Anda di halaman 1dari 10

Ranah

Jurnal Mahasiswa Antropologi UGM


Tahun II, No 1, April 2012
Halaman: 2-11
Antropologi Digital dan Netnograf
Sebuah Pembahasan Awal
Sita Hidayah
Abstrak
Tulisan ini adalah sebuah pengantar mengenai Antropologi digital pada
umumnya. Tulisan ini dibuat berdasarkan pengamatan bahwa meski akses
internet di Indonesia tumbuh dengan kecepatan eksponesial, dan hampir tidak
ada lagi aspek kehidupan yang tak termediasi teknologi digital, jagad digital
masih menjadi tanah tak dikenal--trra in!ognito Antropologi Indonesia.
Selain ingin mengangkat Antropologi digital dalam perbincangan ilmiah, tulisan
ini ingin mengajak para pembaca untuk mencermati komunitas-komunitas onlin
yang terus bermunculan dan juga melihat potensi netnograf dan etnograf
hiperteks dalam memperkaya kajian mengenai manusia dan kemanusiaan
Indonesia.
Kata kunci Antropologi digital, netnograf, hiperteks, komunitas onlin.
Kilasan Awal mengenai Digital Ethnography dan Hypertext dalam
Antropologi
Sebelum kita memulai perbincangan kita mengenai digital etnograf dan
hiperteks dalam Antropologi, saya membuat pembedaan mengenai !"# digital
etnograf yaitu etnograf yang dihasilkan mlalui perangkat digital. $ada
etnograf ini, meski "l# penelitian bukan komunitas onlin, istilah digital
"
etnograf bisa dipakai sepanjang proses penelitian memakai perangkat digital.
!%# &igital etnograf sebagai metode yang dipakai untu$ mempelajari dan
memahami dunia digital dan onlin !ommunitis yang umumnya dikenal sebagai
ntnograph%. $ada pengertian yang pertama, kita akan melihat suatu etnograf
yang termediasi komputer !!omputr-m#iat# thnograph%#, di mana
keseluruhan kerja etnograf bisa dan telah dilakukan dengan teknologi digital,
khususnya komputer. Sementara pengertian yang kedua lebih menekankan
pada etnograf tentang budaya dan jaringan sosial yang termediasi melalui
internet !intrnt-m#iat# !ultur#.
$ada bagian pengantar ini kita akan membahas mengenai hubungan
antropolog dengan teknologi digital yang semakin erat. 'ahkan bagi para
penentang digital etnograf yang paling kukuh sekali pun akan sulit mengabaikan
realita bahwa teknologi digital telah mewarnai kehidupan dan merasuki
kemanusiaan kita yang paling mendasar cinta, identitas, tubuh, kekerabatan,
politik, agama bahkan realita. Teknologi digital tidak hanya mempengaruhi
kehidupan orang kebanyakan, teknologi digital juga mempengaruhi bagaimana
cara para antropolog merekam, menyimpan, menganalisis, menghasilkan, dan
menyebarkan kerja ilmiah mereka.
(ika kita lihat situasi saat ini, kita bisa lihat banyak sekali yang bisa
dilakukan para antropolog dengan teknologi digital yang mereka punya.
$andangan bahwa digital etnograf melulu tentang etnograf )isual !flm dan *oto#
tidaklah benar. $ara antropolog dengan mangkus telah meman*aatkan komputer,
kamera dan perekam digital, bahkan telpon seluler mereka dalam kerja
penelitian mereka.
$erekam digital, baik perekam suara mau pun gambar semakin meluas
penggunaannya dalam etnograf. $ara antropolog kontemporer menyimpan data
etnograf dalam bentuk digital karena keuntungan dari *ormat ini mudah
disimpan, disebarluaskan, dan mudah dipakai. $ada tataran analisis, makin
banyak antropolog meman*aatkan komputer untuk membuat hubungan berbagai
)ariabel penelitian dan mena*sirkan data awal mereka. +ita bicara mengenai
beragam so&twar untuk menganalisis data kualitati* mau pun data kualitati*
mulai dari ,indows -.cell, S$SS, Athena, /A01&A sampai 0A1&AS. &an dengan
mediasi komputer, para antropolog menghasilkan tidak hanya teks etnograf
tunggal, tapi juga dokumen etnograf yang h%prt't.
