Anda di halaman 1dari 6

1

Abstrak Sebagai upaya untuk terus meningkatkan jumlah


produksi semen, PT Semen Gresik (Persero) Tbk saat ini
membangun PT Semen Gresik pabrik Tuban IV.Untuk
mendukung hal tersebut, tersedianya kualitas daya listrik yang
baik dan kontinu diperlukan ,agar proses produksi terus
berjalan tanpa adanya gangguan. Hasil yang diperoleh
menunjukkan bahwa saat motor induksi berkapasitas besar start,
terjadi voltage sag yang melebihi standar IEEE 1159 tahun 2009
recommended practice for monitoring electric power quality. Begitu
juga saat terjadi pelepasan motor induksi berkapasitas besar ,
terjadi voltage swell yang melebihi yang melebihi standar. Oleh
sebab itu di butuhkan proteksi untuk mengatasi voltage sag.
Cara yang dapat dilakukan adalah dengan membuat urutan
pengoperasian starting motor dengan pengubahan nilai tap trafo.
Cara lain adalah dengan menggunakan Y-D starter. Hasilnya
adalah tegangan pada bus motor induksi dan bus lainnya sudah
berada pada level tegangan yang aman. Proteksi yang lainnya
adalah dengan rele undervoltage dengan setting 90 % level
tegangan dan delay 1detik. Sedangkan untuk proteksi voltage
swell adalah dengan reactor. Saat di pasang reactor pada saat
terjadi pelepasan motor 344RM01M01 t=25 detik, tegangan bus
ER24-834-MV241 106 % dari tegangan normal, saat di pasang
reactor pada saat terjadi pelepasan motor 344FN03M01 t=25
detik, tegangan bus ER24-834-MV241 110 % dari tegangan
normal, dan saat di pasang reactor pada saat terjadi pelepasan
motor 547RM01MO1 t=25 detik, tegangan bus ER27-834-MV271
106 % dari tegangan normal. Proteksi yang lainnya adalah
dengan rele overvoltage, dan static VAR compensator. Relay
overvoltage diatur dengan 110 % level tegangan dan delay 1
detik.Dan hasil hasil simulasi, SVC mampu mengatur tegangan
sistem dengan memberikan daya reaktif sesuai kebutuhan. Satu
hal yang harus dilihat adalah masalah penempatan SVC untuk
proteksi voltage swell.

Kata Kunci Starting Motor,Pelepasan beban,Voltage Sag,
Voltage Swell, Reactor, Y-D Starter, Relay Undervoltage dan
Overvoltage, Reactor, Static VAR Compensator

I. PENDAHULUAN
enggunaan motor di dalam suatu pabrik banyak
dibutuhkan sebagai penggerak untuk mengaduk campuran
semen, bahan baku, penghancuran bahan baku semen,
penggilingan bahan baku,dan proses packing semen.
Umumnya motor dapat distart langsung ke tegangan jala-jala
jika motor tersebut berkapasitas kecil dan tidak terlalu
berakibat terhadap kualitas daya listrik. Tetapi jika kapasitas
motor besar, maka harus di perhitungkan akibat yang
ditimbulkan pada waktu starting.
Motor membutuhkan arus lebih tinggi pada saat starting,
sehingga menyebabkan tegangan sistem turun yang dapat
menggangu operasi peralatan lainnya seperti power
converter,VSD (Variable Speed Drive)[1]. Adapun penyebab
lain akibat pengoperasian motor berkapasitas besar adalah
terjadinya voltage swell yang merupakan peningkatan
tegangan rms atau arus pada frekuensi daya untuk jangka
waktu dari 0.5 siklus sampai 1 menit. Kenaikan tegangan
antara 1,1 dan 1,8 pu. [2]. Voltage swell terjadi akibat
pelepasan beban secara tiba-tiba,dan gangguan satu fasa ke
tanah.
Voltage sag dan swell dapat menyebabkan peralatan
sensitif seperti peralatan semikonduktor rusak,
ketidakseimbangan arus yang besar, merusak fuse,
menyebabkan trip circuit breaker [3]. Kesemuanya itu akan
berakibat pada kerusakan pada peralatan pabrik dan kerugian
produksi yang dapat merugikan perusahaan. Untuk mengatasi
hal tersebut maka dalam tugas akhir ini dilakukan analisa
melalui simulasi starting motor berkapasitas besar, simulasi
terjadi pelepasan beban secara tiba-tiba. Setelah diketahui
akibat dari pengoperasian motor berkapasitas besar, maka
dilakukan proteksi akibat pengoperasian motor berkapasitas
besar.
II.1 VOLTAGE SAG SAAT MOTOR STARTING
Voltage Sag adalah penurunan sesaat nilai rms
tegangan pada frekuensi daya antara 0.1 sampai 0.9 pu selama
durasi waktu dari 0.5 cycles hingga 1 menit, yang disebabkan
oleh ganguan sistem dan starting motor induksi dengan
kapasitas besar, kegagalan sistem, switching beban besar.
Permasalahan kualitas daya seperti voltage sag dapat
terjadi saat motor starting dikarenakan inrush current. Inrush
current terjadi karena motor membutuhkan arus 6 sampai 10
kali dari arus nominal untuk menghasilkan torsi awal.
Besarnya voltage sag akibat starting motor berkapsitas besar
dapat dihitung sesuai persamaan 2.1 dan dari gambar 2.1.
V
sag
=

