Anda di halaman 1dari 15

1.

IDENTITAS PENDERITA:

Nama

: Ny. Iftitah

Jenis Kelamin

: Perempuan

Pekerjaan

: Ibu Rumah tangga

Agama

: Islam

Alamat

: Semampir Tengah Gg III A

  • 2. KELUHAN UTAMA Hilangnya pendengaran secara mendadak

  • 3. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG 2 bulan yang lalu pasien datang dengan keluhan tuli mendadak pada telinga sebelah kiri saat memasak, diikuti sensasi daerah sekitar seperti berputar. Kemudian pasien datang ke Dr. Soetomo dan disarankan untuk terapi HBO di lakesla RSAL. Dari RSUD Dr.Soetomo diberi Metcobalamin, Tebocan (ginkobiloba), dan Imbos untuk imunitas.

  • 4. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU

Hipertensi

: disangkal

Diabetes Melitus

: disangkal

Pneumothorax

: disangkal

Kelainan jantung

: disangkal

Operasi telinga

: disangkal

Trauma kepala

: disangkal

Kejang, Epilepsi

: disangkal

Tumor

: disangkal

Asma

: disangkal

PPOK

: disangkal

Gastritis

: disangkal

Pasien suka mengkorek-korek telinga dengan cotton bud

  • 5. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT

    • a. Status Interna

      • a. Keadaan umum

: baik

  • b. : compos mentis

Kesadaran

  • c. Vital sign:

1 | P a g e

Tekanan darah

 

Nadi

: 110/60 mmHg : 80x/menit regular

RR

: 22x/menit

Suhu

: axillar

  • d. Kepala

 

Mata

:anemia

(-),

ikterus

(-),

sianosis (-), dypsneu (-)

Hidung

: rinorhea (-), epistaxis (-),

Telinga

: otorhea (-), membrane

timpani intak +/+ Mulut

: gigi berlubang (-)

  • e. Leher :

Pembesaran KGB

: (-)

Pembesaran Tyroid : (-)

Deviasi trachea

: (-)

  • f. Thoraks

Cor

Suara jantung S1 S2 tunggal Murmur (-) Gallop (-) Pulmo Normo chest, gerak nafas simetris Vesikuler ( +/ +) Wheezing ( - / - ) Rhonkhi ( - / - )

  • g. Abdomen

inspeksi

: datar simetris

palpasi

: nyeri tekan (-), hepar, lien, ginjal

tidak teraba

perkusi

: timpani

auskultasi

: bising usus dalam batas normal

  • h. Ekstremitas akral hangat pada keempat ekstremitas

2 | P a g e

+ +
+
+
A + + - - A -
A
+
+
-
-
A
-
-
-

odema pada keempat ekstremitas

  • b. Status Neurologi Kesadaran Meningeal sign Mata

: GCS 4-5-6 : (-)

Gerakan normal Pupil bulat isokhor Reflek cahaya: +/+ Reflek kornea: +/+

Motorik

:

normotonus,

turgor

baik,

koordinasi

baik Reflek fisiologis : dalam batas normal Reflek patologis : dalam batas normal Pemeriksaan khusus Audiometri :

AC = 65 dB dan BC = 94 dB AC dan BC berimpit, terdapat air bone-gap

Diagnosis : Sudden deafness dextra

  • 6. TINJAUAN PUSTAKA a. Definisi

Sudden deafness atau tuli mendadak (Sudden hearing loss/ SHL) adalah suatu ketulian yang terjadi secara tiba-tiba dalam beberapa jam sampai hari, biasanya unilateral tapi bias juga bilateral, bersifat tuli syaraf dengan penyebab yang tidak diketahui (NIDC, 2003). Tuli syaraf dengan penurunan pendengaran 30 dB atau lebih dengan pemeriksaan audiometri paling sedikit tiga frekuensi dan terjadi dalam 3 hari atau kuarang (medscape, 2012). Tuli mendadak merupakan suatu keadaan emergency di bidang otology sehingga memerlukan tindakan segera untuk mencegah timbulnya kelaianan yang menetap dan menyelamatkan fungsi pendengeran sering juga bias menimbulkan frustasi dan kecemasan pada penderitanya (Neeraj, 2012).

3 | P a g e

  • b. Anatomi dan Fisiologi Pendengaran Sistem pendengaran manusia terbagi menjadi 2 bagian besar, yaitu :

    • 1. Sistem pendengaran perifer, terdiri atas struktur yang terletak di luar batang otak atau otak, yaitu telinga dan nervus koklearis.

