Anda di halaman 1dari 26

Cerita Rakyat Pulau Dewata

Blog ini dibuat untuk mengingat kembali dan melestarikan cerita rakyat yang pernah terjadi,
khususnya kisah kisah yang berkaitan dengan umat hindu, baik didalam maupun diluar pulau
dewata. Agar tetap lestari dan tak termakan oleh jaman, nantinya kelak agar anak cucu kita
mengetahui sejarah dan kisah yang pernah terjadi.
Minggu, 17 Juli 2011
Awatara Dewa Wisnu

Dewa Wisnu, Dewi Laksmi dan Garuda
Awatara atau Avatar dalam agama Hindu adalah inkarnasi dari Tuhan Yang Maha Esa
maupun manifestasinya. Tuhan Yang Maha Esa ataupun manifestasinya turun ke
dunia, mengambil suatu bentuk dalam dunia material, guna menyelamatkan dunia dari
kehancuran dan kejahatan, menegakkan dharma dan menyelamatkan orang-orang
yang melaksanakan Dharma/Kebenaran.
Agama Hindu mengenal adanya Dasa Awatara yang sangat terkenal di antara Awatara-
Awatara lainnya. Dasa Awatara adalah sepuluh Awatara yang diyakini sebagai
penjelmaan material Dewa Wisnu dalam misi menyelamatkan dunia. Dari sepuluh
Awatara, sembilan diantaranya diyakini sudah pernah menyelamatkan dunia,
sedangkan satu di antaranya, Awatara terakhir (Kalki Awatara), masih menunggu waktu
yang tepat (konon pada akhir Kali Yuga) untuk turun ke dunia. Kisah-kisah Awatara
tersebut terangkum dalam sebuah kitab yang disebut Purana.
1. Matsya Avatar

Matsya Awatara
Dalam ajaran agama Hindu, Matsya adalahawatara Wisnu yang berwujud ikan
raksasa. Dalam bahasa Sanskerta, kata matsya sendiri berarti ikan. Menurut mitologi
Hindu, Matsya muncul pada masa Satyayuga, pada masa pemerintahan Raja
Satyabrata (lebih dikenal sebagai Maharaja Waiwaswata Manu), putra Wiwaswan,
dewa matahari. Matsya turun ke dunia untuk memberitahu Maharaja Manu mengenai
bencana air bah yang akan melanda bumi. Ia memerintahkan Maharaja Manu untuk
segera membuat bahtera besar.
Kisah dengan tema serupa juga dapat disimak dalam kisah Nabi Nuh, yang konon
membuat bahtera besar untuk melindungi umatnya dari bencana air bah yang melanda
bumi. Kisah dengan tema yang sama juga ditemukan di beberapa negara, seperti kisah
dari penduduk asli Amerika dan dari Yunani.
Dalam diri manusia "ikan" adalah lambang sebuah benih. Atau sel sperma dan sel
telur. Sel seperma tidak akan mengalami pembuahan jika tidak ada sel telur yang
bagus. Untuk menampung pertemuan tersebut dalam organ tubuh wanita disebut
dengan rahim ( perahu dari raja Manu). Jaman Satya Yuga jika dalam diri manusia
adalah ketika masih dalam kandungan hingga berumur 3 tahun.
Pada kehidupan di bumi = ikan merupakan binatang air. Pada awal terbentuknya
dunia yang ada adalah kehidupan satwa air. Jaman Ordovisium (500 - 440 juta tahun
lalu) Zaman Ordovisium dicirikan oleh munculnya ikan tanpa rahang (hewan bertulang
belakang paling tua) dan beberapa hewan bertulang belakang yang muncul pertama
kali seperti Tetrakoral, Graptolit, Ekinoid (Landak Laut), Asteroid (Bintang Laut), Krinoid
(Lili Laut) dan Bryozona. Koral dan Alaga berkembang membentuk karang, dimana
trilobit dan Brakiopoda mencari mangsa. Graptolit dan Trilobit melimpah, sedangkan
Ekinodermata dan Brakiopoda mulai menyebar. Meluapnya Samudra dari Zaman Es
merupakan bagian peristiwa dari zaman ini. Gondwana dan benua-benua lainnya mulai
menutup celah samudera yang berada di antaranya.
Kisah tentang Matsya dapat disimak dalam Matsyapurana dan juga Purana
lainnya. Diceritakan bahwa pada saat Raja Satyabrata (yang lebih dikenal sebagai
Waiwaswata Manu) mencuci tangan di sungai, seekor ikan kecil menghampiri
tangannya dan sang raja tahu bahwa ikan itu meminta perlindungan. Akhirnya ia
memelihara ikan tersebut. Ia menyiapkan kolam kecil sebagai tempat tinggal ikan
tersebut. Namun lambat laun ikan tersebut bertambah besar, hampir memenuhi seluruh
kolam. Akhirnya ia memindahkan ikan tersebut ke kolam yang lebih besar. Kejadian
tersebut terus terjadi berulang-ulang sampai akhirnya beliau sadar bahwa ikan yang ia
pelihara bukanlah ikan biasa.
Akhirnya melalui upacara, diketahuilah bahwa ikan tersebut merupakan
penjelmaan Dewa Wisnu. Dalam versi lain, ikan itu dibawa ke samudera. Ikan itu sendiri
menyampaikan kabar bahwa di bumi akan terjadi bencana air bah yang sangat hebat
selama tujuh hari. Ikan itu berpesan agar sang raja membuat sebuah bahtera besar
untuk menyelamatkan diri dari banjir besar, dan mengisi bahtera tersebut dengan
berbagai makhluk hidup yang setiap jenisnya berjumlah sepasang (betina dan jantan),
serta membawa obat-obatan, makanan, bibit segala macam tumbuhan, dan mengajak
Saptaresi (Tujuh Maha Rsi). Ikan tersebut juga menambahkan bahwa setelah banjir
besar tiba, diharapkan agar bahtera tersebut diikat ke tanduk sang ikan dengan naga
Basuki sebagai talinya. Setelah menyampaikan seluruh pesan, ikan ajaib tersebut
menghilang.
Menurut Matsyapurana, seratus tahun kemudian, kekeringan yang hebat melanda
bumi. Banyak makhluk yang mati kelaparan. Kemudian, langit dipenuhi oleh tujuh
macam awan yang mencurahkan hujan lebat tak terhentikan. Dengan cepat, air yang
dicurahkan menutupi daratan di bumi. Oleh karena Waiwaswata Manu sudah membuat
bahtera sesuai dengan petunjuk yang disampaikan awatara Wisnu, maka ia beserta
pengikutnya selamat dari bencana.

