Anda di halaman 1dari 73

HUKUM PERDATA INTERNASIONAL

oleh
Moch Najib Imanullah, SH, MH, Ph.D.










Fakultas Hukum
Universitas Sebelas Maret
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 2
Buku wajib 1
Bayu Seto
Dasar-dasar Hukum Perdata
Internasional :
Pengertian, masalah pokok HPI
Sejarah, pranata tradisional.
Ketertiban umum, persoalan
pendahuluan.
Teori HPI, asas-asas HPI.
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 3
Buku wajib 2
Sudargo Gautama
Hukum Perdata Internasional Indonesia
Status personal, hubungan orang tua
dan anak, adopsi, perkawinan, harta
benda perkawinan, perceraian.
Badan Hukum.
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 4
Buku wajib 3
Sudargo Gautama
Hukum Perdata Internasional Indonesia
(jilid III bagian 2 buku ke-8) :
- Hukum Perjanjian/kontrak.
- Jual-beli Internasional.
- Hukum Acara Perdata Internasional
(pengantar ).

September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 5
PENGERTIAN HPI
Hukum Perdata yang berlaku secara
internasional ?
Hukum internasional yang mengatur
persoalan perdata ?
Conflict of Law ?

Hukum Perdata nasional yang ada
anasir/unsur asing ?
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 6
SUDARGO GAUTAMA
(Bapak HPI Indonesia)
keseluruhan peraturan dan keputusan
hukum yang menunjukkan stelsel hukum
manakah yang berlaku, atau apakah yang
merupakan hukum, jika hubungan-hubungan
atau peristiwa-peristiwa antara warga (-
warga) negara pada suatu waktu tertentu
memperlihatkan titik pertalian dengan
stelsel-stelsel dan kaidah-kaidah hukum dari
dua atau lebih negara, yang berbeda dalam
lingkungan kuasa, tempat, pribadi, dan soal-
soal.
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 7
ANASIR/UNSUR ASING
Kewarganegaraan
Peristiwa Hukum
Fakta hukum
Domisili
Letak benda tidak bergerak
Tempat ditandatanganinya kontrak
Tempat dilaksanakannya prestasi
Tempat barang bukti
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 8
TITIK TAUT
Titik Taut Primer :
untuk menentukan sebuah perkara itu
merupakan perkara HPI atau tidak.
Titik Taut Sekunder :
fakta hukum, peristiwa hukumyang
mambantu untuk menentukan hukum mana
yang akan dipakai untuk menyelesaikan
perkara HPI (Titik Taut Penentu).

(pembahasan lebih lanjut pada tatap muka
yad.)

September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 9
KUALIFIKASI
Menata sekumpulan fakta yang dihadapi
(sebagai persoalan hukum), mendefinisikan,
dan kemudian menempatkan ke dalam
suatu kategori yuridis tertentu

(pembahasan persoalan kualifikasi pada
tatap muka yad.)
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 10
PERSOALAN HPI
Apakah perkara yang dihadapi hakim
merupakan perkara HPI ?
Hakim manakah yang berwenang
untuk mengadili perkara HPI tsb ?
Seberapa jauh hakim (setempat)
menghormati keputusan hakim asing ?
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 11
TAHAPAN PENYELESAIAN
PERKARA HPI
1. Hakim menentukan perkara tersebut merupakan perkara
HPI (titik taut primer).
2. Hakim menentukan bahwa ada kewenangan untuk
memeriksa dan mengadili perkara HPI tersebut.
3. Hakim menetukan hukum yang dipergunakan untuk
mengadili/lex causa (titik taut sekunder).
4. Hakim melakukan kualifikasi.
5. Memeriksa dan menyelesaikan perkara dengan
menggunakan kaidah hukum intern dari lex causa.
Catatan:
Dalam pemeriksaan perkara HPI ada kecenderungan Hakim
menggunakan lex fori (hukum dari hakim) drpd lex causa
(hukum yang seharusnya). Mengapa?

