Anda di halaman 1dari 23

i

SINTAKSIS
(Pengertian Sintaksis, Alat-Alat Sintaksis, Satuan Sintaksis dan Hubungan
Antarsatuan Sintaksis, serta Analisis Sintaksis)

Makalah ini Disusun dalam Rangka Memenuhi Tugas
Mata Kuliah KD Bahasa dan Sastra Indonesia 2
Dosen Pengampu: Hartono, M. Hum.



Disusun oleh:
Kelompok: 1-A
1. Ade Rahma Damayanti K7113001
2. Adittya Hidayat K7113002
3. Affif Firdaus Subarkah K7113005
4. Aginia Ashari K7113006
Kelas: 3-A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2014


ii

KATA PENGATAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas limpahan
rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul
Sintaksis. Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Konsep
Dasar Bahasa dan Sastra Indonesia 2.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Hartono, M. Hum. selaku dosen
pengampu mata kuliah Konsep Dasar Bahasa dan Sastra Indonesia 2 yang telah
membimbing penulis dalam penyusunan makalah ini. Serta berbagai sumber yang
penulis pergunakan sebagai referensi dalam makalah ini.
Penulis telah berusaha menyelesaikan makalah ini dengan sebaik-baiknya,
namun apabila masih ada kekurangan, kritik dan saran penulis harapkan demi
sempurnanya makalah ini.
Akhir kata, semoga makalh ini dapat bermanfaat bagi penulis pada
khususnya dan pembaca pada umumnya.


Surakarta, September 2014


Penulis



iii

DAFTAR ISI

halaman
JUDUL ..................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ............................................................................. ii
DAFTAR ISI ........................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ......................................................................... 1
C. Tujuan Penulisan................................................ ........................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Sintaksis ...................................................................... 2
B. Alat-Alat Sintaksis ........................................................................ 2
C. Satuan Sintaksis dan Hubungan Antarsatuan Sintaksis ................ 3
D. Analisis Sintaksis .......................................................................... 16
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan .................................................................................. 18
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... v

iv

DAFTAR GAMBAR

halaman
Gambar 2.1. Skema Jenis Kalimat menurut Faisal (2006)...................... 10


1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam kehidupan manusia membutuhkan komunikasi. Komunikasi
yang berlangsung dapat secara lisan maupun tulisan. Dari dua bentuk
komunikasi tersebut, masing-masing membutuhkan keterampilan
berbahasa yang memadahi untuk menghasilkan komunikasi yang efektif
dan efisien. Efektif dan efisien dalam berbahasa akan sangat dipengaruhi
oleh keterampilan berbahasa khususnya keterampilan dalam penyusunan
kalimat yang akan digunakan untuk berkomunikasi.
Penyusunan kalimat berawal dari pemahaman mengenai makna
kata sebagai penyusun kalimat, yang selanjutnya akan membentuk sebuah
frase, klausa, dan akhirnya terbentuklah kalimat untuk berkomunikasi.
Sehingga penting pemahaman tentang sintaksis sebagai sebuah cabang
ilmu bahasa untuk diketahui agar komunikasi menjadi efektif dan efisien.
Dalam makalah ini akan dibahas mengenai pengertian sintaksis,
alat-alat sintaksis, satuan sintaksis dan hubungan antarsatuan sintaksis,
serta analisis sintaksis.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian sintaksis?
2. Apa saja dan bagaimana alat-alat sintaksis?
3. Bagaimana satuan sintaksis dan hubungan antarstuan sintakasis?
4. Bagaimana analisis sintaksis?

C. Tujuan Penulisan
1. Menjelaskan pengertian sintaksis.
2. Menjelaskan alat-alat sintaksis.
3. Menjelaskan satuan sintaksis dan hubungab antarsatuan sintaksis.
4. Menjelaskan analisis sintaksis

