Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, dengan panjang pantainya
sebesar 95.181 km menurut PBB pada tahun 2008, terbesar ke empat di dunia setelah Rusia.
Indonesia juga memiliki luas wilayah laut sebesar 5.8 juta kilometer persegi. Indonesia juga
negara dengan lautan terluas di dunia, di kelilingi dua samudra yaitu Pasifik dan Hindia hingga
tidak heran memiliki jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki negara lain. Menurut Data resmi
Bakosurtanal pada tahun 2011 menyebutkan, jumlah pulau di Indonesia mencapai 17.508
(17.506 pulau setelah dikurangi Sipadan dan Ligitan). Maka berdasarkan fakta diatas tidak heran
Ir.Djoenda, Perdana Mentri RI, pada tahun 1957 mendeklarasikan Indonesia sebagai negara
kepulauan (Archipelagic State) yang kemudian disahkan PBB pada tahun 1982. Letak Indonesia
diantara benua Asia dan Australia telah menyebabkan kepulauan-kepulauan menjadi penyebaran
berbagai bangsa di jaman Prasejarah, tetapi tak kurang pula pentingnya adalah letak Indonesia
dijalur perdagangan antara dua pusat perdagangan internasional jaman kuno yaitu antara India
dan Cina. Letak Indonesia diantara kedua pusat perdagangan tersebut berpengaruh terhadap
perkembangan sejarah kunonya.
Sejak jaman pra sejarah hubungan dengan daerah pedalaman lebih sulit dari pada hubungan antar
pulau. Pada awal sejarah kuno Indonesia telah tumbuh pusat-pusat perdagangan dibeberapa
pesisir pulau sumatera dan jawa. Peninggalan benda sejarah yang menjadi ciri yang menunjukan
adanya hubungan antara kepulauan Indonesia dengan berbagai daerah di Nusantara ialah dengan
adanya Nekara Perunggu. Di berbagai tempat telah ditemukan cetakan-cetakan yang digunakan
dalam pengecoran benda-benda perunggu jaman pra sejarah. Keterangan ini menunjukan bahwa
kepulauan Indonesia merupakan bagaian dari satu-kesatuan lalu lintas barang. Dalam prasejarah
belum mengenal perdagangan dalam pola besar. Namun jaman prasejarah sudah terjadi
pertukaran hasil dari berbagai daerah dengan pola tertentu.
Dalam usaha mengetahui awal hubungan india dengan daerah di Indonesia, para peneliti
sudah mengkaji dari sebuah kitab yang banyak dikaji dari berbagai sumber adalah Kitab
Periplous tes Erythras thalasses. Periplous adalah sebuah kitab pedoman untuk berlayar
dilautan Erythrasa yaitu Samudera Indonesia. Kitab ini ditulis oleh seorang Nakhoda dari
Yunani-Mesir. Kitab lain yang menjadi pedoman adanya hubungan dagang Indonesia dengan
India adalah Kitab Jataka yaitu kisah tentang seorang Budha yang melakukan perjalanan yang
penuh bahaya ke Suvannabhumi sebagai sebuah negeri Emas. Kitab Lainnya yaitu kitab
Ramayana yang mengkisahkan bahwa tentara kera yang bertugas mencari Sita di negeri-negeri
sebelah Timur. Telah memeriksa pulau Yavadvipa yang dihias oleh 7 kerajaan. Pulau ini
disebut dengan pulau emas dan perak.
Kepulauan Indonesia membentang disebelah timur india sebagai kelanjutan dari Asia
Tengara. Bagi pelaut-pelaut ulng tidak terlalu sulit untuk mencapai Indonesia dan India. Mereka
melakukan pelayaran dnegan haluan bedasarkan arah angin musim. Bukti-bukti arkeologi
menunjukan bahwa pada abad ke-5 M baik didaratan Asia Tenggara maupun di Semenanjung
Tanah Melayu dan Indonesia bagian barat telah terdapat pusat-pusat kekuasaan politik dengan
taraf pengindiaan yang sama.
Sebab para pedagang India melakukan perdagangan di wilayah timur khusunya di Asia
Tenggara adalah pada awal tahun Masehi, India kehilangan sumber Emas yang utama. Sumber
Emas itu ialah Siberia. Dimasa sebelumnya emas didatangkan oelh kafilah-kafilah dari Siberia
melalui Baktria. Namun setelah penduduk Asia Tengah memutuskan jalan-jalan khafilah itu.
