Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Manusia merupakan makluk ciptaan Tuhan dapat dibagi menjadi makhluk
sosial dan makhluk individu. Sebagai makluk sosial manusia tidak dapat hidup
sendiri dimana tidak dapat lepas dari individu lainnya dalam kehidupan
bermasyarakat. Ada tiga istilah yang digunakan menggambarkan masyarakat yang
terdiri dari agama, ras, bahasa, dan budaya yang berbeda, yakni pluralitas
(plurality), keragaman (diversity), dan multikultural (multicultural). Dalam
paham multikulturalisme, kesederajatan, dan atau kesetaraan sangat dihargai
untuk semua budaya yang ada dalam masyarakat. Paham ini sebetulnya
merupakan bentuk akomodasi dari budaya arus utama (besar) terhadap munculnya
budaya-budaya kecil yang datang dari berbagai kelompok. Itulah sebabnya,
penting sekarang ini membahas keragaman dan kesetaraan dalam hidup manusia.
Untuk konteks Indonesia sebagai masyarakat majemuk, sehubungan dengan
pentingnya ketiga hal tersebut : manusia, keragaman, dan kesetaraan, tatkala
berbicara tentang keragaman, hal itu mesthi dikaitkan dengan kesetaraan.
Mengapa? Karena keragaman tanpa kesetaraan akan memunculkan diskriminasi :
kelompok etnis yang satu bisa memperoleh lebih dibanding yang lain; atau
kelompok umur tertentu bisa mempunyai hak-hak khusus atas yang lainnya.
Keragaman yang didasarkan pada kesetaraan akan mampu mendorong munculnya
kreativitas, persaingan yang sehat dan terbuka, dan pada akhirnya akan memacu
kesaling-mengertian. Perkembangan pembangunan yang terjadi dalam dua dekade
terakhir di Indonesia menjadikan pertemuan antar orang dari berbagai kelompok
suku dan budaya sangat mudah terjadi. Hal itu tentu saja akan menimbulkan
banyak goncangan dan persoalan. Karena itu sebelum menjadi sebuah konflik
yang keras, Indonesia sudah selayaknya mempersiapkan masyarakatnya
mengenai adanya keragaman. Keragaman itu supaya menghasilkan manfaat besar
harus diletakkan dalam bingkai kebersamaan dan kesetaraan. Namun, sebelum
membahas mengenai bagaimana memahami keragaman dan kesetaraan dan juga
bagaimana mengelola keragaman yang ada dengan segala persoalan dan
tantangannya, pembahasan akan dimulai dengan memusatkan perhatian pada
manusia itu sendiri. Dalam perkembangan konteks kehidupan bermasyarakat yang
terjadi secara cepat dan dramatis seringkali muncul ketegangan antara
individualitas dan sosialitas. Bagaimana seorang manusia yang senantiasa
berusaha mencari identitas diri harus melakukan akomodasi terhadap
masyarakatnya yang juga terus berubah. Manusia baik sebagai pribadi maupun
sebagai bagian dari masyarakat dikitari oleh berbagai hal yang menjadikannya
selalu berada dalam ketegangan antara diri sendiri dan orang lain. Praktis
komunikasi, sejarah yang melingkupinya, keberadaan orang lain, konsep
mengenai masalalu, mas kini, dan mas depan juga merupakan hal-hal yang terus
perlu dipertimbangkan ketika manusia menjalani hidupnya, baik sebagai individu
maupun sebagai bagian dari sebuah masyarakat.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah Manusia, Keragaman dan
Kesetaraan adalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah hakikat keragaman dan kesetaraan manusia ?
2. Bagaimanakah kemajemukan dalam dinamika sosial budaya ?
3. Apa sajakah problematika keragaman dan kesetaraan dalam kehidupan masyarakat
dan negara ?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penyusunan makalah Manusia, Keragaman dan Kesetaraan
adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui tentang hakikat keragaman dan kesetaraan manusia
2. Untuk mengetahui tentang kemajemukan dalam dinamika sosial budaya
3. Untuk mengetahui problematika keragaman dan kesetaraan dalam kehidupan
masyarakat dan negara

