Anda di halaman 1dari 5

Reaksi Eksoterm dan Reaksi Endoterm

Perubahan entalpi (H) positif menunjukkan bahwa dalam perubahan terdapat penyerapan kalor atau
pelepasan kalor. Reaksi kimia yang melepaskan atau mengeluarkan kalor disebut reaksi eksoterm,
sedangkan reaksi kimia yang menyerap kalor disebut reaksi endoterm.


A. REAKSI EKSOTERM
Reaksi eksoterm adalah reaksi yang melepaskan kalor. Reaksi eksoterm merupakan reaksi yang disertai
dengan perpindahan kalor dari sistem ke lingkungan ( kalor dibebaskan oleh sistem ke lingkungannya )
ditandai dengan adanya kenaikan suhu lingkungan di sekitar sistem.
Contoh reaksi eksoterm pelarutan amonium khlorida, adalah .
NH
4
Cl(s) + Air NH
4
Cl(aq) H=-38,2 kkal/mol

Selain itu, contoh reaksi eksoterm dikehidupan sehari-hari adalahmembakar minyak tanah di kompor
minyak dan nyala api unggun.


Pada reaksi eksoterm , sistem membebaskan energi, sehingga entalpi sistem akan berkurang, artinya
entalpi produk lebih kecil daripada entalpi pereaksi. Oleh karena itu , perubahan entalpinya bertanda
negatif.

B. REAKSI ENDOTERM
Reaksi endoterm adalah reaksi yang menyerap kalor. Reaksi endoterm merupakan reaksi yang disertai
dengan perpindahan kalor dari lingkungan ke sistem ( kalor diserap oleh sistem dari lingkungannya )dan
ditandai dengan adanya penurunan suhu lingkungan di sekitar sistem.
Contoh reaksi endoterm:
Ca(OH)
2
(aq) CaO(s) + H
2
O(l)

Senin, 08 April 2013 | By Retno Mayapada
http://retnomayapada.blogspot.com/2013/04/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html
dasar teori panas pelarutan
Hubungan H vs Molalitas
KCl

Grafik IV.4 Grafik H vs molalitas KCl
Dari grafik terlihat bahwa semakin besar molalitas maka H semakin kecil. Semakin besar molalitas
disebabkan karena semakin banyak jumlah solute yang ditambah pada solvent. Oleh karena itu makin
besar energi yang dibutuhkan untuk melarutkan solute dan mencapai keadaan yang setimbang dalam
larutan, sehingga panas yang diserap juga makin besar. Hal ini merupakan reaksi endoterm karena
terjadi penyerapan H positif. menyebabkan nilai H makin kecil dan menunjukkan bahwa reaksi yang
tejadi pada KCl
Dapat dilihat dalam rumus :
(i) Q = n H (ii) C =

C = H =
H = dan H = maka H =
= =
= = Cp ( T2- T1 )
H = - Cp ( T2- T1 )
Dimana molal sebanding dengan n (mol ) dari rumus m = . Karena T = suhu konstan2 suhu konstan1,
sehubungan dengan penurunan suhu maka suhu konstan2 lebih kecil dari suhu koknstan1 maka didapat
nilai H positif yang menunjukkan reaksi endoterm. Dari rumus di atas dapat dilihat bahwa semakin
besar molal maka H makin kecil.
Na2S2O3

Grafik IV.5 Grafik H vs molalitas Na2S2O3
Dari grafik terlihat bahwa semakin besar molalitas maka H ( panas pelarutan ) juga semakin besar.
Semakin besar molalitas disebabkan oleh makin banyaknya jumlah solute yang ditambahkan pada
solvent. Oleh karena itu makin besar energi yang dilepaskan untuk melarutkan solute dan mencapai
keadaan setimbang. Dimana Na2S2O3 mengeluarkan panas ke lingkungan yang menyebabkan nilai H
main besar. Hal ini menujukkan bahwa reaksi yang terjadi pada solute Na2S2O3 merupakan reaksi
eksoterm ditandai dengan naiknya suhu larutan sebelum mencapai suhu konstan dan nilai H yang
negatif menunjukan bahwa Na2S2O3 melepaskan kalor energi. Hal ini dilihat pada rumus :
(i) Q = n H (ii) C =