2. Kurma Avatar

Kurma Awatara
Kurma adalah awatara (penjelmaan) kedua dewa Wisnu yang berwujud kura-kura
raksasa. Awatara ini muncul pada masa Satyayuga. Menurut kitab Adiparwa, kura-kura
tersebut bernama Akupa.
Menurut berbagai kitab Purana, Wisnu mengambil wujud seekor kura-kura (kurma)
dan mengapung di lautan susu (Kserasagara atau Kserarnawa). Di dasar laut tersebut
konon terdapat harta karun dan tirta amerta yang dapat membuat peminumnya hidup
abadi. Para Dewa dan Asura berlomba-lomba mendapatkannya. Untuk mangaduk laut
tersebut, mereka membutuhkan alat dan sebuah gunung yang bernama Gunung
Mandara Giri, yang digunakan untuk mengaduknya. Para Dewa dan para Asura
mengikat gunung tersebut dengan Naga Wasuki (Naga Basuki) dan memutar gunung
tersebut. Kurma menopang dasar gunung tersebut dengan tempurungnya. Dewa Indra
memegang puncak gunung tersebut agar tidak terangkat ke atas. Setelah sekian lama
tirta amerta berhasil didapat dan Dewa Wisnu mengambil alih.
Kisah tentang Kurma Awatara muncul dari kisah pemutaran Mandaragiri yang
terdapat dalam Kitab Adiparwa. Dikisahkan pada zaman Satyayuga, para Dewa dan
asura (rakshasa) bersidang di puncak gunung Mahameru untuk mencari cara
mendapatkan tirta amerta, yaitu air suci yang dapat membuat hidup menjadi abadi.
Sang Hyang Nryana (Wisnu) bersabda, "Kalau kalian menghendaki tirta amerta
tersebut, aduklah lautan Ksera (Kserasagara), sebab dalam lautan tersebut terdapat
tirta amerta. Maka dari itu, kerjakanlah."
Setelah mendengar perintah Sang Hyang Nryana, berangkatlah para Dewa dan
asura pergi ke laut Ksera. Terdapat sebuah gunung bernama Gunung Mandara
(Mandaragiri) di Sangka Dwipa (Pulau Sangka), tingginya sebelas ribu yojana. Gunung
tersebut dicabut oleh Sang Anantabhoga beserta segala isinya. Setelah mendapat izin
dari Dewa Samudera, gunung Mandara dijatuhkan di laut Ksira sebagai tongkat
pengaduk lautan tersebut. Seekor kura-kura (kurma) raksasa bernama Akupa yang
konon katanya sebagai penjelmaan Wisnu, menjadi dasar pangkal gunung tersebut. Ia
disuruh menahan gunung Mandara supaya tidak tenggelam.

Pemutaran Gunung Mandara Giri
Naga Basuki dipergunakan sebagai tali, membelit lereng gunung tersebut. Dewa
Indra menduduki puncaknya, suapaya gunung tersebut tidak melambung ke atas.
Setelah siap, para Dewa, rakshasa dan asura mulai memutar gunung Mandara dengan
menggunakan Naga Basuki sebagai tali. Para Dewa memegang ekornya sedangkan
para asura dan rakshasa memegang kepalanya. Mereka berjuang dengan hebatnya
demi mendapatkan tirta amerta sehingga laut bergemuruh. Gunung Mandara menyala,
Naga Basuki menyemburkan bisa membuat pihak asura dan rakshasa kepanasan. Lalu
Dewa Indra memanggil awan mendung yang kemudian mengguyur para asura dan
rakshasa. Lemak segala binatang di gunung Mandara beserta minyak kayu hutannya
membuat lautan Ksira mengental, pemutaran Gunung Mandara pun makin diperhebat.
Saat lautan diaduk, racun mematikan yang disebut Halahala menyebar. Racun
tersebut dapat membunuh segala makhluk hidup. Dewa Siwa kemudian meminum
racun tersebut maka lehernya menjadi biru dan disebut Nilakantha (Sanskerta: Nila:
biru, Kantha: tenggorokan). Setelah itu, berbagai dewa-dewi, binatang, dan harta karun
muncul, yaitu:
1. Sura, Dewi yang menciptakan minuman anggur
2. Apsara, Kaum bidadari kahyangan
3. Kostuba, Permata yang paling berharga di dunia
4. Uccaihsrawa, Kuda para Dewa
5. Kalpawreksa, Pohon yang dapat mengabulkan keinginan
6. Kamadhenu, Sapi pertama dan ibu dari segala sapi
7. Airawata, Kendaraan Dewa Indra
8. Laksmi, Dewi keberuntungan dan kemakmuran

Pembagian Tirta Amertha
Akhirnya keluarlah Dhanwantari membawa kendi berisi tirta amerta. Karena para
Dewa sudah banyak mendapat bagian sementara para asura dan rakshasa tidak
mendapat bagian sedikit pun, maka para asura dan rakshasa ingin agar tirta amerta
menjadi milik mereka. Akhirnya tirta amerta berada di pihak para asura dan rakshasa
dan Gunung Mandara dikembalikan ke tempat asalnya, Sangka Dwipa.
Melihat tirta amerta berada di tangan para asura dan rakshasa, Dewa Wisnu
memikirkan siasat bagaimana merebutnya kembali. Akhirnya Dewa Wisnu mengubah
wujudnya menjadi seorang wanita yang sangat cantik, bernama Mohini. Wanita cantik
tersebut menghampiri para asura dan rakshasa. Mereka sangat senang dan terpikat
dengan kecantikan wanita jelmaan Wisnu. Karena tidak sadar terhadap tipu daya,
mereka menyerahkan tirta amerta kepada Mohini.

