Anda di halaman 1dari 71

Satu

Memori Masa Kecil



Bahkan,
sejak masih bayi manusia udah terbiasa dengan hal-hal yang berbau porno,
ga percaya?
Silahkan dibaca deh..

Bayi itu kini telah berusia genap setahun. Lucu, sangat lucu. Pipinya tembem, matanya lebar,
senyumnya begitu menggemaskan. Dia dikelilingi oleh empat ibu-ibu muda yang terlihat
serius memperhatikannya. Gerak gerik konyol sang bayi mampu memecah tawa diantara para
karyawati bank swasta itu.


" Iyyhhh.. Lutuunaaa... " pekik salah seorang diantara mereka, ibu-ibu satu, alias Marini. Dia
yang bertubuh paling tambun diantara mereka.

" Iya ihhh, lucuuu, lucuuu, lucu bangeeet... " kali ini ibu-ibu dua yang bernama Susan ikut
memberi pujian pada bayi yang sesungguhnya sama sekali engga perduli dengan berbagai
lontaran puja-puji mereka.

" Lucu ya? Lucu ya? Anak siapa dulu dooong.. " ibu-ibu tiga mulai berbangga diri, dia itu
Hamidah, ibu kandung sang bayi.

" Iya, lucu... " ibu-ibu empat angkat bicara, " Udah chubby, ganteng, putih, tititnya imut
pula.. "

" . . . . . . . "


Mendadak seisi ruangan hening mendengar kata-katanya.

Sedangkan sang bayi masih tetap menggeliat diatas ranjangnya yang mungil dan nyaman
sambil senyam-senyum ga jelas. Sesekali menggaruk-garuk titit kecilnya yang tidak tertutup
celana, karena memang sekarang adalah jatah si bayi untuk ganti popok.


" Ups.. " ibu-ibu empat menutup mulutnya, menyadari bahwa kata-katanya barusan terlalu
tidak senonoh untuk diperdengarkan disana.

" Ma-maksud aku itu, hi-hidungnya.. " ujarnya buru-buru meralat salah kata nya, " Iya, iya..
Hi-hidungnya, i-imut.. "

= = = = =

Ahhh ya, itu tadi sedikit cerita masa kecilku. Ngomong-ngomong soal masa kecil, selain
kejadian konyol yang pernah diceritakan oleh ibuku itu, aku pernah mendapat pengalaman
konyol lainnya. Kali ini berhubungan dengan anak kecil lain yang berjenis kelamin beda
denganku. Aku masih mengingat jelas namanya, Chusnul Alissia.


Sosok anak perempuan yang dulu sangat dekat denganku, dimana ada dirinya, disitu juga ada
aku. Chusnul, yang seumuran denganku, sangat lucu, dia adalah anak perempuan paling
cantik di kampung. Rumahnya berada tepat berhadapan dengan rumahku. Setiap hari aku
selalu bermain dengannya. Mulai dari main barbie, main teddy bear, bola bekel, dakon, atau
mainan-mainan anak perempuan lainnya.

Dafuq...

Kami juga beberapa kali mandi bersama-sama. Dia melihat titit imut ku, dan aku melihat
semua onderdil dalam nya.


Suatu hari, saat melihat tetangga kami menikah, aku langsung mengajaknya melakukan hal
yang sama.

" Chusu (begitu aku memanggilnya saat kecil), nantiii kalo udah gede Chusu mau gaaa nikah
ama akuuu.. " ujarku saat itu.

" Iya, tentu mauuu dong Dakochan (begitu dia memanggilku saat kecil karena kelihaianku
bermain dakon).. " jawabnya polos.


Sayangnya janji itu mulai digerogoti oleh jurang pemisah bernama waktu, saat ini aku sama
sekali engga tau dimana Chusnul Alissia berada.

Sejak usia lima tahun, Chusu pindah ke Makassar. Dan sejak saat itu pula aku sama sekali
tidak pernah bertemu dengannya.

Hingga saat ini.


Berkali-kali aku memasukkan keyword berupa Chusnul Alissia di berbagai situs jejaring
sosial, berkali-kali pula aku menemukan kegagalan. Tidak ada nama yang cocok. Mungkin
saja dia menamai akun jejaring sosialnya dengan nama-nama alay yang saat ini sedang beken.

Bisa jadi Siichusnulmiripalyssasoebandonotralala, atau malah
Chusnuladypunkdoyanmakangaram?

Who knows?


Tapi aku masih memegang janjiku dengannya, janji yang saat itu aku ikrarkan, untuk bisa
menikahinya disaat kami telah beranjak dewasa kelak. Itulah alasan kenapa hingga kini aku
sama sekali belum mencicipi nikmat berpacaran. Hubungan istimewa yang aku jalin dengan
para betina hanya mampu bertahan sampai predikat TTM, alias Teman Tapi Mesum.

Masa kecilku memang sungguh menyenangkan. Masa kecil yang sangat bersinar. Masa kecil
sebagai bayi primadona di kampung. Bayi yang punya banyak penggemar. Dan aku yakin,
bahkan Morgan Smash saat bayi pun masih jauh kalah imut dibanding masa-masa bayi ku.

Masa kecil yang telah lama berlalu, telah lama memudar.


Sama memudarnya seperti wajahku saat ini.

Surabaya siang ini sangat panas. Terik matahari terus menyiksaku, juga menjadikan wajah
berminyakku makin engga enak diliat. Hari ini hari terakhir ospek. Hari yang menjadi
jembatan bagiku, juga mahasiswa baru lainnya, untuk mulai belajar di kampus ini. Kami
masih berbaris rapi ditengah lapangan, dengan ditemani senior-senior sok galak yang terus
menatap tajam kearah kami di beberapa titik.


Tugas utama kami siang ini adalah berbaris rapi ala upacara bendera di Istana Negara, sambil
mendengar petuah membosankan dari beberapa dosen. Acara yang hanya dijadwalkan
berlangsung selama satu jam, namun sudah benar-benar menyiksa kami di menit yang baru
memasuki angka empat puluh lima ini.


Untungnya, diantara para senior berwajah disturbing yang mengelilingi kami, ada seorang
senior cewek berparas super mempesona. Dialah kak Wanda Adelia. Dia pembimbing
kelompok kami, kelompok Serigala, jurusan Teknik Arsitektur. Karena bertugas
membimbing kelompok kami, maka kak Wanda pun harus berbaris tepat disamping barisan
kami.

Mengutip kata singkat yang biasa diumbar oleh para personil girlband Cherrybelle, sosok
Wanda Adelia memang benar-benar istimewa. Mirip sebilah swiss army knife yang komplit
dan multifungsi. Saat ini dia berdiri tegak dalam posisi istirahat ditempat, payudaranya
berukuran sekitar 36-an, pastinya berapa, jelas aku sama sekali engga tau. Maklum, aku
bukanlah pedagang beha. Dengan posisi berdirinya yang begitu tegak, payudara mancung itu
terus menantang setiap pejantan yang sempat menemukannya.

Sama seperti para senior galak lainnya, Wanda mengenakan almamater warna merah marum
kebanggaan kampus. Dia memadukannya dengan polo shirt warna putih didalam. Tubuh
Wanda memiliki tinggi sekitar 170 cm, modal yang bagus, dengan lekuk yang menyerupai
gitar Spanyol. So sexy. Dan body-nya yang aduhai itu pun masih disempurnakan oleh wajah
oval yang ekstra cantik, bulu mata lentik, serta bibir tipis yang terlihat begitu enak saat
dicipok.


Brukkk...

Mendadak, Dimas Herdiono, salah seorang mahasiswa baru lainnya yang masih berada
dalam satu kelompok denganku terjatuh. Posisi berdirinya yang berada tepat didepanku
membuatku tersentak kaget. Cowok bertubuh kurus ini langsung ambruk mencium paving.
Jelas bukan hal yang mengenakkan baginya, mencium kak Wanda pasti lebih nikmat.

Untungnya dia sedang dalam kondisi tidak sadarkan diri saat ini. Berarti dia tidak perlu
merasakan secara langsung bagaimana rasa sakit yang muncul akibat mencium paving
dengan keras seperti itu.


Tunggu, tunggu, dia engga sadar?

Apa ada seorang sniper yang baru saja menembak kepalanya?

Aku segera memicingkan mata, berusaha melawan cahaya matahari yang memberi efek silau
tidak mengenakkan pada pandanganku. Aku harus segera menemukannya, sang penembak,
sebelum dia kembali mengirim peluru kedua untuk menyerang kami.


Menyerang kami? Atau jangan-jangan sniper itu mengincarku?

Gawat.

Pasti gara-gara mobil bekas yang kemarin dibelikan ayahku. Sebuah Toyota Corolla tahun
1996 warna hitam. Pasti mobil itu adalah salah satu dari sekian banyak Autobots yang telah
mendiami bumi. Berarti penyerang Dimas tadi adalah..

Decepticons...


Plakkk...

Sebuah pukulan keras mendarat di pundak ku, menyadarkanku dari segala lamunan konyol
yang baru saja melintas dalam isi kepala ku. Transformers, yah, itu kan hanya judul film yang
tadi malam baru saja aku lihat untuk kesekian kali nya. Film yang aku gemari sejak kecil.


" Bambang, ada temennya pingsan kok malah ngelamun.. " ujar kak Wanda, dia tampak
khawatir.

Ah ya, lupa..


Namaku adalah Bambang Lesus Soekawi, adik kandung dari Joko Lindu Soekawi alias
Jokoli yang legendaris itu (yang pernah baca Dodekatheon pasti tau). Jika kakakku itu adalah
produk gagal yang bahkan produsennya pun tidak mau menerima barang retur-nya, maka aku
sebaliknya. Seorang Bambang memiliki wajah yang cukup tampan, kulit putih bersih, dan
postur tubuh proporsional.

Nama panggilanku adalah Bams. Terinspirasi dari vokalis band Samson yang juga bernama
asli Bambang. Nama panggilan itu aku deklarasikan se-segara-mungkin untuk mencegah
makin beranak-pinak-nya nama panggilan konyol yang bisa melekat dalam diriku.


" Eh.. "

" Ayo cepetan diberdiriin, trus dibopong ke ruang kesehatan.. " perintahnya.

Herannya, anak-anak lain sama sekali engga perduli dengan kondisi kami bertiga yang
kebingungan. Mungkin Decepticons telah mengancam mereka agar tidak membantu kami.


" Eh, i-iya kak.. " jawabku, dengan segera aku membantu Dimas untuk berdiri. Berlagak
seperti Kamen Rider yang selalu tampil heroik.

" Bawa nya gimana kak? " tanyaku kemudian.

Kak Wanda langsung celingukan mencari bala bantuan. Salah seorang senior lain bernama
Ari menghampiri kami.


" Tandu nya, masih dibawa kelompok Lebah, tadi ada yang pingsan juga.. " ujarnya, benar-
benar mengetahui kesulitan kami, " Kamu gendong aja Mbeng (lihat kan, salah satu
panggilan konyol yang diciptakan oleh senior kampret se-enak jidat), taroh di punggung
kamu, sini aku bantuin.. "

" Oke, gagasan yang sungguh super jenius, membuatku terlihat konyol seperti maho-man
sebentar lagi.. "


Mulai saat itu aku kian akrab dengan Wanda, dan juga dengan Dimas. Keberadaan mereka
berdua sangat membantu masa-masa awal kuliahku. Wanda sebagai senior sekaligus TTM ku
yang baru, sedangkan Dimas adalah sahabat terbaik yang aku punya di kampus. Sedangkan
sang pemberi ide konyol, Ari, tetap menjadi manusia paling menyebalkan disana.

Dua
Malinda Linda

Kenapa calon presiden Indonesia yang berinisial RI itu dulu selalu kontra
ama goyang ngebornya Inul Daratista?
Soalnya dia cuma bisa tiruin goyang patah-patah.
Update : sekarang malah udah jago goyang itik juga..

Sebatang kopi sachetan, plus secangkir rokok Mild. Eh, kebalik ya? Oke, oke, bisa kita ulang
lagi. Minggu pagi ini, cuaca di Surabaya masih sama seperti beberapa hari sebelumnya,
panas. Tapi sama sekali enggak mengubah kebiasaanku di hari Minggu untuk tetap
menikmati menu sarapan klasik. Secangkir kopi sachetan, plus sebatang rokok Mild.

Menu sarapan yang sama sekali engga sehat.


Semakin engga sehat kala didepan kosan beberapa ibu-ibu tampak ngerumpi kegirangan
sambil happy shoping di lapak tukang sayur keliling, Pak Mahdi. Percayalah, ngerumpi
dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, naik tensi, dan kerusakan telinga pada
pendengarnya. Bahan obrolan mereka pun sangat beragam, mulai dari Anas Urbaningrum,
sampai ke...

" Eh jeng, si cakep Andika nikah lagi cyinnn.. Gilakkk, itu udah pernikahan yang keempat dia
loh.. "

" Hahhh, Andika yang cool abis itu? Mantan personil Kangen Band itu kan bu? "

" Iya dong jeng, emang mau yang mana lagi coba? "

" Yaaahh kali aja Andika suaminya Sussy Sulistiawaty itu.. "


" Ussy kaleee, bukan Sussy.. Dasar ibu-ibu jaman sekarang.. "


Selain obrolan ga jelas dari ibu-ibu tadi, kupingku semakin dibikin gerah gara-gara lagu-lagu
dangdut yang diputerin oleh Tante Malinda dengan volume super kencang.

Tante Malinda ini adalah pemilik kosan khusus wanita di sebelah kosan yang aku tempati.
Usia pastinya aku engga tau, karena aku bukan pencatat sensus penduduk. Satu yang pasti,
dia ini udah masuk ke kepala empat. Meski demikian, keindahan tubuhnya tetap terjaga,
wajahnya masih terlihat cantik, begitu pula dengan halus lembut kulitnya.

Pokoknya tante Malinda ini benar-benar High Quality Tante.


Hubungannya denganku terjaga cukup baik. Karena tante Malinda merupakan salah seorang
sahabat karib ibuku. Hubungan persahabatan yang muncul saat keduanya masih sama-sama
menjadi karyawati disalah satu bank swasta di Surabaya. Berarti sejak aku bayi pun tante
Malinda sudah mengenalku. Salah satu hal yang tidak pernah bisa aku lupakan darinya adalah
kata kata ini..

" Udah chubby, ganteng, putih, tititnya imut pula.. "

Man, dia orang pertama yang memuji tititku..


Aku melongokkan wajah ke rumah tante Malinda. Biasanya, saat dia memutar musik dangdut
kencang-kencang seperti ini adalah saat-saat dia baru menyelesaikan kegiatan cuci-cuci
pakaiannya. Dan biasanya lagi, saat itu dia pasti mengenakan pakaian yang lebih seksi
dibanding kostum kesehariannya.

Glekkk..


Benar saja, kali ini tante Malinda mengenakan daster putih bermotif batik yang lumayan tipis,
membuat bra dan celana dalam warna merah didalamnya bisa tampak jelas oleh setiap mata
yang memandang. Kondisi itu pun makin disempurnakan oleh beberapa bagian daster yang
basah plus pancaran sinar matahari yang menyorotnya.

" Se-seksi... "


Gerakannya saat menjemur pakaian sungguh sangat erotis. Dia menjemur sambil
menggoyangkan pinggulnya kekanan dan kekiri sesuai dengan alunan irama lagu yang dia
putar.

Cinta satu malam, Oh indahnya..
Cinta satu malam, Buatku melayang...
Walau satu malam akan selalu ku kenang, Dalam hidupku...

= = = = =

Tiga puluh menit berlalu, ibu-ibu tukang rumpi tadi baru kembali ke kandang masing-masing.
Pasti dari mulut mereka mulai mengeluarkan busa karena terlalu banyak berbicara tadi.

Tante Malinda telah selesai menjemur satu bak penuh sandang cuciannya. Beragam jenis
pakaiannya kini mejeng dipelataran rumah kosannya. Mulai dari daster, kaos, kemeja, bra,
hingga celana dalam aneka warna terpampang jelas diatas tiang jemuran. Kaset bajakan
kompilasi lagu dangdut yang diputarnya pun baru berganti sisi dari side A ke side B. Dan
aku..

Damn!!!


Apa yang aku lakuin? Hingga kini aku masih melongo memandangi tubuh molek tante
Malinda..


Aku mulai tersadar dari hipnotis tubuh seksi tante Malinda yang sejak tadi menjeratku.
Seketika itu juga aku segera merapikan meja depan kosan, membuang abu rokok yang
memenuhi asbak, menyapu sedikit bagian bawah lantai yang sempat terkotori olehku, serta
bersiap masuk kedalam dapur untuk mencuci cangkir yang kini hanya menyisakan ampas
kopi.


Sik asik sik asik kenal dirimu..
Sik asik sik asik dekat denganmu..
Terasa di hati berbunga-bunga setiap bertemu..

Sik asik sik asik kenal dirimu..
Sik asik sik asik dekat denganmu..
Ah, aku berharap semoga kamulah..
Yang akan menjadi, jadi pacarku..


Ada yang aneh dengan alunan lagu itu, temponya mendadak berubah menjadi super lambat.
Mungkin putaran kasetnya menjadi tidak normal lagi akibat terlalu sering digunakan oleh
tante Malinda. Selang tak berapa lama suara itu menghilang. Berganti dengan suara teriakan
tante Malinda yang memekakkan telingaku.

" Bembeeenggggg!!! " kepalanya mengintip dari celah pagar penghubung kosanku dengan
rumahnya.


Bembeng atau lebih singkatnya Mbeng, adalah panggilan yang akrab denganku di kampung.
Meski berkali-kali aku mendaklarasikan nama keren macam Bams, tetap saja nama itu sulit
melekat pada diriku. Orang-orang terlalu gemar memanggilku dengan sebutan-sebutan
konyol. Padahal wajahku sama sekali engga konyol, tampan malah. Kutukan yang diturunkan
dari kakakku, Jokoli, sepertinya.

" E-eh, ke-kenapa tante? " jawabku, agak sedikit kaget dengan teriakannya barusan.

" Sini sebentar dong Mbeng.. " pintanya memelas, " Tape tante rusak ini.. "

" Tolongin dong benerin.. "

" Plisss... "


Seorang Bambang Lesus Soekawi yang gentle ini jelas sama sekali tidak bisa menolak
request permintaan tolong dari para kaum hawa. Apalagi jika kaum hawa itu tadi memiliki
tubuh seksi dan wajah cantik seperti yang ada dalam diri tante Malinda.

" Iyaaa tante.. " dengan patuh aku segera bergegas menuju kerumahnya, berharap bisa
sesekali mendapat pemandangan indah dari tubuh perempuan yang telah dikaruniai dua orang
anak itu.


Tante Malinda masih mengenakan daster yang sama dengan tadi. Bra dan celana dalam yang
tadi terlihat samar dari kejauhan kini terlihat makin jelas saat aku telah tiba didalam
rumahnya. Sisi basah disana begitu menggoda. Mau tidak mau pemandangan istimewa ini
perlahan tapi pasti mulai membangkitkan Bams Junior dari tidurnya. Sedangkan aku sendiri
hanya mengenakan kaos warna hitam dan celana pendek warna serupa.


Aku mulai memeriksa tape tante Malinda. Dan karena sama sekali engga memiliki keahlian
khusus dibidang elektronika, maka aku hanya berusaha melepas jeratan pita kaset yang kusut
didalam tape untuk kemudian digulung rapi kembali.

" Rusaknya kenapa Mbeng? " tanya tante Malinda, " Bisa kamu benerin kan? "

" Ini putarannya berubah jadi agak lelet tante.. " jelasku, " Keseringan dipake sih.. Aku ga
bisa benerin, cuma balikin kasetnya ini aja.. "

" Yahhh kok gitu.. "

" Iya emang gitu, bawa ke servis aja tante.. "


Selama proses servis kaset yang aku berikan, tante Malinda berceloteh panjang lebar tentang
banyak hal. Mulai dari masa kecilku yang konyol, sampai kisah betapa setianya sang suami,
Pak Karmoto.

Sedikit tentang Pak Karmoto. Nama lengapnya adalah Karmoto Suherman, nama yang aneh
kan. Iya, jelas nama yang aneh. Sama anehnya dengan sang pemilik nama. Pria berusia
setengah abad itu bertubuh pendek, hanya 155 cm, jauh dibawah tubuh sintal tante Malinda
yang setinggi 165 cm. Perawakannya tambun mirip Doraemon, wajah culun ala Nobita, serta
bibir monyong khas Suneo. Lengkap.


Sampai detik ini aku masih engga habis pikir kenapa tante Malinda yang cantik dan seksi ini
memilih seorang Karmoto Suherman sebagai pendamping hidupnya.

" Dulu aku dijodohin ama dia Mbeng.. " ujarnya lirih, mendadak tampak lesu dan putus asa.
Ekspresi galau tingkat akut.

Oke, ternyata akibat perjodohan.


Aku langsung terkekeh mendengar jawabannya.

" Yeee, malah ketawa.. Hihihi.. " tante Malinda ikut tertawa.

" Lho, kok sepi tante rumahnya sekarang? " tanyaku setelah menyadari betapa heningnya
suasana didalam rumah tante Malinda.

" Iya, Papi (panggilan sayangnya pada Pak Karmoto) masih ke Madura mengurusi ternak sapi
nya.. " jawabnya, " Lisa (anak sulungnya) kan kuliah di Bandung, dia kos disana, Aldo
(anaknya yang lain) kerumah neneknya, nanti siangan aku jemput, anak-anak kos pada
pulang, biasanya nanti sore baru pada balik.. "

Wah, benar-benar ga ada orang selain tante Malinda ternyata..


" Eh, kata mama, tante pernah ngatain tititku imut ya, dulu.. " ujarku coba memancing
pembicaraan kearah yang lebih vulgar.

