Anda di halaman 1dari 7

BAB IV

HASIL PENGAMATAN

1. Standarisasi KMnO
4
terhadap H
2
C
2
O
4
0,1 N
V
1
= 9,2 ml ; V
2
= 11 ml ; V
3
= 11 ml ; sehingga V
rata-rata
= 10,4 ml
V.KMnO
4
. N.KMnO
4
= V.H
2
C
2
O
4
. N.H
2
C
2
O
4
10,4 . N.KMnO
4
= 10 . 0,1
N.KMnO
4
= 0,09 N
2. Penentuan kadar Fe dalam FeSO
4

V
1
= 0,2 ml ; V
2
= 0,3 ml ; V
3
= 0,3 ml ; sehingga V
rata-rata
KMnO
4
=

0,26 ml
5 Fe
2+
+ MnSO
-
+ 8H
+
5Fe
3+
+ Mn
2+
+ 4H
2
O
Mol KMnO
4
= V x N
Mol KMnO
4
= 0,26 x 0,09/1000 = 2,3 x 10
-5
mol
Mol KMnO
4
= Mol FeSO
4
= 2,3 x 10
-5
mol
Sehingga, gr FeSO
4
= mol x Mr FeSO
4
= 2,3 x 10
-5
x 152 = 3,496 x 10
-3
gram



3. Standarisasi Na
2
S
2
O
3
terhadap K
2
Cr
2
O
7
0,1 N
V
1
= 10 ml ; V
2
= 10 ml ; V
3
= 10 ml ; V
4
= 10 ml
N
1
. V
1
= N
2
. V
2
N. Na
2
S
2
O
3
= 0,1 N
4. Penentuan kadar Cu dalam terusi
V
1
= 16 ml ; V
2
= 15,7 ml ; V
3
= 10 ml ; V
4
= 9 ml ;
sehingga V
rata-rata
= 12,67ml
2 CuSO
4
+ 4 KI 2 Cu + I
2
+ K
2
SO
4

I
2
+ 2Na
2
SO
3
2NaI + Na
2
S
4
O
6
2-
gram CuSO
4
= Mol CuSO
4
x BM CuSO
4

= V.Na
2
S
2
O
3
x N x BM CuSO
4

= 1,26 x 10
-2
x 0,1 x 160
Pebrin Manurung
240210090132
= 0,202 gram































BAB VI
PEMBAHASAN
Permanganometri
Permanganometri merupakan titrasi yang dilakukan berdasarkan reaksi
oleh kalium permanganat (KMnO
4
). Reaksi ini difokuskan pada reaksi oksidasi
dan reduksi yang terjadi antara KMnO
4
dengan bahan baku tertentu. Titrasi
dengan KMnO
4
sudah dikenal lebih dari seratus tahun. Kebanyakan titrasi
dilakukan dengan cara langsung atas alat yang dapat dioksidasi seperti Fe
+
, asam
atau garam oksalat yang dapat larut dan sebagainya. Sumber-sumber kesalahan
pada titrasi permanganometri, antara lain terletak pada: Larutan pentiter KMnO
4


pada buret Apabila percobaan dilakukan dalam waktu yang lama, larutan KMnO
4

pada buret yang terkena sinar akan terurai menjadi MnO
2
sehingga pada titik akhir
titrasi akan diperoleh pembentukan presipitat coklat yang seharusnya adalah
larutan berwarna merah rosa. Penambahan KMnO4 yang terlalu cepat pada
larutan seperti H
2
C
2
O
4
Pemberian KMnO
4
yang terlalu cepat pada larutan H
2
C
2
O
4

yang telah ditambahkan H
2
SO
4
dan telah dipanaskan cenderung menyebabkan
reaksi antara MnO
4
-
dengan Mn2
+

. MnO
4
-
+ 3Mn
2
+
+ 2H
2
O 5MnO
2
+ 4H
+

Penambahan KMnO
4
yang terlalu lambat pada larutan seperti H
2
C
2
O
4
Pemberian
KMnO
4
yang terlalu lambat pada larutan H
2
C
2
O
4
yang telah ditambahkan H
2
SO
4