    • 2. Sistem pendengaran sentral, terdiri atas struktur saraf pendengaran setelah nervus koklearis, yaitu kompleks nukleus koklearis, kompleks nukleus olivarius superior, lemniskus lateral, kolikulus inferior, korpus genikulatum medial dan korteks pendengaran.

Telinga terdiri atas 3 bagian yaitu telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam.

  • a. Telinga luar terdiri dari daun telinga dan liang telinga.

  • b. Telinga tengah terdiri dari :

    • - Membran timpani

    • - Kavum timpani

    • - Prosessus mastoideus

    • - Tuba eustachius

  • c. Telinga dalam terdiri dari :

    • - Koklea sebagai bagian sistem pendengaran

    • - Vestibulum

    • - Kanalis semisirkularis Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun telinga, dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang ke koklea. Daun telinga berfungsi untuk menangkap serta menghimpun gelombang bunyi yang datang dari luar untuk kemudian diarahkan ke liang telinga dan selanjutnya bersama liang telinga tersebut menyebabkan naiknya tekanan akustik sebesar 10 – 15 dB pada membran timpani. Setelah sampai

    4 | P a g e

    di membran timpani, getaran diteruskan ke telinga tengah (guyton, 2007). Fungsi organ dalam telinga tengah selain untuk meneruskan gelombang bunyi, juga memproses energi bunyi tersebut sebelum memasuki koklea. Dalam telinga tengah, energi bunyi mengalami amplifikasi melalui sistem rangkaian tulang pendengaran. Setelah diamplifikasi, energi tersebut akan diteruskan ke stapes, yang menggerakkan tingkap lonjong sehingga perilimfe pada skala vestibuli bergerak. Getaran diteruskan melalui membran Reissner, yang mendorong endolimfe, sehingga akan menimbulkan gerak relatif antara membran basilaris dan membran tektoria. Proses ini merupakan rangsang mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel – sel rambut, sehingga terjadi pelepasan ion – ion bermuatan listrik. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut sehingga melepaskan neurotransmiter ke dalam sinaps dan menghasilkan potensial aksi yang kemudian diteruskan ke serabut – serabut N.VIII menuju nukleus koklearis sampai ke korteks pendengaran (Guyton, 2007).

    c. Etiology

    Penyebab tuli mendadak belum diketahui secara pasti, tetapi teori-teori yang banyak berkembang menyatakan bahwa kebanyakaan penyebab tuli mendadak sebagian

    besar adalah gangguan vaskular dan virus (NIDC, 2010) .. Menurut (neeraj, 2012). pengelompokannya sebagai berikut :

    • 1. Infeksi bakteri (contoh: meningitis, syphilis), infeksi virus (contoh: mumps, cytomegalovirus, varicella/zoster)

    • 2. Inflamasi Sarcoidosis, Wegener granulomatosis, Cogan syndrome

    5 | P a g e

    • 3. Vaskular–status hiperkoagulasi (contoh : Waldenstrom makroglobulinemia), emboli (contoh: postcoronary artery bypass graft (CABG surgery).

    • 4. Tumor - Vestibular schwannoma,metastase ke tulang temporal, karsinoma meningitis

    • 5. Trauma – Fraktur tulang temporal, trauma akustik, injuri yang menembus tulang temporal.

    • 6. Toxin - Aminoglikosid antimikrobial, cisplatin

    d. Patofisiologi

    Tuli mendadak dapat disebabkan oleh berbagai hal antara lain iskemik koklea,infeksi virus, trauma kepala, trauma bising yang keras, perubahan tekanan atmosfer, autoimun dan obat ototoksik tetapi yang biasa dianggap sebagai etiologi yang sesuai adalah infeksi virus dan iskemik koklea (Neeraj, 2011). Beberapa jenis virus seperti parotis, virus campak, virus influenza B dan mononucleosis menyebabkan kerusakan pada organ corti, membrane tektoria dan selubung myelin saraf akustik.Ketulian yang terjadi biasanya berat, terutama pada frekuensi sedang dan berat. Iskemik koklea (Neeraj, 2011). Iskemik koklea merupakan penyebab utama tuli mendadak. Keadaan ini dapat disebabkan oleh spasme, thrombosis atau perdarahan arteri auditiva interna. Pembuluh darah ini merupaka ujung (end artery), sehingga bila terjadi gangguan pada pembuluh darah ini koklea sangat mudah mengalami kerusakan.Iskemik mengakibatkan degenerasi luas pada sel-sel ganglion stria vascularis dan ligament spiralis. Kemudian diikuti pembentukan jaringan ikat dan penulangan. Kerusakan sel-sel rambut tidak luas dan membrane basal jarang terjadi (Neeraj, 2011).

