Anda di halaman 1dari 8

Brinalloy Yuli

08/264846/SP/22606

BERBISNIS DI DIGITALISASI FOTOGRAFI

Perkembangan teknologi dewasa ini semakin pesat. Dari segala jenis teknologi dirasa
mampu menyulap manusia menjadi apatis terhadapnya. Dulu, teknologi seperti telepon genggam,
ipod, komputer, kamera dan lain sebagainya merupakan kebutuhan tersier dalam kehidupan
manusia. Kini seiring dengan perkembangan zaman, kebutuhan tersebut menjadi sebuah hal yang
tak dapat lepas dari kehidupan manusia. Perkembangan teknologi sangat nampak terlihat dari
abad ke abad. Dahulu, kita ketahui bersama bahwa alat komunikasi seperti telepon, komputer,
radio dan televisi sangat tidak fleksibel jika dilihat dan digunakan. Dari bentuknya yang besar
dan cara penggunaannya pun sedikit memerlukan waktu yang lebih membuat orang risih dan
malas untuk menggunakannya. Namun kini semua berubah menjadi digital. Telepon genggam
kini berkembang semakin canggih, komputer kini berkembang menjadi laptop yang bisa dibawa
kemana-mana, televisi dan radio pun kini bisa menjadi satu fungsi. Inilah yang dinamakan
digitalisasi teknologi.
Begitu banyak teknologi yang berkembang saat ini membuat manusia semakin larut
dalam dunia digital. Salah satu dari sekian banyak kemajuan teknologi yang menarik untuk
disimak adalah dalam dunia fotografi. Konsep awal fotografi adalah proses atau memproduksi
gambar-gambar objek pada sebuah bidang permukaan khusus melalui aksi kimia cahaya atau
aksi energi radiasi lainnya seperti x-rays, gamma rays, comics rays, dan sebagainya. (Stein, Jess.
1967:1085).
Jika kita melihat kebelakang, maka kita akan menemukan betapa jauhnya perkembangan
fotografi di dunia ini. Awal mula hadirnya foto pertama dibuat pada tahun 1826 selama delapan
jam. Seorang peneliti Perancis, Joseph Nicephore Niepce, pada tahun 1826 sudah menghasilkan
sebuah foto yang kemudian dikenal sebagai foto pertama dalam sejarah manusia. Foto yang
berjudul View from Window at Gras itu kini disimpan di University of Texas di Austin, Amerika
Serikat. Niepce membuat foto dengan melapisi pelat logam dengan sebuah senyawa buatannya.
Pelat logam itu lalu disinari dalam kamera obscura sampai beberapa jam sampai tercipta imaji.
Kamera Obscura merupakan kamera yang pertama kali yang dipakai untuk menggambar
kemudian memotret. Kemudian, pada tahun 1888, George Eastman menciptakan dan menjual
produk berupa kamera kotak kecil dan ringan bernama Kodak tahun 1888. Kamera tersebut
dijual berikut rol film berbahan Perak Bromida yang dapat memotret hingga 100 kali. Jika
seluruh film telah digunakan, kamera berikut film dikirim ke perusahaan Eastman untuk di
proses. Setelah itu, kamera dikirim kembali dengan rol film baru. Setelah itu dunia fotografi
mulai marak dengan berbagai penemuan, film, kamera maupun lensa. Semuanya bertujuan demi
kepraktisan memotret dengan kualitas tinggi.
Tahun 1950 mulai digunakan prisma untuk memudahkan pembidikan pada kamera Single
Lens Reflex (SLR), dan pada tahun yang sama Jepang mulai memasuki dunia fotografi dengan
produksi kamera NIKON. Tahun 1972 mulai dipasarkan kamera Polaroid yang ditemukan oleh
Edwin Land. Kamera Polaroid mampu menghasilkan gambar tanpa melalui proses
pengembangan dan pencetakan film. Ada pun kamera analog yang juga menggunakan rol film.