" Hahahaha... " tante Malinda tertawa lepas, " Iya, emang imut, tapi dulu kan, waktu kamu
masih baby.. Ga tau deh sekarang, pasti jadi amit-amit.. "

" Yeee, tetep imut kok.. " aku langsung membela Bams Junior

" Mana sini tante lihat? " tantangnya.

" Idih tante, nanti aku bilangin mama loh.. " kali ini aku berlagak sok jual mahal, berusaha
menaikkan harga jual sang Bams Junior di bursa semprot perlendiran.


Ga salah deh kalo tante Malinda ini sering disebut sebagai tante paling binal di kampung
oleh para remaja disini.

= = = = =

" Wah, kamu ini jago juga ya benerin kaset yang mbulet kayak gini.. " gumam tante Malinda
sambil menatap takjub padaku akan bagaimana hasil ketelatenanku menggulung pita kaset
bajakan yang baru saja kusut tidak karuan itu. Kini semuanya telah kembali seperti semula,
meski aku yakin kaset itu tetap tidak akan berfungsi normal seperti biasanya.

" Benar-benar berbakat kamu Mbeng.. "

Dafuq..


Keahlian ini aku dapatkan dari kegemaranku mengoleksi kaset-kaset lagu jaman jadul sejak
aku masih berada di bangku Sekolah Dasar. Mulai dari yang lokal macem Base Jam, Jikustik,
Sheila On Seven, atau Padi, sampai boyband manca semodel Westlife, Five, Backstreet Boys,
atau Blue.

" Tante hari ini keliatan makin seksi deh.. " gumamku, sedikit menggombal untuk menggoda
tante Malinda memanfaatkan segala faktor yang sangat mendukung.

" Iiihhhhh, anak ini mulai bisa ngegombal yahhh.. " sahut tante Malinda dengan nada manja,
dia melancarkan cubitan genit kearah pinggangku. Sungguh menyiksa karena cubitannya
lumayan sakit. Lebih sakit dibanding cubitan Wanda.

" Aduh, aduh, sakiiit tanteeeee... " rengekku seraya mengambrukkan tubuhku berguling
kekanan, namun tante Malinda masih engga mau kalah terus mencubitiku.


Pada serangannya yang kesekian kali, dengan sigap aku sukses menangkap tangan lembut itu,
kemudian menariknya kearahku. Keseimbangan tante Malinda hilang, membuatnya terjatuh
menimpaku. Aku langsung buru-buru memeluknya erat. Merasakan betapa sintalnya
tubuhnya.

" Wekkk, tante kena... " kataku sok lugu. Herannya, tante Malinda sama sekali engga
berontak mendapat pelukan seperti ini dariku.


Tanpa tendeng aling-aling, tante Malinda mengecup bibirku. Matanya memejam, dia terus
memagut bibirku yang masih terdiam. Sedetik, dua detik, tiga detik kemudian aku mulai
membalasnya. Bibir kami kini saling menempel erat, sesuatu yang tidak aku duga akan
terjadi. Sesekali kuasan lidah kami menambah nikmat ciuman ini. Tapi aku merasakan ada
yang salah dengan hal ini, aku segera melepas dekapan bibir tante Malinda.

" Uhhh... Eh, ke-kenapa Mbeng? " tanyanya, " Ga mau ya, ma-maafin tante Mbeng, tante
tiba-tiba pingin gituan.. Gara-gara papi keseringan ngurusin sapi di Madura seh.. Ja-jangan
bilang ke siapa-siapa ya.. "

" Haisshhh, ternyata Pak Karmoto lebih doyan sapi ketimbang istrinya yang bohay ini,
kasian kan akhirnya jadi jablay.. "


Aku tersenyum mendengarnya, " Bukan gitu tante, kita ini masih ada di ruang tamu, pindah
kekamar yuk.. " ajakku.

Tante Malinda melangkah kearah pintu utama rumahnya, menutup kemudian menguncinya.
Dia kemudian mengajakku masuk kedalam salah satu kamar kos dalam rumahnya yang
berada paling dekat dengan pintu.


Dengan segera aku langsung mencumbui leher tante Malinda didalam kamar itu, merasakan
aroma harum tubuhnya bercampur dengan wangi yang berasal dari kegiatan mencucinya tadi.
Aku terus mengecup dan menjilati kulit putih bersih tante Malinda. Dia memelukku erat,
kemudian membisikkan..

" Mbeng, tante ini belum mandi tau.. "


Hahhh? Belum mandi tapi sama sekali tidak ada bau aneh dari badannya, jangan-jangan
perempuan ini tiap hari makan dan minumannya selalu dicampur dengan parfum...


Aku tidak memperdulikannya. Sepasang payudara kenyal mliknya kini mulai aku buai, mulai
aku usap, dan mulai aku remas. Daster dan bra yang dikenakannya pastilah sangat tipis
karena kenyal payudara itu begitu benar-benar terasa. Aku terus menyerangnya, dalam hal
memainkan payudara seorang perempuan, aku sangatlah berpengalaman.

Engga boleh lama-lama, inget ini hari minggu, tetangga sekitar pasti banyak yang ada
dirumah..


Tanganku kini memangkat daster pendek yang dikenakan tante Malinda hingga aku dapat
menemukan ujungnya. Meski dengan perasaan meragu, aku mulai memberanikan diri untuk
menyingkapnya, membuat daster putih tipis itu meninggalkan sang pemilik. Tante Malinda
membiarkannya, membiarkanku melucuti satu persatu pakaiannya, setelah daster, bra yang
dikenakannya aku buka. Kini hanya tersisa celana dalam mini bergambar angry birds
menutup tubuhnya.

" Astaga Mbeng!!! " jeritnya histeris, " Kenapa bajuku kamu lepas semua!!!??? "


Aku tidak perduli lagi dengan segala perkatannya. Dengan secepat kilat ala gerakan
superhero Flash, aku melancarkan serangan-serangan berikutnya kearah payudara dan
bibirnya secara bertubi-tubi. Ciuman, juga remasan-remasan dengan gerakan memutar.
Payudara itu sungguh indah, sangat kencang untuk ukuran milik seorang yang telah berusia
kepala empat. Putingnya mungil berwarna cokelat muda dengan areola yang kecil. Pinggang
tante Malinda masih sangat ramping, efek rajinnya dia berolahraga pasti, terima kasih kepada
fitnes center Tong Seng yang berada dimulut gang kampung ini.

" Mmmmhhh.. " tante Malinda berhenti protes, dia malah membalas dengan girang cumbuan
dariku.

" Mbeeeng, jangan nakal.. Mmmhhhhh... " ujarnya lirih, tapi masih berpasrah diri
membiarkanku menguasai dirinya.

" Tante seksiii banget sih.. " balasku, " Lebih seksi lagi kalo celana dalamnya dilepas deh.. "

" Lepasin... " jawabnya, tersenyum nakal, benar-benar tante yang binal.


Dengan cepat aku berjongkok, kemudian memelorotkan satu-satunya penutup liang
senggama milik tante Malinda. It's all gone in 6 seconds. Tante Malinda kini sudah
bertelanjang bulat didepanku, vagina chubby itu mengerling menggoda Bams Junior untuk
segera menusuknya. Vagina yang berhias jembie dengan style mohawk.

Oke, tinggal tambahin tindik maka lengkaplah sudah vagina berstyle ladies punk disana..

" Waaahhh... Indah banget tante... " pujiku setelah menyaksikan pemandangan penyejuk mata
yang kini tersaji dihadapanku.


Aku segera kembali bangkit dari jongkokku. Maklum, berlama-lama jongkok akan membuat
kakiku kesemutan. Sepasang bongkahan payudara tante Malinda dengan lembut langsung aku
sasar. Aku meremasnya setelaten mungkin, memilin-milin putingnya, sementara Bams Junior
yang masih terjebak dalam celana aku gesek-gesekkan kearah vaginanya.

Bibirku memagut bibirnya dengan penuh nafsu. Tante Malinda mampu mengimbangiku, pasti
pengalaman seksnya saat muda dulu sungguh bejibun. Ditambah berbagai jurus belaianku
pada bongkah payudaranya, memberi sensasi tersendiri dalam tubuhnya. Istri Pak Karmoto
ini terus mendesah, makin memancingku untuk melakukan berbagai hal yang lebih lagi.

" Emmhhhhh... "


Nafsu syahwat terus menguasai kami berdua. Peluh mulai membasahi tubuh telanjang tante
Malinda. Terlihat jelas dia benar-benar menikmati ini semua, membuatnya seakan
terombang-ambing dalam lautan kenikmatan duniawi. Tanganku masih saja betah bergerilya
dihamparan dua bukit kenyal milik tante Malinda. Sementara tangannya mulai berani
membelai Bams Junior. Dalam beberapa gerakan, seluruh penutup bagian bawah tubuhku
mendadak hilang. Lagi-lagi, semuanya gone in few seconds. Bahkan aku sama sekali tidak
menyadarinya.


Bams Junior akhirnya terbebas dari sarangnya. Andai bisa, dia pasti langsung bersorak
kegirangan, berteriak, " Horeee, i'm freeeee... "

" Tuh kan udah ga imut lagi tititnya.. " ujar tante Malinda kecewa, " Jadi gede gini sih.. "


Batang kemaluanku itu mengacung tegak, kokoh seperti Ultraman, membuat tante Malinda
terpana menatapnya, meski dia juga kecewa karena tititku udah engga seimut dulu.

Bodo amat, mau imut-imut atau amit-amit asal bisa menghasilkan..


Dia berganti posisi berjongkok, memberi satu ciuman perkenalan kepada Bams Junior,
kemudian mengulumnya, menjilatinya, sesekali juga mengocoknya. Senang diperlakukan
seperti itu, Bams Junior makin menjulang, kini dia siap menantang siapa saja, termasuk sang
vagina ladies punk milik tante Malinda.

Tidak tahan menerima gelombang kenikmatan saat diperlakukan seperti ini, aku menarik
lembut tubuh tante Malinda untuk kembali berdiri berhadapan denganku, aku
membimbingnya untuk menuju kearah ranjang. Menidurkannya disana. Kemudian membantu
mengatur posisi kaki tante Malinda sedemikian rupa hingga menyerupai gaya kodok.
Membuat vaginanya kini terekspos dengan sangat jelas. Tanpa sensor sedikitpun.


Aku menenggelamkan wajahku pada kemaluan tante Malinda. Vaginanya beraroma harum,
aroma khas wanita yang rajin merawat bagian sensitifnya, bercampur dengan wewangian
deterjen. Yah, pasti akibat aktifitas cuci-cuci nya tadi. Baru beberapa detik menjilati
vaginanya, tiba-tiba aku teringat perkataan tante Malinda yang tadi sempat dilontarkannya..

" Mbeng, tante ini belum mandi tau.. "

Membuatku membatalkan niatan untuk bermain lebih lama disana, bukan karena jijik, karena
memang vagina tante Malinda tidak berbau aneh. Hanya sedikit lebih menjaga kebersihan
pada apa yang menyentuh mulutku. Menghindarkan diriku terkena sariawan, penyakit yang
sangat sering menyapaku beberapa hari terakhir.

Emang ngaruh ya?


Waktu terus berjalan, engga baik jika aku berlama-lama disini. Tubuh telanjang tante
Malinda basah oleh peluh. Wajahnya terlihat makin binal, rambut lurus panjangnya yang
berwarna sedikit kemerahan dibiarkan terurai. Godaan ini harus segera aku akhiri, perlahan
aku mengambil posisi, mencari komposisi paling pas untuk menempatkan batang
kemaluanku kedalam vaginanya.

" E-eh, Mbeng, mau ngap-ngapain? " tante Malinda gelagapan mengetahui aku sudah
berancang-ancang untuk melakukan penetrasi terakhir dalam hubungan sex kali ini.

" Mau itu dooong tantee.. "


Dengan perlahan aku memajukan pinggulku, membuat kepala Bams Junior kini menempel
pada bibir vagina tante Malinda. Dengan sekali dorongan, batang kemaluanku sukses masuk
menembus celah lipatan bibir sang ladies punk. Terasa begitu mudah, karena sejak tadi
vagina tante Malinda memang sudah becek, usianya yang telah mencapai kepala empat juga
turut mempengaruhi lebar pintu selamat datang itu.

" Aakkkhhhhh!!!!! " rintih tante Malinda merasakan sentuhan pertama Bams Junior dalam
vaginanya, " Titit kamu itu ge-gede bangeeettt Mbeng... "

" Iya dong tante, tiap hari kan minum susu.. " ujarku bangga.


Bams Junior memang dapat mudah masuk kedalam vagina tante Malinda. Namun begitu
seluruh tubuh batang kemaluan itu telah berada didalamnya, ada sensasi berbeda yang sangat
luar biasa. Dinding-dinding dalam vagina tante Malinda menjepit Bams Junior erat-erat,
seakan ada switch control yang mampu mengubah status vagina tante Malinda dari longgar,
menjadi peret.

Serius..

" Mmmhhhhh, enakkk tante.. "


Aku mulai menggoyang-goyangkan pinggulku, bergerak maju-mundur untuk terus
menggoyang Bams Junior yang kini terbenam dalam vagina tante Malinda. Gerakan
perlahan, namun berirama, semakin lama semakin kencang pula gerakannya.

" Uhhhhh.... Ahhh.. Ahhhhh.... " erang tante Malinda, menikmati setiap gerakan batang
kemaluanku.

Tubuh ibu kandung Lisa dan Aldo menggelinjang dahsyat, dia mulai ikut mendorong-dorong
vaginanya maju mundur selaras dengan irama goyangan pinggulku. Aku terus menyerangnya,
tante Malinda berkelonjotan makin hebat. Gesekan demi gesekan menimbulkan rasa nikmat
yang terus menjalar dalam diri kami berdua.


Tidak ingin menyia-nyiakan aset tubuh tante Malinda lainnya yang menganggur, aku mulai
kembali memainkan payudaranya. Mengenyot dan mengulum puting mungil ditengahnya,
serta meremas-remas lembut dua payudara kenyal ukuran besar itu. Sebagai hadiah atas
usahaku, tante Malinda mendekap tubuhku, memelukku erat-erat.

" Ooouhhh!!! En-enak Mbeng, enak... "


Selisih usia kami saat ini adalah dua puluh empat tahun. Jauh, sangat jauh. Tidak seharusnya
aku melakukan persetubuhan ini. Apa boleh buat, nafsu memang selalu mengalahkan
segalanya. Termasuk akal sehat kami berdua.

" Oooohhhh... Ahhh, ahhh, ahhhhh... " tante Malinda melenguh manja, merasakan
kenikmatan luar biasa yang diberikan oleh Bams Junior. Payudaranya bergoyang beriringan,
mirip jelly dalam mangkuk yang diguncang-guncang oleh anak kecil penggemarnya.


Sepuluh menit lebih berlalu, aku masih menggarap tubuh tante Malinda. Kami berdua benar-
benar dimabukkan oleh nikmat persetubuhan pertama kami ini. Ini pertama kalinya aku
bersetubuh dengan sosok perempuan yang berusia jauh diatasku. Rasanya benar-benar beda.
Mata tante Malinda tampak sayu menggoda, sesekali bibirnya mengeluarkan ceracauan yang
makin meningkatkan gairahku padanya.

" Vagina punya tante ini, bener-bener ennnaaaaakkk... Perreeett bangettt tante... " aku
menyahut sambil merem-melek merasakan dahsyat kenikmatan yang mendera Bams Junior.

Vagina ini, basah, tapi bener-bener kesat. Pasti dirawatnya dengan sangat ekstra.


Aku terus memompa vagina tante Malinda dengan semangat. Sama seperti semangat yang
diusung menpora baru Indonesia untuk menyelesaikan kisruh di tubuh PSSI saat ini. Vagina
tante Malinda sungguh legit. Bahkan benar-benar tidak kalah dengan jajanan lapis legit yang
nikmat itu.

" Emmmhhhhh!!! Uuhhh!!! Aaahh!!! Ahhh!!!! " tante Malinda terus mengicau. Lebih
cerewet dibanding burung beo peliharaan bokapnya Wanda.


Tiba-tiba tubuh tante Malinda menggelinjang kian heboh. Kehebohan yang bisa disetarakan
dengan gaya gangnam yang sedang populer itu. Kedua batang kakinya yang mulus menjepit
pinggangku erat-erat, pasti sedikit lagi dia sukses mendaki puncak orgasmenya.

" Aaaaahhh!!!!! Ooohhhhh!!! " tante Malinda menjerit keras, terus mendekati mencapai titik
ujung kenikmatan yang sejak tadi terus-menerus menghujam dirinya. Sebentar lagi
permainan ini usai.


Yah, sebentar lagi..


Aku mempercepat gerakan tititku didalam vagina tante Malinda. Desakan serangan para
Bams Junior kian menggila, hingga akhirnya defender terakhir dalam formasi 4-2-3-1 yang
aku terapkan sukses dilewatinya. Kini salah seorang diantara mereka tinggal berhadapan one-
by-one dengan sang penjaga gawang. Dengan sebuah sontekan keras akhirnya..

Crot.. Crot... Crott....

" Aaaaahhhhhhh... " erang tante Malinda.

Tubuhnya menggelepar, dia mendekap tubuhku erat-erat. Tititku baru saja menyemburkan
sperma didalam vaginanya, rasanya semuanya terjadi secara bebarengan. Orgasme kami
berdua.


Aku merobohkan diri, ambruk menindih tubuh sintal tante Malinda yang masih basah oleh
keringat. Dia terlihat makin seksi menggoda saat ini. Merasa lelah, aku bergeser kesamping
tubuhnya, tidur terlentang bersebelahan dengannya sambil mengatur napas sejenak sebelum
pulang kembali ke kosan. Sementara itu tante Malinda tersenyum puas atas rentetan orgasme
yang didapatnya dariku. Senyum yang sangat manis untuk seorang yang seumuran dengan
ibuku sendiri. Ibuku jelas sangat cantik, namun tante Malinda masih lebih cantik dibanding
dengan beliau.

" Tadi aku keluarin didalem.. " kataku polos, " Gapapa nih tante? "

" Gapapa Mbeng.. Tenang aja, bukan masa-masa subur, lagian umur segini emang masih bisa
punya anak lagi? " balas tante Malinda sembari tertawa kecil, sama polosnya.

" Bisa tante, bisa.. " batinku.

" Hebat kamu Mbeng.. " ucapnya lagi, dia mengambil tissue dari meja disamping kasur untuk
membersihkan bagian luar vaginanya yang masih belepotan oleh spermaku.

" Tante juga hebat.. Enak banget.. " pujiku, pujian jujur kok, " Bener-bener enak tante,
pantesan Pak Karmoto begitu setia ama tante, hehehe... "


Mendadak raut wajah tante Malinda berubah menunjukkan palm face.

" Jadi kalo ngentotnya ga enak langsung ga setia gitu.. " ujarnya.

" Eh, ya ga tau tante.. Liat-liat cowoknya dulu dong kayak gimana.. "

" Ooo, gitu.. Kalo kamu gimana hayo? "

" Kalo Bams sih orangnya setia tante.. "

" Setiap tikungan ada.. " ledeknya.

" Yeee, beneran setia kok tante Malinda sayang.. " aku mentowel hidung mungilnya, dia
membalas menarik-narik titit imutku.

" Aduhhh, jangan dipanggil tante Malinda, cukup tante Linda aja Mbeng.. " sahutnya sambil
sedikit melotot, " Biar lebih enak didenger.. Hihihi.. "


Oke, mulai saat ini jangan tulis dia pake nama tante Malinda ya, pak Penulis. Cukup tulis
pake nama tante Linda saja. Cuman beda dua huruf doang sih sebenernya, engga seberapa
ngaruh juga.

" Hehehehe... " aku tertawa geli melihat mimik wajah konyol tante Linda, " Iya, iya, tanteku
sayang.. "

" Yaudah, aku pulang dulu yah tante.. " aku mengecup keningnya sebagai tanda perpisahan
kami hari ini.


Aku berdiri, beranjak dari tempat tidur. Bersiap segera meninggalkan kamar tante Linda yang
super bohay ini dengan wajah ceria. Gimana engga ceria kalo bisa ngedapetin jackpot di pagi
hari cerah seperti ini. Perlahan aku melangkah menuju kearah pintu dengan langkah tegap.
Menandakan kemenanganku. Menandakan kesuksesanku meniduri istri Pak Karmoto.

Pak Karmoto yang songong dan menyebalkan.

Akhirnya..

Benar-benar sensasi berbeda saat bisa melakukannya dengan tante Linda. Dengan sahabat
ibuku.


" Mbeng, tunggu!!! " teriak tante Linda, membuatku terjingkat saking kagetnya.

" Aduh, kenapa tante? Bikin kaget aja.. " aku berhenti dengan posisi tangan kanan sudah
menggenggam knop pintu kamar tante Linda. Sedikit lagi aku membuka pintu itu.

" Kamu itu bego atau gimana sih... " ujar tante Linda manja sambil sedikit manyun dan
merengut.

Jangan-jangan dia mau nambah? Aduh bisa gawat kalo kelamaan disini..

" E-eh, ke-kenapa tante? " aku makin kebingungan dibuatnya.


" Kalo mau pulang itu.. Pake celana dulu tau.. " jawabnya.

" Masa tititnya dibiarin ngegantung kayak gitu.. " dia menambahkan sambil sedikit terkikik.

Sial!!! Sampe lupa pake celana kayak gini..

Tiga
Code Name : Chusnul

Namanya siapa mbak?
Dan dia ngejawab dengan manisnya,
" Noel "
Keren? Engga, lha nama aslinya sebenernya cuma Chusnul kok..

Seminggu telah berlalu pasca kejadian mesum mengesankan yang sama sekali engga terduga
dengan tante Malinda, eh ups tante Linda maksudnya, hidupku benar-benar makin penuh
warna. Gimana engga makin penuh warna, saat ini ada tiga cewe cantik yang selalu mengusik
diriku.


