Anda di halaman 1dari 14

1

KESEIMBANGAN ASAM BASA


Erwin Kresnoadi
=========================================
PENDAHULUAN

Seperti diketahui fungsi sel di dalam tubuh manusia akan berlangsung optimal jika pH
lingkungan sedikit alkalis, yaitu 7.40 atau konsentrasi ion hidrogen sebesar 10
-7
mmol/l. Oleh
sebab itu keseimbangan ion hidrogen diatur secara ketat (tightly regulated) oleh tubuh.
1
Sebagai
contoh meski sehari-hari produk metabolisme sel tubuh menghasilkan kurang lebih 300 liter CO
2

dan mengkonsumsi ratusan mEq/liter asam dan basa kuat pada waktu yang bersamaan namun
konsentrasi ion hidrogen tubuh dapat dipertahankan diantara 36-44 mEq/liter.
1,2
Regulasi
terhadap keseimbangan asam basa dilakukan oleh paru sebagai komponen respirasi dan ginjal
sebagai komponen metabolik. Kedua komponen ini berinteraksi secara simultan sehingga
keseimbangan ion hidrogen selalu stabil.
1
Penilaian adanya gangguan terhadap keseimbangan asam basa tubuh telah dikenal
formula Hendersen-Hasselbach. Formula ini dimulai dengan persamaan reaksi hidrasi CO
2
yaitu;
CO
2
(d) + H
2
O < = > H
2
CO
3
< = > HCO
3
-
+ H
+
(3)

dimana CO
2
(d) adalah gas CO
2
yang terlarut (dissolved). Nilai CO
2
(d) dapat diambil dari nilai
tekanan parsial CO
2
(PCO
2
) dengan mengalikannya dengan konstanta kelarutan (0.03).
Mengingat konsentrasi dari [H
2
CO
3
] sangat kecil dan proporsional terhadap CO
2
, maka
persamaan tersebut dapat disederhanakan lagi menjadi;

pCO
2
+ H
2
O < = > [HCO
3
-
].[H
+
] (3)

Selanjutnya agar persamaan hidrasi CO
2
tersebut dapat diaplikasikan maka persamaan
dikonversi menjadi persamaan yang selama ini dikenal sebagai persamaan Henderson-
Hasselbach (H-H). Persamaan ini yang digunakan oleh mesin analisa gas darah saat ini:
2,3

pH = pK + log [HCO
3
-
] (3,4)
? pCO
2


Dari persamaan diatas terlihat nilai pH/[H
+
] semata-mata hanya tergantung pada ion
bikarbonat/[HCO
3
-
]. Selain itu H-H hanya mendeskripsikan reaksi hidrasi CO
2
pada kondisi
pCO
2
40 mmHg (normal), sehingga jika pCO
2
diluar normal, persamaan tersebut menjadi tidak
2

relevan. Namun yang lebih penting lagi adalah persamaan tersebut tidak dapat menemukan
"buffer" lain didalam plasma selain HCO
3
.
4
Persamaan ini tidak bisa disebut metode kuantitatif, sebab yang disebut metode
kuantitatif harus mempunyai hubungan sebab akibat (cause and effect), sedangkan persamaan H-
H hanya didasari oleh hubungan empirik (relationship) semata. Persamaan H-H memang dapat
memprediksi nilai Y dari nilai X yang sudah ada namun tidak dapat menjelaskan mekanisme
yang mendasari hubungan tersebut. Jadi secara umum dapat dikatakan bahwa persamaan tersebut
hanya dapat menyebutkan komponen mana yang menyebabkan perubahan pada pH darah,
sedangkan efek, penyebab serta mekanisme terjadinya tidak dapat dijelaskan.
3-5
Beberapa
persamaan lain dicoba dikembangkan untuk menutupi kekurangan persamaan tadi seperti
menghitung standard bikarbonat (SBE) dan anion gap, buffer base (BB) dan base excess (BE),
namun hasilnya tetap sama.
4,5

Akhirnya Peter Stewart (1981) berhasil menemukan suatu metode baru dalam menilai
status asam basa tubuh yang disebut metode kuantitatif/matematika. Metode ini lebih akurat serta
mampu menjelaskan secara rinci mekanisme patofisiologi yang terjadi pada gangguan
keseimbangan asam basa. Stewart mengatakan bahwa persamaan-persamaan diatas jelas-jelas
tidak mampu menjelaskan mekanisme atau proses dari gangguan keseimbangan asam basa yang
terjadi, sehingga mengaburkan keputusan dalam membuat terapi.
6,7

