Anda di halaman 1dari 2

PENDAHULUAN

Dasar Teori
Fenomena Listrik dan Aliran Ion
Sifat Listrik Otot Rangka
Peristiwa listrik di otot rangka dan aliran ion yang mendasari peristiwa tersebut
serupa dengan yang terjadi pada saraf, meskipun secara kuantitas berbeda dalam hal waktu
dan amplitudonya. Potensial membran istirahat otot rangka adalah sekitar -90 mV. Potensial
aksi berlangsung selama 2-4 mdet dan dihantarkan disepanjang serabut otot dengan
kecepatan kira-kira 5m/det. Masa refrakter absolutnya adalah 1-3 mdet, dan polarisasi ikutan
yang berkaitan dengan perubahan ambang terhadap rangsangan listrik, relatif lebih panjang.
Walaupun perbedaan sifat listrik diantara serabut otot tidak cukup besar seperti yang
diperlihatkan pada potensial aksi gabungan, tetapi terdapat juga perbedaan ambang rangsang
diantara berbagai serabut. Lebih lanjut, pada setiap percobaan perangsangan, beberapa
serabut letaknya lebih jauh dari elektroda perangsangan dibandingkan dengan serabut lain.
Oleh karena itu, besar potensial aksi yang terekam dari sediaan berkas otot utuh berbeda-
beda sesuai dengan kekuatan rangsangan yang diberikan, antara intensitas ambang sampai
rangsangan maksimal.
Distribusi dan Aliran I on
Distribusi ion yang melewati membran serabut otot serupa dengan yang melewati
membran sel saraf. Seperti juga pada saraf depolarisasi merupakan manifestasi influks ion
Na
+
, dan repolarisasi terjadi pada efluks ion K
+
.
Respon Kontraktil
Peristiwa listrik pada otot sangat penting untuk membedakan dengan peristiwa
mekaniknya. Meskipun respon yang satu secara normal tidak akan terjadi tanpa respon yang
lain, dasar secara fisiologis dan morfologisnya berbeda. Depolarisasi membran serabut otot
dalam keadaan normal dimulai di lempang ujung (end-plate) otot rangka, yang merupakan
struktur khusus yang terdapat di bawah ujung saraf motorik. Potensial aksi dihantarkan
disepanjang serabut otot dan kemudian membangkitkan respon kontraktil.
Kontraksi Kedutan Otot
Potensial aksi tunggal menyebabkan kontraksi singkat yang kemudian diikuti dengan
relaksasi. Respon seperti ini disebut respon kedutan otot (muscle twitch). Kedutan timbul
kira-kira 2 mdet setelah dimulainya depolarisasi membran, sebelum repolarisasi selesai.
Lamanya kontraksi kedutan beragam, sesuai dengan jenis otot yang dirangsang. Serabut otot
cepat (fast) yang terutama berperan pada gerakan otot halus, cepat dan tepat, mempunyai
lama kedutan 7,5 mdet. Serabut otot lambat (slow), yang terutama berperan pada gerakan
kuat, menyeluruh, dan dipertahankan, memiliki lama kedutan sampai 100 mdet.
Hubungan Antara Panjang dengan Tegangan Otot dan Kecepatan Kontraksi
Tegangan yang dihasikan oleh otot bila berkontraksi secara isometrik (tegangan total)
maupun tegangan pasif yang terbentuk oleh otot yang tidak dirangsang, berbeda-beda sesuai
dengan panjang serabut otot. Panjang otot dapat berbada-beda dengan mengubah jarak antara
kedua titik fiksasinya. Pada setiap panjang tertentu tegangan pasif diukur, kemudian otot
diberi rangsangan listrik dan tegangan total diukur. Perbedaan antara kedua nilai tersebut
untuk tiap panjang otot merupakan besar tegangan yang sebenarnay dihasilkan oleh proses
kontraksi (tegangan pasif). Kurva yang sama akan diperoleh dari pengamatan terhadap satu
serabut otot. Panjang otot yang bertepatan dengan tegangan akaktif maksimal biasanya
disebut sebagai panjang istirahat. Istilah ini sebenarnya diperoleh dari berbagai percobaan
yang memperlihatkan bahwa panjang sejumlah besar otot di dalam tubuh pada keadaan
istirahat merupakan panjang otot yang menghasilkan tegangan maksimal.
Hubungan panjang tegangan yang tampak pada otot rangka dapat dijelaskan dengan
mekanisme pergeseran filamen sewaktu otot berkontraksi. Ketika serabut berkkontraksi
secara isometrik, tegangan yang timbul sebanding dengan jumlah ikatan silang yang
terbentuk diantara molekul aktin dan miosin. Jika otot diregang, tumpang tindih antara aktin
dan miosin berkurang, dan karena itulah, jumlah ikatan silang akan berkurang. Sebaliknya
jika otot jauh lebih pendek daripada panjang istirahat, jarak yang akan ditempuh oleh filamen
tipis akan berkurang.
Kecepatan kontraksi otot berbanding terbalik dengan besar beban pada otot. Pada
pemberian beban, kecepatan kontraksi akan maksimal pada panjang istirahat, dan menurun
bila otot lebih pendek atau lebih panjang daripada panjang istirahat.