Anda di halaman 1dari 11

BAGAIMANA CARA SHALAT DUA RAKAAT PADA MALAM PERTAMA

PENGANTIN BARU

Saya ingin bertanya bagaiamana cara shalat malam pertama pengantin baru, apakah
dilakukan dengan mengeraskan suara atau lirih. Apa yang boleh dibaca di dalamnya serta
kapan waktu berdoa?
Alhamdulillah
Pertama,
Sebagian ulama menganjurkan shalat dua rakaat sebelum berhubungan dengan istrinya. Hal
ini tidak ada sunnah dari Nabi sallallahualaihi wa sallam, akan tetapi ada riwayat dari
sebagian shahabat radhiallahuanhum.
1. Dari Abu Said budak abu Usaid berkata, saya menikah ketika saya masih menjadi budak.
Maka saya mengundang sejumlah shahabat Nabi sallallahualaihi wa sallam, di antaranya
ada Ibnu Masud, Abu Zar dan Huzaifah, mereka mengajarkan kepadaku dengan berkata;


Ketika anda menemui isteri anda, maka shalatlah dua rakaat. Kemudian memohonlah
kepada Allah Taala dari kebaikan yang dimasukkan kepada anda. Dan berlindunglah
darinya. Kemudian setelah itu urusan anda dengan istri anda.
(HR. Ibnu Abu Syaibah dalam Mushannaf, 3/401. Dan Abdur Raazzaq di Mushannaf, 6/191.
Syekh Al-Albany rahimahullah berkomentar, Sanadnya shahih sampai ke Abu Said dan
beliau tertutupi (periwayatannya). (Adab Az-Zafaf, hal. 22)
Dari Syaqiq berkata, seseorang mendatangi Abdullah (yakni Ibnu Masud), ada yang
mengatakan namanya Abu Jarir, dia berkata, Saya menikah dengan wanita muda dan saya
takut dia memarahiku.' Berkata, Abdullah berkata: Kesatuan (hati) itu dari Allah, dan sifat
marah itu dari syetan. Dia ingin membuat tidak suka terhadap apa yang Allah halalkan
kepada anda. Kalau dia (isteri) menemui anda, perintahkan dia shalat dua rakaat di belakang
anda.
(HR. Ibnu Abu Syaibah di Mushonnaf, 3/402. Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf, 6/191. At-
Thabrani dalam Al-Mujam Kabir, 9/204)
Syekh Al-Albany rahimahullah berkata, Sanadnya shaheh (Adabuz Zafaf, hal. 24)
Syekh Ibnu Baz rahimahullah ditanya, "Orang-orang mengatakan bahwa dalam pernikahan
ada shalat yang mereka namakan sunnah atau sunnah pernikahan. Yaitu sebelum
berhubungan badan. Mereka katakan hendaknya shalat dua rakaat setelah itu baru
berhubungan. Tolong dijelaskan kepada kami, terima kasih."
Beliau menjawab,
Telah diriwayatkan atsar dari sebagian shahabat tentang shalat dua rakaat sebelum
berhubungan. Akan tetapi riwayatnya tidak dapat dijadikan rujukan keshahihannya. Tapi
kalau melaksanakan shalat dua rakaat, sebagaimana yang dilakukan sebagian ulama salaf,
maka hal itu tidak mengapa. Kalau tidak melaksanakannya pun tidak mengapa. Masalahnya
bersifat luwes, tidak saya ketahui ada riwayat yang benar. Sebagai rujukan;
http://www.binbaz.org.sa/mat/15590
Kedua,
Adapun hukum mengeraskan atau melirihkan suara, kalau dilaksanakan di malam hari, maka
dikeraskan dalam dua rakaat tadi. Kalau dilaksanakan di siang hari, maka dilirihkan. Sebagai
tambahan, silakan lihat soal jawab no. 113891. Dapat dibaca di dalamnya sesuai keinginan
anda.
Ketiga,
Adapun doanya, caranya adalah dengan meletakkan tangannya di depan kepala wanita dan
mengatakan,

(
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan yang Engkau
berikan kepadanya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan apa
yang Engkau berikan kepadanya. (HR. Abu Daud dan dihasankan oleh Al-Albany dalam
Sunan Abu Daud)
Tidak ada sunnah sepengetahuan kami- penentuan waktu doa ini. Kalau ingin, doa dapat
dibaca sebelum shalat dua rakaat atau setelahnya.
Wallahualam .
Menikah hukumnya adalah Sunnah. Karena Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam bersabda,
Menikah itu adalah sunnah ku. Akan tetapi apabila kalian enggan untuk menikah, maka
kalian bukan dari golonganku.. Dan dalam hadits yang lain, Rasulullah Shallahu Alaihi
Wasallam bersabda, Barangsiapa yang membenci sunnah ku, maka ia bukan termasuk
dalam golonganku.