Sebagai gantinya India mengimpor mata uang emas dalam jumlah besar kepada kerajaan
Romawi. Peningkatan hubungan antara Indonesia dan India bersamaan dengan kurum waktu
masa perluasan kerajaan Cina ke daerah Tongkin di Vietnam. Perluasan kekuasaan kerajaan Cina
tersebut membawa kekuasaan di Kawasan Asia Tenggara. Asia Tenggara dianggap daerah yang
belum beradab yang terletak jauh dari pusat peradaban Cina. Cina tidak segera dapat turut serta
dengan kegiatan maritime di Asia Tenggara. Pada saat mereka telah dapat memnatapkan
kekuasaan mereka di Laut Cina Selatan maka cina mendorong kegiatan maritime hingga ke Asia
Barat. Sumber dari Cina mengenai Asia Tenggara menjelaskan tentang suatu jalan perdagangan
dari Cina melalui Funan dan semenanjung Tanah Melayu dan berakhir ditepian Samudera
Indonesia.
Suatu hal Penting dalam hubungan dagang antara Indonesia dengan Cina adalah adanya
hubungan pelayaran langsung antara kedua tempat tersebut. Hubungan pelayaran ini merupakan
hubungan antara Asia Barat dengan Cina, namun juga terdapat hubungan tersendiri antara
Indonesia dengan Cina. Yang dimaksud pelayaran langsung ialah pelayaran yang dilakukan
tanpa menyinggahi suatu pelabuhan sealma perjalanan.
Keberhasilan bangsa Indonesia untuk memasuki pasaran perdagangan luar negeri Cina adalah
suatu tonggak sejarah bagi bangsa Indonesia. Taraf perubahan nyata dalam masyarakat Indonesia
pada awal abad ke -5 Masehi yang dapat disimpulkan dari temuan-temuan prasasti diperkuat
dengan bukti kemampuan bangsa Indonesia untuk menyertai perdagangan Maritim Internasional
Asia.
2. Maksud dan tujuan
Makalah yang berjudul Sejarah Kemaritiman Indonesia dibuat dengan maksud memenuhi
tugas mata kuliah WSBM (Wawasan Sosial Budaya Maritim)
Tujuan pembuatan makalah ini adalah menjelaskan/mengulas hal-hal yang berkaitan dengan
sejarah kemaritiman Indonesia dan mengetahui kerajaan-kerajaan maritime yang berjaya di
Indonesia sehingga dapat menumbuhkan kembali kesadaaran betapa pentingnya maritim untuk
rakyat Indonesia yang hilang sejak abad 19 yaitu abad penjajahan.
3. Rumusan masalah
Makalah ini akan membahas secara khusus :
1) Gelombang Surut Budaya Maritim Indonesia
2) Pengaruh Penjajah terhadap Kemaritiman Indonesia
3) Catatan Sejarah Tentang Maritim Indonesia
4) Kejayaan Kerajaan Maritim Indonesia
5) Bagaimana Sejarah Kemaritiman Bugis Makassar
-Kebijakan Perdagangan Maritim


4. Manfaat Penulisan
Hasil dari penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada pembaca untuk
menambah pengetahuan dan wawasan mengenai kemaritiman yang ada di Indonesia. Manfaat
lain dari penulisan makalah ini adalah dengan adanya penulisan makalah ini diharapkan dapat
dijadikan motivasi untuk acuan dalam membangun kembali jiwa kemaritiman Indonesia yang
JAYA akan kemaritiman di masa lampau




















BAB II
PEMBAHASAN
Berkaca dari masa lalu, Jelas terllihat bahwa kejayaan masa kerajaan diperoleh karena
mengoptimalkan potensi laut sebagai sarana dalam suksesnya perekonomian dan ketahanan
politik suatu negara. Maka dari itu, sudah seharusnya Indonesia mulai secara tegas
mengembangkan potensi laut yang dimilikinya.
Iklim musiman Indonesia terkategorikan menjadi dua, yakni musim hujan dan musim
kering, yang keduanya dipisahkan oleh musim peralihan. Musim kering secara umum
berlangsung mulai Bulan Juni hingga September dan dipengaruhi oleh massa udara dari belahan
Benua Australia. Musim hujan terjadi mulai Bulan Desember hingga Maret, dipengaruhi oleh
massa udara dari Laut Pasifik dan Benua Asia. Selama kedua musim ini, angin bergerak stabil
dan bervariasi dari yang pelan hingga cukup kencang. Musim peralihan berlangsung mulai Bulan
April hingga Mei, dan Bulan Oktober hingga November, yang umumnya ditandai dengan
pergerakan angin yang tidak stabil.
