Anda di halaman 1dari 87

DASAR-DASAR TERAPI

CAIRAN



Erwin Kresnoadi
FISIOLOGI CAIRAN TUBUH
Fungsi :
* Pengangkutan Zat Makanan
* Mengeluarkan sisa Metabolisme

Air : Dewasa N. = 60 % BB
Dipengaruhi = * Umur
* Jenis kelamin
* Lemak tubuh

DISTRIBUSI AIR
Dewasa N. : 2/3 Intraseluler : 40% BB
1/3 Ekstraseluler : 20% BB:
- 3/4 Interstitiel(15%BB)
- 1/4 Plasma (5% BB)

Anak : Intrasel : 40% BB
Ekstrasel : 30% BB:
- Interstitiel 25% BB
- Plasma 5% BB


KEHILANGAN AIR EKSTRASELULER:
* Respirasi
* Keringat
* G.I.T
* Ginjal

DUBOIS: (1987)
* Kulit & Respirasi : 0,5 ml/kg BB/Jam.
* Tinja : 50 ml / Hari
* Urine : 800 ml/Hari
TOTAL : 1.600-1.900 ml/Hari


IWL
ELEKTROLIT:
* Na : Dewasa : 105 gram
Kebutuhan dasar : 80-100 mEq/Hari
Kadar dalam Serum : 132-142 m mol/L
Ekskresi : Urin,tinja,keringat.
* K : Dewasa : 3.200 m mol/70 kg BB
Kebutuhan. Dasar : 40 -120 m mol/Hari
Kadar dalam serum : 3,5-5,5 m mol/L
Ekskresi : Urine,tinja,keringat.
* Ca : Kebutuhan dasar : 0,2-0,3 m Eq/kg BB/Hari
Kadar dalam serum : 2,1-2,6 m mol/L




*Mg : Kebutuhan dasar : 0,2 - 0,5mEq/kgBB/Hari
Kadar dalam serum : 1,5 - 2,5 m mol/L
*Zn : Kebutuhan dasar: : 10 - 15 mg/Hari
kadar dalam Serum : 80 - 100 Ug%

Difusi sel melibatkan ion-ion:
Na,K,Ca ,Mg Konsentarasi diluar & di dlm sel harus seimbang.
Dimana dalam sel:
* K, Mg, PO4, SO4, HCO3 >>
* Na, Cl, Ca <<


ASAL CAIRAN TUBUH:
- Minum
- Makan
- Hasil Oksidasi Jaringan

Kebutuhan basal Cairan 2 ml / kg BB/ Jam
Pengeluaran minimal :
Dewasa : 0,5 ml / kg BB/ Jam
Bayi : 1 ml / kg BB/Jam
Tergantung :
BMR
BB
Luas permukaan Tubuh
RUTE PENGELUARAN:
Urine :0,5 -2 ml / kg BB /Jam
Tinja : 50 ml / Hari
Kulit & Nafas : 12 ml/ kg BB /Hari

PENGELUARAN MENINGKAT PADA:
Hiperventilasi
BMR yang meningkat.
Suhu sekitar meningkat.
Suhu tubuh meningkat (Kenaikan 1 C diatas 37 C
kebutuhan meningkat 10%)

KOMPENSASI DEKOMPENSASI
Kekurangan cairan:
1. Pemasukan kurang
2. Pengeluaran berlebih
Bila 2 > 1 ---> Dehidrasi
Penatalaksanaan :
* Tingkat dehidrasi
* Macam Cairan
* Cara-cara pemberian
* Monitoring
GANGGUAN KESEIMBANGAN CAIRAN
MACAM CAIRAN :
1. Oral : oralit : 1,5X Defisit cairan
2. Infusan :
Kristaloid :
- Tipe Rumatan : Hipotonik
- Tipe Substitusi : Isotonik
- Tipe tujuan khusus
Koloid :
- Plasma Ekspander
- Darah


