Anda di halaman 1dari 13

Makalah Tawuran Pelajar

I. Pendahuluan

1. Latar Belakang Masalah
Tawuran yang sering dilakukan pada sekelompok remaja terutama oleh para pelajar seolah
sudah tidak lagi menjadi pemberitaan dan pembicaraan yang asing lagi ditelinga kita. Inilah
beberapa contoh yang bisa saya kemukakan sebagai bukti terjadinya tawuran yang dilakukan
oleh para remaja beberapa tahun lalu. Di Palembang pada tanggal 23 September 2006 terjadi
tawuran antar pelajar yang melibatkan setidaknya lebih dari tiga sekolah, di antaranya adalah
SMK PGRI 2, SMK GAJAH MADA KERTAPATI dan SMKN 4 (harian pagiSumatra ekspres
Palembang).

Di Subang pada tanggal 26 Januari 2006
terjadi tawuran antara pelajar SMK YPK
Purwakarta dan SMK Sukamandi (harian pikiran
rakyat). Di Makasar pada tanggal 19 September
2006 terjadi tawuran antara pelajar SMA 5 dan
SMA 3 (karebosi.com).
Tidak hanya pelajar tingkat sekolah
menengah saja yang terlibat tawuran, di Makasar
pada tanggal 12 Juli 2006 mahasiswa Universitas
Negeri Makasar terlibat tawuran dengan sesama rekannya disebabkan pro dan kontra atas
kenaikan biaya kuliah (tempointeraktif.com). Sedangkan di Semarang sendiri pada tanggal 27
November 2005 terjadi tawuran antara pelajar SMK 5, SMK 4 dan SMK Cinde (liputan6.com).

Kekerasan sudah dianggap sebagai pemecah
masalah yang sangat efektif yang dilakukan oleh para
remaja. Hal ini seolah menjadi bukti nyata bahwa seorang
yang terpelajar pun leluasa melakukan hal-hal yang
bersifat anarkis, premanis, dan rimbanis. Tentu saja
perilaku buruk ini tidak hanya merugikan orang yang
terlibat dalam perkelahian atau tawuran itu sendiri tetapi
juga merugikan orang lain yang tidak terlibat secara
langsung.

Lalu mengapa tawuran antar pelajar ini bisa terjadi? Faktor apa sajakah yang
menyebabkan tawuran antar pelajar ini? Apa saja dampak yang ditimbulkan dari tawuran yang
dilakukan? Dan bagaimanakah kita sebagai manusia-manusia perbaikan bangsa mencari jawaban
atas semua permasalahan-permasalahan yang terjadi pada tawuran pelajar ini?

Pengertian Tawuran
Dalam kamus bahasa Indonesia tawurandapat diartikan sebagai perkelahian yang meliputi
banyak orang. Sedangkan pelajar adalah seorang manusia yang belajar. Sehingga pengertian
tawuran pelajar adalah perkelahian yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mana
perkelahian tersebut dilakukan oleh orang yang sedang belajar
Secara psikologis, perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja digolongkan sebagai
salah satu bentuk kenakalan remaja (juvenile deliquency). Kenakalan remaja, dalam hal
perkelahian, dapat digolongkan ke dalam 2 jenis delikuensi yaitu situasional dan sistematik.
1. Delikuensi situasional, perkelahian terjadi karena adanya situasi yang mengharuskan
mereka untuk berkelahi. Keharusan itu biasanya muncul akibat adanya kebutuhan untuk
memecahkan masalah secara cepat.
2. Delikuensi sistematik, para remaja yang terlibat perkelahian itu berada di dalam suatu
organisasi tertentu atau geng. Di sini ada aturan, norma dan kebiasaan tertentu yang harus
diikuti angotanya, termasuk berkelahi. Sebagai anggota, tumbuh kebanggaan apabila dapat
melakukan apa yang diharapkan oleh kelompoknya. Seperti yang kita ketahui bahwa pada
masa remaja seorang remaja akan cenderung membuat sebuah genk yang mana dari
pembentukan genk inilah para remaja bebas melakukan apa saja tanpa adanya peraturan-
peraturan yang harus dipatuhi karena ia berada dilingkup kelompok teman sebayanya.