BAB II
KAJIAN TEORI

A. Hakikat Keragaman dan Kesetaraan Manusia
Keragaman adalah suatu kondisi dalam masyarakat dimana terdapat
perbedaaan2 dalam berbagai bidang (masyarakat yang majemuk). Keragaman
dalam masyarakat adalah sebuah keadaaan yang menunjukkan perbedaan yang
cukup banyak macam atau jenisnya dalam masyarakat. Unsur keragamannya
dapat dilihat dalam suku bangsa dan ras, agama dan keyakinan, ideologi dan
politik, tata karma, kesenjangan ekonomi, dan kesenjangan sosial. Semua unsur
tersebut merupakan hal yang harus dipelajari agar keragaman tersebut tidak
membawa dampak yang buruk bagi kehidupan bermasyarakat.
Sedangkan kesetaraan manusia bermakna bahwa manusia sebagai mahkluk
tuhan yang memiliki tingkatan atau kedudukan yang sama. Tingkatan atau
kedudukan yang sama bersumber dari pandangan bahwa semua manusia tanpa
dibedakan adalah diciptakan dengan kedudukan yang sama yaitu sebagai makhluk
mulia dan tinggi derajatnya dibanding makhluk lain, dihadapan tuhan , semua
manusia adalah sama derajat, kedudukan atau tingkatannya yang membedakannya
adalah tingkat ketaqwaan manusia tersebut terhadap tuhan.
Manusia dalam kehidupan sehari-hari selalu berkaitan dengan konsep
kesetaraan dan keragaman. Konsep kesetaraan (equity) bisa dikaji dengan
pendekatan formal dan pendekatan substantif. Pada pendekatan formal kita
mengkaji kesetaraan berdasarkan peraturan-peraturan yang berlaku, baik berupa
undang-undang, maupuin norma, sedangkan pendekatan substantif mengkaji
konsep kesetaraan berdasarkan keluaran / output, maupun proses terjadinya
kesetaraan. Konsep kesetaraan biasanya dihubungkan dengan gender, status sosial,
dan berbagai hal lainnya yang mencirikan perbedaan-perbedaan serta persamaan-
persamaan. Sedangkan konsep keragaman merupakan hal yang wajar terjadi pada
kehidupan dan kebudayaan umat manusia. Kalau kita perhatikan lebih cermat,
kebudayaan Barat dan Timur mempunyai landasan dasar yang bertolak belakang.
Kalau di Barat budayanya bersifat antroposentris (berpusat pada manusia)
sedangkan Timur, yang diwakili oleh budaya India, Cina dan Islam, menunjukkan
ciri teosentris (berpusat pada Tuhan.Dengan demikian konsep-konsep yang lahir
dari Barat seperti demokrasi, mengandung elemen dasar serba manusia, manusia-
lah yang menjadi pusat perhatiannya. Sedangkan Timur mendasarkan segala
aturan hidup, seperti juga konsep kesetaraan dan keberagaman, berdasarkan apa
yang diatur oleh Tuhan melalui ajaran-ajarannya.
Penilaian atas realisasi kesetaraan dan keragaman pada umat manusia,
khususnya pada suatu masyarakat, dapat dikaji dari unsur-unsur universal
kebudayaan pada berbagai periodisasi kehidupan masyarakat.Sehubungan dengan
itu Negara kebangsaan Indonesia terbentuk dengan ciri yang amat unik dan
spesifik. Berbeda dengan Jerman, Inggris, Perancis, Italia, Yunani, yang menjadi
suatu negara bangsa karena kesamaan bahasa. Atau Australia, India, Sri Lanka,
Singapura, yang menjadi satu bangsa karena kesamaan daratan. Atau Jepang,
Korea, dan negara-negara di Timur Tengah, yang menjadi satu negara karena
kesamaan ras. Indonesia menjadi satu negara bangsa meski terdiri dari banyak
bahasa, etnik, ras, dan kepulauan. Hal itu terwujud karena kesamaan sejarah masa
lalu; nyaris kesamaan wilayah selama 500 tahun Kerajaan Sriwijaya dan 300
tahun Kerajaan Majapahit dan sama-sama 350 tahun dijajah Belanda serta 3,5
tahun oleh Jepang.

