkan mata (Yoh 9:1-42)
- Kebangkitan Lazarus (Yoh 11:1-57)
Penulis Injil Yohanes menekankan mereka yang tidak percaya kepada-Nya sekalipun ada tanda
yang terjadi. Tanggung jawab ditekankan bahwa mereka layak dihukum.
Ayat 38. Pemberitaan kami merujuk pada ajaran Tuhan Yesus. Tangan kekuasaan Allah merujuk
pada tanda-tanda yang diadakan oleh Tuhan Yesus.
Ayat 39. Apakah tindakan tidak percaya mereka adalah pengenapan nubuat dari Yesaya ataukah
Yesaya telah menerima ilham yang akan terjadi dengan benar dimasa yang akan datang? Why
3:20 mengambarkan Yesus mengetuk tetapi tidak membuka pintu. Tanda terjadi tetapi menolak
percaya. Apakah mereka tidak ditarik oleh Bapa sesuai dengan pasal 6:44 ataukah lebih
menyibukkan diri dengan tafsiran yang tidak sempurna dan memaksa Mesias harus sesuai
dengan penafsiran dan pemikiran mereka?
Ayat 40. Dalam ayat 37 tanggung jawab mereka ditekankan, sedangkan dalam ayat 40
kedaulatan Allah ditekankan.
Ayat 41. Mengutip Yesaya 6:10. Nama Yesus tidak dicantum dalam Yesaya 6 tetapi penulis ayat
41 juga menulis pasal 1:1 yang menyatakan Firman adalah Allah.
Ayat 42. Diantara yang menolak Yesus ada yang percaya termasuk pemimpin-pemimpin tetapi
tidak mau dikucilkan. Murid murid Yesus secara diam-diam misalnya Nikodemus dan Yusuf
dari Arimatea. Dikucilkan dari kursi depan yang disediakan bagi para pemimpin dianggap lebih
berat darpada dikucilkan dari tikar yang terletak di belakang ruang ibadah.
Ayat 43. Ayat ini mengupas mereka yang sudah percaya, tetapi tidak berani mengakui Tuhan
Yesus di depan umum.






Dalam pemahaman penulis, sepertinya orang Israel bagaikan terpecah menjadi dua bagian besar.
Sebagian percaya kepada Tuhan Yesus dan sebagian lagi sama sekali tidak percaya, malahan membenci-
Nya. Yang percaya dan tidakpun masih terbagi-bagi lagi karena berbagai kepentingan, entah itu lebih
pribadi ataupun demi kelompok.

Mungkin hanya orang-orang yang mempunyai hati yang dapat merasakan kebenaran yang disampaikan
Tuhan Yesus. Kepercayaan kelompok ini begitu besar dan siap mengikuti kemana saja Sang Guru pergi,
selama keadaan memungkinkan. Sebagian lagi percaya akan kuasa mujizat, yang bisa dimanfaatkan
untuk segala macam kepentingan. Sebagian percaya namun kawatir kalau terang-terangan mengikut
Tuhan Yesus. Kelompok ini biasanya orang-orang yang sudah terpandang, namun masih takut kalau
kehilangan kehormatan di depan manusia.

Mungkin sebagian besar kelompok imam dan orang Farisi yang paling sulit untuk percaya kepada Tuhan
Yesus. Perasaan merasa lebih sering menjadi batu sandungan, sehingga tidak siap jika untuk berubah.
Mungkin kelompok ini merasa lebih ahli dalam kitab suci, lebih berpengalaman, lebih berpendidikan,
lebih tua dan senior dan yang tak ketinggalan adalah lebih berkecukupan dalam materi duniawi.
Walaupun apa yang diucapkan Tuhan Yesus itu benar, mereka tetap mempertahankan diri dengan
berbagai alasan. Jika tidak berani berkomentar berhadapan, maka di belakang akan ngomong dan
memanasi orang lain agar setuju dengan mereka. Orang awam yang dekat dengan kelompok imam dan
orang Farisi, mau tidak mau lebih gampang dipengaruhi. Apa lagi jika pengaruh tersebut dengan
membawa-bawa Kitab Suci, seakan-akan penafsiran mereka tidak bisa ditolak. Dalam keadaan terpojok,
bagi mereka berkomentar yang paling mudah keluar dari mulut adalah Tuhan Yesus kerasukan roh jahat.
Roh jahat yang begitu hebat sehingga roh jahat yang lain mau menurut untuk diusir. Rasanya memang
aneh jika roh jahat saling berkelahi sendiri. Atau sebenarnya yang aneh adalah mereka yang mengaku
sebagai ahli Kitab Suci.