+
. .(2.1)


Gambar 2.1 Rangkaian Ekivalen Starting Motor [4]

Analisis dan Proteksi Voltage Sag and Swell
akibat Pengoperasian Motor dengan Kapasitas
diatas 5000 kW Pada Sistem Kelistrikan P.T
Semen Gresik Pabrik Tuban IV
Rolandi Tumpal Siregar, Ontoseno Penangsang, Ardyono Priyadi
Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Kampus ITS Keputih Sukolilo, Surabaya 60111
E-mail: ontosenop@ee.its.ac.id, priyadi@ee.its.ac.id
ontosenop[at]ee.its.ac.id


P


2
Dari persamaan 2.1, dapat ditentukan besarnya
tegangan pada bus pcc akibat starting motor. Di mana Z
m
adalah impedansi motor dan Z
s
adalah impedansi sumber
Perhitungan ini sebenarnya adalah berupa perkiraan, tetapi
memiliki hasil yang akurat terhadap fenomena voltage sag.
Kurangnya pemahaman mengenai arus inrush menyebabkan
kualitas daya menjadi tidak baik dan dapat merusak motor
atau mempengaruhi beban sensitif di sekitarnya.
Peralatan di pabrik memiliki tingkat sensitivitas yang
berbeda terhadap voltage sag. Nilai sensitif suatu peralatan
terhadap voltage sag di tentukan oleh tipe dari beban,
pengaturan kontrol, dan aplikasinyaKarakteristik umum yang
digunakan adalah durasi dan besaran sag. Kelompok ini
mencakup perangkat seperti relay undervoltage, kontrol
proses, kontrol drive motor,dan banyak jenis mesin otomatis
(misalnya, peralatan semikonduktor).

II.2 VOLTAGE SWELL SAAT PELEPASAN BEBAN [5]
Voltage swell didefinisikan merupakan penambahan
pada tegangan (lamanya kurang dan 0.07-0.5 detik) di luar
dari toleransi normal peralatan elektronik. Sedangkan oleh
IEEE 1159 sebagai kenaikan tingkat tegangan rms 110% -
180% dari nominal, pada frekuensi daya untuk durasi siklus
sampai satu 1 menit. Gelombang tegangan ini pada dasarnya
adalah kebalikan dari voltage sag. Untuk lebih jelas dapat
dilihat pada gambar 2.2.

