Anda di halaman 1dari 13

Masyarakat Perkotaan

Pengertian Masyarakat Perkotaan


Kota acap kali dipahami sebagai bentuk kehidupan masyarakat yang sangat individual,
penuh kemewahan, gedung-gedung yang menjulang tinggi, kendraan yang lalu-lalang hingga
mengundang kemacetan, perkantoran yang mewah, dan pabrik-pabrik yang besar. Kota sering
kali dianggap sebagai semua tempat tujuan masyarakat pedesaan untuk mencari pekerjaan, sebab
pusat-pusat industri dan perpabrikan banyak berdiri di daerah perkotaan. Asumsi ini sering kali
didasari oleh sebuah image kota adalah tempat kesuksesan seseorang atau sekelompok orang.
Padahal, di perkotaan juga ditemui beberapa kelompok pekerja disektor informal, seperti
penarik becak, tukang sapu jalan, pemulung, hingga pengemis. Selain gedung-gedung yang
menjulang tinggi, ternyata juga di temukan pemukiman kumuh di sepanjang bantaran sungai,
jalan kereta api, dan kolong jembatan. Banyak di antara warga kota tidak beruntung yang hidup
di bawah standar kehidupan sosial yang normal.
Sebagai suatu lokasi pemukiman manusia, kota tidak pernah lepas dari berbagai
permasalahan yang ada, baik masalah manusia yang berdiam di dalamnya, masalah yang timbul
dari keadaan fisik kota itu, maupun keadaan atau lokasi kota itu.
Permasalahan kota-kota di dunia telah di ringkas sebagai berikut :
1. Masalah pencemaran dan sampah
2. Masalah dalam pengangkutan dalam kota
3. Masalah pertumbuhan penduduk yang tinggi dan cepat
4. Masalah pemukiman yang tidak memenuhi persyaratan untuk hidup
5. Masalah kemasyarakatan yang timbul di kalangan penduduknya ( pengangguran,
kemiskinan, kejahatan, dan hubungan antar kelompok etnis ).
Selain itu, kota menampilkan sejumlah bangunan yang berfungsi dalam kegiatan
pemukiman, industri, perdagangan, administrasi, pengajaran, keagamaan, dan hiburan dalam
wilayah tertentu. Beberapa ahli menyatakan bahwa kota tidak akan terlepas dari manusia yang
berdiam dan melakukan berbagai kegiatan di wilayah itu. Mengenai batasan kota sendiri ada
sejumlah defenisi yang melihat kota dari sudut jumlah penduduknya, dan bentuk fisik
bangunannya, dan juga dari perilaku yang tampak pada penduduknya maupun segi hukumnya.
Jorge Hardoy memberikan sepuluh kriteria untuk merumuskan sebuah kota, yaitu :
1. Memiliki ukuran dan penduduk yang besar dilihat dari zaman dan lokasinya
2. Bersifat permanen
3. Mencapai kepadatan tertentu ( menurut zaman dan lokasi )
4. Jelas struktur dan tata ruangnya seperti terlihat misalnya dari jalur-jalur jalan di
dalamnya
5. Merupakan tempat manusia tinggal dan bekerja
6. Memiliki fungsi minimum seperti adanya pasar, administrasi dan politik, militer,
keagamaan, dan cendikia
7. Mempunyai penduduk heterogen yang diklasifikasikan secara hierarkis
8. Merupakan pusat ekonomi yang memiliki hubungan dengan daerah pertanian di tepi
kota dan yang memproses bahan mentah dari daerah pertanian itu
9. Merupakan pusat pelayana bagi daerah-daerah yang berada di sekitarnya
10. Merupakan pusat penyebaran falsafah hidup yang dimiliki ( sesuai zaman dan lokasi )
Sebagai pemukiman manusia, kota telah menjadi objek penelitian ilmiah yang
mengkajinya dari berbagai pola pendekatan. Ada yang melihat kota sebagai lingkungan materi
buatan manusia, ada yang melihat kota sebagai pusat produksi. Pendekatan lain mencoba
mengkajinya sebagai komonitas yang berbudaya, dan ada yang menginginkan sebagai komonitas
yang terkendali dan tertib.
