Anda di halaman 1dari 47

http://grupsyariah.blogspot.

com/2012/06/pancasila-sebagai-konteks-
sejarah.html
BAB I PANCASILA DALAM KONTEKS
SEJARAH PERJUANGAN BANGSA INDONESIA
A.Pengantar
Pancasila sebagai dasar negara republik indonesia sebelum di syahkan pada
tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI, nilai-nilainya telah ada pada bangsa indonesia
sejak zaman
dahulu kala sebelum bangsa indonesia mendirikan negara,yang berupa nilai-nilai adat istiadat,
kebudayaan serta nilai-nilai religius
. Nilai-nilai tersebut telah ada dan melekat serta teramalkan dalam kehidupan
sehari-hari sebagai pandangan hidup, sehingga materi Pancasila yang berupa nilaii-
nilai tersebut tidak lain adalah dari bangsa indonesia sendiri, sehingga bangsa
indonesia sebagai kausa materialis Pancasila. Nilai-nilai tersebut kemudian diangkat
dan dirumuskansecara formaloleh para pendiri negara untuk dijadikan sebagai dasar
filsafat negara indonesia. Proses perumusan materi Pancasila secara formal
tersebut dilakukan dalam sidang-sidang BPUPKI pertama, sidang panitia 9, sidang
BPUPKI kedua, serta akhirnya disyahkan secara yuridis sebagai dasar filsafat
negara republik indonesia.
Berdasarkan kenyataan tersebut maka untuk memahami Pancasila secara
lengkap dan utuh tertama dalam kaitannya dengan jati diri bangsa indonesia. Secara
epistemologis sekaligus sebagai pertanggung jawaban Ilmiah, bahwa Pancasila selain
sebagai dasar negara Indonesia juga sebagai pandangan hidup bangsa, jiwa dan
kepribadian bangsa serta sebagai perjanjian luruh bangsa indonesia pada waktu
mendirikan negara.
Nilai-nilai esensial yang terkandung dalam Pancasila yaitu: Ketuhanan,
Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan serta Keadilan, dalam kenyataannya secara
objektif telah dimiliki oleh bangsa Indonesia sejak zaman dahulu kala sebelum
mendirikan negara. Proses terbentuknya negara dan bangsa Indonesia yaitu sejak
zaman batu kemudian timbulnya kerajaan-kerajaan pada abad ke IV, ke V kemudian
dasar-dasarkebangsaan Indonesia telah mulai nampak pada abad ke VII, yaitu
ketika timbulnya kerajaan Sriwijaya dibawah wangsa Syailendra di palembang,
kemudian kerajaan Airlangga dan Majapahit di Jawa Timur serta kerajaan-kerajaan
lainnya.
Dasar-dasar pembentukan nasionalisme modern dirintis oleh para pejuang
kemerdekaan bangsa, antara lain rintisan yang dilakukan oleh para tokoh pejuang
kebangkitan pada tahun 1908, kemudian dicetuskan pada sumpah pemuda pada tahun
1928. Akhirnya titik kulminasi sejarahpejuangan bangsa Indonesia dalam
mendirikan negara tercapai dengan diprok mlamasikannya kemerdekaan Indonesia
pada tanggal 17 agustus 1945.

B.Zaman Kutai
Indonesia memasuki zaman sejarah pada tahun 400 M, dengan
ditemukannya prasasti yang berupa 7 yupa (tiang batu). Berdasarkan prasasti
tersebut dapat diketahui bahwa raja Mulawarman keturunan dari raja Aswawarman
keturunan dari Kudungga. Masarakat kutai yang membuka zaman sejarah Indonesia
pertama kalinya ini menampilkn nilai-nilai politik, dan ketuhanan dalam bentuk
kerajaan, kenduri, serta sedekah kepada para brahmana.
Dalam aman kuno (400-1500) terdapat dua kerajaan yang berhasil mencapai
integrasi dengan wilayah yang meliputi hampir separuh Indonesia dan seluruh
wilayah Indonesia sekarang yaitu kerajaan Sriwijaya di sumatra dan Majapahit yang
berpusat di Jawa.

C.Zaman Sriwijaya
Menurut Mr. M. Yamin bahwa berdirinya negara kebangsaan Indonesia tidak
dapat dipisahkan oleh kerajaan-kerajaan lama yang merupakan warisan nenek
moyang bangsa Indonesia. Negara kebangsaan Indonesia terbentuk melalui
terbentuk melalui tiga yaitu : pertama, zaman Sriwijaya dibawah Syailendra (600-
1400), yang bercirikan kedatuan. Kedua, negara kebangsaan zaman majapahit (1293-
1525), yang bercirikan keprabuan, kedua tahap tersebut merupakan negara
kebangsaan Indonesia lama. Ketiga, negara kebangsaan modern yaitu negara
Indonesia merdeka (sekarang negara Proklamasi 17 Agustus 1945) (Sekretariat
Negara RI., 1995 : 11)
Pada abad ke VII munculah suatu kerajaan di Sumatra yaitu kerajaan
Sriwijaya, di bawah kekuasaan wangsa Syailendra. Hal ini termuat dalam prasasti
Kedukan Bukit dinkaki bukit Siguntang dekat Palembang yang bertarikh 605 caka
atau83 M., dalam bahasa Melayu kuno dan hurf pallawa. Kerajaan itu adalah
kerajaan maritim yang mengandalkan kekuatan lautnya, kunci-kunci lalu lintas laut di
sebelah barat
dikuasainya seperti selat sunda (686), kemudian selat malaka (775). Pada zaman itu
kerajaan Sriwijaya merupakan suatu kerajaan besar yang cukup disegani dikawasan
Asia Selatan. Perdagangan dilakukan dengan mempersatukan dengan pedagang
pengrajin dn pegawai raja yang disebut Tuha An Vatakvurah sebagai pengawas dan
pengumpul semacam koperasi sehingga rakyat mudah untuk memasarkan barang
dagangannya.
Agama dan Kebudayaan dikembangkan dengan mendirikan suatu universitas
agama Budha, yang sangat terkenal di negara lain di Asia. Cita-cita tentang
kesejahteraan bersama dalam suatu negara telah tercermin pada kerajaan sriwijaya
tersebut yaitu berbunyi marvuat vanua Criwijaya siddhayatra subhiksa (suatu
cita-cita negara yang adil dan makmur).

D.Zaman Kerajaan-kerajaan Sebelum Majapahit
Sebelum kerajaan Majapahit muncul sebagai suatu kerajaan yang
memancangkan nilai-nilai nasionalisme, telah muncul kerajaan-kerajaan di Jawa
Tengah dan Jawa Timur secara Silih berganti. Kerajaan Kalingga pada abad ke VII,
Sanjaya pada abad ke VIII yang ikut membantu membangun candi Kalasan untuk
Dewa tara dan sebuah wihara untuk pendeta Budhadidirikan di Jawa Tengah
bersama dinasti Syailendra (abad ke VII dan IX). Refleksi puncak dari Jawa
Tengah dalam periode-periode kerajaan-kerajaan tersebut adlah dibangunnya candi
Borobudur (candi agama budha pada abad ke IX), dan candi Prambanan (candi agama
hindu pada abad ke X).
Selain kerajaan-kerajaan di Jawa Tengah tersebut di Jawa Timur munculah
kerajaan-kerajaan Isana (pada abad ke IX), darmawangsa (abad ke X ) demikian
juga kerajaan Airlangga pada abad ke XI. Agama yang diakui olehkerajaan adalah
agma Budha, agama Wisnu dan agama Syiwa yang hidup berdampingan secara damai
(Toyibin,1997 :26). Demikian pula Airlangga mengalami penggembelengan lahir dan
batin dihutan dan tahun 1019 para pengikut nya rakyat dan para Brahmana.
Di wilayah Jawa Timur berdiri pula kerajaan singasari (pada abad ke XIII),
yang kemudian sangat erat hubungannya dengan berdirinya kerajaan Majapahit.

E.Kerajaan Majapahit
Pada tahun 1293 berdirilah kerajaan Majapahit yang mencapai zaman
keemasanya pada pemerintahan raja Hayam Wuruk dengan mahapatih Gajah Mada
yang dibantu oleh Laksamana Nala dalam memimpin armadanya untuk menguasai
nusantara.
Empu Prapanca menulis Negarakertagama (1365). Dalam kitab tersebut
telah terdapat istilah Pancasila. Empu Tantular mengarang buku Sutasoma, dan
didalam buku itu lah kita jumpai seloka persatuan nasional yaitu Bhinneka Tunggal
Ika yang bunyi lengkapnya bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrua, artinya
walaupun berbeda tapi tetap satu jua.
Sumpah Palapa yang diucapkan oleh Mahapatih Gajah Mada dalam sidang
Ratu dan Menteri-menteridi paseban keprabuan Majapahit pada tahun 1331, yang
berisi cita-cita mempersatukan seluruh nusantara raya sebagai berikut : saya baru
akan berhenti berpuasa makan pelapa,jikalau seluruh nusantara bertakluk di bawah
kekuasaan negara, jikalau Gurun, Seram, Tanjung, Haru, Pahang, Dempo, Bali,
Sunda, Palembang dan Tumasik telah dikalahkan (Yamin, 1960 : 60).
Dalam hubungannya dengan negara lain raja Hayam Wuruk mengadakan
hubungan bertetangga dengan baik dengan kerajaan Tiongkok, Ayodya, Champa, dan
Kamboja.
Majapahit menjulang dalam arena sejarah kebangsaan Indonesia dan banyak
meninggalkan nilai-nilai yang diangkat dalam nasionalisme negara kebangsaan
Indonesia 17Agustus 1945. Disebabkanoleh faktor dalam negeri sendir seperti
prerselisihan dan perang saudara pada permulaan abad XV, maka sinar kejayaan
Majapahit mulai memudardan akhirnya mengalami keruntuhan dengan Sinar Hilang
Kertaning Bumi pada permulaan abad XVI (1520).

