Anda di halaman 1dari 4

Pembahasan

1. Pengaruh pH medium asam , netral dan basa


Percobaan ini dilakukan dengan membuat suatu campuran 15 ml larutan
penyanggah, 3 ml larutan amilum dan larutan NaCl 0.9 sebanyak 6 ml, kemudian dikocok
dikocok sampai rata di tabung Erlenmeyer. Setelah mengambil 1 ml larutan dan
dimasukkan ke tabung reaksi berlabel 0 . Erlenmeyer ditambah larutan enzim dan
stopwatch dijalankan. Pada menit ke lima larutan dalam Erlenmeyer dipipet dan
dimasukkan dalam tabuing yang berlabel 5.Selanjutnya pada tabung 10,5, dan 20
dilakukan dengan cara yang sama pula dengan selang waktu lima menit . Setelah dua
puluh menit, semua tabung ditambahkan 1 ml larutan KI-KIO3, dan dicampur baik-baik
sampai rata antara 5-10 menit.
Setelah mengisi tabel hasil pengamatan pada kolom sumber variasi asam dan
basa , didapatkan perbedaan pada percobaan yang dilakukan pada suasana asam dan
basa. Hal ini dapat dilihat pada tingkat atau presentasi absorbsi.
Pada suasana asam didapatkan saat To sampai T5 presentasi substrat yang dicerna
yaitu 100 %, 2%, 1%, 2%, dan 1 %. Pada suasana basa didapatkan saat T0 sampai T5
presentasi absorbsi yaitu 100%, 13,3 %, 14 %, 14,8% , dan 4,4%.
Pada hasil pengamatan tersebut dapat dihubungkan dengan proses hidrolisa
amilum. Saat masing-masing tabung diberi larutan KI-KIO3 , masing-masing tabung
menunjukkan berbagai warna larutan yang berbeda yaitu biru kehitaman sampai merah
kekuningan. Warna-warna tersebut menunjukkan adanya proses hidrolisa amilum.
Pada suasana asam, presentasi substrat yang dicerna lebih rendah yang
menunjukkan tidak terjadi pencernaan disebabkan karena penambahan larutan HCl yang
bersifat asam sehingga tidak dapat mencerna larutan amilum. Pada suasana basa,
presentasi substrat yang dicerna lebih tinggi yang menunjukkan adanya pencernaan yang
disebabkan karena penambahan larutan NaOH yang bersifat basa. Ini berkaitan dengan
proses hidrolisis dapat berlangsung pada suasana basa. Namun bekerja optimum pada pH
netral.




2. Pengaruh Suhu Inkubasi terhadap Aktivitas Enzim.
Percobaan ini dilakukan dengan membuat suatu campuran 15 ml larutan
penyanggah, 3 ml larutan amilum dan larutan NaCl 0.9 sebanyak 6 ml, kemudian dikocok
dikocok sampai rata di tabung Erlenmeyer. Larutan tersebut diinkubasi pada suhu yang
ditentukan yaitu suhu es, suhu kamar dan suhu panas ( 70
0
). Setelah mengambil 1 ml
larutan dan dimasukkan ke tabung reaksi berlabel 0. Tabung Erlenmeyer ditambah
larutan enzim dan stopwatch dijalankan. Pada menit ke lima larutan dalam Erlenmeyer
dipipet dan dimasukkan dalam tabuing yang berlabel 5.Selanjutnya pada tabung 10,5,
dan 20 dilakukan dengan cara yang sama pula dengan selang waktu lima menit . Setelah
dua puluh menit, semua tabung ditambahkan 1 ml larutan KI-KIO3, dan dicampur baik-
baik sampai rata antara 5-10 menit.
Setelah mengisi tabel hasil pengamatan pada kolom variasi suhu es, suhu kamar,
dan suhu panas , didapatkan perbedaan pada percobaan yang dilakukan pada suhu es,
suhu kamar, dan suhu panas. Hal ini dapat dilihat pada tingkat atau presentasi absorbsi.
Misalnya dapat dilihat pada T
20
. Pada suhu es didapatkan presentase substrat
yang dicerna 5,4%, suhu kamar 7%, dan suhu panas 2%. Ini berhubungan dengan suhu
yang paling baik untuk hidrolisa amilum yang juga dipengaruhi oleh aktivitas enzim
ptialin pada amilum.
Enzim merupakan protein yang berfungsi untuk mempercepat reaksi metabolisme
yang dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya suhu.
Pada suhu es presentase substract yang dicerna rendah yaitu hanya 5,4%. Hal ini
menunjukkan hidrolisa amilum kurang berjalan baik yang dikarenakan kerja enzim
amilase yang yang non aktif pada suku rendah.
Pada suhu panas presentase substract yang dicernah rendah yaitu hanya 2 %. Hal
ini menunjukkan hidrolisa amilum tidak berjalan baik yang dikarenakan sifat enzim yang
akan mengalami denaturasi apabila berada pada suhu yang terlalu tinggi. Hal ini pula
yang dialami oleh enzim amilase pada proses hidrolisa amilum.
Pada suhu kamar presentasi substrak yang dicerna cukup tinggi yaitu 7%. Hal ini
menunjukkan proses hidrolisa amilum berjalan baik yang dikarenakan sifat enzim yang
bekerja optimum pada suhu kamar.
3. Pengaruh Konsentrasi Enzim
Pada percobaan ini didapatkan data , misalnya pada T
15
sumber variasi 1ml
Enzim+1 ml buffer presentasi substract yang dicerna adalah 3,16%, sumber variasi 1 ml
Enzim + 2 ml buffer presesntasi substract yang dicerna adalah 136%, 1 ml Enzim + 3 ml
buffer 1,8%, sedangkan pada 1 ml Enzim + 3 ml buffer 2 %.
Secara umum hasil percobaan tersebut menunjukkan adanya penurunan
penyerapan substrat semakin encer larutan semakin kecil presentasi penyerapan substrat
yang terjadi . Hal ini berhubungan dengan konsentrasi enzim yang dilarutkan dengan
larutan buffer.
Namun dalam percobaan ini terdapat beberapa data yang sedikit menyimpang
yang dikarenakan beberapa faktor-faktor teknis. Misalnya kesalahan dalam pengenceran
dan penetapan waktu .










Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
Kerja enzim dipengaruhi oleh pH, suhu, dan konsentrasi
Enzim bekerja optimum pada pH netral
Proses hidrolisa amilum bekerja pada pH netral namun masih bisa bekerja pada pH basa.
Enzim bekerja optimum pada suhu kamar. Bila pada suhu es akan mengalami non aktif
dan apabila pada suhu panas akan mengalami denaturasi(mati).
Kecepatan reaksi berbanding lurus dengan konsentrasi enzim. semakin encer larutan
semakin kecil presentasi penyerapan substrat yang terjadi . hal ini berhubungan dengan
konsentrasi enzim yang dilarutkan dengan larutan buffer.