Dewi Mohini
Setelah mendapatkan tirta, wanita tersebut lari dan mengubah wujudnya kembali
menjadi Dewa Wisnu. Melihat hal itu, para asura dan rakshasa menjadi marah.
Kemudian terjadilah perang antara para Dewa dengan asura dan rakshasa.
Pertempuran terjadi sangat lama dan kedua pihak sama-sama sakti. Agar pertempuran
dapat segera diakhiri, Dewa Wisnu memunculkan senjata cakra yang mampu
menyambar-nyambar para asura dan rakshasa. Kemudian mereka lari tunggang
langgang karena menderita kekalahan. Akhirnya tirta amerta berada di pihak para
Dewa.

Raksasa Memakan Bulan
Para Dewa kemudian terbang ke Wisnuloka, kediaman Dewa Wisnu, dan di sana
mereka meminum tirta amerta sehingga hidup abadi. Seorang rakshasa yang
merupakan anak Sang Wipracitti dengan Sang Singhika mengetahui hal itu, kemudian
ia mengubah wujudnya menjadi Dewa dan turut serta meminum tirta amerta. Hal
tersebut diketahui oleh Dewa Aditya dan Chandra, yang kemudian melaporkannya
kepada Dewa Wisnu. Dewa Wisnu kemudian mengeluarkan senjata chakranya dan
memenggal leher sang rakshasa, tepat ketika tirta amerta sudah mencapai
tenggorokannya. Badan sang rakshasa mati, namun kepalanya masih hidup karena tirta
amerta sudah menyentuh tenggorokannya. Sang rakshasa marah kepada Dewa Aditya
dan Chandra, dan bersumpah akan memakan mereka pada pertengahan bulan.
Sehingga terjadilah gerhana bulan dan gerhana matahari.

3. Waraha Avatar

Waraha Awatara
Waraha adalah awatara (penjelmaan) ketiga dari Dewa Wisnu yang berwujud
babi hutan. Awatara ini muncul pada masa Satyayuga (zaman kebenaran). Kisah
mengenai Waraha Awatara selengkapnya terdapat di dalam kitab Warahapurana dan
Purana-Purana lainnya.
Pada zaman Satyayuga (zaman kebenaran), ada seorang raksasa bernama
Hiranyaksa, adik raksasa Hiranyakasipu. Keduanya merupakan kaum Detya (raksasa).
Hiranyaksa hendak menenggelamkan Pertiwi (planet bumi) ke dalam "lautan kosmik,"
suatu tempat antah berantah di ruang angkasa.
Melihat dunia akan mengalami kiamat, Wisnu menjelma menjadi babi hutan yang
memiliki dua taring panjang mencuat dengan tujuan menopang bumi yang dijatuhkan
oleh Hiranyaksa. Usaha penyelamatan yang dilakukan Waraha tidak berlangsung
lancar karena dihadang oleh Hiranyaksa.
Maka terjadilah pertempuran sengit antara raksasa Hiranyaksa melawan Dewa
Wisnu. Konon pertarungan ini terjadi ribuan tahun yang lalu dan memakan waktu ribuan
tahun pula. Pada akhirnya, Dewa Wisnu yang menang.

Pertarungan Waraha dan Hiranyaksa
Setelah Beliau memenangkan pertarungan, Beliau mengangkat bumi yang bulat
seperti bola dengan dua taringnya yang panjang mencuat, dari lautan kosmik, dan
meletakkan kembali bumi pada orbitnya. Setelah itu, Dewa Wisnu menikahi Dewi
Pertiwi dalam wujud awatara tersebut.
Waraha Awatara dilukiskan sebagai babi hutan yang membawa planet bumi
dengan kedua taringnya dan meletakkannya di atas hidung, di depan mata. Kadangkala
dilukiskan sebagai manusia berkepala babi hutan, dengan dua taring menyangga bola
dunia, bertangan empat, masing-masing membawa: cakra, terompet dari kulit kerang
(sangkakala), teratai, dan gada.

4. Narasinga Avatar
Narasinga (disebut juga Narasingh,
Nrasiha) adalah awatara (inkarnasi/penjelmaan) Wisnu yang turun ke dunia,
berwujud manusia dengan kepala singa, berkuku tajam seperti pedang, dan memiliki
banyak tangan yang memegang senjata. Narasinga merupakan simbol dewa pelindung
yang melindungi setiap pemuja Wisnu jika terancam bahaya.
Menurut kitab Purana, pada menjelang akhir zaman Satyayuga (zaman
kebenaran), seorang raja asura Hiranyakasipu membenci segala sesuatu yang
berhubungan dengan Wisnu, dan dia tidak senang apabila di kerajaannya ada orang
yang memuja Wisnu. Sebab bertahun-tahun yang lalu, adiknya yang bernama
Hiranyaksa dibunuh oleh Waraha, awatara Wisnu.
Agar menjadi sakti, ia melakukan tapa yang sangat berat, dan hanya memusatkan
pikirannya pada Dewa Brahma. Setelah Brahma berkenan untuk muncul dan
menanyakan permohonannya, Hiranyakasipu meminta agar ia diberi kehidupan abadi,
tak akan bisa mati dan tak akan bisa dibunuh. Namun Dewa Brahma menolak, dan
menyuruhnya untuk meminta permohonan lain. Akhirnya Hiranyakashipu meminta,
bahwa ia tidak akan bisa dibunuh oleh manusia, hewan ataupun dewa, tidak bisa
dibunuh pada saat pagi, siang ataupun malam, tidak bisa dibunuh di darat, air, api,
ataupun udara, tidak bisa dibunuh di dalam ataupun di luar rumah, dan tidak bisa
dibunuh oleh segala macam senjata. Mendengar permohonan tersebut, Dewa Brahma
mengabulkannya.
Sementara ia meninggalkan rumahnya untuk memohon berkah, para dewa yang
dipimpin oleh Dewa Indra, menyerbu rumahnya. Narada datang untuk menyelamatkan
istri Hiranyakasipu yang tak berdosa, bernama Lilawati. Saat Lilawati meninggalkan
rumah, anaknya lahir dan diberi nama Prahlada. Anak itu dididik oleh Narada untuk
menjadi anak yang budiman, menyuruhnya menjadi pemuja Wisnu, dan menjauhkan
diri dari sifat-sifat keraksasaan ayahnya.
Mengetahui para dewa melindungi istrinya, Hiranyakasipu menjadi sangat marah.
Ia semakin membenci Dewa Wisnu, dan anaknya sendiri, Prahlada yang kini menjadi
pemuja Wisnu. Namun, setiap kali ia membunuh putranya, ia selalu tak pernah berhasil
karena dihalangi oleh kekuatan gaib yang merupakan perlindungan dari Dewa Wisnu.
Ia kesal karena selalu gagal oleh kekuatan Dewa Wisnu, namun ia tidak mampu
menyaksikan Dewa Wisnu yang melindungi Prahlada secara langsung. Ia menantang
Prahlada untuk menunjukkan Dewa Wisnu. Prahlada menjawab, "Ia ada dimana-mana,
Ia ada di sini, dan Ia akan muncul".