Menikah mempunyai banyak manfaat, diantaranya untuk menghindarkan manusia dari
perbuatan zina. Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam bersabda, Wahai generasi muda,
barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia menikah, karena ia
(menikah) dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum
mampu (menikah) hendaknya ia berpuasa, sebab ia (puasa) dapat mengendalikan (hawa
nafsu) mu.
Indahnya pernikahan, apabila dilakukan sesuai sunnah Rasulullah Shallahu Alaihi
Wasallam. Berikut ini ringkasan dari kitab Adab Zifaf (Etika Pernikahan), karya Syaikh
Muhammad Nashirudin Al-Albani, yaitu :
1. Hendaklah dua sejoli yang akan merajut tali suci pernikahan untuk meniatkan
pernikahan yang ia lakukan adalah untuk mencari ridha Allah , untuk membersihkan jiwanya
dan menjaga dirinya dari segala yang diharamkan Allah. Karena dengan begitu, pergaulan
antar keduanya dicatat sebagai amal ibadah di hadapan Allah.
2. Saat pertama kali akan melakukan hubungan suami istri, hendaknya suami meletakkan
tangannya pada kepala istrinya, seraya membaca basmalah dan doa untuk keberkahan, yaitu

(Ya Allah berkahilah dia untukku, dan berkahilah aku untuknya),


dan doa berikut


(Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah sungguh aku mohon pada-Mu kebaikan wanita ini,
dan kebaikan tabiatnya. Dan aku memohon perlindungan-Mu dari keburukannya dan
keburukan tabiatnya)
Sebagaimana sabda Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam, Jika kalian telah menikahi
wanita atau membeli budak, maka peganglah bagian depan kepalanya, ucapkanlah
basmalah, berdoalah untuk keberkahannya, dan hendaklah ia mengucapkan (Dengan
menyebut nama Allah. Ya Allah sungguh aku mohon pada-Mu kebaikan wanita ini, dan
kebaikan tabiatnya. Dan aku memohon perlindungan-Mu dari keburukannya dan keburukan
tabiatnya).
3. Shalat Sunnah dua rakaat bersama. Shalat sunnah ini dilakukan ketika akan
melakukan hubungan suami istri untuk pertama kali. Kemudian berdoa,


(Ya Allah, berilah aku berkah dari istriku, (begitu pula sebaliknya) berilah istriku berkah
dariku. Ya Allah, berilah mereka rizki dariku, (begitu pula sebaliknya) berilah aku rizki dari
mereka. Ya Allah, kumpulkanlah kami jika itu baik bagi kami, dan pisahkanlah kami jika itu
baik bagi kami).
Syaqiq bin Salamah mengatakan, Suatu hari datang lelaki, namanya Abu Huraiz, ia
mengatakan: Aku telah menikahi wanita muda dan perawan, tapi aku khawatir ia akan
membuatku cekcok, maka Abdullah bin Masud r.a mengatakan, Sesungguhnya kerukunan
itu dari Allah, sedang percekcokan itu dari setan, ia (setan) ingin membuatmu benci dengan
apa yang Allah halalkan bagimu. Jika kamu nanti menemuinya, maka suruh istrimu shalat
dua rokaat dibelakangmu dan bacalah (Ya Allah, berilah aku berkah dari istriku, (begitu
pula sebaliknya) berilah istriku berkah dariku. Ya Allah, berilah mereka rizki dariku, (begitu
pula sebaliknya) berilah aku rizki dari mereka. Ya Allah, kumpulkanlah kami jika itu baik
bagi kami, dan pisahkanlah kami jika itu baik bagi kami).
4. Bermesraan dengan istri, sebelum berhubungan suami istri, misalnya dengan
menyuguhkan minuman, atau yang lainnya.
5. Hendaklah (suami) berdoa ketika menggauli istri. Doa nya adalah,


