Anda di halaman 1dari 7

Proses Pembuatan Batik Tulis

Batik Tulis merupakan batik yang spesial dan relatif lebih mahal dibanding jenis batik yang lain,
karena didalam pembuatan batik ini sangat diperlukan keahlian serta pengalaman, ketelitian,
kesabaran, ketekunan, ketelatenan dan juga waktu yang lama untuk menyelesaikan sebuah batik
tulis. Untuk sebuah batik tulis paling cepat dapat diselesaikan selama dua sampai tiga minggu
oleh seorang pembatik, itupun dikarenakan cuaca yang cerah dan desain motif yang biasa dan
juga tidak terlalu rumit.
Alat dan Bahan
Berikut ini adalah alat dan bahan yang harus disiapkan untuk membuat batik tulis :
Kain Mori
Biasa terbuat dari katun atau sutra yang mempunyai warna dasar putih.Kain mori adalah kain
tenun berwarna putih yang terbuat dari kapas dan biasanya dipakai sebagai bahan untuk
membuat kain batik. Ada 2 jenis kain mori yaitu kain mori yang telah mengalami proses
pemutihan atau bleaching dan kain mori yang belum diputihkan.

Canting sebagai alat pembentuk motif
Terbuat dari tembaga yang dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat menampung lilin dan di
ujung belakangnya disambung dengan sebuah bambu kecil yang digunakan sebagai pegangan
sehingga canting dapat digunakan untuk melukis pada sebuah kain mori.

Gawangan dan Bandul
Gawangan terbuat dari bambu atau kayu yang diujung kiri dan kanannya dikasih kaki dari
bahan bambu/kayu juga sehingga membentuk sebuah gawang yang berfungsi untuk
menyampirkan kain mori tatkala mau dilukis dengan canting dan fungsi bandul disini untuk
memberi pemberat supaya kain tidak terbang ketika terkena angin.

Lilin atau Malam
Lilin adalah malam yang dicairkan yang digunakan untuk melukis pada sebuah kain mori yang
bertujuan untuk menutup kain mori sesuai motif yang diinginkan agar tidak terkena pewarna
pada saat kain mori diwarnai sehingga kain yang tertutup lilin akan membentuk motif yang
diinginkan pada saat lilin dihilangkan.

Panci dan kompor kecil untuk memanaskan lilin (malam)
Panci biasanya terbuat dari bahan aluminium dan kompor kecil berbahan bakar minyak tanah,
karena minyak tanah sekarang langka bisa diganti kompor LPG kecil. Pada zaman dahulu masih
belum menggunakan kompor tapi anglo.

