Anda di halaman 1dari 4

Mesjid Kaohsiung, Taiwan

Masjid Kaohsiung, No.11, Jianjyun Rd., Kaohsiung, Taiwan 802


Setelah 2 minggu berada di Kaohsiung city, Taiwan, baru hari ini(19/07) saya mengunjungi
mesjid satu-satunya di kota Kaohsiung. Hal ini bisa dimaklumi karena Taiwan merupakan Negara
minoritas muslim. Kunjungan saya ke Pulau Formosa berkaitan dengan kegiatan Program pertukaran
pelajar yang saya ikuti dan bertepatan pula dengan bulan Ramadhan. Pada tahun-tahun sebelumnya,
walaupun saya berkuliah di Yogyakarta namun saya selalu menjalankan ibadah puasa di Aceh, kampung
halaman saya. Aceh mendapat julukan serambi mekkah karena islam masuk ke Indonesia untuk pertama
kalinya di provinsi Aceh. Para pedangang dari Arab yang membawakan risalah islam ke Aceh.
Bisa dibayangkan, saat ini saya menjalankan ibadah puasa dalam lingkungan yang sangat
berbeda. Dikota ini, saya menjalankan ibadah puasa seorang diri dan shalat taraweh sendirian. Namun,
saya tetap semangat karena saya yakin dan percaya bahwa dimanapun kita berada Allah selalu bersama
kita.
Dengan adanya niat untuk mencari saudara seiman di pulau Formosa ini, maka pada suatu hari
saya mencari alamat mesjid di Kota Kaohsiung ini. Setelah mendapatkan alamat tersebut saya mencari
teman yang bisa mengantar saya kesana. Akhirnya, seorang teman saya di Laboratorium berkenan
mengantarkan saya. Dia bukan muslim. Seorang gadis berusia 20 tahun yang mempercayai tuhan namun
belum memilih agama apapun.
Dari asrama kampus tempat saya tinggal, kami berdua naik bus menuju kesana, Sekitar 30
menit kami tiba ditujuan. Saya ini senang sekali melihat mesjid yang berdiri kokoh di depan mata saya.
Menurut saya, mesjid tersebut tidak terlalu besar dan megah, hanya mesjid yang sederhana dan dengan
arsitektur sederhana. Tapi saya yakin tempat tersebut sangat berarti bagi para umat islam di kota ini.
Tulisan Laa ilaa hailaallah yang tertulis di pintu gerbang mesjid menggetarkan hati saya. Dan tulisan
Allahhu akbar menghiasi setiap tiang mesjid itu. Namun sayangnya, semua pintu gerbang itu tertutup
dan kami tidak bisa masuk.
Awalnya kami berfikir bahwa mesjid itu tutup, lalu kami pergi ke stasiun MRT untuk meminta
bantuan. Setelah diberikan informasi bahwa mesjid tersebut buka setiap hari. Kamipun kembali lagi ke
mesjid. Dan benar, sekarang pintu gerbangnya pun terbuka. Kami masuk melalui pintu depan mesjid.
Mesjid itu terdiri dari 3 lantai. Lantai pertama untuk berkumpulnya para umat islam dalam rangka
makan bersama seperti iftar jamai. lalu lantai kedua adalah tempat shalat jamaah laki-laki dan dilantai
ketiga merupakan tempat shalat bagi wanita. Mesjid yang dari luar sederhana dan dari dalampun
sederhana, namun memberikan ketenangan yang tidak bisa diukir dengan kata-kata.
Saat kami asyik melihat ruangan-ruangan mesjid, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang
menghampiri. Beliau mengucapkan Assalammualaikum pada saya. Secara spontan saya langsung
membalas salamnya. Setelah beberapa saat, terjadi sesuatu yang aneh. Beliau lebih tertarik mengajak
ngobrol teman saya. Teman saya itu bukan muslim sehingga ia tidak mengenakan jilbab dan memakai
celana di atas lutut. Laki-laki tersebut menurut saya adalah seorang ustad di mesjid itu. Ia adalah
penduduk Asli Taiwan yang telah memeluk islam.
Percakapan yang panjang pun terjadi diantara mereka dengan menggunakan bahasa cina. Saya
yang tidak mengerti bahasa cina lantas diam seribu bahasa hanya memperhatikan bahasa tubuh
mereka. Walaupun saya tidak mengerti, namun saya tahu maksudnya. Laki-laki tersebut menjelaskan
tentang islam. Bagaimana seorang muslim menjalankan hidup dan menceritakan sejarah huruf cina yang
berarti tuhan, mengapa bentuknya seperti itu dan apa maksudnya. Sepintas dari gerakannya saya bisa
menangkap, dia juga menjelaskan tetang wudhu pada teman saya. Sekitar setengah jam mereka
mengobrol, dan dari mimic wajah teman saya, dia terlihat antusias seperti mendapat pengetahuan yang
menarik. Saat kami duduk, laki-laki yang sedikit mirip ustad felix siauw itupun memberika buku tentang
islam pada teman saya itu. Saya melihat buku itu, semua bertulisan cina. Hanya terdapat beberapa
tulisan latin yaitu mubah, haram, makruh, sunnah dan wajib. Saat itu saya hanya bisa berdoa semoga
teman saya ini baik cepat maupun lambat akan mendapat hidayah dan memeluk islam suatu saat.








