Anda di halaman 1dari 4

Mata Kuliah Satwa Harapan

Tarsius
Tarsius adalah primata dari
genus Tarsius, suatu genus monotipe dari
famili Tarsiidae, satu-satunya famili yang
bertahan dari ordoTarsiiformes. Meskipun
grup ini dahulu kala memiliki penyebaran yang
luas, semua spesies yang hidup sekarang
ditemukan di pulau-pulau di Asia Tenggara
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Primata
Upaordo: Haplorrhini
Infraordo: Tarsiiformes
Gregory, 1915
Famili: Tarsiidae
Gray, 1825
Genus: Tarsius
Storr, 1780



Muhammad Yunus
200110120244
Fapet B 2012
Anatomi dan fisiologi
Tarsius bertubuh kecil dengan mata yang sangat besar; tiap bola
matanya berdiameter sekitar 16 mm dan berukuran sebesar keseluruhan
otaknya.

Kaki belakangnya juga sangat panjang. Tulang tarsus di kakinya sangat
panjang dan dari tulang tarsus inilah tarsius mendapatkan nama. Panjang kepala
dan tubuhnya 10 sampai 15 cm, namun kaki belakangnya hampir dua kali
panjang ini, mereka juga punya ekor yang ramping sepanjang 20 hingga 25 cm.
Jari-jari mereka juga memanjang, dengan jari ketiga kira-kira sama panjang
debngan lengan atas. Di banyak ujung jarinya ada kuku namun pada jari kedua
dan ketiga dari kaki belakang berupa cakar yang mereka pakai untuk merawat
tubuh. Bulu tarsius sangat lembut dan mirip beludru yang bisanya berwarna
cokelat abu-abu, cokelat muda atau kuning-jingga muda.
Penglihatan Tarsius
Semua jenis tarsius bersifat nokturnal, namun seperti organisme
nokturnal lain beberapa individu mungkin lebih banyak atau sedikit beraktivitas
selama siang hari. Tidak seperti kebanyakan binatang nokturnal lain, tarsius tidak
memiliki daerah pemantul cahaya (tapetum lucidum) di matanya. Mereka juga
memiliki fovea, suatu hal yang tidak biasa pada binatang nokturnal.
Otak tarsius berebda dari primata lain dalam hal koneksi kedua mata
dan lateral geniculate nucleus, yang merupakan daerah utama di talamus yang
menerima informasi visual. Rangkaian lapisan seluler yang menerima informasi
dari bagian mata ipsilateral (sisi kepala yang sama) and contralateral (sisi kepala
yang berbeda) di lateral geniculate nucleus membedakan tarsius dari lemur,
kukang, dan monyet, yang semuanya sama dalam hal ini.
Tingkah laku Tarsius
Tarsius merupakan satwa insektivora, dan menangkap serangga dengan
melompat pada serangga itu. Mereka juga diketahui memangsa vertebrata kecil
seperti burung, ular, kadal dan kelelawar. Saat melompat dari satu pohon ke
pohon lain, tarsius bahkan dapat menangkap burung yang sedang bergerak
Kehamilan berlangsung enam bulan, kemudian tarsius melahirkan seekor anak.
Tarsius muda lahir berbulu dan dengan mata terbuka serta mampu memanjat
dalam waktu sehari setelah kelahiran. Mereka mencapai masa dewasa setelah
satu tahun. Tarsius dewasa hidup berpasangan dengan jangkauan tempat
tinggal sekitar satu hektar.
Pelestarian Tarsius
Satu jenis tarsius, tarsius Dian T. dentatus; terdaftar segabai sinonim
juniornya T. dianae oleh IUCN), terdaftar di IUCN Red List berstatus Bergantung
Konservasi. Dua spesies/subspesies lain , Tarsius Barat (T. bancanus) dan
subspesies nominasinya (T. bancanus bancanus , terdaftar dengan status Risiko
Rendah. Tarsius Sulawesi (T. tarsier; terdaftar sebagai sinonim juniornya T.
spectrum) dikategorikan sebagai Hampir Terancam. Jenis tarsius lain terdaftar
oleh IUCN sebagai Data Kurang. Adapun di Indonesia..
Tarsius tidak pernah sukses membentuk koloni pembiakan dalam
kurungan, dan bila dikurung, tarsius diketahui melukai dan bahkan membunuh
dirinya karena stres.
Satu situs mendapat keberhasilan mengembalikan populasi tarisus di
pulau Filipina Bohol. Philippine Tarsier Foundation telah mengembangkan
kandang besar semi-liar yang memakai cahaya untuk menarik serangga
nokturnal yang menjadi makanan tarsius.
Pada tahun 2008 dideskripsikan tarsius Siau yang dianggap
bestatus kritis dan terdaftar dalam 25 primata paling terancam oleh Conservation
International dan IUCN/SCC Primate Specialist Group tahun 2008.