Laut Indonesia juga mengalami iklim musiman. Musim Timur Laut ditandai dengan
tekanan udara tinggi di Asia dan tekanan udara rendah di Australia, dan terjadi pada musim
hujan. Musim Tenggara berlangsung selama beberapa bulan pada musim kering, dan ditandai
oleh tekanan udara tinggi di Australia dan tekanan udara rendah di Asia.
Ekosistem di laut Indonesia tercatat sangat bervariasi, khususnya ekosistem pesisir.
Ekosistem-ekosistem ini menopang kehidupan dari sekian banyak spesies. Indonesia merupakan
rumah bagi hutan bakau yang sangat luas dan padang lamun, serta juga menjadi rumah bagi
sebagian besar terumbu karang yang luar biasa, yang ada di Asia. Hal tersebut menandakan
betapa besarnya potensi yang dimiliki oleh lautan Indonesia, tinggal kini bagaimana masyarakat
dan pihak pihak yang memiliki kewenangan memaksimalkan berbagai potensi tersebut

1. Gelombang Surut Budaya Maritim Indonesia
Barang siapa yang menguasai laut, ia akan menguasai dunia, seperti itulah kiranya ungkapan
yang dikemukakan oleh Mahan dalam karyanya yang berjudul The Influence of Sea Power
Upon History (1660-1783).
Berkaitan dengan anggapan tersebut, pantas apabila dulu Indonesia menjadi negara yang
disegani karena memiliki peradaban maritim yang maju. Indonesia memiliki bentang laut sebesar
70 % dibandingkan luas daratan yang hanya 30 %. Kenyataan ini menjadikan Indonesia sebagai
negara kepulauan terbesar di dunia dengan dikelilingi oleh kurang lebih 17.508 pulau yang kaya
akan sumber daya alam. Melimpahnya kekayaan yang berada dalam wilayah perairan ini sejalan
dengan kejayaan masa lalu, dimana budaya maritim adalah kekuatan terbesar bangsa ini dalam
membangun pondasi kehidupannya.
Dari berbagai sumber yang saya baca, terdapat banyak bandar atau pelabuhan besar yang
ditemukan tersebar di penjuru nusantara, serta peninggalan-peninggalan berupa relief yang
tergambar pada candi-candi Hindu maupun Budha (Candi Prambanan dan Candi Borobudur).
Semua peninggalan tersebut telah melukiskan kegagahan nenek moyang orang Indonesia sebagai
pelaut. Dengan alat navigasi yang seadanya, mereka telah mampu mengarungi luasnya lautan
hingga ke negara-negara yang nun jauh di utara, barat, maupun timur.
Di zaman kerajaan pun bangsa ini telah berdiri kokoh sebagai aktor penguasa lautan. Sebut saja
Kerajaan Sriwijaya, yang mengusai wilayah-wilayah strategis sebagai pangkalan kekuatan
lautnya. Di samping itu, Sriwijaya juga mendasarkan politik kerajaannya pada penguasaan alur
pelayaran dan jalur perdagangan. Akibatnya, banyak terjadi kegiatan perdagangan di sekitar
wilayah perairan Indonesia yang menguntungkan berbagai pihak termasuk rakyat pribumi.
Selain sebagai lalu lintas pelayaran dan perdagangan, budaya maritim kala itu juga dimanfaatkan
sebagai sarana untuk menjalin hubungan persahabatan dengan negara lain. Hal inilah yang
dilakukan oleh Kerajaan Singasari di bawah pemerintahan Raja Kertanegara. Ia mengirimkan
ekspedisi bahari ke Kerajaan Melayu dan Campa untuk menjalin kerjasama.
Puncak kejayaan maritim nusantara pun berada pada masa kerajaan Majapahit, dimana Patih
Gadjah Mada berhasil mempersatukan nusantara. Pencapaian tersebut lantas menjadikan
Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit sebagai tolok ukur di bidang maritim, kebudayaan, dan agama
di seluruh wilayah Asia karena pengaruhnya yang amat besar.
