Anda di halaman 1dari 10

Agung Hartanto 07120100084

1 | F K U P H

LAPORAN KASUS MALNUTRISI
PUSKESMAS KELAPA DUA

A. IDENTITAS PASIEN
No rekam medis : 271003
Nama : Anak K
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Usia : 2 tahun
Status : Anak kandung
Alamat : -
Suku bangsa : Pribumi (Sunda)

IDENTITAS ORANG TUA
Ayah : Bapak H
Usia : 31
Pekerjaan : Penjual makanan keliling
Pendidikan : SD
Suku bangsa : Pribumi (Sunda)
Ibu : Ibu S
Usia : 29
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Pendidikan : SD
Suku bangsa : Pribumi (Sunda)

B. DATA DAN RIWAYAT PENYAKIT PASIEN
(Dilakukan secara alloanamnesis)

Keluhan utama :
Berat badan tidak kunjung bertambah sejak 1 tahun yang lalu.

Keluhan tambahan :
Batuk kering dan sariawan.

Riwayat penyakit sekarang :
Ibu pasien membawa anaknya ke puskesmas karena tidak ada penembahan berat
badan hampir selama satu tahun ini. Ibu pasien juga mengatakan bahwa pertumbuhan
anaknya tidak seperti temen-teman sebayanya. Tinggi badan pasien 96 cm, tinggi
badan pasien juga tidak melihatkan ada pertambahan. Dan 5 hari yang lalu pasien
mengalami batuk tidak disertai dahak (batuk nonproduktif), pasien tidak mengeluh
pilek dan sakit tenggorakan. Batuk terjadi terutama pada malam hari. Batuk juga lebih
parah apalagi udara dingin. Ibu pasien juga mengatakan bahwa anaknya muncul
sariawan sejak 2 hari yang lalu. Sariawan yang dialami terletak di bibir bawah dan
mempunyai diameter sekitar 2 mm. Apabila pasien makan sesuatu pasien merasakan
Agung Hartanto 07120100084

2 | F K U P H

perih pada bagian sariawan jika terkena bagian sariawan itu. Setelah dilihat didalam
rekam medis memang benar dalam satu tahun ini tidak adanya perubahan berat badan
dan tinggi pasien dan juga dalam satu tahun ini pasien sudah ke puskesmas sebanyak
5 kali dengan keluhan batuk, pilek, dan demam. Menurut pengakuan ibu setelah
diberikan obat dari puskesmas sembuh. Obat yang diberikan paracetamol dan vitamin
C. Dan menurut pengakuan dari ibunya dari kecil pasien tidak pernah mendapat ASI
langsung dari ibunya, karena saat lahirpun pasien lahir sebelum saatnya dikarenakan
kandungan ibunya tidak kuat jadi pasien harus dirawat dulu, sehingga ibu pasien tidak
bisa memberikan ASI langsung. Selama satu tahun ini ibu pasien mengaku pasien
makan 3 kali dalam sehari, makanan yang dikonsumsi hanya nasi dengan tempe atau
nasi dengan tahu saja karena pasien hanya mau makan jika ada lauk seperti itu. Pasien
tidak mengkonsumsi makanan seperti daging dan ikan dikarenakan tidak ada biaya
lebih untuk menyediakan lauk seperti itu. Aktivitas sehari-hari pasien tidak terganggu.

Riwayat kelahiran :
(Tercatat di dalam medical record)
Pasien terlahir spontan per vaginum yaitu 7 bulan 1 minggu(prematur), minggu ke-29
Berat badan = 2100 gram (normal 2500-4000 gram)
Panjang badan = 41 cm (normal 48-52 cm)
APGAR = 9

Riwayat alergi :
Alergi disangkal oleh ibu pasien.

Riwayat imunisasi : (Lengkap)
BCG : Usia 1 bulan
DPT : Usia 2, 4, dan 6 bulan
Hepatitis B : Usia 1 bulan
Polio : Usia 2, 4, dan 6 bulan
Campak : Usia 9 bulan

Riwayat sosial yang mempengaruhi kesehatan :
Ibu pasien mengaku anaknya mempunyai pola makan dalam sehari 3 kali. Pola BAB
(buang air besar) 1 kali dalam sehari. Pola BAK (buang air kecil) tidak pasti dalam
sehari 4 kali sehari tergantung seberapa banyak minum pasien. Pola Tidur pasien rata-
rata 6 jam dalam sehari.