Gambar 2.2 Gelombang Voltage Swell

Voltage Swell disebabkan dari pengurangan beban besar
yang mendadak. Voltage swell dapat merusakkan peralatan
elektronika seperti komputer dll. Lama dari swell ini
tergantung pada sistem proteksinya, yang mana dapat
berlangsung selama beberapa detik Selain karena pelepasan
beban besar, voltage swell biasanya berhubungan dengan
kondisi kesalahan seperti akibat gangguan 1 fase ke tanah.
Selain itu, energization kapasitor bank besar juga dapat
menyebabkan voltage swell, Masalah yang ditimbulkan dapat
menyebabkan panas berlebihan pada peralatan dan
menyebabkan pemadaman. Peralatan elektronik, dan peralatan
sensitif lainnya rentan terhadap kerusakan akibat voltage
swell.

II.3 OVERVOLTAGE DAN UNDERVOLTAGE RELAY [6]

Kestabilan supplai listrik dalam suatu sistem sangat
diperlukan. Adanya gangguan dalam supplai listrik dapat
mempengaruhi bahkan merusak suatu sistem rangkaian listrik.
Gangguan yang dapat terjadi antara lain adalah adanya under
voltage atau over voltage. Salah satu cara untuk mengatasi hal
tersebut adalah dengan menggunakan alat pengaman yaitu
relay. Relay ini digunakan untuk mendeteksi adanya under
voltage atau over voltage. Output dari relay dapat
dihubungkan pada rangkaian pemutus (circuit breaker/CB)
untuk memutuskan aliran listrik jika terjadi gangguan. Relay
yang dirancang bertujuan untuk mendeteksi adanya under
voltage atau over voltage pada tegangan 3 phasa 220/380 V 50
Hz. Fungsi relay untuk menentukan dengan segera pemutusan
/ penutupan pelayanan penyaluran setiap elemen sistem tenaga
listrik bila mendapatkan gangguan atau kondisi kerja yang
abnormal, disamping itu relay harus bisa mengetahui letak dan
jenis gangguan, sehingga dari pengaman ini dapat dipakai
untuk pedoman perbaikan peralatan yang rusak.Tabel 2.1
adalah contoh datasheet rele tegangan lebih dan tegangan
kurang SPAU 121 C.

Tabel 2.1 Overvoltage and undervoltage relay SPAU 121 C
Over
Voltage
U>
Start Voltage U> 0,8.1,6x U
n

Start Time, Present Values 0.1s ,1s, 10s,60s
Operate time t> at definite
time operation characteristic
0.05, .10.0 s
Under
voltage
Stage
U<
Start Voltage U< 0,4.1,2x U
n

Start Time, Present Values 0.1s or 30 s
Operate time at definite
time operation characteristic
1100 s

II.4 REACTOR [7]

Reaktor yang digunakan dalam sistem tenaga listrik secara
umum dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok utama:
a. reaktor seri untuk pembatasan arus hubung singkat
b. reaktor shunt untuk kompensasi reaktif

Reactor shunt merupakan sebuah alat untuk kompensasi
reaktansi kapasitif. Arus lagging diambil oleh reaktor shunt
digunakan untuk mengurangi atau membatalkan arus leading
yang diambil oleh shunt reaktansi kapasitif. Dengan demikian,
reaktor shunt biasanya digunakan untuk mengkompensasi arus
kapasitansi besar pada sistem tenaga listrik. Reaktor shunt
dapat langsung terhubung ke busbar (Pos. 1), saluran
transmisi (Pos. 2) atau terhubung ke kumparan tersier
transformator daya besar (Pos. 3), seperti yang ditunjukkan
pada gambar 2.3.

Gambar 2.3 Cara Pemasangan Shunt Reactor

II.5. STATIC VAR COMPENSATOR [8]

Static Var Compensator (SVC) adalah komponen FACTS
(Flexible AC Transmission Systems), yang fungsinya untuk
mengatur tegangan pada bus tertentu dengan cara mengontrol
besaran reaktansi ekuivalen.Peralatan ini biasanya dipasang
pada sistem utilitas atau sistem industri, untuk mengatur
tegangan dengan respon yang sangat cepat untuk menyuplai
atau mengkonsumsi daya reaktif.Gambar 2.4 merupakan
gambar pemasangan static VAR compensator.