    6 | P a g e

    • e. Symtomps Timbulnya tuli pada iskemik koklea dapat bersifat mendadak atau menahun secara tidak jelas.Kadang-kadang bersifat sementara atau berulang dalam serangan, tetapi biasanya menetap.Tuli yang bersifat sementara biasanya tidak berat dan tidak berlangsung lama. Kemungkinan sebagai pegangan harus diingat bahwa perubahan yang menetap akan terjadi cepat. Tuli dapat unilateral maupun bilateral, dapat disertai dengan tinnitus dan vertigo (Jenny, 2007). Pada infeksi virus,timbulnya tuli mendadak biasanya pada satu telinga, dapat disertai tinnitus dan vertigo. Kemungkinan ada gejala dan tanda penyakitbvirus seperti parotis,varisela,variola atau pada anamnesis baru sembuh dari penyakit virus tersebut. Pada pemeriksaan klinis tidak terdapat kelainan terlinga (Jenny, 2007).

    • f. Diagnosis Menurut (Jenny, 2007) diagnosis tuli mendadak dapat ditegakan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan THT, audiologi, laboratorium serta pemeriksaan penunjang. Anamnesis yang teliti mengenai proses terjadinya ketulian, gejala yang menyertai serta faktor predisposisi penting untuk mengarahkan diagnose. Pemeriksaan fisik termasuk tekanan darah sangat diperlukan.Pada pemeriksaan otoskopi tidak dijumpai kelainan pada telinga yang sakit.

    Pada pemeriksaan pendengaran (audiologi) ;

    • 1. Tes penala : Rinne positif, Weber lateralisasi ke telinga sehat, Swabach memendek. Audiometri nada murni : tuli sensorineural ringan sampai berat.

    • 2. Tes SISI (short increment sensitivity index) Skor : 100 % atau kurang dari 70 % Kesan : dapat ditemukan rekrutmen

    • 3. Tes tone devay atau reflek kelelahan negative Kesan : bukan tuli retrokoklea.

    • 4. Audiometri tutur (speech audiometry)

    7 | P a g e

    SDS (speech discrimngination score) Kurang dari 100% Kesan : tuli sensorineural

    • 5. Audiometri impedans Timpanogram tipe A (normal) reflex stapedius ipsilateral negative atau positif,sedngkan kontralateral positif Kesan : tuli sensorineural koklea

    • 6. BERA (pada anak) merupakan tuli sensorineural ringan sampai berat.Pemeriksaan ENG (elektronistamografi) mungkin terdapat paresis kanal.

    • 7. Pemeriksaan CT Scan untuk menyingkirkan diagnosis seperti neuroma akustik dan malformasi tulang temporal. Pemeriksaan angiografi diperlukan untuk kasus yang diduga akibat thrombosis.

    • 8. Pemeriksaan laoratorium untuk memriksa kemungkinan infeksi.

    g. Management

    Pengobatan tuli mendadak sampai saat ini masih

    kontroversial, walaupun telah banyak cara yang dilakukan. Adanya penyembuhan yang spontan dari gangguan pendengaran menjadi normal ataupun mendekati normal membuat sulit diketahui apakah penyembuhan tersebut akibat pengobatan atau spontan. Pengobatan ditujukan pada

    • 1. Faktor penyebab

    • 2. Faktor disfungsi neurovaskular

    • 3. Faktor edema

    Diantara pengobatan yang sering dilakukan adalah

    • 1. Tirah baring total ( total bed rest ) Istirahat fisik dan mental selama 2 minggu untuk menghilangkan atau mengurangi stres yang besar pengaruhnya pada kegagalan neurovaskular.

    • 2. Vasodilator Berbagai vasodilator telah dicobakan beberapa ahli seperti Inhalasi Carbogen ( 5% karbon dioksida 95% oksigen), histamin fosfat, asam nikotinat dll.

    • 3. Untuk menghilangkan edema - Diet rendah garam dan diuretik - Kortikosteroid

    8 | P a g e

    Kerja dari kortikosteroid secara nyata tidak diketahui, kemungkinan berperan pada keadaan infeksi, radang, dan reaksi imunologi. Kortikosteroid yang digunakan

    adalah prednison dengan dosis 4 x 10 mg, tappering off tiap 3 hari. Snow JB, Telian SA menganjurkan dosis prednison sekali makan 40 – 60 mg per hari dan diberikan pagi hari selama satu minggu penuh diikuti tappering off. - Pemberian injeksi deksamethason intra timpani efektif memperbaiki pendengaran penderita tuli mendadak setelah pengobatan standar tidak berhasil

    • 4. Anti virus Acyclovir dan valacyclovir sangat terbatas digunakan pada penderita tuli mendadak. Digunakan apabila perkiraan disebabkan oleh virus.