C = H =
H = dan H = maka H =
= =
= = Cp ( T2- T1 )
H = - Cp ( T2- T1 )
Dimana molal sebanding dengan n (mol ) dari rumus m = . Karena T = suhu konstan2 suhu konstan1,
sehubungan dengan kenaikan suhu maka suhu konstan2 lebih besar dari suhu koknstan1 maka didapat
nilai H negatif yang menunjukkan reaksi eksoterm. Dari rumus di atas dapat dilihat bahwa semakin
besar molal maka H makin besar.
NaOH

Grafik IV.6 Grafik H vs molalitas NaOH
Dari grafik terlihat bahwa semakin besar molalitas maka H ( panas pelarutan ) juga semakin besar.
Semakin besar molalitas disebabkan oleh makin banyaknya jumlah solute yang ditambahkan pada
solvent. Oleh karena itu makin besar energi yang dilepaskan untuk melarutkan solute dan mencapai
keadaan setimbang. Dimana NaOH mengeluarkan panas ke lingkungan yang menyebabkan nilai H main
besar. Hal ini menujukkan bahwa reaksi yang terjadi pada solute NaOH merupakan reaksi eksoterm
ditandai dengan naiknya suhu larutan sebelum mencapai suhu konstan dan nilai H yang negatif
menunjukan bahwa NaOH melepaskan kalor energi. Hal ini dilihat pada rumus :
(i) Q = n H (ii) C =

C = H =

H = dan H = maka H =
= =
= = Cp ( T2- T1 )
H = - Cp ( T2- T1 )
Dimana molal sebanding dengan n (mol ) dari rumus m = . Karena T = suhu konstan2 suhu konstan1,
sehubungan dengan kenaikan suhu maka suhu konstan2 lebih besar dari suhu koknstan1 maka didapat
nilai H negatif yang menunjukkan reaksi eksoterm. Dari rumus di atas dapat dilihat bahwa semakin
besar molal maka H makin besar.

Hubungan antara Waktu dengan Suhu Konstan
Perbandingan Suhu Konstan Solute Variabel dengan Solute Standar

Gambar IV.7 Grafik Perbandingan Suhu Konstan
Pada hasil percobaan dapat kita lihat bahwa pada penambahan KCl dan Na2S2O3 suhunya lebih rendah
daripada saat penambahan NaCl. Namun pada pada penambahan NaOH suhu campuran lebih tinggi
dibandingkan saat penambahan solute standar yaitu NaCl. Hal ini disebabkan karena perbedaan H
masing - masing solute. H KCl dan Na2S2O3 lebih besar dibandingkan dengan H NaOH sehingga panas
yang diambil dari aquadest lebih besar mengakibatkan suhu aquadest turun lebih kecil daripada saat
penambahan NaCl.