F.Zaman Penjajahan
Setelah Majapahit rutuh pada permulaan abad XVI maka berkembanglah
agama islam dengan pesatnya di Indonesia. Bersama dengan itu berkembang pulalah
Kerajaan-kerajaan Islam seperti kerajaan Demak, dan mulailah berdatangan orang-
orang eropa di nusantara, antara lain orang Portugisa portgis yang kemudian di ikuti
oleh orang-orang Spanyol yang ingin mencari pusat tanaman rempah-rempah.
Bangsa asing yang masuk ke Indonesia yang awalnya berdagang adalah
orang-orang bangsa portugis. Namun lama kelamaan bangsa portugis mulai
menunjukkan peranannya dalam bidang perdagangan yang meningkat menjadi
praktek penjajahan misalnya Malaka sejak tahun 1511 dikuasai oleh Portugis.
Pada akhir abad ke XVI Bangsa Belanda datang juga ke Indonesia. Untuk
menghindarkan persaingan diantara mereka sendiri (Belanda) kemudian mereka
mendirikan suatu perkumpulan dagang yang bernama V.O.C.,(Verenigde Oost
Indische Compagnie), yang dikalangan rakyat dikenal dengan istilah Kompeni.
Mataram dibawah pemerintahan Sultan Agung (1613-1645) berupaya
mengadakan perlawanan dan penyerangan ke Bataviapada tahun 1628 dan 1629,
walaupun tidak berhasil meruntuhkan namun Gubernur Jendral J .P. Coen tewas
dalam serangan Sultan Agung yang ke dua itu.
Beberapa saat setelah sultan Agung mangkat maka mataram menjadi bagian
kekuasaan kompeni. Dimakasar yang memiliki kedudukan yang sangat vital berhsil
juga dikuasai oleh kompeni tahun (1667) dan timbulah perlawanan dari rakyat
makasar dibawah Hasanudin. Menyusul pula wilayah banten (Sultan Agung Tirtoyoso)
dapat di tundukkan pula oleh kompeni pada tahun 1684. Perlawanan Trunojoyo,
Untung Suropati di Jawa Timur pada akhir abad ke XVII, nampaknya tidak mampu
meruntuhkan kekuasaan kompeni pada saat itu. Demikian Belanda pada awalnya
menguasai daerah-daerah yang strategis yang kaya akan hasil rempah-rempah pada
abad ke XVII dan nampaknya semakin memperkuat kedudukannya dengan didukung
oleh kekuatan militer.
Pada abad itu sejarah mencatat bahwa belanda berusaha dengan keras
untuk memperkuat dan mengintensifkan kekuasaan di indonesia. Melihat praktek-
praktek penjajahan Belanda tersebut maka meledaklah perlawanan rakyat di
berbagai wilayah nusantara, antara lain : Pattimura di maluku (1817), Baharudin di
Palembang (1819), Imam Bonjol di Minangkabau (1821-1837). Pangeran Diponegoro di
Jawa Tengah (1825-1830), Jlentik, Polim, Teuku Tjik di Tiro, Teuku Umar dalam
perang Aceh (1860), anak Agung Made dalam perang Lombok (1894-1895),
Sisingamangaraja di tanah Batak (1900) dan masih banyak perlawanan lainnya.

Penghisapan mulai memuncak ketika Belanda mulai menerapkan sistem
monopoli melalui tanam paksa (1830-1870) dengan memaksakan beban kewajiban
terhadap rakyat yang tidak erdosa.

G.Kebangkitan Nasional
Pada abad XX Di punggung Politik Internasional terjadilah pergolakan
kebangkitan dunia Timur dengan suatu kesadaran akan kekuatan sendiri. Partai
Kongres di india dengan tokoh Tilak dan Gandhi, adapun di indonesia bergolaklah
kebangkitan akan kesadaran berbangsa yaitu kebangkitan nasional (1908) dipelopori
oleh dr. Wahidin Sudirohusodo dengan Budi Utomonya. Gerakan ini lah yang
merupakan awal gerakan nasional untuk mewujudkan suatu bangsa yang memiliki
kehormatan akan kemerdekaan dan kekuasaannya sendiri.
Budi Utomo yang didirikan pada tanggal 20 mei 1908 nilah yang merupakan
pergerakan nasional, sehingga segera setelah itu muncullah organisasi-organisasi
pergerakan lainnya. Organisasi-organisasi pergerakan nasional itu antara lain :
Sarakat Dagang Islam (SDI) (1909), yang kemudian dengan cepat mengubah
bentuknya menjadi gerakan politik dengan mengganti namanya menjadi Sarikat
Islam (SI) tahun (1911) di bawah H.O.S. Cokroaminoto.
Berikutnya muncullah Indische Partij (1913),yang di pimpin oleh tiga
serangkai yaitu: Douwes Dekker,Ciptomangunkusumo, Suwardi Suryaningrat (yang
kemudian lebih di kenal dengan nama Ki Hajar Dewantoro), partai ini tidak
menunjukkan keradikalannya, sehingga tidak dapat berumur panjang karena
pemimpinnya di buang di luar negeri (1913).
Dalam siuasi yang menggoncangkan itu muncullah Partai Nasional Indonesia
(PNI) (1927) yag dipelopori oleh Soekarno, Cipto mangunkusumo, Sartono dan tokoh
lainnya. Perjuangan Nasional Indonesia di titik beratkan pada kesatuan nasional
dengan tujuan Indonesia Merdeka. Tujuan ttu kemudian diikuti dengan tampilnya
golongan pemuda yang tokoh-tokohnya antara lain : M. Yamin, Wongsonegoro,
Kuncoro Purbo Pranoto, Serta tokoh-tokoh muda lainnya. Perjuangan rintisan
kesatuan Nasional kemudian diikuti dengan Sumpah Pemuda pada tanggal 28
Oktober 1928, satu bahasa, satu bangsa dan satu tanah air Indonesia.Lagu
Indonesia Raya pada saat ini pertama kali dikumandangkan dan sekaligus sebagai
penggerak kebangkitan kesadaran berbangsa.
Kemudian PNI oleh para pengikutnya dibubarkan, dan diganti bentuknya
dengan partai Indonesia dengan singkatan Partindo (1931). Kemudian golongan
Demokrat antara lai : Moh. Hatta, dan St. Syahrir mendirikan PNI baru yaitu
Pendidikan Nasional Indonesia (1933), dengan semboyan Kemerdekaan Indonesia
harus dicapai dengankekuatan sendiri.

H.Zaman Penjajahan Jepang
Setelah Nederland diserbu oleh tentara Nazi Jerman pada tanggal 5 Mei
1940 dan jath pada tanggal 10 Mei 1940, maka Ratu Wihelmina dengan segenap
aparat pemerintahannya mengungsi ke Inggris, sehingga pemerintahan Belanda
masih dapat berkomunikasi dengan pemerintah jajahan di Indonesia.
Janji Belanda terhadap kemerdekaan Indonesia adalah suatu kebohongan
belaka tidak pernah menjadi kenyataan. Bahkan pada akhir pendudukan pada tanggal
10 Maret 1940 kemerdekaan bangsa Indonesia itu tidak pernah terwujud.
Fasis jepang masuk ke Indonesia dengan propaganda Jepang pemimpin
Asia,Jepang saudara tua Indonesia.akan tetapi dlm perang melawan Sekutu Barat
yaitu(Amerika,Inggris ,Rusia,Prancis,Belanda,dan negara sekutu lainya)nampaknya
Jepang semakin terdesak.Oleh karna itu, agar mendapat dukungan dari bangsa
Indonesia,maka pemerinah jepang bersikap bermurah hatiterhadap bangsa
indonesia,yaitu mejanjikan indonesia merdeka dikelak kemudian hari.
Pada tanggal 29 april 1945 bersamaan dengan hari ulang tahun Kaisar
Jepang beliau memberikan hadiahulang tahun kepada bangsa indonesi yaitu janji
kedua pemerintah jepangkemerdekaan tanpa syarat.Janji itu disampaikan kepada
bangsa Indonesia seminggu sebelum bangsa jepang menyerah, Maklumat Gunseikan
(Pembesar Tertingi Sipil dari Pemerintah Tertinggi Militer Jepang di seluruh Jawa
dan Madura), No. 23. Bahkan dianjurkankepada bangsa Indonesia untuk berani
mendirikan negara Indonesia merdeka di hadapan musuh-musuh jepang yaitu Sekutu
termasuk kaki tangannya Nica (Nederlands Indie Civil Administration), yang ingin
mengembalikan kekusaan kolonialnya di Indonesia. Ahkan Nica telah melancarkan
serangannya dipulau Tarakan dan Morotai.
Suatu badan yang bertugas untuk menyelidiki usaha-usaha persiapan
kemerdekaan Indonesia yaitu Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia
(BPUPKI) atau Dokuriti Zyunbi Tioosakai. Pada hari itu juga di umumkan nama-nama
Ketua, Wakil ketua serta para anggota sebagai berikut :

Pada waktu itu susunan Badan Penyelidik ini adalah sebagai berikut :

Ketua (Kaicoo) : Dr. K.R.T. Radjiman Wediodiningrat
Ketua Muda : Itibangase ( Seorang anggota luar biasa)
(Fuku Kaicoo Tokubetsu Iin )
Ketua Muda : R.P. Soeroso ( merangkap kepala)
(Fuku Kaicoo atau Zimukyoku Kucoo ).

Nama para anggota Iin menurut nomor tempat duduknya dalam sidang
adalah sebagai berikut :

1. Ir. Soekarno
2. Mr. Muh Yamin
3. Dr. R. Kusuma Atmaja
4. R. AbdulrahimPratalykrama
5. R. Aris
6. K. H. Dewantara dan masih banyak lagi yang lainnya

(Sekretariat Negara, 1995 : XXVII)

I.Sidang BPUPKI Pertama
Sidang BPUPKI Pertama dilakukan selama empat hari, berturut-turut yang
tampil untuk berpidato menyampaikan usulannya adalah sebagai berikut :( a) tanggal
29 Mei 1945 Mr. Muh Yamin, (b) tanggal 31 Mei 1945 Prof. Soepomo dan (c) tanggal
1 Juni 1945 Ir. Soekarno.

(a).Mr. Muh Yamin (29 Mei 1945)
Dalam pidatonya 29 Mei 1945 Muh. Yamin men. gusulkan calon rumusan
dasar negara Indonesia sebagai berikut : I. Peri Kebangsaan, II. Peri Kemanusiaan,
III. Peri Ketuhanan, IV. Peri Kerakyatan (A. Permusyawaratan, B. Perwakilan, C.
Kebijaksanaan ) dan V. Kesejahteraan Rakyat (Keadilan Sosial).
Pada akhir pidatonya Mr. Muh. Yamin menyerahkan naskah sebagai lampiran
yaitu suatu rancangan usul sementara berisi rumusan UUD RI dan rancangan itu
dimulai dengan Pembukaan yang bunyinya adalah sbb :
Untuk membentuk Pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap
bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia,dan untuk memajukan kesejahteraan
Umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, menyuburkan hidup kekeluargaan, dan ikut
serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan perdamaian abadi dan
keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia dalam suatu
UUD Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik
Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada : Ketuhanan yang
maha Esa, kebangsaan, Persatuan Indonesia , dan rasa kemanusiaan yang adil dan
beradab, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan perwakilan, dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia (Pringgodigdo, A.G.:162).