3









Gambar 2.4 Cara Pemasangan Static VAR Compensator

II.6 Y-D STARTER

Ada juga cara lain untuk mengatasi arus start motor
yang besar yaitu dengan menaikkan tap trafo di bus motor
tersebut, menggunakan UPS, ataupun dengan starter Y-D.
Pada kesempatan ini, saya akan membahas mengenai starter
Y-D untuk mengatasi masalah arus start motor yang besar.
Prinsip kerja starter ini adalah bekerja dengan 2
tahap, yaitu: awalnya motor terhubung dengan rangkaian wye
(Y), setelah beberapa saat motor melepas rangkaian Y dan
beroperasi dengan hubungan delta.
III. HASIL SIMULASI DAN ANALISIS

A. Simulasi Starting Motor Induksi Skenario 1
Simulasi dilakukan dengan motor induksi 547RM01MO1
Cement Mill pada bus ER27-834-MV271 dengan sumber PLN
41.724 MVA. Metode starting yang dilakukan adalah direct
on line dengan langsung menghubungkan motor ke sumber 3
fase. Untuk menghasilkan torsi, motor induksi membutuhkan
arus start yang besar yang mencapai 5-7 kali arus
nominal.Hasil simulasi voltage sag motor induksi ini dapat
dilihat pada tabel 3.1 dan gambar 3.1 merupakan analisis
tegangan bus ER27-834-MV271 motor induksi
547RM01M01.

Tabel 3.1 Voltage sag Saat Static Motor Starting
547RM01MO1


Bus
Kondisi Starting

Sebelum
(kV)
Selama
Sesudah
(Kv)
(kV) Drop
(%)
ER27-834-
MV271
6.3 4.91 25 6.3
SUB-XIV-
824-MV142
6.3 4.91 25 6.3
SUB-XIV-
824-MV141
20 17.2 14 19.4
814.MV11 20 17 15 19.6
Main bus 1
Tuban IV
150 145.5 3 150
Bus PLN 150 145.5 3 150

Dari tabel 3.1 didapatkan data bahwa pada bus-bus
tersebut terjadi voltage sag pada bus-bus yang di tentukan
sebelumnya. Pada tabel 3.1 disimpulkan juga bahawa voltage
sag terbesar terjadi pada bus ER27-834-MV271 / bus motor
induksi 547RM01MO1 starting. Saat motor distart terjadi
drop tegangan 25 % atau terjadi penurunan tegangan 75 %
tegangan nominal. Kemudian semakin jauh jarak bus yang lain
dari bus motor induksi starting, maka besar voltage sag
semakin kecil.

Gambar 3.1 Voltage Sag Pada Bus ER27-834-MV271
B. Proteksi Voltage Sag
B.1 Dengan Urutan Pengoperasian Motor
Dari hasil simulasi berbagai motor induksi berkapasitas
besar yang distart secara bersamaan dengan berbagai skenario
seperti hasil percobaan di dapatkan bahwa terjadi voltage sag
melebihi standar IEEE 1159 tahun 2009 recommended
practice for monitoring electric power quality .Maka untuk
menjalankan semua motor berkapasitas besar tersebut
diperlukan sebuah urutan pengoperasian motor untuk
mengurangi efek voltage sag pada sistem dan dengan
pengubahan tap trafo yang berada di dekat motor tersebut.
Tabel 3.2 menunjukkan urutan pengoperasian motor
berdasarkan besarnya voltage sag yang terjadi pada bus motor
tersebut

Tabel 3.2 Urutan Pengoperasian Motor
No Waktu
(detik)
Motor Starting Bus
1 1 344FN03M01 Raw
Mill ID Fan
ER24-834-
MV241
2 21 344RM01M01 Role
Mill Table
ER24-834-
MV241
3 41 547RM01MO1
Cement Mill Table
ER27-834-
MV271
4 61 548RM01MO1
Cement Mill Table
ER27-834-
MV272

Dan menurut IEEE 1159 tentang voltage sag standarnya
sebagai berikut:
Voltage sag 90% jika di dalam sistem terdapat beban yang
paling sensitive terhadap perubahan level tegangan.