Kita bisa membayangkan bagaimana Roh yang kudus, yang Illahi, yang mahakuasa, koq dirasuki oleh
kuasa Setan. Secara bodoh kita bisa mengatakan bahwa para ahli Taurat dan kaum Farisi kelompok ini
tidak percaya kepada Allah. Roh Kudus dirasuki Roh Setan sama saja mengidentikkan Allah sama dengan
Iblis. Bahasa ekstrimnya mungkin meniadakan Allah, atau menghujat Roh Kudus-Nya, yang malahan
secara tidak sadar lebih dekat dengan atheis. Jika dosanya tak terampunkan, maka sungguh mengerikan
dan harus menjadi perhatian kita semua.

Para imam harus hati-hati kalau berbicara mengenai Roh Kudus dan Roh Kuda. Jika yang berkarya itu
betul-betul Roh Kudus, namun dianggap sebagai Roh Kuda, siap-siap saja masuk ke hukuman tak
terampunkan, mungkin neraka yang kekal. Mungkin para imam kelompok ini perlu mempelajari kembali
sepuluh perintah Allah. Perintah Allah yang penuh dengan jangan dan jangan ditambahi lagi jangan
ketahuan.

Tetapi kembali lagi bahwa mereka kan para imam, para ahli yang sekolah khusus, dan yang lainnya
sering dianggap tidak tahu apa-apa. Kesombongan rohani sering menjadi batu sandungan, yang tanpa
kita sadari malah bisa menjerumuskan diri sendiri. Mungkin semua orang perlu menyimak doa Tuhan
Yesus di Matius 11:25-26, betapa segalanya malah dibukakan kepada orang miskin sederhana dan
tertutup bagi yang pandai dan bijaksana.

Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kitapun tidak jarang seperti para ahli Taurat maupun kaum Farisi.
Mungkin kita pernah mencemooh di belakang, kepada kelompok lain yang kita anggap ritusnya berbeda,
agak aneh atau tidak umum. Padahal dalam mencari kebenaran yang hakiki, ngobrol dengan Tuhan, cara
pengungkapan iman adalah begitu pribadi. Mungkin cara yang kita anggap aneh tersebut bagi yang
bersangkutan merasa pas. Mungkin itulah yang disebut iman sejati yang memerdekan, tidak terbelenggu
oleh adat atau kebiasaan yang selama ini kita ikuti. Manut grubyuk yang penting pokoknya ikut saja
tanpa memaknai dan merasakan bahwa Tuhan begitu dekat.

Mungkin kita pernah merasakan bagaimana berdoa pribadi dengan maksud curhat dan memohon
sesuatu. Tiba-tiba dalam keheningan tersebut kita merasakan suatu sentuhan Tuhan, seperti suatu
sapaan yang tidak terdengar dan tidak terlihat. Kita malah lupa dengan rencana melapor dan memohon,
karena begitu asyik ngobrol dengan Tuhan, seperti berbicara dari hati ke hati. Yang tadinya hanya ingin
sebentar, malah lupa waktu.

Di zaman sekarangpun banyak kelompok yang tetap tidak bisa percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Allah
itu sendiri. Jikalau mempercayai Dia sebagai orang yang baik dan rendah hati, mempercayai sebagai
seorang nabi rasanya masih banyak. Tetapi Allah yang menjilma menjadi manusia sejati, bisa jadi tidak
masuk dalam akal mereka. Manusia ya tetap manusia, tidak mungkin kemasukan Roh Allah. Kalau
kemasukan roh jahat atau kesurupan baru bisa agak diterima. Padahal mungkin kita bisa sepakat bahwa
Allah Mahakuasa, yang tidak mungkin bagi manusia, segalanya mungkin bagi Allah.

Roh Allah bisa memasuki siapa saja yang mau membuka hatinya kepada Dia. Dan itu yang diharapkan
sekali penuh kerinduan oleh Allah. Mungkin manusia tidak mengenal Allah, namun Allahlah yang begitu
mengenal kita satu persatu. Dalam kebebasan kita untuk berpikir dan berbuat, Allah tetap ingin masuk
dalam hati kita karena kasih-Nya.