Namun dari segi ukuran, kamera ini lebih kecil dan mudah dibawa. Hanya saja jika ingin melihat
hasil potret, harus dicuci cetak di dalam ruangan yang tidak ada cahaya matahari. Kamera analog
merupakan kamera yang baik dalam menangkap pantulan cahaya matahari. Hal ini disebabkan
oleh adanya daya sensitifitas kamera yang besar dalam menyatukan cahaya dan membentuk
gambar.
Penemuan cahaya buatan dalam bentuk lampu kilat pun telah menjadi sebuah aliran
tersendiri dalam fotografi. Cahaya yang dinamai sinar-X kemudian membuat fotografi menjadi
berguna dalam bidang kedokteran. Pada tahun 1901, seorang peneliti bernama Conrad Rontgen
menemukan pemanfaatan sinar-X untuk pemotretan tembus pandang. Temuannya ini lalu
mendapat Hadiah Nobel dan peralatan yang dipakai kemudian dinamai peralatan rontgen.
Cahaya buatan manusia dalam bentuk lampu sorot dan juga lampu kilat (blits) kemudian juga
menggiring fotografi ke beberapa ranah lain. Pada tahun 1940, Dr Harold Edgerton yang dibantu
Gjon Mili menemukan lampu yang bisa menyala-mati berkali-kali dalam hitungan sepersekian
detik. Lampu yang lalu disebut strobo ini berguna untuk mengamati gerakan yang cepat. Foto
atlet loncat indah yang sedang bersalto, misalnya, bisa difoto dengan strobo sehingga
menghasilkan rangkaian gambar pada sebuah bingkai gambar saja. Demikian pula penemuan
film inframerah yang membantu berbagai penelitian. Kabut yang tidak tembus oleh cahaya biasa
bisa tembus dengan sinar inframerah. Tidaklah heran, fotografi inframerah banyak dipakai untuk
pemotretan udara ke daerah-daerah yang banyak tertutup kabut.
Teknologi digital sudah sedemikian merasuk ke hampir seluruh sendi kehidupan manusia.
Salah satunya dan mungkin tergolong fenomenal adalah bidang fotografi dengan ditemukannya
kamera digital. Sejak ditemukannya pixel (picture element), inilah awal mulanya revolusi dalam
dunia fotografi. Dengan dasar memotret tanpa film dan dapat dilihat dengan cepat tanpa harus
mencetaknya terlebih dahulu.
Fotografi merupakan salah satu hobi yang juga menggunakan salah satu bentuk teknologi.
Dengan menggunakan kamera, kita dapat merekam sebuah objek dan cahaya kemudian
mencetaknya menjadi sebuah gambar. Kamera tidak dapat dipisahkan dari teknologi, karena
hingga saat ini masih banyak banyak perusahaan-perusahaan kamera ternama berlomba-lomba
untuk menciptakan kamera yang semakin canggih, atau sering juga disebut kamera digital. Kalau
dulu kamera sebesar mesin jahit hanya bisa menghasilkan gambar yang tidak terlalu tajam, kini
kamera digital yang cuma sebesar dompet mampu membuat foto yang sangat tajam dalam
ukuran sebesar koran. Pilihan kamera digital di pasaran sekarang ini pun beragam macam.
Banyak jenis kamera digital yang hadir saat ini antara lain Automatic SLR, Waterproof camera,
Underwater camera, Wide-view camera dan lain sebagainya.
Seiring dengan jalannya perkembangan fotografi, dewasa ini semakin banyak saja
fotografer yang mengandalkan kamera Digital Single Lens Reflex (DSLR) dalam setiap foto yang
dihasilkan. Keunggulan dari kamera ini adalah ada banyaknya aplikasi pendukung dalam
menghasilkan gambar yang tajam dan beresolusi baik. Sayangnya, banyak manusia yang
mengalami bias dalam mengerti fotografi. Fotografi kini hanyalah menjadi sebuah ajang gaya-
gayaan. Jika punya uang, kamera seharga apapun pasti dibeli kemudian bisa digunakan untuk
sekedar jepret-jepret saja. Secara instan mereka menganggap bahwa merekam cahaya dan
objek dengan menggunakan digital lebih mudah dari pada harus mencari-cari cahaya dengan
kamera manual. Namun pada kenyataannya, kamera manual jenis analog diakui lebih mampu
menangkap cahaya yang dipantulkan oleh matahari dari pada kamera digital. Namun jika
kembali memperhatikan segi kepraktisan dalam proses melihat hasil foto, tidak heran jika
kebanyakan orang lebih menggunakan kamera digital.
