Anda di halaman 1dari 5

Jurnal Ilmiah WIDYA 48 Volume 2 Nomor 1 Maret-April 2014

EFEKTIVITAS DIALISER PROSES


ULANG (DPU) PADA PENDERITA GAGAL GINJAL
KRONIK (HEMODIALISA)
Ratnawati
Institut Teknologi Indonesia
E-mail: ratnawatibenito@yahoo.com
Abstrak: Tingginya biaya Hemodialisis (HD) merupakan kendala utama dalam tindakan HD bagi penderita gagal ginjal kronik. Salah satu
cara untuk mengurangi biaya HD adalah dengan menggunakan Dialiser Proses Ulang (DPU). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sejauh
mana efektivitas penggunaan Dialiser Proses Ulang (DPU) bagi penderita gagal ginjal kronik. Metode yang gunakan dengan melakukan
pengamatan terhadap penurunan kadar ureum darah sebelum dan sesudah HD pada pemakaian Dialiser Baru (DPU1), pemakaian DPU ke-5
(DPU5) dan ke-10 (DPU10), kemudian data yang diperoleh diolah dengan menggunakan Statistika Deskriptif dan Inferensi. Dapat disimpulkan
bahwa terdapat perbedaan selisih kadar ureum darah sebelum dan sesudah HD, tidak terlalu signifikan pada DPU1 dan DPU5, namun cukup
signifikan untuk DPU10
Kata kunci : hemodialisis, dialiser proses ulang, kadar ureum, kadar kreatinin, efektivitas
Abstract: The cost of HD is a major constraint for HD therapy for patients with chronic renal failure undergoing HD. Oneway to reduce
cost is to use a Re-Used Dialiser (DPU). The purpose of this study to determine how effective the use of DPU for those who have the chronic
renal failure. The method used is to make observation of decreased levels of blood urea before and after use a new dialiser (DPU1), in 5th
(DPU5) and 10th (DPU10). Then the data obtained will be analyzed using statistical descriptive and inference. The result can be concluded
that there are differences in level blood urea before and after HD. The result are not significant at DPU1 and DPU5, but significant enough
at DPU10.
Key words: hemodialysis, dialiser reprocessing, urea levels, creatinine levels, effectiveness
PENDAHULUAN
Latar belakang penelitian ini adalah masalah
tingginya biaya Cuci darah atau Hemodialisis (HD)
merupakan kendala utama dalam tindakan HD bagi
penderita gagal ginjal kronik. Dengan terjadinya krisis
ekonomi di Indonesia tahun 1997, telah berdampak pada
makin tingginya biaya pengobatan, sehingga pasien harus
mengeluarkan biaya yang sangat mahal untuk satu kali
tindakan hemodialisis. Salah satu cara untuk mengurangi
biaya HD adalah dengan menggunakan Dialiser Proses
Ulang (DPU).
Salah satu faktor yang menyebabkan mahalnya biaya
hemodialisis adalah harga ginjal buatan (dialiser) yang
cukup tinggi. Saat ini ginjal buatan belum dapat di produksi
di dalam negeri sehingga harus diimpor, di antaranya dari
Jerman, Amerika Serikat dan Jepang.
Gagal ginjal kronik (GGK) merupakan masalah
kesehatan masyarakat di seluruh dunia dan kini diakui
sebagai suatu kondisi umum yang dikaitkan dengan
peningkatan risiko penyakit dan GGK. Berdasarkan
estimasi Badan Kesehatan Dunia (WHO), secara global
lebih dari 500 juta orang mengalami penyakit gagal ginjal
kronik. Sekitar 1,5 juta orang harus menjalani hidup
bergant ung pada cuci darah (hemodi al i si s)
Berdasarkan Pusat Data & Informasi Perhimpunan
Rumah Sakit Seluruh Indonesia, jumlah pasien gagal
ginjal kronik diperkirakan sekitar 50 orang per satu juta
penduduk, 60 % nya adalah usia dewasa dan usia lanjut.