%
-tnograf dalam *ormat h%prt't biasanya berwujud teks dengan rujukan
teks atau in*ormasi lain yang tertaut lin$( Hiperteks adalah struktur yang
membangun internet !,orld ,ide ,eb# sehingga tidak heran etnograf hiperteks
biasanya memiliki domain di internet.
"
&engan plat&orm web.%.2 yang ada saat
ini, masa depan etnograf tidak lagi harus berupa dokumen h%prt't, tapi juga
h%prm#ia. $ada akhirnya kita akan melihat suatu etnograf dalam bentuk
dokumen teks yang terhubung tidak hanya dengan teks3in*ormasi lain, tapi juga
dengan gambar3 grafs yang tak terbatas kecuali karena kapasitas komputer dan
jaringan internet.
Setelah *okus pada kerja antropolog dan hubungannya dengan teknologi
digital dan hiperteks, kita akan beralih pada *okus mengenai etnograf mengenai
dunia yang termediasi teknologi digital dan memiliki *ormat hiperteks.
Etnograf tentang Budaya Internet
Saya tidak terlalu menguasai komputer jaringan, kurang paham mengenai
wacana netnograf dan juga tidak terlalu terlibat dalam komunitas onlin.
&engan keterbatasan-keterbatasan saya, pembahasan pada bagian ini hanya
akan membicarakan mengenai onlin thnograph% dan lapangan !feld#.
Sarjana paling otoritati* dalam studi mengenai budaya dan komunitas
onlin adalah 4obert 5. +o6inets yang sudah menulis banyak sekali buku
mengenai netnograf. Salah satu karya +o6inets yang paling bernas berjudul
Ntnograph%: )oing *thnographi! Rsar!h +nlin yang terbit tahun %227.
&alam bukunya, +o6inets menulis bahwa komunitas-komunitas online
membentuk dan mengejawantahkan nilai-nilai, adat kebiasaan dan kepercayaan
yang mengatur dan mengarahkan tingkah laku komunitas tersebut !%2"2 "%#.
Singkatnya, meski interaksi sosial anggota komunitas onlin ini termediasi
komputer, komunitas onlin membentuk dan dibentuk suatu kebudayaan
tertentu. &an segala bentuk kebudayaan manusia adalah subyek pembicaraan
Antropologi.
Anggaplah kita menerima asumsi bahwa sebuah komunitas onlin adalah
subyek penelitian yang sama derajatnya dengan suatu komunitas di lereng
/erapi, komunitas onlin tetap akan mengusik pandangan tradisional kita
mengenai lapangan !feld# penelitian etnograf. &iawali dengan munculnya
w,nograph% sebagai sub disiplin Antropologi, lapangan etnograf baru tergelar
"
Apple 8hypercard program9 menggunakan *ormat hyperte.t untuk *ungsi pencarian.
:
suatu lapangan sosial yang mewujud melalui teknologi digital dan jaringan
internet. &an sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak mungkin dalam
Antropologi;etnograf tanpa thnos, tidak hanya mungkin tapi menjadi
keniscayaan !,ittel. %2"2#.
/erangkum dua paparan singkat mengenai budaya internet dan lapangan
penelitian Antropologi baru ini, kita tidak perlu membatasi cakrawala pandang
kita pada anggapan bahwa internet semata produk material kebudayaan
!$aterson. %22%#. <eorge /arcus telah mengingatkan kita mengenai perlunya
para Antropolog untuk mencermati 8sir$ulasi ma$na-ma$na, o,%$-o,%$ #an
i#ntitas $ultural #alam ruang #an wa$tu %ang #i&usi&9 ini !"77= >7 )ia ,ittel
%2"2#. /arcus secara tidak langsung mengarahkan kita pada defnisi lapangan
onlin ini.
?apangan yang di*usi*, yang tidak lagi terikat pada batasan-batasan
teritorial geografs dan tidak terikat waktu linear, dengan tautan !lin$# in*ormasi
dan media yang menggurita, secara langsung menguji metode etnograf yang
biasa dipakai dalam Antropologi. ?apangan etnograf ini sulit karena adanya
asumsi dasar etnograf yang menekankan pentingnya mempelajari sebuah
kebudayaan dalam lingkungan alaminya. &an bagi banyak antropolog, lapangan
onlin tidak alami karena adanya inter*ensi teknologi. &itambah lagi dengan
anggapan bahwa lapangan onlin ini tidak hanya tidak alami, tapi juga bersi*at
imajiner;tidak dalam pengertian Anderson dalam bukunya Imagin#
-ommunitis, tapi pada sesuatu yang tidak sungguh-sungguh ada dan sepele;
membuat lapangan etnograf baru ini tidak menarik bagi beberapa kalangan.
