Anda di halaman 1dari 4

Transpirasi adalah proses dipersiasi energi dan transpirasi berfungsi di dalam penguapan yang terjadi

akibat sinar matahari. Transpirasi memberikan gaya penggerak utama untuk penyerapan air
tanaman melawan gaya gravitasi dan tahanan gesekan dalam jalur ini melalui tanaman. Laju
pengambilan air terutama dikendalikan oleh laju transpirasi, tekanan akar, dan penyerapan air
secara aktif hanya memainkan peranan yang kecil dalam penyerapan dan hanya tampak
apabila transpirasi rendah atau berhenti (Pandey and Sinha, 2000).
Pandey, S. N and B. K. Sinha., 2000. Plant Phisiology. Kanpur.

Kutikula yang menutupi epidermis pada kedua belah permukaan sangat membatasi kehilangan air.
Walaupun demikian, air menguap dari permukaan mesofil yang basah dan uapnya akan keluar
melalui sejumlah stomata yang terdapat pada kedua belah permukaannya. Transpirasi pada
tumbuhan dibagi menjadi dua, yaitu transpirasi stomata dan transpirasi kutikula. Sebagian
dari air terlepas melalui stomata, kehilangan air melalui kutikula hanya 5 sampai 10 persen
dari jumlah air yang ditranspirasikan di daerah sedang (Wilkins, 1989)
Wilkins, M. B. 1989. Fisiologi Tanaman I. Terjemahan M. M Sutedjo dan A. G. Kartasapotra. Bumi
Aksara, Jakarta.


Transpirasi air sangat besar diserap dari lahan oleh akar yang dapat membuat karbohidrat.
Kebanyakan transpirasi hasilnya didalam bentuk uap air. Penguapan air ini dari permukaan
yang dikenal dengan transpirasi (Miller, 1931
Miller, E. C., 1931. Plant Physiology. Mc Graw Hill Company. Inc, New York.

Transpirasi tidaklah hanya diuntungkan tetapi juga penting di dalam penyerapan CO2 dari atmosfer
selama fotosintesis. Di dalam alam transpirasi banyak dilakukan oleh tanaman yang berklorofil
(Pradhan, 1997).
Pradhan, S., 1997. Plant Physiologi. Har Anand, New Delhi.

Transpirasi sebenarnya menguntungkan tumbuhan. Hasil yang tidak terhindarkan dari
suatukepentigan telah berubah menjadi keuntungan. Pada umumnya, tumbuhan mampu
hidup tanpa transpirasi. Namun bila dilakukan juga tampaknya transpirasi memberi manfaat.
Transpirasi merupakan proses pendiginan, tetapi bila transpirasi mendinginkan daun, tentu
proses fisika lain yang melakukan hal tersebut. Bila tidakj terjadi transpirasi, daun akan lebih
panas beberapa derajat(Salisbury dan Ross, 1995).
Salisbury, B. F dan Ross, W. C., 1995. Fisiologi Tumbuhan. ITB Press, Bandung.

Transpirasi dapat diartikan sebagai proses kehilangan air didalam bentuk uap dari jaringan
tumbuhan melalui stomata. Kemungkinan kehilangan air dari jaringan tanaman melalui
bagian-bagian tanaman yang lain dapat saja terjadi, tetapi porsi kehilangan tersebut sangat
kecil dibandingkan dengan yang hilang melalui stomata. Oleh sebab itu, dalam perhitungan
besarnya jmlah air yang hilang dari jaringan tanaman umumnya difokuskan pada air hilang
melalui stomata (Lakitan, 2000).
Lakitan, B., 2000. Dasar Dasar Fisiologi Tumbuhan. PT Raja Grafindo, Jakarta.