Mulai dari tante Linda, dia selalu mengusik tititku karena tingkat kejablayannya yang kian
membuncah akibat sering ditinggal sang suami, Pak Karmoto, mengurusi bisnis ternak sapi
nya di Madura.

Kemudian seorang teman masa kecil bernama Chusnul Alissia yang terus mengusik
pikiranku atas janji pernikahan yang dulu pernah aku ikrarkan padanya, sedangkan
keberadaannya sendiri sama sekali engga aku ketahui sampai detik ini. Bahkan tidak ada
sedikitpun clue untuk itu.

Dan yang terakhir...


" Mbeeeng saaayang, gimana bra yang ini? " ujar wanita yang sejak kemarin malam
menghabiskan jatah libur kuliahnya untuk berbulan madu bersamaku dikamar kosan sempit
ini, " Bagus gaaa? "

Dia hanya mengenakan bra dan celana dalam saat ini, bra kesepuluh yang dicobanya. Hasil
berburu diskon bra di Mall pada Surabaya Nite Shopping semalam. Meski berstatus sebagai
barang diskon, tetap saja harga bra-bra itu tergolong fantastis. Aku masih mengingat jelas
kata-katanya,


" Kyaaa, Mbeng saaayang... Bra ini muraaah bangeeet, dua ratus lima puluh ribu rupiah
udah dapet lima.. Aku mau, aku mau, aku mau, beliin sepuluh ya saaayang... "


Lima ratus ribu harus melayang demi sepuluh bra untuk seseorang yang berstatus sebagai
TTM, Teman Tapi Mesum, ku itu. Berarti sebulan penuh kedepan aku harus benar-benar
berhemat. Makan seadanya, cukup sehari sekali, itu pun hanya mengkonsumsi nasi putih
dengan lauk krupuk dan kecap.

Oke, rasanya aku harus mulai mencari pekerjaan sampingan.


" Yaaah, kok ga dijawab sih.. " protes Wanda membuyarkan lamunanku, dia cemberut,
membuatnya makin terlihat lebih cantik menggemaskan.

" Iya, iya, bagus kok.. " balasku dengan semangat, sambil memberikannya dua jempol,
membuatku kali ini menjadi sangat mirip dengan pengamat kualitas bra yang telah malang
melintang dalam dunia per-underwear-an.


Mahasiswi yang setingkat lebih senior dariku dikampus, Wanda Adelia, dia kini sukses
kudapatkan. Baik secara lahir, maupun batin. Perempuan itu sungguh cantik, beruntunglah
aku sukses mendapat perhatian dan service ekstra darinya.

Meski tidak bisa dipungkiri bahwa seorang Wanda benar-benar menjeratku dalam penyakit
kronis yang biasa disebut dengan Kanker, alias Kantong Kering. Iya, wanda sukses besar
mengusik isi dompetku hingga keakar-akarnya. Tidak hanya sampai disitu, dia juga
mengusik...


" Mbeng saaayang, kapan kita jadian? Masa mau TTM-an terus kayak gini? " Wanda
mendekat kearahku.

Itu masalahnya.


Wanda juga mengusik pikiranku. Dia menuntutku untuk segera meresmikan hubungan kami
sebagai sepasang kekasih, bukan sekedar partner mesum seperti saat ini. Dia mulai jengah
dengan status hubungan kami yang berlabel engga jelas. Padahal aku telah berjanji hanya
akan mengabadikan hatiku untuk Chusnul Alissia seorang.

" Eh.. Iya sayang, sebentar lagi.. " jawabku pelan.

" Huuuhhh, dari dulu selalu gitu jawabnya.. " protes Wanda, " Kamu emang ga sayang aku.. "

That's the problem..


Aku segera bangkit, berjalan dengan bertelanjang menuju kearah lemari pakaianku untuk
mengambil sesuatu.

Telanjang?

Iya, pagi ini kami sudah melakukannya sekali. Sarapan seks itu menyehatkan, bisa membuat
hari-harimu lebih bersemangat. Dan lebih beruntung. Semoga saja.


Aku mengeluarkan sekotak cokelat impor yang sengaja aku beli untuk Wanda, dia adalah
penggemar berat cokelat.

Cokelat itu aku dapatkan dari toko buah raksasa di Surabaya yang juga menjual banyak
pilihan makanan dan minuman impor dari berbagai negara. Aku memiliki teman disana,
seorang kasir, dia memberitahukanku ada diskon besar-besaran hingga 70% dari produk
cokelat asal Swiss.

Lumayan kan, bisa difungsikan sebagai hadiah khusus untuk Wanda disaat genting seperti
ini. Padahal alasan utama cokelat itu didiskon besar-besaran adalah karena masa edar yang
menjelang kata expired.


" Ini buat kamu sayang.. " kataku merajuk, memberikan cokelat branded yang hampir expired
itu padanya.

Wanda langsung nyengir. Ekspresi kecewanya hilang, berganti ekspresi mupeng akibat
cokelat yang baru saja aku berikan.

" Aku itu sayang sama kamu.. " tambahku.


Wanda langsung memelukku, erat, sangat erat. Dia masih hanya mengenakan underwear hasil
belanjaan kami berdua semalam.

" Makasih sayang.. " bisiknya, " Em-el lagi yuk, Mbeng saaayang.. "

Segitu gampangnya ngedapetin perhatian Wanda. Satu cokelat memang punya seribu
manfaat.

Trust me, it works.

= = = = =

Sedikit kehilangan akal sehat akibat seseorang bernama Chusnul Alissia yang selalu
mengusik pikiranku, membuatku berakhir disini, didalam kamar nomor 212, hotel Cempaka,
Surabaya.

Hey, hey, hey, gimana ceritanya?


Oke, oke, sedikit flashback kebelakang. Beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan kakak
kandungku, Joko Lindu Soekawi, alias Jokoli. Kami berbincang banyak hal sambil
menikmati secangkir kopi sachetan dengan merk yang sama di teras depan kosan. Selain
ledek-meledek tentang klub sepakbola yang kami idolai (dia adalah fans berat klub raksasa
Manchester United, sedangkan aku merupakan pendukung setia klub medioker
Southampton), kami juga berbagi cerita cinta tak terwujud masing-masing.

Jokoli jatuh cinta pada salah seorang primadona di kampusnya, nama perempuan itu adalah
Ribka Stefanie, perempuan mungil yang kadar cantiknya sungguh luar biasa dengan ukuran
payudara diatas rata-rata. Kisah cinta kakakku itu harus bertepuk sebelah tangan karena
Ribka malah jatuh cinta pada sahabat karibnya sendiri, seorang cowok super keren yang
memiliki phobia takut pada cewek cantik (kok ada ya hal-hal seperti itu, untungnya phobia
itu engga menghampiriku), Verano Alexandr Raphaelle (nama yang keren, dan panjang).

Kasian, kasian, kasian..


Sedangkan aku sendiri banyak bercerita tentang keinginanku untuk bisa bertemu dengan
Chusnul Alissia. Atas saran dan petuah dari Jokoli, dia menyarankanku untuk memasang
iklan di harian ternama yang terbit setiap hari. Sebelas dua belas dengan iklan pencarian
orang hilang, juga sedikit mirip dengan iklan pencarian jodoh. Aku pun menyanggupinya,
namun sama sekali tidak ada kontak yang masuk menghubungiku untuk memberi sedikit titik
terang yang aku butuhkan.

Sampai akhirnya kemarin malam seorang wanita menghubungiku. Berkata bahwa dialah
Chusnul yang selama ini aku cari. Dia memintaku menyediakan satu kamar di hotel ini untuk
bisa bertemu denganku disini.


Tok, tok, tok...


Nah, ini pasti dia. Benar-benar ontime. Dia berjanji menemuiku jam tiga sore, dan sekarang
malah masih memasuki menit ke lima puluh setelah jarum pendek jam dinding dalam kamar
sukses melewati angka dua.

Aku segera beranjak, merapikan tatanan rambut gondrongku, menyemprotkan sedikit minyak
wangi kearah tubuhku. Jantungku berdebar. Inilah saatnya, sebentar lagi aku akan bertemu
dengannya. Seseorang yang selama ini aku cari, aku nanti.

Cklek..


Seseorang wanita berdiri dihadapanku setelah pintu kamar kubuka. Tinggi, cukup tinggi,
bahkan lebih tinggi dariku, tingginya sekitar 175 cm, padahal Chusnul dimasa kecilnya dulu
sangatlah mungil. Dia mengenakan rok cekak dengan atasan berupa tanktop putih ketat yang
dipadu jaket jeans. Seksi, sangat seksi. Kulitnya sangat putih, meski pahanya sedikit besar,
namun pinggangnya cukup ramping.

Yang istimewa dari sosok wanita itu adalah payudaranya, berukuran sangat fantastis, besar,
sangat besar. Mungkin sekitar 38 C, sekali lagi ini cuma perkiraan seorang Bams yang awam
ini lho ya, karena aku memang bukan pedagang beha.


" Kok diem, hihihi... " wanita itu terkikik melihat reaksiku.

Wajahnya tidak seberapa cantik, namun terlihat bersih. Rambutnya panjang, sedikit diwarna
kemerahan.

" E-eh, i-iya, ma-masuk.. " ujarku tergugup.


Jelas tergugup karena yang ada dihadapanku saat ini adalah seseorang yang selama ini telah
aku nantikan kehadirannya. Aku coba mengingat-ingat paras Chusnul Alissia dimasa
kecilnya, coba menyamakan dengan paras wanita ini.

Tidak berhasil. Karena aku kesulitan membayangkan wajahnya saat itu. Wajar, karena
pertemuan terakhir kami sudah termakan oleh waktu hingga hampir lima belas tahun
lamanya.

" Aku Chusnul.. " ujarnya setelah masuk kedalam kamar, " Kamu pasti Bambang kan,
temenku waktu kecil itu? "

" I-iya, jawabku.. " aku menutup dan mengunci pintu kamar, berjaga-jaga jika saja hari ini
aku sukses mendapat sesutu yang lebih darinya.

If you know what i mean..


Chusnul membuka jaket jeansnya, dia tampak kian seksi, toketnya makin terekspos. Besar,
luar biasa besar, belum pernah aku mendapat yang sebesar ini sebelumnya.

Dia berjalan menghampiriku, aroma harum tercium dari tubuhnya. Harum, iya sangat harum,
meskipun aromanya begitu menusuk hidung. Melihat tampilan seksi Chusnul membuat Bams
Junior mulai bangkit.

Chusnul makin mendekatiku, dia melirik kebawah, kearah Bams Junior yang mulai menegak.

Ketauan deh..


Wanita itu tersenyum melihat perangaiku yang sedikit gugup, termasuk dibagian bawah sana.
Chusnul semakin mendekat, tiba-tiba dia memelukku. Pelukan yang sama sekali tidak aku
duga sebelumnya.

" Aku kangen kamu mas Bambang.. " bisiknya.


Jujur, aku sedikit kecewa dengan Chusnul yang ini, dia tidak secantik seperti masa kecilnya.
Ada beberapa sisi wajahnya yang terlihat kurang pas. Dia terlihat kurang girlie, kurang
cewek, entah apapun itu namanya. Yang jelas memang kurang enak dilihat.

Atau hanya perasaanku saja?


Kecuali tubuh seksinya, juga ukuran payudaranya yang begitu menggoda, semuanya sama
sekali tidak ada yang aku suka dari fisiknya.

" A-aku juga.. " jawabku, membalas pelukannya.

" Boleh aku cium kamu mas? " tanyanya.


Suara Chusnul sangat halus, benar-benar lembut. Membuatku makin tergoda. Meski ada
perasaan aneh dalam diriku. Ada sisi yang berontak didalam sana, sisi itu menjerit, sisi itu
meyakini bahwa Chusnul yang ini bukanlah Chusnul yang aku cari selama ini.

Bukankah Chusnul yang dulu tidak pernah memanggilku dengan nama Bambang? Ya,
Chusnul, alias Chusu selalu memanggilku dengan sebutan Dakochan.


Aku coba mengacuhkan segala pikiran buruk itu, bisa saja dia lupa akibat terlalu lama tidak
bertemu denganku. Aku menjawab pertanyaannya dengan sebuah anggukan kecil. Membuat
Chusnul langsung menyergap bibirku, dia menciuminya dengan penuh nafsu, sampai aku
benar-benar kesulitan mengimbanginya.


Bibir kami saling memagut, lidah kami saling bertaut. Kami dipenuhi hawa nafsu yang begitu
melimpah, meski nyatanya tadi pagi aku telah dua kali mendapat service gratis dari Wanda.

" Emmmhhh... " desahnya.


Rasa rindu akan sosok Chusnul itu mulai terobati seiring kehadirannya. Aku harus
membiasakan diri dengan sosok ini, dengan sosok inilah aku akan menikah kelak, sesuai
dengan janjiku saat itu. Meski sebenarnya wajah Chusnul ternyata tidak sesuai apa yang aku
harapkan, minimum dia memiliki payudara yang luar biasa indah membulat.

Tidak tahan dengan godaan payudaranya, aku segera meremasnya. Terasa empuk, terasa
kenyal. Aku menyingkap tanktop yang dikenakannya. Juga bra pink yang menjadi penutup
terakhir payudara itu.

Chusnul diam, dia tidak protes, tidak juga mengelak waktu mendapat perlakuan seperti ini
dariku. Rasanya dia siap memberikan segalanya untukku, atas dasar janji yang dulu pernah
aku ikrarkan padanya.


Payudara miliknya memang benar-benar besar, benar-benar berukuran ekstra, dengan puting
imut dibagian tengahnya. Aku terus menjamah kedua bongkah payudara itu. Meremas-remas,
kemudian juga memilin-milin putingnya. Sementara itu bibir kami masih saling berpagut
mesra.

Secepat ini? Secepat inikah aku mendapat segalanya dari dia?


Tangan Chusnul mulai nakal menjamah Bams Junior. Dia membuka risleting celana jeans
yang aku kenakan, kemudian memelorotkannya. Tangannya menyelip masuk kedalam celana
dalamku, menggenggam Bams Junior erat-erat, sedikit mengocok dan membelainya.
Membuatku kelonjotan merasakan nikmat yang muncul dari sana.

" Ahhh... "


Merasa terangsang, tangan kananku meremas payudaranya lebih cepat, lebih bersemangat.
Sementara tangan kiriku mulai merangkak kebawah, menuju ke arah bagian kewanitaannya,
menerobos melalui rok cekak yang menutupinya, dan..

" Eh.. " ujarku spontan, aku langsung menghentikan segala aktifitasku sesaat setelah
menyentuh organ vitalnya itu.


Ada yang aneh disana, aneh, sangat aneh..


Tidak ada vagina yang menyapa gerakan tangan kiriku, dia tidak memilikinya, salah,
seharusnya ini salah, ini engga wajar, ini aneh, sangat aneh, karena yang ada disana adalah..

" Pe-penis!!! " jeritku histeris, " Haaahhhhh!!! " Ke-kenapa, ke-kenapa ada penis disana??!!!
"


Aku mendorong Chusnul keras-keras, membutnya terpental, jatuh ke lantai. Dia hanya
tersenyum, senyum yang tidak lazim, senyum jahat, senyum mengerikan.

Chusnul bangkit, kali ini dia tidak menuju ke arahku, melainkan ke arah pintu. Dia
mengambil kunci kamar, merapikan baju atasannya yang telah aku acak-acak, kemudian
memasukkan kunci tadi kedalam branya. Aku benar-benar merasakan hal buruk setelah ini.


" Loh kok gitu sih mas, aku ini Chusnul.. " ujarnya, dengan nada suara beda, jauh berbeda
dari nada suaranya tadi, kali ini dia berbicara dengan nada suara yang laki-laki banget.

Chusnul yang aku kenal dulu adalah seorang perempuan tulen. Serius, yakin, sejuta persen
yakin, super yakin. Karena aku pernah mandi bersama dengannya dulu.

Lalu siapa perempuan, eh laki-laki, eh banci, ini?


" Ka-kamu siapa? Chusnul yang aku kenal ga punya penis, ga punya titit.. " ujarku terbata-
bata, masih dalam kondisi shock berat, " Ka-kamu siapa? Kamu bukan Chusnul Alissia yang
aku cari.. "

" Haa-haa-haa... " tawanya keras, tawa laki-laki, tawa kemenangan.

" Chusnul Alissia? Kelaut ajeee... " ledeknya.

" I am the one and only, the best Chusnul yang pernah ada di dunia ini.. "

" Chusnul Amiruddin.. Jeng, jeng... "


OMG!!!


Berarti sejak tadi aku berciuman dengan seorang Banci?

Iya seorang banci, toket yang aku pegang tadi, berarti hanya sekedar toket imitasi. Aku
berlari kearah pintu, sia-sia, terkunci rapat, kuncinya tersimpan amat sangat aman didalam
branya. Aku harus merebutnya.


" Mau keluar? " tanyanya.

" Jelas!!! " bentakku, " Mana kuncinya? "


Aku berlari kearahnya setelah memakai kembali celanaku yang sebelumnya sempat
dipelorotnya, kami bergulat. Dia terlalu tangguh, sulit, aku sulit meraih kunci dalam branya,
yang ada malah dia makin mendesah-desah keenakan saat tanganku menyentuh payudara
palsunya. Gerakan Chusnul terlalu cepat, dia selalu bisa mengalahkan manuver-manuver
yang aku lancarkan. Lelah, aku mulai merasa lelah, dan akhirnya dia mendekapku, dia
memelukku. Aku meronta, tapi tenaganya jauh lebih besar.

" Ahahahahhh.. Kenapa mas? Sini-sini ciuman lagi.. " ujar Chusnul (Amiruddin, bukan
Alissia) sambil memonyongkan bibir tebalnya, berusaha mencium bibirku, membuatku
makin merinding karenanya.

" Ga mau!!! " jawabku lantang.

" Kamu baru bisa keluar kalo udah gituan ma akyuuu.. " dia mengerlingkan matanya padaku.

" Haaa!!! Gituan apaan!!!!! " aku makin shock mendengarnya, jangan-jangan dia ingin ber-
tusbol-ria denganku. Aku biasa meledek temanku dengan kata-kata maho, atau tusbol, tapi
aku tidak menyangka jika aku terancam terserang dengan kata-kata itu disini.

" Ja-jangan macem-macem, aku ini ahli beladiri, aku sabuk putih karate!!! " aku coba
menakutinya, dia pasti tidak mengerti tentang sabuk putih karate kan.

" Hahaha, aku udah sabuk hitam mas.. " balasnya sambil menyengir lebar.

" Keluargaku semuanya Polisi, jangan aneh-aneh!!! " ancamku. Ancaman bohong karena aku
tidak memiliki satu pun kerabat yang berasal dari oknum kepolisian, hanya ada seorang
Satpol PP, pamanku.

" Hahaha, bapakku Ketua DPR mas.. " balasnya ketus.


Hahhh!!! Berarti dia anaknya Marjuki Alay yang sok itu?


" Mau adu apalagi? " cibirnya, " Dalam segala hal kamu kalah dari aku mas.. "

Dia melepas pelukannya padaku, bukan untuk membebaskanku, tapi untuk memukul
beberapa titik di punggungku dengan menggunakan dua jarinya.


Totok?


Dia menotokku, darimana dia bisa belajar itu semua? Aku tidak bisa bergerak, aku
kehilangan daya untuk itu, juga daya untuk berbicara. Chusnul kembali mendekapku,
menuntunku kearah ranjang, menidurkanku disana. Dia mulai melepas rok cekak yang
dikenakannya, celana dalamnya juga, penis besar itu kini mencuat. Tegak, sangat tegak.


Ingin rasanya berontak, ingin rasanya meronta, tidak bisa, sama sekali tidak bisa.


Dia bergerak mendekatiku, mengubah posisiku menjadi menungging. Perlahan dia melepas
seluruh penutup Bams Junior, membuat bagian bawah tubuhku kini telanjang sepenuhnya.

Dengan seringai mengerikan dia mengarahkan penis besarnya yang telah mengacung keras
kearah lubang bokongku. Dia benar-benar serius, dia benar-benar ingin memperkosaku.
Astaga.


Papa, Mama, kak Jokoli, Wanda, tante Linda, dan Chusnul, Chusnul Alissia yang asli, maaf,
maafin Bambang. Maafin Bambang yang ga bisa jaga keperjakaan bokong Bambang baik-
baik. Sekali lagi maafin Bambang. Aku tidak bisa membela diri, yang bisa aku lakukan hanya
memejam. Merasakan penis raksasa itu mulai menyentuh lubang bokongku.

What the..

= = = = =

Hahhh!!!

" Mi-mimpi? " ucapku lirih.

" Cuma mimpi kan? Mimpi yang sangat buruk.. "

" Bahkan jauh lebih mengerikan dibanding wajah disturbing Jokoli, kakakku.. "


Aku segera memandangi sekitar. Membuatku terperanjat, menjerit histeris, hingga kejang-
kejang ga karuan.

Kamar ini ternyata bukan kamarku. Kamarku tidak seperti ini, kamarku lebih nyaman, tidak
ada segala pernik yang berhubungan dengan klub sepakbola favoritku, Southampton, disini.
Poster-poster pemain sepakbola favoritku macam Alan Shearer, Matthew Le Tissier, Tim
Flowers, Egil Ostenstad, hingga Adam Lallana, semuanya tidak ada.

Astaga...


Aku benar-benar berada didalam kamar hotel laknat itu. Berarti aku memang benar-benar
telah kehilangan keperjakaan bokongku. Keperjakaan yang selama ini aku jaga baik-baik,
kesucian bokongku kini musnahlah sudah. Dengan cara yang sangat mengerikan. Tragis.

Ah, sedihnya..


Bahkan hingga kini masih berasa nyeri disana, benar-benar satu kejadian yang tidak akan
mungkin aku lupakan seumur hidup.