Larutan pewarna
Larutan pewarna bisa berasal dari sintetis atau alami yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.
Pewarna alam merupakan zat warna yang berasal dari alam, baik dari akar, kulit akar, batang,
kulit batang, daun, bunga, buah, maupun getah tumbuhan. Untuk dapat digunakan, zat warna ini
harus diolah terlebih dahulu. Sedangkan pewarna sintesis adalah zat warna buatan.
Tahapan Pembuatan
Adapun tahapan-tahapan dalam proses pembutan batik tulis adalah sebagai berikut :
1. Langkah pertama adalah membuat desain atau motif batik yang biasa disebut molani.
Dalam penentuan motif, biasanya tiap orang memiliki selera berbeda-beda. Ada yang
lebih suka untuk membuat motif sendiri, namun yang lain lebih memilih untuk mengikuti
motif-motif umum yang telah ada. Motif yang kerap dipakai di Indonesia sendiri adalah
batik yang terbagi menjadi 2 : batik klasik, yang banyak bermain dengan simbol-simbol,
dan batik pesisiran dengan ciri khas natural seperti gambar bunga, burung dan kupu-
kupu. Membuat design atau motif ini dapat menggunakan pensil atau menggunakan
kertas yang sudah ada gambar polanya kemudian ditempel dengan kain mori dan caranya
diterawang untuk melakukan proses selanjutnya.
2. Setelah selesai melakukan molani, langkah kedua adalah melukis dengan lilin (malam)
menggunakan canting dengan mengikuti pola tersebut, pada proses ini gawangan dipakai
untuk menyampirkan kain mori yang sedang dilukis menggunakan canting, proses ini
biasa disebut ngengkreng yang artinya melukis lilin ke kain untuk yang pertama
kalinya.
3. Proses selanjutnya mengisi motif atau ornamen-ornamen yang telah dibuat pada proses
sebelumnya, proses ini biasa disebut isen-isen,isen-isen dapat dibedakan dua jenis yaitu
cecek dan sawut, yang dimaksud cecek adalah titik-titik kecil yang membentuk
sebuah ornamen dan sawut adalah garis yang diulang-ulang untuk menutup sebuah
ornamen yang nantinya akan diwarna sogan (coklat gosong).
4. Tahap selanjutnya, menutupi dengan lilin (malam) pada bagian-bagian yang akan tetap
berwarna putih (tidak berwarna), proses ini biasa disebut nembok. Canting untuk
bagian halus, atau kuas untuk bagian berukuran besar (penggunaan kuas untuk
mempercepat proses). Tujuannya adalah supaya saat pencelupan bahan kedalam larutan
pewarna, bagian yang diberi lapisan lilin tidak terkena.
5. Tahap berikutnya adalah proses medhel, proses ini adalah pewarnaan pertama pada
bagian yang tidak tertutup oleh lilin dengan mencelupkan kain tersebut pada warna biru
tua.
6. Setelah selesai dicelupkan, kain tersebut di jemur dan dikeringkan (pengeringan cukup
diangin-anginkan di tempat yang teduh tidak terkena sinar matahari langsung).
7. Setelah proses diatas selesai kemudian dilakukan proses ngerok dan ngremok, yang
dimaksud ngerok adalah proses pengerokan pada ornamen sawut yang nantinya
dilakukan pewarnaan sogan dengan menggunakan pisau atau benda logam yang ujungnya
tipis dan agak tajam, kemudian dilanjutkan proses ngremok yaitu mengucek atau mencuci
bagian yang telah dikerok agar bersih dari lilin.
8. Setelah kering, kembali melakukan proses pembatikan yaitu melukis dengan lilin
(malam) menggunakan canting untuk menutup bagian ornamen cecek dan ornamen lain
yang akan tetap dipertahankan pada pewarnaan yang pertama, proses ini biasa disebut
mbironi yang artinya menutup untuk mempertahankan warna biru.
9. Setelah selesai proses mbironi kemudian dilanjutkan dengan proses nyogapada proses
ini dilakukan pencelupan warna sogan yaitu warna coklat tua atau coklat gosong, pada
proses ini ornamen sawut dan ornamen yang tidak ditutup dengan lilin yang akan
berwarna sogan.
10. Proses berikutnya, menghilangkan lilin (malam) dari kain tersebut dengan cara
mencelupkan kain tersebut berulang kali ke dalam air panas diatas tungku sampai lilin
benar-benar bersih tidak menempel pada kain, proses ini biasa disebut nglorot yang
artinya meluruhkan atau menghilangkan lilin dari kain.
11. Setelah kain bersih dari lilin dan kering, dapat dilakukan kembali proses pembatikan
dengan penutupan lilin (menggunakan alat canting)untuk menahan warna pertama dan
kedua, apabila diinginkan penambahan warna sesuai kombinasi warna yang dibutuhkan.
Proses membuka dan menutup lilin (malam) dapat dilakukan berulangkali sesuai dengan
banyaknya warna dan kompleksitas motif yang diinginkan.
12. Proses selanjutnya atau proses terakhir adalah nglorot kembali, tujuannya adalah untuk
menghilangkan lapisan lilin, sehingga motif yang telah digambar sebelumnya terlihat
jelas. Proses terakhir adalah mencuci kain batik tersebut dan kemudian mengeringkannya
dengan menjemurnya sebelum dapat digunakan dan dipakai.











Batik Nusantara
PENGERTIAN BATIK
Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan pakaian. Selain itu batik bisa mengacu pada dua
hal. Yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah
pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist
dyeing. Pengertian kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk
penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Batik Indonesia, sebagai keseluruhan
teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah
ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of
the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009.[1]

Adapun sebuah buku yang mengatakan bahwa batik adalah bahan sandang yang dibuat berupa
tekstil untuk keperluan kelengkapan hidup sehari-hari. Tekstil yang dibuat dengan teknik atau
proses batik untuk sandang tersebut, berupa kain penutup badan, hiasan rumah tangga, dan
perlengkapan lain yang semuanya dimaksudkan untuk memperindah.

Mengenai asal mula Batik Indonesia, ada beberapa pendapat :

Sejarah Batik di Indonesia
Seni Batik tetap hidup subur di Indonesia, dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat. Bila kita
bandingkan batik yang kita kenal sekarang dengan batik puluhan tahun yang silam, tidak begitu
banyak perubahan ; baik bahan, cara maupun coraknya. Sifat inilah yang menyebabkan seni
batik mudah dipelajari, dari generasi ke generasi (Widodo, 1982 : 2).

Ditinjau dari Sejarah Kebudayaan
Prof. Dr. R.M. Sutjipto Wirjosuparta menyatakan bahwa sebelum masuknya kebudayaan India
bangsa Indonesia telah mengenal teknik membuat kain batik (Widodo, 1983 : 2).