(b)Prof.Dr. Soepomo (31 Mei 1945)
Prof. Dr. Soepomo Mengemukakan teori-teori sbb:
(1). teori negara perseorangan (individualis).
(2). Paham negara kelas (Class Theory)
(3). Paham negara Integralistik, yang diajarkan oleh Spinoza, adam muler Hegel
(abad 18 dan 19).

(C).Ir. Soekarno (1 Juni 1945)
Usulan dasar negara dalam sidang BPUPKI Pertama berikutnya adalah pidato
dari Ir. Soekarno yang disampaikan lisan tanpa teks, Beliau mengusulkan dasar
negara yang terdiri atas lima prinsip yang rumusannya adalah sbb :
1. Nasionalisme (kebangsaan Indonesia)
2. Internasionalisme (peri Kemanusiaan)
3. Mufakat (Demokrasi)
4. Kesejahteraan sosial
5. Ketuhanan Yang Maha Esa (Ketuhnan Yang Berkebudayaan)

Lima prinsip sebagai dasar negara tersebut kemudian oleh soekarno diusulkan
agar di beri nama Pancasila atas saran teman beliau ahli bahasa.

J.Sidang BPUPKI kedua (10-16 Juli 1945)
Hari pertama sebelum sidang BPUPKI Kedua dimulai diumumkan oleh ketua
penambahan enam anggota baru badan penyelidik yaitu : (1). Abdul Fatah Hasan, (2).
Asikin Natanegara, (3). Soerjo Hamidjojo, (4). Mohammad Noor, (5). Besar,dan (6).
Abdul Kaffar.
Selain tambahan anggota BPUPKI, Ir. Soekarno sebagai Ketua Panitia Kecil
Melaporkn hasil pertemuannya 1 juni . Menurut laporan itu pada tanggal 12 juni
1945, Ir. Soekarno mengadakan pertemuan antara Panitia Kecil dengan anggota-
anggota Badan Penyelidik.Panitia Kecil terdiri atas 9 orang populer di sebut Panitia
sembilan yang anggotanya adalah sbb :

1. Ir. Soekarno 8. Abikoesno
2. Wachid Hasyim 9. H.Agus Salim
3. Mr. Muh. Yamin
4. Mr. Maramis
5. Drs. Muh. Hatta
6. Mr. Soebardjo
7. Kyai Abdul Kahar Moezakir

Keputusan-keputusan lain adalah untuk membentuk panitia kecil yaitu: (1)
panitia perancang undang-undang dasar yang diketuai Ir. Soekarno, (2) Panitia
ekonomi dan keuangan yang diketuai Drs. Moh. Hatta,(3) Panitia pembelaan tanah air
diketuai oleh Abikusno Tjokrosoejoso.

K. Proklamasi Kemerdekaan dan Sidang PPKI
Kemenangan sekutu dalam perang dunia membawa hikmah bagi bangsa
Indonesia. Menurut pengumumannya Nanpoo Gun (pemerintah tentara Jepang untuk
seluruh daerah selatan), tanggal 7 Agustus 1945. Berdasarkan fakta sejarah
tersebut ternyata bahwa panitia persiapan kemerdekaan Indonesia yang semula
merupakan badan bentuknya pemerintahan tentara Jepang, kemudian sejak Jepang
jatuh dan kemudian sifatnya dari badan Jepang menjadi badan nasional sebagai
badan nasional sebagai badan pendahuluan bagi Komite Nasional.
a. Proklamasi
Setelah jepang menyerah kepada sekutu, maka kesempatan itu dipergunakan
sebaik-baiknya oleh para pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia. Namun terdapat
perbedaan dalam pelaksanaan serta waktu proklamasi. Perbedaan ini terjadi antara
golongan pemuda antara lain, sukarni, adam malik , kusnaini, syahrir, soedarsono,
soepono dkk.
b. Sidang BPUPKI
Sehari setelah proklamasi keesokan harinya pada tanggal 18 Agustus 1945, PPKI
mengadakan sidangnya yang pertama. Sebelum sidang resmi dimulai, kira-kira 20
menit dilakukan pertemuan untuk membahas beberapa perubahan yagn berkaitan
dengan rancangan naskah panitia pembukaan UUD 1945 yang pada saat itu dikenal
dengan nama piagam Jakarta, terutama yang menyangkut perubahan sila pertama
pancasila. Dan akhirnya disempurnakan sebagaimana naskah pembukaan UUD 1945
sekarang ini.
- Sidang Pertama (18 Agustus 1945)
- Sidang Kedua ((19 Agustus 1945)
- Sidang Ketiga (20 Agustus 1945)
L. Masa Setelah Proklamasi Kemerdekaan
Secara ilmiah proklamasi kemerdekaan dapat mengandung pengertian sebagai
berikut:
- Dari sudut ilmu hukum proklamasi merupakan saat tidak berlakunya tertib hukum
colonial, dan saat mulai berlakunay tertib hukum nasional.
- Secara politis ideology proklamasi mengandung arti bahwa bangsa Indonesia
terbatas nasib sendiri dalam suatu Negara proklamasi republic Indonesia.
Terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia 1950
Berdirinya Negara RIS (Republik Indonesia Serikat) dalam sejarah
ketatanegaraan Indonesia adalah sebagai suatu taktik secara politis untuk tetap
konsisten terhadap deklarasi proklamasi yang terkandung dalam pembukaan UUD
1945 yaitu Negara persatuan dan kesatuan sebagaimana termuat dalam alinea IV,
bahwa pemerintah Negarapada suatu ketika Negara bagian dalam RIS tinggallah 3
buah Negara bagian saja yaitu:
1. Negara Bagian RI Proklamasi
2. Negara Indonesia Timur (NTT)
3. Negara Sumatera Timur
Dekrit Presiden 5 Juli 1959
Pemilu tahun 1955 dalam kenyataannya tidak dapat memenuhi harapan dan
keinginan masyarakat, bahkan mengakibatkan ketidak stabilan pada bidang politik,
ekonomi, sosial maupun hankam.
Pengertian Dekrit
Dekrit adalah suatu keputusan orang tertinggi (kepala Negara atau organ
lain) yang merupakan penjelmaan kehendak yang sifatnya sepihak. Dekrit dilakukan
bilamana Negara dalam keadaan darurat, keselamatan adalah Hukum Darurat yang
diberikan atas dua macam yaitu:
1. Hukum tatanegara Darurat Subjektif
Suatu hukum tatanegara dalam arti subjektif yaitu keadaan hukum yang member
wewenang kepada organ tertinggi untuk bila perlu untuk mengambil tindakan-
tindakan hukum bahkan kalau perlu melanggar undang-undang hak asasi manusia.
2. Hukum Tatanegara Darurat Objektif
Hukum tatanegara darurat objektif adalah suatu keadaan hukum yang memberikan
wewenang kepada organ tertinggi Negara untuk mengambil tindakan-tindakan
hukum, namun tetap berlandaskan pada konsitituasi yang berlaku, contohnya adalah
SP II Maret 1966
Masa Orde Baru
Suatu tataan masyarakat serta pemerintah sampai saat ini meletusnya
pemberolehan G 30 PKI dalam sejarah Indonesia disebut sebagai masa orde lama.
Maka tataan masyarakat dan pemerintahan yang menurut dilaksanakannya pancasila
dan UUD 1945 secara murni dan konsesten. Sebagai perwujudan dari tuntutan rasa
keadilan dan kebenaran. Adapun isi tritura tersebut adalah sebagai berikut:
- Pembubaran PKI dan ormas-ormasnya
- Pembersihan Kabinet dari Unsur-unsur G 30 PKI
- Penurunan Harga
Karena orde lama akhirnya tidak mampu lagi menguasai pimpinan Negara, maka
presiden/ panglima tertinggi memberikan kekuasaan penuh kepada panglima
angkatan darat letnan jenderal soeharto, yaitu dalam bentuk suatu surat perintah
II Maret 1966 (super semar).
Demikianlah orde baru berangsur-angsur melaksanakan program-programnya
dalam upaya untuk merealisasikan pembangunan naisonal sebagai perwujudan
pelaksanaan pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.
BAB II KESIMPULAN
Berdasarkan kenyataan tersebut maka untuk memahami Pancasila secara
lengkap dan utuh tertama dalam kaitannya dengan jati diri bangsa indonesia. Secara
epistemologis sekaligus sebagai pertanggung jawaban Ilmiah, bahwa Pancasila selain
sebagai dasar negara Indonesia juga sebagai pandangan hidup bangsa, jiwa dan
kepribadian bangsa serta sebagai perjanjian luruh bangsa indonesia pada waktu
mendirikan negara.
Keputusan-keputusan lain adalah untuk membentuk panitia kecil yaitu: (1)
panitia perancang undang-undang dasar yang diketuai Ir. Soekarno, (2) Panitia
ekonomi dan keuangan yang diketuai Drs. Moh. Hatta,(3) Panitia pembelaan tanah air
diketuai oleh Abikusno Tjokrosoejoso.
Untuk membentuk Pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap
bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia,dan untuk memajukan kesejahteraan
Umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, menyuburkan hidup kekeluargaan, dan ikut
serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan perdamaian abadi dan
keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia dalam suatu
UUD Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik
Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada : Ketuhanan yang
maha Esa, kebangsaan, Persatuan Indonesia , dan rasa kemanusiaan yang adil dan
beradab, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan perwakilan, dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia (Pringgodigdo, A.G.:162).
DAFTAR PUSTAKA
Dr. Kaelan, M.S.Pendidikan Pancasila, Paradigma, Yogyakarta, 2010

Read more: http://grupsyariah.blogspot.com/2012/06/pancasila-sebagai-konteks-
sejarah.html#ixzz3CM641ITj


http://rellaardiatin.blogspot.com/2012/04/peristiwa-sejarah-dan-nilai-
budaya.html
Peristiwa Sejarah dan Nilai Budaya Bangsa yang Memiliki Pandangan Visioner
terhadap Budaya Bangsa