2

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Sintaksis
Secara etimologi, sintaksis berasal dari Bahasa Yunani, yaitu sun yang
berarti dengan dan tattein yang berarti menempatkan. Jadi, sintaksis berarti
menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat.
Berikut ini beberapa pendapat para ahli mengenai pengertian sintaksis.
1. Sitindoan menyatakan bahwa sintaksis ialah cabang dari tata
bahasa yang mempelajari hubungan kata atau kelompok kata dalam
kalimat dan menerangkan hubungan-hubungannya yang terjadi.
2. Ramlan (2001) menyatakan bahwa sintaksis ialah cabang dari ilmu
bahasa yang membicarakan seluk-beluk wacana, kalimat, klausa,
dan frase.
3. Manaf (2009) menjelaskan bahwa sintaksis adalah cabang
linguistik yang membahas struktur internal kalimat. Struktur
internal yang dibahas adalah frase, klausa, dan kalimat.
4. Tarigan (1984) mengemukakan bahwa sintaksis adalah salah satu
cabang dari tata bahasa yang membicarakan struktur kalimat,
klausa, dan frase.
Jadi, pengertian dari sintaksis adalah cabang ilmu bahasa yang membahas
hubungan gramatikal antar kata dalam suatu kalimat.

B. Alat-Alat Sintaksis
Dalam setiap bahasa ada seperangkat kaidah yang sangat menentukan
apakah kata-kata yang ditempatkan bersama-sama tersebut akan berterima
atau tidak. Perangkat kaidah ini sering disebut sebagai alat-alat sintaksis,
yaitu urutan kata, bentuk kata, intonasi, dan konektor yang biasanya berupa
konjungsi.
Keunikan setiap bahasa berhubungan dengan alat-alat sintaksis ini. Ada
bahasa yang lebih mementingkan urutan kata daripada bentuk kata. Ada pula
3



bahasa yang lebih mementingkan intonasi daripada bentuk kata. Bahasa Latin
sangat mementingkan bentuk kata daripada urutan kata. Sebaliknya, bahasa
Indonesia lebih mementingkan urutan kata.

C. Satuan Sintaksis dan Hubungan Antarsatuan Sintaksis
Sintaksis memiliki unsur-unsur pembentuk yang disebut dengan istilah
satuan sintaksis. Satuan tersebut adalah kata, frase, klausa, dan kalimat.
Pembahasan kata dalam tataran sintaksis berbeda dengan pembahasan kata
pada tataran morfologi. Dalam tataran sintaksis, kata merupakan satuan
terkecil yang membentuk frase, klausa, dan kalimat. Oleh karena itu kata
sangat berperan penting dalam sintaksis, sebagai pengisi fungsi sintaksis,
penanda kategori sintaksis, dan sebagai perangkai satuan-satuan sintaksis.
Kata dapat dibedakan atas dua klasifikasi yaitu kata penuh dan kata tugas.
Berikut contohnya.

Saya dan Nina sedang mengerjakan tugas matematika ketika ibu dan
kakak sedang memasak gulai ikan.
Contoh di atas dapat diklasifikasikan atas:
1. Satu kalimat:
Saya dan Nina sedang mengerjakan tugas matematika
ketika ibu dan kakak sedang memasak sayur asem.
2. Dua klausa:
Saya dan Nina sedang mengerjakan PR matematika
Ibu dan kakak sedang memasak sayur asem
3. Enam frase:
Saya dan Nina
Sedang mengerjakan
Tugas matematika
Ibu dan kakak
Sedang memasak
Sayur asem
4



Frase biasa didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang terdiri dari dua
kata atau lebih dan tidak memiliki unsur predikat. Unsur-unsur yang
membentuk frase adalah morfem bebas. Ramlan (1981) membagi frase
berdasarkan kesetaraan distribusi unsur- unsurnya atas dua jenis, yakni frase
endosentrik dan frase eksosentrik.
1. Frase endosentrik
Frase endosentrik yang distribusi unsur-unsurnya setara dalam
kalimat. Frase endosentrik terbagi atas tiga jenis:
a. Frase endosentrik koordinatif yakni frase yang unsur-
unsurnya setara, dapat dihubungkan dengan kata dan, atau,
misalnya :
o rumah pekarangan
o kakek nenek
o suami isteri
b. Frase endosentrik atributif, yakni frase yang unsur-
unsurnya tidak setara sehingga tidak dapat disisipkan kata
penghubung dan, atau, misalnya:
o buku baru
o sedang belajar
o belum mengajar
c. Frase endosentrik apositif, yakni frase yang unsurnya bisa
saling menggantikan dalam kalimat tapi tidak dapat
dihubungan dengan kata dan, atau, misalnya:
o Almin, anak Pak Darto sedang membaca
o - ,anak Pak Darto sedang belajar
o Ahmad, - sedang belajar
2. Frase eksosentrik adalah frase yang tidak mempunyai distribusi
yang sama dengan semua unsurnya, misalnya: di pasar, ke sekolah,
dari kampung. Frase ditinjau dari segi persamaan distribusi dengan
golongan atau kategori kata, terdiri atas: frase nominal, frase
5