B. Kemajemukan dalam Dinamika Sosial Budaya
Keragaman atau kemajemukan dalam masyarakat selalu membawa perubahan dan
perkembangan atau dinamika sehingga masyarakat menjadi dinamis. Menurut
Furnivall, adanya sebuah masyarakat majemuk ditandai oleh penduduknya yang
semacam suku bangsa dan rasial saling berbeda yang hidup dalam satuan satuan
kelompoknya masing masing yang hanya bertemu di pasar. Menurut Smith,
masyarakat majemuk adalah kondisi struktural dari masyarakatnya dan bukan
produk kebijakan politik ekonomi pemerintah jajahan. Adanya masyarakat
majemuk ditandai oleh penduduknya yang semacam suku bangsa dan rasial saling
berbeda yang hidup dalam satuan satuan kelompok. Kemajemukan dalam
masyarakat dibedakan ke dalam dua hal yang saling berkaitan, yaitu:

a. Kemajemukan Sosial
Kemajemukan social, berkaitan dengan relasi antar orang atau antar
kelompok dalam masyarakat. Misalnya : perbedaan jenis kelamin, asal usul
keluarga atau kesukuan, perbedaan ideology atau wawasan berpikir, perbedaan
kepemilikan barang-barang atau pendapatan ekonomi.Kemajemukan social dapat
dibedakan dalam 3 hal penting :
a. Perbedaan Gender atau Seksualitas
Gender merupakan kerangka social yang diciptakan manusia untuk
membedakan laki-laki dan dan perempuan. Kerangka social ini tidak dibangun
secara ilmiah tetapi dibangun berdasarkan prasangka yang berkembang dalam
masyarakat, misalnya perempuan selalu diidentikkan dengan manusia yang lemah
dan cengeng, oleh karenanya wajar jika perempuan tidak diperbolehkan menjadi
pemimpin dalam masyarakat. Padahal, tidak selalu setiap perempuan adalah
seperti yang dibuat dalam kerangka gender tersebut. Sementara itu seksualitas
adalah pembeda karena jenis kelamin. Karena perbedaan seks bersifat kodrati,
maka yang bisa melahirkan dan menyusui hanyalah perempuan.
b. Perbedaan Etnisitas, kesukuan, dan asal-usul keluarga
Dalam masyarakat kuno nama seseorang kadang menunjukkan derajat
kebangsawanan mereka. Tetapi masyarakat modern sekarang ini tidak lagi
mengaitkan nama dengan nama desa asal, tapi tergantung dari keluarga masing-
masing pemilik nama. Sekarang banyak orang mengambil nama dari suku lain,
bahkan bangsa lain yang tidak punya ikatan sama sekali. Terlepas dari perubahan
apapun yang terjadi, etnisitas, kesukuan, dan asal-usul keluarga merupakan cirri
pembeda seseorang, kendatipun kemurniannya mulai menipis lantaran frekuensi
perkawinan campur antar antarsuku mulai meningkat.
c. Perbedaan Ekonomi
Perbedaan ini paling mudah dilihat, yang dalam terminology Marxisme tampak
sebagai perbedaan kelas social (golongan kaya-miskin), yang sering menimbulkan
ketegangan dan konflik antar golongan.