Tulisan ini tidak akan membahas persoalan mengenai apa yang nyata dan tidak
nyata dalam dunia digital ini. @ang penting di sini, meski tanpa kontak fsik dan
tatap muka langsung, para anggota komunitas onlin .nti/n: intrnt !iti/n0
mengaggap pengalaman sosial onlin mereka tidak hanya nyata dan otentik tapi
juga bermakna.
Seperti yang ditulis +o6inets !%227# ratusan juta penduduk dunia
berinteraksi dalam dunia !%,r setiap hari. Ini berarti bahwa lebih dari %% persen
penduduk dunia terhubung melalui internet. &alam laporan &igital Auture yang
dikeluarkan oleh Bni)ersity o* Southern 0ali*ornia tahun %22=, kenaikan jumlah
nti/n di Amerika melonjak lebih dari "22 persen selama tiga tahun terakhir
dan penggunaan internet di Asia meningkat lebih dari C22 persen pada kurun
waktu %222-%22= !+o6inets. %227#. $erlu ditekankan di sini, para nti/ns ini
C
tidak hanya membuka w, pag mereka secara berkala berinteraksi serta
menemukan kepuasan dan makna dalam berbagai akti)itas ,logging, mi!ro
,logging, 1i#o!asting, so!ial ntwor$ing, onlin gaming, instant mssaging,
mailing dan seterusnya dalam worl# wi# w, ini.
Ada beragam nama disematkan pada sub disiplin Antropologi yang
mempelajari budaya dan komunitas onlin, mulai dari w,nograph%, 1irtual
thnograph%, #igital thnograph%, !%,r anthropolog% dan juga ntnograph%
dengan berbagai nuansa dan spektrum paradigma !+o6inets. %227 D#. /enurut
saya, akan lebih produkti* apabila kita meneruskan perbincangan kita mengenai
netnograf daripada membahas mengenai beragam penamaan sub disiplin
Antropologi ini.
$ersoalan kita selanjutnya adalah, apa yang disebut dengan komunitas
onlin yang menjadi 8lokasi9 penelitian etnograf kitaE /engikuti defnisi Howard
4eingold dalam buku 85irtual 0ommunity Homesteading on The -lectronic
Arontier9, komunitas onlin adalah
8Social aggregations that emerge *rom the net when enough people
carry onFpublic discussions long enough, with suGcient human
*eelings, to *orm webs o* personal relationships in cyberspace9
!+o6inets. %227 =#.
/elalui pengertian di atas, kita bisa menarik beberapa batasan mengenai
komunitas onlin komunitas bersi*at kolekti* dengan interaksi indi)idu-indi)idu
yang termediasi komputer, memiliki simbol-simbol yang dipertukarkan oleh
minimal %2 orang !batas minimal yang dibuat +o6inets# dan pertukaran ini bisa
diakses oleh peneliti, di mana interaksi-interaksi onlin ini berlaku seperti
hubungan yang berkelanjutan dan melibatkan perasaan-perasaan manusiawi
sehingga menghasilkan sebuah jaringan sosial dengan identitas bersama
!%227=-7#.
'atasan-batasan yang dibuat 4eingold dan +o6inets ini cukup berguna
bagi kita untuk mengidentifkasi komunitas onlin yang hendak dipelajari.
Apabila kita sudah menemukan komunitas pilihan, maka langkah selanjutnya
adalah mencari tahu bagaimana kita akan melakukan penelitian etnograf
melalui internet.