September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 12
SUMBER HUKUM HPI
Peraturan perundang-undangan
Konvensi
Asas-asas hukum umum
Kebiasaan
Yurisprudensi
Keputusan hakim
Perjanjian/kontrak
Pendapat pakar
Dogma/theory
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 13
Peraturan PerUUan
Konstitusi: ikut serta dalam tata
pergaulan internasional
UU Kewarganegaraan
UUPA
UUPerkawinan
UUPT
UUPenanaman Modal
UUITE
dll
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 14
KONVENSI
Konvensi HPI
Convention on the law applicable to
international sales of goods
Convention concerning recognition of the legal
personality of foreign companies (societes),
associations, and foundations.
Convention on the settlement of investment
disputes between states and nationals of other
states
Convention on the recognition and
enforcement of foreign arbitral awards
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 15
Asas-asas Hukum Umum
Pacta sunt servanda:
janji harus dihormati, merupakan
undang-undang bagi para pihak yang
telah membuat perjanjian, dan
merupakan rujukan bagi penyelesaian
sengketa yang terjadi di antara para
pihak.
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 16
Kebiasaan
Kebiasaan-kebiasaan yang ada dan
berlaku bagi para pihak yang
melakukan kegiatan perdagangan
internasional:
Lex Mercantoria ?
Incoterm ?
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 17
Yurisprudensi
Keputusan-keputusan hakim dalam
kasus perdata internasional yang
diterima dan diakui secara luas, dan
menjadi rujukan bagi penyelesaian
kasus HPI yang hampir sama
(keputusan tersebut diikuti oleh hakim
lain)
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 18
Keputusan Hakim
Keputusan Hakim akan memberikan
status personal, hak dan kewajiban bagi
para pihak yang bersengketa dalam
kasus perdata internasional.
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 19
Perjanjian/Kontrak
Perjanjian/kontrak yang dibuat secara
sah, akan menjadi undang-undang bagi
para pihak yang membuatnya, dan
tidak dapat dibatalkan secara sepihak.
Perjanjian/kontrak tersebut
menimbulkan hak dan kewajiban bagi
para pihak untuk dilaksanakan dengan
itikad baik.
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 20
Dogma/Theory
Teori-teori HPI yang telah diterima
secara luas.
Pendapat-pendapat pakar tentang
persoalan-persoalan HPi yang telah
diterima secara luas.
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 21
KUALIFIKASI
Memasukkan fakta/ peristiwa hukum ke
dalam kotak pada sebuah sistem
hukum.
Beberapa sistem hukum menggunakan
terminologi hukum yg sama tetapi
untuk pengertian yg berbeda.
Beberapa sistem hukum mengenal
konsep/lembaga hukum tertentu tetapi
tidak dikenal dalam sistem hukum lain.
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 22
KUALIFIKASI
Fakta hukum secara faktual sama
tetapi dgn menetapkan kategori
yuridis berbeda.
Menetapkan syarat yg berbeda
untuk menetapkan peristiwa
hukum yg pada dasarnya sama.
Proeses/prosedur berbeda untuk
hasil/status hukum yg pada
dasarnya sama.
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 23
KULIFIKASI LEX FORI
Kulaifikasi harus dilakukan berdasarkan
hukum dari hakim/pengadilan yang
mengadili perkara.
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 24
KUALIFIKASI LEX CAUSA
Kualifikasi dilakukan sesuai dengan
sistem serta ukuran-ukuran dari
keseluruhan sistem hukum yang
berkaitan dengan perkara HPI.
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 25
KUALIFIKASI BERTAHAP
Tahap pertama:Kualifikasi lex fori.
Menetapkan lex causae.
Tahap kedua: kualifikasi berdasarkan
kaidah hukum intern dari lex causae yg
akan digunakan utk menyelesaikan
perkara HPI.