PARADIGMA BARU
Beberapa studi terbaru mengenai fisiologi asam basa saat ini tertuju pada metode atau
pendekatan secara fisika kimia kuantitatif. Analisa ini pertama kali diperkenalkan oleh Peter
Stewart pada tahun 1978, dalam tulisannya; Stewart, P.A. Independent and Dependent variables
of acid-base control. Resphyration Physiology 33:9-26. Dilanjutkan dengan analisanya yang
lebih rinci dalam bukunya; Stewart, Peter A., How to Undestand Acid-base: a Quantitative Acid-
base Primer for Biology and Medicine, New York: Elsevier, 1981.
7

Stewart berhasil menemukan suatu konsep/paradigma baru dalam memahami
mekanisme patofisiologi terjadinya gangguan keseimbangan asam basa yang begitu kompleks.
Dampak dari analisa Stewart ini berkembang secara perlahan tapi pasti, terutama karena Stewart
mampu menjelaskan fenomena yang sulit dijelaskan selama ini melalui cara lama yaitu, asidosis
karena dilusi dan gangguan asam basa akibat perubahan pada konsentrasi albumin plasma.
6,7
3

KONSEP DAN TERMINOLOGI
Pendekatan Stewart atau disebut metode kuantitatif ini memerlukan suatu konsep berpikir
bahwa larutan adalah suatu sistim yang berinteraksi satu sama lainnya;
8,9


"....it is a general property of systems that the quantitative results of several interacting but
independent mechanisms can not be explained or understood solely in terms of the action of any
single one of these mechanism."

Terminologi dan konsep ini mutlak diperlukan untuk memahami kerangka berpikir
tentang kimia asam basa dalam tubuh. Meski cairan biologis merupakan suatu sistim yang
dinamis dan kompleks, namun menurut Stewart analisa masih dimungkinkan dengan
memperhatikan keberadaan zat-zat yang terlibat dan bagaimana interaksi kimia dari masing-
masing zat tersebut terjadi.
8,9
Ion hidrogen merupakan salah satu contoh dari beberapa zat yang
konsentrasinya sangat tergantung pada interaksi beberapa reaksi (keseimbangan) kimia. Secara
tradisional, meski formula yang digunakan untuk menghitung nilai keseimbangan dari [H
+
])
terlihat kompleks dan rumit, namun dengan menggunakan komputer semua dapat diselesaikan.
8

Hal ini telah dibuktikan oleh Peter Stewart, orang pertama yang menghitung nilai keseimbangan
ion hidrogen tersebut dengan menggunakan komputer.
7
Menurut Stewart, konsentrasi ion
hidrogen di dalam suatu larutan biologis dapat ditentukan dengan menetapkan dahulu 2 variabel
yang saling berinteraksi:
6-9


1. Variabel Independen, yang terdiri dari 3 variabel;

pCO
2
,
Perbedaan konsentrasi eletrolit kuat (kation-anion) yang disebut strong ions difference =
SID,
serta total konsentrasi asam lemah [Atot]).

Variabel-variabel ini diatur dari luar sistim dan secara langsung mempengaruhi sistim, namun
sebaliknya tidak dipengaruhi sistim.
2. Variabel dependen yaitu (H
+
,HCO3
-
,OH
-
,dll) disebut sebagai ion-ion lemah.
Variabel ini dipengaruhi oleh variabel indenpenden, dengan kata lain nilai variabel ini tergantung
perubahan pada variabel independen. Sebaliknya variabel independen tidak terpengaruh oleh
perubahan pada variabel dependen.
4

