Anda di halaman 1dari 35

Oleh:

Khairati Ilda
Mahaputri Ulva Lestari
Merry Cardina
Susan Insani Putri

Bagian Telinga Hidung Tenggorok Kepala
Leher
RSUP Dr M.Djamil Padang
Tuli Mendadak
(Sudden Deafness)
Case Report Session
Bab 1 Pendahuluan
Tuli mendadak adalah kehilangan pendengaran yang
berkembang cepat selama beberapa jam dan bisa
disertai dengan tinitus dan vertigo.
Survei nasional telah memperkirakan kejadian hilang
pendengaran tiba-tiba diantara 5-30 kasus per
100.000 pertahun
Prognosis terbaik bila pasien segera mencari
pengobatan dalam 24 jam setelah awitan dan bila
pendengaran masih pada tingkatan relatif baik
TULI MENDADAK


Sudden deafness adalah tuli yang terjadi
secara tiba-tiba

terjadi penurunan pendengaran sensorineural 30
dB atau lebih
paling sedikit 3 frekuensi berturut-turut pada
pemeriksaan audiometrik dan berlangsung dalam
waktu kurang dari 3 hari
Anatomi

Epidemiologi
Ketulian pada tuli mendadak sebagian besar kasus
terjadi pada satu telinga (unilateral) dan hanya 1.7 %
- 2 % kasus terjadi pada dua telinga (bilateral).
Insiden tuli mendadak di poli THT-KL RS. M. Djamil
Padang pada satu tahun terakhir periode Agustus
2010 sampai Agustus 2011 berkisar 37 orang pasien
Etiologi
iskemia koklea
infeksi virus
trauma kepala
trauma bising yang keras
perubahan tekanan atmosfer
Autoimun
obat ototoksin
penyakit meniere dan neuroma akustik.
Patofisiologi
spasme, thrombosis atau perdarahan arteri auditiva
interna -> Iskemi ->degenerasi luas pada sel-sel
ganglion stria vaskularis dan ligament spiralis -> diikuti
oleh pembentukan jaringan ikat dan penulangan.

Beberapa jenis virus, seperti virus parotis, virus
campak, virus influenza B dan mononucleosis
menyebabkan kerusakan pada organ corti, membrane
tektoria dan selubung myelin saraf akustik. Ketulian
yang terjadi biasanya berat, terutama pada frekuensi
sedang dan tinggi.


GEJALA KLINIS
Timbulnya tuli bersifat mendadak
Kadang bersifat sementara atau berulang
dalam serangan, tapi biasanya menetap
Dapat disertai tinnitus dan vertigo
Tuli dapat unilateral atau bilateral
Infeksi virus: timbulnya tuli mendadak
biasanya unilateral disertai tanda dan gejala
penyakit virus seperti parotis, varisela, variola
atau baru sembuh dari penyakit virus
tersebut

Diagnosis
Anamnesis
Proses terjadinya ketulian
Gejala yang menyertai
faktor predisposisi
Pemeriksaan pendengaran
Tes penala
Audiometri (tutur, nada murni, impedans)
Pemeriksaan
Penunjang
Labor
Faal hemostasis
Tes penyaring pembekuan
darah
Prognosis
Faktor yang mempengaruhi :

1. kecepatan pemberian obat
2. respon 2 minggu pengobatan
pertama
3. usia
4. derajat tuli saraf
5. faktor-faktor predisposisi
Penatalaksanaan
1. Bed rest total
2. Vasodilatansia injeksi yang cukup kuat disertai
dengan pemberian tablet vasodilator oral setiap
hari
3. Prednisone 4 x 10 mg (2 tablet). Tap off tiap 3
hari
4. Vitamin C 1 x 500 mg/hari, vitamin E 1 x 1 tab
5. Neurobion (neurotonik) 3 x 1 tab/hari
6 Diet rendah garam dan rendah kolesterol
7 Inhalasi oksigen 4 x 15 menit (2 liter/menit)
8Obat anti virus sesuai virus penyebab
Evaluasi perbaikan pendengaran:
apabila perbaikan > 30 dB pada
5 frekuensi
Sangat
baik
perbaikan ambang pendengaran < 30
dB pada frekuensi 250 Hz, 500 Hz,
1000 Hz, 2000 Hz dan < 25 dB pada
frekuensi 4000 Hz
Sembuh
rata-rata perbaikan 10 30 dB
pada 5 frekuensi
Baik
Tidak ada perbaikan, apabila
terdapat perbaikan < 10 dB
pada 5 frekuensi.
Tidak baik
BAB III
LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny.E
Umur : 58 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan

ANAMNESIS
Seorang pasien wanita berumur 58 tahun ke poli
THT RS Dr.M Djamil Padang pada tanggal 8 April
2014 dengan

Keluhan Utama : telinga kanan tiba-tba tidak
mendengar sejak 3 hari yang lalu
Riwayat penyakit sekarang :
Telinga kanan tiba-tba tidak mendengar sejak 3 hari
yang lalu
Telinga kanan tiba-tiba tidak mendengar disertai pusing
dan sakit kepala saat kejadian
Telinga kanan terasa berdenging
Telinga kiri tidak mendengar sejak 3 minggu yang lalu,
berangsur angsur , makin lama makin tidak mendengar
Riwayat telinga berair tidak ada
Mual tidak ada, muntah tidak ada
Riwayat demam tinggi tidak ada, kejang tidak ada

Riwayat penyakit dahulu :
Riwayat hipertensi sejak 2 tahun yang lalu, kontrol
tidak teratur
Riwayat diabetes mellitus baru dikenal

Riwayat penyakit keluarga :
Riwayat diabetes mellitus di keluarga ada, kakak
kandung
Riwayat hipertensi di keluarga ada

Riwayat pekerjaan, sosial ekonomi dan kebiasaan
:
Os seorang IRT, aktivitas fisik kurang

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
Keadaan Umum : Sedang
Kesadaran : Composmentis cooperative
Tekanan darah : 160/90 mmHg
Frekuensi nadi : 84 x/menit
Frekuensi nafas : 20 x/menit
Suhu : 36,5
0
C

Pemeriksaan Sistemik
Kepala : tidak ada kelainan
Mata : konjungtiva tidak anemis,
sklera tidak ikterik
Leher : tidak ditemukan pembesaran
KGB
Paru : dbn
Jantung : dbn
Abdomen : dbn
Extremitas : edem -/-

Status Lokalis THT
Telinga
AD: Liang telinga cukup lapang, membran timpani
utuh, warna putih, reflek cahaya arah jam 5
AS: Liang telinga cukup lapang, membran timpani
utuh warna putih, reflek cahaya arah jam 7
Tes garpu tala: Rinne - / -
Schwabach memendek AD dan AS
Weber Lateralisasi ke telinga kanan
Kesan : Tuli sensorineural
Audiometri: Tuli campur derajat berat ambang dengar
77,5 dB
Hidung
KND: Cavum nasi cukup lapang , konka inferior
eutrofi, warna merah muda, permukaan licin,
konka media eutrofi, warna merah muda,
permukaan licin, septum lurus.

KNS: Cavum nasi cukup lapang, konka inferior
eutrofi, warna merah muda, permukaan licin,
konka media eutrofi, warna merah muda,
permukaan licin septum lurus.
Orofaring dan mulut
Arkus Faring Simetris, Warna Merah muda,
Dinding faring Merah muda Permukaan Licin
Tonsil T1/ T1, Muara kripti Tidak melebar


Pemeriksaan Kelenjar getah bening leher :
tidak ada pembesaran KGB



Pemeriksaan laboratorium:
Hemoglobin :11 g/dl
Hematokrit :39%
Leukosit : 9.100 mm
3

Trombosit : 199.000 mm
3

Gula darah sewaktu : 265 mg/dl

Diagnosa Utama : Tuli Mendadak AD
Diagnosis Tambahan : DM tipe 2
Hipertensi tipe 2
Pemeriksaan Anjuran : Tes penyaring
pembekuan darah