Menurut Depkes RI 2009, pada peringatan Hari Ginjal
Sedunia bahwa hingga saat ini di Indonesia terdapat
sekitar 70 ribu orang pasien gagal ginjal kronik yang
memerlukan penanganan terapi cuci darah dan hanya
7.000 pasien gagal ginjal kronik atau 10% yang dapat
melakukan cuci darah yang dibiayai program Gakin dan
PT. Askes.
Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui sejauh
mana efektivitas Dialiser Proses Ulang (DPU) terhadap
penurunan kadar ureum darah pasien yang menjalani
terapi hemodialisis dilihat pada perbedaan rataan
penurunan kadar ureum darah dengan penggunaan dialiser
baru (DPU1), dialiser proses ulang ke-5 (DPU5), dan
dialiser proses ulang ke-10 (DPU10).
ISSN-L 2338-3321
ISSN 2337-6686
Hipotesis yang merupakan jawaban sementara
terhadap rumusan masalah dengan penelitian ini bahwa
ada perbedaan penurunan kadar ureum darah antara
pemakaian dialiser pertama (DPU1) dengan dialiser proses
ulang ke lima (DPU5) dan dialiser proses ulang kesepuluh
(DPU10) pada pasien hemodialisis di Unit Hemodialisis
Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.
Data pada penelitian ini merupakan data yang
dikumpulkan dari hasil pemeriksaan ureum darah sebelum
dan sesudah HD pada pemakaian dialiser baru, pemakaian
DPU ke-5 dan ke-10 pada 25 pasien dengan penyakit
gagal ginjal kronik yang menjalani HD dengan
menggunakan DPU. Penelitian ini dilakukan melalui
pengamatan di Unit Dialisis RS Cipto Mangunkusumo,
Jakarta dalam kurun waktu 4 bulan dari bulan Agustus
hingga Desember 2010, terhadap penurunan kadar ureum
darah pada sampel yang sama saat penggunaan dialiser
baru (DPU1), dialiser proses ulang ke-5 (DPU5) dan
dialiser proses ulang ke-10 (DPU10).
Populasi adalah semua pasien yang menjalani
hemodialisis kronik di Unit Dialisis RS Cipto
Mangunkusumo, yang menggunakan dialiser proses
ulang.Sampel sebanyak 25 orang dipilih secara acak
dengan kriteria sebagai berikut: (1) Pasien yang telah
menjalani hemodialisis > 1 tahun, (2) Pasien hemodialisis
menggunakan dialiser proses ulang, (3) Pasien diperiksa
kadar ureum darah sebelum dan sesudah hemodialisis
pada saat menggunakan dialiser pemakaian pertama (DPU
1), dialiser proses ulang ke-5 (DPU 5) dan dialiser proses
ulang ke- 10 (DPU 10), (4) Lama hemodialisis 10 12
jam/minggu.
Data yang telah dikumpulkan sebelum dianalisis,
terlebih dahulu dilakukan: (1) shorting; yaitu untuk
mendapatkan data yang betul-betul diperlukan, (2) editing;
dilakukan sebelum proses pemasukan data untuk
menghindari terjadinya kesalahan dan ketidaklengkapan
pada pengisian kuesioner. Editing data pertama kali
dilakukan dengan cara mengecek kembali kelengkapan
jawaban pada kuieioner yang telah dikumpulkan dari
responden, (3) cleaning; yaitu membersihkan data, jika
ada jawaban atau data yang tidak sesuai dan (4) entry
Jurnal Ilmiah WIDYA 49 Volume 2 Nomor 1 Maret-April 2014
Ratnawati, 48 - 52
data; yaitu memasukkan data ke dalam program Minitab.
Data kadar ureum darah dengan DPU1, DPU5 dan DPU10;
sebelum dan sesudah HD masing-masing diberi nama
Sblm(1) dan Ssdh(1) , Sblm(2) dan Ssdh(2) dan
Sblm(3) dan Ssdh(3). Sedangkan selisih kadar ureum
darah sebelum dan sesudah HD dengan DPU1, DPU5
dan DPU10 mas i ng- mas i ng di ber i nama
Selisih(1),Selisih(2)dan Selisih(3) yang disimpan
dalam 9 variabel (kolom). Data yang telah dimasukkan
ke dalam program Minitab tersebut diolah dengan
menggunakan metode Statistika Deskriptif dan Statistika
Inferensi, sehingga dihasilkan informasi yang dapat
digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian.
