Anda di halaman 1dari 14

LABORATORIUM SATUAN PROSES

LAPORAN KIMIA ORGANIK


ISOLASI PROTEIN DAN REAKSI-REAKSI PADA PROTEIN

Pembimbing : Bapak Edi Wahyu










Tanggal Percobaan : 27 Mei 2011
Tanggal Penyerahan :4 Juni 2011

PROGRAM STUDI D3-ANALIS KIMIA
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2011


A. Tujuan Percobaan
Percobaan ini bertujuan untuk :
1) Mengisolasi protein dari tahu.
2) Melakukan uji reaksi dari protein.
3) Mengamati sifat-sifat dari protein.

B. Landasan Teori
Protein (protos yang berarti paling utama") adalah senyawa organik kompleks yang
mempuyai bobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam
amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Peptida dan protein
merupakan polimer kondensasi asam amino dengan penghilangan unsur air dari gugus
amino dan gugus karboksil. Jika bobot molekul senyawa lebih kecil dari 6.000, biasanya
digolongkan sebagai polipeptida.
Protein banyak terkandung di dalam makanan yang sering dikonsumsi oleh manusia.
Seperti pada tempe, tahu, ikan dan lain sebagainya. Secara umum, sumber dari protein
adalah dari sumber nabati dan hewani. Protein sangat penting bagi kehidupan organisme
pada umumnya, karena ia berfungsi untuk memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak dan suplai
nutrisi yang dibutuhkan tubuh.
Asam amino merupakan unit pembangun protein yang dihubungkan melalui ikatan
peptida pada setiap ujungnya. Protein tersusun dari atom C, H, O, dan N, serta kadang-
kadang P dan S. Dari keseluruhan asam amino yang terdapat di alam hanya 20 asam amino
yang yang biasa dijumpai pada protein.
Dari struktur umumnya, asam amino mempunyai dua gugus pada tiap molekulnya,
yaitu gugus amino dan gugus karboksil, yang digambarkan sebagai struktur ion dipolar.
Gugus amino dan gugus karboksil pada asam amino menunjukkan sifat-sifat spesifiknya.
Karena asam amino mengandung kedua gugus tersebut, senyawa ini akan memberikan
reaksi kimia yang yang mencirikan gugus-gugusnya. Sebagai contoh adalah reaksi asetilasi
dan esterifikasi. Asam amino juga bersifat amfoter, yaitu dapat bersifat sebagai asam dan
memberikan proton kepada basa kuat, atau dapat bersifat sebagai basa dan menerima proton
dari basa kuat.
Semua asam amino yang ditemukan pada protein mempunyai ciri yang sama, gugus
karboksil dan amino diikat pada atom karbon yang sama. Masing-masing berbeda satu
dengan yang lain pada gugus R-nya, yang bervariasi dalam struktur, ukuran, muatan listrik,
dan kelarutan dalam air. Beberapa asam amino mempunyai reaksi yang spesifik yang
melibatkan gugus R-nya.
Melalui reaksi hidrolisis protein telah didapatkan 20 macam asam amino yang dibagi
berdasarkan gugus R-nya, berikut dijabarkan penggolongan tersebut : asam amino non-polar
dengan gugus R yang hidrofobik, antara lain Alanin, Valin, Leusin, Isoleusin, Prolin,
Fenilalanin, Triptofan dan Metionin. Golongan kedua yaitu asam amino polar tanpa muatan
pada gugus R yang beranggotakan Lisin, Serin, Treonin, Sistein, Tirosin, Asparagin dan
Glutamin. Golongan ketiga yaitu asam amino yang bermuatan positif pada gugus R dan
golongan keempat yaitu asam amino yang bermuatan negatif pada gugus R. Dari ke-20 asam
amino yang ada, dijumpai delapan macam asam amino esensial yaitu valin, leusin, Isoleusin,
metionin, Fenilalanin, Triptofan, Treonin, dan Lisin. Asam amino essensial ini tidak bisa
disintesis sendiri oleh tubuh manusia sehingga harus didapatkan dari luar seperti makanan
dan zat nutrisi lainnya.
Protein tersusun atas asam-asam amino melalui ikatan peptide, yaitu ikatan antara
gugus karboksil (-COOH) dan gugus amina (-NH
2
). Oleh karena itu protein juga disebut
polipeptida.
Ikatan yang terjadi pada protein selain ikatan peptide antar asam-asam amino
penyusunnya, juga terjadi ikatan-ikatan yang lain. Misalnya, ikatan hydrogen yang terjadi
pada gugus N-H dan pada gugus O-H, ikatan disulfide yaitu S S menyokong terjadinya
ikatan yang kompleks pada protein. Ikatan ion pada protein juga terjadi bila di dalamnya
terdapat gugus ion logam, dan ikatan koordinasi, misalnya ikatan koordinasi antara ion Fe
3+