Berbagai catatan sejarah yang membanggakan tersebut kini tak lagi menggema di negara ini.
Indonesia bukan lagi sebagai pemain utama dalam pagelaran besar bertajuk Budaya Maritim.
Kondisi masyarakat yang ada sekarang justru merepresentasikan hilangnya tradisi bahari warisan
nenek moyang.
Jika dulu laut Indonesia sebagai urat nadi perekonomian nasional dan penggerak lalu lintas
ekonomi dunia, sekarang itu hanyalah isapan jari saja. Kebijakan pembangunan nasional yang
selalu berorientasi ke arah kontinental (daratan) membuat bangsa ini cenderung berperan sebagai
konsumen terhadap produk teknologi, segala macam informasi, hingga bahan pangan dari
negara-negara lain. Perilaku konsumtif seperti ini yang membuat bangsa kita kurang
mengoptimalkan potensi alam, khususnya laut. Parahnya lagi, kini Indonesia memiliki
ketergantungan pada negara-negara lain yang sumber daya alamnya jauh di bawah kekayaan
Indonesia.
Pemikiran kontinental juga telah membuat kita kehilangan kekayaan sendiri. Tak usah kaget
apabila suatu hari kita akan mendengar berita eksploitasi hasil laut besar-besaran oleh
perusahaan asing, pencurian sumber daya laut, penyelundupan, dan lain sebagainya. Dan sialnya
tak jarang orang pribumi juga dengan sadar diri terlibat di dalamnya.
Hilangnya budaya maritim sebagai budaya asli juga tergambar dalam kecenderungan masyarakat
yang memilih penyelesaian masalah melalui jalur konflik. Bukan lagi dengan jalan dialog seperti
yang dimaksudkan dalam budaya maritim, yaitu menjunjung perdamaian dalam setiap
penyesaian konflik multilateral. Alhasil, banyak kita dengar dan lihat sendiri berita di media
massa yang menyebutkan terjadinya peperangan atau konflik akibat perebutan wilayah laut
(perbatasan) dan perebutan pulau. Jangan heran juga apabila banyak pulau-pulau di Indonesia
yang lepas dari NKRI. Kurang pedulinya pemerintah dalam menjaga potensi menjadi faktor
utama lemahnya pertahanan dalam kepemilikan pulau-pulau tersebut. Akibatnya, pihak asing
yang lebih cerdik dan licik pun menang telak.
Laut seharusnya menjadi sumber kehidupan yang menyejahterakan. Bukan tempat untuk ceceran
darah dari peperangan, bukan pula menjadi tempat yang penuh dengan luapan ketakutan. Disana
hendaknya ada keramahan, yang menerima siapa saja yang datang dalam damai dan kebaikan.
Disana hendaknya ada toleransi, yang bersedia berada di tempat yang sama namun dalam warna-
warna yang berbeda. Laut seharusnya menjadi penghubung antar wilayah, menghantarkan arus
yang membawa informasi, juga mencipta gelombang yang menyajikan harmonisasi.
Untuk mencapai semua itu, paradigma masyarakat tentang pentingnya menanamkan budaya
maritim dalam diri harus mulai dibangun lagi. Negara kita harus menjadikan pandangan maritim
sebagai bagian utama dari kemajuan sosial, budaya, ekonomi, politik, dan pertahanan keamanan.
Mengoptimalkan potensi laut secara bijak juga akan sangat menentukan eksistensi Indonesia di
mata dunia. Laut yang berjaya akan memberikan manfaat yang sangat vital bagi pertumbuhan
perekonomian, perdagangan, dan ketahanan nasional.
Kini peran semua pihak sangat dibutuhkan untuk mengembalikan lagi masa keemasan bangsa ini
sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Masih ada harapan untuk perjuangan yang belum
berakhir. Semangat budaya maritim masih bisa kita munculkan ke permukaan. Hal mendasar
yang perlu ditanamkan dalam setiap jiwa kita adalah, tidak melupakan jati diri kita sebagai
negara maritim. Dengan mengkristalkan jiwa bahari, tentu akan timbul kepedulian untuk
menjaga keutuhan bangsa ini agar tidak terbecah-belah.
Seperti pidato Bung Karno pada HUT Proklamasi RI 1964, Aku lebih suka lukisan samudra
yang gelombangnya memukul, menggebu-gebu, daripada lukisan sawah yang adem ayem
tentrem. Jadi, untuk apa kita berada dalam bungkam, jika kita bisa berteriak dalam sebuah
gerakan jiwa maritim.