PEMBAHASAN
Hemodialisis
Cuci darah (Hemodialisis, sering disingkat HD)
adalah salah satu terapi pada pasien dengan gagal ginjal
dalam hal ini fungsi pencucian darah yang seharusnya
dilakukan oleh ginjal diganti dengan mesin. Dengan mesin
ini pasien tidak perlu lagi melakukan cangkok ginjal,
namun hanya perlu melakukan cuci darah secara periodik
dengan jarak waktu tergantung dari keparahan dari
kegagalan fungsi ginjal.
Fungsi ginjal untuk pencucian darah adalah dengan
mengeluarkan sisa-sisa metabolisme atau racun tertentu
dari peredaran darah manusia seperti air, natrium, kalium,
hidrogen, ureum, kreatinin, asam urat, dan zat-zat lain.
Cuci darah dilakukan jika ginjal tidak dapat
melaksanakan fungsinya dengan baik atau biasa disebut
dengan gagal ginjal. Kegagalan ginjal ini dapat terjadi
secara mendadak (gagal ginjal akut) maupun yang terjadi
secara perlahan (gagal ginjal kronik) dan sudah
menyebabkan gangguan pada organ tubuh atau sistem
dalam tubuh lain. Hal ini terjadi karena racun racun
yang seharusnya dikeluarkan oleh ginjal tidak dapat
dikeluarkan karena rusaknya ginjal. Kelainan yang dapat
terjadi yaitu meningkatnya kadar keasaman darah yang
tidak bisa lagi diobati dengan obat obatan, terjadinya
ketidakseimbangan elektrolit dalam tubuh, kegagalan
jantung memompa darah akibat terlalu banyaknya cairan
Efektivitas Dialiser Proses Ulang (DPU) pada
Penderita Gagal Ginjal Kronik (Hemodialisa)
yang beredar di dalam darah, terjadinya peningkatan dari
kadar ureum dalam tubuh yang dapat mengakibatkan
kelainan fungsi otak, radang selaput jantung, dan
perdarahan.
Menurut Brian J.G Pereira (2005:1038) bahwa cuci
darah dapat dilakukan sementara waktu apabila kerusakan
fungsi ginjal bersifat sementara, biasanya sering terjadi
pada kasus gagal ginjal akut. Tetapi, pada kasus gagal
ginjal kronik dimana kerusakan fungsi ginjal bersifat
permanen, maka cuci darah dilakukan seumur hidup
pasiennya. Tidak ada klasifikasi seragam pada tahap
penyakit gagal ginjal kronik.
Dialiser Proses Ulang (DPU)
DPU adalah penggunaan dialiser lebih dari satu kali
untuk pasien yang sama. Umumnya dipakai kembali bila
volume dialiser 80% dari dialiser baru. Pemakaian DPU
pertama kali dilaporkan pada tahun 1964. Sejak saat itu,
DPU telah banyak digunakan di beberapa negara. Data
dari catatan medis tahun 2007 di Unit HD RSCM
didapatkan 96% pasien HD menggunakan DPU.
Ureum Darah dan Kreatinin Darah
Salah satu fungsi ekskresi ginjal adalah
mengekskresikan produk akhir Nitrogen dari metabolisme
protein, terutama urea, asam urat dan kreatinin.(Alfred
K. Cheung, 1999:350). Nilai normal ureum dalam darah
orang dewasa dari 5 25 mg/dl. Pada Pasien penyakit
ginjal yang laju filtrasi glomerulusnya sangat menurun,
konsentrasi ureum plasmanya sangat meningkat.
Penurunan ureum dipakai sebagai parameter melihat
kemampuan DPU untuk membersihkan ureum dalam
darah pasien dan juga merupakan bahan yang secara
praktis dapat diukur sebagai pertanda adekuasi proses
HD.