Aku akan mengadukan banci itu pada KPK, Komisi Perlindungan Keperjakaan. Iya harus.
Jangan sampai ada lagi korban-korban berikutnya. Cukuplah seorang Bambang yang ganteng
ini sebagai korban terakhir.

Aku berjalan meninggalkan kamar hotel dengan langkah tertatih. Posisi tubuhku sedikit
membungkuk, dengan tangan kiriku masih saja telaten mengelus bokongku. Coba mereduksi
rasa sakit yang terus mendera disana.

Chusnul Amiruddin sialan!!!


Dengan mental baja, meski harga diri telah terinjak-injak. Aku menuju ke meja resepsionis,
untuk check out dan mengambil KTP ku. Beberapa pasang mata pengunjung lain dan
pegawai hotel yang seliweran menatapku dengan pandangan aneh. Perpaduan antara tatapan
sinis dicampur mimik wajah menahan gelak tawa.

Aku tidak perduli dengan itu semua, berusaha cuek, meski dalam hati terus mengumpat-
umpat melampiaskan emosi yang semakin meluap.


" Malem mas.. " sapa Kumanini, seorang customer service hotel yang menarik perhatianku
sejak awal kedatanganku disini.

Dia berwajah cantik, meski memiliki nama yang sama sekali engga umum. Kumanini. Coba
diurai lagi jadi Kuman Ini, apa yang ada dalam pikiran bapakmu nak, hingga tega
memberimu nama yang sungguh epic seperti itu.

" Check out mbak.. Sekalian ambil KTP nya.. " jawabku lesu.

" Lohhh kok udah check out sih? Kan masih ada sisa 20 jam lebih mas.. " tanya perempuan
imut yang memiliki nama panggilan Anin itu.

" Gapapa mbak, kangen masakan Mama.. " candaku, meski masih dengan nada lesu.


Dia tertawa mendengar perkataanku. Aku segera menyerahkan kunci kamar padanya, dan dia
memberikan KTP ku kembali. Ada secarik kertas yang dia selipkan dibelakang KTP. Tadinya
aku kira itu adalah nota tagihan tambahan, ternyata bukan. Kertas kecil itu berisi deretan dua
belas angka pembentuk nomor handphone.


" E-eh, apa ini mbak? " tanyaku sok-sok lugu.

" Nomor hapeku mas.. " jawabnya tersipu malu.

Ga ada angin, ga ada hujan, meskipun sedikit mendung, sang customer service cantik dari
hotel kelas melati ini memberikan nomor hapenya kepadaku. Pastilah dia tertarik dengan
wajah ganteng Bambang yang memang telah melegenda ini. Wah, wah, wah, dapet satu lagi
calon TTM baru nih, mungkin nanti bisa bersaing dengan Wanda.


" Ummm, gini mas.. "

" Nanti kalo mas ganteng mau cari banci-banci lain buat disewa, bisa hubungin nomor
hapeku itu.. " tambahnya.

Dafuq..

" Aku punya banyak temen banci mas, rata-rata cantik kok.. Mereka ini temen-temenku
semasa masih sekolah di SMK kecantikan.. "

" Yang cowok rata-rata berubah jadi gitu deh.. "

" Dan mereka itu operasinya di Thailand lho mas.. "

" Dijamin puas deh.. "

" Nanti aku kasih diskon khusus.. "


Ternyata untuk tujuan itu. Sialan, sungguh sialan. Dia mengiraku sebagai penggemar banci?
Astaga, kesialan macam apa lagi ini. Aku tidak menjawab. Anin melambaikan tangannya
padaku, tersenyum manis, dan berteriak..

" Jangan lupa ya mas ganteng.. Ditunggu orderannya loh.. "


Ingin rasanya cepat-cepat meninggalkan tempat ini. Aku bergegas menuju kearah parkiran
sepeda motor. Bokongku agak sedikit kesakitan waktu duduk diatas jok motor, membuatku
mengambil posisi sedikit mengangkat bagian belakang bokongku. Dengan cepat aku segera
memacu sepeda motorku, cepat, cepat, cepat meninggalkan tempat pebawa kesialan ini.

Sepanjang perjalanan pulang, aku terus memikirkan banyak hal. Kesialan yang aku dapat hari
ini, mungkin mengingatkanku untuk segera berhenti berharap pada Chusnul, Chusnul Alissia
yang asli tentunya, bukan Chusnul Amiruddin, atau something similar like her, eh, him.


Aku harus segera menentukan sikap, mungkin mematenkan status berpacaran dengan Wanda
adalah opsi yang terbaik. Yah, dialah perempuan paling cantik yang pernah aku dapatkan,
aku harus menjaganya baik-baik.

Tik, tik, tik..

Gerimis.


Bokongku masih terasa nyeri, aku harus menepi, mengenakan jas hujan, karena memang
jarak yang aku tempuh untuk kembali ke rumah masih sangat jauh. Rintik-rintik gerimis kian
deras, hujan pasti turun sebentar lagi. Karena konsentrasiku berkurang drastis akibat beban
pikiran yang aku tanggung hari ini, membuatku lupa menyalakan lampu sein saat hendak
menepi, hingga..

Tiiinnnnn!!!!!


Klakson mobil sangat kencang mengagetkanku, mengembalikan konsentrasiku yang
sebelumnya telah menghilang. Namun semuanya terlambat.

Braakkkk!!


Honda Brio warna putih itu menghantam bagian belakang motor bebek ku, membuat
keseimbanganku menghilang. Aku bisa merasakannya, sepeda motor ini bergerak liar, sampai
akhirnya tubuhku terpental di aspal. Tidak ada rasa sakit, hanya kesadaran yang berangsur
menghilang. Buram, namun aku masih bisa melihatnya, sosok bidadari yang sangat cantik
mendekatiku.

Sangat cantik, rambut bob pendeknya berwarna hitam mengkilap, bibirnya merah, matanya
sayu. Dia menatapku dengan tatapan khawatir. Pandanganku terus meredup. Gelap, makin
gelap.

Empat
Burung Walet dan Sarangnya

Sarang burung apa yang paling mahal saat ini?
Sarang burung walet? atau..
Sarang burung punya kamu?
No comment..

Kedua anak kecil itu bermain bersama, berlarian lucu ditengah taman yang didominasi hijau
dedaunan. Seorang anak laki-laki, juga seorang anak perempuan. Mereka terus saling
bergurau, beberapa kali saling mencubit, tertawa bersama. Sepi, taman itu sangat sepi. Hanya
ada mereka berdua, dan juga aku.


Eh, a-aku? Kenapa aku berada disini?


Terakhir kali yang aku ingat adalah saat tubuh kurusku terhempas berguling-guling diatas
jalanan beraspal yang sedikit basah. Menjadikanku mirip sepotong sosis yang digulung
kedalam adonan tepung yang telah mengeras. Sebuah mobil putih, Honda Brio, menabrakku
saat aku hendak menepi guna mengenakan jas hujan laknat bergambar Dora The Explorer
yang tahun lalu menjadi satu-satunya hadiah ulang tahun darinya, dari Jokoli, kakak
kandungku.

Benar-benar kakak yang baik hati, hingga rela menghadiahkan adik kesayangannya ini
dengan sesuatu yang kalian mesti bilang wow gitu. Ciyus. Iya, ini ciyus loh.


Back to the topic, lalu dimana ini? Dimana aku saat ini? Kenapa aku berada di taman ini?
Bukankah aku seharusnya berada disalah satu bangsal rumah sakit terdekat? Ya, atau
kemungkinan terburuk, didalam kamar mayat.


Oke, kita sisihkan opsi terakhir, aku masih belum mau mati, atau memikirkan hal-hal
semacam itu, hutangku masih terlalu menumpuk. Hutang ke pedagang bakso, siomay, nasi
goreng, sampai-sampai aku juga hutang ke bik Inah, penjual pecel yang seksi bin semok
disamping kosanku, atau pak Wakidin, tetangga polisi yang pernah menilangku gara-gara
aku berkendara dengan helm terbalik.

Taman ini, terasa sangat asing bagiku, aku belum pernah kesini sebelumnya. Apa ini surga?

Please deh, mana mungkin cowok dengan kadar dosa cukup tinggi sepertiku ini bisa langsung
menuju surga. Setidaknya aku harus mencicipi pedih siksa api neraka terlebih dulu.


Anak-anak itu masih saja sibuk berlarian, mereka terlihat begitu bergembira.

Ah, mungkin aku bisa menanyai mereka tentang dimana aku berada saat ini. Baru saja
melangkahkan satu kaki kiriku kedepan, sepasang tangan lembut menggenggam lenganku
erat-erat, menghentingkan langkahku, seakan menghalangiku untuk menuju kesana. Lembut,
sangat lembut, halus, dan juga dingin. Lengan itu terasa sungguh dingin, membuatku
merinding engga karuan setelah sentuhannya. Siapa, siapa, lengan siapa.

Aku berusaha menoleh, tapi tidak ada daya untuk itu. Leherku, tidak, tidak hanya leherku,
tapi seluruh tubuhku terasa kaku. Seakan membeku setelah menerima sentuhan dingin tangan
itu. Meski tubuhku mendadak berubah kaku menjadi seperti patung selamat datang yang siap
menyapa para pengendara kendaraan bermotor ketika baru saja melintas melewati gapura
pemisah antar kota, lima panca indera milikku masih berfungsi normal.


Aku bisa mendengar gurauan lucu anak-anak kecil yang masih berlarian disana, dibagian
tengah taman. Aku bisa melihat mereka dengan jelas, bahkan lebih jelas daripada daya
pandangku biasanya.

" Dakochaaan, aku capeekkk.. " sang anak perempuan berhenti mengejar anak laki-laki, peluh
keringat mulai membasahi keningnya, nafasnya sedikit tersengal.

" Hahahah, iya, iya, maaf Chusuuu.. " kali ini sang anak laki-laki menghampiri anak
perempuan tadi, menemaninya duduk ditengah rumput hijau yang asri.


Tunggu, Dakochan? Bukankah itu nama panggilan yang diberikan Chusnul Alissia padaku.
Dan, Chusu? Itu sebutan konyol yang aku berikan padanya sebagai balasan.

Dakochan? Chusu?


Jangan-jangan anak perempuan itu Chusnul? Chusnul Alissia? Dan anak laki-laki itu, aku?

" Eh, a-aku.. "


Bukankah aku berada disini. Bukankah aku ini adalah aku. Lalu kenapa ada aku disana?
Kenapa ada aku yang lainnya dalam versi chibi.


Tangan yang sejak tadi menahanku kini mencengkeram lenganku makin erat. Beberapa detik
kemudian berpindah tempat, tidak lagi menggenggam lenganku, tapi kini tangan itu
mencengkeram erat-erat tititku. Bams Junior mengerang kesakitan, cengkeramannya kian
kuat, semakin kuat.

Anehnya, titit kesayanganku itu justru makin menegak, padahal bukan rangsangan
kenikmatan yang didapatnya, melainkan rasa sakit, rasa sakit yang begitu menyiksa. Ingin
rasanya aku berontak, tetap tidak bisa, tubuhku masih tetap kaku. Nafas dingin terasa
menusuk-nusuk leherku. Hembusan nafas dari sosok yang sejak tadi berada dibelakangku,
sosok yang terus menyiksa Bams Junior.


Dingin, sangat dingin, hembusan nafasnya terasa terus mendekat. Entah apa tujuannya,
jangan-jangan dia ini Vampire, atau Zombie yang bersiap menggigit leherku?

" Jangan cari aku lagi.. " bisiknya, suara seorang wanita, suara yang lirih, seakan menyimpan
banyak pedih.

" Jangan cari aku lagi.. " dia mengulangi kata-katanya barusan.

" Selamat tinggal.. "


Hangat, mendadak segala rasa dingin itu musnah seiring dengan berakhirnya ucap pendeknya
barusan. Aku kembali memiliki daya untuk bergerak. Dan yang aku lakukan pertama kali
adalah mencari sosok itu. Aku menoleh kebelakang, samar-samar tampak sosok perempuan
cantik yang sedang tersenyum kearahku. Sosok yang sangat asing. Sosok itu terus memudar,
hilang, hilang, terus menghilang, berganti sosok lain yang lebih aku kenal. Dia..

= = = = =

" Wanda? " tanyaku, sebelah alisku sedikit terangkat.

Mata ini masih menyipit seakan engga mau terbuka, berat, terasa berat, belum terbiasa
dengan rangsangan cahaya setelah beberapa saat sebelumnya aku engga sadar diri.


Ga sadar diri? Ah ya, pasti gara-gara tabrakan itu..


" Nga-ngapain kamu pake baju putih-putih ala perawat kayak gitu? "

" Emang lagi ada acara cosplay ya? "

Wanda hanya tersenyum menanggapi rentetan pertanyaan konyol dariku. Pasti, pasti ini
masih kelanjutan mimpi panjangku. Aku berharap rentetan kejadian aneh ini semua benar-
benar hanya mimpi, begitu juga saat-saat mengerikan pertemuanku dengan Chusnul Alissia
imitasi, alias si penjahat kelamin, Chusnul Amiruddin.


Masalahnya, bokongku terasa sedikit nyeri. Jadi sepertinya kejadian itu bukanlah sebuah
mimpi.


" Wanda? Bukan mas, aku ini saudara kembarnya Wanda, namaku Windi.. " jawabnya,
senyum merekah pada bibir seksinya.

Tunggu-tunggu, ada yang aneh, aku segera berusaha mencerna kata-katanya barusan, " Bukan
mas, aku ini saudara kembarnya Wanda, namaku Windi.. ", terus mengulanginya, terus
mencoba mencari maknanya. Entah kenapa otakku berjalan sedikit lebih lambat dari
biasanya. Efek trauma pasca keperjakaan bokongku direnggut secara paksa sepertinya.


" Eh, Windi? " tanyaku keheranan.

Seingatku, dua kali aku berkunjung kerumah Wanda, sama sekali tidak ada tanda-tanda
bahwa dia memiliki saudara kandung, apalagi seorang twins seperti ini.


" Hehehe, iya, Windi Adelina.. Jadi mas ini kenal Wanda ya.. " ucapnya sambil mulai
memeriksa tekanan darah dan suhu tubuhku.

" Wanda itu saudara kembar aku mas, orang tua kami bercerai lima tahun yang lalu, Wanda
ikut papah, dan aku ikut mamah.. " jelasnya, nada suaranya terdengar manja.

" Wanda kuliah di jurusan teknik arsitektur, aku coba masuk ke akper.. Hihihi.. "


Aku mulai memperhatikan baik-baik sosok perempuan cantik itu. Paras wajahnya memang
sama persis dengan Wanda, namun banyak perbedaan yang bisa menjadi pembenaran untuk
kata-katanya barusan.

Tubuh perempuan ini lebih berisi ketimbang milik Wanda, membuatnya terlihat lebih seksi
menggoda. Payudaranya lebih besar, tinggi badannya juga sedikit diatas Wanda. Rambut
keduanya sama-sama panjang, sama-sama lurus, dan sama-sama hitam, namun poni milik
Windi lebih panjang, berhias jepit disisi kirinya, aksesoris yang sama sekali tidak pernah
dikenakan Wanda.


" Oohhh, iya, iya.. " aku manggut-manggut mengerti, " Maaf mbak, maaf, jadi salah orang,
hehehe.. "

" Gapapa mas.. "


Aku memandangi sekitar. Rumah sakit, ya, ini pasti rumah sakit. Dan syukurlah aku tidak
berada didalam kamar mayat saat ini. Berarti aku sungguh masih hidup.


Kamar ini berukuran cukup luas. Dominan dengan cat warna putih berhias garis panjang biru
muda sebagai pemisah antara sisi dinding yang polos dengan sedikit bagian yang dilapis
keramik. Bersih, terlihat jelas ini bukan rumah sakit murahan, dan seingatku rumah sakit ini
berjarak lumayan jauh dari seputaran hotel laknat tempat aku mendapat double musibah,
diperkosa Chusnul Amiruddin, dan tertabrak. Ada sebuah televisi berukuran layar 40 inchi
disalah satu sudut ruangan. Aku bukanlah satu-satunya pesakitan yang berada dalam kamar
ini. Ada dua orang lainnya.


" Yang diujung kiri itu Opa Gangga.. " jelas Windi, seakan bisa membaca pikiranku akan rasa
penasaran pada pasien lainnya didalam ruangan ini.

" Bapak tua itu udah ada disini sejak seminggu yang lalu.. " tambahnya, " Beberapa ototnya
sobek.. "

" Eh, sobek? " tanyaku.

" Iya, gara-gara dia ngefans berat sama PSY, penyanyi cowok korea yang rada gedut itu.. "

" Trus apa hubungannya? "

" Nah, itu dia masalahnya, Opa Gangga pingin bisa jago joget Gangnam Style.. " Windi
menatap iba pada sosok pria paruh baya yang sedang ditemani oleh dua orang remaja laki-
laki berdandan ala boyband Korea itu, " Dia berlatih cukup keras, nyaris lebih dari sepuluh
jam setiap hari.. "

Ada juga kasus seperti itu ternyata. Kakeknya fans berat PSY, cucunya pun rasanya juga
sesama K-Pop addict, lucu..


" Kemudian yang ditengah ini Budhe Marinem.. " Windi kembali melanjutkan penjelasannya.

" Kali ini kasusnya apa? " selorohku.

" Rahangnya.. " jawab Windi, " Dia terobsesi sama musik rap, Eminem lovers.. "

" Kebanyakan latihan nge-rap? "

" Ho'oh.. "

Oke, jadi mereka ini dua manusia yang sama-sama cedera gara-gara ulah konyol mereka
sendiri..


" Dan yang disini ini kakek Bambang.. " ledek Windi sambil mentowel pipiku genit, "
Penggemar berat Dora the Explorer.. "

" Mas udah boleh pulang hari ini. Sebenernya sih masnya ini cuma luka ringan, cuma sama
penabraknya mas malah dibawa kesini. Semua biaya rumah sakit udah dibayarin seratus
persen sama dia mas.. " papar Windi, " Jadi ijin buat mas pulang tinggal nunggu mas sadar
aja kok.. "


" E-eh, gitu ya? "

" Iyaaa mas.. "


" Ummm, yang nabrak aku, siapa Win? Kenapa dia ga mau nunggu aku sadar dulu? Emang
aku pingsan berapa lama? " aku mencoba mencari tau kebenaran dari beberapa hal yang sejak
tadi mengganjalku.

" Cuman pingsan selama beberapa jam aja kok, mungkin sekitar empat jam.. "

" Yang nabrak mas ini seorang perempuan, cantik lho mas perempuan itu.. Tapi, dia minta
pihak rumah sakit ngerahasiain identitasnya.. "

" Mas mau mandi sekarang? Nanti Windi bantu, tangan masnya pasti masih sakit.. "


Sebelum mengiyakan tawaran menggiurkan dari Windi barusan, aku mencoba menggerakkan
sepasang tangan dan kakiku, memang masih terasa sangat sakit. Aku mengangguk, aku
menerima tawarannya. Bukankah seharusnya ada perawat laki-laki yang biasa mendapat jatah
tugas untuk ini? Aku tidak perduli, aku trauma berurusan dengan pejantan, apalagi untuk
urusan-urusan krusial seperti ini.


" Dibantuin apa nanti sama kamu? Suster? " tanyaku memastikan.

" Jangan dipanggil suster, cukup Windi aja mas. Nanti aku mandiin, tapi, ssstt, jangan bilang
siapa-siapa ya.. " bisikknya, yang langsung aku iyakan dengan menutup bibirku rapat-rapat.

" Sebenernya engga boleh, tapi ini pengecualian buat kamu. Mas mau ga? Atau Windi
panggil perawat cowok aja? "

Aku menggeleng keras.


Windi menuntunku dengan telaten, pelan-pelan menuju kedalam satu-satunya kamar mandi
yang berada didalam kamar. Kebetulan kamar mandi itu berada tepat disebelah ranjangku,
hingga kami tidak perlu berjalan terlalu jauh. Sementara Opa Gangga dan Budhe Marinem,
serta pembesuk mereka, masih asik menikmati tayangan pencarian bakat penyanyi cilik di
televisi yang berada di ujung satunya, mereka tidak sempat melihat kami memasuki kamar
mandi.

Setibanya didalam kamar mandi yang ukurannya dua kali lebih besar dari kamar mandi
kosanku itu, Windi segera mengunci pintu. Dia mengenakan seragam putih-putih khas
perawat. Jangan mengahrap kostum perawat yang berlebihan seperti pada sesi pemotretan
Gravure Idol di Jepang, Windi hanya mengenakan seragam kemeja putih berlengan panjang
plus celana panjang berbahan kain dengan warna serupa. Sederhana, namun cukup menggoda
karena pakaian yang dikenakan Windi sangatlah ketat. Membuat lekuk tubuhnya terekspos
jelas.


" Hey mas, tau ga, kalo anak kembar itu selalu punya feeling yang kuat satu sama yang
lainnya.. "

" Eh? "

" Aku ngerasa kalo mas ini punya hubungan khusus sama Wanda.. " ujarnya, " Dan mas udah
pernah ngelakuin itu sama Wanda kan? "

Aku mengangguk pelan, kaget setengah mati kala mendengar itu semua, bagaimana dia bisa
tau? Ternyata memang sepasang anak kembar bisa saling mengerti hingga titik yang tidak
dapat dijelaskan oleh nalar manusia sekalipun.


Windi menyisingkan lengan bajunya, menyingkap celana panjangnya, kemudian berjalan
mendekatiku. Dia menatapku sayu, berusaha menggodaku dengan wajah cantiknya.