2. Pengaruh Penjajah Terhadap Kemaritiman Indonesia
Pemikiran kita telah berubah sejak abad ke 19 yang dahulu berorientasikan ke-maritiman
menjadi ke-tanahan. Padahal menurut Adrian B Lapian, nahkoda pertama sejarawan maritim
Asia Tenggara, untuk negara kepulauan seperti Indonesia ini, wilayah maritimlah yang
memegang wilayah sentral. Otak kita telah sedemikian di atur oleh penjajah untuk menjadi
bangsa petani, bangsa buruh.
Sejarah mencatat sebelum abad ke 17 kawasan Indonesia dan sekitarnya dikuasai oleh
kapal-kapal nusantara, dibuktikan dengan begitu berkuasanya kerajaan Swijaya dan kerajaan
Majapahit. Namun begitu menginjak paruh pertama abad ke-17, peran sentral ini mulai diambil
alih oleh Belanda dan Portugis hingga puncaknya pada abad ke-19 sejarah maritim kita
diibaratkan sudah memasuki waktu maghrib oleh Adrian B Lapia, nahkoda pertama sejarawan
maritim Asia Tenggara. Pada negara kepulauan, peran kota pelabuhan sangat penting dimana
pelabuhan ini akan menghubungkan satu pulau dengan pulau yang lain. Hal itu lah dipahami
betul oleh para kumpeni, mereka menguasai satu per satu kota pelabuhan besar dan menghalau
pelaut dan pedagang anak-anak Indonesia untuk berlayar. Akhirnya kapal-kapal Belandalah yang
berlayar. Sejak dijajah oleh kumpeni inilah, sejarah besar bangsa maritim Indonesia hancur
lebur. Anthony reid, pengkaji sejarah marirtim Indonesia dari Australian National University,
mengutip pernyataan Daghregister Batavia pada 1677 bahwa orang-orang mataram bagian timur
jawa saat itu sudah tidak tahu-menahu lagi soal laut dan tidak lagi memiliki kapal besar sendiri
sebagai pemenuh kebutuhan rakyat saat itu.
khirnya rakyat dipaksa menjadi buruh paksa di darat. Bercocok tanam ditanamkan kepada
bangsa Indonesia sebagai jati diri bangsa. Hal itu bisa anda lihat bersama di lambang pancasila
untuk keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang diibaratkan dengan padi dan kapas.
Semuanya merupakan produk pertanian, sama sekali tidak menyentuh potensi bahari kita.
Pikiran kita seakan ditutup untuk bagaimana sedapat mungkin menghabisi seluruh potensi
tanah kita, hingga sejarawan Ong Hok Ham (alm) geleng-geleng kepala dan berucap, Apakah
orang Indonesia hanya (bisa) hidup terpencil dikelilingi gunung berapi dan hidup dari usaha
pertanian untuk kemudian dikolonisasi oleh penguasa yang menguasai lautan Indonesia ?

3. Cacatan Sejarah Tentang Maritim Indonesia
Sejak abad ke-9 Masehi, yang juga merupakan awal masa keemasan nusantara, bangsa
Indonesia telah melakukan pelayaran jauh dan mengarungi lautan, ke barat memotong Lautan
Hindia hingga Madagaskar, ke timur hingga Pulau Paskah. Dengan kian ramainya arus
perdagangan melalui laut, mendorong munculnya kerajaan-kerajaan di nusantara yang bercorak
maritim dan memiliki armada laut yang besar.
Kerajaan maritim terbesar di nusantara diawali Kerajaan Sriwijaya (tahun 683-1030 M).
Petualang Tiongkok, I Tsing, mencatat, Shih Li Fo Shih (Sriwijaya) adalah kerajaan besar yang
mempunyai benteng di Kotaraja, armada lautnya amat kuat. Guna memperkuat armada dalam
mengamankan lalu lintas perdagangan melalui laut, Sriwijaya memanfaatkan sumber daya
manusia yang tersebar di seluruh wilayah kekuasaannya, yang kini disebut kekuatan
pengganda.