Banyak kota di dunia berawal dari desa. Desa sendiri adalah lokasii pemukiman yang
penghuninya terikat dalam kehidupan pertanian, dan bergantung pada wilayah di sekelilingnya.
Dalam perjalanan waktu, karena keadaan topografis dan lokasinya, desa ini berkembang menjadi
kota. Masyarakat perkotaan lebih dipahami sebagai kehidupan komonitas yang memiliki sifat
kehidupan dan cirri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Ada beberapa
cirri yang menonjol pada masyarakat kota, yaitu :
1. Kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di
desa.
2. Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung
pada orang lain. Yang penting di sini adalah manusia perorangan atau individu.
3. Pembagian kerja di antara warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas yang
nyata.
4. Kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota
dari pada warga desa.
5. Interaksi yang terjadi lebih banyak terjadi berdasarkan pada faktor kepentingan dari
pada faktor pribadi.
6. Pembagian waktu yang lebih teliti dan sangat penting, untuk dapat mengejar
kebutuhan individu.
7. Perubahan sosial tampak dengan nyata di kota-kota, sebab kota biasanya terbuka
dalam menerima pengaruh dari luar.
Perkembangan kota merupakan manifestasi dari pola-pola kehidupan sosial, ekonomi,
kebudayaan, dan politik. Kesemuanya akan tercermin dalam komponen-komponen yang
membentuk struktur kota ini. Secara umum dapat dikenal bahwa suatu lingkungan perkotaan
biasanya mengandung lima unsur yang meliputi :
1. Wisma : unsur ini merupakan bagian ruang kota yang digunakan untuk tempat
berlindung terhadap alam sekelilingnya, serta untuk melangsungkan kegiatan-
kegiatan sosial dala keluarga. Unsur wisma ini menghadapkan :
a. Dapat mengembangkan daerah perumahan penduduk yang sesuai dengan
pertambahan kebutuhan penduduk untuk masa mendatang.
b. Memperbaiki keadaan lingkungan perumahan yang telah ada agar dapat mencapai
standar mutu kehidupan yang layak, dan memberikan nilai-nilai lingkungan yang
aman dan menyenangkan.
2. Karya : unsur ini merupakan syarat yang utama bagi eksistensi suatu kota, karena
unsur ini merupakan jaminan bagi kehidupan bermasyarakat.
3. Marga : unsure ini merupakan ruang perkotaan yang berfungsi untuk
menyelenggarakan hubungan antara suatu tempat dan tempat lainnya di dalam kota,
serta hubungan antara kota itu dengan kota lain atau daerah lainnya.
4. Suka : unsur ini merupakan bagian dari ruang perkotaan untuk memenuhi kebutuhan
penduduk akan fasilitas hiburan, rekreasi, pertamanan, kebudayaan, dan kesenian.
5. Penyempurnaan : unsur ini merupakan bagian yang penting bagi suatu kota, tetapi
belum secara tepat tercakup ke dalam keempay unsur termasuk fasilitas pendidikan
dan kesehatan, fasilitas keagamaan, pekuburan kota, dan jaringan utilitas kota.
Kehidupan Masyarakat Perkotaan
Kesan popular secara sepintas tentang kehidupan masyarakat perkotaan dipahami
sepintas sebagai masyarakat yang lebih beradab, pintar, terdidik, modern, lebih mudah menerima
perubahan, dan lebih mudah menerima dan menyerap informasi semata-mata dilatarbelakangi
oleh ketidaktahuan tentang perkotaan. Padahal masih ada sebagian yang bertempat tinggal layak
di wilayah pemukiman kumuh, bekerja disektor informal yang kurang layak secara kemanusiaan.