http://chubbypesek.blogspot.com/2012/04/dasar-teori-panas-pelarutan.html








PKF 1-1 Entalpi Pelarutan
4.2. Pembahasan
Panas pelarutan adalah panas yang menyertai reaksi kimia pada pelarutan mol zat pelarut
dalam mol terlarut pada tekanan dan temperatur yang sama. Panas pelarutan didefinisikan
sebagai perubahan entalpi yang terjadi bila dua zat atau lebih zat murni dalam keadaan standar
dicampur pada tekanan dan temperatur tetap untuk membuat larutan. Hal ini disebabkan adanya
ikatan kimia dari atom- atom. Pada tekanan dan temperatur tetap, panas pelarutan disebabkan
karena pembentukan ikatan kimia baru dari asam- asam pelarutan, perubahan gaya antara
molekul tak sejenis dengan molekul sejenis. Pada peristiwa pelarutan, kadang-kadang terjadi
perubahan energi, hal ini disebabkan adanya perbedaan gaya tarik-menarik antara molekul
sejenis. Gaya ini jauh lebih kecil daripada gaya tarik pada ikatan kimia, sehingga panas pelarutan
biasanya jauh lebih kecil daripada panas reaksi.
Pembuatan larutan dapat dilakukan dengan melarutkan suatu padatan pada pelarutnya.
Pelarutan dapat dipercepat dengan proses agitasi atau pengadukan. Ketika suatu larutan diaduk
maka partikel-partikel zat dalam larutan akan bergerak semakin tidak beraturan yang
memungkinkan terjadinya keserbasamaan partikel zat dalam larutan. Keserbasamaan ini dapat
disebut dengan istilah homogen. Untuk memudahkan dalam pelarutan suatu zat dapat juga
dilakukan dengan merubah temperatur. Pengaruh temperatur tergantung dari panas pelarutan.
Bila panas pelarutan (H) negatif, daya larut turun dengan naiknya temperatur. Bila panas
pelarutan (H) positif, daya larut naik dengan naiknya temperatur. Tekanan tidak begitu
berpengaruh terhadap daya larut zat padat dan cair, tetapi berpengaruh pada daya larut gas.
Banyaknya zat yang larut dalam suatu proses pelarutan akan berpengaruh terhadap
konsentrasi larutan tersebut. Semakin banyak zat yang larut maka konsentrasi suatu larutan akan
lebih tinggi. Sebaliknya, konsentrasi dari suatu larutan akan melemah karena jumlah partikel
yang terlarut semakin sedikit. Pada proses pelarutan asam oksalat sampai jenuh akan
menghasilkan kristal-kristal asam oksalat saat temperatur larutan diturunkan dari suhu kamar.
Semakin rendah temperatur larutan asam oksalat maka jumlah kristal asam oksalat yang
mengendap semakin banyak. Hal ini disebabkan karena panas pelarutan asam oksalat bersifat
positif yang artinya kelarutan akan meningkat bila temperatur dinaikkan. Fenomena ini dapat
diamati pada larutan asam oksalat pada temperatur 30
o
C hampir tidak ada endapan yang
terbentuk. Ketika diturunkan menjadi 25
o
C maka endapan mulai terbentuk. Endapan kristal asam
oksalat akan semakin banyak seiring dengan penurunan suhu. Pada suhu 5
o
C dihasilkan banyak
endapan kristal asam oksalat di bagian bawah erlenmeyer dibandingkan dengan kelarutan asam
oksalat pada tiap-tiap temperatur yang dilakukan pada percobaan.

http://agungm92.blogspot.com/2012/02/pkf-1-1-entalpi-pelarutan.html


KIMIA PERCOBAAN I
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Larutan
Larutan yang menggunakan air sebagai pelarut dinamakan larutan dalam air atau aqueous.
Larutan yang mengandung zat terlarut dalam jumlah banyak dinamakan larutan pekat. Jika
jumlah zat terlalu sedikit, larutan dinamakan larutan encer. Larutan adalah campuaran yang
homogen dari dua atau lebih zat. Zat yang jumlahnya lebih sedikit disebut zat terlarut (solute),
sedangkan yang jumlahnya lebih banyak disebut pelarut (Chang,2003).
Komposisi dan sifat fase suatu larutan berbeda dengan air murni. Larutan merupakan
campuran yang terdiri dari dua bahan. Larutan terbagi menjadi larutan homogen dan larutan
heterogen. Larutan homogen mempunyai sifat-sifat yang sama diseluruh cairan, sedangkan
larutan heterogen merupakan campuran dua fase dan memiliki sifat-sifat yang tidak seragam
(Achmadi, 2004).
Larutan adalah campuran molekul (atom atau ion dalam bneberapa hal), biasanya molekul-
molekul pelarut agak berjauhan dalam larutan dibanding dalam pelarut murni. Sehingga
pembentukan larutan dapat dibuat sebagai suatu proses hipotesis berikut: pertama, jarak antara
molekul-molekul meningkat menjadi jarak rata-rata yang ditampilkan dalam larutan. Tahap ini
memerlukan penyerapan energi untuk melampaui gaya-gaya intermolekul kohesi. Tahap ini
disertai dengan peningkatan entalpi, reaksinya adalah endoterm. Dalam tahap endoterm kedua,
pemisahan yang sama terhadap molekul-molekul terlarut terjadi. Tahap ketiga dan terakhir
adalah membiarkan molekul-molekul pelarut dan terlarut untuk bercampur. Gaya tarik
intermolekul diantara molekul tak sejenis menyebabkan pelepasan energi, entalpi menurun
dalam tahap ini (Achmadi,2004).

http://laporan-aprilia.blogspot.com/2012/02/v-behaviorurldefaultvmlo.html