Pada simulasi urutan pengoperasian motor, tap trafo 824-
TX131 di primer diubah menjadi -5 % dan di sekunder diubah
menjadi 5 %. Dan juga tap trafo 824-TX141 di bagian primer
di ubah menjadi -5 %, di bagian sekunder diubah menjadi 5 %.
Hal ini dilakukan agar tidak terjadi voltage sag pada bus
motor tersebut maupun bus yang lain.Dari hasil urutan
pengoperasian motor seperti tabel 3.2, maka di dapatkan hasil
dari keseluruhan operasi motor pada bus ER24-834-MV241


4
tidak terjadi voltage sag akibat pengoperasian motor, karena
telah dibuat standar pengoperasian motor. Karena dalam
sistem terdapat peralatan sensitif maka digunakan standar
voltage sag 90 % sehingga pada bus ER24-834-MV241
berada pada level tegangan yang aman. Dan gambar 3.2
menunjukkan hasil simulasi pada bus yang lain.

Gambar 3.2 Hasil Simulasi Tegangan Bus Lain Dengan
Urutan Pengoperasian Motor

Karena dari hasil simulasi urutan operasi motor sudah
berada pada level tegangan yang aman, tetap diperlukan rele
undervoltage untuk mencegah hal yang tidak di inginkan.
Untuk mengatur setting relay undervoltage, terlebih dahulu
harus mengetahui level voltage sag pada bus akibat urutan
starting motor berkapasitas besar dengan waktu yang
dibutuhkan motor selama akselerasi.
B.2 Dengan Undervoltage Relay
Dari data plant motor di PT. Semen Gresik bahwa
waktu akselarasi motor berkapasitas besar ini adalah 20 detik.
Oleh sebab itu, untuk penundaan waktu operasi relay harus
lebih lama dari waktu akselarasi motor tersebut kira-kira
sampai 25 detik. Setting dari relay dapat diatur dari 1 s sampai
10 s. Jika terjadi voltage sag kurang dari 90% dari tegangan
normalnya selama lebih dari 1 detik maka relay akan
trip.Relay UV ini dipasang pada bus yang terhubung langsung
dengan motor seperti bus pada tabel 3.3.

Tabel 3.3 Setting Relay UnderVoltage pada Bus yang
Terhubung ke Motor

Bus

% Voltage
Sag
Setting Relay UV
x U
n
Delay
Time (s)
814.MV11 8 x 0.9 1
Main bus 1
Tuban IV
2 x 0.9 1
Bus PLN 2.2 x 0.9 1
ER24-834-
MV241
15 x 0.9 1
SUB-XIII-
824-MV132
15 x 0.9 1
SUB-XIII-
824-MV131
8 x 0.9 1



Bus

% Voltage
Sag
Setting Relay UV
x U
n
Delay
Time (s)
ER27-834- 25 x 0.9 1
MV271
ER27-834-
MV272
11 x 0.9 1
SUB-XIV-
824-MV142
25 x 0.9 1
SUB-XIV-
824-MV141
14 x 0.9 1
B.3 Dengan Y- D Starter
Dari data motor didapatkan bahwa waktu akselerasi
motor adalah 20 detik sehingga diperlukan waktu 20 detik
untuk perpindahan dari starter Y ke D dan dalam simulasi
pengoperasian motor tap trafo 824-TX141 diubah disisi primer
-5 % dan di bagian sekunder 5 %, sedangkan tap trafo 824-
TX131 disisi primer diubah -5 % dan disisi sekunder 5 %
untuk mencegah voltage sag
Dan gambar 3.3 hasil simulasi tegangan bus lain
dengan starter Y-D berdasarkan urutan pengoperasian motor.