Mereka bermukim di bantaran sepanjang sungai, di jalan kereta api, bahkan ada juga yang
bermukim di kolong jembatan.
Sebagian dari mereka juga berprofesi sebagai tukang pemulung, pengemis, dan gembel
yang sudah tentu mereka adalah kelompok marginal yang tidak mampu mengakses perubahan
social budaya dan tidak berdaya menyerap arus modernisasi. Mereka hidup lebih dibawah
system tradisional di tengah-tengah pasar sekaliber pasar swalayan yang besar, di tengah-tengah
hotel mewah, di tengah-tengah perkantoran yang megah. Sayangnya mereka hanya dapat
memandang tanpa mampu menikmati tempat-tempat ini.. Dengan demikian, kesan social dimana
masyarakat perkotaan lebih relative modern, beradab dan terdidik tidak sepenuhnya benar.
Kebudayaan masyarakat perkotaan yang seringkali dikatakan modern sebenarnya
berhubungan dengan lokasi wilayah perkotaan sebagai pusat pemerintahan, bisnis, perdagangan
dan grosir, pusat pendidikan, hiburan, dan industry yang banyak menyerap tenaga kerja.
Masyarakat perkotaan hidup di daerah yang secara geografis terletak ditempat keramaian kota.
Dengan demikian, masyarakat perkotaan adalah sekelompok orang yang hidup disuatu wilayah
yang membentuk komunitas yang heterogen karena kebanyakan anggota-anggotanya berasal dari
berbagai daerah yang membentuk komunitas baru.
Secara sosiologis pengertian kota memberikan penekanan pada kesatuan masyarakat
industry, bisnis, dan wirausaha lainnya dalam struktur social yang lebih kompleks. Jika diamati
secara fisik, kota diwarnai dengan gedung-gedung menjulang tinggi, hiruk-pikuk kendaraan dan
pabrik, kemacetan, kesibukan masyarakatnya, tingkat persaingan yang tinggi, polusi, dan
kebisingan mesin kendaraan bermotor. Adapun secara social, kehidupan masyarakat perkotaan
sering dinilai sebagai kehidupan yang heterogen, individual, persaingan yang tinggi, dan
merupakan pusat dari perubahan yang acap kali menimbulkan konflik. Oleh sebab itu,
masyarakat perkotaan acap kali dianggap sebagai tempat yang cocok untuk mencari pekerjaan,
dan tempat untuk meraih sukses, tempat menimba ilmu pengetahuan melalui pendidikan dan
pelatihan, tempat untuk transaksi bisns.
Dengan demikian, anggapan atau kesan bahwa masyarakat perkotaan pintar, tidak mudah
tertipu, cekatan dalam berpikir, dan bertindak, mudah menerima perubahan dan pembaruan,
adalah tidak selamanya benar, sebab di samping terdapat berbagai gedung yang menjulang
tinggi, pusat peradaban, dan ilmu pengetahuan, pemerintahan, industry, ternyata dibalik itu
terdapat sekelompok orang yang hidup dibawah standar kehidupan social. Selain itu, tidak
selamanya masyarakat perkotaan disebut sebagai masyarakat modern, sebab dewasa ini telah
banyak amsyarakat perkotaan yang tertinggal dengan arus perubahan dan modernisasi yang tidak
berdaya mengakses kebutuhan sosialnya, termasuk didalamnya informasi. Bahkan teknologi
komunikasi, seperti televise, dan computer belum menyentuh mereka, sehingga masyarakat kota
juga belum memiliki jaringan informasi tentang perubahan social dan kebudayaan. Jadi,
masyarakat yang disebut sebagai masyarakat modern dalam pokok bahasan ini adalah kelompok
masyarakat yang berada di daerah keramaian dan leih mudah menalami perubahan atau pengaruh
dari kehidupan masyarakat perkotaan. Jika merujuk pada arti ini maka dapat disimpulkan bahwa
dalam kehidupan social perkotaan masih terdapat masyarakat yang berperadaban pedesaan, disisi
lain ada juga sebagian masyarakat pedesaan yang hidup dalam taraf perkotaan.