Jadi, kita mestinya tidak perlu heran, sedih, berkecil hati, jika tidak dipercaya karena menjadi pengikut
Kristus. Karena dari awalnya memang banyak orang sudah tidak percaya Tuhan Yesus. Secara bodoh
mungkin kita hanya bisa berdoa :Ya Tuhan Yesus ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu siapa
Engkau.

Meskipun orang-orang telah melihat mujizat dari Tuhan, namun belum tentu mereka menjadi percaya (Yohanes 12:37-43). Bahkan
dikatakan bahwa Tuhan mengutus orang kepada mereka untuk memberitakan, tapi pilihan tetap ada di tangan mereka: mau percaya atau
tidak (ayat 38). Kepercayaan bisa dipengaruhi oleh mata (apa yang dilihat) dan hati. Ada juga orang yang mau percaya, tetapi mereka tidak
mau mengakuinya berterus terang, supaya mereka jangan dikucilkan. Itu berarti mereka takut akan manusia yaitu takut dengan apa yang
dipikirkan orang lain tentang mereka.
Kita orang-orang yang sudah bertobat lahir baru sudah dicelikkan mata dan hati kita sehingga kita bisa percaya kepada Tuhan. Jangan
sampai sekarang kembali tertutup sehingga kita mulai menimbang-nimbang untuk bayar harga. Dan jangan sampai kita jadi orang yang
percaya tapi tidak mau terlihat (seperti orang-orang yang percaya tapi tidak mau mengakuinya Yohanes 12:42). Kalau kita jadi orang
percaya, kita pasti jadi orang yang nampak dan memberitakan Injil. Sedangkan kalau sampai tidak memberitakan Injil lagi, bisa-bisa karena
Saudara takut dikucilkan oleh orang-orang. Kalau kita mau hidup sungguh-sungguh dengan Tuhan, pasti ada banyak tekanan atau
penghalang. Namun kita jangan melihat sulitnya tantangan itu, melainkan lihat kepada Tuhan sehingga kita dapat melewatinya.
Ingatlah akan masa yang lalu. Sesudah kamu menerima terang, kamu banyak menderita oleh karena kamu bertahan dalam perjuangan
yang berat (Ibrani 10:32-33). Kita semua masing-masing punya tantangan yang sulit. Dulu kita bisa lalui semuanya. Bagaimana
sekarang? Kalau sekarang kita tidak lagi bayar harga dan berjuang saat mengikut Tuhan, maka kembalilah kepada kasih yang mula-mula.
Yaitu kita hanya cinta kepada Tuhan satu-satunya dan tidak melihat pribadi atau hal yang lain. Carilah Kerajaan Tuhan dan kebenarannya
maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu (Matius 6:33). Jangan malah sibuk mencari yang ditambahkan! Harta rohani bersifat
lebih baik dan menetap (Ibrani 10:34). Jangan sampai kita memikirkan atau menghitung-hitung harta jasmani sampai membutakan mata
kita dari mencari harta yang rohani. Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang
menantinya. Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh
apa yang dijanjikan itu. (Ibrani 10:35-36). Jangan lepaskan kepercayaan kita sedikit pun! Kita bisa tidak lepaskan pun itu karena
anugerah Tuhan yang sanggup menjaga kita. Kita juga perlu memiliki ketekunan: tidak hanya satu-dua kali taat, tapi terus sampai akhir,
itulah ketekunan. Sebab sedikit, bahkan sangat sedikit waktu lagi, dan Ia yang akan datang, sudah akan ada, tanpa menangguhkan
kedatangan-Nya. (Ibrani 10:37). Ini berbicara tentang waktu-Nya Tuhan, bukan menurut kita. Karena di hadapan Tuhan satu hari sama
seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari (2 Petrus 3:8). Kadang kita yang sudah diselamatkan berpikir waktu masih
panjang sehingga kita bersantai-santai. Ubah cara pikir kita, mengerti bahwa waktu tinggal sedikit. Tetapi orang-Ku yang benar akan
hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya. Tetapi kita bukanlah orang-orang yang
mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup. (Ibrani 10:38-39). Jangan ada sedikitpun
pikiran untuk mengundurkan diri! Ada hidup yang akan kita dapatkan jika kita bersama Yesus. Dan tanda bahwa kita hidup adalah kita
bergerak, bergerak di dalam pengutusan-Nya!
Makanan kita adalah melakukan kehendak Tuhan dan alirkan air hidup yang kita miliki. Tetapi kita bukanlah orang-orang
yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup. (Ibrani 10:39). Kita adalah orang yang
percaya dan beroleh hidup. Orang yang hidup pasti bergerak karena ciri makhluk hidup adalah dapat bergerak. Salah kalau kita hanya
datang ke gereja tiap hari Minggu lalu sehari-hari tidak ada pergerakan. Atau pun bergerak tapi seperti mesin, yang bergerak karena
digerakkan atau dijalankan oleh orang lain. Kita harusnya bergerak secara alamiah karena Roh Kudus ada dalam diri kita. Injil harus terus
kita manifestasikan, baik beritanya maupun kesembuhan. Roh Kudus merupakan jaminan dari seluruh janji-janji Tuhan yang diberikan
kepada kita.
Keteguhan dan kepercayaan kita harus terus agar menghasilkan buah. Kita harus melakukan kontak dengan orang, air hidup yang kita miliki
harus terus keluar, yang dapat memuaskan batin orang itu, sama seperti Yesus kepada perempuan Samaria berikut ini. Saat Yesus melintasi