2. Kemajemukan Budaya
Kemajemukan budaya, berkaitan dengan kebiasaan-kebiasaan dalam menjalani
hidup. Misalnya: cara memandang dan menyelesaikan persoalan, cara beribadah,
perbedaan dalam menerapkan pola pengelolan keluarga; atau singkatnya dapat
disebutkan bagaimana seseorang memandang dunia, masyarakat dan kehidupan di
dalamnya.
Keragaman atau kemajemukan merupakan kenyataan sekaligus keniscayaan
dalam kehidupan di masyarakat. Keragaman merupakan salah satu realitas utama
yang dialami masyarakat dan kebudayaan di masa silam, kini dan di waktu-waktu
mendatang sebagai fakta, keragaman sering disikapi secara berbeda. Di satu sisi
diterima sebagai fakta yang dapat memperkaya kehidupan bersama, tetapi di sisi
lain dianggap sebagai faktor penyulit. Kemajemukan bisa mendatangkan manfaat
yang besar, namun bisa juga menjadi pemicu konflik yang dapat merugikan
masyarakat sendiri jika tidak dikelola dengan baik.
Keragaman budaya sangat erat kaitannya dengan kebiasaan-kebiasaan dalam
menjalani hidup semisalnya cara menjalani hidup, cara memandang dan
menyelesaikan persoalan, cara beribadah sebagai ekspresi keyakinan kepada
Tuhan, cara memandang dunia, masyarakat beserta kehidupan di
dalamnya. Contohnya : mengapa ada orang yang percaya dan memilih dukun
untuk mengatasi masalah kesehatan, bukannya mencari dokter. Demikian pula
dalam hal mendidik anak dalam keluarga. Ada yang menekankan bahwa
berselisih pendapat dengan orang lain itu dianggap tidak sopan dan mengggangu
ketentraman. Karena itu, ada keluarga yang mendidik untuk tidak membantah
orang lain. Keluarga ini ketika mendapat seorang aak kecil berdepat dengan orang
tuanya merasa bahwa anak tersebut tidak sopan, kurang pendidikan, bahkan nakal
dan kuarang ajar. Hal ini menimbulkan persoalan bagi keluarga yang tidak
menekankan pendidikan bahwa anak harus penurut.
Keragaman budaya juga menjadi persoalan ketika dikaitkan dengan perbedaan
sosial. Munculah pandangan stereotip yaitu pandangan tentang sekelompok orang
yang didefinisikan karakternya kedalam grup. Pandangan tersebut bisa bersifat
positif atau negatif. Sebagai contoh, suatu bangsa dapat distereotipkan sebagai
bangsa yang ramah atau tidak ramah.
Biasanya ciri-ciri dalam stereotip kebanyakan negatif, seperti cara bicara dan
perilaku orang batak kasar, cara bicara dan perilaku orang jawa lamban, orang
cina pelit dan orang madura suka berkelahi. Sejarah juga menjelaskan bahwa
perbedaan budaya dan stereotip telah menimbulkan banyak persoalan. Sindiran
atau pelecehan tehadap budaya pernah terjadi dalam sejarah kehidupan manusia
seperti budaya atau orang tertentu sudah di cap buruk. Karena itu dalam sejarah
pernah terjadi pertobatan budaya. Penginjilan dan atau dakwah dari agama
tertentu pada masa lampau mencerminkan pandangan yang menganggap bahwa
suatu budaya tertentu lebih rendah dari budaya lain misalnya dalam konteks
kekristenan sejarah pengijilan selalu terkait dengan perendahan dan pelecehan
budaya bahwa semua orang harus bertobat dan masuk agama kristen yang baru
dan menyelamatkan. Istilah budaya yang tinggi merupakan milik keraton yang
dipertentagkan dengan kebudayaan rakyat, milik orang biasa dan miskin
merupakan bentuk upaya membedakan sekaligus sindiran dan pelecehan antara
suatu budaya dengan yang lain. Sekarang ini muncul budaya global yang datang
dari barat dan negara maju berhadapan dengan budaya lokal. Budaya global
tersebut memberikan dampak positif dan negatif bagi budaya lokal.


D. Problematika Keragaman dan Kesetaraan dalam Kehidupan Masyarakat
dan Negara
1. Problem Keragaman Serta Solusinya Dalam Kehidupan
Masyarakat majemuk atau masyarakat yang beragam selalu memiliki sifat-
sifat dasar sebagai berikut :
a. Terjadinya segmentasi ke dalam kelompok-kelompok yang sering kali memiliki
kebudayaan yang berbeda.
b. Memiliki strutkutr sosial yang terbagi-bagi ke dalam lembaga-lembaga yang
bersifat nonkomplementer.
c. Kurang mengembangkan consensus di antara para anggota masyarakat tentan
nilai-nilai sosial yang bersifat dasar.
d. Secara relatif, sering kali terjadi konflik di antara kelompok yang satu dengan
yang lainnya.
e. Secara relatif, integrasi sosial tumbuh di atas paksaan dan saling
ketergantungan di dalam bidang ekonomi.
f. Adanya dominasi politik oleh suatu kelompok terhadap kelompok yang lain.