" Kalo gitu, lakuin itu juga sama aku mas.. " pintanya, " Aku pingin ngerasain yang pernah
Wanda rasain juga.. "

Belum aku menjawab, Windi langsung menyergap bibirku, menciuminya dengan lair. Bibir
kotor ini, bibir yang sama dengan bibir yang pernah diciumi oleh seorang Chusnul
Amiruddin, bibir yang juga pernah merasakan bibir saudari kembarnya, Wanda, sahabat ibu
kandungku, tante Linda, juga beberapa perempuan lainnya.


" Emmmhh.. "

Aku mulai membalas ciumannya, meremas-remas payudaranya yang lebih besar dibanding
milik Wanda dari balik seragam perawatnya. Kenyal, terasa sangat kenyal. Membuatku
teringat payudara imitasi milik Chusnul Amiruddin. Ingatan itu menggerakkan tanganku
untuk berselancar menuju kebagian bawah tubuh wanda. Aku melepas pengait celananya,
menurunkan risletingnya, kemudian sedikit memelorotkan celana panjang putih yang
dikenakannya.

Tangan kananku menyusup kedalam celana dalamnya, mencari-cari sesuatu disana yang bisa
melegakan pikiranku saat ini. Rambut-rambut halus, tidak banyak, dan celah, sebuah celah
sempit, akhirnya aku menemukannya. Celah itu mulai membasah, cairan kewanitaannya
mulai membasahi bagian sensitifnya itu.

Lega, aku benar-benar lega dengan keberadaan vagina sempit disana.


Bibir kami masih saling berpagutan, saling mengulum. Rasa ciuman ini sebenarnya tidak jauh
berbeda dengan ciuman yang diberikan oleh Chusnul Amiruddin sebelum tabrakan tadi
mengantarku kesini, namun jelas memiliki sensasi yang berbeda, karena pasangan ciumanku
kali ini benar-benar seorang perempuan tulen. Aku bisa menjaminnya, karena kini jari-jemari
tangan kananku yang masih sedikit terasa nyeri terus bergerilya disana, dibagian paling
sensitif Windi. Menggosok-gosoknya pelan, beberapa kali menyusup, mencari clitorisnya,
menggerak-gerakkan jari tengahku disana.

" Ummmhh, en-enak mas.. I-iya bener, disitu, di-situ te-terus.. " Windi mulai meneracau.


Bams Junior pun mulai bereaksi, mulai menegak. Kini tangan kiriku berusaha membuka
kancing kemeja yang dikenakan Windi. Sementara tangan kananku memelorot celana dalam
pink berenda yang dikenakannya.


Tempat ini adalah tempat umum, rumah sakit. Aku harus cepat-cepat melakukannya, seks
kilat. Gapapa kan, asal bisa memuaskan hasrat bercinta yang sebelumnya gagal total akibat
ulah Chusnul Amruddin sialan. Iya, harus cepat, sebelum orang-orang mulai menyadari
keberadaan kami disini, sebelum ada orang yang..

Dok.. Dokk... Dokkk....

Mengetuk pintu..


" Windiii, cepetan keluar!!! " seseorang berteriak dari luar setelah beberapa kali mengetuk
pintu kamar mandi.

" Iyaaa kak Len.. Sebentar, udah mau selesai kok, aku ngebantuin pasien cuci muka. Tadi ada
kecoa disini, hiiiyyyyy... " bohong Windi, dia merapikan kembali pakaiannya yang sedikit
acak-acakan akibat ulahku.


" Aduh mas, sorry.. " bisik Windi, " Dia ini senior dikampus, kak Leny Santania. pasti nyari
aku gara-gara kelamaan disini, orangnya galak mas.. "

" Lain kali dilanjut ya.. "

" I-iya.. " jawabku pasrah, langsung diikuti gerakan Bams Junior yang menunduk lesu.

= = = = =

Hingga kini aku masih bertanya-tanya siapakah sosok bidadari yang menabrakku tempo hari.
Meski hanya sekilas menatap wajahnya saat itu, aku masih bisa jelas mengingatnya hingga
detik ini. Cantik, sangat cantik. Jauh melebihi kecantikan si kembar Wanda dan Windi, tante
Linda, customer service hotel sialan, Anin, atau perempuan lain yang pernah aku kenal
selama ini.

Kenapa dia tidak meminta maaf padaku? Kenapa dia tidak berani menemuiku? Kenapa dia
meminta pihak rumah sakit untuk merahasiakan identitasnya?

Dan anehnya, dia telah membayar lunas seluruh biaya rumah sakit. Mungkin dia takut aku
menuntut lebih banyak kepadanya. Iya, mungkin saja. Atau jangan-jangan dia penabrak
berbikini yang kini terjebak didalam satu ruangan kecil penuh polisi-polisi mupeng? Engga,
engga, engga mungkin, seingatku dia berpakaian lengkap kok.


" Mbeeeng semangaaat!!! " teriak Wanda dari pinggir lapangan, membuyarkan segala
lamunanku.


Hari ini ada pertandingan penting untuk team futsal kampus, sebuah partai final. Iya, final
kejuaraan futsal tingkat mahasiswa se-Surabaya, dimana aku menjadi penjaga gawang utama
di team kampusku. Kami harus berhadapan dengan team juara bertahan, yang kebetulan
adalah team futsal dari kampus tempat kakak kandungku, Jokoli, mengambil studi yang sama
denganku. Kami memang sama-sama memutuskan untuk menjadi mahasiswa Teknik
Arsitektur. Berusaha merintis jalan menjadi duo racun, eh, duo Soekawi, yang memiliki
bisnis konstruktor raksasa di Surabaya, meski mengawalinya dari kampus yang berbeda.


Aku harus berhenti memikirkan perempuan cantik pengendara Honda Brio yang menabrakku.
Setidaknya untuk sementara waktu sampai pertandingan ini selesai.


Wuuussssshhh..

Pemain nomor sepuluh team kampus Jokoli melakukan sepakan kearah gawang, aku
beringsut melompat, berusaha untuk menepisnya. Bereaksi seperti kiper ganteng Pescara,
Mattia Perin, saat melakukan penyelamat gemilang, dan..


Krakkk..

Sepakan pemain yang paling banyak mendapat support perempuan-perempuan disekitar
lapangan itu membentur mistar gawang. Luar biasa, sejak tadi penampilannya sangat
gemilang. Berbanding terbalik dengan kakakku yang harus puas duduk di bench pemain
cadangan. Jokoli memang tidak terlalu hebat dalam sepakbola, namun dia memiliki lari yang
sangat kencang, satu-satunya kelebihan yang bisa diandalkannya.


Bukan tanpa alasan, karena sejak kecil dia selalu menjadi target utama Hugo, anjing
Chihuahua mini berotak mesum milik tetangga kami yang gemar menjilati titit anak-anak
kecil disekitaran daerah kekuasaannya. Kecepatan berlari Jokoli didapatnya dari aksi kejar-
mengejarnya dengan Hugo setiap kali dia berangkat dan pulang dari sekolah.

Entah kenapa nasibnya sungguh sangat malang, bahkan sejak kecil. Kemalangan yang
membawa berkah, karena kecepatan lari Jokoli kini bisa disetarakan dengan pelari pemecah
rekor, Usain Bolt.

Iya, jika Usain berlari mengenakan sepatu hak tinggi.


" Ve-ra-no, Ve-ra-no, Ve-ra-no.. "

Teriakan suporter team Jokoli kian menggila setelah aksi luar biasa Verano barusan, dialah
sang pemain bernomor punggung sepuluh dari team lawan, team Jokoli. Seseorang yang
paling banyak mendapat atensi para penonton, termasuk suporter kami sendiri. Khususnya
para kaum hawa yang dibuatnya terus memekik histeris meneriakkan namanya. Ada yang
berjingkat-jingkat kegirangan, menari-nari asal-asalan, hingga ada juga yang membawa
boneka voodoo bertuliskan Verano untuk kemudian menusuk-nusuknya dengan jarum tepat
dibagian dada boneka itu.

Hadeeeh, udah tahun 2013 masih juga percaya hal-hal begituan..


Dari salah satu tribun yang berseberangan dengan tempat duduk Wanda, ada seorang
mahasiswi cantik yang terus mengamatinya, Ribka, dia pasti Ribka Stefanie, perempuan yang
menolak cinta Jokoli mentah-mentah. Perempuan cantik bertubuh mungil dengan payudara
ukuran ekstra yang sering diceritakan olehnya.

Verano kembali menguasai bola. Satu, dua, tiga pemain sukses dilewatinya. Kini dia tinggal
berhadapan dengan Dimas, dan aku. Dengan beberapa gerakan, dia sukses mengecoh Dimas,
melakukan sepakan keras lagi, dan..


Brakkk..

Tubuhku terlempar masuk kedalam gawang. Sakit, sakit, sangat sakit. Bola hasil sepakan
kerasnya itu malah mengenai kepalaku. Aku kurang fokus kali ini, terlalu banyak yang aku
pikirkan, ditambah lagi penonton-penonton cantik disekitar lapangan yang terus menggoda
hasrat Bams Junior. Untungnya, bola belum melewati garis gawang, Dimas segera
melakukan clearance, penyelamatan bersih, tepat beberapa detik sebelum Verano tiba untuk
menyambar bola.

Selamat, gawang kami selamat dari kebobolan. Penonton kian riuh, kali ini meneriakkan
nama Dimas keras-keras. Dan aku masih terjebak disini, terjerat jala gawang. Mirip ikan
tongkol engga berdaya saat tertangkap jaring-jaring pengais nafkah milik para nelayan.


Wuuussssshhh..

Belum juga bangkit, Verano kembali menerima bola dan segera melepaskan sepakan keras
kearah gawang. Sepakan keras yang sekarang berkekuatan dua kali lipat lebih powerfull
dibanding sepakan yang tadi mengenai kepalaku. Meluncur deras kearah gawang, sukses
melewati hadangan Dimas dan pemain lain dari team kami. Terus melaju, melaju makin
mendekati gawang kami.


" Astaga.. " ujarku lirih, pasrah, saat bola itu terus menerjang kearahku, lebih tepatnya
kearah..

Tititku!!!!!


Iya, benar-benar kearah Bams Junior!!!


Aku berusaha melepaskan diri dari jeratan jala gawang, namun lengan dan kakiku masih
tersangkut. Sementara mataku sedikit berkunang-kunang, kepalaku pun sedikit terasa pusing
akibat efek sepakan pertama tadi. Tidak bisa, aku tidak bisa menghindarinya. Laju bola yang
deras itu bersiap menghantam K.O Bams Junior.

" Kenapa, kenapa, oooh kenapa.. "

" Kenapa aku terus mendapat nasib malang seperti ini.. "


" Aaarrrgggghhhhh!!! "


" Emmaaakk tolllooonnnnnggg!!!!! "

Lima
Diam itu Dimas

Diam itu emas.
Kalo gitu coba deh dipraktekin dirumah,
diem aja ga usah ngomong apa-apa, tar diliat waktu pup,
keluar emas kah?

Final kejuaraan futsal antar kampus telah berakhir dua hari yang lalu. Hasilnya sangat,
sangat, sangat mengecewakan. Team futsal kami dihajar telak oleh team juara bertahan,
lawan kami, yang tidak lain adalah team futsal kampus Jokoli, kakakku (meski dia sama
sekali tidak sempat turun untuk ikutan bermain). Dua gol untuk kami, dan tiga belas gol
untuk mereka.

Dua berbanding tiga belas...


Skor yang sangat mencolok. Gila, edan, sinting, mereka bahkan sampai bisa menceploskan
bola kedalam gawang kami hingga lebih dari selusin banyaknya. Sepuluh gol diantaranya
didapat dari ace striker mereka, Verano Alexandr Raphelle. Pemain futsal ganteng yang
banyak dielukan para penonton, pemain futsal ganteng sialan yang mencederai titit
kesayanganku.


Huhuhu.. Bams Junior yang malang..


Tendangan kerasnya benar-benar cetar membahana menembus cakrawala dunia tepat
mengenai Bams Junior. Untungnya, saat itu aku sedang mengenakan popok Pampers tebal
ukuran besar yang memang biasa aku kenakan ketika harus menjalani pertandingan-
pertandingan futsal penting. Sekedar berjaga-jaga jikalau Bams Junior ingin memuntahkan
kreatifitasnya menjadi aliran air seni ditengah-tengah jalannya pertandingan.

Keberadaan popok itu sedikit mereduksi kekuatan tendangan Verano yang menerjang buas
Bams Junior. Verano sialan, lain kali pasti aku membalasnya saat kita kembali bertemu
didalam pertandingan futsal berikutnya. Nanti aku coba bertukar posisi menjadi seorang
defender yang siap menghabisimu.


Aku melirik kebawah, kearah Bams Junior, menatap iba padanya. Titit kesayanganku itu kini
berbalut perban. Miris, begitu menyayat hati melihat kondisinya yang memprihatinkan seperti
ini. Butuh beberapa hari untuk membuatnya pulih kembali.


Untungnya tante Linda sangat memperhatikan kondisi Bams Junior.

Wajar, karena selama ini kepuasannya selalu bergantung kepadaku dan juga Bams Junior,
setidaknya sampai suaminya, Pak Karmoto, kembali dari Madura nanti. Bagi tante Linda,
keberadaan Bams Junior sangatlah penting. Tititku ini seakan menjadi properti paling
berharga yang dia miliki. Disimpan rapi dalam celana dalamku, dibungkus dengan kertas
kado cantik warna pink berhias pita merah.

Sip deh..


Tante Linda bahkan rela membiayai pengobatan Bams Junior ke klinik Tong Seng hingga
sembuh. Iya, klinik itu, klinik mahal dan narsis itu. Salah satu klinik paling populer yang
dikenal bisa menyembuhkan berbagai jenis penyakit melalui iklan komersialnya yang
sungguh epic. Belum juga sembuh dari sakit tititku, mereka sudah memaksaku untuk syuting
iklan demi menambah portofolio video komentar para pasien dengan berbagai penyakit yang
tengah gencar mereka arsip. Bisa dikeluarkan sewaktu-waktu kala mereka ingin mengubah
variasi iklan komersial yang baru.

Dulu, tititku sakit gara-gara terkena bola yang melaju sangat deras saat sedang bermain
futsal. Setelah aku berobat ke klinik Tong Seng, sekarang aku tak punya titit lagi, terima
kasih Tong Seng..


Lho?

Engga, engga seperti itu..


Ada hal lain yang mengganjal pikiranku sejak pertandingan final itu usai. Bukan hanya
tentang kekalahan memalukan atas team juara bertahan, atau karena aku harus mengalami
cedera titit seperti ini. Ada hal lain, ya, memang ada hal lain. Kali ini berhubungan dengan
sahabat karibku, Dimas, Dimas Herdiono.

Selepas pertandingan itu dia terlihat lebih sering menghindariku. Entah kenapa, bahkan dia
memilih untuk pindah kos, makin jauh, sangat jauh dari tempat kosku. Padahal sebelumnya
kosan kami berada di kampung yang sama. Apa gara-gara aku bermain buruk saat itu? Atau
gara-gara dia terlalu kecewa kalah di partai final seperti itu?

Entahlah..

= = = = =

Malam ini cuaca di Surabaya terasa sangat dingin. Hujan, hujanlah penyebabnya. Sejak siang
tadi kota pahlawan terus diguyur oleh deras air hujan yang disertai gemuruh teriakan para
dewa petir. Memekakkan telinga, mengganggu aktifitas kami semua yang selalu bernaung
dibawah awan. Awan mendung.

Menyalakan televisi atau barang elektronik lainnya jelas bukan merupakan pilihan bijak
dalam situasi seperti ini. Aku tidak mau jika kesialanku sampai bertambah satu lagi dengan
tersambit sambaran petir hingga gosong mirip display ikan patin bakar favoritku.


Slappp...

Gelap, mendadak kamar kosanku berubah menjadi gelap. Aku bisa memastikan bahwa
mataku saat ini sama sekali tidak sedang memejam. Berarti memang saat ini lampu mati
disini. PLN kurang ajar, selalu mematikan listrik seenak jidat.


Aku meringkuk dipojokan kamar. Diluar hujan, didalam gelap, lengkap. Ditambah lagi hari
ini adalah hari libur nasional, tinggal tersisa aku sendiri dikosan, anak-anak yang rata-rata
berasal dari kota lain lebih memilih pulang kampung. Aku memutuskan tidak pulang
kerumah karena orang tuaku sedang berada di Malang, menghadiri resepsi pernikahan anak
perempuan ayahku, sementara Jokoli berlibur ke Bromo bersama anggota team futsal
kampusnya, merayakan kemenangan mereka sepertinya.


Gelap, masih sangat gelap, dan aku benar-benar bingung harus berbuat apa. Aku juga tidak
mengingat adanya stok lilin disini. Aduh, aduh, gawat, bisa mati garing kebosanan kalau
terus seperti ini. Selain itu ada hal lain yang cukup menggangguku. Cerita dari anak-anak
tentang adanya hantu Joko Gantung disini, dikosan ini.

Konon, dulu ada penghuni kos disini yang bunuh diri gantung diri akibat terlalu lama
berstatus sebagai perjaka. Mengerikan. Semoga arwahnya tidak menghampiriku, nanti aku
kasih nocan dan pincan mantan TTM ku deh.


Dokk, dokkk, dokkkk...

Spontan, tubuhku langsung terjingkat, kaget mendengar ketokan pintu barusan. Siapa, siapa
itu, jangan-jangan si Joko Gantung, jangan-jangan maling. Jangan-jangan orang jahat yang
ingin menculikku untuk kemudian menjualku kepada sindikat perdagangan titit manusia.
Atau jangan-jangan dia itu Chusnul Amiruddin yang ingin kembali bermain denganku.

Astaga, pikiranku benar-benar kacau.


Dokk, dokkk, dokkkk...

Dia kembali mengetuk, lebih kencang. Aku memberanikan diri untuk bangkit dari posisiku,
memanfaatkan fasilitas sederhana flashlight dari hape bututku untuk membantu memberiku
penerangan, kemudian mengambil sapu yang tergeletak tepat dibelakang pintu. Aku berjalan
pelan-pelan, mengendap-endap menuju kearah pintu kamarku. Tangan kananku siaga
membawa sapu, sementara tangan kiriku tetap menggenggam hape butut dengan fitur senter
redup tahan banting itu. Hape yang aku dapat dari undian berhadiah saat aku mengikuti
kegiatan jalan sehat Surabaya - Mojokerto tahun lalu.


Dokk, dokkk, dokkkk...

Orang ini, siapapun dia, bener-bener engga sabaran, annoying. Siapa sih? Aku baru tiba
didepan pintu, membuka kuncinya, memegang kenop, bersiap membukanya, dan..


Krieettt, brakk...

" Auuuww!!!!! "


Pintu terbuka lebih dahulu sebelum aku selesai membukanya. Kencang, sangat kencang,
menghantamku, lebih tepatnya menghantam keras dua bagian tubuhku yang paling terdepan,
hidung, dan tititku.

" Aduh, aduhh.. " rintihku, aku merasa nyeri pada dua bagian itu, membuatku berjongkok tak
berdaya sambil memegangi dan mengelus Bams Junior.

" E-eh, maaf, maaf... " orang itu meminta maaf kepadaku, suaranya terdengar lembut, " Aku
eng-engga sengaja mas.. "


Suara seorang perempuan, suara yang aku kenal. Siapa? Mbak Kunti kah? Perasaan aku sama
sekali belum sempat berkenalan dengan mbak Kunti dan makhluk sejenis itu lainnya.


Sosok itu berjongkok, dia mengenakan pakaian serba putih. Pakaiannya basah, sepertinya dia
kehujanan, tubuhnya sedikit menggigil. Rambutnya yang panjang kuyup, sebagian poni
menutupi parasnya. Paras yang aku kenal. Paras itu sangat cantik.

" Wanda? " ujarku, setelah memperhatikan lebih lanjut wajah cantik itu, " Eh bukan, Windi,
iya, Windi kan? "

" I-iya mas.. " jawabnya pelan, bibirnya sedikit pucat, efek kedinginan aku rasa.


" Masuk.. " ajakku, dia menurutinya.

Aku segera menutup dan mengunci pintu. Memanfaatkan penerangan dari hape bututku untuk
mengamati sosok itu, memastikan bahwa dia benar-benar Windi, bukan mbak Kunti ataupun
Chusnul Amiruddin yang sedang menyamar. Dan syukurlah, ternyata memang benar dia ini
benar-benar Windi.


" Maaf mas ganggu malem-malem gini.. " ujarnya, " Aku baru pulang praktek, kebetulan
jalur ini deket banget dari jalur yang biasa aku lewati waktu pulang praktek, jalanan banjir,
hujan makin deras, jadi aku pilih buat teduh disini sebentar.. "

Oke, penjelasan yang masuk akal. Tapi..


" Kok tau kalo aku ngekos disini Ndi? " tanyaku.

Iya, dari mana dia bisa tau tempat kosku? Bukankah kami hanya bertemu sekali, itupun
dirumah sakit, bukan disini.


" Lupa ya kalo aku ini twinsnya si Wanda.. " ujar Windi sambil mendekap dirinya sendiri.

" Ah ya, pasti kalian punya perasaan yang sangat kuat ya, sampe bisa saling ngerti gini.. " aku
mengambilkannya handuk bergambar logo klub kesayanganku, Southampton, dari dalam
lemari, menyerahkannya pada Windi, " Keringin pake ini, biar ga kedinginan.. "

" Engga gitu juga kali mas, emangnya aku paranormal apa.. " Windi menerima handuk
dariku, dia mulai mengusap-usap tubuhnya, pakaiannya yang basah membuat lekuk tubuhnya
tercetak dengan jelas, " Wanda sering cerita tentang kamu, meski kami berpisah rumah, tapi
masih sering saling kontak.. "

" Ohhh, gitu yah ternyata, hehehe.. " tawaku datar, aku masih tertegun menikmati tubuh sintal
Windi, " Oya, bisa masuk angin nanti kalo basah-basahan gitu Ndi.. "

" Yahhh iya juga mas, trus gimana dooong? " Windi langsung manyun, " Kan gelap mas, mau
mandi juga ga bisa wong gelap gini.. "

" Windi juga lagi ga bawa baju lain.. "


Oke, situasi yang buruk, tapi bisa menghadirkan sedikit keberuntungan untukku. Bams Junior
sepakat, dia mulai menegak, memikirkan sesuatu yang enak-enak, yang mungkin sebentar
lagi bisa didapatnya.