Untu memahami secara detail tentang kehidupan sosia masyarkat perkotaan dapat dari
beberapa hal berikut ini:
1. Lingkungan umum dan orientasi terhadap alam.
Lingkungan umum masyarakat perkotaan secara geografis terletak didaerah pusat
pemerintahan, industry dan bisnis, pendidikan, kebudayaan yang selalu ramai dengan
kesibukan orang bekerja baik siang dan malam yang diwarnai dengan tingginya
tingkat persaingan dalam mempertahankan hidup. Masyarakat perkotaan cenderung
meninggalkan kepercayaan yang berkaitan dengan kekuatan alam serta pola-pola
hidupnya lebih bersifat rasional dengan mempertimbangkan aspek untung rugi. Selai
itu, diliat dari pola-pola pencahariannya, Masyarakat perkotaan tidak bergantung
kepada kekuatan alam, melainkan bergantung pada tingkat kemampuannya untuk
bersaing dalam usaha. Gejala alam dipahami sebagai pola-pola yang ilmiah dan
secara alam dapat dikendalikan dan direncanakan. Masyarakatt industry perkotaan
dalam melakukan pekerjaan tidak berpedoman pada gejala alam sebagai tanda zaman,
melainkan berpedoman pada formulasi ilmiah yang lebih rasional. Munculnya gejala
alam seperti gempa bumi, gerhana bulan dan matahari, komet tidak ditafsiri sebagai
bentuk tanda-tanda zaman yang menyangkut kehidupan mereka, melainkan gejala
ilmiah yang rasional dan dapat diprediksi.
2. Pekerjaan atau mata pencaharian.
Secara mayoritas, masyarakat perkotaan hidup bergantung pada pola-pola industry
(kapitalis), di samping ada sekelompok kecil anggota masyarakat yang bekerja
disektor informal seperti menjadi pemulung, pengemis, dan pengamen. Pekerjaan
sebagai pengusaha, pedagang, dan buruh industry biasanya merupakan bentuk mata
pencaharian yang primer, sedangkan pekerajaan selain yang disebutkan tadi
ditempatkan sebagai bentuk pekerjaan sekunder. Pada masyarakat industry, biasanya
mereka tidak menyiapkan bahan makanan untuk hari esok, melainkan hidupnya
tergantung pada pengahasilan dari pekeraannya dan dari gaji yang diperoleh sebagai
karyawan. Dewasa ini, kondisi-kondisi masyarakat perkotaan lebih dinamis dan lebih
mudah mengalami perubahan, namun mata pencahariannya dapat dikatakan berkutat
pada sector tersebut.
3. Ukuran komunitas.
Biasanya komunitas masyarakat perkotaan lebih luas dan relative heterogen jika
dibandingkan dengan masyarakat pedesaan. Mayoritas masyarakat perkotaan adalah
pendatang dari berbagai daerah dengan latar belakang sosiokultur yang bermacam-
macam corak dan bentuknya. Kedatangan warga dari berbagai daerah memiliki tujuan
yang bermacam-macam, salain mencari pekerjaan secara mayoritas, ada juga yang
sekedar mencari hiburan, dan menempuh jenjang pendidikan tertentu. Jumlah
/penduduk di daerah perkotaan juga relatif besar dan jumlah kepadatan penduduk
relatif sempit. Hampir smeia hamparan wilayaha perkotaan tidak terdapat lahan
pertanian yang digunakakn untuk bercocok tanam. Tingginya angka populasi di
daerah perkotaan disebabkan oleh tingginya angka mobilitas penduduk dari berbagai
daerah ke perkotaan. Kebanyakan sebagian masyarakat perkotaan pergi ke kota-kota
biasanya didorong oleh kecilnya jumlah lapangan pekerjaan sebab latar belakang
wilayah perkotaan sebagai pusat bisnis dan isndustri. Kebanyakan para pendatang
yang datang di daerah perkotaan di dorong oleh karena pendatang rata-rata tidak
memiliki lahan dan modal usaha, maka kebanyakan mereka mengadu nasibnya ke
kota untuk bekerja di sector-sektor informal seperti pabrik, dan menjadi pedagang
kaki lima.