September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 26
KUALIFIKASI OTONOM
Kualifikasi berdasarkan konsep-konsep
hukum yang khas dan dapat berlaku
secara umum, serta mempunyai makna
yang sama di manapun di dunia.
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 27
KUALIFIKASI HPI
Kualifikasi berdasarkan tujan HPI
tertentu:
Keadilan
Kepastian hukum
Ketertiban
Kelancaran
(dalam pergaulan internasaional).
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 28
RENVOI
Penunjukan kembali atau penunjukan
lebih lanjut oleh kaidah HPI oleh kaidah
HPI lex fori.
Penunjukan diarahkan ke kaidah HPI
asing yg dianggap rfelevan dgn perkara
yg sedang dihadapi.
Agar perkara dapat diputuskan dgn cara
yg seharusnya perkara diadili
Agar tercipta keseragaman dlm
penyelesaian perkara HPI.
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 29
HAK-HAK YANG DIPEROLEH
Hak dan kewajiban hukum yg terbit
berdasarkan hukum asing.
Apakah hak dan kewajiban hukum yg
dimiliki seseorang berdasarkan kaidah
hukum atau sistem hukum asing
tertentu, harus diakui atau tidak oleh
Hakim Lex Fori.
Hak dan kewajiban hukum akan diakui
sepanjang tidak bertentangan dgn
kepentingan umum masyarakat lex fori.
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 30
KETERTIBAN UMUM
Seberapa jauh pengadilan
memperhatikan, mentaati, dan
mengakui berlakunya hukum asing/hak-
hak yg diperoleh.
Hak-hak yg dieroleh dapat
dikesampingkan dgn alasan demi
ketertiban umum.
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 31
KETERTIBAN UMUM
Jika pemberlakuan hukum asing/hak-
hak yg telah diperoleh dapat
menimbulkan akibat-akibat berupa
pelanggaran terhadap sendi-sendi
pokok hukum setempat.
Semua kaidah hukum setempat yg
dibuat untuk melindungi kesejahteraan
umum harus didahulukan.
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 32
KETERTIBAN UMUM
Pelanggaran thdp prinsip-prinsip
keadilan yg mendasar
Bertentangan dgn kesusilaan yg baik
Bertentangan dgn tradisi yag sudah
mengakar.
(versi khusus: perbuatan yg
mengganggu persahabatan dgn negara
lain, bertransaksi dgn musuh
negaraInggris).
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 33
FUNGSI
Positif: menjamin aturan tertentu lex
fori tidak disimpangi.
Negatif: menghindarkan pemberlakuan
kaidah hukum asing apabila akan
menyebabkan pelanggaran thdp konsep
dasar lex fori.
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 34
PERSOALAN PENDAHULUAN
Persoalan/masalah HPI yg harus
diselesaikan lebih dahulu sebelum
putusan thdp masalah HPi yg menjadi
pokok perkara diperiksa dan diputus
oleh hakim.
Putusan thdp pokok perkara akan
tergantung pada penetapan hukum atas
persoalan hukum lain yg harus
dilakukan terlebih dahulu.
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 35
CARA MENYELESAIKAN
PERSOALAN PENDAHULUAN
Absorption: mencari lex causae,
selanjutnya persoalan pendahulan
diselesaikan dgn berdasarkan lex causa.
Repartition: penyelesaian dgn cara lex
fori.
Pendekatan kasus demi kasus.
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 36
PENYELUNDUPAN HUKUM
Menggunakan hukum asing, untuk
memperoleh hak-hak tertentu, dengan
cara menghindari hukum nasional yang
wajib berlaku terhadapnya.
Hak-hak yang telah diperoleh krn
penyelundupan hukum, tidak
diakui/batal demi hukum.

September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 37
PILIHAN HUKUM
HPIConflict of Law
Dalam hukum kontrak ada kebebasan
para pihak untuk memilih hukum mana
yg akan dipergunakan dlm pelaksanaan
kontrak maupun penyelesaian sengketa
para pihak (partij autonomie).
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 38
PILIHAN HUKUM
Batas:
Tidak boleh bertentangan dgn
ketertiban umum
Tidak boleh menjadi penyelundupan
hukum
Tidak boleh lebih dari satu sistem
hukum.
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 39
PILIHAN HUKUM
Secara tegas (dicantumkan dlm pasal
kontrak)
Secara diam-diam (sikap para pihak dan
isi kontrak)
Pilihan hukum yg dianggap (tidak
menggunakan hukum adat, dianggap
memilih hukum Eropa..Hindia Belanda ).
Pilihan hukum secara hipotetis (dipilih
oleh hakim..Jerman).


September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 40
STATUS PERSONAL (SP)
Madzab Itali: statuta realia, statuta
personal, statuta mixta.
Statuta Personal: kaidah-kaidah yang
mengikuti seseorang di mana pun
berada, tidak terbatas pada teritorial
negara tertentu saja.
Kedudukan hukum seseorang
ditentukan oleh hukum dari negara di
mana ybs dianggap terikat secara
permanen.

September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 41
SP Konsepsi Luas
Wewenang/hak-hak secara umum.
Permulaan dan berakhirnya
kepribadian.
Kemampuan untuk melakukan
perbuatan hukum.
Perlindungan kepentingan
perseorangan.
Hubungan kekeluargaan dalam
pengertian luas (perkawinan,
perceraian, adopsi, pewarisan ).
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 42
SP Konsepsi Sempit
Nama, domisili, nasionalitas, status
perdata, hubungan-hubungan famili.
Kedewasaan, perwalian.
Kondisi hukum seseorang dalam
masyarakat yang diberikan negara agar
dapat melindungi masyarakat dan
institusinya.
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 43
Hukum Yang Dipergunakan
utk SP
Aliran Personnalistes : Hukum Nasional.
Aliran Teritorialistes : Hukum Domisili
seseorang.
Sistem Kompromis : campuran.
Yurisprudensi Indonesia : Hukum
Nasional mereka sepanjang
persoalannya termasuk status personal.
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 44
Diskusi/tugas:
Apakah Hukum Waris termasuk SP?
Apakah Hukum Harta Benda
Perkawinan termasuk SP ?
Apakah perceraian termasuk masalah
SP ?
Apakah perwalian anak termasuk
masalah SP ?