TERAPI CAIRAN
Asering
Ringer Laktat
Normal Saline

RESUSITASI

RUMATAN

KRISTALOID

KOLOID

ELEKTROLIT

NUTRISI
Mengganti kehilangan akut
Dextran- 40
Memelihara keseimbangan
KA-EN 3B
KA-EN 3A
KA-EN 1B
AMIPAREN
AMINOVEL- 600
PAN- AMIN G
KA-EN MG 3
MARTOS 10
KEBUTUHAN DASAR CAIRAN
UMUR ml / kg BB/ Jam
Dewasa 1,5 2
Anak 2 - 4
Bayi 4 - 6
Neonatus 3


Miller RD (1981)
CARA PEMBERIAN :
A. Berdasar Derajat Dehidrasi :
- BB 50 kg DH. Berat (8%) = 8% x 50 L=4 L
Vol Pemberian Cairan = seluruh Defisit atau 2/3 bagian.
- Kecepatan infus tergantung :
Klinis / tingkat Dehidrasi & Kondisi Jantung.
- DH. Ringan / sedang : dibagi rata / 24 Jam
- DH. Berat & Syok : Rehidrasi cepat
- 20 - 40 ml/kg BB dalam 1-2 Jam
- 50% dari sisa devisit dalam 6 Jam
- 50 % dari sisa defisit dalam 16-17 Jam
Tahap berikutnya
- Ditambah kebutuhan dasar
(2 ml / kg BB/Jam)


B.BERDASAR TRAUMA STATUS DARI GIESECKE PADA PERDARAHAN
TANDA-TANDA TS I TS II TS III
Keadaan umum -N -Pucat -pucat sekali

Akral -Hangat -Dingin -Sangat dingin


Kesadaran -N -Disorientasi, gelisah Menurun sampai
koma
Nadi -Cepat -Sangat cepat 100-
120X /mnt
-Lebih dari 120X /
mnt
Tekanan darah -N Menurun 90-100 mm
Hg

-Systole < 60 mm Hg
sampai tak terukur

Sesak Nafas - -Ringan - ++

Urine N -Oliguria - Anurria
Gas Darah -N - Pa O2

- -Pa O2
- Pa CO 2 - -Pa CO 2



CVP -N - -Rendah - Sangat rendah

Blood Loss % EBV Sampai 10% - Sampai 30% - Lebih 50


Indikasi Terapi Cairan
Tidak dapat minum
cukup pengganti urine,
keringat, nafas

Perlu koreksi ketidak-
seimbangan cairan
(jumlah & komposisi)

Perlu nutrisi intravena
(usus tidak berfungsi
Cairan Maintenance



CairanReplacement



Cairan Nutrisi
Penyakit Infeksi & Terapi Cairan
Yg banyak dijumpai
gastroenteritis
peritonitis
bronchopneumonia
Dengue Shock Syndr

Output meningkat :
muntah, diare
ileus, 3rd space loss
demam
plasma loss / leakage
Jika penyakit makin gawat,
terapi cairan makin sulit
sepsis
gagal jantung
infeksi paru berat
malnutrisi,
hipoalbumin

capillary leakage
retensi air + Na
S & I meningkat
mudah edema paru
Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
bukan penyakit tersendiri tetapi selalu bagian /
penyulit penyakit lain

Terapi harus serentak :
suportif thd gangguan cairan / elektrolit
definitif thd penyakit dasar / infeksi

Makin lambat terapi dimulai, makin rumit
permasalahan yang harus diatasi

Cegah kumulasi defisit akibat menunda
cairan maintenance
Turn over ECF tiap hari :
keluar urine (25 ml/kg/hari)
keringat + uap air nafas (700 ml/m2/hari)
Pasien 50 kg = 1.5m2 mengeluarkan
cairan (50 kg x 25 ml) + (1.5 x 700 ml) =
2250 ml
Jumlah ini harus diganti TIAP HARI agar
keseimbangan cairan tubuh terjaga baik