KONSEP VARIABEL DEPENDEN DAN INDEPENDEN
Mengapa konsep dependen dan independen ini sangat penting? Sebab semua variabel
dependen hanya dapat dihitung jika variabel independen diketahui, dan karena [H
+
] merupakan
variabel dependen, maka [H
+
] dapat dihitung asalkan kita mengetahui nilai dari variabel
independen.
8,9
Untuk memahami tentang teori Stewart, diperlukan tinjauan tentang reaksi-reaksi
kimia dasar. Reaksi-reaksi ini tidak untuk membingungkan, sekedar untuk mengetahui asal dari
persamaan reaksi yang akan digunakan.
Pertama-tama kita sepakati dahulu bahwa cairan tubuh mengandung ion-ion kuat dan
lemah (strong ions & weak ions).
Ion-ion kuat, adalah ion-ion yang sangat kuat berdisosiasi di dalam suatu larutan. Sebagai
contoh; jika kita melarutkan natrium klorida (NaCl) ke dalam air, maka larutan tersebut
akan mengandung ion Na
+
,Cl
-
,H
+
,OH
-
dan molekul H
2
O. Baik Na
+
maupun Cl
-
tidak
akan berkombinasi dengan H
+
maupun OH
-
membentuk (mis; NaOH atau HCl) sebab
Na
+
dan Cl
-
merupakan ion-ion kuat, yang selalu berdisosiasi sempurna. Oleh sebab itu
adalah salah jika kita menyebut larutan tersebut sebagai larutan dari molekul NaCl,
karena larutan tersebut tidak pernah ada.
7
Ion-ion kuat pada umumnya in-organik (Na
+
,
Cl
-
, K
+
), namun ada juga yang organik seperti laktat. Laktat sebenarnya adalah ion lemah,
namun karena laktat mempunyai pKA 3.9 maka pada pH fisiologis laktat akan
berdisosiasi secara sempurna.
7
Secara umum, dapat dikatakan bahwa setiap zat yang
mempunyai konstanta disosiasi > 10
-4
Eq/l dianggap sebagai ion-ion kuat. Namun perlu
diingat bahwa perkataan kuat "strong" disini bukan berarti "strong (concentrated)
solution" tetapi "strongly dissociated".
6,7

Ion-ion lemah, adalah ion yang hanya sebagian terdisosiasi di dalam larutan, yaitu: CO
2
,
HCO
3
-
(volatile) dan weak acids (non volatile); ? HA ? H
+

+ A
-
. Dan karena disosiasi zat
ini tidak lengkap maka di dalam larutan zat ini terdiri dari asam lemah plus produk
disosiasinya. Keseimbangan disosiasi dapat ditulis sbb:
6,7


[H
+
] x [A
-
] = K
A
x [HA] dimana K
A
adalah konstanta disosiasi untuk asam lemah.

Menurut Stewart perbedaan antara ion-ion kuat dan ion-ion lemah berdasarkan konstanta
disosiasinya:
3,6,7

Non-electrolyte : K
A
< 10
-12
Eq/l
5

Weak electrolyte : K
A
antara 10
-4
dan 10
-12
Eq/l
Strong electrolyte : K
A
> 10
-4
Eq/l

Sedangkan suatu larutan disebut netral, asam atau basa tergantung dari nilai akar Kw (konstanta
disosiasi air):
3,6,7

Netral : [H
+
] = ? Kw = [OH
-
]
Asam : [H
+
] > ? Kw > [OH
-
]
Basa : [H
+
] < ? Kw < [OH
-
]

Selanjutnya persamaan/formula yang akan digunakan untuk menghitung [H
+
] mengandung 3
variabel independen dan 6 dependen.
6-9

Variabel independen:

pCO
2
= Tekanan parsial CO
2
dalam larutan yang diperiksa
SID = Strong ions difference dalam larutan
[A
Tot
] = Konsentrasi total dari weak acid dalam larutan

pCO
2
(tekanan parsial CO2)
CO
2
dihasilkan oleh sel tubuh sebagai sisa pembakaran. CO
2
sangat mudah melewati
membran sel, kemudian ke interstitial dan menembus membran kapiler masuk ke dalam darah.
CO
2
diekskresi melalui paru dan sangat sensitif sebagai kontrol feedback melalui kemoreseptor
perifer dan sentral. Reseptor-reseptor ini akan merespon setiap peningkatan pCO
2
arteri untuk
meningkatkan ventilasi sehingga pCO
2
kembali normal.
6

Jadi pada intinya nilai pCO
2
arteri dan cairan tubuh tergantung dari suatu mekanisme dari
suatu keseimbangan kimia di dalam cairan tubuh. Dan karena nilainya ditentukan dan diatur oleh
faktor eksternal yaitu ventilasi dan sirkulasi maka pCO
2
disebut sebagai variabel indepeden.
6
SID (Strong ions difference)
SID = (jumlah total konsentrasi kation kuat) dalam larutan dikurangi (jumlah total
konsentrasi anion kuat) dalam larutan. Sebagai contoh: jika suatu larutan hanya mengandung
Na
+
, K
+
, dan Cl
-
maka;
SID = [Na
+
] + [K
+
] - [Cl
-
]

6

Jika hanya ketiga ion-ion kuat (strong ion) ini yang ada dalam suatu larutan, maka untuk
mencapai keseimbangan netralitas elektron, nilai SID harus sama dengan 0. Namun karena pada
umumnya cairan biologis juga mengandung asam lemah, maka SID tidak bisa 0, maka dalam
larutan tersebut terdapat ion lemah lain yang bermuatan.
6
Di dalam plasma, rumus untuk
menentukan SID adalah:
6,7
SID = { [Na
+
] + [K
+
] + [Ca
++
] + [Mg
++
] } - { [Cl
-
] + [strong anion lain]