Gambar 3.3 Hasil Simulasi Tegangan Bus Lain Dengan
Starter Y-D Berdasarkan Urutan Pengoperasian Motor

C. Simulasi Pelepasan Motor Induksi Studi Kasus 1
Pada studi kasus ini akan dilakukan simulasi pelepasan
motor induksi 344RM01M01 pada bus ER24-834-MV241.
Dari tabel 3.4 dan gambar 3.4 didapatkan data bahwa pada
bus-bus tersebut terjadi voltage swell pada bus-bus yang di
tentukan sebelumnya. Pada tabel 3.4 disimpulkan juga bahwa
voltage swell terbesar terjadi pada bus ER24-834-MV241 /
bus motor induksi 344RM01M01 . Saat motor sementara
beroperasi beban penuh dan terjadi pelepasan beban saat t=25
detik, terjadi kenaikan tegangan 16 % atau 116 % tegangan
nominal pada bus ER24-834-MV241 . Kemudian semakin
jauh jarak bus yang lain dari bus motor induksi, maka besar
voltage swell semakin kecil.

Tabel 3.4 Voltage swell Pelepasan Motor Saat Motor Induksi
344RM01M01 Beban Penuh


Bus
Kondisi Pelepasan

Sebelum
(Kv)
Selama
Sesudah
(Kv)
(Kv) Kenaikan
(%)
ER24-834-
MV241
6.3 7.30 16 6.3
SUB-XIII-
824-MV132
6.3 7.30 16 6.3
SUB-XIII-
824-MV131
20 22 10 20.4
814.MV11 20 22.4 12 20.6


5
Main bus 1
Tuban IV
150 153 2 148.5
Bus PLN 150 153 2 148.5


Gambar 3.4 Voltage Swell Pelepasan Motor Pada Bus ER24-
834-MV241 Saat Motor Induksi 344RM01M01 Beban Penuh
D. Proteksi Voltage Swell
D.1 Dengan Overvoltage Relay
Cara pertama yang dilakukan untuk mengatasi hasil tersebut
adala dengan menggunakan relay overvoltage. Setting relay
overvoltage diatur berdasarkan kemungkinan terjadi voltage
swell yang paling besar.Standar toleransi tegangan untuk
motor induksi 10% dan frekuensinya 5%. Pada tugas akhir
ini saya menggunakan relay overvoltage tipe SPAU 121C.
Relay Overvoltage ini dipasang pada bus yang terhubung
langsung dengan motor seperti bus pada tabel 3.5.

Tabel 3.5 Setting Relay OverVoltage pada Bus yang
Terhubung ke Motor Pada Studi Kasus I

Bus

%
Voltage
Swell
Setting Relay OV
x U
n
Delay
Time (s)
814.MV11 12 x 1.1 1
Main bus 1
Tuban IV
2 x 1.1 1
Bus PLN 2 x 1.1 1
ER24-834-
MV241
18 x 1.1 1
SUB-XIII-
824-MV132
16 x 1.1 1
SUB-XIII-
824-MV131
10 x 1.1 1
ER27-834-
MV271
16 x 1.1 1
ER27-834-
MV272
14 x 1.1 1
SUB-XIV-
824-MV142
16 x 1.1 1
SUB-XIV-
824-MV141
10 x 1.1 1

D.2. Proteski Voltage Swell Pada Motor Induksi
344RM01M01 dengan Shunt Reactor

Sebelum melakukan pemasangan shunt reactor pada bus
motor induksi ini perlu di ketahui parameter seperti daya
reaktif 3 fasa, arus nominal, reaktansi dan impedansi shunt
reactor.Karena biasanya jarang sekali terjadi pelepasan motor
saat start, maka pada proteksi ini digunakan shunt reactor saat
motor beroperasi beban penuh. Motor ini mengalami voltage
swell sebesar 16 % dari tegangan 6.3 kV saat terjadi pelepasan
motor saat beban penuh. Dan gambar 3.5 berikut
menunjukkan hasil simulasi proteksi pada bus lainnya dengan
shunt reactor.
Q
bus
= 2.6 Mvar Dengan Z= 2
X
r
=