dengan hemoglobin pada darah.
Protein :
H
2
O H
+
{ - NHCHC NHCHC - } H
2
NCHCO
2
H + H
2
NCHCO
2
H + ..
R R Kalor R R



Sifat-sifat protein :
a) Protein sukar larut dalam air Karen ukuran molekulnya yang sangat besar.
b) Dapat mengalami koagulasi oleh pemanasan, penambahan asam atau basa.
c) Bersifat amfoter karena membentuk zwitter ion, pada titik isoelektriknya protein
mengalami koagulasi sehingga dapat dipisahkan dari pelarutnya.
d) Protein dapat mengalami kerusakan (terdenaturasi) oleh pemanasan. Pada
denaturasi protein dapat mengalami kerusakan mulai dari kerusakan struktur
primernya sampai pada struktur tersiernya.
Protein merupakan kelompok biomakromolekul yang sangat heterogen. Ketika
berada di luar makhluk hidup atau sel, protein sangat tidak stabil. Untuk mempertahankan
fungsinya, setiap jenis protein membutuhkan kondisi tertentu ketika diekstraksi dari
normal biological milie. Protein yang diekstraksi hendaknya dihindarkan dari proteolisis
atau dipertahankan aktivitas enzimatiknya.
Untuk menganalisa protein yang ada di dalam sel tersebut, diperlukan prosedur
fraksinasi sel yaitu :
Memisahkan sel dari jaringannya.
Menghancurkan membrane sel untuk mengambil kandungan sitoplasma dan
organelnya.
Memisahkan organel-organel dan molekul penyusunnya.
Isolasi protein yaitu memisahkan protein dari makromolekul yang lain atau
memisahkan protein dengan sifat tertentu dan protein dari protein lain lain yang tidak
diinginkan dalam analisa.
Suatu teknik isolasi dan identifikasi protein harus mempertimbangkan sifat-sifat
fisik, kimiawi dan kelistrikan suatu protein sedemikian rupa sehingga konformasi dan
aktifitasnya tidak berubah. Pada tahap awal isolasi, biasanya digunakan metode yang
memiliki daya pemisah terendah seperti pengendapan dengan ammonium sulfat.
Pengendapan ini dipengaruhi olah berbagai factor antara lain jumlah dan posisi gugus
polar, berat molekul, pH dan temperature larutan.