(Dengan nama Allah. Ya Alloh jauhkanlah kami dari setan, dan jauhkanlah setan dari anak
yang engkau karuniakan pada kami).
Rasulullah bersabda, (Dengan nama Allah. Ya Alloh jauhkanlah kami dari setan, dan
jauhkanlah setan dari anak yang engkau karuniakan pada kami). Doa itu, apabila Allah
berkehendak memberikan anak, niscaya setan tidak akan mampu membahayakan anak (itu)
selamanya.
6. Suami boleh menggauli istrinya di vagina sang istri, dari arah manapun si suami sukai,
baik dari depan atau belakang. Sebagaimana firman Allah SWT, Istri-istri kalian adalah
ladang bagi kalian, maka datangilah ladang kalian itu dari mana saja kalian kehendaki
(QS. Al- Baqarah : 223)
7. Haram hukumnya bagi suami apabila (suami) menggauli istrinya di dubur istrinya. Hal
itu merupakan dosa besar. Karena Rasulullah bersabda, Terlaknat orang (suami) yang
menggauli para wanita (yaitu istrinya) di dubur nya (yakni lubang anus). Syaikh Masyhur
mengatakan, Adapun orang yang menggauli istrinya di duburnya, maka ia telah melakukan
tindakan yang melanggar syariat, baik asalnya maupun sifatnya, sehingga ia wajib bertaubat
kepada Allah , dan tidak ada kaffarat (tebusan) baginya kecuali bertaubat kepada Allah .
8. Berwudhu antara dua sesi berhubungan, dan lebih afdholnya mandi. Sebagaimana sabda
Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam, Jika salah seorang dari kalian selesai menggauli
istrinya, dan ingin menambah (melakukannya) lagi, maka hendaklah ia wudhu, karena itu
lebih menggiatkannya untuk melakukannya lagi.
Mandi lebih afdhol, karena hadits riwayat Abu Rofi , Suatu hari Nabi Muhammad Shallahu
Alaihi Wasallam keliling mendatangi istri-istrinya, beliau mandi di istrinya yang ini, dan
mandi lagi di istrinya yang ini. Lalu aku menanyakan hal itu kepada beliau Nabi Muhammad
Shallahu Alaihi Wasallam, Wahai Rasulullah, mengapa tidak mandi sekali saja?. Beliau
Nabi Muhammad Shallahu Alaihi Wasallam menjawab, Karena (mandi berkali-kali) itu,
lebih bersih, lebih baik, dan lebih suci. (HR. Abu Dawud dan yang lainnya, sanadnya
hasan).
9. Suami istri diperbolehkan mandi bersama dalam satu tempat, meski saling melihat aurat
masing-masing. Ada banyak hadits yang menerangkan hal ini, diantaranya,
Aisyah r.a mengatakan, Aku pernah mandi bersama Rasulullah dari satu tempat air, tangan
kami saling berebut, dan beliau mendahuluiku, hingga aku mengatakan, Biarkan itu
untukku, biarkan itu untukku, ketika itu kami berdua sedang junub. .
10. Usai berhubungan, hendaklah berwudhu sebelum tidur, dan lebih afdholnya mandi.
Karena hadits riwayat Abdulloah bin Qais , ia mengatakan: Aku pernah menanyakan kepada
Aisyah , Bagaimana Nabi Muhammad Shallahu Alaihi Wasallam dahulu ketika junub,
apakah mandi sebelum tidur, atau sebaliknya tidur sebelum mandi?. Ia (Aisyah) menjawab,
Semuanya pernah beliau lakukan, kadang beliau mandi lalu tidur, dan kadang beliau
wudhu lalu tidur. Aku menambahi, Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan perkara
ini mudah.
11. Jika istri sedang haid, suami tetap boleh melakukan apa saja dengannya, kecuali jima.
Sebagaimana sabda Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam, Lakukan apa saja (dengan istri
kalian) kecuali jima.
Kaffarat (tebusan) bagi orang yang menjima istrinya ketika istrinya sedang haid,
sebagaimana diterangkan dalam hadits riwayat Ibnu Abbas , Rasulullah Shallahu Alaihi
Wasallam pernah ditanya tentang suami yang mendatangi istrinya ketika haid, maka
Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam menjawab, Hendaklah ia bersedekah dengan satu
dinar atau setengah dinar. Syaikh Masyhur mengatakan, Yang dimaksud dengan dinar
dalam hadits itu adalah dinar emas, dan 1 dinar emas itu sama dengan 1 mitsqol, sedang 1
mitsqol itu sama dengan 4 ,24 gram emas murni.
12. Azl (mengeluarkan sperma di luar vagina) diperbolehkan, meski lebih baik
ditinggalkan.
Karena perkataan Jabir, Dulu kami (para sahabat) melakukan azl, di saat Alquran masih
turun. Dalam riwayat lain, Kami (para sahabat) dulu melakukan azl di masa Rasulullah