" Buka aja bajunya.. " tawarku, " Nanti bisa pake bajuku, seenggaknya biar ga masuk angin..
"

" E-eh, pake baju kamu mas? " Windi malah keheranan mendengar tawaranku, " Emang mas
juga punya bra? Hihihi.. "

Windi mengikik, wajahnya makin terlihat cantik saat ini, meski aku hanya bisa melihatnya
dalam gelap malam.


" Yaaa engga, kan gelap Ndi, ga masalah kalo ga pake.. "

Belum selesai berucap, Windi langsung melepas pengait, menurunkan zipper, kemudian
memelorotkan celana panjang putihnya. Dia kini hanya memakai celana dalam pink tipis,
samar aku melihatnya, namun tetap terlihat seksi.


" Iya-iya ngerti mas.. " ujarnya, " Ya udah, mana sini bajunya? Jangan malah ngeliatin aku
kayak gitu mulu.. "

" E-eh, i-iya.. " aku kepergok, sialan, dia sendiri sih mendadak lepas celana kayak gitu.

Kini aku menuju kearah lemari, aku baru ingat ada satu baju unyu-unyu yang tersimpan
didalam lemari pakaianku, mungkin baju itu bisa cocok untuknya. Kemeja kotak-kotak pink
yang pernah dihadiahkan tante Linda untukku. Katanya aku terlihat makin macho jika
mengenakan pakaian warna pink.

Ga masuk akal..


Setelah beberapa kali mencaari, akhirnya aku menemukannya. Aku menoleh kebelakang,
bersiap memberikan kemeja itu untuk Windi, tapi sebuah pelukan hangat mendadak
menyergapku. Aku bisa merasakan dingin tubuh itu, aku juga bisa merasakan tonjolan dua
bongkah payudara ukuran besar yang menempel pada dadaku. Sejurus kemudian bibirku
mendapat lumatan yang sangat menggairahkan.

" Emmhhh, Wi-Windi.. " bisikku, " Ma-mau apa? "

" Mau ngelanjutin yang tertunda tempo hari, waktu dirumah sakit, hihihi... "


Windi merangkulku dengan sangat erat, tubuhnya masih sedikit menggigil, tubuhnya masih
sedikit basah, dia bertelanjang bulat. Harum parfum yang dikenakannya tercium dengan
sangat jelas, dia pasti berdandan sebelum pulang dari rumah sakit tadi. Aku membelai rambut
basahnya, menyibakkan poni yang menutup paras cantiknya. Windi memang memiliki wajah
yang sama persis dengan Wanda, namun dia tampak lebih rajin merawat wajah dan tubuhnya.
Terlihat dari wajahnya yang bebas jerawat, juga kulit tubuhnya yang lebih bersinar dibanding
milik Wanda.


Bibir kami berdua masih saling memagut, saling menguas dengan lidah masing-masing,
sesekali Windi menggigit bibirku pelan. Ciumannya lebih panas dibanding ciuman Wanda.
Tangan Windi bergerilya kearah Bams Junior, mengelus-elusnya, kemudian meloloskan
boxer Spongebob yang aku kenakan.


" Idiiihh ga pake celana dalam ya kalo lagi dirumah.. " ledek Windi, membuat Bams Junior
tersipu malu, masih dalam posisinya yang menegak keras.


Windi mulai mengelus-elus Bams Junior, sesekali mengocoknya, sementara tanganku juga
mulai aktif menjamah kedua payudara sekelnya.

" Emmmhhh... "


Puting Windi mengeras, ukurannya sedikit lebih besar dibanding puting Wanda, namun
sama-sama termasuk kedalam golongan Putut, puting imut. Aku terus meremas-remas kedua
payudaranya, Windi melenguh, sentuhannya pada Bams Junior makin intens, kocokannya
makin cepat.


Pelukan kami semakin erat, tubuh kami mulai membasah, basah oleh sisa air hujan pada
tubuh Windi, juga basah akibat peluh yang mulai keluar dari kelenjar keringat kami berdua.
Kamar ini terasa makin panas. Wajar, karena memang tidak ada alat pendingin sama sekali.
Kipas angin atau AC, semua akan menjadi useless tanpa listrik seperti ini.

Ketimbang semakin tersiksa akan panas dan gigitan nyamuk nakal, aku mulai mengarahkan
Bams Junior kearah vagina Windi. Memasukkannya perlahan-lahan dalam kondisi kami
berdua masih sama-sama berdiri.


" Emmhhh, pelan-pelan mas.. " pinta Windi, aku menurutinya, Bams Junior masih belum
sembuh benar, aku masih bisa merasakan sedikit rasa nyeri disana.

Pelan, pelan, pelan, kepala Bams Junior sedikit demi sedikit menyelinap masuk kedalam
celah sempit vagina Windi.


" Uuummmhhh.. "

Separuh tubuhnya sukses masuk kedalam sana, enak, terasa sangat enak. Vagina Windi lebih
peret jika dibandingkan dengan punya Wanda. Aku mencabutnya, kemudian memasukkan
kembali, mencabutnya, kemudian memasukkannya lagi, mendorongnya dalam-dalam, dan..


Crot.. Crott.. Crottt...


" Eh? " aku langsung melongo keheranan seketika setelah spermaku meluncur deras kedalam
vagina sempit Windi.


Ada yang aneh. Iya, memang benar-benar ada yang aneh, aku bisa merasakannya. Sedetik,
dua detik, tiga detik, aku terdiam. Bams Junior masih tenggelam didalam vagina Windi,
mulai melemas, mulai mengerdil disana.

Apa ya? Apa yang terasa aneh?


Kondom? Iya, aku lupa memakai kondom. Engga masalah, aku yakin Windi bersih.
Perempuan secantik Windi pasti bersih dari penyakit yang macam-macam. Dia tidak akan
mengubah titit kesayanganku menjadi galak seperti raja singa. Pasti aman.


" Mas.. " ujar Windi pelan, dia menoleh kearahku, raut wajahnya tampak kecewa.

" I-iya? " jawabku, sambil masih berpikir keras mencari tau apa hal aneh yang aku rasakan
saat ini.

Kenapa, kenapa Windi menunjukkan ekspresi yang sedemikian rupa. Apa dia menyesal telah
bercinta denganku? Apa dia menyesal bercinta dengan orang yang juga pernah bercinta
dengan saudari kembarnya?


" Ke-kenapa.. " Windi kembali berujar dengan wajah yang tampak kecewa, " Ke-kenapa
Mas.. "

" Ke-kenapa apanya Ndiii? " tanyaku.

Gawat, rasanya ada sesuatu yang serius. Aku harus segera meminta maaf pada Windi. Eh,
tunggu dulu, bukankah dia sendiri yang tiba-tiba mengecup bibirku. Dia yang mengawali
pergumulan ini.


" Ummm.. "

" Kenapa mas baru dua kali sodok udah keluar sihhh?? " protes Windi, membuatku tersadar
akan keanehan yang sejak tadi aku cari-cari.

" Jadi kentang deh... "


Iya, iya, itu. Kenapa? Ga biasanya Bams Junior muntah secepat ini. Biasanya dia cukup
tangguh saat bertarung dengan vagina siapapun, vagina milik perempuan manapun. Tapi kali
ini berbeda.


" Jangan-jangan mas ini masuk kedalem golongannya Edi Tansil ya? "

" Atau, jangan-jangan.. "

" Homo? "

= = = = =

Awali harimu dengan berolahraga secara teratur, agar tubuhmu menjadi sehat dan kuat, sama
seperti Panji Manusia Millenium atau Hiro Prisma, dua superhero dari Indonesia. Yah, petuah
klasik dari ibuku itu masih selalu aku ingat hingga kini. Petuah yang membuatku selalu rajin
berolahraga setiap pagi. Mulai dari sekedar lari-lari kecil, bersepeda, sampai bermain bola
bersama anak-anak SD disekitaran kampung kosan.

Namun hari ini agak berbeda dengan biasanya. Aku tidak berolahraga diluar kamar kosku.
Hari ini aku hanya berolahraga ringan didalam kamar sambil mendengarkan lagu-lagu lama
favoritku. Dan track pertama yang aku putar melalui VCD tua pemberian ayahku adalah lagu
klasik dari Band legendaris, Queen.


Tonight I'm gonna have myself a real good time.. Ini udah pagi bukan malam sih, tapi tetep
harus jadi good time buatku. I feel alive and the world it's turning inside out. Yeah! Ouuu
yeaaah, musik mulai berjalan, aku mulai berjoget pelan, iya pelan, pemanasan dulu.

I'm floating around in ecstasy.. Ekstasi? What the, aku sama sekali engga pernah konsumsi
itu kok, suer, beneran. So don't stop me now don't stop me. Cause I'm having a good time
having a good time.. Uuu.. Jogetanku kian padu dengan musik.

I'm a shooting star leaping through the skies. Like a tiger defying the laws of gravity. I'm a
racing car passing by like Lady Godiva.. Tunggu, tunggu, Lady Godiva? Engga, engga, kini
kami punya Lady Gaga, atau mau yang lokalan? Lady Chusnul Amiruddin? Huwekkk..

I'm gonna go go go. There's no stopping me.. Yappp, emang beneran engga ada yang bisa
berhentiin jogetku sekarang. Tititku bergoyang kekanan, tititku bergoyang kekiri. Hari ini aku
berjoget liar dikamar dengan seratus persen bertelanjang bulat. Memberikan tititku ruang
gerak yang lapang.

I'm burning through the skies Yeah! Two hundred degrees. That's why they call me Mister
Fahrenheit.. Engga, engga, bukan mister Fahreinheit, aku adalah mister Bams, lebih tepatnya
Misterbamsukangentotincewekcantiksambilgoyangitik
Cnangckalitralalatrililihiphiphoremopunkrocker.

Hehehe, kenapa malah mendadak alay?


Daripada menanyakan itu, mending kalian bertanya seperti ini, " Mas Bams yang ganteng,
kenapa sih goyang-goyang sambil telanjang gitu? Bikin napsu aja cyinnn.. ", entah mengapa
yang melintas dikepalaku dari pengucapan pertanyan itu malah si Chusnul Amiruddin sialan.

Anjiiir...


Oke, profesor perlendiran Bambang Lesus Soekawi siap menjawabnya.

Sebenarnya, joget-joget seperti ini tadi termasuk salah satu terapi yang disarankan oleh klinik
Tong Seng untukku, disamping pengobatan herbal yang mereka berikan. Tujuannya jelas,
agar bisa memulihkan kembali kemampuan Bams Junior yang telah menghilang pasca
terkena sepakan keras saat pertandingan futsal beberapa hari lalu.


Aku harus cepat-cepat memulihkannya, aku tidak ingin kejadian kemarin malam terulang
lagi. Kejadian yang membuat hubunganku dengan Windi menjadi buruk. Kejadian yang bisa
mengancamku kehilangan gelar playboy kelas kecebong yang telah lama aku rintis dengan
penuh pengorbanan, beserta para bidadariku yang kini terdaftar kedalam katalog koleksi
TTM pribadiku.


Ngomong-ngomong soal teman tapi mesum, alias TTM, aku jadi teringat dengan Wanda.
Beberapa hari ini dia mulai jarang menghubungiku. Entah apa penyebabnya. Padahal
biasanya sedikit-sedikit teriakannya selalu terdengar dari hape butut milikku. Sekedar
menyapa " Mbeeeng!!! Kangen.. ", memintaku menghampirinya " Mbeeeng!!! Cepetan
kerumah!!! Mumpung sepi, cepet, cepet, lima menit kudu nyampe sini.. ", atau memberi
perintah tegas seperti ini, " Mbeeeng!!! Ada diskonan bra!!! Anterin kesanaaa... "


Aku sedikit merasa kehilangan sosok itu, meski nyatanya kemarin aku baru saja bercinta kilat
dengan saudari kembarnya. Tetap saja mereka adalah dua orang yang berbeda, Wanda dan
Windi tidaklah sama. Sementara otakku mulai merindukan Wanda, tangan kanannku masih
membantu Bams Junior untuk terus berolahraga.

Mulai dari push up, sit up, hingga squat jump. Semua dilakukan oleh Bams Junior dengan
sangat bersemangat. Rasanya dia sudah tidak sabar untuk kembali bekerja. Semangat yang
patut diacungi jempol. Kini tinggal mencari hadiah untuknya.


" Wanda? Windi? Tante Linda? atau Chusnul Amiruddin? " tanyaku padanya.


Mendengar nama terakhir langsung membuat Bams Junior menyusut. Dia masih trauma
ternyata. Aku tersenyum sendiri melihat reaksinya.

Konyol..


" Ummm, bagaimana dengan Chusnul yang satunya, Chusnul Alissia? " tanyaku lagi,
memberikan tawaran terakhir, dan Bams Junior menjawabnya dengan menegak, memberi
hormat pada sang tuannya.

Tapi dimana aku bisa menemukannya..


Satu jam berlalu, tubuhku mulai berkeringat, Bams Junior mulai kelelahan. Aku memutuskan
untuk berhenti berolahraga, mengenakan kembali pakaianku, kemudian bergegas menuju
kamar mandi kosan. Aku membulatkan tekat untuk menemui Wanda, mungkin saja bisa
mendapat service gratis untuk Bams Junior darinya.


Setelah selesai mandi, berpakaian rapi, dan berdandan ganteng, aku memacu sepeda motor
Honda Vario 125 baru milikku menuju rumah Wanda. Sepeda motor ini aku dapat dari sisa
uang pengganti kecelakaan yang diberikan oleh penabrakku. Uang yang dititipkan kepada
pihak rumah sakit darinya masih tersisa dua puluh lima juta rupiah lagi, kini semuanya
tersimpan rapi dalam rekening pribadiku. Sementara motor lamaku yang rusak akibat
tabrakan itu masih dipermak dalam bengkel mang Ojon, bengkel motor langgananku.

Siapa perempuan penabrakku itu? Kenapa dia meninggalkan begitu banyak uang untukku.
Total yang diberikannya untukku bahkan mencapai angka lima puluh juta rupiah, fantastis.
Mungkin aku harus menemuinya, mengembalikan sisa uang yang diberikannya, iya, harus.
Tapi bagaimana caranya? Sementara dia sendiri meminta pihak rumah sakit untuk
merahasiakan segala identitas dirinya dariku.


Aku baru saja tiba didepan rumah Wanda. Rumah Wanda tidak terlalu jauh dari tempat
kosku. Hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit untuk mencapainya.

Sepi, tidak ada mobil garang Toyota Fortuner putih milik ayahanda Wanda. Sebagai
gantinya, ada sebuah sepeda motor Honda Tiger yang parkir dihalaman luasnya. Sepeda
motor yang terasa tidak asing lagi bagiku. Sepeda motor itu sudah sangat aku kenal. Bahkan
beberapa kali juga aku pernah menungganginya.

Sepeda motor itu..

Sepeda motor itu milik..

Dimas..

Enam
Lagu Lama

Lagu-lagu lama itu emang ga pernah mati,
tetep enak didenger meski mulai termakan jaman.
Nah, gimana ya 50 tahun kedepan?
Saat lagu-lagu alay udah ngedapetin status sebagai lagu nostalgia..

" Pagi hari, waktu aku lagi rebahan di kosan bersama dengan pacarku, mendadak perutnya
bunyi. Kruuuukkkk... Ternyata, pacarku lagi kelaparan!!! Aku bingung, aku panik, aku heboh.
Kemudian dia berkata, Mbeeeng, beliin Indomie.. Aku pun bergegas keluar rumah buat beliin
dia Indomie. Warung demi warung kujelajahi, namun engga ada satu pun warung yang
memiliki stok indomie disekitar kosan. Rasanya mie Sedap telah menguasai penuh wilayah
kami. Akhirnya aku kembali kekamar kos tanpa indomie berada di tangan, hanya ini, hanya
ini yang aku bawa sebagai oleh-oleh... "


" Kondom?!!! " jerit Windi histeris, " Mbeeeng!!! Aku ituuu minta Indomie!!!!! Perutku
lapeeer, kenapa malah dibawain kondom?!!! "

" Emang kondom ini bisa dimakan apa?!! Huh... " dia mendengus kesal.

" Iyaa, iyaaa, ga usa ngambek, aku cariin lagi deh.. " aku coba menghiburnya.


Sejurus kemudian aku kembali meluncur keluar kosan, memburu Indomie. Padahal pagi ini
aku benar-benar ingin buru-buru bercinta dengannya, tapi malah keburu disuruh cari Indomie
duluan.

Itu deritaku, mana deritamu?


Ah ya, bicara soal derita, aku sempat menderita gangguan hati serius beberapa hari kemarin.
Bukan karena penyakit, tapi karena alasan lain. Aku memergoki Wanda sedang asik bermain
kuda-kudaan dengan sahabatku sendiri, Dimas. Mereka berdua sama-sama telanjang, kontol
mini Dimas (aku sebut kontol mini karena memang ukuran titit milik Dimas ga ada apa-
apanya jika dibanding Bams Junior milikku yang jauh lebih superior) terbenam didalam
vagina Wanda.

Mereka bermain dengan begitu semangatnya. Wanda menggoyang-goyangkan pinggulnya,
merintih keenakan, sementara Dimas ikut merem-melek mendapat service gratis dari vagina
sempit punya Wanda. Ternyata karena alasan itulah mereka mulai menjauhiku beberapa hari
terakhir sebelum kejadian perkara. Selingkuh, Wanda selingkuh, dengan sahabatku sendiri.

Eh, bisa dibilang selingkuh apa engga ya? Seingatku kami belum sempat jadian, hubunganku
dengan Wanda cuma sebatas TTM, teman tapi mesum. Mimpi buruk, meski kejadian itu tetap
saja engga akan bisa lebih buruk dari momen-momen mengerikanku bersama dengan
Chusnul Amiruddin.

Kejadian itu sempat membuatku sedikit depresi. Disaat aku berniat untuk mematenkan
hubunganku dengan Wanda, Dimas malah datang menyerobot.


Dengan demikian, berarti aku kehilangan dua aset paling berharga yang aku miliki secara
nyaris bebarengan. Selain Wanda, jarak hubunganku dengan tante Linda juga semakin
merenggang. Pak Karmoto baru saja kembali ke Surabaya, dia berencana mempercayakan
bisnis ternak sapinya di Madura kepada salah seorang anak buah terbaiknya. Berarti dia akan
lebih banyak memiliki waktu bersama dengan tante Linda disini.

Kehilangan Wanda dan tante Linda bukan berarti akhir dari segalanya untukku, juga untuk
Bams Junior. Setidaknya, hingga saat ini aku masih memiliki satu sosok yang sangat berarti
untukku.


Dialah Windi Adelina.

Pacar pertamaku. Perempuan yang banyak membantuku selama ini. Mulai dari memberikan
terapi untuk mengembalikan keperkasaan Bams Junior, hingga sedikit demi sedikit terus
mengobati luka-luka dalam hatiku. Windi begitu spesial, dan karena itulah aku memutuskan
untuk mulai membangun hubungan serius dengannya.

Artinya, aku benar-benar telah melanggar janji yang dulu pernah aku berikan pada Chusnul
Alissia. Cinta, dan harapan itu telah memudar. Aku harus berusaha untuk lebih realistis. Aku
tidak boleh lagi terpaku pada sesuatu yang semu. Chusnul Alissia hanya akan menjadi
memori masa kecilku. Memori yang harus dipendam dalam-dalam.

Demi Windi. Demi perempuan yang telah aku pilih. Demi perempuan yang mau menerimaku
apa adanya, bukan ada apanya.


Windi bukanlah Wanda, meski mereka tetaplah saudara kembar dengan tampilan fisik yang
serupa. Dia jauh lebih kalem, dia juga engga terlalu hobi shopping. Sesuatu yang patut aku
syukuri, karena dengan demikian berarti aku tidak perlu lagi berburu baju-baju mahal
dibeberapa mall setiap kali diskon besar-besaran mulai menyerang. Satu hal yang aku benci
dari Windi adalah..

" Mbeeeng, lapeeer... " dia merengek lucu, membuatku gemas dengan raut wajahnya saat ini,
" Manaaa mie nya... "

" Iya, iya, ini udah kelar.. " jawabku sambil berjalan menuju kearahnya, membawa
pesanannya.


Begitulah Windi. Perempuan cantik dengan nafsu makan yang luar biasa tinggi. Saat dia
lapar, maka aku harus menuruti apa yang diinginkannya. Untunglah selera makan Windi
cukup merakyat. Tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk itu. Entah mengapa, meskipun
dia selalu makan dengan porsi jumbo, tetap tidak mengubah tubuhnya menjadi makin
melebar. Mungkin asupan gizi dari apa yang dia makan diserap dengan baik oleh bagian
tubuhnya yang lain. Bukan perut, melainkan payudara dan bokongnya, sama-sama membuat
dua bagian itu makin terlihat luar biasa.


Dua mangkok mie instant panas tersaji diatas meja kamar kosanku. Sama-sama berkuah, tapi
beda rasa. Mie Soto untukku, Mie Kare untuk Windi. Pagi ini cuaca di Surabaya masih
mendung, dan mie kuah panas jelas bisa menjadi sajian yang tepat disaat seperti ini. Windi
mendekat kearah meja, wajahnya tampak mupeng melihat sajian mie instant panas yang
berhias telur mata sapi setengah matang, kesukaan kami berdua.