BAB I PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Indonesia terlahir dari perjalanan sejarah yang sangat panjang mulai dari masa Kerajaan Kutai
sampai masa keemasan Kerajaan Majapahit serta munculnya kerajaan-kerajaan islam. Kemudian
mengalami masa kebangkitan nasional disertai dengan adanya penjajahan Belanda dan jepang
hingga mencapai detik-detik proklamasi kemerdekaan Indonesia. Dari keseluruhan peristiwa
sejarah Indonesia ini,tentulah terdapat peristiwa dan nilai-nilai budaya yang dijadikan sebagai
tujuan hidup rakyat Indonesia yang pada akhirnya pula ditetapkan dalam perumusan Pancasila.
Pancasila tidaklah lahir begitu saja, pancasila memiliki asal muasal. Asal muasal itu ada asal
mula langsung dan asal mula tak langsung.
1. Asal mula Langsung
Asal mula bahan atau kausa materialis adalah bahwa pancasila bersumber dari nilai-nilai adat
istiadat,budaya dan nilai religius yang ada dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Asal mula bentuk atau kausa formalis adalah kaitan asal mula bentuk,rumusan dan nama
pancasila sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD45 yang merupakan pemikiran
Ir.Soekarno, Drs.Moh.Hatta dan para anggota BPUPKI.
Asal mula karya atau kausa efisien adalah penetapan pancasila sebagai calon dasar negara
menjadi dasar negara yang syah oleh PPKI.
Asal mula tujuan atau kausa finalis adalah tujuan yang diinginkan oleh BPUPKI,PPKI termasuk
di dalamnya Ir.Soekarno, Drs.Moh.Hatta dari rumusan pancasila sebelum disyahkan oleh PPKI
menjadi dasar negara yang sah.
2. Asal mula tak langsung
jauh sebelum proklamasi kemerdekaan,masyarakat indonesia telah hidup dalam tatanan
kehidupan yang penuh dengan
Nilai-nilai ketuhanan,nilai kemanusiaan,nilai persatuan,nilai kerakyatan dan nilai keadilan.
Nilai-nilai tersebut merupakan nilai-nilai yang memaknai adat istiadat, kebudayaan serta nilai-
nilai relijius dalam kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia.
Oleh karena itu,secara tidak langsung pancasila merupakan penjelmaan atau perwujudan bangsa
indonesia itu sendiri karena apa yang terkandung dalam pancasila merupakan kepribadian dan
pandangan hidup bangsa indonesia seperti yang dilukiskan oleh Ir.Soekarno dalam tulisannya
Pancasila adalah lima mutiara galian dari ribuan tahun sapsapnya sejarah bangsa sendiri.
Kedudukan dan Fungsi pancasila ada empat,yaitu pancasila sebagai pandangan hidup
bangsa,pancasila sebagai dasar negara republik indonesia,pancasila sebagai tujuan nasional
bangsa dan negara dan pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara indonesia.
Sesuai kapasitas dan judul yang diberikan,maka saya hanya akan membahas tentang pancasila
sebagai pandangan hidup bangsa berikut peristiwa sejarah dan nilai-nilai budaya bangsa yang
melatarbelakanginya.




1.2. RUMUSAN MASALAH

1. Peristiwa sejarah dan nilai budaya apa saja yang memiliki pandangan visioner terhadap
budaya bangsa?
2. Apakah peristiwa dan nilai-nilai budaya itu masih menjadi tujuan dan pandangan hidup
bangsa?

1.3. TUJUAN DAN KEGUNAAN PENULISAN MAKALAH

1. Tujuan Penulisan Makalah
a. Untuk mengetahui sejarah dan nilai-nilai budaya yang memiliki pandangan visioner terhadap
budaya bangsa.
b. Untuk mengetahui eksistensi dari sejarah dan nilai-nilai yang menjadi pandangan hidup
bangsa.
2. Kegunaan Penulisan Makalah
a. Bagi Penulis
Penulisan makalah ini disusun sebagai salah satu pemenuhan tugas terstruktur dari mata kuliah
Pancasila.
b. Bagi pihak lain
Makalah ini diharapkan dapat menambah referensi pustaka yang berhubungan dengan peristiwa
dan nilai budaya bangsa yang memiliki pandangan visioner terhadap budaya bangsa,


















BAB II PEMBAHASAN

2.1. ZAMAN KERAJAAN-KERAJAAN

Pada zaman ini masyarakat juga belum mengenal Pancasila tetapi mereka sudah mengamalkan
unsur-unsur Pancasila, seperti hidup saling tolong menolong dan mengamalkan kebudayaan-
kebudayaan yang ada. Dimana masyarakat pada zaman ini sudah memiliki sistem pemerintahan
yang kuat

1. Kerajaan Kutai

Kerajaan ini dibangun pada tahun 400 M, dengan rajanya yang pertama adalah Kudungga
yang kemudian digantikan oleh Mulawarman dan Aswawarman. Kerajaan Kutai adalah yang
pertama kali membuka sejarah bangsa Indonesia dengan menunjukkan nilai sosial politik
(bentuk kerajaan ), nilai keTuhanan berupa pengembangan agama Buddha, kenduri dan
sedekah kepada para brahmana.

2. Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya didirikan oleh Balaputra Dewa dari Wangsa Syailendra (600-1400) jaman
kerajaan Mataram Kuno (Mataram Hindu). Menurut Moh. Yamin, berdirinya negara kebangsaan
Indonesia tidak dapat dipisahkan dengan kerajaan lama. Negara kebangsaan Indonesia terbentuk
melalui Tiga tahap yaitu :
Pertama : Zaman Kerajaan Sriwijaya yang bercirikan Kedatuan,
Kedua : Negara kebangsaan pada zaman Kerajaan Majapahit yang bercirikan Keprabuan, dan
Ketiga : adalah Negara Kebangsaan (Nation State) Modern yakni Indonesia Merdeka yang pada
tanggal 18 Agustus 1945 telah sah menjadi sebuah Negara.

Nilai-nilai yang bisa kita petik dari kerajaan Sriwijaya, antara lain:
1. Nilai nasionalisme yang berhubungan dengan kerajaan yang berciri Kedatuan.
2. Kerajaan Sriwijaya adalah Kerajaan Maritim yang mengandalkan kekuatan laut,memegang
kunci lalu lintas disekitar Selat Sunda bahkan Selat Malaka.
3. Sistem manajemen yang baik karena di dalam sistem pemerintahannya sudah terdapat
pengurus pajak, harta benda Kerajaan, rohaniwan menjadi pengawas pembangunan rumah-
rumah ibadat.
4. Memiliki cita-cita. Kerajaan Sriwijaya telah mempunyai cita-cita tentang kesejahteraan
bersama dalam suatu Negara, tertuang dalam bunyi slogan Marvuat vanua Criwijaya siddhyatra
subhiksa ( Suatu cita-cita Negara yang adil dan makmur) .
5. Nilai Pendidikan yang terbukti dengan adanya universitas agama budha yang sangat terkenal
di Asia

3. Kerajaan-Kerajaan sebelum Kerajaan Majapahit

Pada zaman ini diterapkan antara lain/ raja aiar langgi sikap tolerensi dalam beragama,
nilai-nilai kemanusiaan (hubungan dagang&kerjasama dengan benggala, chola, dan chompa)
serta memperhatikan kesejahteraan pertanian bagi rakyat dengan dengan membangun
tanggul&waduk.


4. Kerajaan Majapahit

Pada tahun 1293 berdirilah Kerajaan Majapahit yang mencapai zaman keemasannya di
bawah kekuasaan Raja Hayam Wuruk dengan patihnya Gajah Mada. Pada masa kejayaannya
wilayah Majapahit membentang dari semenanjung Melayu sampai ke Kalimantan Utara. Pada
masa itu Mpu Prapanca menulis Kitab Negarakertagama (1365) yang di dalamnya terdapat
istilah Pancasila, Mpu Tantular menulis buku Sutasoma, yang di dalamnya ditemukan seloka
persatuan nasional, yakni Bhinneka Tunggal I ka, yang bunyi lengkapnya Bhinneka Tunggal
Ika Tan Hana Dharma Mangrua, yang artinya, walaupun berbeda namun satu jua. Dari seloka
ini menunjukan bahwa kerajaan Majapahit sudah menganut paham demokrasi, yakni adanya
toleransi dan mengakui adanya perbedaan antara agama Budha, Hindu dan Islam yang dianut
oleh kerajaan Samudera Pasai (Aceh).
Patih Gadjah Mada mempunyai cita-cita ingin mempersatukan seluruh Nusantara Raya, dengan
bersumpah (Sumpah Palapa) Saya tidak akan makan buah Palapa (kelapa)
jikalau belum seluruh nusantara bertakluk di bawah kekuasaan Negara, jikalau Gurun, Seram,
Tanjung, Haru, Pahang, Dempo, Bali, Sunda, Palembang dan Tumasik belum dikalahkan.
Kerajaan Majapahit juga memiliki nilai kerjasama dengan membangun hubungan diplomatik
dengan kerajaan mancanegara, antara lain Tiongkok, Ayodya, Champa, dan Kamboja.


2.2. Kebangkitan Nasional

Pada masa ini banyak berdiri gerakan-gerakan nasional / mewujudkan suatu bangsa yang
memiliki kehormatan akan kemerdekaan dan kekuataannya sendiri.
Pergerakan nasional di tanah air dilatarbelakangi adanya pergolakan kebangkitan dari
Dunia Timur, yaitu munculnya kesadaran akan kekuatannya sendiri, antara lain dari Filipina
(1898) yang dipimpin oleh Jose Rizal, kemenangan Jepang atas Rusia di Tunisia (1905), Sun Yat
Zen dari China melawan Jepang (1911) , India yang dipelopori oleh Nehru dan Mahatma Gandhi
melawan Inggris. Adapun di Indonesia pergerakan nasional yang merupakan kebangkitan akan
kesadaran kebangsaan (nasional) dipelopori oleh dr. Soetomo dan dr. Wahidin Soediro Hoesodo
dengan nama Boedi Oetomo (BO) yang didirikan pada tanggal 2 Mei 1908. Asas yang digunakan
adalah kooperatif serta bertujuan mengangkat derajat bangsa Indonesia agar sejajar dengan
bangsa-bangsa lain. Hanya dengan melalui pendidikan cita-cita ini akan tercapai. Setelah itu
muncul pergerakan-pergerakan lain, yakni SDI, SI, Indische Partij dan seterusnya. Pada mulanya
pergerakan-pergerakan itu berasaskan kooperatif, namun perkembangannya berubah menjadi
non kooperatif, awalnya bertujuan hanya berhubungan dengan perdagangan, sosial, agama dan
pendidikan, namun kemudian meningkat menjadi sebuah tuntutan politik, yaitu Indonesia
Merdeka.
Tujuan merdeka dengan bebas diekspresikan dengan kata-kata yang dipelopori oleh kaum
muda dari seluruh nusantara, dari Jawa Jong Java, dari Ambon Jong Ambon, dari Sulawesi Jong
Celebes, dari Sumatra Jong Sumatra, sedangkan tokoh-tokoh pemudanya antara lain Moh.
Yamin, Wongsonegoro, dan Kuncoro Probopranoto. Perjuangan rintisan kesatuan nasional para
pemuda dimanifestasikan dalam bentuk ikrar, maka pada kongres Pemuda ke II pada tanggal 28
Oktober 1928, ikrar tersebut diwujudkan dalam Sumpah Pemuda, berisi Berbangsa satu, bangsa
Indonesia, berbahasa satu, bahasa Indonesia dan bertanah air satu, tanah air Indonesia,
bersama itu pula dikumandangkan Lagu Indonesia Raya ciptaan W R Supratman..