Fungsi ginjal dapat juga dilihat dengan mengukur
kadar kreatinin dalam darah. Semakin tinggi kadar
kreatinin pada darah menunjukkan menurunnya fungsi
ginjal. Nilai normal kreatinin dalam darah manusia kurang
dari 1,2 mg/dl. Tingginya tingkat kreatinin menunjukkan
jatuh laju filtrasi glomerulus dan sebagai akibat penurunan
kemampuan ginjal mengekskresikan produk limbah.
Jurnal Ilmiah WIDYA 50 Volume 2 Nomor 1 Maret-April 2014
Ratnawati, 48 - 52
Hasil Analisis data
Dengan menggunakan Metode Statistika Deskriptif
dilakukan pemeriksaan pola sebaran ke 9 variabel data
yang disebutkan pada bagian Entry data di atas.
Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan grafik
histogram. Kesembilan variabel menunjukkan pola sebaran
yang hampir normal, yang merupakan syarat untuk
melakukan analisis dengan Metode Statistika Inferensi.
Dengan menggunakan taraf signifikansi 0,05,
pengujian hipotesis selisih rataan kadar ureum darah
sebelum dan sesudah HD dengan DPU1 memberikan
nilai p = 0,000 dengan nilai T = 20,51. Pengujian hipotesis
selisih rataan kadar ureum darah sebelum dan sesudah
HD dengan DPU5 memberikan nilai p = 0,000 dengan
nilai T = 21,57. Pengujian hipotesis selisih rataan kadar
ureum darah sebelum dan sesudah HD dengan DPU10
memberikan nilai p = 0,000 dengan nilai T = 16,37.
Hasil keluaran dengan menggunakan program Minitab
sebagai berikut:
a. Uji selisih rataan kadar ureum darah sebelum dan
sesudah HD dengan DPU1.
Tabel 1. Paired T for Sblm(1) - Ssdh(1)
95% CI for mean difference: (78,4234; 95,9766)
T-Test of mean difference = 0 (vs not = 0): T-Value = 20,51 p-
Value = 0,000
b. Uji selisih rataan kadar ureum darah sebelum dan
sesudah HD dengan DPU5.
Tabel 2. Paired T for Sebelum (2) Sesudah (2)
95% CI for mean difference: (77,3360; 93,7040)
T-Test of mean difference = 0 (vs not = 0): T-Value = 21,57
p-value = 0,000
c. Uji selisih rataan kadar ureum darah sebelum dan
sesudah HD dengan DPU10.
Tabel 3. Paired T for Sblm(3) - Ssdh(3)
95% CI for mean difference: (69,2482; 89,2318)
T-Test of mean difference = 0 (vs not = 0): T-Value = 16,37 p-
value = 0,000
Efektivitas Dialiser Proses Ulang (DPU) pada
Penderita Gagal Ginjal Kronik (Hemodialisa)
N Mean StDev SE Mean
Sblm(1) 25 166,000 42,765 8,553
Ssdh(1) 25 78,800 22,922 4,584
Difference 25 87,2000 21,2623 4,2525
N Mean StDev SE Mean
Sblm (2) 25 159,840 37,752 7,550
Ssdh (2) 25 74,320 18,016 3,603
Difference 25 85,5200 19,8266 3,9653
N Mean StDev SE Mean
Sblm(3) 25 148,360 44,985 8,997
Ssdh(3) 25 69,120 20,807 4,161
Difference 25 79,2400 24,2062 4,8412
Analisis selanjutnya adalah membandingkan selisih
rataan penurunan kadar ureum darah dengan menggunakan
DPU1, DPU5 dan DPU10. Hasil analisis terhadap data
25 sampel ini menunjukkan bahwa ada perbedaan rataan
selisih penurunan kadar ureum darah pada penggunaan
DPU1 (mean 87,20), DPU5 (mean 85,52) dan DPU 10
(mean 79,24), dengan p-value = 0,402 > 0,05. Dengan
nilai p yang seperti ini, maka perbedaan rataan selisih
kadar ureum dapat dinyatakan tidak nyata (tidak signifikan
atau tidak berarti). Dengan perkataan lain penggunaan
DPU1, DPU5 atau DPU10 memberikan perbedaan selisih
atau penurunan kadar ureum darah yang tidak terlalu
berarti, sekalipun ada perbedaan itu. Hasil keluaran
program sebagai berikut:
a. Uji selisih rataan kadar ureum darah menggunakan
DPU1 (Sel i si h1) dengan DPU5 (Sel i si h2).