Pemurnian Protein
Pemurnian protein dilakukan untuk mempelajari sifat dan fungsi protein.
Pemisahan dilakukan berdasarkan ukuran, kelarutan, muatan dan afinitas ikatan.
1. Cara Dialisis
Pemisahan berdasarkan ukuran molekul melalui selaput semipermiabel, dimana
molekul-molekul dengan berat molekul lebih besar dari 15.000 akan tertahan dalam
kantong dialysis. Sedangkan molekul yang berukuran lebih kecil dan juga ion-ion
akan melewati pori-pori selaput semipermiable tersebut keluar dari kantong dialysis.
2. Cara Kromatografi Filtrasi Sel
Pemisahan berdasarkan ukuran molekul. Prinsipnya, larutan dialirkan dari atas kolom
yang berisi butir-butir gel yang terdiri dari karbohidrat berpolimer tinggi. Butir-butir
tersebut dikenal sebagai sephadex. Molekul-molekul berukuran kecil dapat masuk ke
dalam butir-butir sephadex. Sedangkan yang berukuran besar tidak. Karena itu terjadi
pemisahan. Molekul-molekul kecil berada dalam larutan butir-butir sephadex diantara
butir-butir sephadex. Karena molekul-molekul besar akan turun lebih cepat, maka
molekul-molekul besar terelusi atau keluar terlebih dahulu.
3. Cara Kromatografi Pertukaran Ion
Pemisahan berdasarkan muatannya. Bila sebuah protein mempunyai muatan positif
pada pH 7, ia akan terikat pada kolom penukar ion yang berisi gugus yang bermuatan
negative. Sedangkan protein yang bermuatan negative tidak. Protein bermuatan
positif yang terikat dalam kolom dapat dielusi dengan penambahan garam NaCl atau
garam lain pada larutan buffer yang digunakan untuk elusi. Ion Na
+
akan
berkompetensi dengan protein untuk berikatan dengan gugus pada kolom dan secara
bertahap ion Na
+
akan menggantikan kedudukan protein.
C. Alat dan Bahan
1. Alat :
Tabung reaksi + rak dan penjepit 10 buah
Gelas ukur 50 mL dan 100 mL
Pipet ukur 1 mL 3 buah
Gelas kimia 100 mL 1 buah
Pembakar bunsen 1 unit
Bola hisap 2 buah
Pipet tetes 2 buah
Corong Bunchner
Erlenmeyer bertutup
Penjepit tabung
Kaca arloji

2. Bahan :
Tahu/ampas tahu
Kertas saring
Larutan KOH 5%
Larutan CuSO
4
1%
Larutan NaOH 6N
Larutan HCl 6N
Larutan HgCl 1%
Larutan Pb-asetat
Larutan HNO3 pekat
Aquadest
Alcohol 95%
Indicator metal merah
D. Cara kerja
1) Isolasi protein dari tahu
a. Tahu (ampas tahu) yang segar dikeringkan pada temperature yang tidak terlalu
tinggi, kemudian digerus hingga halus.
b. Tahu yang sudah digerus ditimbang sebanyak 15 gram, kemudian dimasukan
kedalam labu Erlenmeyer 250 mL dan ditambahkan 60 mL aquadest dan 30 mL
KOH 5%. Kemudian labu ditutup dan dikocok selama 45 menit.
c. Larutan disaring dengan kain, kedalam filtrat tersebut ditambahkan tetes demi
tetes larutan HCl hingga pH larutan menjadi 4,3.
d. Setelah itu filtrate dipanaskan selama 10 menit. Kemudian disaring dengan
corong Buchner. Setelah itu endapan dipindahkan kedalam gelas arloji yang telah
ditimbang. Endapan kemudian dikeringkan didalam oven pada 100 untuk
menghilangkan air. Setelah itu endapan ditimbang.
2) Reaksi-reaksi protein
1. Kedalam 1 mL larutan protein ditambahkan beberapa tetes alcohol 96%.
2. Kedalam 1 mL larutan protein ditambahkan 1 mL larutan NaOH 6N kemudian
dipanaskan dengan hati-hati, bau gasnya dicium dan larutannya diuji dengan
kertas lakmus.
3. Kedalam 1 mL larutan protein ditambahkan 1 mL larutan NaOH 6N dan
beberapa tetes Pb-asetat, kemudian dipanaskan.
4. Kedalam 1 mL larutan proteinditambahkan 1 mL larutan CuSO4 1% dan
beberapa tetes larutan NaOH 6N.
5. Kedalam 1 mL larutan protein ditambahkan 1 mL HgCl2 1% (reagen Millon).
6. Kedalam 1 mL larutan protein ditambahkan larutan HNO3 pekat. Larutan
dipanaskan kemudian setelah dingin ditambahkan beberapa tetes larutan NaOH
6N sambil dikocok.