    • 5. Hyperbaric oksigen terapi (HBOT) - Pemberian terapi tekanan oksigen 100%. Khasiat HBOT masih dalam tahap evaluasi sebagai terapi tuli mendadak. -

    Tetapi

    sebagian

    ahli

    meyakini

    bahwa

    penderita

    tuli

    mendadak yang cepat terdiagnosa menunjukan hasil yang baik dengan terapi HBOT (Neeraj, 2011).

    h. Pengaruh terapi oksigen hiperbarik terhadap Sudden deafness

    • 1. HBO meningkatkan PO 2 di telinga tengah Binatang yang dimasukan kedalam camber hiperbarik yang diberi oksigen pada tekanan normal PO 2 mengalami peningkatan 20% ketika tekanan ditingkatkan sampa 1.6 bar, PO 2 meningkat 563% yang dibandingkan dengan hasil normal. Peningkatan suplay oksigen mengkoreksi hipoksia (Lamm dkk 1988).

    • 2. HBO mengembalikan hemoreologi (Mathieu et al,1984) dan berkontribusi memperbaiki mikrosirkulasi. HBO tidak hanya menurunkan hematokrit dan viskositas darah, tapi

    9 | P a g e

    juga memperbaiki elastisitas eritrosit (Pilgramm et

    al,1988).

    • 3. HBO mengembalikan metabolism oksidatif pada stria vaskularis dan proteksi sel neurosensori dengan meningktakan tekanan O 2 intralkoklear meskipun kondisi buruk dari suplay darah (lamm,1988).

    • 4. Terapi HBO memulai regenerasi kapiler yang membentuk sirkulasi kolateral. Terapi HBO menghasilkan perbaikan yang cepat pada mikrosirkulasi di telinga tengah. Terapi HBO dapat meningkatkan tekanan parsial oksigen arteri dan jumlah oksigen, mengembalikan metabolisme aerob dan menghasilkan glikolisis anaerob (huin huang, 2012).

    • 5. Perbaikan oksigenasi pada telinga tengah, HBO meningktakan transmembran potensial dan sisntesis ATP, aktivitas metabolism sel dan pompa Na + /K + , memulai perbaiki keseimbangan ion dan fungsi elektrofisiologi pada labirin (Cavallazzi, 1996).

    • 6. Terapi HBO dapat mengaktifkan beberapa enzim antikoksidan seperti superoxide dismutase (SOD) dan glutathione peroxidase (GSH-PX) yang menghancurkan dan menurunkan radikal bebas yang memediasi kerusakan jaringan, sehingga melindungi koklea dari kerusakan (huin huang, 2012).

    i.

    Progress terapi oksigen hiperbarik deafness

    terhadap Sudden

    Progress terapi oksigen hiperbarik pada pasien Sebelum :

    10 | P a g e

    Setelah 10x Pasien mengalami perubahan pada tes audiometri AC = 40 dB dan BC = 78

    Setelah 10x

    Setelah 10x Pasien mengalami perubahan pada tes audiometri AC = 40 dB dan BC = 78

    Pasien mengalami perubahan pada tes audiometri AC = 40 dB dan BC = 78 dB AC dan BC berimpit, terdapat air bone-gap

    (Gambar) Hasil tes audiometri yang ke 20 AC = 10 dB dan BC = 49 dB AC dan BC berimpit, terdapat air bone-gap

    • 1. Terapi oksigen hiperbarik pada sudden deafness sudah dikonfirmasi pada ilmu pengetahuan. Pemberian terapi HBO

    11 | P a g e

    memberikan hasil signifikan untuk perbaikan sudden deafness.kususnya pada frequensi 250, 500, 1,000 and 4,000 Hz Dan meningkat 61 dB. terapi HBO lebih efektif jika pasien dibawah umur 50 tahun.oksigen hiperbarik dapat menjadi terapi tambahan pada pasien sudden deafness pada 5 frekuensi sampi 60 dB (Ebru

    Topuz,2013).