Faktor- faktor yang menyebabkan tawuran
pelajar
Berikut ini adalah faktor-faktor yang menyebabkan tawuran pelajar, diantaranya :
a. Faktor Internal
Faktor internal ini terjadi didalam diri individu itu sendiri yang berlangsung melalui
proses internalisasi diri yang keliru dalam menyelesaikan permasalahan disekitarnya dan
semua pengaruh yang datang dari luar. Remaja yang melakukan perkelahian biasanya
tidak mampu melakukan adaptasi dengan lingkungan yang kompleks. Maksudnya, ia tidak
dapat menyesuaikan diri dengan keanekaragaman pandangan, ekonomi, budaya dan
berbagai keberagaman lainnya yang semakin lama semakin bermacam-macam. Para
remaja yang mengalami hal ini akan lebih tergesa-gesa dalam memecahkan segala
masalahnya tanpa berpikir terlebih dahulu apakah akibat yang akan ditimbulkan. Selain itu,
ketidakstabilan emosi para remaja juga memiliki andil dalam terjadinya perkelahian.
Mereka biasanya mudah friustasi, tidak mudah mengendalikan diri, tidak peka terhadap
orang-orang disekitarnya. Seorang remaja biasanya membutuhkan pengakuan kehadiran
dirinya ditengah-tengah orang-orang sekelilingnya.

b. Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang datang dari luar individu, yaitu :

1. Faktor Keluarga
Keluarga adalah tempat dimana pendidikan pertama dari orangtua diterapkan. Jika
seorang anak terbiasa melihat kekerasan yang dilakukan didalam keluarganya maka setelah
ia tumbuh menjadi remaja maka ia akan terbiasa melakukan kekerasan karena inilah
kebiasaan yang datang dari keluarganya. Selain itu ketidak harmonisan keluarga juga bisa
menjadi penyebab kekerasan yang dilakukan oleh pelajar. Suasana keluarga yang
menimbulkan rasa tidak aman dan tidak menyenangkan serta hubungan keluarga yang
kurang baik dapat menimbulkan bahaya psikologis bagi setiap usia terutama pada masa
remaja.
3
Menurut Hirschi (dalam Mussen dkk, 1994). Berdasarkan hasil penelitian ditemukan
bahwa salah satu
penyebab kenakalan remaja dikarenakan tidak berfungsinya orang tua
sebagai figure teladan yang baik bagi anak (hawari, 1997).
Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa salah satu penyebab kenakalan
remaja dikarenakan tidak berfungsinya orang tua sebagai figure teladan yang baik bagi anak
(hawari, 1997). Jadi disinilah peran orangtua sebagai penunjuk jalan anaknya untuk selalu
berprilaku baik.

2. Faktor Sekolah
Sekolah tidak hanya untuk menjadikan para siswa pandai secara akademik namun juga
pandai secara akhlaknya . Sekolah merupakan wadah untuk para siswa mengembangkan
diri menjadi lebih baik. Namun sekolah juga bisa menjadi wadah untuk siswa menjadi tidak
baik, hal ini dikarenakan hilangnya kualitas pengajaran yang bermutu. Contohnya
disekolah tidak jarang ditemukan ada seorang guru yang tidak memiliki cukup kesabaran
dalam mendidik anak muruidnya akhirnya guru tersebut menunjukkan kemarahannya
melalui kekerasan. Hal ini bisa saja ditiru oleh para siswanya. Lalu disinilah peran guru
dituntut untuk menjadi seorang pendidik yang memiliki kepribadian yang baik.

3. Faktor Lingkungan
Lingkungan rumah dan lingkungan sekolah dapat mempengaruhi perilaku remaja.
Seorang remaja yang tinggal dilingkungan rumah yang tidak baik akan menjadikan remaja
tersebut ikut menjadi tidak baik. Kekerasan yang sering remaja lihat akan membentuk pola
kekerasan dipikiran para remaja. Hal ini membuat remaja bereaksi anarkis. Tidak adanya
kegiatan yang dilakukan untuk mengisi waktu senggang oleh para pelajar disekitar
rumahnya juga bisa mengakibatkan tawuran.