SID dianggap sebagai variabel independen sebab ion-ion kuat (Na
+
, Cl
-
) yang dipakai
untuk menghitung SID tidak dipengaruhi oleh sistim, atau dengan kata lain didalam suatu larutan
encer (mengandung air) ion-ion tersebut tidak bisa dipaksa untuk berkombinasi dengan ion-ion
lemah membentuk suatu molekul baru menjadi misalnya NaOH atau NaCl namun ion-ion
tersebut berdiri sendiri-sendiri sebagai bentuk ion bermuatan. Karena sifatnya yang demikian
maka ion-ion ini sangat kuat mempengaruhi larutan (sistim) dimana ion tersebut berada dan
regulasinya diatur oleh mekanisme dari luar sistim, yaitu ginjal.
6,7
Ion-ion kuat in-organik seperti
Na
+
, Cl
-
pada umumnya diabsorpsi dari usus dan dikeluarkan melalui sistim ekskresi ginjal.
Sedangkan ion-ion kuat organik (laktat, keto-anion) di produksi dan dimetabolisme di jaringan
dan dieksresi lewat urin. Konsentrasinyapun tidak ditentukan oleh reaksi di dalam larutan
(sistim) tersebut namun diatur sepenuhnya melalui mekanisme dari luar sistim.
6
Jika dalam suatu larutan kita mempunyai nilai ion kuat tersebut maka kita dapat
menghitung SID yang juga disebut sebagai SIDa (apparent SID) yaitu:
6

SIDa = { [Na
+
] + [K
+
] + [Ca
++
] + [Mg
++
] } - {[Cl
-
] + [laktat
-
]
140 100

Nilai SID normal berkisar 40-42 mEq/l (didapat dari 140 - 100), sebab hanya Na
+
dan Cl
-
yang
konsentrasinya tinggi dibanding ion kuat lain sehingga ion-ion ini dianggap mewakili.
6
Lebih
spesifik lagi dikatakan bahwa karena [Na
+
] berperan penting pada tonisitas maka peran [Cl
-
]
menjadi lebih dominan dibanding [Na
+
] dalam menentukan pH cairan ekstrasel (ECF).
6

[ATot] (total konsentrasi asam lemah yang non-volatile)
Menggambarkan jumlah total konsentrasi asam lemah non-volatile dalam sistim. Secara
kolektif semua asam-asam lemah dalam sistim dipresentasikan sebagai HA. Reaksi disosiasinya
adalah:
6

HA <=> H
+
+ A
-


7

Hukum kekekalan massa (the conservation of mass) berarti jumlah total dari [A
Tot
] di dalam
sistim harus selalu konstan.Tidak ada satu reaksipun di dalam yang dapat memproduksi atau
mengkonsumsi A. Konservasi dari A sbb:
6,7

[A
tot
] = [HA] + [A]

Di dalam plasma, asam lemah non-volatile yang utama adalah:
6,7

1. Protein {[Pr
Tot
] = [Pr
-
] + [HPr]}
2. Posfat {[ Pi
Tot
] = [PO
4

-3
] + [HPO
4
2 -
] + [H
2
PO
4
-
] + [H
3
PO
4
]}

Albumin [Alb] dianggap mewakili unsur protein sebagai total asam lemah [A
Tot
] dibanding
globulin karena globulin tidak berkontribusi secara berarti terhadap total muatan negatif dari
protein plasma. [Alb] plasma dapat mempengaruhi sistim namun tidak diatur oleh sistim. Faktor
utama yang berperan untuk mengontrol kecepatan produksi albumin adalah tekanan osmotik
koloid dan osmolalitas di ruang ekstravaskular hati.
6
Meski fosfat terdapat dalam berbagai bentuk, namun jumlah totalnya adalah konstan.
Kadarnya dalam plasma diatur bersamaan dengan pengaturan ion kalsium. Fosfat hanya 5%
merepresentasikan jumlah A
Tot
. Kontribusinya terhadap A
Tot
hanya akan bermakna jika
konsentrasinya meningkat.
6

Kesimpulan dari ketiga variabel independen tersebut adalah:
6-9
1. pCO
2
adalah variabel independent pertama yang diatur oleh kontrol sistim respirasi
2. SID adalah variabel independen kedua yang diatur oleh ginjal, dan diestimasi sebagai ([Na
+
]
- [Cl
-
])
3. A
Tot
adalah variabel independen ketiga yang diatur oleh hati dan diestimasi sebagai [Alb].