E. Data Percobaan
1) Isolasi protein dari tahu
Berat tahu : 15,07 gram
Berat kaca arloji (a) : 84,3840 gram
Berat kertas saring (b) : 0,7832 gram
Berat protein+kertas saring+kaca arloji (c) : 89,5760 gram
Berat protein : c (a+b)
: 89,5760 (84,3840 + 0,7832)
: 4,4088 gram
Kadar :


x 100%
:

x 100%
: 29, 25%




2) Reaksi protein
No. Pereaksi yang ditambahkan
kedalam larutan protein
Pengamatan
1. Alcohol 96% Terbentuk larutan putih seperti susu (suspensi).
2. NaOH 6N Terbentuk larutan beda fasa. Setelah dipanaskan
terbentuk larutan kuning dan membirukan kertas
lakmus merah (tidak larut)
3. NaOH 6N + Pb-asetat Saat ditambahkan NaOH terbentuk larutan beda
fasa, setelah ditambahkan Pb-asetat terbentuk
endapan putih, setelah dipanaskan terbentuk
endapan yang berwarna hitam.
4. Larutan CuSO4 1% +
NaOH 6N
Saat ditambahkan CuSO4 terbentuk suspense
berwarna biru kehijauan, setelah ditambahkan
NaOH larutan menjadi berwarna ungu.
5. Larutan HgCl2 1% Larutan berwarna putih seperti susu.
6. Larutan HNO3 pekat +
NaOH 6N
Saat ditambahkan HNO3 terbentuk suspense
berwarna putih, setelah dipanaskan dan ditambah
NaOH terbentuk endapan merah muda.








PEMBAHASAN

Protein merupakan suatu senyawa organik yang terdiri dari kumpulan asam-asam amino,
dimana setiap asam amino terdiri dari gugus amino, sebuah gugus karboksil dan sebuah
atom hidrogen dan gugus R yang terikat dengan atom C yang dikenal sebagai karbon , serta
gugus R merupakan rantai cabang.
Gambar Struktur Asam Amino

H H O
N C C
H R OH

Dalam percobaannya telah dilakukan analisis terhadap senyawa protein itu. Diantaranya
analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif yang dilakukan untuk
mengetahui reaksi identifikasi protein dalam dan kereaktifan dari protein. Sedangkan
analisis kuantitatif bertujuan untuk mengetahui banyaknya kandungan protein dari suatu
sampel.

1. Isolasi Protein Pada Sampel Tahu.
Merupakan analisis kuantitatif untuk mengetahui perbandingan jumlah protein dalam
sampel. Pertama-tama sampel dikeringkan bertujuan agar kadar air dalam sampel
berkurang karena air dalam sampel dapat mengencerkan preaksi yang digunakan
sehingga preaksi tidak sesuai dengan yang seharusnya (terencerkan oleh air yang
terdapat dalam sampel). Setelah dikeringkan sampel ditambahkan air, dan basa alkali.
Bila suatu protein dihidrolisis dengan asam, alkali atau enzim akan dihasilkan campuran
asam-asam amino. Dalam praktikumnya digunakan NaOH sebagai alkali yang
ditambahkan yang berfungsi untuk memisahkan dalam asam amino dalam sampel.
Kemudian didiamkan selama 45 menit berfungsi mengoptimalkan proses hidrolisis
sehingga asam amino pecah dan terpisah dari sampel.
Karena protein yang telah terhidroslisis strukturnya berubah maka ikatan rantai
polipeptida pada protein mengalami kerusakan inilah yang dinamakan proses denaturasi.
Denaturasi dapat diartikan suatu perubahan atau modifikasi terhadap stuktur
sekunder,tersier dan kuartener tehadap molekul protein tanpa terjadinya pemecahan
ikatan kovalen. Pada praktikumnya setelah ditambahkan basa alkali kemudian
ditambahkan asam hingga pH berada pada pH 5 ini berfungsi untuk melarutkan ekstrak
selain protein, dan juga berfungsi untuk pemekaran dan pengembangan molekul protein
yang terdenaturasi akan membuka gugus reaktif yang ada pada rantai polipeptida
selanjutnya akan terjadi pengikatan kembali pada gugus reaktif yang sama atau
berdekatan, dan bila unit tersebut banyak protein tidak terdispersi lagi sebagai koloid
maka protein tersebut mengalami koagulasi, dan dari praktikum telah didapat koagulasi
dari protein tersebut dan setelah di hitung beratnya telah didapat protein seberat 4,4008
gram.