Narasinga Membunuh Hiranyakasipu
Mendengar jawaban itu, ayahnya sangat marah, mengamuk dan menghancurkan
pilar rumahnya. Tiba-tiba terdengar suara yang menggemparkan. Pada saat itulah
Dewa Wisnu sebagai Narasinga muncul dari pilar yang dihancurkan Hiranyakasipu.
Narasinga datang untuk menyelamatkan Prahlada dari amukan ayahnya, sekaligus
membunuh Hiranyakasipu. Namun, atas anugerah dari Brahma, Hiranyakasipu tidak
bisa mati apabila tidak dibunuh pada waktu, tempat dan kondisi yang tepat. Agar
berkah dari Dewa Brahma tidak berlaku, ia memilih wujud sebagai manusia berkepala
singa untuk membunuh Hiranyakasipu. Ia juga memilih waktu dan tempat yang tepat.
Akhirnya, berkah dari Dewa Brahma tidak berlaku. Narasinga berhasil merobek-robek
perut Hiranyakasipu. Akhirnya Hiranyakasipu berhasil dibunuh oleh Narasinga, karena
ia dibunuh bukan oleh manusia, binatang, atau dewa. Ia dibunuh bukan pada saat pagi,
siang, atau malam, tapi senja hari. Ia dibunuh bukan di luar atau di dalam rumah. Ia
dibunuh bukan di darat, air, api, atau udara, tapi di pangkuan Narasinga. Ia dibunuh
bukan dengan senjata, melainkan dengan kuku.
Narasinga memberi contoh bahwa Tuhan itu ada dimana-mana. Rasa bakti yang
tulus dari Prahlada menunjukkan bahwa sikap seseorang bukan ditentukan dari
golongannya, ataupun bukan karena berasal dari keturunan yang jelek, melainkan dari
sifatnya. Meskipun Prahlada seorang keturunan Asura, namun ia juga seorang
penyembah Wisnu yang taat.
Membunuh Hiranyakasipu dengan mengambil wujud sebagai Narasinga
merupakan salah satu cara menghukum yang paling sadis dari Dewa Wisnu. Di India,
Narasinga sangat terkenal. Dalam festival tradisional India, kisah ini berhubungan
dengan perayaan Holi, salah satu perayaan terpenting di India. Dari sinilah Narasimha
menjadi terkenal. Di India Selatan, Narasinga sering dituangkan ke dalam bentuk seni
pahatan dan lukisan. Narasinga merupakan awatara yang paling terkenal setelah Rama
dan Kresna.

5. Wamana Avatar

Wamana Awatara
Wamana adalah awatara Wisnu yang kelima, turun pada masa Tretayuga,
sebagai putra Aditi dan Kasyapa, seorang Brahmana. Ia (Wisnu) turun ke dunia guna
menegakkan kebenaran dan memberi pelajaran kepada raja Bali (Mahabali), seorang
Asura, cucu dari Prahlada. Raja Bali telah merebut surga dari kekuasaan Dewa Indra,
karena itu Wisnu turun tangan dan menjelma ke dunia, memberi hukuman pada Raja
Bali. Wamana awatara dilukiskan sebagai Brahmana dengan raga anak kecil yang
membawa payung. Wamana Awatara merupakan penjelmaan pertama Dewa Wisnu
yang mengambil bentuk manusia lengkap, meskipun berwujud Brahmana mungil.
Wamana kadang-kadang dikenal juga dengan sebutan "Upendra."
Kisah Wamana Awatara dimuat dalam kitab Bhagawatapurana. Menurut cerita
dalam kitab, Wamana sebagai Brahmana cilik datang ke istana Raja Bali karena pada
saat itu Raja Bali mengundang seluruh Brahmana untuk diberikan hadiah. Ia sudah
dinasehati oleh Sukracarya agar tidak memberikan hadiah apapun kepada Brahmana
yang aneh dan lain daripada biasanya. Pada waktu pemberian hadiah, seorang
Brahmana kecil muncul di antara Brahmana-Brahmana yang sudah tua-tua. Brahmana
tersebut juga akan diberi hadiah oleh Bali.

Wamana Menginjak Kepala Mahabali
Brahmana kecil itu meminta tanah seluas tiga jengkal yang diukur dengan langkah
kakinya. Raja Bali begitu takabur dan melupakan nasehat dari Sukracarya. Lalu Raja
Bali menyuruh Brahmana kecil itu untuk melangkah.
Pada waktu itu juga, Brahmana tersebut membesar dan terus membesar. Dengan
ukurannya yang sangat besar, ia mampu melangkah di surga dan bumi sekaligus (Bhur,
Bwah, Swah). Pada langkah yang pertama, ia menginjak surga. Pada langkah yang
kedua, ia menginjak bumi. Pada langkah yang ketiga, karena tidak ada lahan untuknya
berpijak, maka Bali menyerahkan kepalanya. Sejak itu, tamatlah kekuasaan Bali.
Karena terkesan dengan kedermawanan Bali, Wamana memberinya gelar Mahabali. Ia
juga berjanji bahwa kelak Bali akan menjadi Indra pada Manwantara berikutnya.