Sebagian besar transpirasi terjadi melalui stomata karena kutikula secara relatif tidak tembus air dan
hanya sedikit transpirasi yang terjadi apabila stomata tertutup. Dengan terbukanya stomata
lebih besar, lebih banyak pula kehilangan air, tetapi peningkatan kehilangan air ini lebih sedikit
untuk masing-masing satuan penambahan lebar stomata, yang paling utama dalam kondisi
lapangan ialah tingkat cahaya kelembaban. Pada sebagian besar tanaman budidaya cahaya
menyebabkan stomata terbuka. Pada tingkat kelembaban di dalam daun yang rendah sel-sel
pengawal kehilangan turgornya, mengakibatkan penutupan stomata (Gardner dkk, 1995).
Gardner, F. P ; R. B. Perace dan R. L. Mitchell., 1995. Fisiologi Tanaman Budidaya. Terjemahan H.
Susilo. UI Press, Jakarta.

Faktor-faktor tanaman, juga mengubah ET dengan mempengaruhi tanaman terhadap pergerakan air
dari tanah ke udara, yaitu :
- Penutupan stomata. Sebagian besar transpirasi terjadi melalui stomata karena kutikula
secara relatif tidak tembus air dan hanya sedikit transpirasi yang terjadi apabila stomata
tertutup.
- Jumlah dan ukuran stomata.
- Jumlah daun.
- Penggulungan atau pelipatan daun (Gardner dkk, 1991).
Gardner, F. P ; R. B. Perace dan R. L. Mitchell., 1995. Fisiologi Tanaman Budidaya. Terjemahan H.
Susilo. UI Press, Jakarta.
Membuka dan menutupnya stomata merupakan bahan penyelidikan yang susah. Mekanisme
membuka dan menutupnya stoma berdasarkan perubahan turgor dan perubahan turgor
itulah akibat perubahan osmosis dari sel-sel penutup. Sel-sel penutup pada malamnya
persenannya lebih tinggi daripada sel pagi hari. Pada pagi hari masih ada kepadatan amilum di
dalam sel-sel penutup stoma. Pengaruh sinar matahari dapat digantikan oleh lampu dengan
membangkitkan klorofil-klorofil untuk mengadakan fotosintesis. Hal ini dapat memunculkan
adanya transpirasi (Dwidjoseputro, 1994).
Dwidjoseputro, D., 1994. Penghantar Fisiologi Tumbuhan. PT Gramedia Pustaka, Jakarta.

Pada tanaman yang bertranspirasi bebas, air dievaporasi dari dinding sel epidermis dan mesophyl
yang lembab di dalam daun hilang ke atmosfer melalui stomata. Karena hilangnya air,
potensial air dalam apoplast daun turun ke bawah potensial sel daun juga lebih rendah dari
potensial xylem dan tanah. Hal ini mengakibatkan penarikan cepat air dari sel daun dan
merendahnya potensial sel (Fitter dan Hay, 1999).
Fitter, A. H dan R. K. M. Hay., 1999. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Terjemahan Sri Andani daN E. B
Purbayanti. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Faktor yang mempengaruhi laju transpirasi adalah :
- Cahaya. Tumbuhan jauh lebih cepat bertranspirasi bilamana terbuka terhadap cahaya
dibandingkan dengan di dalam gelap. Hal ini terjadi karena cahaya mendorong / merangsang
tumbuhnya stomata.
- Suhu. Tumbuhan bertranspirasi lebih cepat pada suhu yang tinggi. Pada suhu 30oC daun
dapat bertranspirasi tiga kali lebih cepat dibandingkan suhu 20oC.
- Kelembaban. Laju transpirasi juga dipengaruhi oleh kelembaban nibsi udara sekitar
tumbuhan. Laju difusi setiap substansi dalam kedua daerah menurun.
- Angin. Adanya angin juga mengakibatkan meningkatnya laju transpirasi.
- Air tanah. Tumbuhan tidak dapat bertranspirasi dengan cepat jika kelembaban hilang, tidak
digantikan oleh air segar (Kimbal, 1983).
Kimball, J. W., 1983. Biologi. PT Erlangga, Jakarta.