Shallahu Alaihi Wasallam (masih hidup), lalu kabar itu sampai kepada beliau Nabi
Muhammad , akan tetapi beliau Nabi Muhammad tidak melarang kami (melakukan azl).
Namun, lebih baik meninggalkannya sebagaimana sabda Rasulullah , Azl itu pembunuhan
yang samar.
13. Setelah malam pertama menggauli istrinya, disunnahkan pada pagi harinya untuk
silaturrahim mengunjungi para kerabatnya yang sebelumnya telah datang ke rumahnya,
mengucapkan salam kepada mereka, mendoakan mereka, dan membalas kebaikan mereka
dengan yang semestinya.
Sebagaimana diterangkan dalam hadits riwayat Anas r.a, ia mengatakan,
Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam pernah mengadakan walimah (resepsi) saat malam
pertama beliau menggauli Zainab. Beliau Nabi Muhammad Shallahu Alaihi Wasallam
mengenyangkan kaum muslimin dengan roti dan daging, lalu keluar mengunjungi para
ibunda mukminin (isteri-isteri beliau yang lain), untuk mengucapkan salam dan mendoakan
mereka, sebaliknya mereka juga memberikan salam dan mendoakan Rasulullah Shallahu
Alaihi Wasallam. Beliau melakukan hal itu, pada pagi hari setelah malam pertamanya. (HR.
Bukhari).
14. Keduanya (suami dan istri) wajib menggunakan kamar mandi yang ada di rumahnya,
dan tidak boleh masuk kamar mandi umum, berdasarkan hadits Jabir r.a, Rasulullah Shallahu
Alaihi Wasallam bersabda, Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka
jangan memasukkan istrinya ke dalam kamar mandi umum. (HR. Tirmidzi, sanadnya
hasan).
Juga hadits riwayat Ummu Darda, ia mengatakan, Suatu hari, aku keluar dari kamar mandi
umum, lalu Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam berpapasan denganku,
Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam bertanya, Wahai Ummu Darda, dari mana?.
Ummu Darda menjawab, Dari kamar mandi umum. Maka beliau Nabi
Muhammad Shallahu Alaihi Wasallam bersabda, Sungguh, demi dzat yang jiwaku ada di
tangan-Nya, tidaklah seorang wanita menanggalkan pakaiannya di selain rumah salah satu
ibunya, melainkan ia telah merusak tabir yang ada antara dia dan Tuhannya Yang Maha
Penyayang. (HR. Ahmad).
15. Kedua (suami dan istri) diharamkan menyebarkan rahasia kehidupan ranjangnya.
Sebagaimana sabda Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam , Sungguh, orang yang paling
buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat nanti, adalah orang yang membuka
(aurat) istrinya dan istrinya membuka (aurat)nya, lalu ia menyebarkannya. Imam Nawawi
mengatakan, Hadits ini menunjukkan haramnya menyebarkan cerita hubungan suami istri,
dan merinci apa yang terjadi pada istrinya, seperti ucapan, perbuatan dan semisalnya.
Adapun sekedar menyebutkan jima (secara global) tanpa ada manfaat dan tujuan, maka
hukumnya makruh, karena itu tidak sesuai dengan muruah (akhlaq), padahal
Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, Barangsiapa beriman kepada Allah
dan hari akhir, maka katakanlah yang baik atau (jika tidak), maka hendaklah ia diam.
Tapi jika ia menyebutkan hal itu, karena adanya tujuan dan manfaat, seperti mengingkari
ketidak-sukaannya pada istrinya, atau istrinya menuduh suaminya impoten, atau semisalnya,
maka itu tidak makruh, sebagaimana sabda Rasulullah, Sungguh aku akan melakukannya,
aku dan istriku ini . Begitu pula pertanyaan Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam kepada
Abu Tholhah, Apa malam tadi, kalian telah menjalani malam pertama? . Dan pesan
Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam kepada Jabir , Semangat dan semangatlah.
16. Mengadakan walimah (resepsi) wajib hukumnya setelah menjima istri, dengan dasar
hadits Buraidah bin Hushoib r.a, bahwa ketika Ali bin Abi Thalib menikahi Fatimah Az-
Zahra, Rasulullah mengatakan, Pernikahan itu harus ada walimahnya (resepsi). Juga
sabda Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam kepada Abdurrahman bin Auf, Adakanlah
walimah, walau hanya dengan (menyembelih) seekor kambing.
Beberapa Hal yang Disunnahkan dalam Pernikahan