September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 45
HUKUM PERKAWINAN
Perkawinan antara seorang WNI
dengan WNA dilaksanakan di Indonesia
(Perkawinan Campuran).
Perkawinan antara WNI dgn WNI
dilaksanakan di Luar Negeri.
Perkawinan antara WNI dgn WNA
dilaksanakan di Luar Negeri.
Perkawinan antara WNA dgn WNA
dilaksanakan di Indonesia.
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 46
Hukum utk Perkawinan
Sepanjang mengenai syarat-syarat
(materiil) berlaku Hukum dari masing-
masing calon mempelai.
Sepanjang berkaitan dengan formalitas
perkawinan, berlaku Hukum di tempat
perkawinan tersebut dilangsungkan (lex
locus celebrationis).
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 47
Syarat Materiil:
Kemampuan untuk melangsungkan
perkawinan : umur.
Adanya ketentuan halangan/penundaan
perkawinan.
Adanya ketentuan mengenai larangan
perkawinan.
Tujuan perkawinan.
Persetujuan/kesepakatan.

September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 48
Syarat Formal:
Pemberitahuan kehendak perkawinan.
Pengumuman kehendak perkawinan.
Pelaksanaan perkawinan.
Pencatatan perkawinan.
Penerbitan akta perkawinan.

September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 49
Perkawinan Campuran
Perkawinan antara dua orang yang di
Indonesia tunduk pada hukum yang
berlainan, karena perbedaan
kewarganegaraan dan salah satu pihak
berkewarganegaraan asing dan salah
satu pihak berkewarganegaraan
Indonesia.
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 50
Perkawinan di luar Indonesia
Perkawinan yg diselenggarakan di luar
Indonesia antara dua orang WNI dgn
WNA adlh sah bilamana dilakukan
menurut hukum yg berlaku di negara di
mana perkawinan itu dilangsungkan
dan bagi WNI tidak melanggar
ketentuan UU No.1 tahun 1974 ttg
Perkawinan.
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 51
Diskusi:
Apa akibat hukum perkawinan
campuran thdp kewarganegaraan para
pihak ?
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 52
Akibat Hukum perkawinan
internasional
Memperoleh kewarganegaraan dari
suami/isterinya.
Dapat kehilangankewarganegaraan.
Kewarganegaraan yg diperoleh sebagai
akibat perkawinan menentukan hukum
yg berlaku, baik mengenai hukum
publik maupun hukum perdata.
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 53
Akibat Hukum perkawinan
internasional
Ada kecenderungan menggunakan hukum
suami.
Faham bhw harta benda perkawinan adlh
benda tdk bergerak (lex rei sitae)
Benda bergerak berdasarkan hukum domisili
suami isteri.
Harta benda perkawinan mrpkn status
personal..kesatuan harta.
Harta benda perkawinan mrpkn
kontrak..terserah para pihak.
Anak..hukum personal bapak.
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 54
ADOPSI INTERNASIONAL
Motif:
Awal sejarahnya bermacam-macam
motif.
Saat ini: hanya dibenarkan semata-
mata demi kesejahteraan anak yang
diadopsi.
Kesejahteraan ?
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 55
HUKUM YG DIPERGUNAKAN
Persyaratan : hukum dari domisili
senyatanya sehari-hari dari anak yang
diadopsi.
Pernyataan adopsi dan akibat adopsi:
hukum dari orang tua yang
mengadopsi.
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 56
PERSYARATAN
Pihak yg akan diadopsi:
Umur,
Ijin orang tua dan/atau keluarga,
Ijin Pemerintah/pejabat yang
berwenang,
Anak berada dlm yayasan /badan
hukum yg ditunjuk pemerintah.
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 57
PERSYARATAN
Pihak yg akan mengadopsi:
Kemampuan untuk mensejahterakan
anak yg akan diadopsi,
Persetujuan anggota keluarga yg lain,
Berkelakuan baik (sosial),
Tidak pernah terlibat perkara kriminal,
Memperoleh ijin dari pemerintah.
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 58
PENERAPAN asas ultimum
remedium oleh HAKIM
Hakim akan mencari seluruh keluarga
dari anak yang akan diadopsi, apakah
masih ada kemungkinan yang dapat
mensejahterakan.
Hakim akan memeriksa dengan
seksama kemampuan ekonomi, sosial
dan psikologis orang tua yang akan
mengadopsi dengan cara melakukan
korespondensi dengan pihak yang
berkompeten di negara asal calon orang
tua yang akan mengadopsi
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 59
Diskusi :
Mengapa ada asas ultimum remidium ?