Kebutuhan sehari
Volume : 2000 ml
Natrium : 100-200 mEq
Kalium : 50-150 mEq
Kalori : 1500 kcal
RD 1000 + D5 1000
ml Natrium 147
Kalium 4
Kalori 400
KaEnMg 2000 ml
Natrium 100
Kalium 40
Kalori 800
Cairan Maintenance pasien dewasa 50 kg
Defisit cairan terjadi jika
kehilangan meningkat :
muntaber / GE
demam tinggi
luka bakar
capillary leakage (DSS)
cairan lambung >>,
peritonitis
ileus pada sepsis

masukan berkurang :
mual, muntah, ileus
coma
puasa pasca bedah
tidak minum cukup
Excess cairan terjadi jika
masukan berlebih :
infus berlebih
redistribusi ISF ke IVF

produksi urine terhenti :
gagal ginjal akut
gagal jantung lanjut
Macam-macam Gangguan Keseimbangan
Cairan & Elektrolit
SALINE DEFICIT / SALINE EXCESS
- Gangguan Natrium diiringi air setara
(isotonis)
WATER DEFICIT / WATER EXCESS
- Gangguan Natrium diiringi air tidak setara
KALIUM DEFICIT / KALIUM EXCESS
- Gangguan Kalium tidak berhubungan
dengan air
Gangguan Natrium
selalu terjadi bersama gangguan air
Tubuh tidak memiliki cadangan Natrium.
Kebutuhan Na harus dipenuhi setiap hari
Keseimbangan Na dipengaruhi oleh jumlah air
isotonik setara 145-150 mEq/L
Hipernatremia : jumlah Natrium berlebih atau
jumlah air kurang
Hiponatremia : jumlah air berlebih atau jumlah
Natrium kurang
SALINE DEFICIT
Defisit ini berada di IVF dan ISF (=ECF)
dimana air disertai Natrium 145-150 mEq/L
Saline deficit disebut juga ECF deficit /
dehidrasi / hipovolemia
Contoh: gastroenteritis, peritonitis,
Dengue Shock Syndrome, luka bakar dan
perdarahan

Hipovolemia intravaskuler (IVF)
Terapi cepat sampai perfusi perifer, nadi
dan tekanan darah mendekati nilai normal


Pada titik ini diharapkan
perfusi organ vital (otak, koroner) normal
dan
Perfusi organ sekunder (viscera) mendekati
normal
Hipovolemia interstisial (ISF)
Terapi lebih lambat menunggu cairan
infus di vena (IVF) merembes keluar ke
interstitial


Kembalinya tugor kulit, fontanella,
basahnya mukosa lidah dan kurangnya
haus seiring meningkatnya urine

Hipovolemia intravaskuler (IVF)
Hipovolemia interstisial (ISF)
Cairan replacement

RINGER LAKTAT
RINGER ASETAT
NaCl 0.9%
Cairan replacement :
Ringer Laktat / Ringer Asetat
Peritonitis generalisata
Tensi 80/50, nadi 150,
urine = 0
Nafas 35x, flare (+)
Laparotomi, usus yang
perforasi dikeluarkan
+
ECF DEFICIT
DSS, Shock hipovolemik
Edema paru, efusi pleura
Malnutrisi, hipoalbumin


Resusitasi dengan 0.225%
NaCl - Dextrose 5%



Shock teratasi?
Water excess
Na = 117 mEq/L
Coma, brain damge
Gangguan Kalium
Tubuh memiliki banyak Kalium intra-sel
Hipokalemia mudah ditolerir
Hiperkalemia terjadi bila :
destruksi jaringan karena trauma, sepsis
nekrosis, luka bakar > 30%
gagal ginjal akut
hemolisis
trauma otot luas
kejang otot berkepanjangan
HYPER-K vs HYPO-K
Ca-gluconat
100 - 200 mg, i.v.
Na-bicarbonate
50 - 100 mEq
Dextrose 10-20%
PLUS insulin 10 -20
unit per botol 500 cc
KCl drip rata 24 jam
Maksimum
20 mEq per jam /
200 mEq per hari.

Kedua kaki gangrene
Kasus complicated sepsis
perlu terapi cairan yang rumit
balans cairan defisit
akral dingin, sianosis
urine = 0
tapi muka sembab
nafas sesak,
paru penuh ronchi
ECF deficit diganti RL bertahap, jangan
berlebihan
Bronchopneumonia,
respiratory distress
Gastroenteritis,
dehidrasi
Malnutrisi,
hipoalbuminemia
Edema paru ?
Gagal jantung ?