2.3. ZAMAN KEMERDEKAAN

Sebelum sampai pada jaman kemerdekaan,sebenarnya ada pula jaman penjajahan oleh
Belanda dan jepang,namun saya tidak menjelaskannya,karena saya tidak menemukan adanya
nilai budaya yang memiliki pandangan visioner saat itu.
Pada zaman kemerdekaan, terdapat nilai-nilai yang bisa kita ambil yaitu nilai kerja
keras dan nilai musyawarah . nilai kerja keras itu ada karena perjuangan tiada henti yang
dilakukan para pejuang kita untuk memperoleh kemerdekaan,sehingga akhirnya Indonesia bisa
memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Setelah merdeka,PPKI pun
kembali berkumpul untuk bermusyawarah menentukan landasan hukum,pancasila,undang-
undang dasar dan lain sebagainya

2.4. ZAMAN ORDE BARU

Pada zaman ini bangsa Indonesia masih bisa mempertahankan Pancasila sebagai dasar
negara karena Pancasila dianggap sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Tetapi lebih jauh
dipertandingkan dan digunakan untuk menekan perbedaan. Ia menjadi alat represi ideologi
politik dan memberangus lawan politik di pentas publik. Skrining ideologi mulai dari partai
politik, organisasi massa, hingga ke urusan pribadi menjadi fenomena yang mencolok selama
kekuasaan Orde Baru, terlebih lagi setelah pada tahun 1978 Majelis Permusyawaratan Rakyat
mengeluarkan ketetapan tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Tetapi
sebagian masyarakat Indonesia telah menyalahgunakan nilai-nilai Pancasila dan terjadilah
KKN. Sehingga bangsa Indonesia mengalami krisis terutama dibidang ekonomi.

2.5. ZAMAN REFORMASI

Di era reformasi ini, Pancasila seakan tidak memiliki kekuatan mempengaruhi dan
menuntun masyarakat. Pancasila tidak lagi populer seperti pada masa lalu. Elit politik dan
masyarakat terkesan masa bodoh dalam melakukan implementasi nilai-nilai Pancasila dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila memang sedang kehilangan legitimasi, rujukan
dan elan vitalnya. Sebab utamannya sudah umum kita ketahui, karena rejim Orde Lama dan Orde
Baru menempatkan Pancasila sebagai alat kekuasaan yang otoriter.

2.6. MENELADANI NILAI-NILAI JUANG PARA TOKOH
PERUMUS PANCASILA

Apa yang dapat kita teladani dari sejarah perumusan Pancasila? Selain kebersamaan, apa saja
nilai juang yang ada pada proses perumusan Pancasila? Berikut antara lain nilai - nilai tersebut.
1. Musyawarah
Musyawarah sangat diperlukan untuk mencapai tujuan bersama. Musyawarah adalah cara yang
ditempuh anggota BPUPKI ketika merumuskan Pancasila. Dengan banyaknya perbedaan,
pengambilan keputusan memang sulit dilakukan. Namun, para perumus Pancasila membuktikan
bahwa mereka dapat bekerja sama. Padahal, mereka memiliki banyak perbedaan. Dengan kerja
sama, sebuah keputusan bersama berupa Pancasila pun berhasil disepakati. Kerja sama tersebut
terwujud dalam musyawarah.
2. Menghargai Perbedaan
Kesediaan menghargai perbedaan merupakan salah satu kunci keberhasilan musyawarah. Tanpa
adanya kesediaan ini, keputusan dalam musyawarah tidak akan tercapai. Menghargai perbedaan
terletak pada kesediaan untuk menerima pendapat yang berbeda demi kepentingan yang lebih
besar. Dalam perumusan Pancasila, hal ini terbukti penghapusan kalimat dengan kewajiban
menjalankan syariat Islam bagi pemeluk - pemeluknya. Namun dengan adanya kesediaan
menghargai perbedaan, perdebatan tersebut tidak menjadi permusuhan. Dengan kesediaan
menghargai perbedaan lahirlah keputusan untuk mengganti rangkaian kata tersebut. Akhirnya,
para perumus memutuskan untuk mengubah kata - kata tersebut menjadi "Ketuhanan Yang Maha
Esa".
3. Toleransi
Toleransi masih berkaitan dengan menghargai perbedaan. Latar belakang yang berbeda dari para
perumus dasar negara disatukan dalam wadah BPUPKI. Tentu saja perbedaan ini terbawa ke
dalam sidang. Latar belakang yang berbeda pendapat yang muncul pun beragam. Perbedaan
tersebut bahkan kadang saling bertentangan. Agar dapat melahirkan sebuah dasar negara yang
kokoh, perbedaan ini tidak boleh menjadi penghambat. Disinilah arti penting toleransi. Tanpa
adanya toleransi, keputusan bersama tidak akan terwujud.
Itulah beberapa nilai juang yang harus kita teladani dari para perumus Pancasila. Tentu saja
masih banyak nilai lain yang dapat kita teladani.
2.7. PERAN PANCASILA DALAM ERA GLOBALISASI

Pancasila yang sejatinya adalah sesuatu yang harus tetap dijadikan pandangan hidup
bangsa Indonesia,kini menjadi tergeser posisinya sejalan dengan arus globalisasi yang kian
merajai. Pancasila di era globalisasi cukup sulit untuk membimbing rakyat. Terdapat berbagai
macam budaya dari negara lain yang masuk ke Indonesia,dan sebagian besar budaya itu telah
mendarah daging pada rakyat Indonesia,baik itu budaya yang baik maupun buruk.

Indonesia kini benar-benar mengalami krisis dalam banyak hal.
Ekonomi,moral,kejujuran,persatuan dll. Kenyataan ini semakin mendekatkan negara ini pada
kata kehancuran. Namun semua itu masih bisa kita perbaiki. Dengan menilik kembali sejarah
perjuangan para pahlawan,dengan kembali pada pancasila.






BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Pancasila adalah pandangan hidup bangsa Indonesia diambil dari peristiwa sejarah yang
memiliki nilai-nilai visioner terhadap budaya bangsa. Dari jaman kerajaan sampai jaman
proklamasi. Namun saat memasuki orde baru dan era reformasi,ada sebagian orang yang
melanggar pancasila yang mengakibatkan negara ini menjadi sedikit berantakan. Memasuki era
globalisasi, nilai-nilai pancasila itu semakin jelas memudar yang juga semakin mendekatkan
negara ini pada kata kehancuran. Namun semua itu belum terlambat,kita masih bisa
memperbaikinya. Kita masih bisa kembali pada pandangan hidup kita,pancasila.
Dengan menjadikan Pancasila sebagai landasan dan pandangan hidup, diharapkan tujuan
pendidikan Pancasila akan dapat terwujud. Masyarakat Indonesia yang memahami Pancasila
dengan baik, mereka tidak hanya mengetahui makna Pancasila, mereka juga harus memahami
dengan benar dan menjalankannya dengan sebaik-baiknya mungkin

3.2. Saran

Mengingat ketidaksempurnaan makalah ini,saya menyarankan agar peneliti masa depan
bisa meneliti lebih jauh lagi tentang peristiwa sejarah bangsa indonesia yang menjadi pandangan
hidup bangsa Indonesia.


























DAFTAR PUSTAKA

http://www.facebook.com/groups/79793918524/
http://requestartikel.com/asal-mula-pancasila-2011081689.html
http://viper-conn.blogspot.com/2009/05/kajian-peranan-pancasila-dalam.html
http://kisah-sejarahdunia.blogspot.com/2009/11/kerajaan-majapahit.html
http://sejarahbangsaindonesia.blogdetik.com/2011/06/07/sejarah-garuda-sebagai-lambang-
negara-indonesia/
http://sergai.wordpress.com/tag/nilai-nilai-pancasila/
http://bocahlapindo.wordpress.com/2010/03/19/pancasila-sebagai-pandangan-hidup
http://www.untukku.com/artikel-untukku/pancasila-dalam-konteks-sejarah-perjuangan-bangsa-
indonesia-untukku.html
http://satrioyudho.blogspot.com/2011/02/landasan-pendidikan-pancasila.html
http://rani-rama.blogspot.com/2009/06/sejarah-pancasila.html
http://www.anneahira.com/sejarah-pancasila.htm
http://requestartikel.com/pancasila-sebagai-pandangan-hidup-bangsa-indonesia-201106596.html
http://untukpendidikan.wordpress.com/2010/02/25/menggali-kembali-peran-pancasila-sebagai-
idiologi-terbuka-di-era-reformasi/
http://www.crayonpedia.org/mw/BSE:Nilai-
nilai_Perjuangan_dalam_Perumusan_Pancasila_6.1_%28BAB_1%29
http://sejarahbangsaindonesia.blogdetik.com/2011/06/01/pancasila-dalam-konteks-sejarah-
perjuangan-bangsa-indonesia/
http://www.facebook.com/notes/strawberry/-rahasia-yang-belum-terungkap-di-balik-17-agustus-
/10150710478405180





http://dc199.4shared.com/doc/6n1OjIDE/preview.html
BAB I
MENELUSURI NILAI-NILAI BUDAYA
BANGSA INDONESIA DAN KAITANNYA DENGAN
PANCASILA

A. Pengantar
Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia sebelum disahkan pada tanggal 18 Agustus
1945 oleh PPKI, nilai - nilainya telah ada pada bangsa Indonesia sejak zaman dahulu kala
sebelum bangsa Indonesia mendirikan negara, yang berupa ide, hasil karya, peraturan, nilai -
nilai adat istiadat, kebudayaan, dan nilai - nilai religius.