" Hmmm, baunya enaaak.. " ujarnya sambil mengendus aroma menggoda dari kepulan asap
hasil masakanku.

Iya, hasil masakanku sendiri. Masak mie doang kan, siapa sih yang engga bisa?

Sebagai anak kos yang baik, tentu aku harus bisa menguasai tiga ilmu dasar memasak khas
anak kos. Merebus air (untuk bahan utama membuat kopi atau minuman sachet panas
lainnya), merebus mie instant, serta menggoreng aneka frozen food murahan. Nasi? Itu sudah
termasuk fasilitas kos disini, gratis nasi putih dan air isi ulang galonan.

Lumayan kan..

= = = = =

Dua mangkuk yang tadi penuh terisi oleh masing-masing satu porsi mie kuah instant lengkap
dengan telor mata sapi itu kini teronggok dibawah meja. Kosong, sama sekali tak tersisa,
kecuali sendok makannya tentu saja.

Aku dan Windi melahapnya dengan rakus. Kami berdua sama-sama lapar. Beberapa jengkal
dari situ, sepasang pakaian lengkap tergeletak, kusut. Satu set pakaian laki-laki, satu set
pakaian perempuan. Terus menjelajah lebih jauh, didekat ranjang, sebuah handphone Nokia
6600 terus bernyanyi syahdu.


Kau bertanya padaku, kapan aku akan kembali lagi..
Katamu kau tak kuasa, melawan gejolak didalam dada..
Yang membara menahan rasa..
Pertemuan kita nanti..
Saat kau ada disisiku...

Semua kata rindumu semakin membuatku tak berdaya..
Menahan rasa ingin jumpa...
Percayalah padaku akupun rindu kamu ku akan pulang..
Melepas semua kerinduan
Yang terpendam..

Tidak perduli, saat ini aku hanya berkonsentrasi dengan sosok perempuan telanjang yang
berada didalam dekap pelukanku. Kami saling memagut, saling berciuman. Perut kenyang,
hati senang, seks pun makin nendang.

" Mmmmhh... "

Windi mendesah pelan, dia menindihku. Kulitnya dan kulitku saling bersentuhan, secara
langsung, membuatku bisa merasakan lembut dan halus kulit putih bersih itu.

" Mbeeeng.. Mmmhh.. Teleponnya diangkat dulu gihhh.. Kali aja penting.. "


Aku tetap tidak mendengarkannya. Aku ingin menuntaskan dulu permainan ini, baru setelah
itu mengurusi hal-hal yang lainnya. Bibir Windi terus kulumat dengan lahap, ajaibnya, terasa
jauh lebih nikmat dan mengenyangkan dibanding mie instant yang baru saja menjadi menu
sarapanku.

Bams Junior sudah menegang sejak tadi, namun aku berusaha menahannya. Kali ini aku tidak
boleh terburu-buru lagi, kondisinya belum pulih benar. Bibir kami berdua masih saling
berciuman, sementara tanganku mengelus punggung Windi, sesekali juga membelai lembut
rambut panjangnya. Perempuan ini benar-benar sempurna.

" Emmmhhh.. "


Kami berubah posisi, aku duduk bersandar pada tembok yang lembab, sementara Windi
berada diatas pangkuanku. Bams Junior bersentuhan langsung dengan sisi luar vagina Windi.
Vagina sempit yang baru saja bercukur rambut menjadi botak plontos. Tanganku menjamah
payudara Windi, mengusap-usap putingnya, kami terus mengejar birahi, hingga..

= = = = =

" Windi!!! "

Seseorang berteriak dari arah pintu. Suara yang aku kenal.


Windi segera beringsut menjauhiku, bergerak cepat menuju tepi ranjang. Dia menutupi
payudaranya dengan lengan kanan, sementara tangan kirinya menutup sang vagina. Aku
langsung latah ikut menutup kedua puting susuku dengan telapak tangan kurusku.

" Mbeeeng, kenapa itu yang kamu tutupin sih.. " bisik Windi, wajahnya sama sekali tidak
tampak khawatir.

" Tititnya yang ditutupin dong.. " Windi malah tersenyum lucu.

" E-eh, i-iya.. " aku menurutinya, segera menutupi Bams Junior rapat-rapat.


Sosok perempuan yang aku kenal berdiri disana. Dia mengenakan kaos kombrang warna
putih lengkap dengan jaket klub basket NBA, Milwaukee Bucks, dengan risleting terbuka.
Jaket milik Dimas.

" Wa-wanda.. " ujarku lirih.

Kenapa dia ada disini?


Penampilannya kini berubah drastis. Jauh, sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan
Wanda yang aku kenal selama ini. Rambut panjangnya dipotong pendek, tidak ada lagi
softlens aneka warna yang biasa menghias mata indahnya, berganti kacamata frame putih
sebagai alat bantu penglihatannya.

Sosok feminin itu lenyap. Berganti sosok baru yang lebih tomboi.

Mungkin pengaruh Dimas, dia adalah penggila basket, dan Dimas memang lebih suka dengan
sosok perempuan tomboy ketimbang mereka yang condong kearah feminin.

Sebesar itu pengaruhnya pada Wanda.


" Jadi kamu ama Windi sekarang mbeng? " tanyanya, Wanda menutup pintu, kemudian
berjalan mendekat kearah kami, " Asik ginian ya, pantes dari tadi teleponku ga diangkat.. "
ledeknya.

Ah, jadi itu tadi telepon darinya..

" Apaan sih Nda.. " balas Windi.

Wanda tersenyum, " Jadi, sekarang ini kembaranku yang kamu jadiin TTM baru? " tanyanya
dengan nada yang sangat tidak mengenakkan.

" Eng-engga.. " jawabku singkat.

" Aku udah pacaran sama Windi, aku ga akan pernah lagi sia-siain perempuan yang aku
sayang Nda.. " tambahku.


Ekspresi Wanda mendadak berubah mendung, matanya berkaca-kaca.

" Maafin aku Mbeng, maafin aku, hikk, hikkk.. " dia menghambur kearahku dengan cepat,
memelukku erat-erat, membuat Windi terpaksa cemberut, cemburu.

" E-eh, i-iya Nda, udah, udah gapapa.. "

" Maafin Wanda.. "

" Wanda ga bisa terus jaga perasaan Wanda buat kamu Mbeeeng.. " dia makin terisak.


Sejurus kemudian Wanda menciumku. Aku bisa melihatnya, pipi halus itu basah oleh air
matanya. Tatapannya sayu, menatapku penuh arti. Wanda memejam, dia terus menciumiku.

" Ijinin Wanda ngelakuin ini buat yang terakhir kalinya Mbeng.. " Wanda berbisik kepadaku,
dia melepas kacamatanya, meletakkan disisi ranjang yang agak jauh dari kami bertiga.

" Setelah hari ini, aku ga akan pernah lagi ada dikehidupan kamu, anggap kita ga pernah
kenal sebelumnya.. "

" Aku melanjutkannya dengan Dimas, kamu dengan Windi.. "


Aku langsung menoleh kearah Windi, berharap dia tidak memasang raut wajah kesalnya,
karena aku tau, aku sangat tau bahwa Windi sangat amat mudah terbakar cemburu. Diluar
dugaan, Windi malah tersenyum melihat apa yang dilakukan saudara kembarnya itu padaku.
Dia mengangguk, memberi isyarat untukku, dia telah mengijinkanku untuk melakukannya.

Dengan Wanda? Saudara kembarnya sendiri?

Kepalaku mengangguk perlahan, Wanda tersenyum. Dia kembali menciumiku, sementara
tangannya mulai melepas jaket yang menutup tubuhnya. Melapas kaos yang dikenakannya.
Kini tinggal tersisa bra warna putih sebagai penutup tubuh bagian atasnya. Beha diskonan
yang dulu aku belikan untuknya.

Aku memeluknya erat, ini adalah momen perpisahanku dengannya. Kenangan-kenangan itu
kini berjalan dalam kepalaku. Kenangan indahku bersama Wanda. Perih, entah mengapa aku
merasakan perih dalam hati ini, rasa yang lumayan menyiksa. Kami terus berciuman, Windi
asik memandangi kami sambil menenggak sekaleng Pocari Sweet yang tadi aku belikan
untuknya bersamaan dengan mie instant pesanannya.


" Mmmmhhh.. " Wanda melenguh, aku mulai menjamah kedua bongkah payudaranya yang
masih terbungkus rapat. Meremas-remas kecil, membuatnya menggeliat geli karenanya.

Wanda menggerakkan tangannya kebelakang, membuka pengait bra hingga kini bagian tubuh
seksi itu terekspos sepenuhnya. Aku mencoba membandingkannya dengan milik Windi.
Memang benar, tubuh Windi lebih sintal dibanding Wanda.


Bams Junior kian menegak, tangan Wanda kini mengocoknya perlahan. Windi meletakkan
kaleng minumannya, dia menghampiri kami. Mungkin dia mulai merasa bosan hanya
menjadi penonton adegan panas kami berdua, dia pasti tidak ingin kalah dengan Wanda.

Wanda mendorongku, membuatku berada dalam posisi terlentang. Dia melepas alas kakinya,
kemudian memajukan tubuhnya, menempatkan diri tepat diatas kepalaku. Sementara Windi
yang telah bertelanjang bulat menindih tubuh bagian bawahku, dia menggesek-gesekkan
vaginanya dengan Bams Junior.

" Emmhh.. "


Tanganku mulai berani menjelajah celana jeans pendek yang dikenakan Wanda. Melepas
kancing dan menurunkan risletingnya. Wanda langsung menanggalkannya bersama dengan
celana dalamnya. Sekali lagi, itu adalah celana dalam yang aku belikan untuknya saat
Surabaya sedang dihujani oleh berbagai diskonan produk-produk underwear.

Vagina Wanda terpampang jelas tepat didepan mataku, dia menurunkan pinggulnya,
membuat vagina itu semakin dekat dengan bibirku. Aku bisa menciumnya, aroma khas
vagina Wanda. Aroma yang berbeda dengan milik Windi.

Dengan rakus aku langsung menjilatinya, kedua tanganku masih asik memberikan remasan-
remasan pada payudara Wanda.

" Uuuummhhh... " aku mendesah spontan setelah ada rasa hangat dan becek menyergap Bams
Junior, memberi rasa yang sangat nikmat disana. Windi mulai memasukkan Bams Junior
kedalam vaginanya. Aku bisa melihatnya, kedua saudara kembar ini benar-benar
mengagumkan.

Seandainya, seandainya aku bisa terus seperti ini dengan mereka, alangkah indahnya dunia.


Wanda tersenyum, tangis itu telah hilang. Windi memeluknya dari belakang sambil masih
menggoyangkan pinggulnya naik turun. Dia menciumi leher jenjang saudari kembarnya,
sesekali menjilatinya.

" Windi!!! " pekik Wanda, kaget mendapat perlakuan seperti itu darinya.

" Hihihi, sekali-kali nyobain rasanya jadi lesbi Nda.. "

Pacarku itu mulai melambatkan tempo gerakan vaginanya. Pelan-pelan, perlahan dia
membuat Bams Junior tenggelam disana. Begitu sempit, celah vaginanya sangat sempit. Dia
menyibakkan tanganku yang sejak tadi meremas payudara Wanda.

" Gantian yaaa.. "

Kini berganti tangan halus miliknya menempati posisi itu. Windi meremasnya dengan telaten,
pelan-pelan. Dia seakan-akan paham benar bagaimana cara memperlakukan payudara
seorang wanita dengan baik dan masksimal.


Lidahku bermain didalam vagina Wanda. Menjilati clitoris mungil miliknya, sementara kedua
tanganku yang kehilangan payudara Wanda berpindah meremasi bokongnya.

" Ahhhh... "

Wanda dan Windi saling berciuman bibir. Mereka tampak sedikit canggung, sepertinya ini
memang yang pertama kalinya bagi mereka. Namun aku bisa merasakannya, aku bisa
merasakan bahwa keduanya saling menikmati momen-momen ini. Vagina si kembar kian
basah, makin basah.

Aku harus menikmatinya, setiap detiknya. Saat-saat ini, momen yang mungkin hanya terjadi
sekali dalam hidup mereka.

Juga sekali dalam hidupku.

= = = = =

Satu jam kemudian..

" Huaaa... Capeeekkk.. " aku melempar tubuhku kesamping, menarik nafas dalam-dalam,
mengaturnya perlahan.

" Hihihi, hebat kamu sayaaang bisa bikin puas dua orang sekaligus.. " ujar Windi, dia
mengambil tissue untuk membersihkan vaginanya yang kuyup akibat spermaku, " Iya kan
Nda? "

" I-iya.. " jawab Wanda malu-malu, dia bangkit dari posisi tidurnya, memunguti semua
pakaiannya yang telah tertanggal, mengenakannya kembali.


Aku tidak menyangka hari ini bisa mendapatkan Windi sepaket dengan Wanda. Benar-benar
sensasi yang lain saat bisa bercinta dengan saudara kembar seperti ini. Threesome kami yang
pertama, sekaligus juga menjadi yang terakhir.

Hubunganku dengan Windi akan tetap berjalan sebagai sepasang kekasih, pasti hari-hariku
berikutnya akan lebih sering berhias dengan bermacam aktifitas seksual dengannya.

Tapi tidak dengan Wanda. Wanda telah menjadi kekasih resmi Dimas. Dia akan menjalani
hidupnya yang baru, setelah ini dia akan benar-benar menghilang dari hidupku, berlaku juga
untukku dalam hidupnya.


" Selamat tinggal Mbeeeng.. " ujar Wanda, dia tersenyum dengan sangat manis, senyum
perpisahan.

" Jagain Windi baik-baik ya.. " tambahnya sambil melambaikan tangan pada kami berdua
yang masih berbaring lemas diatas ranjang, " Aku harap hubungan kalian bisa selalu abadi,
selamanya, hihihi... "

Wanda meninggalkan kami. Sebelumnya, dia telah meninggalkan sebuah kunci yang dulu
pernah aku berikan padanya. Kunci kamar ini, kunci yang membuatnya selalu bisa masuk
kesini seenak jidat. Kini kunci itu beralih menjadi milik Windi.


Tinggal kami berdua didalam kamar, aku dan Windi. Dia merebahkan tubuhnya dengan
menggunakan perutku sebagai bantal, tangan kirinya masih saja sibuk bermain-main dengan
Bams Junior. Mempermainkan seakan-akan tititku itu adalah boneka kesayangannya.

" Terapinya sukses nih.. Bams Junior udah sembuh ya.. " puji Windi, dia mengusap kepala
tititku.

" Hihihi iya.. Sesuatu gitu.. " jawabku cengengesan.


Ada keyakinan dalam diriku yang mengatakan bahwa segala kesialan yang menimpaku akhir-
akhir ini mulai berlalu. Aku mendapatkan Windi, perempuan yang sangat baik padaku.
Kecelakaan setelah diperkosa Chusnul Amiruddin lah yang membimbingku untuk bisa
bertemu dengannya.

" Bener kata mama, dibalik musibah selalu ada hikmah.. "

Oya, kecelakaan itu. Bukankah Windi praktek disana, dirumah sakit itu, seharusnya dia bisa
memberitahuku tentangnya, tentang penabrakku. Dia pasti bisa membantuku. Aku ingin
mengembalikan sisa uang yang pernah diberikan oleh sang penabrakku itu.


" Eh, sayang.. Penabrakku, kamu tau ga siapa orang yang nabrakin aku? " tanyaku pelan.

" Ah, iya, tau kok Mbeeeng sayang.. " ujar Windi, " Kenapa hayooo, ga boleh dendam
Mbeeeng, toh dia udah kasih biaya pengobatan yang segede itu kan.. "

" Lagian kamu itu ketabraknya pelan banget kok, katanya para saksi.. Mbak cantik itu
ditemenin sama beberapa warga sekitar waktu bawa kamu kerumah sakit, hehehe.. " papar
Windi, " Reaksi kamunya aja Mbeeeng yang lebay, ketabrak bukan direm malah ngegas lagi
kenceng banget, akhirnya jadi guling-guling dijalanan ampe beberapa meter deh.. Huuu.. "

Dafuq, ternyata..


" Justru itu, sisa duitnya mau aku balikin.. " jelasku dengan memasang wajah super innocent,
salah satu topeng yang biasa aku kenakan saat sedang meminta uang jajan semasa kecil dulu.

" Ihhh sayangku ini baik bangeeett deh masih mau ngebalikin sisanya.. " Windi mencubit
gemas Bams Junior, " Tapi gimana ya, dia minta pihak rumah sakit buat ngerahasiain segala
identitasnya lho Mbeeeng... "

" Yaaah pihak rumah sakit ga usah tau kalo aku dapet datanya dia.. Kamu bisa bantuin kan
sayaaang? " aku mentowel puting susunya.

" Iya, iyaaa, nanti aku bantuin.. "

" Oya Ndi, emang nama dia siapa sih? Perempuan kan kata kamu.. "

" Iya perempuan.. Namanya aneh, mirip nama cowo, padahal dia itu cantik banget Mbeng,
pantes aja banyak warga yang anterin dia kerumah sakit.. "

" Siapa? Siapa namanya emang? Bambang? " tanyaku penasaran.

" Hihihihi, bukan.. " Windi memandangi langit-langit, coba mengingatnya.

" Umm... "

" Kalo engga salah, nama dia itu.. "

" Chusnul.. "

" Ah iya, Chusnul.. "

" Chusnul Alissia.. "

= = = = =

Udah pernah ngeliat film laga laris punya Indonesia? Film super keren yang dibintangi oleh
Iko Uwais dan Joe Taslim itu lho. Kalo udah pernah liat, berarti masih inget jelas pose Iko
Uwais dalam poster-poster film itu kan? Poster yang nampilin pose dia lagi berdiri tegap
memandangi apartemen (atau rumah susun ya) yang berisi kriminal-kriminal buas calon
musuhnya.

Saat ini aku berdiri dengan pose sok keren seperti itu, meski tetap ada beberapa perbedaan
mencolok yang membuatku sama sekali engga mirip dengan sosok Iko Uwais dalam poster
film The Raid yang beken itu.

Pertama, jelas postur tubuh. Postur tubuh kering kerontang tanpa otot dan dagingku ini jelas
bukan apa-apa jika dibanding postur tubuh milik Iko Uwais yang terbiasa dengan latihan-
latihan beladiri. Meski tinggi badan kami mungkin hampir serupa. Kedua, pakaian. Iko Uwais
mengenakan seragam tim khusus polisi ala SWAT, sedangkan aku hanya mengenakan
pakaian seadanya. Kaos putih dengan gambar vector wajah empat personil The Beatles,
dipadu celana jeans belel tiga perempat.

Masih banyak perbedaan lain yang bisa kalian temui, kecuali dari segi tampang. Ehm, ehm,
jujur, aku ini jauh lebih ganteng dibandingkan dengan Iko Uwais. Ciyus.


Red Sapphire Apartment. Salah satu yang terbaik di Surabaya, dan apartemen ini berada tidak
jauh dari kampus serta tempat kosku. Sedikit lagi, ya, sedikit lagi aku bisa menemuinya.
Chusnul Alissia, Chusnul yang asli. Sesuai dengan informasi dari Windi yang didapatnya dari
mencuri data rumah sakit, disinilah tempat tinggal Chusu. Dialah yang menabrakku, dialah
yang membawaku kerumah sakit, dialah yang memberi biaya pengobatan fantastis untukku.

Chusnul Alissia. Jelas itu pasti dia. Nama itu bukanlah nama yang banyak beredar dipasaran
luas. Aku yakin, sangat yakin.

Berarti selama ini dia begitu dekat denganku. Kenapa dia tidak menemuiku setelah
menabrakku? Banyak pertanyaan yang ingin aku ajukan padanya. Aku juga harus bercerita
tentang hubunganku dengan Windi. Termasuk janji menikah dengannya yang dulu sempat
terucap dari mulut Bambang kecil yang masih sangat lugu.


Aku menarik nafas panjang, bersiap untuk melangkahkan kaki menuju kedalam apartemen
super mewah itu. Dan..

Happp...

Sepasang tangan halus menahan pundakku, menahan lajuku. Erat, dia mencengkeram erat.
Aroma harum menyeruak, wangi ini, wangi parfum yang sangat aku kenal.

" Mas.. " ujar sosok itu lembut.

Siapa? Siapa dia?

Tujuh
Akhir Halaman

Hidup itu selalu sama, terdiri dari empat fase yang monoton,
perbedaan bisa tercipta tergantung gimananya kita ngejalani empat fase itu,
foreplay, penetrasi, klimaks, dan
selesai..

Dengan gerakan sedikit memutar nan gemulai ala balerina, aku segera berbalik badan,
berusaha mencari tau siapa sosok yang baru saja menahan bahuku. Mulutku menganga lebar
setelah mengetahui siapa sosok perempuan bersuara lembut itu. Sosok yang tidak asing lagi
berdiri disana, sosok yang pernah aku kenal sebelumnya, sosok yang meninggalkan sebuah
kenangan tak terlupakan untukku. Sosok itu adalah..

" Chu.. "


" Chusnul.. " ujarku lirih, dengan mulut masih menganga, kali ini tidak selebar tadi, karena
mulai ada beberapa lalat hijau yang menghampiri.

Aku terdiam, menutup mulutku rapat-rapat, kemudian berpikir keras tentang siapakah sosok
itu. Aku sedikit lupa. Lupa akan nama lengkapnya. Dia keheranan menatap tingkah laku
anehku.


" E-eh, Chusnul siapa ya? " tanyaku sambil menggaruk bagian belakang kepalaku.

" Chusnul Amiruddin mas.. " jawabnya lempeng.

Sedetik, dua detik, aku kembali terdiam. Mematung. Mirip zombie bengong yang berdiri
ditengah pematang sawah.

" Masa lupa sich ama akyuuu.. " ujarnya sambil memonyongkan bibir.