2. Reaksi Reaksi Pada Protein
a. Reaksi protein dengan alkohol.
Reaksi ini untuk membuktikan kelarutan protein dalam alkohol. Karena protein
sangat banyak jenisnya. Dan menurut kelarutannya protein dibagi kedalam beberapa
kelompok; albumin, globulin, glutelin, prolamin, histon, dan protamin. Yang masing-
masing dari jenis protein tersebut memilki kelarutan yang berbeda-beda dalam setiap
pelarut. Dan pada sampel yang di uji reaksi protein adalah sampel putih telur yang
tergolong jenis albumin karena sampel tersebut larut dalam air dan terkoagulasi oleh
pemanasan. Dan ketika ditambahkan oleh alkohol 95% sampel berubah warna
menjadi berwarna putih seperti endapan, hal ini terjadi karena koloid-koloid protein
pada sampel mengalami koagulasi.
b. Reaksi Protein dengan Basa.
Protein albumin telur tidak terhidolisis dalam basa, ini terbutkti ketika basa (NaOH)
ditambahkan pada sampel, tidak terbentuk suspensi berwarna putih, melainkan hanya
terbentuk larutan yang berbeda fasa. Dan setelah dipanaskan larutan albumin tersebut
berubah menjadi sepeerti timbul endpan putih ini membuktikan bahwa albumin
terkoagulasi oleh panas (tidak tahan panas yang tinggi) dan ketika diamati larutan
sampel yang tadinya berwarna bening berubah menjadi kuning terang ini disebabkan
karena adanya reaksi ion Na dalam basa bereaksi dengan asam amino, dan asam
amino memutuskan ikatan terhadap atom H nya sehingga terjadi reaksi seperti
berikut:

H H O NH2
N C C + NaOH H- C - COONa +H2O
H R OH R

c. Uji Reaksi Timbal Asetat
Dalam suatu protein terdapat beberapa unsur diantaranya C,H,N,O. Bahkan beberapa
jenis protein memiliki unsur S dalam senyawanya. Fungsi dari uji timbal asetat ini
adalah mengidentifikasi apakah dalam protein ini terdapat unsur S atau tidak. Dan
dalam praktikumnya dalam albumin telur yang diuji ternyata protein dari telur
tersebut mengandung unsur S. Ini terbukti ketika sampel ditambahkan Pb-Asetat,
pada sampel timbul endapan Hitam PbS. Karena endapan PbS stabil dalam suasana
basa makan sebelumnya sampel harus dikondisikan dahulu dalam suasana basa oleh
NaOH.

d. Uji Biuret ( CuSO4 dalam NaOH)
Pada praktikum sampel ditambahkan NaOH terlebih dahulu kemudian sampel
protein tersebut ditambahkan CuSO4. Kedua preaksi tersebut adalah preaksi
Biuret. Fungsi dari penambah preaksi biuret ini untuk mendeteksi ada atau
tidaknya ikatan peptida dalam suatu sampel. Karena ada tidaknya suatu protein
dalam suatu sampel dapat dilihat apakaha ada tidaknya ikatan peptida dalam sampel
tersebut. Dengan kata lain suatu protein pasti memilkik ikatan peptida.
Ikatan peptida adalah ikatan yang menghubungkan antara asam amino satu dengan
asam amino lainnya. Ikatan ini terjadi antar atom N pada suatu asam amino dengan
atom C pada asam amino lain yang mengikat atom O.