B. Zaman Kutai (400 M)
Kerajaan Kutai merupakan kerajaan tertua di Indonesia yang bercorak Hindu. Kerajaan Kutai
terletak di tepi Sungai Mahakam, yaitu di Muara Kaman. Berikut beberapa nilai-nilai budaya
bangsa Indonesia pada zaman kerajaan kutai
Di Muara Kaman di temukan batu bertulis atau prasasti yang di sebut "YUPA" berbentuk
menhir atau tiang batu dari abad ke-4 Masehi. Batu bertulis ini memakai bahasa sanskerta
dan huruf pallawa sebagai pertanda Indonesia memasuki zaman sejarah pada tahun 400
M.
Kerajaan Kutai meninggalkan tujuh yupa. Yang salah satu isinya menyatakan sang
Maharaja Kudungga mempunyai anak Sang Asmawarman. Asmawarman mempunyai
tiga orang putra. Salah seorang putra yang terkemuka adalah Mulawarman yang dikenal
sebagai raja yang baik dan bijak sana.
Raja Mulawarman memberikan hadiah tanah dan 20.000 ekor sapi untuk Kaum
Brahmana. Oleh Karena itu, Kaum Brahmana mengadakan tugu peringatan.

C. Zaman Sriwijaya
Pengetahuan mengenai sejarah Sriwijaya baru lahir pada permulaan abad ke-20 M, ketika
George Coedes menulis karangannya berjudul Le Royaume de Crivijaya pada tahun 1918 M.
Coedes kemudian menetapkan bahwa, Sriwijaya adalah nama sebuah kerajaan di Sumatera
Selatan. Lebih lanjut, Coedes juga menetapkan bahwa, letak ibukota Sriwijaya adalah
Palembang, dengan bersandar pada anggapan Groeneveldt dalam karangannya, Notes on the
Malay Archipelago and Malacca, Compiled from Chinese Source, yang menyatakan bahwa, San-
fo-tsI adalah Palembang yang terletak di Sumatera Selatan, yaitu tepatnya di tepi Sungai Musi
atau sekitar kota Palembang sekarang. Berikut beberapa nilai-nilai budaya bangsa Indonesia pada
zaman kerajaan Sriwijaya
Kunjungan I-sting seorang peziarah Budha dari China pertama, datang ke Sriwijaya (671
M) terdapat lebih dari seribu orang pendeta Budha di Sriwijaya. Mempunyai Aturan dan
upacara para pendeta Budha yang sama dengan aturan dan upacara yang dilakukan oleh
para pendeta Budha di India.
Sribuza. Masudi, seorang sejarawan Arab klasik menulis catatan tentang Sriwijaya pada
tahun 955 M. Dalam catatan itu, digambarkan Sriwijaya merupakan sebuah kerajaan
besar, dengan tentara yang sangat banyak. Hasil bumi Sriwijaya adalah kapur barus, kayu
gaharu, cengkeh, kayu cendana, pala, kardamunggu, gambir dan beberapa hasil bumi
lainya.
Kerajaan Sriwijaya pernah menjalin hubungan dengan raja-raja dari kerajaan yang ada di
India seperti dengan Kerajaan Nalanda, dan Kerajaan Chola. Dengan Kerajaan Nalanda
disebutkan bahwa Raja Sriwijaya mendirikan sebuah prasasti yang dikenal dengan nama
Prasasti Nalanda
Prasasti Kota Kapur, prasasti ini merupakan yang paling tua, bertarikh 682 M,
menceritakan tentang kisah perjalanan suci Dapunta Hyang dari Minana dengan perahu,
bersama dua laksa (20.000) tentara dan 200 peti perbekalan, serta 1.213 tentara yang
berjalan kaki.
Prasasti Kedukan Bukit, prasasti berangka tahun 683 M itu menyebutkan bahwa raja
Sriwijaya bernama Dapunta Hyang yang membawa tentara sebanyak 20.000 orang
berhasil menundukan Minangatamwan. Dengan kemenangan itu, Kerajaan Sriwijaya
menjadi makmur. Daerah yang dimaksud Minangatamwan itu kemungkinan adalah
daerah Binaga yang terletak di Jambi. Daerah itu sangat strategis untuk perdagangan.
Prasasti Talangtuo, prasasti berangka tahun 684 M itu menyebutkan tentang pembuatan
Taman Srikesetra atas perintah Raja Dapunta Hyang.
Prasasti Karang Berahi, prasasti berangka tahun 686 M itu ditemukan di daerah
pedalaman Jambi, yang menunjukan penguasaan Sriwijaya atas daerah itu.
Prasasti Ligor, prasasti berangka tahun 775 M itu menyebutkan tentang ibu kota Ligor
dengan tujuan untuk mengawasi pelayaran perdagangan di Selat Malaka.
Prasasti Nalanda, prasasti itu menyebutkan Raja Balaputra Dewa sebagai Raja terakhir
dari Dinasti Syailendra yang terusir dari Jawa Tengah akibat kekalahannya melawan
Kerajaan Mataram dari Dinasti Sanjaya. Dalam prasasti itu, Balaputra Dewa meminta
kepada Raja Nalanda agar mengakui haknya atas Kerajaan Syailendra. Di samping itu,
prasasti ini juga menyebutkan bahwa Raja Dewa Paladewa berkenan membebaskan 5
buah desa dari pajak untuk membiayai para mahasiswa Sriwijaya yang belajar di
Nalanda.
Prasasti Telaga Batu, prasasti ini Karena ditemukan di sekitar Palembang pada tahun
1918 M. Berbentuk batu lempeng mendekati segi lima, di atasnya ada tujuh kepala ular
kobra, dengan sebentuk mangkuk kecil dengan cerat (mulut kecil tempat keluar air) di
bawahnya. Menurut para arkeolog, prasasti ini digunakan untuk pelaksanaan upacara
sumpah kesetiaan dan kepatuhan para calon pejabat. Dalam prosesi itu, pejabat yang
disumpah meminum air yang dialirkan ke batu dan keluar melalui cerat tersebut. Sebagai
sarana untuk upacara persumpahan, prasasti seperti itu biasanya ditempatkan di pusat
kerajaan., maka diduga kuat Palembang merupakan pusat Kerajaan Sriwijaya.

Raja merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam sistem pemerintahan Kerajaan
Sriwijaya. Ada tiga syarat utama untuk menjadi raja Sriwijaya, yaitu:
1. Samraj, artinya berdaulat atas rakyatnya
2. Indratvam, artinya memerintah seperti Dewa Indra yang selalu memberikan kesejahteraan
bagi rakyatnya
3. Ekachattra, artinya mampu memayungi (melindungi) seluruh rakyatnya
Prasasti dan situs yang ditemukan disekitar Palembang, yaitu Prasasti Boom Baru (abad
ke7 M), Prasasti Kedukan Bukit (682 M), Prasasti Talangtuo (684 M), Prasasti Telaga
Batu ( abad ke-7 M), Situs Candi Angsoka, Situs Kolam Pinishi, dan Situs Tanjung
Rawa.
Peninggalan sejarah Kerajaan Sriwijaya lainnya yang ditemukan di jambi, Sumatera
Selatan dan Bengkulu, yaitu Candi Kotamahligai, Candi Kedaton, Candi Gedong I, Candi
Gedong II, Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Kembar batu, Candi Astono dan
Kolam Telagorajo, Situs Muarojambi.

D. Kerajaan Mataram Hindu Wangsa Sanjaya (732 M)
Sanjaya yang merupakan penerus Kerajaan Galuh menyerang Purbasora yang saat itu menguasai
Kerajaan Galuh dengan bantuan dari Tarusbawa dan berhasil melengserkannya. Prabu
Harisdarma pun menjadi raja Kerajaan Sunda Galuh. Prabu Harisdarma yang juga ahli waris dari
Kalingga, kemudian menjadi penguasa Kalingga Utara yang disebut Bumi Mataram dan dikenal
dengan nama Sanjaya pada tahun 732 M. Sanjaya atau Prabu Harisdarma, raja kedua Kerajaan
Sunda (723-732 M), menjadi raja Kerajaan Mataram (Hindu) (732-760 M). ia adalah pendiri
Kerajaan Mataram Kuno sekaligus pendiri Wangsa Sanjaya. Berikut beberapa nilai-nilai budaya
bangsa Indonesia pada zaman kerajaan Mataram Hindu
Sanjaya selalu menganjurkan perbuatan luhur kepada seluruh punggawa dan prajurit
kerajaan. Ada empat macam perbuatan luhur untuk mencapai kehidupan sempurna, yaitu
:
1. Tresna (Cinta Kasih)
2. Gumbira (Bahagia)
3. Upeksa (tidak mencampuri urusan orang lain)
4. Mitra (Kawan, Sahabat, Saudara atau Teman)
Pada pemerintahan Sri Maharaja Rakai Panangkaran (760-780 M) terkenal nasehatnya
tentang kebahagiaan hidup manusia yaitu: Kasuran (Kesaktian), Kagunan (Kepandaian),
Kabegjan (Kekayaan), Kabrayan (Banyak Anak Cucu), Kasinggihan (Keluhuran),
Kasyuwan (Panjang Umur), Kawidagdan (Keselamatan).
Sri Maharaja Rakai Panaggalan (780-800 M) Beliau berjasa atas sistem kalender Jawa
Kuno. Rakai Panggalan juga memberikan rambu-rambu dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara, seperti berikut ini Keselamatan dunia supaya diusahakan agar tinggi
derajatnya. Agar tercapai tujuannya tapi jangan lupa akan tata hidup.
Sri Maharaja Rakai Warak (800-820 M) Rakai Warak sangat mengutamakan ketertiban
yang berlandaskan pada etika dan moral. Saat Rakai Warak berkuasa, ada tiga pesan yang
diberikan, yaitu :
1. Kewajiban raja adalah jangan sampai terlena dalam menata, meneliti, memeriksa dan
melindungi.
2. Pakaian raja adalah menjalankanlah dengan adil dalam memberi hukuman dan ganjaran
kepada yang bersalah dan berjasa.
3. Kekuatan raja adalah bisa mengasuh, merawat, mengayomi dan memberi anugrah.
Sri Maharaja Dyah Tulodhong (919 921 M) Rakai Dyah Tulodhong mengabdikan
dirinya kepada masyarakat menggantikan kepemimpinan Rakai Daksottama. Keterangan
tersebut termuat dalam Prasasti Poh Galuh yang berangka tahun 809 M. Pada masa
pemerintahannya, Dyah Tulodhong sangat memperhatikan kaum brahmana.
Prasasti Canggal, prasasti yang ditemukan di halaman Candi Gunung Wukir di desa
Canggal berangka Tahun 732 M dalam bentuk Candrasangkala. Menggunakan huruf
pallawa dan bahasa sangsekerta. Isi dari prasasti tersebut menceritakan tentang pendirian
Lingga (lambang Syiwa) yang merupakan agama Hindu beraliran Siwa di desa
Kunjarakunja oleh Raja Sanya serta menceritakan bahwa yang menjadi raja mula-mula
adalah sena yang kemudian digantikan oleh Sanjaya.
Prasasti Metyasih/Balitung, prasasti ini ditemukan di desa Kedu, berangka tahun 907 M.
Prasasti Metyasih yang diterbitkan oleh Rakai Watukumara Dyah Balitung (Wangsa
Sanjaya ke-9) terbuat dari tembaga.. Prasasti ini dikeluarkan sehubungan dengan
pemberian hadiah tanah kepada lima orang patihnya di Metyasih, karena telah berjasa
besar terhadap Kerajaan serta memuat nama para raja-raja Mataram Kuno.
Candi Prambanan, dibangun oleh Raja-raja Wamca (Dinasty) Sanjaya pada abad ke-9.
Candi Prambanan merupakan kompleks percandian dengan candi induk menghadap ke
timur, dengan bentuk secara keseluruhan menyerupai gunungan pada wayang kulit
setinggi 47 meter.