Hal yang menjadi pemicu tawuran
Tak jarang disebabkan oleh saling mengejek atau bahkan hanya saling menatap antar
sesama pelajar yang berbeda sekolahan. Bahkan saling rebutan wanita pun bisa menjadi
pemicu tawuran. Dan masih banyak lagi sebab-sebab lainnya.

Dampak karena tawuran pelajar
a. Kerugian fisik, pelajar yang ikut tawuran kemungkinan akan menjadi korban. Baik itu
cedera ringan, cedera berat, bahkan sampai kematian
b. Masyarakat sekitar juga dirugikan. Contohnya : rusaknya rumah warga apabila pelajar yang
tawuran itu melempari batu dan mengenai rumah warga
c. Terganggunya proses belajar mengajar
d. Menurunnya moralitas para pelajar
e. Hilangnya perasaan peka, toleransi, tenggang rasa, dan saling menghargai

Hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi tawuran
pelajar
a. Memberikan pendidikan moral untuk para pelajar
b. Menghadirkan seorang figur yang baik untuk dicontoh oleh para pelajar. Seperti hadirnya
seorang guru, orangtua, dan teman sebaya yang dapat mengarahkan para pelajar untuk
selalu bersikap baik
c. Memberikan perhatian yang lebih untuk para remaja yang sejatinya sedang mencari jati
diri
d. Memfasilitasi para pelajar untuk baik dilingkungan rumah atau dilingkungan sekolah
untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat diwaktu luangnya. Contohnya :
membentuk ikatan remaja masjid atau karangtaruna dan membuat acara-acara yang
bermanfaat, mewajibkan setiap siswa mengikuti organisasi atau ekstrakulikuler
disekolahnya

Kartini kartono pun menawarkan beberapa cara untuk mengurangi tawuran remaja,
diantaranya :
1. Banyak mawas diri, melihat kelemahan dan kekurangan sendiri dan melakukan koreksi
terhadap kekeliruan yang sifatnya tidak mendidik dan tidak menuntun
2. Memberikan kesempatan kepada remaja untuk beremansipasi dengan cara yang baik dan
sehat
3. . Memberikan bentuk kegiatan dan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan remaja
zaman sekarang serta kaitannya dengan perkembangan bakat dan potensi remaja

Kesimpulan dan Saran

1. Kesimpulan
Faktor yang menyebabkan tawuran remaja tidak lah hanya datang dari individu
siswa itu sendiri. Melainkan juga terjadi karena faktor-faktor lain yang datang dari luar
individu, diantaranya faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor lingkungan.
Para pelajar yang umumnya masih berusia remaja memiliki kencenderungan untuk
melakukan hal-hal diluar dugaan yang mana kemungkinan dapat merugikan dirinya sendiri
dan orang lain, maka inilah peran orangtua dituntut untuk dapat mengarahkan dan
mengingatkan anaknya jika sang anak tiba-tiba melakukan kesalahan. Keteladanan seorang
guru juga tidak dapat dilepaskan. Guru sebagai pendidik bisa dijadikan instruktur dalam
pendidikan kepribadian para siswa agar menjadi insan yang lebih baik.
Begitupun dalam mencari teman sepermainan. Sang anak haruslah diberikan pengarahan
dari orang dewasa agar mampu memilih teman yang baik. Masyarakat sekitar pun harus
bisa membantu para remaja dalam mengembangkan potensinya dengan cara mengakui
keberadaanya.

2. Saran
Dalam menyikapi masalah remaja terutama tentang tawuran pelajar diatas, penulis
memberikan beberapa saran. Diantaranya :
a. Keluarga sebagai awal tempat pendidikan para pelajar harus mampu membentuk pola pikir
yang baik untuk para pelajar
b. Masyarakat mesti menyadari akan perannya dalam menciptakan situasi yang kondusif
c. Lembaga pendidikan formal sudah semestinya memberikan pelayanan yang baik untuk
membantu para pelajar mengasah kemampuan dan mengembangkan segala potensi yang
ada didalam dirinya