Terapi : O
2
5 L /15 menit 4 x sehari,
Prednison tap off ,
Vitamin C inj 2 x 100 mg,
Neurobion 5000 mg inj 1x1,
Drip pentoxifilin 2 x 300 mcq/
kolf,
IVFD RL 12 tetes/ menit,
Inj methil cobalt 3 x 500 mcq,
Diet rendah garam dan
kolesterol
Terapi anjuran : Rehaabilitasi pendengaran
Alat bantu dengar
Rehabilitasi suara
Prognosis
Quo ad Vitam : Bonam
Quo ad Sanam : Dubia at malam

Nasehat : Kurangi makanan yang
mengandung garam dan
kolesterol
Kontrol tekanan darah dan
diabetes mellitus secara
teratur
Kurangi Stres
Istirahat yang cukup

RESUME

Seorang pasien perempuan usia 58 tahun, datang ke
Bangsal THT-KL RSUP M Djamil dengan keluhan
kehilangan pendengaran secara tiba tiba pada
telinga sebelah kanan sejak 3 hari yang lalu,
sebelumnya pasien merasa telinga kanan terasa
berdenyut sebanyak 3 kali. Tiga minggu yang lalu
pasien mengeluh telinga kiri tidak dapat mendengar,
dan berobat ke puskesmas terdekat, namun tidak ada
perbaikan, pasien mempunyai riwayat hipertensi dan
diabetes melitus.

Pemeriksaan fisik ditemukan membran timpani utuh. Tes
penala kesan tuli sensorineural. Pada audiometri kesan tuli
campur derajat berat ambang durasi 77,5 dB pada telinga
kanan. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang pasien di diagnosis sebagai tuli
mendadak (Sudden Deafness),.
Terapi yang diberikan adalah berupa O
2,
Prednison tap off
, vitamin, Neurobion, drip pentoxifilin, IVFD RL, inj methil
cobalt, dan diet rendah garam dan kolesterol.

Telah dilaporkan satu kasus pasien yang didiagnosis
dengan tuli mendadak aurikula dextra, dengan DM tipe
2, hipertensi derajat 2. Diagnosis ditegakkan
berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dengan
otoskopi tes penala dan audiometri. Pada kasus ini
dilakukan penatalaksanaan dengan terapi konservatif.

Jenny mengemukakan bahwa pemeriksaan CT scan
dan MRI dengan kontras diperlukan untuk
menyingkirkan diagnosis seperti neuroma akustik.
Pemeriksaan arteriografi diperlukan untuk kasus yang
diduga akibat thrombosis. Pada kasus ini tidak
dilakukan karena tidak terdapat indikasi dan
pemeriksaan yang dilakukan berdasarkan pada
fasilitas dan protap yang ada.

Beberapa faktor resiko tuli mendadak diantaranya penyakit
metabolik (Diabetes), penyakit kardiovaskuler (Hipertensi,
Dislipidemia; hiperkolesterol, dan hipertrigliserida), infeksi
virus (Varicela/ Herpes simpleks), psikosoial (Stress),
neoplasma (Neuroma akustik), autoimun (Sindroma
Wagener), kelelahan dan sebagainya. Pada pasien ini
terdapat faktor resiko berupa kelainan metabolik dan
kardiovaskuler.

Pengobatan yang diberikan pada tuli mendadak dengan
pemberian tablet vasodilator oral setiap hari, kortikosteroid,
Vitamin C, vitamin E, neurotonik, diet rendah garam dan
rendah kolesterol, Inhalasi oksigen.

Pada kasus ini jenis steroid yang diberikan adalah prednison
40 mg tappering off. Steroid pada pasien DM merupakan
kontrainsikasi relatif karena efek glukokortikoidnya
menyebabkan hiperglikemia. Karena itu perlu kontrol klinis
dan laboratorium berkala gula darah pasien.

Kehilangan pendengaran pada tuli
mendadak diklasifikasikan menjadi
empat kelompok berdasarkan derajat
tuli yaitu ringan (26-40dB),sedang (41-
60dB), berat (61-80dB) dan sangat
berat (81 dB atau lebih). Pasien pada
kasus ini termasuk pada kelompok
berat.