6. Parasurama Avatar

Parasurama
Parasurama adalah nama seorang tokoh Ciranjiwin dalam ajaran agama Hindu.
Secara harfiah, nama Parashurama bermakna "Rama yang bersenjata kapak". Nama
lainnya adalah Bhargawa yang bermakna "keturunan Maharesi Bregu". Ia sendiri
dikenal sebagai awatara Wisnu yang keenam dan hidup pada zaman Tretayuga. Pada
zaman ini banyak kaum kesatria yang berperang satu sama lain sehingga
menyebabkan kekacauan di dunia. Maka, Wisnu sebagai dewa pemelihara alam
semesta lahir ke dunia sebagai seorang brahmana berwujud angker, yaitu Rama putra
Jamadagni, untuk menumpas para kesatria tersebut.
Parasurama merupakan putra bungsu Jamadagni, seorang resi keturunan Bregu.
Itulah sebabnya ia pun terkenal dengan julukan Bhargawa. Sewaktu lahir Jamadagni
memberi nama putranya itu Rama. Setelah dewasa, Rama pun terkenal dengan julukan
Parasurama karena selalu membawa kapak sebagai senjatanya. Selain itu,
Parasurama juga memiliki senjata lain berupa busur panah yang besar luar biasa.
Sewaktu muda Parasuama pernah membunuh ibunya sendiri, yang bernama
Renuka. Hal itu disebabkan karena kesalahan Renuka dalam melayani kebutuhan
Jamadagni sehingga menyebabkan suaminya itu marah. Jamadagni kemudian
memerintahkan putra-putranya supaya membunuh ibu mereka tersebut. Ia menjanjikan
akan mengabulkan apa pun permintaan mereka. Meskipun demikian, sebagai seorang
anak, putra-putra Jamadagni, kecuali Parasurama, tidak ada yang bersedia
melakukannya. Jamadagni semakin marah dan mengutuk mereka menjadi batu.
Parasurama sebagai putra termuda dan paling cerdas ternyata bersedia
membunuh ibunya sendiri. Setelah kematian Renuka, ia pun mengajukan permintaan
sesuai janji Jamadagni. Permintaan tersebut antara lain, Jamadagni harus
menghidupkan dan menerima Renuka kembali, serta mengembalikan keempat
kakaknya ke wujud manusia. Jamadagni pun merasa bangga dan memenuhi semua
permintaan Parasurama.
Pada zaman kehidupan Parasurama, ketenteraman dunia dikacaukan oleh ulah
kaum kesatria yang gemar berperang satu sama lain. Parasurama pun bangkit
menumpas mereka, yang seharusnya berperan sebagai pelindung kaum lemah. Tidak
terhitung banyaknya kesatria, baik itu raja ataupun pangeran, yang tewas terkena
kapak dan panah milik Rama putra Jamadagni.
Konon Parasurama bertekad untuk menumpas habis seluruh kesatria dari muka
bumi. Ia bahkan dikisahkan telah mengelilingi dunia sampai tiga kali. Setelah merasa
cukup, Parasurama pun mengadakan upacara pengorbanan suci di suatu tempat
bernama Samantapancaka. Kelak pada zaman berikutnya, tempat tersebut terkenal
dengan nama Kurukshetra dan dianggap sebagai tanah suci yang menjadi ajang
perang saudara besar-besaran antara keluarga Pandawa dan Korawa.

Parasurama
Penyebab khusus mengapa Parasurama bertekad menumpas habis kaum
kesatria adalah karena perbuatan raja Kerajaan Hehaya bernama Kartawirya Arjuna
yang telah merampas sapi milik Jamadagni. Parasurama marah dan membunuh raja
tersebut. Namun pada kesempatan berikutnya, anak-anak Kartawirya Arjuna membalas
dendam dengan cara membunuh Jamadagni. Kematian Jamadagni inilah yang
menambah besar rasa benci Parasurama kepada seluruh golongan kesatria.
Meskipun jumlah kesatria yang mati dibunuh Parasurama tidak terhitung
banyaknya, namun tetap saja masih ada yang tersisa hidup. Antara lain dari Wangsa
Surya yang berkuasa di Ayodhya, Kerajaan Kosala. Salah seorang keturunan wangsa
tersebut adalah Sri Rama putra Dasarata. Pada suatu hari ia berhasil memenangkan
sayembara di Kerajaan Mithila untuk memperebutkan Sita putri negeri tersebut.
Sayembara yang digelar ialah yaitu membentangkan busur pusaka pemberian Siwa.
Dari sekian banyak pelamar hanya Sri Rama yang mampu mengangkat, bahkan
mematahkan busur tersebut.
Suara gemuruh akibat patahnya busur Siwa
sampai terdengar oleh Parasurama di pertapaannya. Ia pun mendatangi istana Mithila
untuk menantang Rama yang dianggapnya telah berbuat lancang. Sri Rama dengan
lembut hati berhasil meredakan kemarahan Parasurama yang kemudian kembali
pulang ke pertapaannya. Ini merupakan peristiwa bertemunya sesama awatara Wisnu,
karena saat itu Wisnu telah menjelma kembali Ciranjiwin, ia hidup abadi sebagai Rama
sedangkan Parasurama sendiri masih hidup. Peran Parasurama sebagai awatara
Wisnu saat itu telah berakhir.
Pada zaman Dwaparayuga Wisnu terlahir kembali sebagai Kresna putra
Basudewa. Pada zaman tersebut Parasurama menjadi guru sepupu Kresna yang
bernama Karna yang menyamar sebagai anak seorang brahmana. Setelah
mengajarkan berbagai ilmu kesaktian, barulah Parasurama mengetahui kalau Karna
berasal dari kaum kesatria. Ia pun mengutuk Karna akan lupa terhadap semua ilmu
kesaktian yang pernah dipelajarinya pada saat pertempuran terakhirnya. Kutukan
tersebut menjadi kenyataan ketika Karna berhadapan dengan adiknya sendiri, yang
bernama Arjuna, dalam perang di Kurukshetra.
Parasurama diyakini masih hidup pada zaman sekarang. Konon saat ini ia sedang
bertapa mengasingkan diri di puncak gunung, atau di dalam hutan belantara.