Tujuan dari pendekatan Stewart adalah menentukan [H
+
] atau pH plasma tubuh. Berikut adalah
persamaan untuk menemukan [H
+
] mulai dari sistim yang sederhana yaitu air sampai ke sistim
yang lebih kompleks yaitu plasma.
6-9

Air (Pure Water)
Bagaimana menentukan konsentrasi [H
+
] di dalam air ? Air akan berdisosiasi menjadi [H
+
] dan
[OH
-
] dalam jumlah yang sangat kecil (milimol/L).
7

H
2
O = H
+
+ OH
-

8

Persamaan keseimbangan disosiasi menjadi:
7

[H
+
] x [OH
-
] = Kw x [H
2
O]
Kw adalah konstanta disosiasi dari air, dan nilainya tergantung temperatur.
Karena produk disosiasi dari molekul [H
2
O] yaitu [H
+
] dan [OH
-
] sangat kecil (masing-
masing 1.10
-7
mol/l, maka nilai [H
2
O] secara esensial dapat dianggap sama dengan konstan
(hampir tidak berubah). Selanjutnya agar persamaan lebih praktis Kw dan [H
2
O] dapat digabung
membentuk suatu konstanta baru yaitu K
w'
; merupakan ion-ion produk dari disosiasi air:
7
K
w'
= [H
+
] x [OH
-
]
Prinsip kenetralan elektrik harus terjadi dan ion-ion yang ada hanya H
+
dan OH
-
maka:
[H
+
] = [OH
-
]
Dari 2 persamaan tersebut diatas maka [H
+
] dapat ditemukan :
6,7

[H
+
] = (K
w'
)



Dari sistim yang sederhana ini terungkap bahwa konsentrasi H
+
dapat ditemukan dengan
cara menggabungkan beberapa persamaan yang ada. Prinsip dasar yang digunakan di dalam
menganalisa semua sistim untuk mencari [H
+
] adalah:
6-9

1. Kenetralan elektrik (electrical neutrality)
2. Hukum kekekalan massa
3. Keseimbangan disosiasi

Elektrolit kuat dalam air
7
Sistim ini lebih kompleks; yaitu larutan yang mengandung Na
+
dan Cl
-
. Pada contoh ini
timbul istilah yang disebut sebagai SID (strong ion difference). Apa yang menentukan
konsentrasi [H
+
] dalam larutan ini?
Pertama adalah dengan menuliskan persamaan keseimbangan disosiasi dari air;
K
w'
= [H
+
] x [OH
-
] ? [OH
-
] = K
w'
/[H
+
]
Netralitas elektron;
[Na
+
] + [H
+
] = [Cl
-
] + [OH
-
]
[Na
+
] - [Cl
-
] = [OH
-
] - [H
+
]

[OH
-
] = K
w'
/[H
+
]

9

Kombinasi persamaan-persamaan tersebut menjadi:
6-9


[H
+
]
2
+ [H
+
] ([Na
+
] - [Cl
-
]) - K
w'
= 0

SID

[H
+
]
2
+ (SID x [H
+
]) - K
w'
= 0

[H
+
] = K
w'
+ SID
2
/4 - SID/2

Dari persamaan x
2
diatas terlihat bahwa konsentrasi [H
+
] pada larutan yang mengandung ion Na
+

dan Cl
-
semata-mata hanya ditentukan oleh SID, (SID hanya satu-satunya variabel yang berada
disebelah kanan persamaan), atau dengan kata lain setiap perubahan pada SID akan
menyebabkan perubahan pada [H
+
] atau pH. Misalnya, jika nilai SID negatif (mengecil) maka
[H
+
] akan meningkat atau lebih besar dibanding [OH
-
] = asidosis, sebaliknya jika SID positif
(lebih besar) maka [H
+
] akan lebih kecil dibanding [OH
-
] = alkalosis.
6,7


Cairan tubuh
6,7

Dari 2 contoh diatas terlihat bahwa pendekatan tersebut dapat dilakukan pada semua jenis
cairan. Meskipun cairan tubuh sangat kompleks, namun Stewart dapat menemukan persamaan
yang dapat digunakan untuk mendeskripsikan sistim dan mencari nilai [H
+
]. Cairan tubuh adalah
larutan encer yang mengandung beberapa ion-ion kuat (inorganik dan organik) dan ion lemah
(yang volatil; sistim CO
2
/HCO
3
-
dan asam lemah non volatil HA). Seperti diketahui bahwa
variabel independen yang menentukan pH cairan tubuh adalah pCO
2
, SID dan [A
Tot
], sedangkan
variabel-variabel seperti H
+
, OH
-
, HCO
3
dan [A
-
] sangat tergantung pada nilai-nilai dari ketiga
variabel independen. Stewart menegaskan bahwa ada 6 persamaan yang secara simultan
dperlukan untuk menemukan [H
+
].
6-7