4. Kepadatan penduduk.
Penduduk daerah perkotaan kepadatannya lebih tinggi jika dibandingkan dengan
masyarakat pedesaan. Tingginya tingkat kepadatan penduduk ini disebabkan oleh
kebanyakan penduduk di daerah perkotaan berasar dari berbagai daerah. Dengan
demikian, pertambahan dan pengurangan nya tergantungpada tinggi rendahnya angka
mobilitas penduduk, bukan pada natalitas dan mortalitas penduduk sebagai yang
terjadi di daerah pedesaan. Kebanyakan pendatang dari berbagai daerah biasanya
bukan karena pekerjaann, bukan karena faktor social seperti perkawinan. Tngginya
tingkat kepadatan penduduk di daerah perkotaan juga dipengaruhi oleh tingginya
jumlah lapangan pekerjaan, pusat lembaga pendidikan dan pelatihan, dan pusat
hiburan. Hampir setiap hari terdapat pergelaran hiburan, seperti di tempat-tempat
pariwisata, kuliner, dna klub malam.
5. Homogenitas dan heterogenitas.
Heterogenitas dalam cirri-ciri sosial, psikologis, agama dan kepercayaan, adat
istiadat, dan perilakunya sering kali tampak di dalam struktur masyarakat perkotaan.
Hal ini disebabkan kebanyak jumlah penduduk di daerah perkotaan berasal dari
berbagai daerah yang rata-rata memiliki ciri-ciri kesamaan sosiokultural. Dengan
demikian, struktur masyarakat perkotaan lebih sering mengalami gejala interseksi
sosial, mobilitas, dan dinamika sosial.
6. Diferensiasi sosial.
Di daerah perkotaan, diferensiasi sosial relative tinggi, sebab tingkat perbedaa agama,
adat istiadat, bahasa, dan sosiokultural yang dibawa oleh pada pendatang dari
berbagai daerah, cukup tinggi. Di dalam struktur masyarakat modern perkotaan sering
kali dikenal konsep pembagian kerja (division of jobs) atas dasar pola-pola
manajemen yang modern. Diferensiasi masyarakat perkotaan dapat dilihat dari
adanya perbedaan system kekerabatan, profesi, dan pekerjaan, agama, bahasa, adat
istiadat, budaya, dan lain sebagainya dibawa oleh pendatang dari berbagai daerah
tersebut. Di dalam struktur masyarakat perkotaan lebih bersifat campuran
sosiokultural yang membentuk komunitas baru, dan solidaritas baru, sehingga
intensitas gejala interseksi sosial samgat mendominasi struktur masyarakatnya.
7. Pelapisan sosial.
System pelapisan masyarakat perkotaan lebih banyak di dominasi oleh perbedaan
hierarkis status dan peranan di dalam struktur masyarakatnya. Ada beberapa indicator
yang dijadikan sebagai pedoman untuk mengukur tingkat pelapisan sosial di dalam
masyarakat perkotaan. Indicator-indikator ini diantaranya:

1) Tinggi rendahnya tingkat pendidikan
2) Kepemilikan benda-benda berharga, seperti bentuk dan model rumah, mobil
mewah, perhiasan, dan benda-benda elektronik
3) Struktur jabatan dalam perusahaan atau instansi tertentu
4) Lokasi tempat tinggal
Struktur masyarakat perkotaan yang lebih mpdern, pretasi (ascribed status) juga
lebih menentukan strata sosial. Artinya, di dalam struktur masyarakat modern lebih
menghargai prestasi ketimbang keturunan, walaupun ada beberapa orang yang
membeli gelar-gelar kebangsawanan untuk mendongkrak popularitas politiknya.