Ada beberapa hal yang disunnahkan dalam menyelenggarakan akad nikah, di antaranya:
1. Khutbah Sebelum Akad
Disunnahkan bagi penyelenggara atau orang yang ditunjuk untuk menyampaikan khutbah
sebelum akad nikah. Hal itu berdasarkan sabda Rasulullah saw,
"Setiap orang yang mempunyai hajat, lalu ia tidak memulainya dengan alhamdulillah
(segala puji bagi Allah), maka yang demikian itu tidak berkah."
Dan disunnahkan khutbah tersebut disampaikan oleh wali atau dari keluarga mempelai laki-
laki atau yang lainnya.
2. Pengumuman Nikah dengan Rebana, Pengeras Suara,
atau yang Lainnya
Dari Aisyah ra, ia pernah mengantarkan pengantin seorang wanita ke rumah seorang laki-laki
dari kaum Anshar, maka Rasulullah saw bersabda,
"Wahai Aisyah, apakah tidak ada permainan pada kalian, sesungguhnya kaum Anshar
sangat menyenangi permainan." (HR. Bukhari)
Banyak hadits yang menunjukkan perintah mengumumkan pernikahan. Di antaranya dengan
cara menabuh rebana. Hadits-hadits ini bersifat luas yang di antaranya menunjukkan
disyariatkannya penabuhan rebana, karena penabuhan rebana itu lebih tepat untuk
mengumumkan pernikahan, bahkan penabuhan rebana itu disunnahkan dengan syarat tidak
disertai dengan hal-hal yang diharamkan, misalnya dibarengi dengan nyanyian oleh penyanyi
wanita yang suaranya mengundang syahwat.
Adapun penabuhan rebana oleh kaum wanita untuk menyambut kedatangan orang yang
ditunggu, ada beberapa hadits yang berkenaan dengan hal ini, di antaranya adalah hadits yang
diriwayatkan dalam kitab Shahihain, dari Aisyah ra, ia bercerita, Rasulullah saw pernah
masuk ke tempatku, sedang bersamaku terdapat dua orang budak wanita yang sedang
menyanyikan lagu Bu'ats (nama suatu tempat di Madinah), lalu beliau berbaring di atas
permadani dan beliau memalingkan wajahnya. Kemudian Abu Bakar masuk seraya
membentakku dan berkata, "Seruling syaitan ada di rumah Rasulullah saw." Maka Rasulullah
datang kepadanya dan bersabda, "Biarkan mereka berdua." Peristiwa itu terjadi pada hari
raya. Lebih lanjut beliau bersabda kepada Abu Bakar, "Wahai Abu Bakar, setiap kaum itu
mempunyai hari raya dan inilah hari raya kita."
Hukum Merahasiakan Pernikahan
Jika dalam suatu akad nkah sudah dihadiri wali dan dua saksi, lalu mereka berusaha
merahasiakan atau berpesan untuk merahasiakannya, maka yang demikian itu dimakruhkan,
tetapi status pernikahannya tetap sah. Demikian menurut pendapat Abu Hanifah, Syafi'i dan
Ibnu Mundzir.
Di antara mereka yang memakruhkan hal itu adalah Umar ra, Urwah, Abdullah bin
Ubaidillah bin Utbah, asy-Sya'bi dan Nafi', maula Ibnu Umar.
3. Doa untuk Kedua Mempelai
Hal ketiga yang juga disunnahkan bagi kaum muslimin berkaitan dengan pernikahan adalah
mendoakan pengantin. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan Ahmad,
Abu Dawud, Tirmidzi, al-Hakim, dan yang disetujui oleh adz-Dzahabi,