September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 60
Tugas
Rangkum Konvensi Adopsi Den Haag
1965
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 61
Indonesia ?
SEMA No.6 th 1983.
SK Mensos No.58/HUK/1985, tim
pertimbangan perijinan pengangkatan
anak oleh WNA.
SK Mensos 13/HUK/1993, petunjuk
pelaksanaan pengangkatan anak.
Peraturan Pemerintah No.54 th 2007 ttg
Pengangkatan Anak.
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 62
PERCERAIAN
Aliran: mudah
Perceraian dgn TALAK (Islam)
Uni Soviet (boleh sepihak)
USA (Nevada: los angeles, Reno:
sangat mudah)
Mexico (sangat mudah, bahkan
dikomersilkan)
rawan terjadi penyelundupan hukum.


September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 63
Aliran sangat sukar:
Italia, Spanyol, Portugal, Paraguay
(bahkan diupayakan untuk tidak dapat
berceraisesuai ajaran Katolik)
Aliran perceraian dengan alasan yang
sangat terbatas:
New York (perceraian hanya
dimungkinkan dengan alasan telah
terjadi perzinahan).
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 64
INDONESIA ?
Menganut prinsip mempersulit
perceraian (lihat PP no.9/1975).
Menentukan syarat: perceraian harus
berdasarkan alasan yang diatur dalam
peraturan perUUan
Formalitas: perceraian harus dilakukan
berdasarkan prosedur yang diatur
peraturan perUUan.
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 65
HUKUM mana untuk
perceraian ?
Ada kecenderungan untuk
menggunakan LEX FORI
Ada negara yang menentukan bahwa
warga negaranya hanya dapat bercerai
di hadapan hakim-hakimnya sendiri
(Uni Soviet, Hongaria, Polandia, Turki)
Komulatif: hukum dari para pihak yang
bercerai..apabila ada pengaturan syarat
yang berbeda, diambil syarat yang
terberat.
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 66
Konvensi Den Haag ttg
Perceraian/1968
Sistem komulatif:
Hukum nasional para pihak + LEX FORI
(national law and the law of the place
where the application is made).
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 67
BADAN HUKUM
Sama seperti orang, memiliki status
personal: dapat melakukan perbuatan
hukum sejak didirikan sampai
dibubarkan/likuidasi.
Hukum: memberi status personal
(syarat: anggaran dasar, tujuan,
pengurus, pengelolaan).
Diskusi: bedanya dengan orang ?
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 68
HUKUM yang berlaku
Common law: place of incorporation
(hukum dari tempat didirikannya badan
hukum)
Civil law: legal seat (hukum dari negara
di tempat pusat manajemen badan
hukum berkedudukan.
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 69
BENTUK badan hukum
USA:
Badan hukum yang mempunyai
kehidupan (sendiri) sebagai subyek
hukum (BUMN, BUMD, Asosiasi,
Yayasan)
Asosiasi yang tidak berbadan hukum
(asosiasi dagang).
Indonesia ? PT, CV, Koperasi, Yayasan.

September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 70
EKSISTENSI badan hukum
Teori inkorporasi: badan hukum tunduk
pada hukum tempat badan hukum
didirikan (common law)
Teori kedudukan statutair: tunduk pada
hukum yang ditentukan dalam statuta
Teori tempat kedudukan: tunduk pada
hukum tempat kedudukan manajemen
yang efektif (civil law)
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 71
KONVENSI Den Haag ttg
badan hukum/1951
Status badan hukum: ditentukan oleh
hukum dari tempat dilangsungkannya
formalitas pendiriannya (pendaftaran,
pengumuman, dan tempat kedudukan
statutairnya)
Ada pengakuan terhadap negara yang
menganut prinsip Central Office.
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 72
HUKUM PERJANJIAN
Choise of Law
Lex loci contractus (tempat perjanjian
dibuat)
Lex loci solutionis (tempat prestasi
dilaksanakan)
The proper law of the contract (maksud
sebenarnya para pihak membuat
kontrak)
The most carracteristic connection
(prestasi yang paling fungsional)
September 16, 2014 HPI/FH UNS/S1/najib 73
UNC Sales of Goods Contract
1980
Konvensi Jual-beli Barang secara
Internasional


(makul pilihan : hukum dagang/kontrak
dagang internasional)