PENYEBAB TERJADINYA TAWURAN ANTAR PELAJAR DAN
KORBANNYA
Tawuran antar pelajar selalu menjadi agenda perbincangan setiap tahunnya, masalah ini bukan
perkara baru, dan jangan dianggap perkara yang remeh. Padahal kalau kita kaji masalah tawuran
antar pelajar akan membawa dampak panjang, bukan hanya bagi pelajar yang terlibat, namun
juga untuk keluarga, sekolah serta lingkungan masyarakat di sekitarnya.
Tawuran antara pelajar saat ini sudah menjadi masalah yang sangat mengganggu ketertiban dan
keamanan lingkungan di sekitarnya. Saat ini, tawuran antar pelajar sekolah tidak hanya terjadi di
lingkungan atau sekitar sekolah saja, namun terjadi di jalan-jalan umum, tak jarang terjadi
pengrusakan fasilitas publik. Penyimpangan pelajar ini menyebabkan pihak sekolah, guru dan
masyarakat yang melihat pasti dibuat bingung dan takut bagaimana untuk mererainya, sampai
akhirnya melibatkan pihak kepolisian.
Hal ini tampak beralasan karena senjata yang biasa dibawa oleh pelajar-pelajar yang dipakai
pada saat tawuran bukan senjata biasa. Bukan lagi mengandalkan keterampilan tangan, tinju satu
lawan satu. Sekarang, tawuran sudah menggunakan alat bantu, seperti benda yang ada di
sekeliling (batu dan kayu) mereka juga memakai senjata tajam layaknyafilm action di layar lebar
dengan senjata yang bisa merenggut nyawa seseorang. Contohnya, samurai, besi bergerigi yang
sengaja dipasang di sabuk, pisau, besi.
Penyimpangan seperti tawuran antar pelajar, menjadi kerusuhan yang dapat menghilangkan
nyawa seseorang tidak bisa disebut sebagai kenakalan remaja, namun sudah menjadi tindakan
kriminal. Yang menjadi pertanyaan, adalah bagaimana bisa seorang pelajar tega melakukan
tindakan yang ekstrem sampai menyebabkan hilangnya nyawa pelajar lain hanya karena
masalah-masalah kecil?
Tawuran antar pelajar bisa terjadi antar pelajar sesama satu sekolah, ini biasanya dipicu
permasalahan kelompok, cenderung akibat pola berkelompok yang menyebabkan
pengkelompokkan berdasarkan hal-hal tertentu. Misalnya, kelompok anak-anak nakal, kelompok
kutu buku, kelompok anak-anak kantin, pengkelompokan tersebut lebih akrab dengan sebutan
Gank. Namun, ada juga tawuran antar pelajar yang terjadi antara dua kelompok beda sekolah.

Contoh kasus dalam tawuran antar pelajar dapat disebabkan oleh banyak faktor, beberapa
contoh di antaranya, yaitu:

Tawuran antar pelajar bisa terjadi karena ketersinggungan salah satu kawan, yang di
tanggapi dengan rasa setiakawan yang berlebihan.
Permasalahan yang sudah mengakar dalam artian ada sejarah yang menyebabkan pelajar-
pelajar dua sekolah salingbermusuhan.
Jiwa premanisme yang tumbuh dalam jiwa pelajar.

Untuk mengkaji lebih jauh permasalahan tawuran
antar pelajar, kita bisa mengkaji terlebih dahulu
mengenai penyebab tawuran antar pelajar dari tiga
poin diatas.

Tawuran Antar Pelajar Akibat Rasa Setia Kawan yang
Berlebihan
Rasa setia kawan atau lebih dikenal dengan sebutan
rasa solidartas adalah hal yang lumrah atau biasa kita
temukan dalam kehidupan, misalkan dalam persahabatan rasa setiakawan akan menjadi alasan
mengapa persahabatan bisa menjadi kuat. Ia bisa menjadi indah ketika ditempatkan dalam porsi
yang pas dan seimbang.