Maintenance ?
Replacement ?
TUJUAN RESUSITASI JARINGAN
RESTORASI PERFUSI JARINGAN
& PENGIRIMAN O
2
KE SEL
MENGURANGI : ISKEMIA JARINGAN
KEGAGALAN ORGAN
LR
1L
NS
1L
Two wide bore iv cannulae
Fast
O2 via a mask
Raise the legs
Monitor BP&Pulse
Catheterise & measure
Urine output
RL
1 L
KOMPOSISI CAIRAN IV
CAIRAN GLUKOSA Na
+
Cl
-
laktat Osmolaritas


D5W 50 0 0 0 252
LRS 0 130 109 28 273
D5W / LRS 50 130 109 28 525
0,9 % Saline (NS) 0 154 154 0 308
6 % HES 0 154 154 0 310
5 % Albumin/NS 0 154 154 0 310
25 % Albumin 0 154 154 0 310
(rata
2
) ( rata
2
)

Sifat-sifat cairan koloid
Albumin

5

69.000

80

20

>24

Dekstran 70

6

70.000

100

40
#


6-12





(20.000 - 175.000)







Dekstran 40

10

40.000

100

2-3

Kanjiheta
@


6

450.000

100

30

>24





(10.000 - 1.000.000)







Kanjipenta

10

264.000

100

40
@


10
$






(150.000 - 350.000)








Koloid



Kadar
~

(%)



BM
(kisaran dalam d)



Persen
Intravaskular


Tekanan
Osmotik
Koloid
(mm Hg)


Masa Paruh
Intravaskular
(jam)



*
Dimodifikasikan dari Davies MJ. The role of colloids in blood conservation. Int Anesthesiol Clin 1990; 28:205
~
Dalam formulasi yang biasa dipakai di AS
#
Data dari Carlson RW, Rattan S, Haupt MT. Fluid resuscitation in conditions of increased permeability. Anesthesiol Rev
1990; 17:14
@
Kanjiheta dan kanjipenta tersusun dari molekul kanji hidroksietil dengan berbagai BM
$
Data dari Rackow EC, Astiz ME, et al. Effects of pentastarch and albumin infusion on cardiorespiratory function and
coagulation in patients with severe sepsis and systemic hypoperfusion. Crit Care Med 1989; 17:394
ICP AIR OTAK

NaCl 0,9% -
RL
NaCl HIPERTONIK
HES NaCl 0,9% - -
ADAKAH PENGARUH
MACAM CAIRAN RESUSITASI
TERHADAP
HASIL AKHIR ?
Perdarahan hebat:
deplesi cadangan energi

gangguan fungsi membran selular

edema selular
DARAH
TRANSFUSI :
~ Bila Hb < 7 mg/dL (Ht < 21%)
~ Jarang bila Hb > 10 mg/dL (Ht 30%)
~ 7 < Hb < 10 mg/L : manfaat tdk jelas!!
RISIKO TRANSMISI VIRAL & BAKTERIAL
MODULASI IMUN SEKUNDER
RCT:
Hb 7-9 mg% atau 10-12 mg% tidak ber
beda dalam morbiditas dan mortalitas

Russell JA. Fluid Strategy in ARDS: The concept of maintaining
peripheral perfusion. In H Burchardi G, GJ Dobb, J Bion, RP Delinger
(eds) WB Saunders. London 1997p; 17-42.

Multi center study:
Tidak ada perbaikan morbiditas &
mortalitas ps yg menerima transfusi
dg Hb 8 mg% - 10 mg%

Carson JL et al. Perioperative blood transfusion and postoperative
mortality. JAMA. 1998; 279:199-205.
HEMATOKRIT
0
5
10
15
20
25
30
35
40
NORMAL
OPTIMAL
TOLERABEL
%
Tidak ada Hb optimal universal

Pada psn normal biarkan Ht
rendah dan beri terapi besi &
diet tinggi protein bukannya
darah

Transfusi ditentukan kasus per
kasus

Muda sehat 20%
Gagal ginjal kronik 18-22%
Syok septik 30%
Sesudah syok berat 30-40%
PJK 35%
Penyakit paru kronik berat > 40-50%
FDA, USA :
Eritrosit jangan diberikan hanya utk
ekspansi vol, perbaiki KU, percepat
penyembuhan atau sebagai hematinik.