8. Mobilitas sosial.
Mobilitas sosial di dalam struktur masyarakat pedesaan tidak jauh berbeda dengan
tingkat mobilitas sosial di dalam struktur msyarakat perkotaan, hanya saja mobilitas
sosial masyarakat perkotaan lebih dinamis dibandingkan masyarakat pedesaan. Sifat
kedinamisan itu dapat dilihat dari gejala dimana mobilitas sosial di daerah perkotaan
lebih mudah ketimbang di daerah pedesaan. Kenyataan itu mendorong kebanyakan
warga pedesaan pergi mengadu nasib di pekrotaan. Kenyataan itu adalah sebuah
kewajaran sebab perputaran uang lebih banyak terjadi di daerah perkotaan dari pada
di daerah pedesaan.
Selain itu, di dalam struktur masyarakat pedesaan asli, adat istiadat masyarakat
tradisional sering kali menjadi hambatan bagi terjadinya mobilitas sosial vertical naik.
Sekelompok orang yang menempuh jenjang pendidikan tertentu di daerah perkotaan
lebih banyak diobseso oleh image di perkotaan lebih mudah mengadu untung.
9. Interaksi sosial.
Lebih tepatnya masyarakat pedesaanmeminjam istilah Ferdinand Tonies adalah
kelompok gesseslchaft yaitu kelompok patembayan, adalah ikatan lahir yang bersifat
pokok untuk jangka waktu yang pendek (sementara), bersifat sebagai bentuk dalam
pikiran saja, dan strukturnya bersifat mekanis sebagaimana diumpakan sebuah mesin.
Kelompok sosial ini terdapat hubungan timbal balik dalam bentuk perjanjian-
perjanjian tertentu yang orientasinya adalah keuntungan (pamrih). Contoh yang
mudah diidentifikasi adalah persatuan pedagang pasar, perserikatan badan usaha
seperti perseroan terbatas (PT)atau cooperation limited (Co Ltd), firma, dan
comanditervenoschaft (CV).
Di dalam gesseslchaf, interaksi antar anggota masyarakat bersifat tak langsung
diantara mereka. Kontak dan komunikasi sosial yang membentuk interaksi sosial
biasanya terjadi secara personal dengan mempertimbangkan aspek untung rugi dari
interaksi yang dilakukan. Mengingat masyarakat perkotaan terdapat hubungan yang
kurang atau tidak saling kenal mengenal antar anggota masyarakat, sehingga
hubungan yang terjadi biasanya hanya seperlunya. Hampir semua hubungan antar
anggota masyarakat bersifat formal.
10. Pengawasan sosial.
Luasnya wilayah kultural perkotaan dan relatif heterogennya masyarakat perkotaan
membuat sistem pengawasan sosial perilaku antar anggota masyarakat kurang atau
tidak intensif. Tidak saling kenal mengenalnya antarwarga masyarakat. Di dalam satu
kelompok saja, misalnya dalam lingkungan satu RT, seseorang melakukan
penyimpanan banyak di antara anggota masyarakat yang tidak mengetahuinya. Sifat
sosial di dalam masyarakat perkotaan tidak sama dengan masyarakat pedesaan yang
antarwarga di dalam satu wilayah sifat kolektivitasnya sangat kuat. Pengawasan
sosial atau kontrol sosial kurang efektif di dalam masyarakat perkotaan ketimbang
masyarakat pedesaan.