Pemeriksaan fisik :
Keadaan umum : Pasien sakit sedang
Kesadaran : compos mentis
Tanda-tanda vital
- Tekanan darah : Tidak dilakukan
- Nadi : 70x/menit
- Laju pernapasan : 18x/menit
Agung Hartanto 07120100084

3 | F K U P H

- Suhu tubuh : 37,4
0
C
- Tinggi badan : 96 cm
- Berat badan : 10 kg

Pemeriksaan Fisik Sistematis
Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan
Kulit Turgor normal. Tidak kterik dan sianosis. Tidak ada lesi atau
jejas.
Kepala Normosefali tanpa tanda trauma dan deformitas.
Rambut Rambut berwarna hitam. Rambut kering.
Mata Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik /. Pupil bulat isokor
3, refleks cahaya langsung +/+, refleks cahaya tidak
langsung +/+. Mata tidak tampak cekung.
Telinga Bentuk daun telinga normal dan simetris. Tidak ada lesi,
perdarahan, dan cairan.
Hidung Bentuk normal, septum nasi di tengah. Tidak ada lesi,
perdarahan, dan cairan.
Tenggorokan Faring tidak hiperemis.
Mulut dan Gigi Mukosa mulut kering dan bibir kering, tidak ada lesi dan
leukoplakia. Gigi dan gusi baik, tidak ada perdarahan.
Hygiene baik. Pada bibir bawah terdapat stomatitis aphte
reccurent berdiameter sekitar 2 mm.
Leher Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening. Tidak ada lesi.
Paru
Inspeksi


Palpasi

Perkusi
Auskultasi

Dinding dada simetris kanan dan kiri statis dan dinamis.
Bentuk dada normal. Tidak ada retraksi dan penggunaan otot
pernapasan tambahan. Tidak ada lesi dan massa.
Dada simetris kanan dan kiri. Taktil fremitus kanan dan kiri
simetris dalam batas normal.
Terdengar suara sonor
Vesikuler +/+ normal, ronchi /, wheezing /.
Jantung
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

Tidak tampak iktus kordis.
Tidak dilakukan pemeriksan (normal tidak ada nyeri pada
waktu palpasi dan terasa denyut jantung)
Tidak dilakukan pemeriksan
S1, S2 (+) normal. Mur-mur (). Tidak ada bunyi tambahan.
Abdomen
Inspeksi
Auskultasi
Palpasi

Perkusi

Dinding abdomen simetris, cembung. Tidak ada massa dan
lesi.
Bising usus (+) meningkat 25x/menit. Bruit ().
Nyeri tekan (-). Hati dan limpa tidak teraba. Ginjal tidak
teraba. Nyeri ketok CVA ().
Agung Hartanto 07120100084

4 | F K U P H

Timpani, shifting dullness ().
Punggung Tidak ada lesi dan massa.
Letak tulang normal.
Alat Kelamin Tidak dilakukan pemeriksaan.
Anus Tidak dilakukan pemeriksaan.
Ektremitas Atas Tidak ada deformitas, edema, dan sianosis. Capillary filling
baik, < 2 detik.
Ekstremitas Bawah Tidak ada deformitas, edema, dan sianosis. Capillary filling
baik, < 2 detik.

C. PEMERIKSAAN PENUNJANG YANG PERLU ATAU SUDAH DILAKUKAN
Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan :
- Pemeriksaan darah dapat dilakukan untuk melihat banyak hal, antara lain adanya
kemungkinan infeksi (penurunan nafsu makan karena infeksi), ataupun adanya
anemia yang disebabkan oleh defisiensi nutrisi seperti zat besi, folate ataupun
vitamin B-12
- Pemeriksaan serum protein termasuk albumin, retinol, prealbumin, dan transferin.
Pemeriksaan albumin sangat penting untuk pengukuran jangka panjang dari
malnutrisi. Albumin yang rendah menandakan tanda-tanda kurangnya asupan
yang dapat berlanjut ke keadaan Kwashiorkor.
- Mantoux tes. Pada anak dengan penampilan kurus dan berat badan yang susah
untuk bertambah, seringkali disebabkan oleh penyakit TB oleh bakteri
Mycobacterium tuberculosis. Oleh karena itu, tes Mantoux ini dilakukan untuk
menyingkirkan diagnosis TB pada anak.