D
Netnography Sebuah !etode
Tahapan penelitian etnograf onlin ini hampir serupa dengan tahapan etnograf
tradisional. Tahap awal dimulai dengan membuat batasan penelitian dan
membuat pertanyaan, menyeleksi komunitas onlin, melakukan partisipasi
obser)asi, dilanjutkan dengan menganalisis data dan menyajikan laporan
etnograf kita. &ari segi substansi, etnograf tradisional dan netnograf tidak
banyak berbeda. Sebelum membahas mengenai perbedaan kedua hal ini, apa itu
netnografE
+o6inets dalam buku Ntnograph% mendefnisikan netnograf sebagai
8s,uah ,ntu$ tnogra" %ang #ia#aptasi untu$ #unia sosial %ang #im#iasi
prang$at $omputr9 !%227 "#. Singkatnya, netnograf adalah sebuah metode
untuk mempelajari !%,rnti!s spa! .!%,rspa!0. &an belakangan ini
netnograf telah diusung sebagai sebuah satu-satunya metode yang secara
khusus dirancang untuk mempelajari kebudayan dan komunitas onlin !'owler (r.
%2"2#.
+o6inets lebih lanjut menerangkan keunggulan-keunggulan netnograf
dalam mempelajari interaksi sosial onlin
8Fonline interactions are )alued as a cultural reHection that yields
deep human understanding. ?ike in-person ethnography,
netnography is naturalistic, immersi)e, descripti)e, multi-method,
adaptable, and *ocused on conte.t. Bsed to in*orm consumer
insight, netnography is less intrusi)e than ethnography or *ocus
groups, and more naturalistic than sur)eys, Iuantitati)e models,
and *ocus groups. Jetnography fts well in the *ront-end stages o*
inno)ation, and in the disco)ery phases o* marketing and brand
management.9
+elebihan-kelebihan ntnograph% ini membuat metode pengamatan
!sering dianggap metode 8menguntit93lur$ing#, !ontnt anal%sis dan t't mining
yang dulu biasa dipakai untuk meneliti aktiftas-aktiftas onlin menjadi kurang
mendalam dan kurang menghasilkan dalam memahami para nti/n.
+arena pada prinsipnya sama, etnograf dan netnograf memiliki banyak
persamaan. $ersamaan yang paling *undamental dari kedua metode ini adalah
sama-sama menekankan pentingnya keterlibatan peneliti dan pentingnya
konteks dalam penggambaran kebudayaan onlin ini. $erbedaan antara kedua
metode ini terletak pada bagaimana penelitian dilakukan dan bagaimana
antropolog melakukan penelitian. 'agaimana mencari, mencatat dan merekam,
K
menyimpan, menganalisis dan menampilkan representasi kebudayaan onlinE
/encari data di dunia maya tentu tidak sama dengan penelitian lapangan pada
sebuah komunitas di pesisir (awa, misalnya. +alau dalam penelitian etnograf
data terutama diperoleh melalui wawancara mendalam, dalam netnograf data
terutama diperoleh dari interaksi hiperteks para nti/n. +elebihan *ormat
hiperteks, segala bentuk pertukaran simbol yang berupa tulisan, suara atau
gambar bisa disimpan dalam *ormat asli, sehingga makna mencatat data juga
bergeser. &alam netnograf, 2otting dan tran$rip tidak lagi perlu. &an seperti
yang sudah dipaparkan pada bagian pertama tulisan, para antropolog sekarang
bisa menganalisis data dan menampilkan laporan etnograf dalam bentuk
h%prt't . juga h%prm#ia0.
Sedikit pembahasan mengenai analisis data dan penulisan h%prt't
karena si*atnya yang multilinear,proses penelitian tidak lagi kronologis. &okumen
data dan dokumen analisis bisa saling bertautan sehingga batasan antara data
dan analisis menjadi kabur. +ita bisa membaca tautan sebagai sebuah dokumen
analisis, dan sebaliknya satu dokumen analisis bisa menjadi dokumen data pada
tautan dokumen yang lain. Tentu saja kita bisa memutuskan sebuah dokumen
sebagai sebuah teks akhir, akan tetapi dengan kemudahan tautan !lin$#
hiperteks, sangat mudah bagi kita tergoda untuk mengikuti tautan tersebut.
'andingkan perbedaan tanggapan kita ketika membaca sebuah dokumen
dengan rujukan berupa catatan kaki dan dokumen dengan rujukan berupa tautan
hiperteks.
&alam tahap analisis, penggunaan kerangka berfkir dan teori dalam
netnograf akan sangat bergantung pada keputusan sang antropolog, seperti
halnya dalam etnograf biasa. Akan tetapi karena si*at hiperteks, tentu saja
pelukisan hiperteks mengubah pemaknaan dan hubungan antara pengarang
!dalam hal ini antropolog# dan pembaca. -tnograf onlin mutakhir sangat
partisipatoris dan demokratis, sehingga pembacaan akan teks bisa menjadi
sangat cair. 'ahkan saking partisipatoris dan demokratis, pembaca bisa
menggeser peneliti dalam membangun wacana mengenai sebuah representasi
kebudayaan.