1. Keseimbangan disosiasi air;
[H
+
] x [OH
-
] = K
w'


2. Persamaan elektro netraliti
[SID] + [H
+
] = [HCO
3
-
] + [A
-
] + [CO3
-2
] + [OH
-
]

3. Keseimbangan disosiasi asam lemah
[H
+
] x [A
-
] = K
A
x [HA]

4. Hukum kekekalan massa untuk "A"
[A
Tot
] = [HA] + [A
-
]
10

5. Persamaan keseimbangan pembentukan ion bikarbonat
[H
+
] x [HCO
3
] = K
C
x pCO
2


6. Keseimbangan pembentukan ion carbonat
. [H
+
] x [CO
3
-2
] = K
3
x [HCO
3
-
]

Persamaan no; 5 merupakan dasar dari persamaan Hendersen-Hasselbach. Hal ini penting untuk
diingat bahwa Hendersen-Hasselbach hanya menggunakan persamaan ke lima saja dan tidak
memperhitungkan persamaan yang lain.
7
Keenam persamaan diatas mencakup 3 variabel independen dan 6 varabel dependent
{[HA], [A
-
], [HCO
3
-
], [CO
3
-2
], [OH
-
], [H
+
]}. Selanjutnya keenam persamaan tersebut dapat
digunakan untuk mencari nilai salah satu dari variabel dependen berdasarkan nilai variabel
independen. Sedangkan nilai dari masing-masing konstanta disosiasi dapat ditemukan pada
referensi yang sudah ada.
7
Untuk mencari/menentukan nilai [H
+
] pada larutan yang kompleks
tersebut , digunakan bentuk persamaan kuadrat yang telah dipelajari di Sekolah Menengah Atas,
yang oleh ahli matematika disebut persamaan kuadrat pangkat empat (a 4
th
order polynomial).
7


ax
4
+ bx
3
+ cx
2
+ dx + e = 0
Nilai x tidak diketahui, sedangkan a,b,c,d dan e adalah konstan yang nilainya sudah ditentukan

Selanjutnya persamaan untuk mencari [H
+
] menurut Stewart adalah:
7


a.[H
+
]
4
+ b.[H
+
]
3
+ c.[H
+
]
2
+ d.[H
+
] + e = 0

dimana;

a = 1
b = [SID] + K
A

c = { K
A
x ([SID] - [A
Tot
]) - K
w'
- K
C
x pCO
2
}
d = - { K
A
x (Kw' + K
C
x pCO
2
) - K
3
x K
C
x CO
2
}
e = - ( K
A
x K
3
x Kc x pCO
2
)

Prinsip kenetralan elektrik:
6,7


[SID]+[H
+
]-K
C
.pCO
2
/[H
+
]-K
A
.[A
Tot
]/(K
A
+[H
+
])-K
3
.K
C
.pCO
2
/[H+]
2
-Kw'/[H
+
] = 0

Memang persamaan diatas jika diamati menjadi menakutkan, tetapi dengan menggunakan
program komputer yang sesuai maka solusi untuk menemukan konsentrasi ion hidrogen secara
kuantitatif pada larutan yang kompleks tersebut menjadi sangat mudah dan cepat. Dari
11

persamaan-persamaan tersebut dapat disimpulkan bahwa {H+] dalam plasma tergantung dari
nilai-nilai SID, A
Tot
dan PCO
2
, sebagai berikut:
6-9

[H
+
] dan [HCO
3
-
] = ?([SID], pCO
2
, [A
Tot
])

Menurut Stewart persamaan tersebut diatas bukan untuk melibatkan kita kedalam perhitungan
matematika yang rumit, melainkan hanya sekedar menunjukkan bahwa adalah mungkin untuk
menyelesaikan persamaan tersebut, sekaligus menentukan konsentrasi ion hidrogen di dalam
suatu larutan asalkan nilai variabel independen dan konstanta keseimbangan masing-masing
variabel diketahui.
6,7
Stewart secara esensial telah menciptakan suatu model matematika dari keseimbangan
asam basa tubuh yang sebelumnya sulit dipahami. Analisa Stewart ini memberikan suatu
pandangan baru terutama para klinisi tentang apa yang sebetulnya terjadi pada tingkat kimia
dalam reaksi keseimbangan asam basa, dan konsep ini betul-betul berbeda dengan yang
sebelumnya.
10-13
Jadi setiap perubahan pada variabel independen akan menyebabkan gangguan
pada keseimbangan asam basa tubuh: pertama, perubahan pada pCO
2
akan menyebabkan
asidosis respiratori, dan kedua, perubahan pada SID dan/atau A
Tot
akan menyebabkan asidosis
metabolik.
10,11