verbal, frase ajektival, frase, pronomina, frase numeralia.
(Depdikbud, 1988).
a. Frase verbal adalah satuan bahasa yang terbentuk dari dua
kata atau lebih dengan verba (kata kerja) sebagai intinya
dan tidak merupakan klausa. Misalnya:
o Kapal laut itu sudah berlabuh
o Bapak saya belum pergi
o Ibu saya sedang mencuci
b. Frase nominal adalah dua buah kata atau lebih yang intinya
dari dari nominal atau benda dan satuan itu tidak
membentuk klausa. Misalnya:
o Kakek membeli tiga buah layang-layang.
o Amiruddin makan beberapa butir telur itik.
o Syarifuddin menjual tigapuluh kodi kayu besi
c. Frase adjektival adalah satuan gramatik yang terdiri atas
dua kata atau lebih sedang intinya adalah adjektival (sifat)
dan satuan itu tidak membentuk klausa. Misalnya:
o Ibu bapakku sangat gembira
o Baju itu sangat indah
o Mobil ferozamu baru sekali
d. Frase pronomina adalah dua kata atau lebih yang intinya
pronomina (kata ganti) dan hanya menduduki satu fungsi
dalam kalimat. Misalnya:
o Saya sendiri akan pergi ke pasar
o Kami sekalian akan bekunjung ke Museum Jogja
Kembali
o Kamu semua akan pergi studi wisata ke Kota Tua
e. Frase numeralia adalah dua kata atau lebih yang hanya
menduduki satu fungsi dalam kalimat namun satuan
gramatik itu intinya pada numeralia (kata bilangan).
Misalnya:
6



o Tiga buah rumah sedang terbakar
o Lima ekor burung sedang terbang
o Sepuluh bungkus kue akan dibeli
f. Frase preposisi yaitu frase yang ditandai adanya preposisi
atau kata depan sebagai penanda dan diikuti kata atau
kelompok kata (bukan klausa) sebagai petanda. Misalnya:
o ke rumah teman
o dari sekolah
o untuk saya
g. Frase konjungsi yaitu frase yang ditandai adanya konjungsi
atau kata sambung sebagai penanda dan diikuti klausa
sebagai petanda. Karena penanda klausa adalah predikat,
maka petanda dalam frase konjungsi selalu mempunyai
predikat. Misalnya:
o Sejak kemarin dia terus diam di situ
Ramlan menyebut frase tersebut sebagai frase
keterangan, karena keterangan menggunakan kata yang
termasuk dalam kategori konjungsi.

Kridalaksana (1982) bahwa klausa adalah satuan gramatikal berupa
kelompok kata yang sekurang-kurangnya tediri dari subjek dan predikat dan
mempunyai potensi untuk menjadi kalimat. Sedangkan Ramlan (1981)
menyatakan bahwa klausa dijelaskan sebagai satuan gramatik yang terdiri
atas dari P, baik disertai S, O, PEL, dan KET atau tidak. Dengan ringkas
klausa ialah (S) P (O), (PEL) (KET). Tanda kurung menandakan bahwa apa
yang terletak dalam kurung itu bersifat manasuka, artinya boleh ada, boleh
juga tidak ada.
Jadi, klausa adalah satuan sintaksis berbentuk rangkaian kata-kata yang
berkonstruksi predikatif. Di dalam klausa ada kata atau frase yang berfungsi
sebagai predikat. Selain itu, ada pula kata atau frase yang berfungsi sebagai
subjek, objek, dan keterangan.
7