Gambar 1. Boxplot Selisih1dan Selisih2
Tabel 4. Two-Sample T-Test and CI: Selisih(1); Selisih(2)
Two-sample T for Selisih(1) vs Selisih(2)
Difference = mu (Selisih(1)) - mu (Selisih(2))
Estimate for difference: 1,68000
95% CI for difference: (-10,01060; 13,37060)
T-Test of difference = 0 (vs not =): T-Value = 0,29 P-Value =
0,774 DF = 48
Both use Pooled StDev = 20,5570
b. Uji selisih rataan kadar ureum darah menggunakan
DPU1 (Selisih1) dengan DPU10 (Selisih3).
Gambar 2. Boxplot Selisih1 dan Selisih3
Jurnal Ilmiah WIDYA 51 Volume 2 Nomor 1 Maret-April 2014
Ratnawati, 48 - 52
Tabel 5. Two-Sample T-Test and CI: Selisih(1); Selisih(3)
Two-sample T for Selisih(1) vs Selisih(3)
Difference = mu (Selisih(1)) - mu (Selisih(3))
Estimate for difference: 7,96000 95% CI for difference:
(-5,00300; 20,92300)
T-Test of difference = 0 (vs not =): T-Value = 1,24 P-Value
= 0,223 DF = 47
c. Uji selisih rataan kadar ureum darah menggunakan
DPU5 (Selisih2) dengan DPU10 (Selisih3).
Gambar 3. Boxplot Selisih2 dan Selisih3
Tabel 6. Two-Sample T-Test and CI: Selisih (2); Selisih(3)
Two-sample T for Selisih (2) vs Selisih (3)
Difference = mu (Selisih(2)) - mu (Selisih(3))
Estimate for difference: 6,28000
95% CI for difference: (-6,31650; 18,87650)
T-Test of difference = 0 (vs not =): T-Value = 1,00 P-
Value = 0,321 DF = 46
d. Uji selisih rataan kadar ureum darah menggunakan
DPU1(Selisih1), DPU5 (Selisih2) dengan DPU10
(Selisih3).
Gambar 4. Boxplot Selisih1, Selisih2 dan Selisih3
Keluaran program yang memberikan selang
kepercayaan 95% untuk rataan (Individual 95% CIs For
Mean, CI= Confidence Interval). Dari keluaran ini terlihat
Efektivitas Dialiser Proses Ulang (DPU) pada
Penderita Gagal Ginjal Kronik (Hemodialisa)
N Mean StDev SE Mean
Selisih(1) 25 87,2 21,3 4,3
Selisih(2) 25 85,5 19,8 4,0
N Mean StDev SE Mean
Selisih(1) 25 87,2 21,3 4,3
Selisih(3) 25 79,2 24,2 4,8
N Mean StDev SE Mean
Selisih(2) 25 85,5 19,8 4,0
Selisih(3) 25 79,2 24,2 4,8
bahwa semua rataan selisih kadar ureum darah berada
pada interval 75,43 sampai 92,54. Dengan perkataan lain,
perbedaan rataan selisih kadar ureum darah tidak signifikan
sebagai berikut:
Tabel 7. Individual 95% CIs For Mean Based OnPooled
StDev
Keluaran program ini memperlihatkan adanya
perbedaan rataan selisih kadar ureum darah, namun
perbedaan tidak nyata, yang terlihat dari terlihat bahwa
semua rataan selisih kadar ureum darah berada pada
interval 75,43 sampai 92,54, dengan nilai p = 0,402.