11. Pola kepemimpinan.
Struktur masyarakat pedesaan lebih banyak bersifat formal rasional, artinya
kepemimpinan seseorang selalu didasarkan pada pertanggungjawaban secara rasional
atas dasar moral dan hukum. Dengan demikian, hubungan antarpemimpin dan warga
masyarakatnya lebih berorientasi pada hubungan formalitas. Dalam struktur
masyarakat seperti ini pola-pola formal dan rasional menentukan bagaimana
masyarakat perkotaan lebih kental dengan pola-pola hubungan rasional, maka
seseorang yang dijadikan sebagai tokoh atau figur kepemimpinan kebanyakan berasal
dari seseorang yang tentunya memiliki kualifikasi tertentu berdasarkan kemampuan
baik secara akademis maupun dari aspek kepemimpinan. Seseorang yang memiliki
kualitas pribadi tidak hanya jarang melakukankesalahan menurut ukuran
masyarakat setempat, jujur, memiliki jiwa pengorbanan yang tinggi dan pengalaman
tanpa memperhatikan kapasitas intelektualnya, akan tetapi kapasitas intelektual dan
aspek kepemimpinan akan dianggap sebagai panutan. Hubungan kepemimpinan di
dalam masyarakat pedesaan terkait dengan ikatan formal di mana pola-pola hubungan
formal rasional lebih banyak mewarnai pola-pola kepemimpinannya.
12. Standar kehidupan
Standar kehidupan biasanya diukur dari kepemilikan benda-benda yang dianggap
memiliki nilai yang dalam hal ini adalah harta benda. Standar hidup masyarakat
perkotaan yang hidup untuk hari ini dan esok. Mereka lebih mengenal deposit,
perbankan, tabungan sebagaimana yang biasa digunakan di dalam struktur
masyarakat modern daripada tempat penyimpanan bahan makanan, seperti lumbung
dan sebagainya. Artinya mereka tidak menyimpan bahan-bahan makanan sebagai
persediaan untuk esok hari, sebab baginya menyimpan uang dalam bentuk deposito
dianggap lebih praktis dan mudah. Selain itu, kepemilikan rumah mewah dan barang-
barang berharga lainnya seperti mobil mewah, HP keluaran terbaru, dan barang-
barang elektronik merupakan kebanggaan bagi masyarakat perkotaan. Untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sangat tergantung pada penghasilan dari
pekerjaan, seperti bisnis dan gaji. Ketersediaan uang dalam bentuk deposito lainnya
lebih penting daripada kepemilikan bahan pangan yang disimpan di lumbung. Tingkat
kebutuhan mereka tidak hanya sebatas untuk pemenuhan kebutuhan hidup tetap, nilai
lebih dari apa yang dibutuhkan akan lebih meningkatkan status mereka di dalam
kehidupan sehari-hari. Konsep nerima, pasrah, dan mensyukuri apa yang ada bukan
merupakan bagian dari falsafah hidup masyarakat perkotaan.
13. Kesetiakawanan sosial.
Sebagaimana dijelaskan di depan bahwa persekutuan masyarakat perkotaan lebih
berbentuk gesseslchaf maka ikatan solidaritas sosial dan kesetiakawanan lebih
renggang dibanding dengan masyarakat pedesaan. Artinya, pola-pola hubungan sosial
dengan orientasi untung rugi lebih dominan daripada kepentingan solidaritas dan
kesetiakawanan sosial. Hal ini, dapat dilihat dari pola-pola individual masyarakat
sehingga setiap kali pekerjaan yang berat selalu dihitung dari mekanisme upah dan
bayaran. Tali yang dapat mengikat rasa solidaritas masyarakat perkotaan adalah uang,
sehingga setiap hubungan sosial, maka uang adalah tali perekatnya.
14. Nilai dan sistem nilai.
Nilai dan sistem nilai di dalam struktur masyarakat perkotaan lebih bersifat formal.
Artinya, pola pergaulan dan interaksi lebih banyak diwarnai oleh pola-pola sosial
yang didasarkan pada tata aturan resmi, seperti hukum positif lebih dominan
dibandingkan dengan pola-pola sosial yang bersifat informal. Adat istiadat tidak
berperan menentukan pola-pola interaksi sosial di mana setiap permasalahan yang
muncul selalu di selesaikan berdasarkan hukum di pengadilan.