Keragaman adalah modal, tetapi sekaligus potensi konflik. Keragaman budaya
daerah memang memperkaya khazanah budaya dan menjadi modal yang berharga
untuk membangun Indonesia yang multicultural. Namun, kondisi aneka budaya
itu sangat berpotensi memecah belah dan menjadi lahan subur bagi konflik dan
kecemburuan sosial.
Konflik atau pertentangan sebenarnya terdiri dari dua fase, yaitu fase
disharmoni dan fase disintegrasi. Disharmoni menunjuk pada adanya perbedaan
pandangan tentang tujuan, nilai, norma, dan tindakan antarkelompok. Disintegrasi
merupakan fase di mana sudah tidak dapat lagi disatukannya pandangan, nilai,
norma, dan tindakan kelompok yang menyebabkan pertentangan antarkelompok.
Konflik horizontal yang terjadi bukan disebabkan oleh adanya perbedaan atau
keragaman itu sendiri. Adanya perbedaan ras, etnik, dan agama tidaklah harus
menjadikan kita bertikai dengan pihak lain. Yang menjadi penyebab adalah tidak
adanya komunikasi dan pemahaman pada berbagai kelompok masyarakat dan
budaya lain, inilah justru yang dapat memicu konflik. Kesadaranlah yang
dibutuhkan untuk menghargai, menghormati, serta menegakkan prinsip kesetaraan
atau kesederajatan antar masyarakat tersebut. Satu hal yang penting adalah
meningkatkan pemahaman antar budaya dan masyarakat yang mana sedapat
mungkin menghilangkan penyakit budaya. Penyakit budaya tersebut adalah
etnosentrisme stereotip, prasangka, rasisme, diskriminasi, dan space goating.
(Sutarno, 2007).
Etnosentrisme adalah kecenderungan untuk menetapkan semua norma dan
nilai budaya orang lain dengan standar budayanya sendiri.Stereotip adalah
pemberian sifat tertentu terhadap seseorang berdasarkan kategori yang bersifat
subjektif, hanya karena dia berasal dari kelompok yang
berbeda. Prasangka adalah sikap emosi yang mengarah pada cara berpikri dan
berpandangan secara negative dan tidak melihat fakta yang nyata
ada. Rasisme bermakna anti terhadap ras lain atau ras tertentu di luar ras
sendiri. Diskriminasi merupakan tindakan yang membeda-bedakan dan kurang
bersahabat dari kelompok dominan terhadap kelompok subordinasinya. Space
goating artinya pengkambinghitaman.
Solusi lain yang dapat dipertimbangkan untuk memperkecil masalah yang
diakibatkan oleh pengaruh negates dari keragaman adalah sebagai berikut :
a. Semangat religious
b. Semangat nasionalisme
c. Semangat pluralisme
d. Dialog antar umat beragama
e. Membangun suatu pola komunikasi untuk interaksi maupun konfigurasi
hubungan antaragama, media massa, dan harmonisasi dunia.

2. Problem Kesetaraan serta Solusinya dalam Kehidupan

Prinsip kesetaraan atau kesederajatan mensyaratkan jaminan akan persamaan
derajat, hak, dan kewajiban. Indicator kesederajatan adalah sebagai berikut :
a. Adanya persamaan derajat dilihat dari agama, suku bangsa, ras, gender, dan
golongan
b. Adanya persamaan hak dari segi pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan yang
layak
c. Adanya persamaan kewajiban sebagai hamba Tuhan, individu, dan anggota
masyarakat.