Tabel 8. One-way ANOVA: Selisih(1); Selisih(2); Selisih(3)
PENUTUP
Kesimpulan
1. Terdapat perbedaan kadar ureum darah sebelum dan
sesudah melakukan HD pada penggunaan ketiga dialiser,
DPU1, DPU5, dan DPU10.
2. Terdapat perbedaan selisih (penurunan) kadar ureum
darah pada penggunaan ketiga dialiser.
3. Berdasarkan selang kepercayaan 95% dan uji hipotesis
dengan = 0,05 terhadap rataan selisih kadar ureum
darah, diperoleh bahwa perbedaan ini tidak nyata (tidak
terlalu berarti).
4. Penggunaan DPU dalam hemodialisis terhadap ke 25
sampel pasien, memberikan rataan selisih kadar ureum
darah yang tidak terlalu siginfikan pada DPU1 dan DPU5,
yaitu 1,68. Namun perbedaan penggunaan dari DPU5 ke
DPU10 adalah 6,28.
Jurnal Ilmiah WIDYA 52 Volume 2 Nomor 1 Maret-April 2014
Ratnawati, 48 - 52
Saran-saran
1. Telah banyak kemajuan yang dicapai dengan pemakaian
DPU dan berdasarkan hasil penelitian sebelumnya,
penggunaan DPU yang aman adalah sampai 5 atau 6 kali.
2. Dari hasil penelitian ini terlihat bahwa memang rataan
selisih kadar ureum darah sebelum dan sesudah HD
dengan menggunakan DPU10 adalah paling rendah
sehingga sebaiknya tidak menggunakan DPU sampai 10
kali.
DAFTAR PUSTAKA
Cheung, Alfred K. et.al, Effect of Dialysis Membranes and Middle
Molecule Removal on Chronic Hemodialysis Patient Survival.
American Journey of Kidney Diseases, Volume 33,1999.
Gibbons, Jean Dickinson and Chakraborti, Subhabrata, Nonparametric
Statistical Inference .4th Ed. CRC ISBN 0-8247-4052-1,2005.
Levin, Nathan W. et.al., Effect of Dyalisis Dose and Membrane Flux
in Maintenance Hemodyalisis. The New England Journal of
MedicineVol.347,No.25 Dec 19,2002.
Levin, Sanda Kaufman. Mediation in Environmental Disputes. Conflict
Revolution. Volume II, 2001.
Pereira, Brian J.G. et.al , Does Predialysis Nephrology Care Influence
Patient Survival After Initiation of Dialysis?, Official Journal
of The International Society of Nephrology 67, 2005.
Siegel, Sidney & John Castellan JR. Nonparametric Statistics for the
Behavioral Sciences, Second Edition. McGraw-Hill International
Editions,1988.
Situmorang, Tunggul. Indonesia Jauh Tertinggal. Dialife. Edisi
Desember.Buletin Informasi Kesehatan Ginjal. 2009.
Supriyadi , Wagiyo , Sekar Ratih Widowati. Tingkat Kualitas Hidup
Pasien Gagal Ginjal Kronik Terapi Hemodialisis. Jurnal
Kesehatan Masyarakat (KEMAS) Volume 6 No.2.Jurusan Ilmu
Kesehatan Masyarakat. Univ.Negeri Semarang,2011.
Wasserman, Larry, All of Nonparametric Statistics. Springer. ISBN:
0387251456, 2007.
http: //www.ikc.or.id/2012/06/11/mengenal-cuci-darah-hemodialisis
Efektivitas Dialiser Proses Ulang (DPU) pada
Penderita Gagal Ginjal Kronik (Hemodialisa)
Level N Mean StDev -----+-----+-----+-----+
Selisih(1) 25 87,20 21,26 (------------*-----------)
Selisih(2) 25 85,52 19,83 (-----------*------------)
Selisih(3) 25 79,24 24,21 (-----------*------------)
77,0 84,0 91,0 98,0
Source DF SS MS F P
Factor 2 880 440 0,92 0,402
Error 72 34347 477
Total 74 3522