=
6.3
2
2.6
= 15.26 I
n
=
3
3
=
2.6
36.3
=
238.27
dimana:
Q
bus
= Daya reaktif pada bus motor 344RM01M01 (kvar)
Z = Impedansi reaktor ()
X
r
= Reaktansi reaktor ()
I
n
= Rating arus kontinu yang dibatasi oleh reaktor (A)


Gambar 3.5 Voltage Swell Bus Lain Saat terjadi Pelepasan
Motor 344RM01M01 dengan Proteksi Shunt Reactor

Dari gambar 3.5 dapat disimpulkan bahwa voltage swell
sudah berkurang menjadi level yang aman sesuai standar
kualitas daya. Berikut ini adalah hasil loadflow sebelum di
tambahkan shunt reactor pada bus motor induksi ini:
Tegangan : 6.129 kV Arus : 406 A
P: 3.4 MW Q: 2.6 Mvar
S: 4.3 MVA Cos : 79.3 %
Dan berikut adalah hasil loadflow setelah di tambahkan shunt
reactor pada bus motor induksi ini:
Tegangan : 6.27 kV Arus : 497.2 A
P:3.5 MW Q: 4.1 Mvar
S: 4.3 MVA Cos : 79.3 %

D.3. Proteski Voltage Swell Pada Motor Induksi
344RM01M01 dengan SVC
Ada juga cara lain untuk mengatasi voltage swell akibat
pelepasan motor Static Var Compensator. Static VAR
Compensator adalah peralatan sistem tenaga listrik yang dapat
digunakan untuk mengatur tegangan pada bus dengan
menyerap atau memberikan daya reaktif. Dalam SVC ini,
terdapat beberapa komponen seperti induktor dan kapasitor
maupun beberapa komponen elektronik switching yang dapat
mengatur daya reaktif yang di suplai dan diserap. Ketika
tegangan rendah, SVC akan memberikan daya reaktif
kapasitif, dan ketika tegangan tinggi, maka SVC akan
menyerap daya reaktif melalui komponen induktor.
Sebelum melakukan pemasangan SVC pada bus motor
induksi ini perlu di ketahui parameter seperti daya reaktif
kapasitif, daya reaktif induktif, tegangan maksimum dan


6
minimum yang diizinkan.Karena biasanya jarang sekali terjadi
pelepasan motor saat start, maka proteksi ini digunakan
dengan SVC saat motor beroperasi beban penuh. Motor ini
mengalami voltage swell sebesar 16 % dari tegangan 6.3
kVsaat terjadi pelepasan motor saat beban penuh, sedangkan
voltage sag sebesar 21 % dari tegangan 6.3 kV. Gambar 3.6
berikut menunjukkan hasil simulasi proteksi pada bus ER24-
834-MV241 dengan SVC. Berikut adalah loadflow sebelum di
pasang SVC:

=3.4 MW Q=2.6 Mvar S=4.3 MVA Cos =79.3 %
403.9 A 6.16 kV

I
c
= 0.21 x 403.9 A = 84.81 A
I
c
=403.9 A- 84.81 A= 319.08 A
Q
c
= 3 V
rated
I
c
= 3 x 6300 x 319.08 = 3.48 Mvar
I
L
= 0.16 x 403.9 A = 64.62 A
I
L
= 403.9 A + 64.62 A = 468.52 A
Q
L
= 3 V
rated
I
L
= 3 x 6300 x 468.52 = 5.11 Mvar
Dengan V
maks
= 100 % dan V
min
= 99 %

Di mana:
Q
c
=Daya reaktif kapasitif SVC (Mvar)
Q
L
=Daya reaktif induktif SVC (Mvar)
V
maks
= Tegangan maksimum SVC (%)
V
min
= Tegangan minimum SVC (%)
I
L
= Arus induktif SVC (A)
I
C
= Arus kapasitif SVC (A)
V
rated
= Tegangan nominal sistem (kV)

Gambar 3.6 Voltage Swell Bus ER24-834-MV241 Saat
terjadi Pelepasan Motor 344RM01M01 dengan Proteksi Static
VAR Compensator