dan telah dipanaskan mungkin akan terjadi kehilangan oksalat karena membentuk
peroksida yang kemudian terurai menjadi air
Pada standarisasi KMnO
4
terhadap H
2
C
2
O
4
0,1 N , dilakukan titrasi redoks
dimna KMnO
4
sebagai titran akan dicari volume hingga H
2
C
2
O
4
terjadi perubahan
warna. Volume KMnO
4
yang dibutuhkan untuk merubah warna H
2
C
2
O
4
adalah
10,4 ml. Volume tersebut merupakan hasil rata-rata dari 4 kelompok yang
melakukan standarisasi. Sehingga setelah dilakukan perhitungan didapat
Normalitas KMnO
4
adalah 0,09 N.
Pada penentuan kadar Fe dalam FeSO
4,
volume KMnO
4
yang didapat
adalah 0,26 ml. Dari volume ini maka dapat diketahui bahwa mol KMnO
4
adalah
2,3 x 10
-5
mol. Perbandingan FeSO
4
dengan KMnO
4
adalah satu sehingga dapat
ditentukan bahwa mol FeSO
4
adalah 2,3 x 10
-5
mol. Dari perhitungan yang
didapat maka kadar Fe dalam FeSO
4
adalah 36,84%.
Iodometri
Dalam proses analitik, iodium digunakan sebagai pereaksi oksidasi
(iodimetri) dan ion iodida digunakan sebagai pereaksi reduksi (iodometri). Relatif
beberapa zat merupakan pereaksi reduksi yang cukup kuat untuk dititrasi secara
langsung dengan iodium. Maka jumlah penentuan iodimetrik adalah sedikit. Akan
tetapi banyak pereaksi oksidasi cukup kuat untuk bereaksi sempurna dengan ion
iodida, dan ada banyak penggunaan proses iodometrik. Suatu kelebihan ion iodida
ditambahkan kepada pereaksi oksidasi yang ditentukan, dengan pembebasan
iodium, yang kemudian dititrasi dengan larutan natrium tiosulfat. Reaksi antara
iodium dan tiosulfat berlangsung secara sempurna (Underwood, 1986).
Iodium hanya sedikit larut dalam air (0,00134 mol per liter pada 25
0
C), tetapi
agak larut dalam larutan yang mengandung ion iodida. Larutan iodium standar
dapat dibuat dengan menimbang langsung iodium murni dan pengenceran dalam
botol volumetrik. Iodium, dimurnikan dengan sublimasi dan ditambahkan pada
suatu larutan KI pekat, yang ditimbang dengan teliti sebelum dan sesudah
penembahan iodium. Akan tetapi biasanya larutan distandarisasikan terhadap
suatu standar primer, As
2
O
3
yang paling biasa digunakan. (Underwood, 1986).
Larutan standar yang dipergunakan dalam kebanyakan proses iodometrik adalah
natrium tiosulfat. Garam ini biasanya tersedia sebagai pentahidrat Na
2
S
2
O
3
.5H
2
O.
Larutan tidak boleh distandarisasi dengan penimbangan secara langsung, tetapi
harus distandarisasi terhadap standar primer. Larutan natrium tiosulfat tidak stabil
untuk waktu yang lama. Sejumlah zat padat digunakan sebagai standar primer
untuk larutan natrium tiosulfat. Iodium murni merupakan standar yang paling
nyata, tetapi jarang digunakan karena kesukaran dalam penanganan dan
penimbangan. Lebih sering digunakan pereaksi yang kuat yang membebaskan
iodium dari iodida, suatu proses iodometrik (Underwood, 1986).
Metode titrasi iodometri langsung (kadang-kadang dinamakan iodimetri) mengacu
kepada titrasi dengan suatu larutan iod standar. Metode titrasi iodometri tak
langsung (kadang-kadang dinamakan iodometri), adlaah berkenaan dengan titrasi
dari iod yang dibebaskan dalam reaksi kimia.

Pada Standarisasi Na
2
S
2
O
3
terhadap K
2
Cr
2
O
7
0,1 N, volume Na
2
S
2
O
3
yang
didapat adalah 10 ml. Sehingga dari perhitungan didapat Normalitas Na
2
S
2
O
3

adalah 0,1 N.
Pada Penentuan kadar Cu dalam terusi, volume Na
2
SO
3
yang didapat
adalah 12,67 ml. Karena perbandingan Na
2
SO
3
dengan CuSO
4
adalah satu maka
dapat dicari gram CuSO
4
adalah 8,1 x 10
-2
gram. Sehingga dengan perbandingan
berat relatif Cu terhadap CuSO
4
diketahui kadar Cu adalah 40%.
























BAB VII
KESIMPULAN

Dari perhitungan didapat kesimpulan :
Normalitas KMnO
4
yang didapat adalah 0,09.
Kadar Fe dalam FeSO
4
adalah 36,84%
Normalitas Na
2
S
2
O
3
adalah 0,1.
Kadar Cu dalam CuSO
4
adalah 40%.
























BAB VIII
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Available at : Permanganometri
http://id.wikipedia.org/wiki/Permanganometri. (Diakses tanggal 15 April
2012)
Anonim. 2010. Titrasi iodimetri. Available at :
http://junikomang.blogspot.com/2010/03/titrasi-iodometri.html(Diakses
tanggal 03 Oktober 2010)
JR, R.A. Day & A.L. Underwood. 1998. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi keenam,
Penerjemah : Dr. Ir. Iis Sopyan, M.Eng. Penerbit Erlangga, Jakarta.