Dunia fotografi kini juga megalami banyak program profesi. Berbagai pekerjaan lahir
dari fotografi. Misalnya saja fotografer komersil, wedding dan jurnalistik. Tiga profesi ini adalah
jenis pekerjaan yang sangat menjanjikan dalam menghasilkan limpahan uang. Jasa fotografi yang
biasanya dilakukan oleh perantara sebuah lab foto, sekarang mulai diambil alih oleh situs-situs
internet. Teknologi kamera digital yang dimulai dengan gambar-gambar beresolusi rendah,
sekarang sudah jauh berkembang dibanding lima tahun lalu. Perkembangan fotografi semakin
pesat karena banyaknya sekolah-sekolah yang mengajarkan fotografi secara menyeluruh dan
terperinci agar manusia tidak menjadi korban digitalisasi fotografi atau bias fotografi. Karena
adanya digitalisasi fotografi yang menjadi fenomenal kini, banyak hasil foto yang melenceng
dari hasil awal. Objek dapat diubah-ubah sesuai keinginan dengan hitungan sepersekian detik.
Hal inilah yang dihindari dalam menunjukkan orisinilitas hasil foto.
Pengalaman menggunakan kamera digital dan konvensional memang memberikan
beberapa nuansa yang sama sekali baru. Setidaknya, hasil foto-foto yang diambil bisa langsung
dilihat hasilnya seketika. Hasil seketika ini memang memberikan dimensi lain, antara lain siapa
saja dan di mana saja seseorang berada bisa berbagi foto hasil jepretannya dalam seketika. Hal
lain yang juga dicermati adalah proses belajar fotografi pun menjadi semakin cepat dan bisa
disimak oleh siapa saja yang berminat tanpa khawatir akan membuang uang karena harus
membeli beberapa rol film.
Digital bukan manipulasi, sayangnya pengetahuan masyarakat akan fotografi digital
masih sangat terbatas bahkan cenderung negatif. Umumnya mereka beranggapan bahwa
memotret dengan kamera digital tidak perlu belajar mengenai fotografi. Hanya dengan sekali
jepret dan jika cahaya kurang bisa diperbaiki dengan komputer.
Tidak bisa dipungkiri digitalisasi telah meningkatkan pertumbuhan berbagai produk
konsumen elektronik, termasuk kamera digital. Kemajuan teknologi yang dihasilkan dalam
konvergensi kemajuan teknologi digitalisasi juga menghadirkan fenomena yang belum pernah
terjadi sebelumnya ketika kamera digital mengalami pertumbuhan yang signifikan. Digitalisasi
mencoba menyingkirkan daerah manual teknologi yang masih identik dengan membuang uang,
tenaga, tempat dan waktu. Kini banyak orang yang mengutamakan kepraktisan, keindahan
dengan sentuhan editing dan kecepatan dalam melihat hasil cetak foto. Hal ini ditunjukkan
dengan banyak munculnya kamera digital yang digunakan oleh fotografer di seluruh dunia.
Hadirnya banyak pilihan merk kamera dan aksesorisnya membuat penggemar fotografi semakin
dimanjakan. Beberapa merk kamera yang beredar antara lain Nikon, Canon, Pentax, Olympus,
Sony dan lain sebagainya. Beberapa macam produk ini menawarkan banyak kemudahan. Dengan
bentuk yang disederhanakan dan aplikasi yang beragam membuat banyak orang yang
menggunakan kamera untuk mengabadikan gambar mereka.