" Haaahhhhh!!! Iya, kamu!!!!! Chusnul yang itu!!! Pe-penjahat bokong!!! " aku berteriak
histeris setelah menemukan serpihan kenanganku bersamanya.

Secepat kilat aku beringsut menjauhinya. Melepaskan cengkeraman tangannya dari
pundakku. Aku harus menjaga jarak. Ingat, dia ini memiliki jurus totok yang entah mengapa
sukses dikuasainya dengan sangat baik, ilmu yang bisa membuatku engga berdaya sewaktu
dia memperkosa bokongku.


" Yiaaa, cantik-cantik gini kok dipanggil Penjahat Bokong sich.. " balasnya dengan
memasang wajah innocent, wajah cantik yang sempet menjebakku sesaat.

" Aku minta maaf mas.. " ekspresinya mendadak berubah, terlihat galau, " Aku khilaf waktu
itu, abis mas Bambang ganteng.. Jadi mupeng deh.. "

" Mupeng apanya!!! " bentakku kesal melihatnya.

" Bokong perjakaku malah jadi korban!!! "


Chusnul Amiruddin menangis, dia kembali mengulanginya, dia terus meminta maaf padaku.
Tingkah lakunya membuat beberapa orang yang melintas disekitar kami jadi menatap sinis
padaku.

Bahkan ada seorang pemudi yang menyeletuk, " Tanggung jawab mas kalo habis ngehamilin
anak orang.. ", atau bapak-bapak sok tau yang dengan entengnya berkata, " Sadarlah nak,
perlakukan pacarmu dengan baik, jangan buat dia menangis.. Apalagi pacarmu itu cantik.. "

What the, kenapa malah seakan-akan aku yang salah padanya. Ah ya, aku baru ingat kalau
penampilan Chusnul memang benar-benar cantik, tidak mudah membedakannya dengan
perempuan tulen.


Terpaksa aku harus mendekatinya, berusaha sedikit berbuat manis untuknya agar tidak ada
lagi semakin banyak orang yang salah paham padaku. Semakin dekat dengannya, semakin
aku merasakan ada satu kejanggalan disana. Pakaian. Dia mengenakan pakaian yang tidak
lazim dikenakannya. Sangat berbeda jauh dari baju seksi yang dulu melekat pada tubuh
semoknya saat menemuiku di hotel.


Pakaian itu, seragam satpam. Eh, kenapa dia mengenakan seragam satpam?


" Udah, udah, ga usah mewek gitu, kamu malah nyusahin aku kalo kayak gini.. " aku
berusaha menenangkan dan menghentikan tangisnya.

" Dimaafin dulu baru akyu engga mewek lagi.. Hikk, hikkk... " dia coba mengajukan satu
syarat.

" Iya, iya, dimaafin deh, asal jangan diulangin lagi.. " jawabku terpaksa.


" Kyaaa!!! Asikkk, udah dimaafin.. " mendadak dia berteriak ceria dan langsung memelukku
erat-erat, seperti seseorang yang baru saja memenangkan undian satu milyar.

Orang-orang kembali memperhatikan kami, membuatku makin risih.

" Udah, lepasin.. " aku berusaha berontak melepaskan diri dari pelukannya, namun dia terlalu
kuat, sama seperti dulu, " Sebelum aku berubah pikiran.. "

" Ga mau lepas.. "

" Lepasin gak? Aku hitung sampai tiga. Satu.. "

" Ga mau, ga mau, gendong dulu muterin apartemen.. "

Dafuq, dia pikir aku ini odong-odong apa..

" Dua.. "

" Huft.. Iya deh iya, nyerah... "


Oke, akhirnya aku menang. Situasi kembali normal sekarang, meski ada satu hal yang mulai
mengganjal pikiranku. Man, kenapa dia selalu ada setiap kali aku berusaha mencari Chusu?

" Makasih ya mas Bambang udah maafin akyu.. "


Minta maaf, kata-kata sederhana yang sebenarnya sulit diucapkan. Aku kagum akan
niatannya untuk meminta maaf padaku. Aku jadi membandingkannya dengan diriku sendiri.
Apa aku pernah meminta maaf pada mereka? Minta maaf pada gadis-gadis yang pernah aku
tiduri. Gadis-gadis yang keperawanannya sempat direnggut oleh keperkasaan Bams Junior.
Meski semua itu berdasar perasaan suka sama suka. Apa aku tau apa yang ada dalam dasar
hati mereka?

Pasti mereka juga merasa pedih, perasaan yang sama pedihnya dengan apa yang aku rasa saat
aku kehilangan keperjakaan bokongku.

Aku salah, aku seharusnya minta maaf pada mereka. Bukan malah menjadikan mereka
boneka yang berlabelkan TTM. Hatiku terusik, aku menarik nafas dalam-dalam, dan aku
memutuskan akan membuang jauh-jauh kebiasaan burukku itu. Kini, aku hanya ingin serius
menjalin hubungan dengan Windi.


" Ummm, aku yang harus makasih sama kamu.. " ujarku tiba-tiba, " Entah mengapa aku
mendadak berkata seperti itu pada Chusnul Amiruddin. Faktanya, dia memang
menyadarkanku akan hal penting yang selama ini aku lupakan.

" Eh? " laki-laki berwujud perempuan itu menatapku bengong.

" Hahaha, jangan dipikir.. " aku coba mengelak, mengalihkan pembicaraan, " Ngomong-
ngomong, kenapa kamu pake seragam satpam? Ada karnaval? "

" Yeee kok malah dibilang karnaval sich.. Aku kerja disini mas.. "

" Jadi satpam? " aku sungguh tidak percaya dengan jawabannya.

" Iya, satpam, masalah buat looo? " dia mengeluarkan suara laki-lakinya, nyaliku langsung
menciut seketika.

" Eng-engga, ga masalah, asal halal dan ga jadi tukang tusbol kok.. " aku melengos,
membuang ketakutanku.

" Hihihi, tuh kan maafinnya ikhlas ga sichhh, masih dibahas mulu.. Aku ga bisa kerja
ditempat sembarangan mas, maklum lah daftar riwayat hidupku kan rada-rada ga jelas gitu.. "

" Maksudnya? "

" Dibagian jenis kelaminnya mas, selalu aku tulis laki-laki berwujud perempuan.. Rata-rata
perusahaan engga mau menerima akyu.. Cuman pemilik apartemen ini yang mau terima,
soalnya akyu udah kenal dia dari sewaktu jaman SMA dulu.. Keahlian beladiri yang akyu
punya sangat berguna disini mas, apartemen jadi aman dan tenteram, ada maling macem-
macem tinggal di totok aja deh.. Dan untungnya orang-orang disini selalu bisa nerima akyu,
hihihi, mereka malah mengira akyu ini perempuan tulen loch mas.. Malah ada yang pernah
mau booking akyu.. Bla.. bla... bla.... Ah, malah jadi curhat gini dehhh.. "


Penjelasan yang masuk akal. Aku bersimpati padanya. Dia ternyata bisa berperilaku jujur
seperti itu.

" O ya, mas mau kemana? Sini biar aku anter.. " tawarnya.

" Unit nomor 505, aku mau ketemu seseorang.. " jawabku jujur.


Akhirnya dia mengantarku menuju kesana, unit 505. Sepanjang perjalanan dia masih saja
terus meminta maaf padaku. Untuk saat ini, Chusnul Amiruddin adalah satpam yang paling
cantik di Indonesia. Dia juga satpam yang paling berbahaya, percaya atau engga, coba sendiri
deh cari gara-gara dengannya. Curhatan kami berdua tidak berlangsung sepihak, aku juga
sedikit bercerita dengannya tentang apa tujuanku berada disini saat ini.


Aku telah tiba didepan pintu unit nomor 505. Berdasarkan data yang diberikan Windi,
disinilah tempat tinggal Chusu. Seharusnya kali ini aku benar-benar bisa menemuinya.
Chusnul Amiruddin masih menemaniku, setelah permohonan maafnya tadi, entah mengapa
aku benar-benar meyakini bahwa dia tidak akan melakukan hal-hal buruk lagi padaku.

" Unit nomor 505 ya.. " dia berujar lirih, mengelus dagunya, " Kalo engga salah pemilik
kamar ini seorang perempuan cantik.. Namanya agak-agak mirip nama akyu gitchuuu.. "

Nama yang mirip dengannya? Berarti memang benar bahwa ini adalah tempat tinggal
Chusu, nama lengkap dia adalah Chusnul Alissia, hampir mirip dengan Chusnul Amiruddin
kan? Kenapa dia tinggal di apartemen? Tipe-tipe keluarga seperti keluarganya seharusnya
lebih memilih hidup didalam perumahan elit ketimbang menghabiskan waktu untuk tinggal
didalam apartemen.


Aku menekan bel, bukan hanya sekali, tapi beberapa kali. Tidak ada jawaban. Aku mulai
gelisah, jangan-jangan usahaku harus terhenti lagi tanpa hasil.

" Ga ada orang sepertinya mas.. " celetuk Chusnul Amiruddin.

" Kamar ini cuman ditinggali satu orang aja sich, dan tadi akyu liat dia lagi keluar.. "
tambahnya.

" Eh.. "

" Kamprettt, napa ga bilang dari tadi!!! " protesku sambil menepok jidatnya keras.

" Ampuuun mas.. " Chusnul Amiruddin langsung memasang wajah memelas.

" Itu kabar buruknya.. " dia berujar sambil merogoh-rogoh kantong celana panjangnya,
sebuah kunci dikeluarkannya dari sana.

" Kabar baiknya, akyu punya kunci kamar ini.. Akyu bisa ngerasain, kayaknya dia ini orang
yang sangat berarti buat kamyuuu kan mas, jangan-jangan yang kamu cari disini itu Chusnul
Alissia yang asli ya? Hihihi, semoga aja kali ini ga salah alamat lagi yaaa.. Akyu kenal
perempuan yang tinggal disini, tapi akyu ga tau namanya.. Perempuan itu selalu keliatan
sedih mas.. Oya, nih.. " dia menyerahkan kunci itu padaku, kemudian melangkah
meninggalkanku menuju ke salah satu sisi koridor yang bisa dengan mudah digunakannya
untuk mengawasi tangga dan lift pada lantai tempat kami berpijak sekarang, " Biar akyu yang
awasin, tapi jangan macem-macem waktu didalem loh.. Liat-liat aja, cari tau siapa yang
tinggal disana.. Jangan nyolong mas, hihihi.. "

" Kamprettt, kamu pikir aku ini maling apa.. "

" Kyaaa, ampuuun... "


Skip, skip... (coba pake FR style)

Hari ini, secara mengejutkan, Chusnul Amiruddin malah menjadi orang yang paling banyak
membantuku. Mungkin kami bisa bersahabat setelah ini, asal dia engga macem-macem coba
memperkosaku lagi. Dengan gerakan mantap akyu segera membuka pinta kamar itu, kamar
nomor 505. Akyu melangkah dengan langkah tegap masuk kedalam sana.

Eh? Kenapa jadi akyu sih. Kenapa mendadak jadi tiruin gaya ngomongnya si Chusnul
Amiruddin.


Aku terkejut setelah sukses memasuki ruangan luas nan mewah itu. Pemandangan yang
sangat aneh tersaji disana. Pemandangan yang tidak lazim, namun juga tidak asing. Interior
unit 505, Red Sapphire Apartment, didominasi dengan warna merah-putih. Nuansa khas klub
favoritku, Southampton. Ada hiasan dinding berupa logo klub itu disana, karpet jumbo
berukuran besar dengan gambar serupa, juga beberapa poster pemain favoritku menggantung
dengan rapi, terbungkus pigora serba merah yang nampak megah. Bersih, semuanya sangat
bersih dan rapi. Mirip sebuah unit apartemen yang tak berpenghuni.

" Ada Adam Lallana.. " ujarku lirih, menatap takjub.

" Morgan Schneiderlin juga.. "

" Maya Yoshida, Adam Lambert... " aku terus mengurut memperhatikan foto-foto itu.
Mataku terbelalak setelah menatap beberapa foto yang jelas benar-benar aku kenal juga
menggantung disana.

Foto diriku sendiri!!!

Foto diriku sendiri dalam berbagai macam pose. Foto yang didapat dengan cara sembunyi-
sembunyi. Foto saat pertandingan futsal, foto saat aku berulang tahun, foto saat wisuda SMA,
dan masih banyak foto-fotoku lainnya. Aku terus menjelajahi ruangan itu, mataku berhenti
pada sebuah foto yang paling berbeda diantara foto-foto lainnya. Foto yang terletak diatas
sebuah meja hias berbahan kayu jati disalah satu sudut ruang depan. Foto dua anak kecil yang
sedang bermain dakochan.

Itu jelas adalah foto diriku, foto diriku dengannya, dengan Chusnul Alissia.

Aku sangat terkejut mendapati ini semua. Jangan-jangan selama ini dia selalu
memperhatikanku, dia selalu dekat denganku, hanya aku yang sama sekali engga
menyadarinya.

Ada sebuah diary diatas meja, berada tepat disamping kanan foto itu. Diary berwarna pink.
Sebuah tulisan latin berada dibagian cover. Ditulis dengan sebuah tinta warna emas,
bertuliskan..

" Chusnul Alissia.. "

= = = = =

Masih dari Red Sapphire Apartment, unit lainnya, unit 507. Unit yang berada tepat disebelah
unit 505, tempat dimana seorang Bambang Lesus Soekawi membaca setiap halaman diary
yang begitu berarti baginya. Diary milik seseorang yang berasal dari masa lalunya, Chusnul
Alissia. Diary yang banyak bercerita tentang kehidupan perempuan itu, lebih banyak guratan
tinta penuh luka dibanding guratan yang mengandung tawa.

Sang pemilik diary berdiri didalam unit itu. Dia terlihat rapuh. Wajah cantiknya masih
memancar ditengah redup hatinya. Dia tidak sendirian, didalam sana ada dua sosok
perempuan cantik lain yang menemani sepi harinya. Windi Adelina dan juga Chusnul
Amiruddin (oke, kalau yang ini memang bukan perempuan tulen ya).


" Chusuuu, apa bener gapapa kalo harus berakhir seperti ini? " tanya Windi pelan, dia terlihat
khawatir, " Aku engga mau kalo kamu harus mengorbankan kebahagiaan diri kamu sendiri.. "

" Iya, ini semua belum terlambat cyin.. " sahut Chunul (Chusnul yang KW, bukan yang asli),
" Dia masih ada disebelah loch, semua cerita ini masih bisa kita rubah.. "


Chusu terdiam. Hatinya mulai bimbang, mulai meragu, namun dia buru-buru menepis semua
perasaan itu. Perasaan yang bisa membuatnya berbalik arah.

" Umm.. Engga apa.. " jawabnya, dia masih terlihat rapuh meski mencoba untuk menjadi
sekuat yang dia inginkan.

" Semua udah selesai, aku harap kamu jaga dia baik-baik ya Ndi.. "

" Dia orang baik, terlepas dari sifatnya yang suka main cewe, dan aku yakin dia bisa berubah
setelah ini.. " harapnya, " Sesuai apa yang udah aku rencanain sebelumnya.. "


Dialah yang merancang beberapa skenario dalam hidup Bambang. Mulai dari awal.
Semuanya dia sendiri yang menyusunnya. Skenario untuk membahagiakan seseorang dari
masa kecilnya itu, skenario untuk mengubahnya menjadi pribadi pejantan yang lebih baik.

Mulai dari mempertemukannya dengan Chusnul Amiruddin, mengarahkan Dimas untuk
merenggut Wanda darinya, lebih mendekatkan Windi, hingga meninggalkan sebuah diary
penuh berisi tulisan-tulisan yang bisa mengubah pola pikir laki-laki itu. Dia tidak ingin
Bambang menjadi seorang pemain wanita lebih dari ini. Belum terlambat untuk
mengubahnya, dan Windi adalah orang yang tepat untuk ini.

Bukan dirinya.


Karena dia tidak akan bisa berlama-lama menikmati indah dunia. Vonis penyakit yang harus
diterimanya mulai mengubah semua mimpi indahnya. Mimpi yang pernah dia impikan bisa
terwujud bersama-sama dengan teman masa kecilnya itu.

" Engga apa-apa Windi, Amir juga.. Makasih kalian udah bantu aku selama ini.. "

" Amir awas aja ya jangan khilaf lagi pake tusbol-tusbol pantat Dakochan lagi.. "

" Hihihihi... "


" Iya, iya cyinnn.. " jawab Chusnul Amiruddin sambil sedikit manyun.

Chusu tertawa kecil, dia mengingat jelas setiap kejadian konyol yang menimpa Bambang
akibat salah perhitungan rencananya. Salah satu yang paling diingatnya adalah ketika
Chusnul nekat memperkosa bokong Bambang saat dia menyuruhnya menemui laki-laki itu
untuk sekedar memberikan sedikit pelajaran kecil.


Chusnul Amiruddin adalah teman Chusu semasa SMA, tentu saja saat itu dia masih berada
dalam wujud laki-lakinya. Chusnul yang berperilaku kelewat kemayu selalu menjadi bahan
ejekan bagi teman-teman mereka, dan Chusu selalu berada disana untuk membelanya.
Setelah lulus SMA, Chusnul memutuskan untuk mengubah penampilannya lebih drastis,
untuk itu dia sampai menghabiskan dana yang cukup fantastis untuk mengoperasi fisik
dirinya di Thailand. Separuh dana untuk itu diberikan oleh Chusu. Segala kebaikan Chusu
membuat Chusnul Amiruddin banyak berhutang budi padanya, dan dia menebusnya dengan
cara selalu membantu Chusu kapanpun perempuan itu membutuhkannya.


" Makasih ya.. " ujar Chusu tulus, " Makasih kalian udah bantuin aku selama ini.. "

" Engga, engga cyinnn... " balas Chusnul, air matanya mulai berlinangan, " Akyu yang harus
makasih ama kamu.. Hikkk, hik... "


Sedangkan Windi, adalah salah seorang sahabat terbaik yang dimiliki oleh Chusu. Mereka
satu sekolah sejak SMP. Windi begitu mengenal Chusu dengan sangat baik, begitu pula
sebaliknya. Dialah sahabat pertama yang dimilikinya setelah kembali ke Surabaya. Chusu
meninggalkan Surabaya selama 5 tahun lebih untuk mengikuti orang tuanya yang mulai
mengembangkan bisnis di beberapa kota diluar Surabaya. Chusu banyak bercerita tentang
Bambang padanya, dan karena itulah dia berani memberikan laki-laki itu untuknya.


" Aku sungguh engga suka situasi kayak gini.. " kata Windi tiba-tiba, mata indahnya berkaca-
kaca, " Aku yakin kamu bisa sembuh kok, Chusu.. "

" Aku yakin pengobatan di Jepang nanti bisa sembuhin kamu.. "


Chusu menggeleng pelan.


" Kalo udah takdirnya seperti ini yahhh, mau gimana lagi.. " dia kembali menunjukkan
senyumnya.

" Selamat tinggal ya, Windi, Amir.. "

" Selamat tinggal, Dakochan.. "

= = = = =

Tidak mungkin setiap halaman dalam diary tebal itu bisa aku lahap dengan cepat. Air mataku
terus mengalir deras. Terlalu banyak kesedihan. Aku memutuskan untuk langsung menuju
kepada akhir halaman. Tinta warna merah yang konsisten memenuhi tiap halaman diary itu
makin memudar. Ada beberapa bercak basah disana. Bekas air mata sepertinya.

Aku mulai membacanya perlahan. Hanya ada beberapa kalimat disana. Aku tau ini pasti akan
semakin melukai perasaanku.


Dear Dakochan,

Aku percaya, kamu pasti bisa sampai disini. Membaca diary ini dengan air mata
berlinangan, ya kan? Ngaku aja deh. Aku tau kamu selama ini masih saja terus mencariku.
Sebenernya, aku engga berniat membagi kesedihanku ini padamu, hanya aku ingin kamu
benar-benar mengetahui apa yang dikerjakan oleh seorang Chusu selama menghilang dari
kehidupanmu.

O ya..

Unit ini, sepenuhnya untukmu. Hihihihi..

Bukan bermaksud menyombongkan diri, tapi memang saat ini aku benar-benar menjadi
seorang perempuan muda yang sangat kaya raya. Aku ini pewaris tunggal keluarga pemilik
bisnis properti ternama di Indonesia.

Kamu engga perlu tinggal ditempat kos sempit itu lagi. Kamu engga perlu menyalurkan
hasrat seksualmu pada tante Linda yang genit itu lagi. Inget, kamu udah punya Windi. Jaga
dia baik-baik.

Jaga baik-baik unit ini. Kenapa unit nomor 505, karena kita berpisah saat kita berusia 5
tahun. Beberapa bulan sebelumnya, masih diusia kita yang baru menyentuh angka 5, kamu
juga bilang akan menikahiku suatu saat nanti. Sungguh Dakochan saat itu benar-benar lucu,
benar-benar konyol..

Aku selalu tertawa jika mengingatnya.

Ummm...

Kita memang engga akan bisa menepati janji yang dulu pernah kita ucapkan bersama-sama.
Aku yakin umurmu masih sangat panjang. Berbanding terbalik dengan usiaku yang mulai
memasuki masa-masa akhir.

Terakhir, jagalah dirimu baik-baik. Jaga semua yang menyayangimu. Jangan lupain aku yah
Dakochan, tapi jangan juga terlalu mengingatku. Aku engga pantas untuk selalu diingat. Aku
hanya akan menjadi bayangan yang akan hilang saat kamu telah menemukan cahaya terang
dalam hidupmu.
Selamat tinggal.

Aku akan terus menjagamu, meski itu hanya bisa aku lakukan tanpa terlihat olehmu.


Chusu,

anak perempuan kecil yang dulu selalu kalah saat bermain Dakon melawanmu.


= = = = = = =