Berdasarkan pengertian di atas, klausa adalah satuan gramatik yang unsur-
usurnya minimal terdiri atas Subjek-Predikat dan maksimal unsurnya terdiri
atas Subjek-Predikat-Objek-Pelengkap-Keterangan. Misalnya:
Saya makan
Saya sedang makan nasi
Saya sedang makan nasi kemarin
Saya sedang memasakkan nasi kakakku
Dilihat dari segi kategori kata atau frase yang menduduki fungsi Predikat,
klausa terdiri atas klausa nominal, klausa verbal, klausa bilangan, dan klausa
depan. ( Ramlan,1981).
1. Klausa nominal adalah klausa yang predikatnya terdiri dari kata
atau frase golongan nomina. Misalnya:
Dia seorang sukarelawan (golongan nomina yang berfungsi
sebagai predikat)
Mereka bukan sopir angkot (golongan nomina yang
menunjukkan kelompok orang)
Ia guru IPA (golongan nomina yang berfungsi sebagai
predikat)
Yang dibeli pedagang itu kayu (golongan nomina yang
menunjukkan benda)
2. Klausa verbal adalah klausa yang predikatnya terdiri dari kata atau
frase kategori verbal, dan klausa vebal terbagi atas empat jenis,
yakni:
a. Klausa verbal yang ajektif adalah klausa yang predikatnya
dari kata golongan verbal yang termasuk kategori sifat
sebagai pusatnya. Misalnya:
Rumahnya sangat luas
Motornya sangat mahal
Rumahnya indah sekali
8



b. Klausa verbal intransitif adalah klausa yang predikatnya
dari kata golongan kata kerja intransitif (tanpa obyek
langsung) sebagai unsur intinya. Misalnya:
Burung merpati sedang terbang di angkasa
Adikku sedang bermain-main di lapangan
Pesawat Lion Air belum mendarat di Lanud
Hasanuddin
c. Klausa verbal yang aktif adalah klausa yang predikatnya
dari kata golongan verbal yang transitif (dengan obyek
langsung) sebagai unsur intinya. Misalnya:
Ibuku sedang mencuci piring
Pamanku sedang mengajarkan IPS
Para mahasiswa sedang mengikuti pelatihan
pramuka
d. Klausa verbal yang reflektif adalah klausa yang predikatnya
dari kata verbal yang tergolong kata kerja reflektif.
Misalnya:
Mereka sedang mendinginkan diri
Anak-anak itu sedang menyelamatkan diri
Kakek Ady telah mengobati peenyakinya
e. Klausa verbal yang resiprok adalah klausa yang
predikatnya dari kata golongan verbal yang termasuk kata
keja resiprok (kebalikan). Misalnya:
Mereka saling melempar batu karang.
Mereka tolong menolong di sungai
Anak-anak itu ejek-mengejek di sekolah
3. Klausa bilangan adalah klausa yang predikatnya dari kata atau
frase golongan bilangan. Misalnya:
Kaki meja itu empat buah
Mobil itu delapan rodanya
Rumah panggung itu duapuluh tiangnya
9



4. Klausa depan adalah klausa yang predikatnya dari kata atau frase
depan yang diawali kata depan sebagai penanda. Misalnya:
Baju dinas itu untuk pegawai pemda
Mobil itu dari Amerika
Makanan lezat itu buat adik-adikmu

Ahli tata bahasa tradisional menyatakan bahwa kalimat adalah satuan
kumpulan kata yang terkecil yang mengandung pikiran yang lengkap. Keraf
(1984) mendefinisikan kalimat sebagai satu bagian dari ujaran yang didahului
dan diikuti oleh kesenyapan, sedang intonasinya menunjukkan bagian ujaran
itu sudah lengkap. Kridalaksana (1982) bahwa kalimat adalah satuan bahasa
yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara
aktual dan potensial terdiri dari klausa.
Dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1988) dinyatakan bahwa
kalimat adalah bagian terkecil ujaran atau teks (wacana) yang
mengungkapkan pikiran yang utuh secara kebahasaan.Dalam wujud lisan,
kalimat diiringi oleh alunan titinada, disela oleh jeda, diakhiri oleh intonasi
selesai, dan diikuti oleh kesenyapan yang memustahilkan adanya perpaduan
atau asimilasi bunyi. Dalam wujud tulisan, kalimat dimulai dengan huruf
kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda tanya, atau tanda seru
Jadi, kalimat adalah satuan sintaksis yang terdiri dari konstituen dasar,
yang biasanya berupa klausa, dilengkapi dengan konjungsi bila diperlukan
dan disertai intonasi final.
Berdasarkan bentuknya, kalimat dapat dikelompokkan atas dua jenis:
kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Kedua jenis kalimat tersebut masing-
masing terbagi atas beberapa jenis. Berikut skema yang dikemukakan Faisal
(2006).
10




Gambar 2.1. Skema Jenis Kalimat menurut Faisal (2006)

1. Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal adalah kalimat yang hanya terdiri atas satu pola
(SP, SPO, SPOK) atau kalimat yang hanya terdiri atas satu klausa.
Contoh:
Dia pergi
Dia melempar mangga
Ahmad pergi ke pasar kemarin sore
Jenis kalimat tunggal terdiri atas empat macam, yakni kalimat
nominal, kalimat verbal, kalimat ajektival, dan kalimat
preposisional. Kelima jenis kalimat tunggal tersebut adalah sebagai
berikut.
a. Kalimat nominal yakni kalimat tunggal yang predikatnya
dari kata benda. Misalnya:
Ibuku petani sawah
Ayahku pegawai kantor pajak.
Kakakku tukang kayu.
11



b. Kalimat verbal yakni kalimat tunggal yang predikatnya
dibentuk dari kata kerja/ verbal. Kalimat verbal terdiri atas
lima macam yakni kalimat verbal intransitif, ekatransitif,
dwitransitif, semitransitif, dan pasif.
1) Kalimat intransitif adalah kalimat tunggal yang
predikatnya tidak memerlukan objek. Misalnya:
Pak Dede belum pergi ke kantor
Ibunya sedang berenang di kolam
2) Kalimat ekatransitif, yakni kalimat tunggal yang
predikatnya hanya memerlukan objek tanpa diikuti
pelengkap. Misalnya:
Saya makan nasi goreng
Ibu mencuci pakaian
3) Kalimat dwitransitif adalah kalimat tunggal yang
predikatnya memerlukan objek dan pelengkap.
Misalnya:
Ali membelikan adiknya baju tadi malam
Suwarni mendengarkan lagu di kamar
4) Kalimat semitransitif adalah kalimat tunggal yang
predikatnya dari semitransitif. Misalnya:
Rumah Pak Desa kemasukan pencuri
Ibu Aminah kedatangan tamu dari Jakarta
5) Kalimat pasif adalah kalimat tunggal yang
predikatnya biasanya dari kata kerja berawalan di-.
Misalnya:
Rumah itu dibeli oleh Pak Alimin Syahid.
Mobil itu dijual oleh Toko Mandala.
c. Kalimat ajektival yakni kalimat tunggal yang predikatnya
dari kata sifat atau ajektival. Misalnya:
Buku Bahasa Inggrisku sangat tebal
Keluarga itu sangat sopan dan bijaksana
12



d. Kalimat preposisional yakni kalimat tunggal yang
predikatnya dari kata depan atau preposisi. Misalnya:
Tempat tinggalnya di Jakarta
Beras ciliwung itu dari Sidrap
Sedangkan dilihat dari maknanya, kalimat tunggal dapat
dikelompokkan atas empat macam, yakni: kalimat berita, kalimat
tanya, kalimat perintah, dan kalimat seru. Berikut penjelasannya.
a. Kalimat berita adalah kalimat yang digunakan bila kita
ingin mengutarakan suatu peristiwa atau kejadian yang kita
alami dan atau yang dialami orang lain. Misalnya:
Ali pergi ke Jakarta kemarin.
Jalan itu sangat licin.
Kalimat berita berfungsi untuk memberitahukan
sesuatu kepada orang lain sehingga tanggapan yang
diharapkan berupa perhatian seperti tercermin pada
pandangan mata yang menunjukan adanya perhatian.
b. Kalimat tanya berfungsi untuk menanyakan sesuatu.
Misalnya:
Anak-anak sudah bangun?
Ibu belum pulang?
Kalimat tanya dapat ditambahkan dengan kata-kata
kah, apa, apakah, bukan, dan bukankah. Misalnya:
Sudahkah anak-anak bangun?
Belum pulangkah ibunya?
Terdapat tiga kemungkinan ciri kalimat tanya, yang
maksudnya untuk menanyakan sesuatu, yaitu:
- mengunakan intonasi tanya, dan atau
- menggunakan kata tanya, dan atau
- menggunakan partikel -kah.