Namun, rasa setia kawan yang berlebihan akan menyebabkan hal yang buruk, salah satunya
adalah mengakibatkan tawuran antar pelajar. Mungkin dari kita pernah mendengar tawuran antar
pelajar yang dipicu karena ketersingguhan seorang siswa yang tersenggol oleh pelajar sekolah
lain saat berpapasan di terminal, atau masalah kompleks lainnya. Misalkan, permasalahan
pribadi, rebutan perempuan, dipalak dan lain sebagainya.
Pemahaman arti sebuah persahabatan memang perlu dipahami oleh masing-masing individu
pelajar itu sendiri. Tawuran antar pelajar yang diakibatkan karena rasa setiakawan harus segera
dihentikan, karena hal ini akan memicu kawan-kawan yang lain untuk mendapatkan hak atau
perlakuan yang sama pada waktu mengalami masalah.
Ini dapat menjadikan pelajar malas dalam menyelesaikan masalah dirinya sendiri, tanpa mau
menyelesaikannya sendiri dan cenderung tidak berani bertanggung jawab. Menjadi
ketergantungan dan akan menimbulkan dampak yang negatif bagi perkawanan itu sendiri.
Tawuran antar pelajar akibat sejarah permusuhan dengan sekolah lainKadang permasalahan
tawuran antar pelajar dipicu pula dengan adanya sejarah permusuhan yang sudah ada dari
generasi sebelumnya dengan sekolah lain, beredarnya cerita-cerita yang menyesatkan, bahkan
memunculkan mitos berlebihan membuat generasi berikutnya, terpicu melakukan hal yang
sama.
Contohnya, sebut saja sekolah A dengan sekolah B adalah musuh abadi, dimana masing-masing
sekolah akan melakukan hal yang antipati
terhadap sekolah lain. Biasanya, akan ada
pelajar yang menjadi perbincangan, semacam
tokoh bagi sekolahnya, karena kehebatannya
pada waktu berkelahi.
Dalam permasalahan tawuran antar pelajar yang
dipicu karena permasalahan ini, perlu adanya
pendekatan khusus, yang memasukkan program
kerja sama dengan sekolah tersebut. Peranan sekolah dan guru memegang peranan penting.
Ironisnya, sebuah pertandingan persahabatan. Misalnya, olahraga. Kadang memicu sebuah
permusuhan dan perkelahian. Hal ini akhirnya menuntut kecerdasan dan ketelitian pihak
penyelenggara dalam mengemas sebuah acara.
Tawuran Antar Pelajar Akibat Jiwa Premanisme
Premanisme bukan istilah yang asing lagi. Premanisme yang berasal dari kata preman adalah
sebutan orang yang cenderung memakai kekerasan fisik dalam menyelesaikan permasalahannya.
Kemenangan di ukur karena kekuatan fisiknya bukan intelektualitas. Premanisme bertolak
belakang dengan jiwa seorang pelajar, yang dituntut kecerdasan berpikir, kecerdasan mengelola
emosi, dll.
Jiwa premanisme dalam jiwa pelajar dapat dihilangkan karena dia tidak semerta merta muncul
begitu saja, ia disebabkan oleh sesuatu hal. Oleh karenanya, kita perlu mengetahui faktor
penyebab sikap premanisme dalam diri pelajar. Faktor diluar diri pelajar adalah faktor yang
kental dapat mempengaruhi ke dalam. Beberapa contohnya adalah:
Tayangan-tayangan di televisi, baik film ataupun liputan berita yang menceritakan atau sengaja
mengekspose tema-tema kekerasan dapat mempengaruhi psikis remaja.
Kekerasan yang terjadi di rumah. Kekerasan yang dimaksud bukan hanya individu pelajar saja
yang menjadi korban kekerasan namun kekerasan yang terjadi pada satu anggota keluarganya,