daerah Samaria dan bertemu dengan seorang perempuan Samaria, Yesus menjelaskan kepadanya tentang air hidup (Yohanes 4:1-26).
Awalnya perempuan itu menangkap tentang air secara lahiriah. Namun Yesus menjelaskan tentang air yang berbeda dengan yang dikira
perempuan itu, barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air
yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang
kekal. Sama seperti perempuan itu, setiap orang yang kepadanya kita beritakan kebenaran punya persepsi atau filsafat sendiri. Karena itu
kita harus konfrontasi pendapatnya untuk menghancurkan persepsi yang salah, benteng-benteng, dan segala sesuatu yang menentang
pengenalan akan Tuhan dalam dirinya!
Jangan berpikiran sempit dengan memilah-milah orang yang seperti apa yang layak mendengar Injil(Yohanes 4:27). Perempuan Samaria
itu, yang pernah mempunyai empat orang suami dan saat itu tinggal dengan laki-laki yang bukan suaminya, pun mempelajari tentang adat
istiadat Yahudi, bangsa yang bukan bangsanya (Yohanes 4:19-25). Mungkin di antara orang-orang yang kita pikir tidak mencari tahu tentang
Tuhan ternyata mereka mempelajari hal-hal rohani. Contoh yang lain adalah Rahab, yang mendengar tentang kedahsyatan TUHAN yang
menyertai bangsa Israel. Orang-orang seperti itu juga butuh jawaban karena jiwa manusia labil.
Kata Yesus kepada mereka: Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.
(Yohanes 4:34). Makanan kita adalah melakukan kehendak Tuhan dan menyelesaikannya. Kalau kita selalu kekurangan makanan yang
lahiriah dan pusing memikirkannya, bagaimana bisa memberitakan Injil? Carilah kerajaan Tuhan dan kebenarannya maka semua akan
ditambahkan kepadamu. Setelah kita makan makanan rohani, kita akan kenyang. Dan itu bukan karena tugas, melainkan karena hausnya
kita untuk memberitakan Injil. Kita harus bertekun, berlatih, dan jangan kendor, maka buah akan datang! Jangan beralasan bahwa keadaan
atau orang yang kita injili sepertinya susah, lebih baik kita yang perkuat keyakinan kita. Jangan juga beralasan dalam hal waktu (Yohanes
4:35). Mengatur waktu sebenarnya bukan dengan pikiran, melainkan dengan hati: hal mana yang kita prioritaskan. Secara pengetahuan,
manusia tahu kapan musim menuai, tapi di situ Yesus menunjukkan cara-Nya dalam memandang sesuatu dan dalam berpikir. Kita mungkin
mempunyai hikmat dan pengetahuan, tapi ada kalanya kita harus mendengarkan Tuhan dalam melakukan suatu hal.
Terus beritakan Injil! Jangan hanya mengatakan bahwa orang harus bertobat dari dosanya, tapi jelaskan solusinya, bagaimana caranya
orang dapat diselamatkan. Lihat apa yang terjadi setelah perempuan Samaria itu mendengar perkataan Yesus, ia mengajak seluruh
kampung dan Yesus pun dapat memberitakan Injil kepada mereka sehingga mereka dapat percaya juga, bukan lagi karena perempuan itu,
tapi karena mereka sendiri juga telah mendengar Dia (Yohanes 4:28-42). Kalau roh kita kuat, Injil pasti bisa disampaikan!
Pengajaran
Yesus telah melakukan banyak mujizat, akan tetapi orang-orang pada waktu itu tidak
percaya. Keadaan orang-orang waktu itu sama dengan keadaan di zaman Nabi Yesaya yang
tetap tidak percaya meskipun sudah ada banyak tanda (ayat 37). Sepanjang hidup mereka yang
menentang Tuhan, mereka menentukan jalan hidup mereka sendiri dan tidak pernah dapat
mengerti Firman Tuhan. Mereka tidak dapat datang kepada Tuhan karena kekerasan hati
mereka. Selain itu, pada waktu itu juga ada orang-orang yang percaya akan tetapi mereka
tidak berani mengakuinya terus terang karena mereka takut (ayat 42). Orang yang percaya
Yesus waktu itu akan dikucilkan dari sinagog dan kehilangan jabatan. Iman orang-orang jenis
kedua ini juga bukanlah iman yang menyelamatkan, karena mereka yang tidak mengakui Yesus,
ia juga tidak akan diakui Tuhan (Luk. 12:8-9). Walaupun orang-orang pada waktu itu
mengeraskan hati mereka, Yesus tidak pernah menyerah untuk bersaksi dengan melakukan
tanda-tanda. Dan seharusnya mereka yang sudah mendengar ajaran-Nya dan menyaksikan
pekerjaan-Nya yang luar biasa tanpa ragu-ragu lagi menerima Yesus sebagai Mesias dan
Juruselamat mereka. Namun kenyataannya sebagian besar dari mereka menolak Dia.
Bukankah sekarang juga Anda masih mendapati dua macam golongan ini di antara
semua orang di dunia ? Sampai sekarang pun mereka tetap tidak mau menerima Kristus
walaupun mereka sudah mendengar berita Injil yang menarik dan yang sudah disaksikan
dengan kuasa. Meskipun demikian Anda harus tetap tekun untuk bersaksi tentang Kristus
meskipun dengan kesaksian itu mereka tidak bertobat dan percaya. Tanggung jawab Anda
adalah terus setia bersaksi dengan pertolongan Roh Kudus meskipun respon mereka tidak
sesuai dengan yang Anda harapkan. Anda bertanggungjawab untuk menjangkau sesama Anda,
akan tetapi keputusan untuk menerima atau menolak Juruselamat adalah tanggung jawab
mereka masing-masing.