Perubahan pada pCO
2
terjadi secara cepat oleh ventilasi, sedangkan perubahan pada SID
yang disebabkan oleh adanya perubahan pada konsentrasi ion-ion kuat dalam tubuh berjalan
lebih lambat. Regulasi dari ion-ion kuat diatur oleh usus (absorpsi) dan ginjal (ekskresi).
12,13

Kontribusi utama terhadap A
Tot
dalam cairan tubuh adalah protein, dan [Alb] penting untuk
kompartemen ekstrasel. Pada umumnya protein disintesis oleh hati, dan perubahan pada
konsentrasi protein lebih lambat dibanding SID, sehingga pada gangguan keseimbangan asam
basa SID lebih banyak berperan. Dengan kata lain, jika A
Tot
konstan, maka perubahan pada SID
dan pCO
2
merupakan penyebab gangguan keseimbangan asam basa.
12,13


INTERAKSI ANTAR MEMBRAN
Masing-masing kompartemen cairan tubuh dipisahkan oleh suatu membran dan lapisan
epitel. Nilai [H
+
] masing-masing kompartemen ditentukan oleh masing-masing variabel
independen dari tiap-tiap kompartemen. Jadi gangguan keseimbangan asam basa yang terjadi di
12

dalam suatu kompartemen disebabkan oleh perubahan pada satu atau lebih variabel independen
di kompartemen yang bersangkutan.
6,7

Interaksi asam basa antar membran
Seperti diketahui bahwa tubuh kita mempunyai 3 kompartemen utama; interstitial,
intraseluler dan plasma. Ketiga kompartemen ini saling berinteraksi melalui membran sel dan
membran kapiler. Demikian juga dengan asam basa akan saling berinteraksi melalui membran-
membran ini.
7
Difusi CO
2
melaewati membran sangat mudah dan cepat, sehingga setiap
perbahan yang terjadi pada pCO
2
akan cepat diatasi oleh perubahan ventilasi. Konsekuensinya
adalah:
7
Konsentrasi [H
+
] di semua cairan kompartemen tubuh mudah berubah atau diatur.

Perubahan pada pCO
2
tidak akan menyebabkan terjadinya perbedaan konsentrasi [H
+
] dari
masing-masing kompartemen. Protein paling banyak terdapat di intrasel dan plasma kecuali di
interstitial. Albumin, karena bermolekul besar tidak dapat melewati membran kecuali pada
keadaan tertentu seperti kebocoran/kerusakan membran. Dengan dasar ini maka setiap perubahan
konsentrasi [H
+
] antar membran jelas bukan berasal dari pergerakan protein.
7,10-13

Konsentrasi fosfat [Pi] dalam plasma sedikit sekali dan diatur sepenuhnya oleh regulasi
kalsium sehingga transfer fosfat melewati membran juga tidak berkontribusi secara bermakna
dalam interaksi asam basa.
7
Dari keterangan diatas terlihat bahwa SID merupakan variabel
independen yang terpenting dalam pengaturan asam basa antar membran. Ion-ion kuat dapat
melewati membran melalui mekanisme channel ion (pasif) atau pompa transport (aktif). Ion-ion
kuat ini juga dapat bergerak mengikuti atau melawan perbedaan konsentrasi.
7

Jadi dari ketiga variabel independen ini;
pCO
2
:
CO
2
sangat mudah melewati membran sehingga tidak berkontribusi dalam menyebabkan
perbedaan status asam basa antar membran.

[A
Tot
]:
protein juga tidak dapat melewati membran jadi tidak juga berkontribusi dalam menyebabkan
perbedaan status asam basa antar membran.
13

SID:
Ion-ion kuat dapat melewati membran maka ion-ion kuat merupakan kontributor utama dalam
kesimbangan asam basa antar membran.

