Anda di halaman 1dari 2

Konservasi Air di Lahan Kering

Hampir 88,6% atau setara dengan 60,7 ha lahan Indonesia merupakan lahan kering. Lahan kering
biasanya dimanfaatkan untuk tanaman tahunan atau perkebunan. Salah satu yang bisa dilakukan
agar lahan kering memiliki produktivitas yang lebih baik adalah dengan mengkonservasi air di
sekitar kawasan tersebut.
Pengelolaan air yang baik dapat menjamin ketersediaan air baik di musim penghujan dan musim
kemarau agar produktivitas tanaman tidak terganggu. Hal yang dapat dilakukan adalah
mengkonservasi air.
Konservasi airbertujuan meningkatkan masuknya air ke dalam tanah melalui infiltrasi dan
mengisi daerah cekungan-cekungan dengan air, serta mengurangi terjadinya evaporasi. Jika
Anda ingin mengefisienkan penggunaan air di lahan yang kering. Berikut metode dan teknologi
yang bisa dilakukan:
Menanam berbagai jenis tanaman (metode vegetatif)
Berbagai jenis tanaman dapat ditanam seperti tanaman penutup tanah, tanaman penguat teras,
penanaman dalam strip, pergiliran tanaman, serta penggunaan pupuk organic dan mulsa.
Pengolahan lahan dengan menanam tanaman dapat menjamin keberlangsungan keberadaan tanah
dan air.
Mengatur aliran permukaan (metode teknis)
Metode konservasi dengan mengatur aliran permukaan bertujuan agar tidak merusak lapisan olah
tanah (top soil) yang bermanfaat bagi tanaman. Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk
melakukan teknik ini adalah: pengolahan tanah menurut kontur; pembuatan guludan; terasering;
dan saluran air. Sebelum teknik ini dilakukan, ada beberapa bahan pertimbangan dalam
menetukan teknik konservasi:
1. Iklim
Jumlah curah hujan, intesitas, dan distribusi hujan merupakan faktor utama dalam menentukan
teknik konservasi air yang sesuai untuk suatu lokasi. Pada lokasi dengan curah hujan tinggi,
teknik konservasi air diarahkan untuk memanen air hujan dan/atau aliran permukaan. Sedangkan
lokasi dengan curah hujan rendah bertujuan memanen air hujan dan mencegah kehilangan air
melalui penguapan.
2. Kemiringan lahan
Semakin besar kemiringan lahan, semakin cepat laju aliran permukaan, daya kikis dan daya
angkut air juga semakin besar. Untuk lahan dengan kemiringan yang tinggi, konservasi yang
dapat dilakukan adalah memperlambat laju aliran permukaan dan memperpendek panjang lereng.
Sehingga, air lebih lama meresap ke dalam tanah.
3. Kedalaman efektif tanah
Merupakan kedalaman tanah diukur dari permukaan sampai jarak akar tanaman menembus
tanah. Pada tanah yang bersoulm (ketebalan tanah di atas bahan induk tanah) dalam atau
mempunyai kedalaman efektif yang dalam, hampir semua teknik konservasi air dapat diterapkan.
Sedangkan, pada tanah bersolum tipis harus dipilih teknik konservasi air yang tidak banyak
membongkar atau menyingkap tanah.