D. RINGKASAN
Anak K berumur 2 tahun bersama ibunya datang ke puskesmas kelapa dua dengan
keluhan berat badan tidak kunjung naik satu tahun ini. Dan 5 hari yang lalu pasien
mengalami batuk tidak disertai dahak (batuk nonproduktif). Batuk terjadi terutama
pada malam hari. Batuk juga lebih parah apalagi udara dingin. Ibu pasien juga
mengatakan bahwa anaknya muncul sariawan sejak 2 hari yang lalu. Sariawan yang
dialami terletak di bibir bawah dan mempunyai diameter sekitar 2 mm. Didalam
rekam medis dalam satu tahun ini pasien tidak mengalami perubahan berat badan dan
tinggi pasien, serta dalam satu tahun ini pasien sudah ke puskesmas sebanyak 5 kali
dengan keluhan batuk, pilek, dan demam. Menurut pengakuan ibu setelah diberikan
obat dari puskesmas sembuh. Obat yang diberikan paracetamol dan vitamin C. Dan
menurut pengakuan dari ibunya dari kecil pasien tidak pernah mendapat ASI langsung
dari ibunya, karena saat lahirpun pasien lahir sebelum saatnya dikarenakan kandungan
ibunya tidak kuat jadi pasien harus dirawat dulu, sehingga ibu pasien tidak bisa
memberikan ASI langsung. Selama satu tahun ini ibu pasien mengaku pasien makan 3
kali dalam sehari, makanan yang dikonsumsi hanya nasi dengan tempe atau nasi
dengan tahu saja karena pasien hanya mau makan jika ada lauk seperti itu. Pasien
tidak mengkonsumsi makanan seperti daging dan ikan dikarenakan tidak ada biaya
Agung Hartanto 07120100084

5 | F K U P H

lebih untuk menyediakan lauk seperti itu. Aktivitas sehari-hari pasien tidak terganggu.
Pasien memiliki riwayat kelahiran yaitu dengan berat 2100 gram(normal 2500-4000
gram) dan panjang badan 41 cm(normal 48-52 cm) premature (7 bulan 1 minggu).
Dalam pemeriksaan fisis didapatkan berat badan 10 kg dan tinggi badan 96 cm,
terdapat stomatitis aphte reccurent (sariawan) pada bibir bawah berdiameter 2 mm.

E. ANALISA
Diagnosis kerja :
Malnutrisi grade 2 (Moderate malnutrisi), dilihat dari 2 sumber

Pertama KMS, karena berat badan pasien tidak sesuai dengan seharusnya menurut
KMS (Kartu Menuju Sehat), yang seharusnya pada umur antara 1-3 tahun mempunyai
berat badan 12-14 kg, tetapi pada pasien ini mempunyai berat badan hanya 10 kg.
Berat badan 10 kg pada umur 2 tahun dijelaskan di KMS dibawah garis normal atau
sudah garis merah yang artinya anak tersebut kekurangan gizi yang dibutuhkan saat
umur tersebut dan pasien menunjukkan gejala-gejala berat badan yang tidak naik
dalam setahun terakhir.

Serta kedua menurut CDC (Center of Disease Control), berat badan menunjukan < 5
percentile, Berat badan yang ideal seharusnya untuk anak berumur 2 tahun adalah 13
kg. Pasien ini didiagnosa moderate malnutrisi.


Waterloo Criteria for Malnutrition
Malnutrition(wasting) =



Grade 0 Normal >90%
Grade 1 Mild 81-90%
Grade 2 Moderate 70-80%
Grade 3 Severe <70%



Malnutrition(wasting) =


x 100% = 76,9% Waterloo grade 2 moderate
malnutrition

Agung Hartanto 07120100084

6 | F K U P H



Diagnostik banding :
Kwashiorkor adalah gangguan gizi karena kekurangan protein biasa sering disebut
busung lapar. Gejala yang timbul diantaranya adalah edema di seluruh tubuh terutama
punggung kaki, wajah membulat dan sembab, perubahan status mental : rewel kadang
apatis, menolak segala jenis makanan (anoreksia), pembesaran jaringan hati, rambut
kusam dan mudah dicabut, gangguan kulit yang disebut crazy pavement, pandangan
mata tampak sayu.
Diagnosis ini bisa disingkirkan karena pasien bukan kekurangan protein tetapi
kekurangan gizi yang baik, bisa dibuktikan lewat pasien setiap hari makan tempe dan
Berat badan pasien
Berat badan normal
usia 2 tahun
Agung Hartanto 07120100084

7 | F K U P H

tahu. Tempe dan Tahu memenuhi kebutuhan protein dalam sehari, tetapi tidak untuk
gizi. Serta dalam pemeriksaan fisis tidak didapatkan edema di tubuh pasien.