Walaupun tegangan pada bus ER24-834-MV241 sudah
baik dengan adanya penambahan proteksi SVC, tetapi dari
gambar 4.62 dapat dilihat pada bus lainnya seperti bus ER24-
834-MV241 ,terdapat voltage sag dengan durasi singkat lebih
dari 90 %,maka perlu di tentukan penentuan SVC di bus
dengan tepat. Berikut adalah loadflow setelah di pasang SVC:
P=3.4 MW Q=2.6 MVAR S=4.3 MVA Cos =79.3%
414.8 A 5.99 KV
IV. KESIMPULAN
Pada paper ini ditunjukkan untuk menganalisis dampak dari
starting motor dan pelepasan motor berkapasitas besar
terhadap voltage sag and swell. Hasil simulasi menunjukkan
bahwa saat motor induksi berkapasitas besar starting, terjadi
voltage sag 15-26 % dari tegangan normal dan saat terjadi
pelepasan motor berkapasitas besar, terjadi voltage swell 15-
25 % dari tegangan normal.
Karena hasil simulasi tersebut tidak sesuai dengan IEEE
1159 tahun 2009 recommended practice for monitoring
electric power quality, sehingga di butuhkan proteksi rele
undervoltage, Y-D Starter, atau dengan urutan pengoperasian
motor dengan pengubahan tap trafo. Sedangkan untuk proteksi
voltage swell dapat menggunakan reactor yang dihubungkan
seri antara bus motor dan motor tersebut.Alternatif proteksi
adalah dengan SVC untuk mengkompensasi daya reaktif untuk
mengatur tegangan pada bus.Dengan mempertimbangkan
penempatan SVC pada bus yang akan di kompensasi daya
reaktifnya.
DAFTAR PUSTAKA
[1] P.Boonchiam and N. Mithulananthan,"Understanding of
Dynamic Voltage Restorers through MATLAB
Simulation,"Thammasat Int. J.Sc.Tech.,Vol.11,No.3,
July-Sept 2006.
[2] IEEE Std. 1159-1995,"Recommended Practice for
Monitoring Electric Power Quality".
[3] A.Ghosh and G.Ledwich,"Power Quality Enhancement
Using Custom Power Devices,"Kluwer, Academic
Publishers,2002.
[4] Sumber : Patil P.S.,"Starting Analysis Of Induction Motor
A Computer Simulation By Etap PowerStation", International
Conference on Emerging Trends in Engineering and
Technology (ICETET), 2009 2nd, pp 494-499, 16/18
December 2009.
[5] -----------, Power Quality Basics: Voltage Swell <URL:
http://www.powerqualityworld.com/2011/04/voltage-swell-
power-quality-basics.html>, April, 2011.
[6] Engineering Education and Training, Three-Phase
Overvoltage and Undervoltage Relay, ABB, 1999
[7] Electricity Training Association, Power System
Protection Vol.3 Application, The Institution of Electrical
Engineers, London UK, 1997
[8] Boudjella Houari, Modelling And Simulation Of Static
Var Compensator (Svc) In Power System Studies By Matlab,
The Annals Of Dunarea De Jos University Of Galati
Fascicle III Vol.31, No.1, ISSN 1221-454X, 2008

RIWAYAT PENULIS

Rolandi Tumpal Siregar dilahirkan di
Manado, 19 Desember 1990. Penulis
adalah putra pertama dari tiga
bersaudara. Penulis memulai jenjang
pendidikannya di SD Frater Don Bosco
Manado, SMP Frater Don Bosco
Manado, serta SMA Negeri 1 Manado
hingga lulus tahun 2008. Penulis
diterima sebagai mahasiswa S1 Lintas
Jalur di Jurusan Teknik Elektro,
Fakultas Teknologi Industri ITS sejak
Agustus 2011. Penulis memilih bidang studi Teknik Sistem
Tenaga dan berkonsentrasi pada bidang simulasi sistem tenaga
listrik pada Tugas Akhir. Penulis dapat dihubungi di alamat
email rolandisiregar@gmail.com.