13



c. Kalimat perintah adalah kalimat yang maksudnya
menyuruh orang lain melakukan sesuatu. Berdasarkan
fungsinya dalam hubungan situasi, kalimat perintah
mengharapkan tanggapan yang berupa tindakan dari orang
yang diajak berbicara. Misalnya:
Buatlah satu kalimat yang berpola SPOK!
Pergilah ke rumah kakekmu!
Kalimat perintah mempunyai beberapa jenis:
1) Suruhan, misalnya:
Pergi dari sini!
Makan obat dahulu baru ke sekolah!
Berdasarkan strukturnya kalimat suruh dapat
digolongkan menjadi empat golongan, yaitu:
a) Kalimat suruh yang sebenarnya. Misalnya :
- Datanglah engkau ke rumahku!
- Berangkatlah sekarang juga!
b) Kalimat persilahan. Misalnya :
- Silahkan Bapak duduk di sini!
- Silahkan beristirahat!
c) Kalimat ajakan. Misalnya :
- Mari kita berangkat sekarang!
- Ayo kita bermain sepak bola!
d) Kalimat larangan. Misalnya :
- Jangan engkau membaca buku itu!
- Janganlah engkau menyakiti hati orang!
2) Permintaan, misalnya:
Tolong bawa surat ini ke kantor pos!
Mohon buatkan meja kayu!
3) Memperkenankan, misalnya :
Masuklah ke dalam kalau Anda perlu!
Silakan keluarlah jika ada yang mau dibeli!
14



4) Ajakan, misalnya:
Marilah kita istirahat sejenak!
Ayo kita belajar!
5) Larangan, misalnya:
Jangan pergi hari ini!
Tidak boleh pergi pada tengah malam!
6) Bujukan, misalnya:
Tidurlah ibu menjagamu, sayang!
Makan bersama neneklah, nanti saya yang
jaga di luar!
7) Harapan, misalnya:
Mudah-mudahan selamat sampai tujuan!
Semoga Anda sukses selalu!
d. Kalimat seru adalah kalimat yang mengungkapkan perasaan
kagum. Karena rasa kagum berkaitan dengan sifat, maka
kalimat seru hanya dapat dibuat dari kalimat berita yang
predikatnya adjektiva (Depdikbud, 1988). Misalnya:
Alangkah senangnya hidup mereka!
Sungguh cerdas anak itu!

2. Kalimat majemuk
Kalimat majemuk adalah kalimat yang di dalamnya terdapat lebih
dari satu pola kalimat, misalnya: SP + SP, SPO + SPO; atau
kalimat yang di dalamnya terdapat induk kalimat (diterangkan) dan
anak kalimat (menerangkan). Contoh:
Saya minum teh dan bapak minum kopi. (majemuk setara)
Kami sedang makan ketika paman datang kemarin.
(majemuk bertingkat)
Pak Bupati telah menyelenggarakan sebuah malam
kesenian, yang dimeriahkan oleh para artis nasional, serta
dihadiri para pejabat muspida. (majemuk campuran)
15



Kalimat majemuk menurut Keraf (1982) terdiri atas atas tiga jenis
yakni: kalimat majemuk setara, kalimat majemuk bertingkat, dan
kalimat majemuk campuran.
a. Kalimat majemuk setara terbagi atas empat jenis: yakni
kalimat mejemuk setara penambahan, kalimat majemuk
setara pemilihan, kalimat majemuk setara perlawanan, dan
kalimat majemuk setara sebab.
1) Kalimat majemuk setara penambahan dalah
kalimat majemuk setara yang menggunakan kata-
kata penghubung: dan, lagi pula, serta. Misalnya:
Adi belajar IPS dan Erni belajar IPA.
Tuti sangat pintar mejahit lagi pula sangat
baik budi
2) Kalimat majemuk setara pemilihan adalah kalimat
majemuk setara yang menggunakan kata-kata
pengubung atau, baik... maupun, Misalnya:
Engkau mau pergi ke Jakarta atau mau pergi
ke Semarang?
Pemerintah perlu meningkatkan mutu
pendidikan, baik mutu pendidikan dasar-
menengah maupun mutu pendidikan tinggi.
3) Kalimat majemuk setara perlawanan adalah kalimat
majemuk setara yang menggunakan kata
penghubung: tetapi, namun, padahal. Misalnya:
Dia mau belajar tetapi diberi hadiah dulu.
Meskipun sakit jantung, Ali tetap bekerja di
bengkel.
4) Kalimat majemuk setara sebab-akibat adalah
kalimat majemuk setara yang menggunakan kata
penghubung: sebab, karena, behubung, akibat.
Misalnya:
16