Trombosit jangan diberikan utk
profilaksis.

FFP jangan digunakan utk ekspansi
volume, nutrisi atau profilaksis
NS/Garam fisiologis
Na
+
154 mEq
Cl
-
154 mEq
Pemberian >>
risiko asidosis metabolik
Healy et al. Lactated Ringers is superior to normal saline in a model of massive
hemorrhage and resuscitation. J Trauma. 1998;45:894-899.
HASIL
Resusitasi cairan dgn RL survival rate >>

Tournadre JP et al.Metabolic acidosis and respiratory acidosis impair
gastro-pyloric motility in anesthetized pigs. Anesth Analg. 2000;90:74-79.
HASIL
Asidosis mengganggu motilitas
gastro-pilorus
Peningkatan terjadinya
asidosis metabolik hiperClemia
yg selama ini dianggap tdk
berdampak negatif &akan hilang dgn
sendirinya ternyata dpt mengganggu
perfusi organ akhir &
mekanisme pertukaran sel.

Dexter et al : berdampak negatif pd
RBF & GFR

Mythen MG et al. Electrolyte Composition,Acid Base Balance, and Outcome
in Geriatric Surgical Patients. Symposium on Intraoperative Plasma Volume
Optimization and Postoperative Outcome, 12
th
World Congress of
Anaesthesiologists Montral, Canada. June 7, 2000.
RCT BALANCED-FLUID VS SALINE
Solution Balanced-Fluid Group Saline Group
Colloid Hextend Hespan
Hetastarch 60 g/L (6%) Hetastarch 60 g/L (6%)
Na
+
143 mmol/L Na
+
154 mmol/L
Cl
-
124 mmol/L Cl
-
154 mmol/L
Ca
+
2.5 mmol/L
K
+
3 mmol/L
Magnesium 0.45 mmol/L
Glucose 0.99 g/L
Lactate 28 mmol/L
Crystalloid Hartmann's solution 0.9% Sodium chloride solution
Na
+
131 mmol/L Na
+
154 mmol/L
Cl
-
111 mmol/L Cl
-
154 mmol/L
Ca
+
2 mmol/L
K
+
5 mmol/L
Lactate 29 mmol/L
HASIL
2/3 ps yg diberi Hespan + 0,9% NaCl
asidosis metabolik hiperClemia pd
akhir pembedahan.
Pasien yang diberi Hextend + RL
tidak menunjukkan asidosis
metabolik hiperClemia.
Mythen MG et al. Electrolyte Composition,Acid Base Balance, and Outcome
in Geriatric Surgical Patients. Symposium on Intraoperative Plasma Volume
Optimization and Postoperative Outcome, 12
th
World Congress of
Anaesthesiologists Montral, Canada. June 7, 2000.
ANDA DAPAT MENCEGAH
ASIDOSIS HIPERKLOREMIK
DENGAN MEMBERIKAN
KOMBINASI
KOLOID & RL

EFEK PRO-KOAGULAN KRISTALOID
In vitro:
Ruttmann TG, James MF, Viljoen JF. Haemodilution induces a
hypercoagulable state. Br J Anaesth. 1996;76:412-414.
Egli GA, Zollinger A, Seifert B, et al. Effect of progressive
haemodilution with hydroxyethyl starch, gelatin and albumin on
blood coagulation. Br J Anaesth. 1997;78:684-689.
In vivo:
Ng KF, Lo JW. The development of hypercoagulability state, as
measured by thrombelastography, associated with intraoperative
surgical blood loss. Anaesth Intensive Care. 1996;24:20-25.
Janvrin SB, Davies G, Greenhalgh RM. Postoperative deep vein
thrombosis caused by intravenous fluids during surgery. Br J
Surg. 1980;67:690-693.