Perubahan pada SID merupakan mekanisme utama dalam menentukan perbedaan status
asam basa antar membran dibanding pCO
2
dan [A
Tot
]. Prosesnya bisa melalui pertukaran (Na
+
-
H
+
) atau (K
+
- H
+
) melewati membran.
7
Didalam pengaturan keseimbangan asam basa, selama
ini ginjal yang dianggap berperan dalam mengeluarkan asam dari tubuh (misalnya, jika pH urin
lebih rendah dari plasma berarti sejumlah H
+
diekskresi oleh ginjal). Jika kita memahami teori
Stewart maka pernyataan ini tidak benar. Memang betul bahwa ginjal mempunyai peran dalam
menurunkan konsentrasi [H
+
] dalam plasma, namun mekanismenya bukan melalui ekskresi [H
+
]
tersebut.
4,10-13
Menurut teori Stewart, penurunan konsentrasi [H
+
] dalam plasma tersebut adalah
akibat regulasi tubuh terhadap SID (terutama Cl
-
) melalui tubulus ginjal. Ion klorida akan
difiltrasi namun tidak di reabsorbsi, sehingga nilai SID dalam plasma dijaga tetap seimbang. Jadi
pembentukan amoniagenesis di ginjal berfungsi menghasilkan NH
4
+
agar Cl
-
dapat diekskresi
dalam bentuk NH
4
Cl. Jadi pentingnya peran [NH
4
+
] bukan karena sifatnya yang dapat
mengangkut H
+
, namun karena sifat ko-ekskresinya bersama klorida.
4,6,7

Contoh lain dari interaksi asam basa antar membran terjadi di lambung. Cairan lambung
bersifat asam bukan karena transport H
+
kedalam lambung, tetapi karena pergerakan ion klorida.
Ion klorida akan disekresi kedalam lambung dari plasma sehingga SID cairan lambung menjadi
kecil dan karena SID kecil maka [H
+
] akan lebih banyak dari [OH
-
] ? pH akan turun.
4,6,7


RINGKASAN
Pendekatan Stewart ini perlahan-lahan mulai diaplikasikan di beberapa jurnal penelitian
tentang keseimbangan asam basa tubuh. Pendekatan ini memberi suatu pandangan baru ke dalam
proses kimia yang menentukan pH cairan tubuh. Perbedaan yang jelas terlihat antara H-H dengan
Stewart ini adalah jika pada pendekatan H-H perhatian tertuju pada ion bikarbonat, maka pada
pendekatan Stewart ion klorida merupakan anion terpenting sebagai faktor kausatif.




14

DAFTAR PUSTAKA
1. Leblanc M, Kellum JA. Biochemical and Biophysical Principles of Hydrogen Ion
Regulation. In: Critical Care Nephrology. Kluwer Academic Publishers, Dordrecht, The
Netherlands, 1998. pp 261-77.Ronco C, Bellomo R (eds).
2. Morfei J. Stewart's Strong Ions Difference Approach to Acid-Base Analysis. Respir Care
1999;44(1):45-52.

3. Wilkes P. Acid-base lecture in Acid-base management. University of Ottawa Departemen
of Anesthesiology, Physics and Fluids Core Program, october 11,2001.
4. Kellum JA. Determinants of Blood pH in Health and Disease. Critical Care 2000;4:6-14.
5. Jones NL: A quantitative physciochemical approach to acid-base physiology. Clin
Biochem 1990; 23:89-195.
6. Schalkwyk JV.m A Basic Approach to Body pH.. Cited on 1999, Available on;
http://www.anaesthetist.com/icu/elec/ionz

7. Brandis K.Quantitative Analysis of Acid-Base Disorders, In: Acid-Base Physiology An
Online Tutorial, chapter 10.Cited On 14 March 2002, Available on:
http://www.qldanaesthesia.com.
8. Stewart PA: How to understand acid-base. In A quantitative acid-base primer for biology
and medicine. Edited by Stewart PA. Elsevier, New York, 1981:1--286.
9. Stewart PA. Modern quantitative acid-base chemistry. Can J Physiol Pharmacol 61:1444-
1461, 1983.
10. Kellum JA. Diagnosis and Treatment of Acid-Base Disorders. In: Textbook of Critical
Care, W.B. Saunders Co, Philadelphia, PA , 1999. Grenvik A, Shoemaker PK, Ayers S,
Holbrook (eds). pp839-53.
11. Kellum JA. Metabolic acidosis in the critically ill: Lessons from physical chemistry.
Kidney International 53 (Suppl 66): S81-S86, 1998.
12. Current Opinion in Critical Care Vol 5 No. 6 December 1999. Renal System edited by
Rinaldo Bellomo and Claudio Ronco.
13. Fencl V, Leith DE: Stewart's quantitative acid-base chemistry: Applications in biology
and medicine. Resp Physiol 1993, 91:1-16.