dapat mempengaruhi psikis individu. Hal ini yang akan menyebabkan trauma atau kekerasan
beruntun yang diakibatkan karena menganggap kekerasan adalah hal yang wajar.
Acara awal tahun, orientasi sekolah adalah acara di mana pelajar baru diwajibkan mengikuti
kegiatan ini. Kegiatan yang pada dasarnya adalah untuk memahami dan mengenali sekolah,
kegiatan serta untuk lebih kenal kawan-kawannya malah cenderung disalah gunakan oleh senior
untuk ajang balas dendam dari apa yang pernah ia terima pada waktu yang sama menjadi junior,
pola-pola yang dipakai cenderung dengan pola militer. Hal inilah yang menyebabkan kekerasan
dalam dunia pendidikan. Pola yang menjadi semacam suntikan yang terus diturunkan oleh setiap
generasi. Agar terhindar dari pola yang berlebihan, diperlukan adanya pengawasan dari pihak
sekolah dan turunnya langsung pengajar dalam kegiatan ini. Kedisiplinan berbeda dengan
kekerasan, hal ini seharusnya menjadi tantangan setiap panitia kegiatan dalam mengemas ide,
gagasan acara pada waktu perkenalan sekolah, menjadi sesuatu yang inofatif, kreatif sehingga
diharapkan lambat laun sikap premanisme akibat perpeloncoan akan menjadi cara kuno dan tidak
menarik lagi.
Dari ketiga faktor penyebab tersebut, kita bisa mendapatkan bayangan atau solusi yang terbaik
seperti apa dan bagaimana melakukan proses penyelesaiannya. Walaupun permasalahan tawuran
antar pelajar memang bukan hal sepele yang bisa langsung diselesaikan, namun diperlukan
adanya proses berkelanjutan, kesadaran dan kerja sama dengan semua pihak, bukan hanya
sekolah, orangtua, masyarakat dan penegak hukum, tapi juga kesadaran pemahaman pelajar
sebagai seorang individu, sebagai generasi muda yang penuh dengan tanggung jawab.
Ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi dari paparan di atas, yaitu: Pemahaman bagaimana
seorang pelajar disaat sedang mengalami pencarian identitas, cenderung sangat mudah labil. Dan
kelabilan inilah yang ahirnya tawuran antar pelajar terjadi.Ada beberapa cara yang efektif untuk
mencegah sebelum tawuran antar pelajar terjadi, misalkan dengan:
Membuat dan memfasilitasi ruang-ruang kegiatan yang positif.
Memberikan kebebasan berpendapat dan berekspresi dan tetap adanya kontrol dari pihak-pihak
yang berkaitan khususnya orang-orang terdekat, mencoba lebih terbuka dan mengenali serta
memberikan solusi yang positif ketika remaja sedang mengalami emosi.
Sikap optimis dan kepercayaan terhadap pelajar perlu ditumbuhkan kembali, sehingga suatu saat
kita tidak akan mendengar lagi berita atau kabar mengenai kejadian tawuran antar pelajar di
negeri kita ini, yang ada kita bangsa Indonesia dipenuhi kabar berita tentang pelajar-pelajar yang
produktif, kritis, mampu menjadi juara dalam berbagai bidang, baik berupa kompetisi
pengetahuan dan ilmu pengetahuan.
Sudah saatnya generasi muda membuktikan potensi dalam dirinya, dan sudah menjadi tugas
kewajiban orang tua, sekolah, masyarakat dan pihak-pihak yang terkait untuk mencegah
terjadinya bentuk-bentuk penyelewengan pelajar, terutama permasalahan yang membuat was-
was menjadi sebuah tindakan kriminal, tawuran antar pelajar


Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran

Dalam Hal Ini, kita harus turun kelapangan atau mempunyai pengalaman pribadi untuk
memecahkan permasalahan tersebut, untuk itu saya tidak hanya memperuntukan tulisan ini
sebagai ajang tulisan yang diikutsertakan dalam kontes. Dengan berbagai pendapat yang didapat
secara langsung oleh saya (meskipun hanya beberapa poin), dikolaborasikan dengan pendapat
saya sendiri, semoga tulisan ini bermanfaat untuk semuanya dan dapat membatu pihak-pihak
terkait untuk Mencegah dan Menanggulangi Tawuran itu sendiri.


Koleksi Foto Editing
Tawuran, mungkin Anda sering mendengar kata ini, begitulah pada masa ini disebut.
Sedangkan pada masa terdahulu tindakan itu bisa termasuk kategri sebagai peperangan. Perang
yang tidak mempunyai aturan-aturan tertentu, dan saya lebih suka itu disebut dengan perang,
sebab jika dalam kata tawuran rasanya begitu halus dan serasa diiyakan bahwa perang itu
disetuji. Namun, karena Indonesia adalah Bangsa yang bermartabat dengan penghalusan bahasa
maka munculah istilah Tawuran. Biasanya kita mendengar kata ini pikiran kita akan menjurus
pada anak sekolah, hal ini disebabkan begitu maraknya tawuran itu sendiri pada anak-anak
sekolah. Namun, tidak bisa dielakan lagi bahwa pada saat ini tawuran rupanya sudah
berkembang, layaknya seperti rumput yang ditebas kemudian tumbuh lagi, seperti jamur yang
semakin merambat.
Melihat fakta pada bangsa yang merdeka masih terjajah moral pada setiap warganya,
diatnaranya dengan moral yang aroganismenya masih tinggi, dan sifat kecemburuan antar
kelempok maupun individu yang sangat mengumbar akan terjadinya permusuhan atau tawuran.
Sebelum, saya membahas permasalahan sesuai judul postingan, saya ingin menganalisis lebih
jauh sebab terjadinya tawuran itu sendiri, yang mana sangat merugikan masyarakat maupun
dirinya sendiri dengan nilai kepositifan yang meunrut saya sangatlah kecil. Berikut penyebab
terjadinya tawuran:
Kecemburuan Sosial
Merasa Terejek atau Diejek
Memperebutkan Kekuasaan
Tidak Mau Kalah
Terpaksa Atas Situasi dan Kondisi (tidak dibenarkan)
Arogansi [1]
Merasa Individu atau Kelompok Tersebut Lebih Hebat Dari Kelomok Lain [2]
Faktor Alumni atau Senior (kekuasaan individu dalam kelompok) [3]
Hura-hura atau Iseng Mengisi Waktu Kekosongan Saat Nongkrong [4]