Sebuah kepraktisan yang dilahirkan dari teknologi auto digital memang menguntungkan
beberapa pihak yang berkecimpung di dalamnya. Dalam dunia fotografi sangat tidak
memungkinkan sebuah kamera obscura yang seperti mesin jahit harus dibawa kemana-mana saat
pemotretan. Selain itu sangat memakan banyak waktu jika harus memotret hingga 100 kali untuk
mendapatkan hasil yang maksimal. Di tengah kehidupan manusia yang serba cepat dan menuntut
kepraktisan dua hal tersebut tidak mungkin dilakukan. Namun, dahulu fotografi memang hanya
digunakan sebatas untuk menunjukkan keindahan alam atau objek yang penuh akan seni. Dengan
menggunakan kamera manual maka hasil foto akan lebih memperlihatkan kemampuan seorang
fotografer dalam menyiasati cahaya yang asalnya hanya dari matahari. Kini, di dalam sebuah
studio saja manusia telah mampu menciptakan sebuah hasil foto yang bercita rasa seni tinggi.
Hanya dengan beberapa jepretan foto saja seorang fotografer handal mampu membuat sebuah
objek menjadi maksimal. Sangat dirasa banyak sekali keuntungan yang didapat manusia saat ini
dengan adanya digitalisasi fotografi dan terutama dikalangan penggemar fotografi.
Perkembangan teknologi yang menyebar luas ke segala sendi kehidupan manusia,
menuntut manusia harus kreatif dalam mengakali segala perkembangan tersebut. Apabila
terlambat sedikit maka manusia bisa terkalahkan oleh hadirnya teknologi itu sendiri. Ketika era
digital masuk dalam ruang lingkup fotografi, hobi ini menjadi sebuah hobi yang mahal dan tidak
semua kalangan mampu menjangkaunya. Segi kepraktisan ekonomi sudah hilang dimakan
majunya teknologi. Terkadang, hambatan manusia untuk berkarya secara masksimal adalah dari
segi ekonomi. Kini, hobi fotografi hanya berada di kalangan orang-orang yang berduit dan
bergaji besar. Dari sinilah fotografi kemudian berkembang menjadi hobi yang dikomersilkan.
Dengan menggali hobi fotografi, sangat memungkinkan manusia untuk mendapatkan hasil
berupa materi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tak perlu orang yang berduit saja yang
mempunyai hobi fotografi, namun orang-orang di kalangan biasa bisa mendalami hobi
menggambar cahaya ini.
Dewasa ini, sangat sering ditemukan banyaknya bisnis di bidang fotografi. Semakin
berkembangnya era digital semakin banyak orang mengikuti arus perkembangannya. Seakan
tidak ingin ketinggalan dengan bisnis-bisnis lainnya yang ada, di mata bisnis, fotografi ini
memang sangat menguntungkan. Banyak orang yang ingin mengabadikan setiap momen
bersama orang-orang tersayang di dalam sebuah gambar cetak yang berseni tinggi.
Kini harga kamera pun tidak semahal dulu. Sekarang, kamera bisa dibeli dengan harga
relatif terjangkau. Bahkan bisa pula dibeli dengan cara kredit. Sehingga memudahkan setiap
orang dalam memulai usaha fotografinya. Hanya bermodalkan satu kamera, orang sudah bisa
memulai bisnis ini.
1
Tidak diragukan lagi bahwa berbisnis di bidang fotografi sangat
menjanjikan saat ini.
Bukan hal yang mengherankan jika banyak fotografer atau bahkan pebisnis yang tidak
mengetahui ranah fotografi berlomba-lomba membangun bisnis ini. Melihat semakin banyaknya
orang-orang yang termakan budaya digital, semakin banyak keinginan orang untuk
mengabadikan momen-momen penting untuk kenang-kenangan mereka. Misalnya saja bagi
pasangan yang akan melangsungkan pernikahan. Jika dahulu, pasangan pengantin hanya
menyebarkan undangan yang polos tanpa ada foto, kini telah merebak undangan dengan
menyelipkan beberapa hasil foto pre-wedding pada undangan mereka. Selain itu, ada juga
pasangan pengantin yang menggunakan jasa fotografer untuk mengabadikan acara
pernikahannya dari awal hingga akhir acara.