7. Rama Avatar

Rama Awatara
Rama atau Ramacandra adalah seorang raja legendaris yang terkenal dari India
yang konon hidup pada zaman Tretayuga, keturunan Dinasti Surya atau Suryawangsa.
Ia berasal dari Kerajaan Kosala yang beribukota Ayodhya. Menurut pandangan Hindu,
ia merupakan awatara Dewa Wisnu yang ketujuh yang turun ke bumi pada zaman
Tretayuga. Sosok dan kisah kepahlawanannya yang terkenal dituturkan dalam sebuah
sastra Hindu Kuno yang disebut Ramayana, tersebar dari Asia Selatan sampai Asia
Tenggara. Terlahir sebagai putera sulung dari pasangan Raja Dasarata dengan
Kosalya, ia dipandang sebagai Maryada Purushottama, yang artinya "Manusia
Sempurna". Setelah dewasa, Rama memenangkan sayembara dan beristerikan Dewi
Sita, inkarnasi dari Dewi Laksmi. Rama memiliki anak kembar, yaitu Kusa dan Lawa.
Dalam wiracarita Ramayana diceritakan bahwa sebelum Rama lahir, seorang raja
raksasa bernama Rahwana telah meneror Triloka (tiga dunia) sehingga membuat para
dewa merasa cemas. Atas hal tersebut, Dewi bumi menghadap Brahma agar beliau
bersedia menyelamatkan alam beserta isinya. Para dewa juga mengeluh kepada
Brahma, yang telah memberikan anugerah kepada Rahwana sehingga raksasa
tersebut menjadi takabur. Setelah para dewa bersidang, mereka memohon agar Wisnu
bersedia menjelma kembali ke dunia untuk menegakkan dharma serta menyelamatkan
orang-orang saleh. Dewa Wisnu menyatakan bahwa ia bersedia melakukannya. Ia
berjanji akan turun ke dunia sebagai Rama, putera raja Dasarata dari Ayodhya. Dalam
penjelmaannya ke dunia, Wisnu ditemani oleh Naga Sesa yang akan mengambil peran
sebagai Laksmana, serta Laksmi yang akan mengambil peran sebagai Sita.

8. Kresna Avatar

Krisna Awatara
Kresna adalah salah satu dewa yang dipuja oleh umat Hindu, berwujud pria
berkulit gelap atau biru tua, memakai dhoti kuning dan mahkota yang dihiasi bulu
merak. Dalam seni lukis dan arca, umumnya ia digambarkan sedang bermain seruling
sambil berdiri dengan kaki yang ditekuk ke samping. Legenda Hindu dalam kitab
Purana dan Mahabharata menyatakan bahwa ia adalah putra kedelapan Basudewa dan
Dewaki dari kerajaan Surasena, kerajaan mitologis di India Utara. Secara umum, ia
dipuja sebagai awatara (inkarnasi) Dewa Wisnu kedelapan di antara sepuluh awatara
Wisnu. Dalam beberapa sekte Hindu, misalnya Gaudiya Waisnawa, ia dianggap
sebagai manifestasi dari kebenaran mutlak, atau perwujudan Tuhan itu sendiri, dan
dalam tafsiran kitab-kitab yang mengatasnamakan Wisnu atau Kresna, misalnya
Bhagawatapurana, ia dimuliakan sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Dalam
Bhagawatapurana, ia digambarkan sebagai sosok penggembala muda yang mahir
bermain seruling, sedangkan dalam wiracarita Mahabharata ia dikenal sebagai sosok
pemimpin yang bijaksana, sakti, dan berwibawa. Selain itu ia dikenal pula sebagai
tokoh yang memberikan ajaran filosofis, dan umat Hindu meyakini Bhagawadgita
sebagai kitab yang memuat kotbah Kresna kepada Arjuna tentang ilmu rohani.

9. Gautama Buddha Avatar

Budha Awatara
Budha adalah perwujudan Awatara Wisnu yang kesembilan dan di antara
perwujudan awatara Wisnu awatara Budha adalah yang sempurna di mana umat
manusia diajarkan tentang dharma dan kebahagiaan yang mutlak.

Di jaman kerajaan Kapilavastu dengan rajanya Suddhodana dan ratunya Mahamaya. Di
mana sang ratu kemudian melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan yang mereka
beri nama Siddhartha, akan tetapi sungguhlah sayang tujuh hari kemudian, sang ratu
Mahamaya meninggal dunia.

Seorang Rsi bijaksana/penasehat raja pada saat itu yang bernama Kala Devala
memberi tahu sang raja bahwa ketika pangeran Siddhartha beranjak dewasa ia akan
melihat hal-hal yang akan membuatnya sedih dan pergi menuju hutan. Mendengar hal
itu raja tidak memperbolehkan Siddhartha untuk pergi melewati gerbang istana.

Siddhartha merupakan anak pintar, berbahagia dan juga amat penyayang serta lembut.
Pada suatu hari Siddhartha dan sepupunya Devadatta sedang berjalan-jalan.
Devadatta tiba-tiba melihat seekor angsa dan memanahnya sehingga angsa tersebut
terjatuh. Siddhartha amat terkejut melihat burung yang terluka tersebut, Devadatta
bersikeras untuk memiliki burung angsa tersebut karena ia yang memanahnya. Akan
tetapi Siddharta mengatakan itu adalah miliknya. Akhirnya mereka pergi ke Rsi Kala
Devala sang penasehat raja di mana kemudian Rsi itu mengatakan angsa tersebut
menjadi milik orang yang menyelamatkannya bukan orang yang berusaha
membunuhnya.

Siddhartha tumbuh dewasa dan menjadi seorang pria muda. Raja Suddhodana
menikahkannya dengan seorang putri cantik yang bernama Yashodhara. Raja berharap
agar Siddhartha tidak akan pernah meninggalkan istana. Tapi Siddhartha tidak merasa
bahagia di dalam istana. Ia memerintahkan pelayannya yang setia Channa untuk
menemaninya berjalan-jalan keluar istana. Dalam perjalanannya Siddhartha melihat
orang yang sudah tua yang bungkuk dimana Siddhartha tidak pernah melihatnya di
dalam istana. Melihat orang yang sedang sakit keras dan melihat orang meninggal.
Siddartha menyadari bahwa ayahnya mengungkungnya di dalam istana, untuk
melindunginya agar ia tidak melihat hal-hal semacam itu.

Siddartha keluar lagi dan kali ini ia melihat seorang pria dengan kepala gundul. Ia
bertanya pada pelayannya dan pelayannya berkata itu adalah seorang bijak yang
meninggalkan segalanya serta pergi ke hutan untuk mencari kebahagiaan.