Gan TJ et al. Hextend, a physiologically balanced plasma expander for large
volume use in major surgery: a randomized phase III clinical trial. Hextend
Study Group. Anesth Analg. 1999;88:992-998.
,

A : koloid + cairan seimbang ( Ca
+
)
vs
B : koloid + garam fisiologis

HASIL

Sama efektif utk hipovolemia.
A : ~ profil koagulasi > baik (TEG)
~ perdarahan <
B : Kanjiheta 6% dlm NS hipokoagulasi

Ringer laktat
EFEK PRO-KOAGULAN
EFEK SAMPING
(TROMBOSIS VENA DLM, EMBOLISME PARU)
Resusitasi dgn cairan selain dari darah secara praktis
sangat bermanfaat
Anemia ternyata ditoleransikan lebih baik drpd
hipovolemia. Pd perdarahan akut pd orang sehat
anemia dpt ditoleransikan sampai 50%, sedangkan
hipovolemia hanya 30%
Kelebihan cairan dgn kedua macam lar merupakan
peristiwa yg tdk diinginkan
Mempertahankan TOK plasma dipostulasikan sbg
tujuan th/ cairan yg diinginkan; lar koloid lebih
efektif dlm mempertahankan tekanan osmotik
koloid
KRISTALOID vs KOLOID:
area persetujuan
KRISTALOID vs KOLOID:
area persetujuan
LAR. KOLOID MERUPAKAN BENTUK PENGGANTIAN
VOL DARAH YG LEBIH EFISIEN DRPD LAR
KRISTALOID. UTK MENCAPAI TITIK AKHIR
TERTENTU DIPERLUKAN LEBIH SEDIKIT LAR KOLOID
DRPD LAR KRISTALOID
LAR KOLOID LEBIH MAHAL DARI KRISTALOID, LAR
KRISTALOID TDK MENYEBABKAN Rx
ANAKFILAKTOID YG DPT TERJADI DGN KOLOID,
MESKIPUN Rx SPT INI JARANG TERJADI PADA SYOK
HEMODILUSI SEBELUM TRANSFUSI DGN
KRISTALOID ATAU KOLOID BERMANFAAT PADA
RESTORASI VOL DARAH
KRISTALOID vs KOLOID :
area debat (1 dekade yl)
EFEK KOAGULASI
FUNGSI GINJAL
AIR INTERSTISIAL PARU
LAMA RAWAT DI ICU & RS
ANGKA KELANGSUNGAN HIDUP
KEKERAPAN ARDS

Hauser CJ, Shoemaker WC, Turpin I, Goldberg
SJ. Oxygen transport responses to colloid and
crystalloids in critically ill surgical patients. Surgery
1980; 150:811-6.

Kel koloid mengalami perbaikan yg lebih
baik pd variabel hemodinamik tanpa ada
bukti air paru atau terperangkapnya
albumin.
Kel kristaloid pertukaran gas paru lebih
buruk, VO
2
& perbaikan variabel
hemodinamik sedang saja.
Appel PL, Shoemaker WC. Evaluation of
fluid therapy in adult respiratory failure. Crit
Care Med 1981; 9:862-9.