1. Berat badan di atas 60% dari normal dan tanpa edema : malnutrisi
2. Berat badan di atas 60% dari normal dan edema : kwashiorkor.
3. Berat badan di bawah 60% dari normal dan edema : marasmic-kwashiorkor.
4. Berat badan di bawah 60% dan tanpa edema : marasmus.


F. THERAPEUTIC REASONING
Natural history : Penderita malnutrisi adalah penderita yang kekurangan asupan gizi,
tidak ada gejala awal yang terlihat pada tahap awal, gejala yang timbul badan terlihat
kurus, berat badan kurang, dan cepat lemas. Jika tidak mendapat perhatian khusus
malnutrisi bisa berkambang menjadi Kwashiorkor yaitu kekurangan gizi dan protein
dengan gejala pasien mengalami pembesaran hati, rambut rontok, napsu makan
rendah, dan berat badan dibawah normal. Apabila hal ini juga tidak mendapat
penanganan lagi akan bisa menjadi marasmus kwashiorkor yaitu defiensi vitamin,
protein, dan gizi serta mempunyai ciri-ciri sangat kurus, rambut jagung dan mudah
rontok, perut buncit, punggung kaki bengkak. Dan yang paling parah apabila tidak
dapat penanganan khusus akan menjadi marasmus, berat badan <60% dari normal dan
tanpa edema.

Management plan :
a. Formula WHO : suplemen makanan tentang nilai gizi yang diperlukan. Pasien ini
diharuskan menggunakan formula 75 terlebih dahulu. Pemberian dilakukan secara
bertahap. Pertama F 75 (stabilisasi), selanjutnya F 100 (transisi), dan terakhir F 135
(rehabilitasi).

Bahan Makanan Per 1000 ml F 75 F 100 F 135
Formula WHO
susu skim bubuk G 25 85 90
gula pasir G 100 50 65
minyak sayur G 30 60 75
larutan elektrolit Ml 20 20 27
tambahan air Ml 1000 1000 1000
Nilai Gizi
Energi Kkal 750 1000 1350
Protein G 9 29 33
Laktosa G 13 42 48
Kalium Mmol 36 59 63
Natrium Mmol 6 19 22
Magnesium Mmol 4,3 7,3 8
Seng Mg 20 23 30
Agung Hartanto 07120100084

8 | F K U P H

Tembaga Mg 2,5 2,5 3,4
% energi protein - 5 12 10
% energi lemak - 36 53 57
Osmolaritas Mosml 413 419 508

b. Vit. B Kompleks : untuk menambah daya tahan tubuh, 3 x 1 tablet (50 mg)
c. Cotrimoxazol : bekerja sebagai bakterisit, 2x1 tablet (120mg)
d. Albothyl : untuk sariawan (10 ml)

G. REAKSI PASIEN
F (Feeling) : Pasien merasa sangat terganggu dengan batuk dan sariawan
yang dialaminya
I (Insight) : Menurut ibu pasien, penyakitnya menyebabkan tidak nafsu
makan
F (Function) : Pasien tidak bisa makan dengan enak karena sariawan yang
dideritanya
E (Expectation) : Pasien berharap penyakit ini sembuh total dan bisa
beraktivitas seperti biasanya

H. REKOMENDASI
Memberi tahu pasien untuk teratur meminum obat yang telah diberikan
Memberi tahu ibu pasien agar mempersiapkan makanan 4 sehat 5 sempurna
untuk pasien dan menambah nafsu makan pasien
Memberi tahu ibu pasien agar memperhatikan lingkungan pasien sehingga
penyakit serupa tidak terulang
Memberi tahu ibu pasien untuk menjaga makanan anak sewaktu di diluar
rumah(makan jajan-jajanan)