Pada suatu kesempatan Siddharta berpikir untuk meninggalkan Istana dan mencari
kebahagiaan. Akhirnya pada suatu malam, ketika istri dan anaknya Rahula sedang
tertidur, Siddartha bersama pelayannya yang setia Channa dengan diam-diam pergi
meninggalkan istana. Mereka menyeberangi sungai Anoma, disana Siddartha
melepaskan jubah kerajaanya dan memberikannya kepada Channa untuk
mengembalikannya ke istana. Kemudian Siddartha menggunakan jubah oranye serta
memotong rambut panjangnya. Siddartha pergi menemui satu guru ke guru yang lain
menanyakan; Apakah Anda tahu jalan untuk mencapai kebahagian?

Tapi tidak ada seorang pun bisa memberitahunya. Akhirnya ia duduk di bawah pohon
Bodhi dan berusaha menemukan jawabannya sendiri. Beberapa hari kemudian ia
menjadi seorang yang bijak dan orang-orang menyebutnya Gautama Budha. Budha
mencintai seluruh binatang dan memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang.

Pada suatu hari Dewa Siwa menguji Sang Budha karena Siwa tahu Awatara ini yang
akan membawa umat dunia untuk mencari jalan kebahagian karena mempunyai jiwa
kasih sayang terhadap semua makhluk.

Dewa Siwa mengirim binatang buas yaitu gajah liar dan harimau liar nan ganas. Tetapi
yang terjadi pada binatang-binatang tersebut setelah melihat cahaya kasih sayang yang
dipancarkan oleh Sang Budha binatang-binatang tersebut langsung tunduk hormat dan
bersimpuh di bawah kaki Sang Budha. Akhirnya Sang Budha mempunyai pengikut yang
sangat banyak dan pengikutnya tinggal di dalam sebuah grup yang di sebut Sangha.

Sang Budha mengajarkan bahwa seseorang bisa mendapatkan kebahagiaan dengan
merasa puas akan apa yang dimilikinya dan menunjukkan kasih sayang pada semua
mahluk. Pada akhirnya di sebuah tempat yang bernama Kusinara, Sang Budha
berbaring di bawah pohon Sala dan menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Maka sesuai petunjuk dari Sakyamuni yang diperoleh oleh Ida Mpu Kuturan, Sang
Budha Gautama akan bereinkarnasi kembali karena di jaman Kali Sang Budha akan
berkhotbah kembali sebagai Awatara yang terakhir agar dunia ini bisa tentram dan
damai. Dengan alasan tersebut Sang Budha tidak moksha atau kembali ke Nirwana di
jaman itu karena Sang Budha akan bereinkarnasi kembali dengan Awataranya yang
terakhir yaitu Kalki Awatara.

10. Kalki Avatar

Kalki Awatara
Kalki (juga disalin sebagai Kalkin dan Kalaki) adalah awatara kesepuluh dan
awatara (inkarnasi) terakhir Dewa Wisnu Sang pemelihara, yang akan datang pada
akhir zaman Kaliyuga (zaman kegelapan dan kehancuran).
Kata Kalki seringkali merupakan suatu kiasan dari keabadian atau masa. Asal
mula nama tersebut diperkirakan berasal dari kata Kalka yang bermakna kotor,
busuk, atau jahat dan oleh karena itu "Kalki" berarti Penghancur kejahatan,
Penghancur kekacauan, "Penghancur kegelapan", atau Sang Pembasmi
Kebodohan. Dalam bahasa Hindi, kalki avatar berarti inkarnasi hari esok.

Kalki Awatara
Berbagai tradisi memiliki berbagai kepercayaan dan pemikiran mengenai kapan,
bagaimana, di mana, dan mengapa Kalki Awatara muncul. Penggambaran yang umum
mengenai Kalki Awatara yaitu beliau adalah Awatara yang mengendarai kuda putih
(beberapa sumber mengatakan nama kudanya Devadatta (anugerah Dewa) dan
dilukiskan sebagai kuda bersayap). Kalki memiliki pedang berkilat yang digunakan
untuk memusnahkan kejahatan dan menghancurkan iblis Kali, kemudian menegakkan
kembali Dharma dan memulai zaman yang baru.
Salah satu sumber yang pertama kali menyebutkan istilah Kalki adalah Wisnu
Purana, yang diduga muncul setelah masa Kerajaan Gupta sekitar abad ke-7 sebelum
Masehi. Wisnu adalah Dewa pemelihara dan pelindung, salah satu bagian Trimurti, dan
merupakan penengah yang mempertimbangkan penciptaan dan kehancuran sesuatu.
Kalki juga muncul di salah satu dari 18 kitab Purana yang utama, Agni Purana. Kitab
purana yang memuat khusus tentang Kalki adalah Kalki Purana. Di sana dibahas
kapan, dimana, bagaimana, dan mengapa Kalki muncul.

