Anda di halaman 1dari 4

GARIS BESAR ARTIKEL

7 Cara Mengubah Perilaku Anak


Selasa, 24 Agustus 2010 | 15:09 WIB
KOMPAS.com - Sebagian orangtua mungkin merasa sedikit stres saat mengasuh anak.
Anak-anak zaman sekarang lebih pintar, begitu mungkin kata Anda, sehingga selalu punya
alasan untuk tidak mematuhi peraturan. Mereka selalu tahu bagaimana membantah ucapan
Anda.
Hal ini membuat Anda khawatir anak-anak tidak merespons apapun yang Anda minta. Bila
sudah merasa gagal meminta anak melakukan apa yang Anda mau, Anda pun langsung balik
merespons dalam bentuk bentakan, pendek kata yang bisa menunjukkan power Anda sebagai
orangtua. Anda berusaha mengembangkan pola pengasuhan yang berbeda, namun tetap tak
ada hasilnya. Maklum, sikap membangkang anak-anak itu sudah terbentuk sejak lama
sehingga sulit untuk diubah.
Benarkah sudah terlambat untuk mengubah cara mengasuh anak-anak ketika karakter mereka
sudah terbentuk? Menurut James Lehman, terapi perilaku anak-anak, tidak ada kata
atau terlambat untuk mengubahnya. Mungkin memang tidak gampang, tetapi ada cara efektif
yang bisa mulai Anda lakukan untuk mengubah cara Anda merespons dan memperbaiki
perilaku anak-anak.
1. Tentukan hal yang dapat Anda lakukan lebih dulu. Salah satu hal yang menghambat
adalah ketika Anda tidak mengetahui harus mulai dari mana. Namun, mulailah dari hal-hal
sederhana yang menempatkan anak dalam kondisi berisiko secara emosional maupun fisik.
Misalnya, ketika anak menciderai anak tetangga, merusak mainannya, atau nekad
menyeberang jalan. Tentu Anda tidak dapat mengubah semuanya sekaligus. Anda harus
mulai membicarakan tentang nilai-nilai dan moral kepada anak-anak, hal-hal yang
membahayakan dirinya dan anak-anak lain.
2. Mulailah satu-persatu. Ketika anak merasa kesal lalu masuk ke kamar dan membanting
pintunya sambil membentak Anda, lakukan satu hal yang ingin Anda ubah pertama kali.
Anda bisa menegurnya dengan mengatakan, "Jangan menyumpah, itu tidak sopan dan tidak
menyelesaikan masalah. Lagipula, kamu bikin Ibu sedih. Bisa enggak lain kali kamu tidak
menyumpah ketika sedang kesal?" Lalu, berikan pilihan mengenai apa yang harus
dilakukannya. Misalnya, masuk ke dalam kamar supaya bisa menenangkan diri. Setelah
urusan menyumpah itu selesai, Anda bisa menuju ke persoalan lainnya. Ubahlah satu demi
satu perilaku yang Anda rasa salah. Jangan mencoba untuk mengatasi semuanya sekaligus.
3. Jelaskan perubahan yang Anda inginkan. Jika Anda akan melakukan pendekatan baru
saat menghadapi perilaku anak yang salah, ada baiknya apabila Anda menjelaskan alasannya
kepada si buah hati. Mungkin hal tersebut akan membuat anak Anda marah dan frustrasi.
Namun jangan biarkan kemarahan tersebut dijadikan anak untuk berargumentasi dengan
Anda. Katakan bahwa Anda mengerti bahwa ia kesal, namun minta ia untuk bekerja sama
sebagai sebuah keluarga. Disarankan juga agar Anda tidak berbicara panjang-lebar, tidak
spesifik, dan tidak terfokus, agar anak lebih mudah menerima atau memahami apa yang Anda
inginkan.
4. Katakan kepada anak tujuan Anda mengubah peraturan. Dengan mengatakan tujuan
yang diharapkan, Anda memberikan kepercayaan kepada buah hati Anda untuk membantu
mewujudkan perubahan tersebut. Sangat penting untuk menyadari bahwa apa yang keluar
dari mulut Anda tidak selalu dipahami anak seperti yang Anda inginkan. Ketika anak tidak
mengerti apa yang Anda bicarakan, mereka dapat menjadi frustrasi, khawatir, dan
marah, meskipun mungkin mereka mencoba untuk tetap tenang. Apapun itu, Anda dapat
mengatakan, "Mari kita lihat jalan keluarnya." Itu adalah salah satu cara untuk mendekati
anak Anda dan mengubah persepsi hubungan antara Anda dan dia.
5. Membatasi peluangnya. Jika Anda khawatir anak akan melakukan sesuatu yang
merugikan, salah satu yang dapat Anda lakukan adalah membatasi peluang anak untuk
melakukan hal-hal tersebut. Misalnya, si ABG Anda senang mengendarai mobil dengan
ceroboh. Ia tidak mau menuruti aturan Anda untuk mengemudi dengan aman. Maka yang
bisa Anda lakukan adalah menyita mobilnya. Itulah yang terjadi ketika Anda membatasi
peluang anak untuk membawa mobil. Membatasi peluang adalah salah satu cara paling
sederhana untuk membentuk perilaku anak. Anda bisa mengembalikan mobil tersebut ketika
ia sudah bisa menunjukkan perubahan perilakunya.
6. Jangan mengharapkan empati anak. Meminta empati bukanlah pendekatan yang dapat
meyakinkan anak Anda, terutama bagi anak-anak remaja yang cenderung kurang berempati
pada orang lain. Untuk mengubah sesuatu, Anda harus menunjukkan akibat yang ditimbulkan
dari perilaku anak Anda. Jika ingin anak Anda berhenti berbohong, Anda harus dapat
melakukan suatu cara agar anak menyadari akibat dari kebohongan yang dilakukannya.
Dengan begini, Anda tidak perlu bergantung pada empati anak Anda.
7. Tetapkan batas dan beri konsekuensi. Salah satu hal yang penting dalam mengasuh anak
adalah menetapkan batasan pada mereka. Anda memang tidak dapat mengatur anak untuk
melakukan sesuatu sesuai harapan Anda. Namun, Anda dapat mengarahkan anak untuk
melakukannya. Misalnya, Anda meminta anak untuk masuk ke kamar dan tidur. Tetapi, anak
tidak mau tidur. Maka, Anda bisa mengajaknya masuk ke kamar, dan membuatnya
mengantuk. Anda bisa mengombinasikan konsekuensi dan motivasi agar anak pun bisa
mengantuk. Katakan, "Kalau tidak cepat tidur, besok bisa bangun kesiangan." Lalu,
padamkan lampu kamarnya, dan matikan televisi atau radionya. Inilah yang akan
membantunya untuk mengantuk.
Ingat, konsekuensi adalah alat untuk mencapai tujuan. Konsekuensi yang "efektif" adalah
ketika anak mulai merespons, meskipun hanya sesaat. Dengan demikian, Anda tidak perlu
menggunakan hukuman yang lebih besar.
Jadi, apakah sekarang Anda mengetahui bagaimana cara untuk mengubah gaya pengasuhan
Anda?
Penulis :
Paramitha Devi
Editor :
Dini










TELAAH KRITIS
PENDAPAT PARA AHLI