Masyarakat Pedesaan Yang Urban
Desa dalam pengertian ysng umum seperti yang di definisikan dalam UU no 32 tahun
2004adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah berwenang untuk
mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat. Berdasarkan asal-usul san adat
istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan negara kesatuan republik
indonesia masih menisakan persoalan besar. Berdasarkan konsep ini ada 71.000 lebih desa di
indonesia. Di antaranya ada sebanyak 32.000 dikategorikan sebagai desa tertinggal, jadi masih
banyak pemuda indonesia yang bernasib buruk. Indonesia sebagai negara dengan jumlah
penduduk terbesar keempat di dunia dengan perkiraan kepadatan penduduk 126 jiwa/ km2.
Jumlah ini didapat jika pola penyebaran penduduk di indonesia merata. Sedangkan kalau kita
telusuri lebih jauh peta kepadatan penduduk tidak tersebar secara merata.
Penghuni pulau jawa lebih padat dari pulau-pulau lain di indonesia, terlihat jika kita
bandingkan di tingkat provinsi. Data di tahun 2004 memperlihatkan bahwa DKI Jakarta sebagai
ibu kota negara memiliki kepadatan penduduk 16.667 jiwa/km2, jawa barat 1124,19 jiwa/km2,
banten 2030,82 jiwa/km2. Bandingkan dengan kepadatan penduduk di kalimantan timur di tahun
yang sama 11,22 jiwa/km2 serta sumatera barat 104jiwa/km2. Data yang disebutkan di atas
menandakan adanya ketimpangan penyebaran penduduk di indonesia, biasanya disebabkan oleh
pembangunan yang tidak merata.
Pada umumnya pemuda banyak tergiur untuk migrasi ke kota besar bahkan jika berada di
luar jawa akan berupaya untuk menyebrangi samudra demi mengadu nasib di pulau jawa.
Padahal tanpa kompetensi yang memadai, hanya akan menambah permasalahan baru
kemiskinan. Mengutip pernyataan seorang peneliti kemiskinan Michael Lipton dan Ivan A Dahar
yang mengatakan bahwa kesenjangan ekstrem adalah penyebab utama terganjalnya
pertumbuhan. Oleh karena itu, kemiskinan massal, bukan hanya akibat stagnasi ekonomi, tetapi
penyebab terpenting stagnasi ekonomi itu sendiri.
Umum mobilitas penduduk dari desa menuju kota disebt urbanisasi. Namun demikian,
pengertian urbanisasi menurut Prof. Prijono Tjiptoherijanto, adalah persentase penduduk yang
tingggal di daerah perkotaan adalah mereka yang awam dengan ilmu kependudukan seringkali
mendefinisikan urbanisasi sebagai perpindahan penduduk dari desa ke kota. Padahal perpindahan
penduduk dari desa ke kota hanya salah satu penyebab proses urbanisasi, di samping penyebab-
penyebab lain seperti pertumbuhan alamiah penduduk perkotaan, perluasan wilayah, maupun
perubahan status wilayah dari daerah pedesaan menjadi daerah perkotaan, dan semacamnya itu.
Dengan demikina, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya urbanisasi akan terjadi secara
alamiah. Walaupun demikian, pemerintah memang memiliki kebijakan untuk sesegera mungkin
meningkatkan proporsi penduduk yang tinggal di daerah perkotaan karena berkaitan dengan
kenyataan bahwa meningkatnya penduduk daerah perkotaan akan berkatian erat dengan
meningkatnya pertumbuhan ekonomi negara.
Data yang di olah oleh guru besar UI tersebut memperlihatkan bahwa suatu negara atau
daerah dengan tingkat perekonomian yang lebih tinggi, juga memiliki tingkat urbanisasi yang
lebih tinggi, dan sebaliknya. Persoalan yang terjadi selanjutnya adalah tingkat urbanisasi yang
berlebihan atau tidak terkendali yang memaksa atau mendorong pemerintah membuat kebijakan
untuk mengendalikannya.