Ada dua tipe transpirasi yaitu, transpirasi kutikula adalah evaporasi air yang terjadi secara langsung
melalui kutikula epidermis dan transpirasi stomata, yang dalam hal ini kehilangan air
berlangsung melalui stomata. Kutikula daun secara relatif tidak tembus air, pada sebagian
besar jenis tumbuhan transpirasi kutikula hanya sebesar 10 persen atau kurang dari jumlah air
yang hilang melalui daun-daun dan stomata (Loveless, 1993).
Loveless, A. R., 1993. Prinsip prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah Tropik. PT. Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta.

Faktor-faktor yang mempengaruhi laju transpirasi antara lain yaitu faktor-faktor internal yang
mempengaruhi mekanisme buka menutupnya stomata. Kelembaban ada disekitar tanaman,
suhu udara, suhu daun tanaman. Angin juga dapat mempengaruhi laju transpirasi. Angin
dapat memacu laju transpirasi jika udara yang bergerak melewati permukaan daun tersebut
lebih kering (Pradhan, 1997).
Pradhan, S., 1997. Plant Physiologi. Har Anand, New Delhi.

Pembahasan

Pada hasil percobaan dapat dilihat bahwa pada faktor cahaya, laju transpirasi paling tinggi
terjadi pada tanaman yang mendapat perlakuan kontrol sebesar 8,8 x 10-4. Karena sinar
matahari dapat secara langsung mendorong agar stomata dapat tumbuh dibandingkan
dengan perlakuan lainnya. Hal ini sesuai dengan literatur Kimbal (1983), yang menyatakan
bahwa tumbuhan jauh lebih cepat bertranspirasi bilamana terbuka terhadap cahaya
dibandingkan dengan dalam gelap. Hal ini terutama karena cahaya mendorong / merangsang
tumbuhnya stomata.

Dari hasil percobaan diperoleh bahwa laju transpirasi terendah dari faktor cahaya terdapat
pada perlakuan tanpa daun yaitu sebesar 2,7 x 10 - 4 gr/s. Hal ini disebabkan tidak adanya
stomata. Sebab salah satu syarat yang menimbulkan terjadinya transpirasi pada tanamn
adalah adanya stomata pada daun. Tidak adanya stomata daun, maka menyebabkan
berkurangnya transpirasi. Hal ini sesuai dengan literatur Lakitan (2000) yang menyatakan
bahwa transpirasi adalah proses kehilangan air didalam bentuk uap dan dapat terjadi jika
adanya stomata pada daun tanaman.

Dari hasil percobaan dapat dilihat bahwa faktor cahaya sangat berpengaruh besar pada laju
transpirasi. Dapat dilihat bahwa pada perlakuan kontrol, laju transpirasi mencapai 8.8 x 10-4,
sedangkan pada perlakuan daun laju transpirasinya adalah 2.7 x 10-4 gr/s. Pada perlakuan
kontrol, pada saat inilah faktor cahayanya tertinggi, dan perlakuan daun, pada saat inilah
faktor cahayanya yang terendah. Hal ini sesuai dengan literatur Dwidjoseputro (1994) yang
menyatakan bahwa sinar menyebabkan stomata membuka. Jadi, banyak sinar berarti juga
mempergiat transpirasi. Karena sinar itu juga mengandung panas, maka banyak sinar berarti
juga menambah panas, dengan demikian menaikkan temperatur. Kenaikan temperatur
sampai pada suatu batas yang tertentu menyebabkan melebarnya stomata dan dengan
demikian memperbesar transpirasi. Hal ini menyebabkan perlakuan kontrol, menghasilkan laju
transpirasi yang tinggi.