Studio foto, bridal dan studio memang menjadi bisnis yang cukup menjanjikan.
Fotografer hanya menjual konsep foto dan kemudian dana yang diperlukan menjadi tanggungan
pasangan pengantin tersebut. Untuk membuat sebuah foto yang memiliki efek meosi yang
diinginkan, maka klien harus berani membayar jasa fotografer dengan harga mahal. Proses untuk
mencapai hasil foto yang maksimal masih harus melalui beberapa tahap lagi, yaitu tahap editing.
Dari tahap ini, klien bisa ikut serta untuk mengedit foto sesuai dengan keinginan mereka atau
sepenuhnya diserahkan kepada fotografer. Proses ini termasuk proses yang lumayan panjang dan
sangat membutuhkan jasa teknologi yang canggih. Karena visualisasi gambar yang diinginan
oleh klien biasanya bukan hanya foto biasa yang sekadar hasil kamera saja. Oleh karena itu saat
ini fotografer tidak hanya harus bisa memotret tetapi juga mengedit foto agar hasilnya lebih
bagus dan memuaskan.
Dunia bisnis dan ekonomi sekarang memang tidak bisa dipisahkan oleh bidang apapun.
Banyak bidang yang digerogoti oleh bisnis. Tak luput juga bidang fotografi. Sebuah hobi yang
juga bisa menjadi sebuah lapangan kerja bagi para penggemarnya. Bahkan tidak tanggung-

1
Lihat di http://www.infokomunitas.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1083&Itemid=28
tanggung hasil yang mampu didapatkan oleh seorang fotografer yang membuka sebuah jasa foto
studio ini. Tidak heran jika majunya teknologi semakin membuat banyak orang yang
mempelajari bidang fotografi ini untuk menjadikannya sebuah profesi yang profit. Sehingga
menimbulkan sebuah persaingan dalam bidang kreatifitas. Dalam menyikapi tingginya kompetisi,
sudah menjadi keharusan mereka yang bergelut di dunia fotografi harus pintar-pintar melakukan
improvisasi dari memberikan paket menarik, menghasilkan kualitas foto yang bagus, memberi
servis personal, sampai memberi harga yang kompetitif dan lain sebagainya. Bahkan banyak juga
dari mereka yang ringan memberi diskon untuk menggaet customer Bisnis fotografi ini sangat
kental dalam bisnis kreatif, apabila ada seorang fotografer mampu menghasilkan ide kreatif yang
inovatif maka ia akan bertahan, sebaliknya apabila tidak ada kreatifitas dari murninya ide atau
plagiat mengakibatkan sang fotografer hulang tanpa nama dan hasil karya.
Di atas semua itu, bisnis fotografi ke depan cukup potensial sejauh kita mengetahui celah
bisnis yang memang belum diisi banyak pesaing. Pasalnya, kita tidak tahu seberapa banyak
orang yang sudah melek kamera yang potensial menjadi pesaing bagi usaha fotografi ke depan.
Kalau tidak pintar-pintar mencari improvisasi dan kreatif, bisa jadi bukannya untung malah
buntung. Kondisi ini bisa menimpa siapa saja terlepas mereka yang bermodal besar atau kecil.













DAFTAR PUSTAKA

Leggat, Robert. The History of Photography. 1995. http://www.rleggat.com/photohistory/
http://inventors.about.com/od/pstartinventions/a/stilphotography.htm
Artikel mengenai Bersaing di Segmen Kamera SLR Digital. 2009. www.kompas.com
Artikel mengenai Strategi Paralel Modern Photo di Era Digital. 2005.
http://www.swa.co.id/cetak.php?cid=1&id=3281&url=http%3A%2F%2Fwww.swa.co.id
%2Fswamajalah%2Fpraktik%2Fdetails.php%3Fcid%3D1%26id%3D3281
Artikel yang ditulis oleh seorang fotografer freelance bernama Gustam, Yogi. Liputan Usaha
Fotografi - Lebih Menjual dengan Digital. Friday, 12 June 2009
http://www.infokomunitas.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1083&It
emid=28