Cara Mencegah Tawuran
Hal ini tentunya perlu bebrapa komponen baik itu kelompok, organisasi masyarakat, tokoh ulama
atau masyarakat, maupun pihak-pihak lainnya, dan bila perlu Pemerintah membuat suatu Badan
Legislasi yang khusus mengatasi hal ini, agar terkontrol lebih baik untuk para penerus Bangsa
ini.
Beberapa pion yang bisa dilakukan dalam Mencegah Tawuran;
1. Perbanyak Silaturahmi
Bisa dikatakan poin ini adalah poin yang sangat berpengaruh pada setiap terjadinya tawuran,
dimana ketika suatu kelompok maupun individu itu sendiri tidak mengenal anatar satu sama lain
dan tidak ada ikatan yang erat maka akan terjadi sebuah kesalah pahaman antara kedua belah
pihak yang ujung-ujungnya akan terjadi tawuran besar denga melibatkan setiap individu dengan
modal memprovokasi.
Saling berkunjung mengajak kerja sama atau membahas sesuatu yang positif, misalmembuat
acara yang sifatnya melibatkan sekloh-sekolah, perbanyak ektra kulikutes yang mewajibkan
semua siswa mengikutinya (dalam konteks anak sekolah).
Dalam konteks masyarakat, memerlukan adanya sebuah kegiatan-kegiatan positif lainnya.
Seperti kegiatan Bakti Sosial, musyawarah dalam mengambil suatu tindakan, mengadakan
kegiatan rutinitas pengajian yang bersifat silaturahmi.
2. Adanya Delegasi-delegasi Yang Kuat
Hal ini perlu dilakukan agar ketika adanya sebuah permasalahan maka delegasi itu lah yang
memperkuat akan pengambilan kesimpulan masalah tersebut. Terlebih dalam membuat
jerapala pelaku tawuran itu sendiri dengan hukuman yang akan membuatnya jera dan enggan
mengulanginya lagi dikemudian hari.
3. Mediasi
Membuka komunikasi antara kedua belah pihak.
4. Memperluas Pengetahuan Dalam Konteks Agama
Konteks ini akan menjadikan pertimbangan bagi pelaku tawuran tersebut sebelum melakukan
tawuran itu sendiri. Dimana ketika suatu kelompok ataupun individu akan berpikir secara
rasional maupun religus dalam tindakannya yang mengakibatkan dia enggan untuk melakukan
hal itu, tersebab dilarangnya oleh agama karena mempunyai banyak kemudharatan ketimbang
manfaatnya sendiri.
5. Menumbuhkan Karakter Bangsa Yang Seutuhnya
Kurangnya Karakter Bangsa pada masyarakat maupun anak sekolah ini menjadikan pemicu
terjadinya tawuran (peperangan). Ketika dia tidak memahami bagaimana Karakter
BangsaIndonesia? Seperti apa Karakter Bangsa Indonesia?. Tentunya si pelaku tidak akan
mempertimbangkan keputusannya untuk tindakannya. Sebab dia tidak memahami Karakter
Bangsanya sendiri.
Jika hal ini diterapkan pada setiap anak sekolah maupun masyarakat, niscaya kedamaian dalam
menjaga nilai kemerdekaan di tengah keberagaman akan sangat kuat. Karena karakter Bangsa
Indonesia adalah Bangsa Yang Mencintai Perdamaian Tanpa Kekerasan
Cara Menanggulangi Tawuran
Dikarnakan tawuran itu sendiri sudah bisa dikatakan sebagai Budaya yang tadinya tidak ada,
dalam artian suatu perputaran masa yang membuat sikon menjadikan perubahan kepada hal
negatif. Maka hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja oleh Negara maupun kita sebagai warga
yang masih peduli terhadap Anti Kekerasan dan Mencintai Perdamaian.
Beberapa point cara menaggulangi tawuran itu sendiri, sebagai berikut:
1. Memberikan Efek Jera
Bisa dikatakan dalam poin ini akan sedikit keras dan memaksa maupun mempermalukan pelaku
tawuran tersebut. Tapi itu tidak ada salanya untuk memebrikan efek jera kepada si pelaku agar
dia merasa enggan untuk mengulanginya kembali perbuatannya dikemudian hari.
2. Memberikan Penyuluhan Secara Efektif
Penuluhan terkadang terabaikan oleh segelintir para petugas keamanan yang mengamankan dan
menagkap para pelaku tawuran. Mereka hanya memebrikan penyuluhan kepada pelaku dikala
pelaku menjadi tersangak dalam tawuran itu saj, namun selepas itu maka dia akan dibebaskan
dan hanya diberikan beberpa penyuluhan yang hanya beberapa menit saja. Tentunya hal ini
bukalah menjadi sebuah penyuluhan yang efektif untuk menyadarkan para pelaku. Semestinya
para aparat dalam memeberikan penyuluhan
tersebut mencoba menumbuhkan kesadaran
dalam jangka yang bisa dikatakan lama, agar
dia sadar akan apa yang dialakuakannya itu
tidak benar dan merugiakan banyak orang
disekelilingnya.
3. Memberikan Ruang Positif
Ruang ini lah yang menjadi penampun
mereka sebagai mantan pencinta tawuran. Manusia tidak akan benar selamanya, namun
manusia juga tidak akan salah selamanya. Dalam pasilitas ini yang akan mengembangkan
potensi pada diri mereka yang matanya telah tertutup gelap oleh gemerlap dunia tawuran.
Seperti; Adanya pasilitas atau lembagai yang menyediakan atau menampung para mantan
pecinta tawuran, dengan menggali potensi dalam dirinya dan meng inflementasikannya pada
masyarakat luas agar bisa bermanfaat untuk orang banyak.

Itu lah beberapa diantaranya yang kita bisa lakukan dalam Mencegah dan Menaggulangi
Tawuran. Namun ini hanyalah pendapat saya dan secara pengalaman maupun pengetahuan saya
yang tidak seberapa, yang seharusnya kita lakukan, kita kembali pada diri masing-masing untuk
tidak melakukan tindakan kriminal tersebut.




sumber :
http://daimabadi.blogdetik.com/2010/04/27/tawuran-pelajar/comment-page-1/
http://yakubus.wordpress.com/2009/02/25/makalah-sosiologi/
http://www.mail-archive.com/permias@listserv.syr.edu/msg03171.html
Hartono, Agung., Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta Jakarta.,2006
SUMBER: WWW.ANNEAHIRA.COM