"Semoga Allah memberkahimu dan memberikan keberkahan kepadamu serta menyatukan
kalian berdua dalam kebaikan dan kesehatan."
4. Shalat Dua Rakaat bagi Mempelai Laki-laki Setelah
Mempelai Wanita Masuk Menemuinya
Perkara keempat yang sunnah dikerjakan seorang laki-laki adalah mengerjakan shalat dua
rakaat setelah istrinya masuk menemuinya. Kemudian hendaklah ia mengucapkan doa seperti
yang diajarkan oleh para sahabat Rasulullah, di antaranya yang diriwayatkan oleh Abu
Dawud dengan sanadnya Amr bin Syu'aib dari ayahnya, dari kakeknya dari Nabi saw bahwa
beliau pernah bersabda,
"Jika salah seorang di antara kalian menikahi seorang perempuan atau membeli pelayan,
maka hendaklah ia membaca doa, "Allahumma inni as'aluka khoirohaa wa khoiro ma
jabaltahaa alaihi wa a'uudzubika min syarrihaa wa min syarri maa jabaltahaa alaihi." ('Ya
Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan yang telah
Engkau adakan padanya, dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya dan kejahatan
yang Engkau adakan padanya.)"



5. WalimahRasulullah saw bersabda kepada Abdurrahman bin Auf
"Adakanlah walimah meski hanya dengan menyembelih seekor kambing." (Muttafaqun
Alaih)
Al-Azhari mengemukakan, kata al-walimah itu diambil dari kata aulama yang merupakan
jamak, karena adanya dua orang yang sedang bertemu."
Hukum Walimah
Ada sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Syaikh dan Thabrani dari hadits Abu Hurairah ra,
sebagai hadits marfu',
"Walimah itu merupakan hak sekaligus sunnah. Barangsiapa yang diundang menghadirinya
lalu ia tidak menghadirinya, berarti ia telah berbuat maksiat."
Yang Boleh Dikerjakan dalam Walimah
Al-Qadhi Iyadh mengemukakan, dan para ulama sepakat bahwa tidak ada batasan maksimum
maupun minimum untuk acara walimah, meski hanya diadakan dengan yang paling
sederhana sekalipun, maka yang demikian itu dibolehkan. Yang disunnahkan bahwa acara itu
diadakan sesuai dengan keadaan suami.
Hukum Menghadiri Walimah
Dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah saw bersabda,
"Jika salah seorang di antara kalian diundang menghadiri walimah, maka hendaklah ia
menghadirinya." (Muttafaqun Alaih)
Imam Al-Baghawi menyebutkan, para ulama berbeda pendapat mengenai kewajiban
menghadiri undangan walimatul ursy (resepsi pernikahan). Sebagian mereka berpendapat
bahwa menghadirinya merupakan suatu hal yang sunnah. Sedangkan ulama lainnya
mewajibkannya sampai pada batas jika seseorang tidak menghadirinya tanpa alasan yang
dibenarkan, maka ia telah berdosa. Hal itu berdasarkan riwayat dari Abu Hurairah ra, bahwa
Rasulllah saw bersabda,
"Seburuk-buruk makanan adalah makanan walimah, di mana orang yang mau
mendatanginya dilarang mengambilnya, sedang orang yang diundang menolaknya. Dan
barangsiapa yang tidak memenuhi undangan, berarti ia telah bermaksiat kepada Allah dan
Rasul-Nya." (HR. Muslim)
Imam al-Baghawi mengemukakan, "Yang wajib dan ditekankan dalam pemenuhan undangan
ini adalah menghadiri undangan, sedangkan mmakan hidangan yang disediakan bukan
merupakan suatu yang diwajibkan, tetapi hanya sebatas disunnahkan jika tidak sedang
berpuasa.
Sumber: Diringkas oleh tim redaksi alislamu.com dari Syaikh Hassan Ayyub, Fiqh al-
Usroh al-Muslimah, atau Fikih Keluarga, terj. Abdul Ghofar EM. (Pustaka Al-Kautsar),
hlm. 117 - 139.