E. Kerajaan Mataram Budha Wangsa Syailendra (752 M)
Syailendra adalah wangsa atau dinasti Kerajaan Mataram Kuno yang beragama Budha. Wangsa
Syailendra di Medang, daerah Jawa Tengah bagian selatan. Wangsa ini berkuasa sejak tahun 752
M dan hidup berdampingan dengan Wangsa Sanjaya. Berikut beberapa nilai-nilai budaya bangsa
Indonesia pada zaman kerajaan Mataram Budha
Penemuan beberapa prasasti antara lain prasasti Sojomerto, prasasti kalasan, prasasti
klurak, prasasti ratu book.
Pendirian bangunan suci untuk dewi Tara dan biara untuk pendeta oleh raja Panangkaran
atas permintaan keluarga Saylendra dan Panangkaran juga menghadiahkan desa kalasan
untuk para sanggah umat budha) Candi tersebut sekarang bernama Candi Kalasan yang
berada di timur Yogyakarta.
Candi Borobudur yang merupakan candi terbesar yang pernah dibangun untuk
penghormatan terhadap sang Budha. Bangunannya mencapai 14.000m persegi dengan
ketinggian hingga 35,29m. Sebuah prasasti Cri Kahuluan yang berasal dari abad IX (824
Masehi) yang diteliti oleh Prof Dr J.G. Casparis, mengungkap silsilah tiga Wangsa
Syailendra yang berturut-turut berkuasa pada masa itu, yakni Raja Indra, Putranya
Samaratungga. Kemudian, putrinya yang bernama Samaratungga Pramodawardhani.
Dibutuhkan tak kurang dari 2 juta balok batu andesit atau setara dengan 50.000m persegi
untuk membangun Candi Borobudur ini. Berat keseluruhan candi mencapai 3,5 juta ton.
Seperti umumnya bangunan candi, Bororbudur memiliki 3 bagian bangunan, yaitu kaki,
badan dan atas. Bangunan kaki disebut Kamadhatu, yang menceritakan tentang kesadaran
yang dipenuhi dengan hawa nafsu dan sifat-sifat kebinatangan. Kemudian Ruphadatu,
yang bermakna sebuah tingkatan kesadaran manusia yang masih terikat hawa nafsu,
materi dan bentuk. Sedangkan Aruphadatu yang tak lagi terikat hawa nafsu, materi dan
bentuk digambarkan dalam bentuk stupa induk yang kosong.
Candi Mendut, candi Plaosan, candi Gedung songo, candi Sambi Sari dan banyak candi
lainnya.

F. Kerajaan Majapahit
Majapahit adalah sebuah kerajaan kuno di Indonesia yang pernah berdiri dari sekitar tahun 1293
hingga 1500 M. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya pada masa kekuasaan Hayam
Wuruk, yang berkuasa dari tahun 1350 hingga 1389. Majapahit menguasai kerajaan-kerajaan
lainnya di semenanjung Malaya, Borneo, Sumatra, Bali, dan Filipina. Kerajaan Majapahit adalah
kerajaan Hindu terakhir di semenanjung Malaya dan dianggap sebagai salah satu dari negara
terbesar dalam sejarah Indonesia. Kekuasaannya terbentang di Sumatra, semenanjung Malaya,
Borneo dan Indonesia timur, meskipun wilayah kekuasaannya masih diperdebatkan. Berikut
beberapa nilai-nilai budaya bangsa Indonesia pada zaman kerajaan Majapahit
Struktur pemerintahan yang teratur pada masa pemerintahan Hayam Wuruk
Penganggapan Raja sebagai penjelme dewa di dunia ini dan ia memegang otoritas politik
tertinggi.
Agama Buddha, Siwa, dan Waisnawa (pemuja Wisnu) dipeluk oleh penduduk Majapahit,
dan raja dianggap sekaligus titisan Buddha, Siwa, maupun Wisnu.
Raja dibantu oleh sejumlah pejabat birokrasi dalam melaksanakan pemerintahan, dengan
para putra dan kerabat dekat raja memiliki kedudukan tinggi.
Majapahit memiliki pengaruh yang nyata dan berkelanjutan dalam bidang arsitektur di
Indonesia. Penggambaran bentuk paviliun (pendopo) berbagai bangunan di ibukota
Majapahit dalam kitab Negarakretagama telah menjadi inspirasi bagi arsitektur berbagai
bangunan keraton di Jawa serta Pura dan kompleks perumahan masyarakat di Bali masa
kini.
Dalam Rakryan Mantri ri Pakira-kiran terdapat seorang pejabat yang terpenting yaitu
Rakryan Mapatih atau Patih Hamangkubhumi. Pejabat ini dapat dikatakan sebagai
perdana menteri yang bersama-sama raja dapat ikut melaksanakan kebijaksanaan
pemerintahan. Selain itu, terdapat pula semacam dewan pertimbangan kerajaan yang
anggotanya para sanak saudara raja, yang disebut Bhattara Sap.
Hasil karya berupa Candi Tikus dan Candi Bajangratu di Trowulan, Mojokerto.
Pada zaman Majapahit terjadi perkembangan, pelestarian, dan penyebaran teknik
pembuatan keris berikut fungsi sosial dan ritualnya taprabhu.
Serat Darmagandhul, sebuah kitab (puisi lama) yang tidak jelas penulisnya karena
menggunakan nama pena Ki Kalamwadi, namun diperkirakan dari masa Kasunanan
Surakarta. Kitab ini berkisah tentang hal-hal yang berkaitan dengan perubahan keyakinan
orang Majapahit dari agama sinkretis "Buda" ke Islam dan sejumlah ibadah yang perlu
dilakukan sebagai umat Islam.


G. Zaman Pergerakan Nasional
a. Budi Utomo (BU)
Sebuah organisasi pemuda yang didirikan oleh
Dr. Sutomo pada tanggal 20 Mei 1908. Berdirinya Budi Utomo menjadi awal gerakan yang
bertujuan mencapai kemerdekaan Indonesia walaupun pada saat itu organisasi ini awalnya hanya
ditujukan bagi golongan berpendidikan Jawa. Berikut beberapa nilai-nilai budaya bangsa
Indonesia pada masa Budi Utomo
Budi Utomo bertujuan menggalang kerjasama guna memajukan Jawa-Madura
Budi Utomo besifat kesukuan yang sempit, terbatas hanya Jawa-Madura. Walaupun
kegiatan Budi Utomo lebih bersifat sosial kultural, tapi kelahiran Budi Utomo merupakan
pelopor pergerakan nasional Indonesia pertama, sehingga tanggal berdirinya ditetapkan
sebagai hari Kebangkitan Nasional Indonesia.
Tanggal 3 - 5 Oktober 1908 Budi Utomo menyelenggarakan kongres yang pertama di
Yogyakarta yang menghasilkan keputusan yaitu:
a. Memajukan pendidikan dan pengajaran.
b. Mempertinggi cita-cita kemanusiaan.
c. Menggali kembali kebudayaan bangsa dan ilmu pengetahuan.
Budi Utomo turut memikirkan cara mempertahankan Indonesia dari serangan. BU
mengusulkan kepada pemerintah untuk membentuk Indiandsche Militie (Milisi untuk
Bumiputera) untuk mempertahankan Indonesia dari serangan yang dikemukakan dalam
rapat umum di Bandung pada tanggal 5-6 Agustus di Bandung.
b. Sarekat Islam (SI)
Organisasi Serikat Islam pada awalnya merupakan
perkumpulan pedagang-pedagang Islam. Organisasi ini dirintis oleh R.M. Tirtoadisuryo
pada tahun 1909 dengan tujuan untuk melindungi hak-hak pedagang pribumi Muslim
dari monopoli dagang yang dilakukan untuk pedagang-pedagang besar Tionghoa.
Kemudian tahun 1911 di kota Solo oleh Haji Samanhudi didirikan organisasi dengan
nama Sarekat Dagang Islam (SDI). Tujuan perkumpulan ini adalah untuk menghimpun
para pedagang Islam agar dapat bersaing dengan para pedagang asing seperti pedagang
Tionghoa, India dan Arab. Berikut beberapa nilai-nilai budaya bangsa Indonesia pada
masa Sarekat Islam
SDI ialah organisasi ekonomi yang berdasarkan pada agama Islam dan perekonomian
rakyat sebagai dasar penggeraknya.
SI menaruh perhatian besar terhadap unsur-unsur politik dan menentang ketidakadilan
serta penindasan yang dilakukan oleh pemerintah colonial
Tujuan SI mencapai kemajuan rakyat yang nyata dengan jalan persaudaraan,
persahabatan dan tolong-menolong diantara muslim. Tujuan utama SI 1913 adalah
engembangkan perekonomian.
Keanggotaan SI terbuka untuk semua lapisan masyarakat (non kooperatif).
Maret 1916 SI diberi pengakuan sebagai Badan Hukum, dan SI berubah menjadi partai
politik dan mengirimkan wakilnya ke Volksraad tahun 1917. SI akhirnya mengalami
perkembangan yang lebih pesat dibandingkan Budi Utomo dan mulai disusupi aliran
Revolusioner Sosialis.