Problem yang terjadi dalam kehidupan, umumnya adalah munculnya sikap dan
perilaku untuk tidak mengakui adanya persamaan derajat, hak, dan kewajiban
antarmanusia atau antarwarga. Perilaku yang membeda-bedakan orang disebut
diskriminasi. Upaya untuk menekan dan menghapus praktik-praktik diskriminasi
adalah melalui perlindungan dan penegakan HAM disetiap ranah kehidupan
manusia. Seperti negara kita Indonesia yang berkomitmen untuk melindungi dan
menegakkan hak asasi warga negara melalui Undang-Undang No. 39 Tahun 1999
tentang HAM.
Pada tataran operasional, upaya mewujudkan persamaan di depan hukum dan
penghapusan diskriminasi rasial antara lain ditandai dengan penghapusan Surat
Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) melalui keputusan Presiden
No. 56 Tahun 1996 dan Instruksi Presiden No. 4 Tahun 1999. Disamping itu,
ditetapkannya Imlek sebagai hari libur nasional menunjukkan perkembangan
upaya penghapusan diskriminasi rasial telah berada pada arah yang tepat.
Rumah tangga juga merupakan wilayah potensial terjadinya perilaku
diskriminatif. Untuk mencegah terjadinya perilaku diskriminatif dalam rumah
tangga, antara lain telah ditetapkan Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak dan Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang
Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Keragaman dalam masyarakat adalah sebuah keadaaan yang menunjukkan
perbedaan yang cukup banyak macam atau jenisnya dalam masyarakat,
Sedangkan kesetaraan manusia bermakna bahwa manusia sebagai mahkluk tuhan
yang memiliki tingkatan atau kedudukan yang sama.
Keragaman atau kemajemukan dalam masyarakat selalu membawa perubahan
dan perkembangan atau dinamika sehingga masyarakat menjadi dinamis.
Kemajemukan dalam masyarakat dibedakan ke dalam dua hal yang saling
berkaitan, yaitu: Kemajemukan Sosial dan Kemajemukan Budaya. Keragaman
budaya sangat erat kaitannya dengan kebiasaan-kebiasaan dalam menjalani hidup
semisalnya cara menjalani hidup, cara memandang dan menyelesaikan persoalan,
cara beribadah sebagai ekspresi keyakinan kepada Tuhan, cara memandang dunia,
masyarakat beserta kehidupan di dalamnya. Keragaman bangsa terutama karena
adanya kemajemukan etnik, disebut juga suku bangsa atau suku. Beragamnya
etnik di Indonesia menyebabkan banyak ragam budaya, tradisi, kepercayaan, dan
pranata kebudayaan lainnya karena setiap etnis pada dasarnya menghasilkan
kebudayaan. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang multikultur artinya
memiliki banyak budaya. Pengakuan akan prinsip kesetaraan dan kesedarajatan
itu secara yuridis diakui dan dijamin oleh negara melalui UUD45. Warga negara
tanpa dilihat perbedaan ras, suku, agama, dan budayanya diperlakukan sama dan
memiliki kedudukan yang sama dalam hukum dan pemerintahan negara Indonesia
mengakui adanya prinsip persamaan kedudukan warga negara. Hal ini dinyatakan
secara tegas dalam Pasal 27 ayat (1) UUD45 bahwa segala warga Negara
bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib
menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.
Keragaman dan kesetaraan dalam kehidupan masyarakat dan negara akan
menimbulkan beberapa konflik atau pertentangan, yang secara umumterdiri dari
dua fase, yaitu fase disharmoni dan fase disintegrasi. Disharmoni menunjuk pada
adanya perbedaan pandangan tentang tujuan, nilai, norma, dan tindakan
antarkelompok. Disintegrasi merupakan fase di mana sudah tidak dapat lagi
disatukannya pandangan, nilai, norma, dan tindakan kelompok yang
menyebabkan pertentangan antarkelompok. Ada beberapa solusi yang dapat
dipertimbangkan untuk memperkecil konflik-konflikyang muncul dari keragaman
adalah sebagai berikut : Semangat religious, semangat nasionalisme, semangat
pluralisme, dialog antar umat beragama, dan ,embangun suatu pola komunikasi
untuk interaksi maupun konfigurasi hubungan antaragama, media massa, dan
harmonisasi dunia.
DAFTAR PUSTAKA

Soewartono, Dkk. 2013. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Surabaya : Universitas
Wijaya Kusuma Surabaya.
Poerwanto, Hari. 2008. Kebudayaan dan Lingkungan. Yogyakarta : Pustaka
Pelajar.
Wahyono, Tries Edy. 2009. Pendidikan Multikultural. Malang : Surya Pena
Gemilang.
Susanto. Astrid. 1985. Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial. Binacipta
http://catarts.wordpress.com/2012/04/13/bab-iv-manusia-keragaman-dan-
kesetaraan/
http://liliputsupercrazy.blogspot.com/2012/10/kemajemukan-dalam-dinamika-
sosial-dan.html
http://rustadi29-dinamikakehidupan.blogspot.com/2011/07/kemajemukan-dan-
kesetaraan-sebagai.html
http://bagongmendem.blogspot.com/2012/09/makalah-manusia-keragaman-dan-
kesetaraan.html
http://buyungfbriant.blogspot.com/2012/11/problematika-keragaman-dan-
kesetaraan.html