Koloid menyebabkan perbaikan nyata
pd semua variabel hemodinamik &
DO
2
Kristaloid hanya sedikit perbaikan
Ruang interstisial sangat membesar &
tdk ada mekanisme kompensasi utk
mobilisasi & ekskresi cairan.
Pasien sakit kritis
Mekanisme kompensasi
terhadap kelebihan cairan
Edema interstisial gagal organ
Utk penanganan hipovolemia
koloid > baik
Efek koloid yg menguntungkan
mekan TOK
mekan volume darah
sealing effect (HES 100-300 kD)
Mengembalikan aliran darah regional
pd hipovolemia
mekan viskositas, mengganggu
formasi Rouleau, mekan daya adesif
leukosit
Pemantauan hemodinamik
BP & HR
CVP
PAWP
CO
Suhu jari kaki
Capillary refilling
Urine output
Kadar laktat darah
Pemantauan hemodinamik
250 mL bolus cairan (10-15 mnt)
evaluasi
Beri cairan bila :
CO
Tek. pengisian tdk berubah
drastis
Aturan 7 dan 3
(Dr Max Harry Weil dari University of Southern California)
Cairan tantangan
PAWP < 3mmHg : tambah lagi cairan
PAWP > 7mmHg : jangan lagi beri cairan &
pertimbangkan th/ inotropik
PAWP antara 2 & 7mmHg : tunggu 10 mnt utk
melihat apakah tek. pengisian & lihat kurva
fungsi Starling
Bila penambahan cairan mekan PAWP tanpa
mekan CO jangan beri cairan lagi
Pemantauan hemodinamik
Cairan tek. baji & CO jangan beri
cairan lagi
Pertahankan : PAWP 15 mmHg
CO tinggi
MAP > 60 mmHg
Produksi urin 0,5 mL/kg/jam
Terapi cairan rasional
Perkiraan defisit air tiap kompartemen
cairan fisiologis
Krsitaloid / koloid yg tepat utk resusitasi
kompartemen yg memerlukan
Pengurangan ruang intravaskular :
- laju jantung
- TD , TVS
- Urin
RESUSITASI CAIRAN
Disesuaikan untuk setiap pasien
Penilaian kontinyu respons terhadap
terapi
Cairan >> Morbiditas
Cairan << Kegagalan organ
Kehadiran dokter
Pilihan koloid
Perdrhan tanpa indikasi transfusi
BM sedang tinggi (dekstran 70, HES
100-300 kD)
Indikasi transfusi menunggu cocok
silang BM rendah (HES 40.000,
gelatin mod, dekstran 40, poligelin)
Reologi & anti trombosis dekstran
Pilihan koloid
Syok berat krn dehidrasi poligelin
Perdrhan baru syok ringan
isoonkotik
Syok berat hiperonkotik
Kebocoran kapiler HES 100-300 kD
Sawar darah otak Ruang interstisial otak
Lumen kapiler
Sel darah merah

Partikel dg BM tinggi
(misal albumin, dekstran)

Partikel dg BM rendah
(msal Na
+
, Cl
-
, glukosa)
Jaringan


Plasma
Dalam kapiler serebral, adanya BBB mencegah perpindahan partikel
yang sangat kecil di antara lumen kapiler dan ruang interstisial otak. Meningkatkan
osmolalitas plasma dengan infus iv manitol/NaCl hipertonik dapat menciptakan
gradien osmotik di antara otak dan ruang intravaskular yang menyebabkan
perpindahan air dari otak ke dalam kapiler.
Ruang interstisial otak
Kapiler
Sel darah merah

Partikel dg BM tinggi
(misal albumin, dekstran)
Partikel dg BM rendah
(misal Na+, Cl-,glukosa)
Sesudah berbagai cedera otak (misal iskemia, kontusio), mungkin terjadi
kerusakan BBB yang memungkinkan lolosnya partikel-partikel dengan BM rendah
dan tinggi dari lumen kapiler (yaitu kapiler menjadi bocor). Pada kasus berat bahkan
mungkin terjadi ekstravasasi sel darah merah ke dalam interstisial, pemberian larutan
baik hiperosmolar maupun hiperonkotik tidak bermanfaat untuk mengurangi
pembentukan edema pada area yang mengalami cedera. Larutan hiperosmolar masih
mungkin bermanfaatpada area yang jauh dari area cedera di mana BBB masih tetap utuh.
Resusitasi cairan pd kombustio
24 jam pertama :
kehilangan integritas kap pd jar yg rusak
kehilangan cairan isotonik & albumin
dari kompartemen IV ke jar sekitar luka
Beri kristaloid vol > utk ekspansi cairan
ekstraselular
Sesudah 24 jam :
beri koloid vol >
beri kristaloid vol <
TERAPI CAIRAN

Pendekatan Seimbang

Terampil dalam terapi dengan
kedua macam larutan
(Kristaloid & Koloid)
APA YG KITA MILIKI PENTING
NAMUN
YG LEBIH PENTING LAGI :
APA YG BISA KITA PERBUAT
DGN APA YG KITA MILIKI
Primum non nocere

Dengan pemahaman yg lebih baik,
terapi cairan akan memberi hasil optimal,
terhindar dari penyulit yg tidak perlu
Terima kasih !