Saya tidak pergi karena sakit.
Kamaruddin tidak masuk bekerja sebab
pergi ke kampungnya.
b. Kalimat majemuk bertingkat terdiri atas dua pola kalimat
atau lebih, satu sebagai induk kalimat (diterangkan) dan
satu sebagai anak kalimat (menerangkan). Kalimat
majemuk bertingkat merupakan kalimat tunggal yang
bagian-bagiannya diperluas sehingga perluasan itu
membentuk satu atau beberapa pola kalimat baru, selain
pola pola yang sudah ada. Misalnya:
Rumah kami kosong waktu pencuri masuk.
Pak tani yang rajin itu memberantas hama padi.
c. Kalimat majemuk campuran merupakan kalimat yang
terdiri atas sebuah pola atasan dan sekurang-kurangnya dua
pola bawahan, atau sekurang-kurangnya dua pola atasan
dan satu atau lebih pola bawahan. Misalnya:
Universitas Negeri makassar telah melaksanakan
seminar nasional tentang peningkatan mutu
pendidikan, yang dihadiri Menteri Pendidikan
Nasional, Gubernur Sulawesi Selatan, pejabat tinggi
lainnya, serta pencinta pendidikan di kota Makassar
dan sekitarnya.

D. Analisis Sintaksis
Struktur kalimat dapat dianalisis dari tiga segi, yaitu segi fungsi,
kategori, dan peran semantis.
Berdasarkan segi fungsi, struktur kalimat dapat terdiri atas unsur
subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan.
Subjek biasanya didefinisikan sebagai sesuatu yang menjadi pokok, dasar,
atau hal yang ingin dikemukakan oleh pembicara atau penulis. Predikat
adalah pernyataan mengenai subjek atau hal yang berhubungan dengan
17



subjek. Setelah predikat, biasanya diletakkan objek. Keberadaan objek
sangat tergantung pada predikatnya. Jika predikatnya berbentuk verba
transitif maka akan muncul objek. Namun, jika predikatnya berbentuk
verba intransitif maka yang akan muncul kemudian adalah pelengkap.
Unsur selanjutnya adalah keterangan, yaitu unsur kalimat yang berisi
informasi tambahan. Informasi tersebut biasanya berhubungan dengan
tempat, waktu, cara, dan sebagainya.
Kalimat dapat pula dianalisis berdasarkan kategorinya. Dalam tata
bahasa tradisional, istilah kategori sering disebut dengan istilah kelas kata.
Dalam bahasa Indonesia ada empat kategori sintaksis utama, yaitu: (a)
Nomina atau kata benda, (b) Verba atau kata kerja, (c) Ajektiva atau kata
sifat, dan (d) Adverbia atau kata keterangan.
Analisis yang ketiga adalah analisis sintaksis dari segi peran.
Analisis ini berhubungan dengan semantis. Suatu kata dalam konteks
kalimat memiliki peran semantis tertentu. Beberapa pakar linguistik
menggunakan istilah yang berbeda untuk pembicaraan peran-peran dalam
sintaksis, namun sebenarnya substansinya sama.


18

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Sintaksis adalah cabang ilmu bahasa yang membahas hubungan
gramatikal antar kata dalam suatu kalimat. Sintaksis memiliki unsur-unsur
pembentuk yang disebut dengan istilah satuan sintaksis. Satuan tersebut
adalah kata, frase, klausa, dan kalimat.
Kata merupakan satuan terkecil yang membentuk frase, klausa, dan
kalimat. Frase didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang terdiri dari dua
kata atau lebih dan tidak memiliki unsur predikat. Klausa adalah satuan
sintaksis berbentuk rangkaian kata-kata yang berkonstruksi predikatif. Dan
kalimat adalah satuan sintaksis yang terdiri dari konstituen dasar, yang
biasanya berupa klausa, dilengkapi dengan konjungsi bila diperlukan dan
disertai intonasi final.
Struktur kalimat dapat dianalisis dari tiga segi, yaitu segi fungsi,
kategori, dan peran semantis. Berdasarkan segi fungsi, struktur kalimat dapat
terdiri atas unsur subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan.
Sedangkan analisis berdasarkan kategorinya, ada empat kategori sintaksis
utama, yaitu: (a) nomina atau kata benda, (b) verba atau kata kerja, (c)
ajektiva atau kata sifat, dan (d) adverbia atau kata keterangan. Analisis yang
ketiga adalah analisis sintaksis dari segi peran. Analisis ini berhubungan
dengan semantis. Suatu kata dalam konteks kalimat memiliki peran semantis
tertentu.

v

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan dkk. (peny), (2000). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka.
Chaer, Abdul. (1994). Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Parera, J.D. (1988). Sintaksis. Jakarta: Gramedia.
Verharr, J.W.M. (1978). Pengantar Linguistik. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.