/enutup pembahasan mengenai metode netnnograf ini, perbedaan yang
paling menyolok antara etnograf dan netnograf terutama terlihat dalam aspek
etika penelitian. +arena interaksi sosial ini termediasi teknologi, kehadiran
peneliti tidak serta merta bisa tampak, sehingga sangat penting bagi para
>
peneliti onlin untuk mendapatkan persetujuan dari para nti/n yang menjadi
subyek penelitian mereka. Aspek pri)asi juga harus menjadi prioritas karena
dalam interaksi onlin, batasan publik dan pri)at sangat tipis. 'atasan publik dan
pri)at bisa jadi sangat subyekti*, meski pun ada undang-undang yang mengatur
interaksi dan transaksi internet, misalnya. $ersoalan etika ini cukup penting
sehingga persoalan kehadiran peneliti dalam komunitas masih akan dibahas
pada bagian di bawah.
'eranjak dari perdebatan mengenai lapangan, mengutip ,ittel !%2"2#,
ada beberapa hal yang perlu kita bahas lebih lanjut
8!"# -thnographic practice is attendance, is a co-presence o*
ethnographer and the obser)ed social situation. ,hether this co-
presence reIuires one single shared space, is a problem worth
discussing, particularly in the conte.t o* online-ethnographiesF !%#
-thnography is about re)ealing conte.t and thus comple.ity. The
potential o* this method lies not in a reduction o* comple.ity, not in
the construction o* models, but in what <eert6 calls Lthick
descriptionL.9
$rinsip kehadiran dalam etnograf penting untuk ditekankan dalam
penelitian etnograf onlin ini. /eski dalam etnograf onlin ruang dan waktu
tidak lagi bersi*at tunggal dan linear, partisipasi obser)asi tetap menjadi patokan
untuk menggali pengetahuan komunitas onlin ini. &an partisipasi obser)asi ini
yang membedakan metode etnograf onlin atau netnograf dengan metode
yang dipakai untuk memetakan jaringan, analisis usr-gnrat# !ontnt atau
metode pencarian dan penggunaan web lainnya.
+edua, etnograf bertujuan untuk menemukan hubungan-hubungan yang
kompleks dan holistik dan juga harus mampu mengungkapkan konteks yang
mendalam mengenai sebuah kebudayaan. $ertanyaan besar untuk kita adalah
bagaimana membuat pelukisan yang mendalam mengenai komunitas onlin ini
sementara ada lubang besar yang belum juga bisa ditutup dalam netnograf ini
anonimitas pengguna internet.
!enyoal Internet di Indonesia Awal Kesimpulan"
Sebelum mengakhiri tulisan ini saya ingin memaparkan beberapa data menarik
mengenai peman*aatan internet di Indonesia. &ata terakhir menunjukkan bahwa
Indonesia adalah negara dengan pengguna Aacebook terbesar di dunia setelah
=
Amerika Serikat dan juga merupakan negara dengan pengguna Twitter terbanyak
di dunia setelah (epang dan India !+ompas, %= Jo)ember %2""#. Bntuk sebuah
negara dengan akses internet yang tidak masuk dalam peta intrnt suprpowr
dunia, Indonesia sungguh istimewa.
&engan pengguna internet lebih dari DD juta orang dan dengan angka
penetrasi lebih dari :2 persen di wilayah perkotaan Indonesia !/ark $lus Insight
%2"" )ia +ompas %= Mktober %2""#, sudah sepantasnya para antropolog
memberikan perhatian lebih pada *enomena ini. &i tengah ketakjuban saya akan
kenaikan jumlah pengguna internet di Indonesia, saya juga merasa prihatin.