Hukum Isteri yang Tidak Sesuai dengan yang Disyaratkan Suami
Jika seorang suami mensyaratkan, bahwa isterinya harus muslimah, kemudian mendapatkan
isterinya kafir, maka bagi suami tersebut mempunyai hak pilih, karena yang demikian
dianggap sebagai kekurangan, atau bahkan mudharat yang akan berakibat buruk kepada anak-
anaknya.
Dan jika ia mensyaratkan perawan, lalu mendapatkan seorang janda, maka mengenai hal ini
terdapat dua pendapat:
Pertama, tidak ada hak pilih bagi suami tersebut, karena nikah itu tidak dapat dibatalkan
dengan alasan suatu aib kecuali delapan aib yang sudah ditetapkan.
Kedua, suami memiliki hak pilih karena ia sudah mensyaratkan kriteria tertentu dan ternyata
mendapatkan hal yang tidak sesuai dengan yang disyaratkan, maka kepadanya diberikan hak
pilih.
Hal yang sama juga berlaku jika ia mensyaratkan wanita yang berketurunan baik, dan
mendapatkan kebalikannya. Atau mensyaratkan hal-hal lain yang semisal.
Beberapa Lafadz Akad Nikah
Akad nikah itu dilakukan dengan menggunakan lafadz ijab dan qabul. Keduanya telah
disebutkan melalui nash al-Qur'an, yaitu dalam firman Allah surat al-Ahzab ayat 37.
Syafi'i berkata, "Akad nikah itu tidak sah sehingga wali itu mengatakan kepadanya,
"Zawwajtuka ibnati (aku nikahkan kamu dengan puteriku)." Lalu si pengantin laki-laki
menjawab, "qabiltu hadzat tazwij (aku terima nikah ini)." Karena, kedua lafazh itu
merupakan rukun akad nikah. Akad nikah tidak berlaku tanpa melafazhkan keduanya.
Dalam salah satu pendapatnya, Imam Syafi'i mengungkapkan, "Suatu akad nikah belum sah
sehingga pengantin laki-laki mengatakan, 'Aku terima nikah atau perkawinan ini.'"
Menurut ulama lainnya, akad nikah itu tidak sah kecuali dengan lafazh nikah atau kawin.
Demikian dikemukakan Sa'id bin Musayyab, Atha', az-Zuhri, Rabi'ah, Safi'i dan Ahmad.
Sedangkan hadits telah diriwayatkan dengan beberapa lafazh yang semuanya melalui jalan
yang shahih, di antaranya lafazh: zawwajtukaha (aku nikahkan kamu dengannya),
ankahtukaha (aku nikahkan kamu dengannya), dan zawwajnaakaha (kami nikahkan kamu
dengannya).
Dalam kitab al-Fath dikatakan, "Riwayat yang menyebutkan al-inkah dan at-tazwij adalah
yang lebih rajih (tepat)."
Hukum Akad Nikah dengan Tidak Menggunakan Bahasa Arab
Orang yang mampu berbahasa Arab tidak sah baginya mengucapkan akad dengan
menggunakan bahasa lain. Demikian pendapat para pengikut madzhab Hanbali dan salah satu
pendapat Syafi'i. Sedangkan menurut Abu Hanifah, orang itu tetap sah menggunakan bahasa
selain bahasa Arab.
Dali pendapat pertama, bahwa dengan menggunakan selain bahasa Arab berarti ia telah
menyimpang dari lafazh al-inkah dan at-tazwij, padahal ia mampu melafalkannya, sehingga
tidak sah baginya menggunakan bahsa lain.
Hukum Akad Nikah dengan Menggunakan Bahasa Isyarat
Jika bahasa isyarat orang bisu dapat dipahami, maka sah akad nikah yang dilakukan, karena
hal itu merupakan pengertian yang tidak dapat dipahami kecuali dari satu pihak saja.
Dan jika isyarat itu hanya dipahami oleh salah satu pihak saja dan tidak dipahami oleh para
saksi, maka akad nikah itu tidak sah, karena saksi itu merupakan syarat nikah.
Hukum Didahulukannya Qabul atas Ijab dalam Pernikahan
Jika ucapan qabul didahulukan atas ijab, maka akad pernikahan yang diselenggarakan tidak
sah.
Demikian menurut para ulama penganut madzhab Hanbali.
Abu Hanifah, Malik dan Syafi'i mengungkapkan, "Kedua cara tersebut dibenarkan, karena
dengan demikian telah terjadi ijab dan qabul, sehingga hal itu tetap diangap sah, sebagaimana
jika ijab itu didahulukan.
Hukum Akad Nikah Main-main dan Nikah Paksaan
Jika suatu akad nikah dilakukan dengan main-main (bercanda), maka akad nikah itu tetap
dianggap sah, karena Nabi pernah bersabda,
"Ada tiga perkara, seriusnya dianggap serius dan kelakarnya pun dianggap serius, yaitu:
nikah, talak, dan rujuk." (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Tirmidzi).
Hukum Adanya Tenggang Waktu Antara Ijab dan Qabul
Jika qabul diakhirkan beberapa saat setelah ijab, maka akad tersebut tetap sah selama kedua
mempelai masih berada di tempat dan belum meninggalkannya karena kesibukan lain, karena
salah satu syarat dalam akad adalah keterlibatan seluruh pelakunya.
Sumber: Diringkas oleh tim redaksi alislamu.com dari Syaikh Hassan Ayyub, Fiqh al-Usroh
al-Muslimah, atau Fikih Keluarga, terj. Abdul Ghofar EM. (Pustaka Al-Kautsar), hlm. 108 -
117.
Tentang Mahar
Banyak hadits-hadits yang menunjukkan bahwa mahar itu tidak ditetapkan jumlah
minimalnya. Segenggam tepung, cincin besi dan dua pasang sandal itu sudah cukup untuk
disebut sebagai mahar. Dan berlebih-lebihan dalam mahar dimakruhkan karena yang
demikian tidak banyak memberi berkah bahkan seringkali menyulitkan.
Selain itu hadits-hadits tentang masalah ini menunjukkan bahwa jika seorang wanita telah
menyetujui ilmu seorang laki-laki dan hapalan seluruh atau sebagian Al-Qur'an sebagai
mahar, maka yang demikian diperbolehkan. Al-Qur'an dan ilmu yang bermanfaat dapat
dijadikan sebagai mahar dan itulah yang menjadi pilihan Ummu Sulaim.