I. PEMBAHASAN PENYAKIT
Malnutrisi adalah suatu keadaan di mana tubuh mengalami gangguan dalam
penggunaan zat gizi untuk pertumbuhan, perkembangan dan aktivitas. Malnutrisi
dapat disebabkan oleh kurangnya asupan makanan maupun adanya gangguan
terhadap absorbsi, pencernaan dan penggunaan zat gizi dalam tubuh. Kurangnya
asupan makanan dan adanya penyakit merupakan penyebab langsung malnutrisi yang
paling penting. Penyakit, terutama penyakit infeksi, mempengaruhi jumlah asupan
makanan dan penggunaan nutrien oleh tubuh. Kurangnya asupan makanan sendiri
dapat disebabkan oleh kurangnya jumlah makanan yang diberikan, kurangnya kualitas
makanan yang diberikan dan cara pemberian makanan yang salah. Di Indonesia,
angka kebutuhan energi untuk kelompok umur 0-6 bulan adalah 550 kkal/hari,
kelompok umur 7-12 bulan 650 kkal/hari, kelompok umur 1-3 tahun 1000 kkal/hari,
dan kelompok umur 4-6 tahun 1550 kkal/hari.
Pemberian makanan tambahan sebagai pendamping ASI dimulai saat anak berusia 6
bulan dengan tetap memberikan ASI. Pemberian makanan tambahan ASI dinaikkan
Agung Hartanto 07120100084

9 | F K U P H

bertahap dari segi jumlah, frekuensi pemberian, dan jenis dan konsistensi makanan
yang diberikan. Untuk anak yang mendapatkan ASI, rata-rata makanan tambahan
yang harus diberikan 2-3 kali/hari untuk usia 6-8 bulan, 3-4 kali/hari untuk usia 9-11
bulan dan 4-5 kali/hari usia 12-24 bulan. Jika densitas dalam makanan rendah atau
anak tidak lagi mendapatkan ASI mungkin diperlukan frekuensi makan yang lebih
sering. Variasi makanan diberikan untuk memenuhi kebutuhan nutrien. Daging, ayam,
ikan atau telur harus diberikan setiap hari atau sesering mungkin. Demikian pula buah
dan sayuran, sebaiknya diberikan setiap hari. Kegagalan untuk menyediakan asupan
makanan sesuai angka kebutuhan ini secara terus-menerus akan menyebabkan
gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Secara klinis, malnutrisi dinyatakan
sebagai gizi kurang dan gizi buruk. Gizi kurang belum menunjukkan gejala khas,
belum ada kelainan biokimia, hanya dijumpai gangguan pertumbuhan. Gangguan
pertumbuhan dapat terjadi dalam waktu singkat dan dapat terjadi dalam waktu yang
cukup lama. Gangguan pertumbuhan dalam waktu yang singkat sering terjadi pada
perubahan berat badan sebagai akibat menurunnya nafsu makan, sakit seperti diare
dan ISPA, atau karena kurang cukupnya makanan yang dikonsumsi. Sedangkan
gangguan pertumbuhan yang berlangsung lama dapat terlihat pada hambatan
pertambahan panjang badan. Pada gizi buruk disamping gejala klinis didapatkan pula
kelainan biokimia yang khas sesuai bentuk klinis. Pada gizi buruk didapatkan 3
bentuk klinis yaitu kwashiorkor, marasmus,dan marasmus kwashiorkor. Kwashiorkor
adalah gangguan gizi karena kekurangan protein biasa sering disebut busung lapar.
Gejala yang timbul diantaranya adalah edema di seluruh tubuh terutama punggung
kaki, wajah membulat dan sembab, perubahan status mental: rewel kadang apatis,
menolak segala jenis makanan (anoreksia), pembesaran jaringan hati, rambut kusam
dan mudah dicabut, gangguan kulit yang disebut crazy pavement,pandangan mata
tampak sayu. Pada umumnya penderita sering rewel dan banyak menangis. Pada
stadium lanjut anak tampak apatis atau kesadaran yang menurun. Untuk menentukan
status gizi menggunakan beberapa langkah. Langkah pertama adalah dengan melihat
berat badan dan umur anak disesuaikan dengan grafik KMS (Kartu Menuju Sehat).
Bila dijumpai berat badan di bawah garis merah (BGM) maka dilanjutkan dengan
langkah menentukan status gizi balita dengan menghitung berat badan terhadap tinggi
badan (BB/TB) berdasarkan standar WHO-NCHS. Dinyatakan gizi buruk bila BB/TB
<-3 SD standar WHO-NCHS.

Serta menurut CDC (Center of Disease Control), berat badan menunjukan percentile
Waterloo Criteria for Malnutrition
Malnutrition(wasting) =



Grade 0 Normal >90%
Grade 1 Mild 81-90%
Grade 2 Moderate 70-80%
Grade 3 Severe <70%

Agung Hartanto 07120100084

10 | F K U P H


J. DAFTAR PUSTAKA
Adams KM, Lindell KC, Kohlmeier M, Zeisel SH (April 2006). "Status of nutrition
education in medical schools