Runtuhnya Sriwijaya disusul naiknya Kerajaan Majapahit (1293-1478 M) yang semula
agraris. Majapahit lalu berkembang menjadi kerajaan maritim setelah Gajah Mada menjadi
mahapatih. Dengan Sumpah Palapa, Gajah Mada bercita-cita menyatukan nusantara dan
diangkatlah Laksamana Nala sebagai Jaladimantri yang bertugas memimpin kekuatan laut
Kerajaan Majapahit. Dengan armada laut yang kuat, kekuasaan Majapahit amat luas hingga
keluar nusantara.
Kejatuhan Majapahit diikuti munculnya Kerajaan Demak. Kebesaran Kerajaan Demak
jarang diberitakan. Kekuatan maritim Kerajaan Demak dibuktikan dengan mengirim armada laut
sebanyak 100 buah kapal dengan 10.000 prajurit menyerang Portugis di Malaka. Pemimpin
armada itu adalah Pati Unus yang bergelar Pangeran Sabrang Lor. Meski berteknologi sederhana,
Demak mampu mengerahkan pasukan dan perbekalan dari utara Pulau Jawa menuju
semenanjung Malaka.
Sejarah itu menggambarkan kehebatan armada niaga, keandalan manajemen transportasi
laut, dan armada militer yang mumpuni dari beberapa kerajaan di nusantara yang mampu
menyatukan wilayah luas dan disegani bangsa lain. Dengan armada niaga yang besar, kerajaan
bersosialisasi dan membawa hasil alam sebagai komoditas perdagangan ke negeri lain. Dan
untuk menjaga keamanan, kerajaan memiliki armada laut yang kuat.
Gemilang Kejayaan oleh kerajaan Sriwijaya dan Majapahit menjadi suatu fatamorgana
dilanjutkan perputaran 360 derajat dengan era continental oriented dan semakin pudarnya
budaya bahari menjadi penyebab surutnya jiwa maritim bangsa Indonesia. Kini saatnya bangsa
ini harus bangkit untuk tidak menyalahkan penjajahan Belanda dan Orde Baru maupun era
reformasi yang menyebabkan stagnasi geloranya jiwa maritim bangsa, toh kita harus menyadari
bahwasannya kita tidak dijajah selama 350 tahun. Selama itu pula perlawanan yang menggelora
dari rakyat indonesia di tiap tiap daerah, artinya belanda memerlukan waktu 350 untuk
menguasai wilayah Indonesia dan mereka sepenuhnya tidak berhasil. Sejarah bangsa Indonesia
adalah sejarah keberanian dan perlawanan yang terus menerus dengan semangat berkobar kobar
tiada henti. Kegigihan perlawanan tersebut membuktikan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa
yang gigih dalam mempertaruhkan dan membela serta mempertahankan harkat dan martabatnya.
Saat ini bangsa yang mendiami kepulauan yang besar ini sudah pada tataran Zero Status,
Apakah negara ini agraris apa maritim?. Layakkah disebut negara agraris manakala sebagian
hasil pertanian kita mengimpor dan harga harga hasil pertanian mencekik rakyat jelata. Layakkah
disebut negara maritim manakala rakyat sama sekali tidak pernah merasakan sumber daya laut
yang melimpah dan beraneka ragam, pantaskah disebut sebagai bangsa maritim yang rakyatnya
hanya bisa menikmati sebatas ikan asin, yang jauh dibanding dengan Tuna, Abalon, Salmon,
Napoleaon dan lain lain yang hanya bisa dinikmati oleh bangsa lain. Dimana semestinya
bahwa Geopolitacal Destiny Indonesia adalah maritim,

4. Bagaimana Sejarah Kemaritiman Bugis Makassar
Sekitar tahun 1600, jauh sebelum datangnya orang-orang Belanda, raja Gowa yang ke-14 I
MANGURANI DG MANRABIA SULTAN ALAUDDIN mendirikan keratin Somba Opu, dan
disekelilingnya itu berdiam 2000 kepala keluarga portugis.
Orang-orang Makassar pada masa itu amat berani berlayar mengarungi lautan luas,
sehingga orang portugis menggelar mereka Celebes De Mkassares, yang berarti orang-orang
Makassar yang ulung dan mahsyur dan De Berumde Makassar kata orang-orang Belanda. Hal ini
telah diperkutat dengan adanya bukti dalam buku Lontara Lagaligo pada abad X Sawerigading
(putera raja Luwu II) sudah melayari negeri-negeri Asia Tenggara dan Madagaskar. Dimana
Sawerigading mengadakan pelayaran dengan maksud muhibah dan pengenalan dunia.