c. Indische Partij (IP)
Partai ini merupakan partai pertama yang menanamkan rasa kebangsaan dan pribumi
Ernest Eugene Francois (EFE) Douwes Dekker mengambil prakarsa mendirikan partai
politik untuk golongan Indo dan bercita-cita memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ia
mengajak Suwardi Suryaningrat dan Cipto Mangunkusumo untuk mendirikan Indische
Partij pada tanggal 25 Desember 1912 di Bandung. Organisasi ini pada mulanya disebut
juga Partai Hindia. Berikut beberapa nilai-nilai budaya bangsa Indonesia pada masa
Indische Partij
Indische Partij terbuka untuk semua golongan dengan cita-cita mencapai Indonesia
merdeka.
Adanya tulisan Suwardi Suryaningrat yang berjudul Als Ik eens Nederlander Was
(Seandainya saya seorang Belanda), tulisan yang dimuat dalam surat kabar de Express itu
berisi kritikan terhadap Belanda ketika bermaksud mencari dana untuk merayakan
peringatan 100 tahun kemerdekaan negeri Belanda lepas dari penjajahan Perancis tahun
1814. Akibat tulisan itu ketiga pemimpin Indische Partij ditangkap dan dihukum dan
dibuang ke negeri Belanda.

d. Muhammadiyah
Muhammadiyah didirikan pada tanggal 18-11-1912
oleh K.H. Ahmad Dahlan, seorang muslin yang berpikiran modern. Berikut beberapa nilai-
nilai budaya bangsa Indonesia pada masa Muhammadiyah
Muhammadiyah bertujuan ingin memajukan pengajaran moderen berdasarkan Islam yang
benar dan memberikan pengertian ilmu agama dan cara hidup yang benar menurut
peraturan agama.
Muhammadiyah mendirikan sekolah-sekolah sebagai pusat pendidikan dan membantu
sekolah-sekolah Islam yang memerlukan bantuan.
Dalam bidang sosial, Muhammadiyah banyak mendirikan rumah sakit, rumah yatim piatu
dan meningkatkan dakwah bagi masyarakat Islam.
Muhammadiyah adalah organisasi yang bercorak kooperatif (bekerjasama) dengan
pemerintah Belanda.


e. Perhimpunan Indonesia (PI)
Berdirinya PI berawal dari
didirikannya Indische Vereniging tahun 1908 di Belanda.Organisasi ini bersifat moderat
(selalu menghindarkan perilaku atau pengungkapan yang ekstrem) sebagai perkumpulan
sosial mahasiswa Indonesia di Belanda untuk memperbincangkan masalah dan persoalan
tanah air. Pada awalnya Perhimpunan Indonesia merupakan organisasi sosial. Memasuki
tahun 1913, dengan dibuangnya tokoh Indische Partij ke Belanda maka dibuatlah pokok
pemikiran pergerakan yaitu Hindia untuk Hindia yang menjadi nafas baru. Tahun 1925
Indische Vereeniging berubah menjadi Perhimpunan Indonesia dengan tujuannya Indonesia
merdeka. Berikut beberapa nilai-nilai budaya bangsa Indonesia pada masa Perhimpunan
Indonesia
Pembuatan 3 azas pokok Indische Vereniging oleh Iwan Kusumantri yaitu
1. Indonesia menentukan nasibnya sendiri
2. Kemampuan dan kekuatan sendiri
3. Persatuan dalam menghadapi Belanda
Banyak kegiatan yang dilakukan oleh aktivis PI di Belanda maupun di luar negeri,
diantaranya ikut serta dalam kongres Liaga Demokrasi Perdamaian Internasional tahun
1926 di Paris, dalam kongres itu Mohammad Hatta dengan tegas menyatakan tuntutan
akan kemerdekaan Indonesia.
Mengusahakan suatu pemerintahan untuk Indonesia tanpa mengharapkan bantuan asing.

f. Partai Nasional Indonesia (PNI)
Bermula dari Mahasiswa Algemenee Studie Club di Bandung
tahun 1926, Ir. Sukarno dkk seperti Mr. Suaryo, Ali Sastroamijoyo, & Mr. Sartono
bermaksud menggalang perjuangan melalui organisasi yang bertujuan untuk kemerdekaan
Indonesia.
Sesudah PKI dinyatakan sebagai partai terlarang oleh pemerintah Hindia Belanda akibat
pemberontakannya tahun 1926-1927, maka dirasakan perlunya wadah untuk menyalurkan
hasrat dan aspirasi rakyat yang tidak mungkin lagi ditampung oleh organisasi-organisasi
politik yang ada pada waktu itu. Sejalan dengan hal tersebut muncul organisasi kebangsaan
dengan corak politik nasionalis murni yaitu PNI yang didirikan tanggal 4 Juli 1927. Berikut
beberapa nilai-nilai budaya bangsa Indonesia pada masa Partai Nasional Indonesia
Tanggal 17-18 Desember 1927, PNI berhasil memelopori terbentuknya organisasi sosial
politik se Indonesia dalam bentuk Permufakatan perhimpunan-perhimpunan Politik
Kebangsaan Indonesia, (PPPKI).
PNI menyebarkan ajaran pergerakan nasional demi mengusir pemerintahan Belanda.

H. Zaman Penjajahan Jepang
Penyerbuan Jepang mengakhiri pemerintahan colonial Belanda pada tahun 1942, Jepang
berkuasa di Indonesia selama 3 tahun. Namun demikian, banyak yang dialami bangsa
Indonesia selama masa penjajahan Jepang itu. Hidup keagamaan terganggu, karena upaya
Jepangisasi. Gereja sering berubah fungsinya demi kepentingan perang Jepang. Namun
semangat keagamaan tidak mengendor. Berikut beberapa nilai-nilai budaya bangsa Indonesia
pada masa penjajahan Jepang
Mayarakat Indonesia mempunyai tekad yang sama yaitu menjadikan Indonesia sebagai satu
negara yang merdeka.
Pemerintah Jepang mendirikan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia
(BPUPKI) atau dalam bahasa Jepang Dokuritsu Junbi Cosakai dan Panitia Persiapan
Kemerdekaan Indonesia(PPKI) atau dalam bahasa Jepang Dokuritsu Junbi Iinkai, bagi jalan
percepatan kemerdekaan Indonesia
Adanya Peristiwa Rengasdengklok mendorong golongan tua untuk cepat bertindak
memproklamasikan kemerdekaan Indonesia





BAB II
PENUTUP

KESIMPULAN
Pada Tahap Kebudayaan Indonesia Asli, para ahli sejarah dan antropologi dapat memperlihatkan
bahwa sebelum kebudayaan Hindu masuk dan berkembang di Indonesia, berbagai suku bangsa
Indonesia telah mengenal unsur-unsur pembentuk Pancasila. Nilai-nilai kehidupan yang dapat
disebut sebagai embrio nilai-nilai Pancasila ternyata memang sudah nampak pada tahap
perkembangan ini, baik yang berhubungan dengan ketuhanan maupun kesejahteraan sosial.
Kemudian, unsur Pancasila pada tahap perkembangan pengaruh budaya Hindu dan Budha yang
di anut oleh beberapa kerajaan di Indonesia antara lain Kerajaan Kutai (400 M), Kerajaan
Mataram Hindu Wangsa Sanjaya (732 M) yang merupakan kerajaan Hindu dan kerajaan
Budha antara lain Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Mataram Budha Wangsa Syailendra (752 M),
Kerajaan Majapahit. Budaya Hindu-Budha juga berpengaruh di beberapa aspek kehidupan. Yang
paling jelas, pengaruh itu nampak dalam hal agama. Mereka secara lebih nyata memuja kekuatan
yang mengatasi manusia, yang tidak lagi tanpa bentuk.
Selanjutnya, pada tahap perkembangan pengaruh budaya Islam pada Kerajaan Majapahit (setelah
derpindah keyakinan dari Budha menjadi Islam). Pengaruh budaya Islam juga jelas nampak dari
bidang agama dan kesejahteraan sosial melalui ajaran zakat fitrah terjadap sesama.
Pada masa Pergerakan Nasional nilai-nilai pancasila juga sudah mulai terpupuk di tandai dengan
lahirnya Budi Utomo sebagai organisasi pergerakan nasional pertama walau anggotanya sebatas
suku Jawa dan Madura. Kemudia Sarekat Islam yang sudah menuju pada cita-cita bangsa
Indonesia yaitu merdeka, dan anggotanya terbuka untuk semua lapisan masyarakat. Indische
Partij partai pertama yang yang menanamkan rasa kebangsaan, Muhammadiyah yang banyak
membantu dalam bidang sosial seperti yang tersurat di sila ke lima Pancasila kita sekarang,
Perhimpunan Indonesia dan PNI sebagai partai yang turut serta memperjuangkan kemerdekaan
Indonesia.
Pada masa Penjajahan Jepang masyarakat Indonesia telah memiliki satu tekad dan jiwa
kebersamaan yang kuat untuk menyatakan kemerdekaan Republik Indonesia melalui organisasi
BPUPKI dan PPKI.
Berdasarkan uraian yang disusun dalam makalah ini maka penulis menyimpulkan Pancasila
merupakan suatu hasil kebudayaan bangsa Indonesia dari masa ke masa mulai sejak bangsa kita
ada sampai kepada sekarang, Pancasila juga sebagai kepribadian bangsa Indonesia karena
Pancasila sudah menjadi jiwa setiap rakyat Indonesia dan telah menjadi ciri khas bangsa
Indonesia dalam sikap, tingkah laku, dan perbuatan.




A. SARAN
Hendaknya bangsa Indonesia lebih mengerti akan Pancasila, khususnya golongan terpelajar agar
dapat mengetahuinya lebih dalam dan mensosialisasikannya kepada masyarakat.


















DAFTAR PUSTAKA

Kaelan, 2004. Pendidikan Pancasila. Edisi Reformasi.Yogyakarta: Paradigma.
Syarbaini, S. 2003. Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi.. Jakarta: Penerbit Ghalia
Indonesia.
Dr.Purwadi, M.Hum, 2007. Sistem Pemerintahan Kerajaan Jawa Klasik. Medan: Pujakesuma.
Ensiklopedia Nsional Indonesia, 1990.
Album Pahlawan Bangsa, PT Mutiara Sumber Widya, 2001.
Badrika, I wayan, Sejarah Nasional Indonesia dan Umum. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Kartohadiprodjo, S. 1986. Pancasila dan dalam Undang-Undang Dasar 1945. Bandung: Bina
Cipta.
Wahana, Paulus. Bahan Kuliah Pendidikan Pancasila Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta. 2002. Yogyakarta.
Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, 1993. Sejarah NasionalIndonesia II.
Jakarta: Balai Pustaka.

Sumber Website
http://id.wikipedia.org/
http://abjaykutai.blogspot.com/2009/09/sejarah-kerajaan-kutai-dan-kerajaan.html
http://saloute.multiply.com/journal/item/18/KERAJAAN_SRIWIJAYA
http://saloute.multiply.com/journal/item/19/KERAJAAN_MATARAM_HINDU-BUDHA
http://www.e-dukasi.net/mol/mo_full.php?moid=106&fname=sej203_01.htm