    2 Pada 17 pasien, menjalani terapi selam 10 hari. Dalam camber semua pasien bernafa dengan 100% oxygen pada tekanan 2.8

    bars, selama 60 minutes dua kali sehari, terdapat 12 pria dan 5 wanita, umur rata rata 35.3. pemeriksaan audiometri range berkisar 61-93 dB pada 12 pasien, 5 pasien berkisar of 41-60 dB. Setelah mengikuti terapi dari 14 pasien menjadi 0-26 dB, dua pasien meningkat sampai 27-40 dB, dan 1 pasien tetap 41-60 dB (Bennett,

    2012)

    3. Pada penelitian gotto 1979 menggunakan 3 kelompok ,kelompok 1 treatmen standar sebanyak 22 orang,kelompok 2 stellate ganglion blok dan HBO 49 orang,kelompok 3 menggunakan kombinasi treatmen 1 dan 2 sebanyak 20 orang mendapatkan hasil yang terbaik adalah kelompok 3 pada minggu kedua menunjukan perbaikan lebih dari 10 dB.

    4. Pilgramm,1985

    menggunakan

    2

    kelompok,kelompok

    1

    hemodilution sebanyak 80 pasien,kelompok 2 hemodilution dan HBO sebanyak 43 orang menunjukan hasil terbaik pada kelompok

    2

    5. Tahkahasi, 1989 menggunakan 2 kelompok ,kelompok 1 terapi standar pada 316 telinga,kelompok 2 menggunakan HBO sebanyak 519 telinga menunjukan tidak ada perbedaan pada minggu pertama tetapi kelompok kedua menunjukan perbaikan lebih baik pada minggu kedua. 6. Nakashima ,1998 menggunakan 2 kelompok ,kelompok 1 terapi standar pada 254 orang, ,kelompok 2 menggunakan HBO sebanyak 546 orang menunjukan beberapa kasus terjadi perbaikan fungsi pendengaran secara significan setelah terapi HBO.

    12 | P a g e

    • f. Analisis progress terapi oksigen hiperbarik terhadap Sudden deafness

      • 1. Terapi oksigen hiperbarik merupakan terapi pilihan pada kasus sudden deafness.

    2.

    Pada

    penelitian

    penggunaan

    terapi

    oksigen

    hiperbarik

    menunjukan perubahan hasil yang signifikan pada pasien

    sudden deafness terutama mingu kedua.

    • 3. Mekanisme terapi oksigen hiperbarik pada kasus sudden deafness adalah dengan cara :

    • 1. kapiler

    regenerasi

    yang

    membentuk sirkulasi

    kolateral.

    • 2. meningkatkan tekanan parsial oksigen arteri dan jumlah oksigen,

    • 4. mengembalikan

    metabolisme

    glikolisis anaerob

    aerob dan menghasilkan

    • 5. meningktakan transmembran potensial dan sisntesis ATP, aktivitas metabolism sel dan pompa Na + /K + , memulai perbaiki keseimbangan ion dan fungsi elektrofisiologi pada labirin.

    • 6. mengaktifkan

    beberapa

    enzim

    antikoksidan

    seperti

    superoxide dismutase (SOD) dan glutathione peroxidase (GSH-PX) yang menghancurkan dan menurunkan radikal bebas yang memediasi kerusakan jaringan, sehingga melindungi koklea dari kerusakan

    Refrensi

    , diakses 10 februari 2014

    • 2. Daniel, 2010, handbook hyperbaric medicine,sudden deafness hal 451-462

    13 | P a g e

    Gyton,2007

    • 5. edisi

    11

    buku

    ajar

    fisiologi

    kedokteran,

    indra

    pedengaran hal 681-690.

    • 6. Jenny, 2010, buku ajar ilmu kesehatan THT-KL fakultas

    kedokteran

    universitas

    indonesia

    edisi

    keenam,tuli

    mendadak,hal 46-48

    • 7. AI,

    Muminov

    Khatamov

    ZhA,

    Masharipov

    RR,

    2010,

    Antioxidants and hyperbaric oxygenation in the treatment of sensorineural hearing loss in children. http://miraclemountain.homestead.com/HBOTdeafness.html, diakses 10 februari 2010.

    sudden

    sensorineural

    hearing

    loss

    diakses

    10

    februari 2010. 10.Racić G, 2012, Hyperbaric oxygen as a method of therapy of

    sudden sensorineural hearing loss.

    http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16259656, diakses 10 februari 2010. 11. Racic G, 2012, Hyperbaric oxygen as a method of therapy of sudden sensorineural hearing loss.

    215109004277, diakses 10 februari 2010.

    14 | P a g e

    12.Timothy C. Hain, 2010 Sudden hearing loss http://american- hearing.org/disorders/hearing-loss/ diakses 13 februari 2010. 13. KK jain, 2001 hyperbaric medicine 3rd edition revised,sudden deafness hal 492-494

    15 | P a g e