Dari hasil percobaan diketahui bahwa faktor tertinggi dari angin adalah perlakuan kontrol
sebesar 6.6 x 10-4. Hal ini disebabkan oleh angin. Angin juga dapat mempengaruhi laju
transpirasi jika udara yang bergerak melalui permukaan daun. Hal ini sesuai dengan literatur
Pradhan (1997) yang menyatakan faktor-faktor yang mempengaruhi laju transpirasi adalah
faktor internal yaitu angin, karena angin dapat memacu laju transpirasi jika udara yang
bergerak melewati permukaan daun.

Dari hasil percobaan dapat dilihat bahwa pada faktor angin, laju transpirasi terendah tardapat
pada perlakuan dilapisi vaselin. Hal ini disebabkan oleh karena vaselin digunakan sebagai
pengganti lilin pada daun tanaman. Dimana pada umumnya daun yang dilapisi lilin, stomata
pada daun tidak membuka lebar (stomata tertutup). Sehingga hal inilah yang menyebabkan
turunnya laju transpirasi pada tanaman. Hal ini sesuai dengan literatur Gardner, dkk (1995)
yang menyatakan bahwa transpirasi melalui stomata.

Dari hasil percobaan didapat pada faktor angin, laju transpirasi terendah adalah 0, dengan
perlakuan tanaman pacar air dilapisi vaseline artinya tanaman tidak melakukan transpirasi
karena diseluruh permukaanya dilapisi oleh vaseline. Akibatnya, stomata ataupun bulu akar
tidak dapat melakukan transpirasi. Hal ini sesuai dengan literatur Wikipedia (2008) yang
menyatakan bahwa stomata atau mulut daun. Sebagian besar transpirasi terjadi disini, dan air
diserap secara osmosis ke dalam akar melalui rambut akar dan sebagian besar ion bergerak
menurut gradien potensial air melalui xylem.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi laju transpirasi yaitu :
1. Cahaya. Tumbuhan jauh lebih cepat bertranspirasi dengan cahaya dibandingkan dengan
gelap.
2. Suhu. Tumbuhan dapat lebih cepat bertranspirasi pada suhu tinggi
3. Kelembaban. Laju transpirasi yang tinggi juga dipengaruhi oleh kelembaban nibsi udara di
sekitar tumbuhan.
4. Angin. Adanya angin lembut dapat mempercepat laju transpirasi.
5. Air tanah. Tumbuhan tidak dapat terus bertranspirasi dengan cepat jika kelembaban hilang
tidak digantikan oleh air di dalam tanah.
Hal ini sesuiai dengan literatur Kimbal (1983) yang menyatakan faktor cahaya adalah faktor
yang paling banyak / tinggi laju transpirasinya karena tumbuhan lebih cepat bertranspirasi bila
berada pada cahaya terang dibandingkan dengan cahaya yang gelap, karena cahaya yang
terang mendorong tumbuhnya stomata pada daun. Angin, jika tidak ada angin, maka laju
transpirasi juga tidak mungkin terjadi karena angin bergerak melalui permukaan daun dan air
tanah, bila penyerapan air oleh akar tidak dapat mengimbangi laju transpirasi maka stomata
tertutup


KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Pada faktor cahaya didapati laju transpirasi tertinggi terdapat pada perlakuan kontrol
dengan berat awal 456.6 dan berat akhir 455 dengan laju transpirasi 8.8 x 10-4.
2. Pada faktor cahaya didapati laju transpirasi terendah terdapat pada perlakuan daun
dipotong dengan berat awal 461.1 dan berat akhir 460.6 dengan laju transpirasi sebesar 2.7 x
10-4.
3. Pada faktor angin didapati laju transpirasi tertinggi terdapat pada perlakuan kontrol dengan
berat awal 472.3 dan berat akhir 47.1 dengan laju transpirasi sebesar 6.6 x 10-4.
4. Pada faktor angin didapati laju transpirasi terendah terdapat pada perlakuan tanaman yang
dilapisi vaseline seesar 0 dengan berat awal 448.1 dan berat akhir 448.2.
5. Pada faktor cahaya dan faktor angin, faktor yang mempengaruhi laju transpirasi tertinggi
adalah faktor cahaya.