Kehidupan kota Makassar sebagai kota pelabuhan yang dikenal oleh dunia Internasional
sangat erat hubungannya dengan tumbuhnya satu kerajaan maritime yang dikenal dengan
kerajaan Gowa terutama dalam abad XVI. Sebuah sumber portugis yang dapat dipergunakan
sekedar untuk mengungkapkan bahagian-bahagian gelap dari sejarah ini. Diterbitkan dalam
tahun 1944 oleh Armando Costesao, yaitu terjemahan dalam bahasa inggris, catatan perjalanan
Tom Pires yang berjudul SUMAORIENTALE dalam tahun 1513. Sumber itu menyajikan
tentang orang Makassar. Dikatakan bahwa orang Makassar itu telah melakukan perdagangan
dengan orang Malaka, Jawa, Borneo, Siam dan semua negeri-negeri antara Pahan dan Siam.
Orang Makassar itu lebih menyerupai orang Siam. Mereka adalah bajak-bajak laut yang ulung
dengan perahunya yang banyak. Dengan perahu-perahu mereka mengarungi lautan, melakukan
pembajakan sampai teluk Pegu (Pilipina), ke Maluku, ke Bandan, dan semua pulau disekitar
pulau Jawa. Mereka itu adalah orang-orang tak beragama. Disamping itu dikatan bahwa banyak
pula diantaranya mereka yang tidak menjadi bajak-bajak laut, itu terdiri atas pedagang-pedagang
cekatan. Mereka melakukan perdagangan dengan menggunakan perahu layar yang besar dan
bagus bentuknya. Mereka membawa beras yang putih sekali, juga membawa emas sedikit.
Barang-barang dagang mereka itu ditukarkan dengan brentangi-brentangi dan bahan-bahan
pakaian dan cambay dan sedikit dari orang Benggali dan keeling. Mereka banyak mengambil
bezoe dan kemenyan. Kaum mereka mempunyai bentuk tubuh yang bagus-bagus, semuanya
memakai keris atau tombak-tombak yang tajam. Mereka menjelajahi dunia dan semua orang
takut pada mereka. Penyamun-penyamun lainnya tak dapat berbuat apa-apa untuk melawan
sampan-sampan jongka mereka yang sanggup membela diri.
Menurut Prof.B.J.O. Schrleke, seorang sarjana Sosiologi dan sejarah bahwa sampai pada
permulaan abad XVI peranan Gowa di nusantara ini, belumlah dapat dikatakan berarti.
Perniagaan rempah-rempah di bahagian-bahagian nusantara ini masih dikuasai oleh bangsa
melayu dari malaka dan johor dan juga orang-orang dari jawa. Keadaan itu berlangsung sampai
ditaklukkannya malaka oleh Aceh yang mulai mengembangkan kekuatannya di bagian barat
nusantara. Kegiatan perniagaan berpindah ke pulau jawa dimana Portugis masih sangat kecil.
Akan tetapi dengan timbulnya persaingan-persaingan antara negeri-negeri pesisir dengan negeri-
negeri pedalaman jawa maka akhirnya pusat perniagaan rempah-rempah berpindah ke Makassar,
dan lebih meningkatnya lagi, sesudah tahu 1625.
Kebijakan Perdagangan Maritim
Pada masa prakonial, terdapat banyak pelabuhan yang menjadi pusat perdagangan di wilayah
Nusantara. Satu diantara pelabuhan-pelabuhan itu adalah Makassar. Makassar tidak begitu saja
menjadi kota pelabuhan besar. Sebelum abad ke-16, Makassar belum menjadi pelabuhan besar.
Transformasi Makassar menjadi pelabuhan besar dimulai dari tahun 1510, ketika ibukota
Kerajaan Gowa dipindahkan dari Tamalate ke Makassar.
Perpindahan ini berdampak pada perekonomian kerajaan, yang semula agraris menjadi
perdagangan. Lahirnya Bandar Makassar merupakan gabungan dari dua Bandar milik Kerajaan
Tallo dan Gowa, keduanya bergabung dan membentuk satu pemerintahan yang kemudian
melakukan perluasan wilayah di Sulawesi Selatan.
Dalam rangka perluasan wilayah, Raja Gowa, Karaeng Lakiung Tunipalangga Ulaweng
(1546-1565) menaklukkan kerajaan-kerajaan di wilayah Sulawesi Selatan. Akibatnya, Makassar
menjadi Bandar terbesar tunggal di wilayah Sulawesi Selatan. Kapal-kapal asing banyak
berlabuh di Makassar karena selain Bandar tunggal, lokasinya juga sangat strategis.