Ditinjau dari design batikdan proses Loax-resist tehnique
Prof. Dr. Alfred Steinmann mengemukakan bahwa :
Telah ada semacam batik di Jepang pada zaman dinasti Nara yang disebut Ro-Kechr, di China
pada zaman dinasti Tang, di Bangkok dan Turkestan Timur. Design batik dari daerah-daerah
tersebut pada umumnya bermotif geometris, sedang batik Indonesia lebih banyak variasinya.
Batik dari India Selatan (baru mulai dibuat tahun 1516 di Palekat dan Gujarat) Adalah sejenis
kain batik lukisan lilin yang terkenal dengan nama batik Palekat. Perkembangan batik India
mencapai puncaknya pada abad 17-19.
Daerah-daerah di Indonesia yang tidak terpengaruh kebudayaan India, ada produksi batik pula,
misalnya di Toraja, daerah Sulawesi, Irian dan Sumatera.
Tidak terdapat persamaan ornamen batik Indonesia dengan ornamen batik India. Misal : di India
tidak terdapat tumpal, pohon hayat, caruda, dan isen-isen cece serta sawut.

Ditinjau dari sejarah
Baik Prof. M. Yamin maupun Prof. Dr. R.M. Sutjipto Wirjosuparta, mengemukakan bahwa batik
di Indonesia telah ada sejak zaman Sriwijaya, Tiongkok pada zaman dinasti Sung atau Tang
(abad 7-9). Kota-kota penghasil batik, antara lain : Pekalongan, Solo, Yogyakarta, Lasem,
Banyumas, Purbalingga, Surakarta, Cirebon, Tasikmalaya, Tulunggagung, Ponorogo, Jakarta,
Tegal, Indramayu, Ciamis, Garut, Kebumen, Purworejo, Klaten, Boyolali, Sidoarjo, Mojokerto,
Gresik, Kudus, dan Wonogiri (Widodo, 1983 : 2-3).

Sejarah batik diperkirakan dimulai pada zaman prasejarah dalam bentuk prabatik dan mencapai
hasil proses perkembangannya pada zaman Hindu. Sesuai dengan lingkungan seni budaya zaman
Hindu seni batik merupakan karya seni Istana. Dengan bakuan tradisi yang diteruskan pada
zaman Islam. Hasil yang telah dicapai pada zaman Hindu, baik teknis maupun estetis, pada
zaman Islam dikembangkan dan diperbaharui dengan unsur-unsur baru (Yudaseputro, 2000 :
97).\

MACAM-MACAM BATIK:
1. Batik Kraton



Jenis Batik yang Berkembang di Indonesia
Batik Kraton awal mula dari semua jenis batik yang berkembang di Indonesia. Motifnya
mengandung makna filosofi hidup. Batik-batik ini dibuat oleh para putri kraton dan juga
pembatik-pembatik ahli yang hidup di lingkungan kraton. Pada dasarnya motifnya terlarang
untuk digunakan oleh orang biasa seperti motif Parang Barong, Parang Rusak termasuk udan
Liris, dan beberapa motif lainnya.
2. Batik Sudagaran

Motif larangan dari kalangan keraton merangsang seniman dari kaum saudagar untuk
menciptakan motif baru yang sesuai selera masyarakat saudagar. Mereka juga mengubah motif
larangan sehingga motif tersebut dapat dipakai masyarakat umum. Desain batik Sudagaran
umumnya terkesan berani dalam pemilihan bentuk, stilisasi atas benda-benda alam atau satwa,
maupun kombinasi warna yang didominasi warna soga dan biru tua. Batik Sudagaran
menyajikan kualitas dalam proses pengerjaan serta kerumitan dalam menyajikan ragam hias
yang baru. Pencipta batik Sudagaran mengubah batik keraton dengan isen-isen yang rumit dan
mengisinya dengan cecek (bintik) sehingga tercipta batik yang amat indah.



3. Batik Petani

Batik yang dibuat sebagai selingan kegiatan ibu rumah tangga di rumah di kala tidak pergi ke
sawah atau saat waktu senggang. Biasanya batik ini kasar dan kagok serta tidak halus. Motifnya
turun temurun sesuai daerah masing-masing dan batik ini dikerjakan secara tidak profesional
karena hanya sebagai sambilan. Untuk pewarnaan pun diikutkan ke saudagar.

4. Batik Belanda


Warga keturunan Belanda banyak yang tertarik dengan batik Indonesia. Mereka membuat
motif sendiri yang disukai bangsa Eropa. Motifnya berupa bunga-bunga Eropa, seperti tulip dan
motif tokoh-tokoh cerita dongeng terkenal di sana.

5. Batik Jawa Hokokai


Pada masa penjajahan Jepang di pesisir Utara Jawa lahir ragam batik tulis yang disebut batik
Hokokai. Motif dominan adalah bunga seperti bunga sakura dan krisan. Hampir semua batik
Jawa Hokokai memakai latar belakang (isen-isen) yang sangat detail seperti motif parang dan
kawung di bagian tengah dan tepiannya masih diisi lagi, misalnya motif bunga padi.

Marilah kita jaga semua kekayaan yang ada di negeri kita. Jangan sampai timbul lagi masalah
yang sama seperti masalah Malaysia menghakpatenkan kekayan bangsa kita untuk negaranya.
Mari kita lestarikan semua kekayaan di negeri kita.