Dalam bacaan Injil tadi dituturkan bahwa sebenarnya cukup banyak orang telah percaya kepada Yesus karena
mereka telah melihat mukjizat-mukjizat yang dikerjakan-Nya. Namun, sebagian tetap menutup mata hatinya dan
tidak percaya. Sebagian lagi percaya, namun tidak berani mengakuinya secara terus terang karena takut dikucilkan.
Kekurangpercayaan ini membuat mereka sulit untuk mendengarkan Yesus dan mengimani Dia.
Kata percaya itu memang mudah diucapkan, namun sulit juga dilakukan. Dari zaman dulu sampai sekarang orang
sangat sulit untuk percaya. Barangkali juga kita sendiri dalam keluarga, ketika anak, istri, atau suami bercerita jujur,
apakah saya langsung percaya? Mungkin kita akan berpikir, apakah pengakuan tersebut masuk akal? Kadang logika
juga bisa menghambat untuk percaya, apalagi pada zaman sekarang di mana teknologi sudah begitu maju, sehingga
bisa mempengaruhi cara pandang, cara berpikir dan penerimaan seseorang. Demikian juga dalam mendengarkan
dan merenungkan Firman, bisa jadi terhambat karena kita belum sepenuhnya percaya kepada Tuhan Yesus.
4. Pertanyaan Refleksi
a) Apakah ada hambatan untuk mendengarkan firman Tuhan?
b) Sudahkah saya menghalau segala hambatan untuk mendengarkan firman? Bagaimana caranya?
5. Ujud Doa Umat:
a) Bagi keluarga kita supaya semakin percaya akan kasih dan penyertaan Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari
b) Bagi anak-anak supaya dibimbing Roh Kudus agar makin mau mendengarkan dan mempercayai Firman Tuhan.
6. Usulan Aksi/Niat
Mencoba mempercayakan hidup dan keluarga kita ke tangan Tuhan Yesus sendiri.
7. Doa Penutup
Bapa yang Mahabaik, bantulah kami dengan Roh Kudus-Mu agar mampu melihat dan mempercayai campur tangan
dan mukjizat-Mu dalam kehidupan keluarga kami. Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami. Amin.