Pada abad ke-17, pedagang asing diperkenankan membangun perwakilan dagang di
Makassar, begitu pula sebaliknya. Situasi aman dan damai ini mulai terganggu sepanjang tahun
1615 sampai 1655. VOC yang juga turut berdagang, memaksakan hak monopoli perdagangan,
tentu saja hal ini ditolak oleh Sultan Gowa. Puncaknya pada tahun 1655-1669 pecah perang
Makassar, Kerajaan Gowa yang saat itu dipimpin oleh Sultan Hasanuddin terpaksa menyerah
pada tahun 1667 dengan menandatangani perjanjian Bongaya.
Konsekuensinya kekuatan dan kekuasaan VOC di Makassar semakin nyata. Kantor-
kantor perwakilan dagang asing dibubarkan untuk menjamin monopoli VOC berjalan lancer.
Pada tahun 1669, Sultan Hasanuddin kembali melakukan perlawanan tetapi dapat dipatahkan
oleh VOC. Perjanjian di Binanga pun dibuat untuk menegaskan Perjanjian Bongaya.
Kekuatan VOC di Makassar sangat dipengaruhi oleh keadaan politik belanda di Eropa. Rivalitas
antara Belanda dengan Inggris terjadi juga di wilayah koloninya. Makasar yang dikuasai VOC
bersaing dengan Singapura yang dikuasai Inggris. Singapura yang mempraktekkan perdagangan
bebas lebih maju dibandingkan dengan Makassar yang menganut Merkantilisme.
Kekuasaan VOC di nusantara berakhir pada tahun 1799, kemudian diteruskan kekuasaan
imperial Belanda yang membentuk HIndia-Belanda. Kondisi Belanda yang tidak bagus di Eropa,
membuat Inggris menguasai nusantara sepanjang tahun 1811-1816 di bawah T.S. Raffles.
Belanda mulai bangkit dan membuat Inggris mengembalikan Hindia-Belanda sesuai konvensi
Inggris, sebagai gantinya Belanda harus menjalankan perdagangan bebas. Pelaksanaan
perdagangan bebas sebagai konsekuensi pengambilalihan Hindia-Belanda dari Inggris tidak
dijalankan. Sampai pada tahun 1924, Inggris kembali mendesak melalui Traktat London untuk
mempertegas Konvensi London.
Pada tahun 1847, Hindia-Belanda kembali menetapkan Makassar sebagai pelabuhan
terbuka. Pemerintah Hindia-Belanda tidak membuka sepenuhnya, banyak aturan yang
diberlakukan. Aturan-aturan tersebut antara lain, pajak perdagangan tinggi, pelarangan
komoditas tertentu (senjata), dan menetapkan aturan pelayaran yang ketat. Upaya ini dilakukan
untuk melindungi Batavia sebagai pusat ekonomi.
Kebijakan ini menuai protes dari perusahaan dagang yang ada di Hindia-Belanda, mereka
menyayangkan pemberlakuan aturan tersebut. Setelah bertahan sebagai pelabuhan terbuka
selama 59 tahun, pemerintah Hindia-Belanda menjadikan Makassar sebagai pelabuhan tertutup
lagi. Akibatnya tidak ada lagi kapal dagang asing yang singgah disana. Sementara itu singapura
menjadi pusat perdagangan internasional seperti Makassar pada abad ke-17
Dari keterangan ini, dapat diperoleh bahwa sampai pada permulaan abad XVI pengembaraan
pembajak-pembajak dan kapal-kapal niaga orang Makassar yang berasal dari jazirah selatan
Sulawesi Selatan seperti yang diceritakan oleh Tom Pire situ, adalah orang Makassar dalam arti
suku bangsa (ethnis), yang mempergunakan bahasa sendiri (bahasa Makassar) yang mendiami
pesisir Makassar ujung selatan jazirah Sulawesi Selatan mulai dari pesisir Makassar (sekarang)
atau muara sungai-sungai Tallo-Jeneberang sampai Bantaeng di selatan yang meliputi negeri-
negeri, Galesong, Takalar, Topejawa, Laikang, Cikoang, Bangkala. Sampai sekarangun negeri-
negeri itu disebut negeri-negeri orang Makassar.