Salah seorang pemuka Madinah, Sa'id bin Musayyab pernah menikahkan puterinya dengan
mahar dua dirham. Dan hal itu sama sekali tidak dibantah oleh seorang ulama pun. Bahkan
hal itu dikategorikan sebagai keutamaannya. Selain itu, Abdullah bin Auf pernah menikah
dengan mahar lima dirham. Dan hal itu diakui oleh Nabi saw.
Seorang ayah juga diperbolehkan menikahkan puterinya tanpa mahar mitsil, baik puterinya
itu gadis atau janda, baik masih kecil maupun sudah dewasa. Demikianlah yang dikatakan
oleh Abu al-Khaththab, Malik dan para penganut madzhab Hanbali.
Umar ra pernah berkhutbah di hadapan orang-orang. Saat itu ia berkata, "Ketahuilah,
janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memberikan mahar kepada kaum wanita. Rasulullah
saw tidak pernah memberikan mahar kepada seorang isterinya pun dan tidak pula
menikahkan puterinya lebih dari dua belas uqiyah.
Khutbah tersebut dihadiri banyak sahabat, dan mereka sama sekali tidak menolaknya. Bahkan
mereka sepakat bahwa seorang muslim boleh menikah dengan mahar yang sama meskipun
lebih sedikit dari mahar mitsil.
Hukum Pernikahan yang Tidak Menyebutkan Mahar
Menurut para ulama secara keseluruhan, nikah itu tetap sah jika dilaksanakan tanpa
menyebutkan mahar. Hal itu telah dijelaskan Allah swt dalam firman-Nya surat al-Baqarah
ayat 236.
Jika si suami telah bercampur, maka isterinya itu berhak mendapatkan mahar mitsil
sepenuhnya. Dan jika ia diceraikan sebelum bercampur, maka ia tidak berhak mendapatkan
apa-apa kecuali hanya mut'ah saja. Mut'ah berarti suatu yang diberikan oleh suami kepada
isteri yang diceraikannya sebagai penghibur selain nafkah sesuai dengan kemampuannya.
Dari Imam Ahmad terdapat riwayat lain, bahwa sang isteri berhak mendapatkan setengah dari
mahar mitsil, jika bercerai sebelum bercampur.
Jika suami itu menentukan mahar untuk isterinya setelah akad nikah, lalu ia menceraikannya
sebelum bercampur, maka bagi sang isteri berhak mendapatkan setengah dari mahar yang
telah ditentukan, dan ia tidak mendapatkan mut'ah. Itulah pendapat Ibnu Umar, Atha', asy-
Sya'bi, an-Nakha'i, Syafi'i, Abu Ubaid dan para ulama penganut madzhab Hanbali.
Madzhab Hanbali menyebutkan bahwa mut'ah itu tidak wajib kecuali bagi wanita yang
diceraikan sebelum dicampuri. Secara ringkas dapat disimpulkan:
Mut'ah itu wajib diberikan oleh setiap suami yang menceraikan isterinya sebelum bercampur
dengannya.
Dalil pertama adalah keumuman nash, yaitu karena ia menduduki kedudukan setengah mahar
dari suami yang menyebutkan mahar, sehingga setiap isteri berhak mendapatkan setengah
mahar yang disebut dari suami yang menceraikannya.
Mut'ah itu dilihat dari keadaan suami, sehingga jumlahnya berbeda-beda.
Hukum Suami Mencampuri Isteri Sebelum Ia Memberi Sesuatu
Diperbolehkan bagi seorang suami mecampuri isterinya sebelum ia memberikan apa pun
kepadanya, baik yang maharnya tidak disebut maupun yang disebutkan. Pendapat ini
dikemukakan oleh Sa'id bin Musayyab, al-Hasan, an-Nakha'i, ats-Tsauri dan Syafi'i.
Dalil pendapat ini adalah hadits Uqbah bin Amir yang dinikahkan oleh Nabi saw, lalu ia
mencampuri isterinya, padahal ia belum memberikan sesuatu apa pun.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ibnu Umar, az-Zuhri, Qatadah, dan Malik, "Ia tidak boleh
mencampurinya sehingga ia memberikan sesuatu kepadanya." Az-Zuhri mengemukakan,
"Sunnah yang berjalan, ia tidak boleh mecampurinya sehingga ia memberikan sesuatu
kepadanya."
Diriwayatkan Ibnu Abbas, ia bercerita, "Setelah Ali menikahi Fatimah, Rasulullah saw
berkata kepadanya, 'Berikanlah sesuatu kepadanya.' Ali menjawab, "Aku tidak mempunyai
sesuatu apapun." Beliau berujar, "Di mana baju besi?" (HR. Abu Dawud dan Nasa'i)
Hukum Meninggalnya Suami yang Maharnya Tidak Disebut Sebelum Bercampur
Jika salah seorang dari suami isteri meninggal dunia sebelum bercampur maka ia berhak
mendapatkan warisan dan sang isteri berhak mendapatkan mahar sepenuhnya. Demikian
yang benar menurut pendapat madzhab Hanbali. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh
Ibnu Mas'ud, Ibnu Syubrumah, Ibnu Abi Laila, ats-Tsauri dan Ishak.
Diriwayatkan dari Ali, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, az-Zuhri, Rabi'ah, Malik, dan al-Auza'i,
"Tidak ada mahar baginya."
Imam Ahmad berpendapat, "Baginya setengah dari maharnya dan bukan seluruhnya."
Ada sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa Abdullah bin Mas'ud ra pernah memberikan
keputusan untuk seorang wanita yang tidak disebutkan mahar oleh suaminya dan belum juga
bercampur dengannya sampai meninggal dunia. Maka berkenaan dengan hal itu, Ibnu Mas'ud
berkata, "Baginya mahar secara keseluruhan, dan ia berkewajiban menjalani iddah dan
berhak mendapatkan warisan." Kemudian Ma'qil bin Sinan al-Asyja'i berdiri dan berkata,
"Rasulullah saw pernah memberikan keputusan terhadap Birwa' binti Wasyiq seperti apa
yang engkau putuskan."
Sumber: Diringkas oleh tim redaksi alislamu.com dari Syaikh Hassan Ayyub, Fiqh al-
Usroh al-Muslimah, atau Fikih Keluarga, terj. Abdul Ghofar EM. (Pustaka Al-Kautsar),
hlm. 99 - 108.