&ari dua data di atas kita bisa langsung membuat hubungan sederhana
dari DD juta orang pengguna internet di Indonesia, C2,= juta adalah pengguna
Aacebook. +esimpulan ini diperkuat oleh data yang dikumpulkan oleh +ementrian
+omunikasi dan In*ormatika bahwa penggunaan internet di Indonesia sebagian
besar dipakai untuk jejaring sosial !D= persen# dan onlin gaming !:D persen#
!'isnis, %" &esember %2"2#. /engapa bangsa Indonesia sangat gandrung
dengan jejaring sosial dan onlin gaming iniE
/ungkin saya tidak tahu jawaban dari pertanyaan saya sendiri, sebuah
persoalan muncul di sini. &ari paragraph-paragra* di atas, kita para antropolog
bisa melakukan penelitian dan membuat representasi kebudayaan #ngan
perangkat digital hiperteks atau melakukan penelitian kebudayaan mlalui
perangkat digital hiperteks. Saya ingin meman*aatkan ruang yang sempit ini
untuk mengingat sebuah cara pandang yang paling umum dalam penelitian
budaya internet.
Saya memakai contoh untuk menggambarkan pandangan yang paling
umum dalam penelitian mengenai internet sekarang ini adanya hubungan
langsung dan berarti antara dunia maya dan dunia nyata. /isalnya, bagaimana
kehidupan o3in kita berjalan dalam logika jejaring sosial onlin. &alam logika
semisal Aacebook dan Twitter, pengguna selalu ditantang untuk menampilkan
diri, sehingga tidak heran para pengguna menjadi sangat sadar akan pentingnya
dokumentasi. $eristiwa tidak lagi bisa berlalu begitu saja tanpa catatan atau *oto
di pro"l akun Aacebook seseorang. +edua, moti!on dalam mi!ro,logging dan
instant mssngr( *moti!on adalah gambar-gambar wajah yang melukiskan
beragam perasaan dan emosi manusia. $enggunaan moti!on memang
bertujuan untuk memampatkan berjuta kesan dalam ikon yang sangat
7
sederhana. Apabila dicermati lebih dalam, moti!on tidak hanya
menyederhanakan komunikasi, tapi juga menumpulkannya. 'enarkah demikianE
Da#tar Pustaka
Anderson, 'enedict. %22". 4omunitas Tr,a%ang. @ogyakarta $ustaka $elajar.
0oleman, -. <abriella.9-thnographic Approach to &igital /edia9 in Annual
R1iws o& Anthropolog% 5ol. :7 !%2"2#.
&icks, 'ella, 'ruce /ason et. al. %22D. 5ualitati1 Rsar!h an# H%prm#ia
*thnograph% &or th )igital Ag. ?ondon Sage.
<eert6, 0liNord. "7>:. Th Intrprtation o& -ultur( Jew @ork 'asic 'ooks.
+o6inets, 4obert 5. %227. Ntnograph%: )oing *thnographi! Rsar!h +nlin.
?ondon Sage.
------------------------ . %2"2. 8Jetnography the /arketersOs Secret ,eapon How
Social /edia Bnderstand &ri)es Inno)ation9
Phttp33in*o.netbase.com3rs3netbase3images3JetnographyQ,$.pd*R diunduh
tanggal ": &esember %2"".
/ason, 'ruce, and 'ella &icks. 8<oing 'eyond the 0ode The $roduction o*
Hypermedia -thnography9 in 6o!ial 6!in! -omputr R1iw 7ol( 18
.20010.
/arcus, <eorge. "77=. *thnograph% through Thi!$ an# Thin. $rinceton $rinceton
Bni)ersity $ress.
,ilson, Samuel / and ?eighton 0. $eterson. 8The Anthropology o* Mnline
0ommunities9 in Annual R1iws o& Anthropolog%( 5ol. :" !%22%#.
,ittel, Andreas. 8 -thnography on the /o)e Arom Aield to Jet to Internet9 dalam
9orum: 5ualitati1 6o!ial Rsar!h, 5ol. " Jo. " Art. %". (anuari %222.
Koran
,ahyudi, 4e6a dan Tri ,ahono. 8Jaik ": (uta, $engguna Internet Indonesia DD
(uta Mrang9 dalam www.teknokompas.com edisi %= Mktober %2"" dan
diakses pada tanggal "> &esember %2"".
Suhri, Sepudin. 8$engguaan Internet belum $rodukti*9 dalam www.bisnis.com
edisi %" &esember %2"2 diakses pada tanggal "> &esember %2"".
/ark $lus Insight )ia 8$engguna Aacebook Indonesia C2,= (uta9 dalam
www.*emalekompas.com. edisi %= Jo)ember %2"" dan diakses pada
tanggal "> &esember %2"".
"2