Percakapan ustad dengan teman saya.
Setelah diskusi tersebut, kamipun dibawa kesebuah ruangan imam mesjid. Saya bertemu
dengan beliau, beliau adalah orang arab Saudi. Beliau sedang mengajari anaknya belajar membaca Al-
quran. Beliau bisa sedikit berbahasa Indonesia seperti apa kabar, terima kasih dan kata-kata sederhana
lainnya. Beliau berpesan untuk saya agar berdakwah terhadap teman-teman Taiwan saya, ajak mereka
untuk mengenal islam. Saya hanya bisa berkata InsyaAllah. Mungkin saya bisa berdakwah melalui hal-
hal kecil misalnya menjelaskan mengapa islam melarang memakan babi.









Ustad yang sedang mengajarkan anaknya membaca al-quran
Setelah beberapa waktu berlalu, kamipun beranjak pergi. Sembari berjalan bersama teman saya
ditaman, teman saya tersebut menanyakan banyak hal tentang islam. Saya senang, karena itu tandanya
dia tertarik. Awalnya dia bertanya pada saya apa itu Allah dan menanyakan tentang nabi Muhammad.
Saya menjelaskan semampu saya berdasarkan apa yang saya ketahui saat belajar dengan ustad dan
ustazah saya. Saya menyadari bahwa ilmu saya tentang islam masilah dangkal.
Sayapun meminta teman saya mengulangi penjelasan laki-laki di masjid tadi, dia berkata bahwa
hanya islam yang memiliki satu tuhan, dan Muhammad bukanlah tuhan, dia adalah nabi. Lalu, teman
saya berkata bahwa di tempat peribatan islam (mesjid) tidak ada gambar tuhan. Kemudian, dalam islam
tidak ada perbedaan antara orang kaya dan orang miskin, ketika meninggal semua orang hanya akan
memakai kain putih dan dikubur di tanah. Lalu berdasarkan sejarahnya juga, pada zaman dahulu orang
cina banyak yang memeluk islam.
Beberapa saat kemudian, teman saya bertanya, kamu golongan syiah atau sunni? Saya
tersentak, dan saya menjawab tidak satupun. Lalu dia bertanya kenapa? Saya diam sejenak, dari mana
dia bisa tahu hal itu?. saya hanya mengetahui sedikit tentang sejarah pada masa ali bin Abi thalib
tersebut. Dengan bahasa inggris yang sederhana, saya menjelaskan dengan sangat hati-hati agar ia tidak
salah paham. Itu hanya perbedaan yang terjadi antara umat islam. perbedaan kepercayaan terhadap
Allah? kata dia. Lalu saya menjawab, bukan, bukan terhadap Allah. Ini hanya perbedaan antara
hubungan manusia dengan manusia bukan maunusia dengan tuhan. Itu ada sejarahnya. But, I dont
know exactly.
Pertanyaan berikutnya, kenapa saat sholat harus membungkus seluruh badan. Apakah laki-laki
juga begitu. Lalu saya menjelaskan tentang batasan aurat laki-laki dan perempuan padanya. Selanjutnya,
kenapa ada wanita yang pakai jilbab dan tidak pakai jilbab seperti penjual sate dan penjaga rumah
professormu itu? Saya mencari nafas panjang sejenak, lalu saya bilang karena kamu mau pakai jilbab
atau tidak itu adalah pilihan, namun dalam islam wanita diwajibkan memakai jilbab tetapi kamu tahu
sendiri dengan tabiat manusia, ada yang peduli dan ada yang tidak peduli dengan hal itu. Lalu, dia
ngangguk-ngangguk. Fiuuhh.lega. namun dia juga bertanya, kenapa wanita harus pakai jilbab? Karena
wanita itu cantik dan kita sebaiknya tidak memperlihatkan kecantikan kita. kecantikan kita menjadi
hadiah special bagi suami kita nanti, dan hanya suami kita yang boleh melihat. Dalam hal ini, saya tidak
menjelaskan yang berhubungan dengan nasab.
Pertanyaan selanjutnya, kenapa umat islam harus ke mekkah dan melakukan haji? Saya
menjelaskan tentang rukun islam yang salah satunya adalah haji. Apa fungsinya haji? Saya menjawab
untuk mendekatkan diri pada Allah sama seperti shalat. Lalu saya juga berkata bahwa haji untuk
keseimbangan(balance). Saat haji semua orang berputar mengelilingi kabah dari arah kanan ke kiri.
Seperti matahari, semua planet mengelilinginya dan kamu ingat teori tentang electron? Semua electron
mengelilingi inti atom. Dalam tubuh kita ada electron, dan pohon itu, semua hewan dan baju yang kita
pakai. Semuanya berputar sama seprti orang berhaji. Kemudian teman saya, berkata thats cool, I dont
know it before.
Dan mash banyak lagi pertanyaan lainnya. Usai duduk di taman tepat pelatihan militer itu,
kamipun pergi ke stasiun MRT untuk pergi ketempat selanjutnya. Dalam perjalanan, saya bertanya,
kamu belum memilih agama apapun, tapi apakah kamu percaya akan tuhan. Dia menjawab, ya. Saya
berkata dalam hati, Alhamdulillah semoga Islam menjadi jalan hidupmu.
Khairunnisa Syaladin
Mahasiswi Farmasi Universitas Gadjah Mada
Peserta PPSDMS IV R3 Yogyakarta Putri