Membuka Wawasan Pikiran Kita
Beberapa orang meyakini bahwa filsafat Dasa Awatara menunjukkan
perkembangan kehidupan dan peradaban manusia di muka bumi. Setiap Awatara
merupakan lambang dari setiap perkembangan zaman yang terjadi. Matsya Awatara
merupakan lambang bahwa kehidupan pertama terjadi di air. Kurma Awatara
menunjukkan perkembangan selanjutnya, yakni munculnya hewan amphibi. Waraha
Awatara melambangkan kehidupan selanjutnya terjadi di darat. Narasimha Awatara
melambangkan dimulainya evolusi mamalia. Wamana Awatara melambangkan
perkembangan makhluk yang disebut manusia namun belum sempurna. Parashurama
Awatara, pertapa bersenjata kapak, melambangkan perkembangan manusia di tingkat
yang sempurna. Rama Awatara melambangkan peradaban manusia untuk memulai
pemerintahan. Krishna Awatara, yang mahir dalam enam puluh empat bidang
pengetahuan dan kesenian melambangkan kecakapan manusia di bidang kebudayaan
dan memajukan peradaban. Balarama Awatara, Kakak Kresna yang bersenjata alat
pembajak sawah, melambangkan peradaban dalam bidang pertanian. Buddha Awatara,
yang mendapatkan pencerahan, melambangkan kemajuan sosial manusia.
Awatara yang turun ke dunia juga memiliki makna-makna menurut zamannya:
masa para Raja meraih kejayaan dengan pemerintahan Rama Awatara pada masa
Treta Yuga, dan keadilan sosial dan Dharma dilindungi oleh Sri Kresna pada masa
Dwapara Yuga. Makna dari turunnya para Awatara selama masa Satya Yuga menuju
Kali Yuga juga menunjukkan evolusi makhluk hidup dan perkembangan peradaban
manusia.
Awatara-awatara dalam daftar di atas merupakan inkarnasi Wisnu, yang mana
dalam suatu filsafat merupakan lambang dari takaran dari nilai-nilai kemasyarakatan.
Istri Dewa Wisnu bernama Laksmi, Dewi kemakmuran. Kemakmuran dihasilkan oleh
masyarakat, dan diusahakan agar terus berjalan seimbang. Hal tersebut dilambangkan
dengan Dewi Laksmi yang berada di kaki Dewa Wisnu. Dewi Laksmi sangat setia
terhadapnya.
Filsafat Catur Yuga yang merupakan masa-masa yang menjadi latar belakang
turunnya suatu Awatara dideskripsikan sebagai berikut:
- Satya Yuga, dilambangkan dengan seseorang membawa sebuah kendi (kamandalu)
- Treta Yuga, dilambangkan dengan seseorang yang membawa sapi dan sauh
- Dwapara Yuga, dilambangkan dengan seseorang membawa busur panah dan kapak
- Kali Yuga, dilambangkan dengan seseorang yang sangat jelek, telanjang, dan melakukan tindakan
yang tidak senonoh.
Jika deskripsi di atas diamati dengan seksama, maka masing-masing zaman
memiliki makna tersendiri yang mewakili perkembangan peradaban masyarakat
manusia. Pada masa pertama, Satya Yuga, ada peradaban mengenai tembikar,
bahasa, ritual (yaja), dan sebagainya. Pada masa yang kedua, Treta Yuga, manusia
memiliki kebudayaan bertani, bercocok tanam dan beternak. Pada masa yang ketiga,
manusia memiliki peradaban untuk membuat senjata karena bidang pertanian dan
kemakmuran perlu dijaga. Yuga yang terakhir merupakan puncak dari kekacauan, dan
akhir dari peradaban manusia.



Referensi :

- http://fi-fi.facebook.com/topic.php?uid=106340702721484&topic=36
- http://fundawafarma.blogspot.com/2011/01/not-only-legend-of-avatars-about-past.html
- http://id.wikipedia.org/wiki
Bila anda menyukai artikel ini, klik tombol 'Like'. Dan bila anda ingin membagikan artikel ini di facebook,
klik tombol 'Send' atau tombol 'Share'
You might also like:

Kisah Mahabrata

Sejarah Agama Hindu

Sejarah Kerajaan Majapahit

Pengertian & Makna Upacara Mepandes

LinkWithin
at 16.08
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook
Tags: Awatara
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Facebook :
Facebook Activity :
Twitter


Tags :
Agama Hindu (1)
Awatara (1)
Cerita dan Legenda Umat Hindu (24)
Epos (1)
Filosofi (3)
Hari Raya (5)
Kerajaan Hindu (2)
Para Dewa Dewi (5)
Upacara (1)
Arsip Blog
2013 (4)
2012 (11)
2011 (25)
o November (2)
o Agustus (3)
o Juli (20)
Kisah Singkat Dewa Ruci dan Sang Bima
Kisah Singkat Kelahiran Hanoman
Asal Mula Nama Buleleng dan Singaraja di Bali
Kura-Kura dan Angsa
Asal Usul Gunung Merapi
Kisah Candi Prambanan
Cerita Kebo Iwa
Awatara Dewa Wisnu
Kisah Mahabrata
Makna Penjor
Pengertian & Makna Upacara Mepandes
Makna Hari Raya Kuningan
Sejarah Hari Raya Siwa Ratri
Makna Penampahan Galungan
Sejarah Agama Hindu
Sejarah Hari Raya Galungan
Sejarah Kerajaan Majapahit
Ramalan Sabdo Palon
Kisah Jayaprana dan Layonsari
Asal Mula Selat Bali
Translate to your language



Translate Widget by Google
Cerita Populer :

Awatara Dewa Wisnu
Dewa Wisnu, Dewi Laksmi dan Garuda Awatara atau Avatar dalam agama Hindu adalah
inkarnasi dari Tuhan Yang Maha Esa maupun manifestas...

Dewa Siwa
Dewi Parwati, Dewa Siwa dan Dewa Ganesha iwa dalam mitologi Hindu dikenal
sebagai dewa tertinggi dan banyak pemujanya. Mitos iwa...

Kisah Dan Makna Dibalik Atribut Dewa Siwa
Gambar atau lukisan Dewa Siva pasti memberikan kesan tersediri bagi siapapun yang
mau merenung. Beliau adalah Deva yang paling agung s...

Ida Bhatara Ratu Gede Mas Mecaling
Hiduplah seorang Pangeran yang bertempat tinggal di Gunung Kila, yang bernama
Pangeran Jumpungan. Pangeran Jumpungan menjadi seorang Pen...

Kisah Leela dan Dewi Saraswati
Dewi Saraswati Pada suatu waktu di bumi ini hidup seorang raja yang bernama Padma
yang teramat bajik dalam segala perilakunya. Istri be...
Negara Pengunjung :

Free counters
Semeton :
- ENSOFTY Antivirus (Dari Bali)
- ENSOFTY Blog
- Musik Indie Bali
- Cerita Umat Hindu
- Hindu Dharma Blog
- Indra Balinese
- Hukum Hindu
- I Love Hindu
- Hindu Pedia
- Dharma Tula
- Departa Lahne
- Cyber Dharma Indonesia
- Rudra Deva
- Serba Serbi Hindu Purana
- Artikel Ajaran Agama Hindu
- Buletin Jaganatha Jakarta

Radio Internetne Nak Bali Streaming 24 jam dengan lagu-lagu Bali, Gamelan Bali, Gong
Kebyar, Wayang Cenk Blonk dan Seni Adat Budaya Bali lainnya.
(Radio Internetne Nak Bali)

wibiya widget
Template Picture Window. Diberdayakan oleh Blogger.