Reaksi yang terjadi pada uji biuret adalah:

Ikatan peptida tersebut membentuk senyawa kompleks yang berwarna ungu dengan
ion Cu
2+
pada larutan CuSO4 dalam basa. Namun reaksi pada zat organik umumnya
bereaksi sangat lambat sehingga perlu pemanasan dalam proses reaksinya.
e. Uji Pengendapan dengan Ion Logam
Pada larutan protein yang akan diuji, pereaksi yang ditambahkan adalah HgCl 1%
(reagen millon). Pengujian ini digunakan untuk menguji atau mengidentifikasi adanya
senyawa protein yang memiliki gugus fenol seperti tiroksin.
Saat percobaan, penambahan pereaksi millon terhadap larutan protein menghasilkan
larutan berwarna putih pada bagian atas, gumpalan putih dibagian tengah, dan larutan
berwarna kuning pudar pada bagian bawah. Ini menunjukan bahwa reaksi negatif.
Secara literatur, reaksi positif akan didapatkan bila pereaksian tersebut menghasilkan
endapan putih.
Reaksi yang terjadi adalah :
H H
2R C C O
-
+ 2Hg
2+
2R C C O Hg
H NH
2

Endapan Hitam

Reaksi (negatif) artinya di dalam senyawa protein tersebut tidak mengandung fenol.
Pada dasarnya reaksi ini akan positif untuk fenol-fenol, karena terbentuknya senyawa
merkuri dengan gugus hidroksifenil yang berwarna.

f. Uji Xantoprotein
Dalam praktikum larutan sampel terlebih dahulu direaksikan dengan dengan asam
nitrat kemudian ditambahkan NaOH. Ini lah yang disebut dengan uji Xantoprotein.
Fugsi dari uji xantoprotein ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya gugus
benzena dalam sampel protein. Karena protein merupakan senyawa yang kompleks
maka beberapa jenis protein memiliki gugus benzena didalamnya. Mekanismenya
adalah proses nitrasi langsung dari asam nitrat terhadap gugus benzen pada protein.
Apabila dalam suatu protein terdapat gugus benzena maka reaksi ditandai dengan
perubahan warna sampel menjadi orange setelah penambahan NaOH (basa),
biasanya warna timbul dan berada diantara lapisan NaOH dan sampel protein.
Didalam literatur protein pada putih terlur (albumin) memiliki gugus benzen. Namun
pada praktikumnya, data pengamatan yang didapat setelah melalui proses nitrasi
sampel protein berubah warna menjadi berwarna merah muda (pink). Ini terjadi
karena adanya kemungkinan preaksi yang rusak atau adanya kontaminan pada
preaksi sehingga warna yang timbul menjadi merah muda.
Reaksi yang terjadi adalah :
H H HCN OH
-
N C C = O + HNO
3
NH
2
- NO
2


Jingga
H CH
2
OH
NO
2
Kuning





F. Kesimpulan
Dari hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa:
1. protein pada putih telur tergolong jenis protein albumin yang merupakan
gabungan beberapa asam amino yang sangat kompleks. Didalamnya terdapat
ikatan peptida, gugus benzena, dan berikatan dengan atom S.
2. Dari hasil isolasi protein telah didapat bahwa kadar protein dalam sampel berada
disekitar 29, 25%


G. Daftar Pustaka
Girindra, A. 1986. Biokimia I. Gramedia, Jakarta.
Lehninger, A. 1988. Dasar-dasar Biokimia. Terjemahan Maggy Thenawidjaya. Erlangga,
Jakarta.
http://www.rismaka.net/2009/06/uji-kualitatif-protein-dan-asam-amino.html